- 30 Jan 2021
- 5 menit membaca
Diperbarui: 24 Apr
MAKAM tua itu terpencil sendirian di sebuah bukit. Luasnya sekitar 2,5 x 4 meter. Masyarakat Kertamanah, Desa Margamukti, Pangalengan menyebutnya sebagai kuburan Tuan Yongkin, merujuk kepada Willem Gerard Jongkindt Conninck, administratur Perkebunan Kertamanah sejak 1 April 1904 sampai Maret 1942.
Bisa jadi nama Jongkindt Conninck kurang populer dibandingkan nama-nama besar seperti K.A.R. Bosscha (konglomerat Hindia Belanda yang mengelola Perkebunan Malabar), Johan Gerrit van Ham (perintis peternakan sapi di Pangalengan) atau Theokoning van de Preanger (raja teh di Priangan). Namun, bagi masyarakat Kampung Kertamanah, nama Jongkindt dikenang secara turun temurun.
“Tanpa beliau nama Kertamanah belum tentu dikenal orang banyak,” ujar Wawan GS (55 tahun), tokoh masyarakat Desa Margamukti.
Selain menjadi perintis penanaman kina di Kertamanah, Jongkindt juga memberdayakan warga Kertamanah menjadi pegawai di perkebunan. ”Salah satu yang diangkat jadi pegawai itu adalah bapak saya,” ujar mandor besar di perkebunan yang saat ini mengelola tanaman teh tersebut.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















