Hasil pencarian
9796 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Media Komunikasi dalam Lagu
KECEWA lantaran sang kekasih manja, aktivis perempuan Sujatin langsung menulis surat. Dari Yogyakarta, dia mengirim surat itu ke Batavia, tempat sang kekasih berada. Lewat surat itu, hubungan cinta keduanya pun berakhir. Pada 1930-an itu, surat menjadi andalan komunikasi jarak jauh orang dari berbagai tempat. Ia digunakan untuk beragam keperluan mulai dari urusan pribadi hingga pemerintahan maupun relasi antarnegara. Popularitas surat sebagai media penyampai pesan itu menginspirasi banyak musisi untuk membuat lagu bertema surat atau menyertakan surat di dalam lirik-liriknya. Di Indonesia saja, lagu yang memuat surat tak terhitung jumlahnya. Lagu “Surat Cinta” Nur Afni Octavia (rilis tahun 1970-an), “Kau Tercipta Bukan Untukku” ciptaan Obbie Messakh yang dibawakan Ratih Purwasih (1980-an), atau “Kangen”-nya Dewa 19 (1990-an) hanyalah satu dari sekian banyak lagu bersurat dari tiap dekade. Selain berkirim surat, orang-orang pra-era komunikasi satelit berkomunikasi dengan menggunakan telepon. Penggunaan alat komunikasi yang dikembangkan dari radio itu juga menginspirasi para musisi untuk menjadikannya sebagai tema lagu-lagu mereka. Gombloh, musisi asal Surabaya yang beken pada 1980-an, salah satunya. Lewat lagu “Kugadaikan Cintaku”, yang dirilis pada 1986 dalam album Semakin Gila , dia tak hanya meraup sukses dengan meledaknya lagu itu tapi sekaligus menjadikan komunikasi telepon sebagai penanda zaman. “Di radio, aku dengar lagu kesayanganmu. Kutelepon, di rumahmu, sedang apa sayangku,” demikian penggalan lirik lagu tersebut. Bagi muda-mudi, penggunaan telepon untuk komunikasi dengan kekasih atau perempuan yang jadi incaran untuk dijadikan pacar amat penting dan mengasyikkan. Meski hanya bisa mendengarkan suara, suara gadis pujaan di telepon mampu membunuh rindu dalam kalbu. Sampai pertengahan 1990-an, ketika pemerintah belum menggalakkan pemasangan telepon rumah, telepon umum pun jadi tempat tujuan banyak orang. Telepon umum koin mulai muncul di Indonesia pada 1981. Antara 1983-1988, Telkom memasang 5.724 unit di berbagai daerah. Setelah itu, Telkom mengembangkan dengan telepon umum kartu. Mulai dipasang pada 1988, telepon umum kartu awalnya hanya dipasang Telkom sebanyak 95 unit. Jumlah itu pun terus bertambah. Hingga 1993, jumlah telepon umum kartu telah mencapai 7.835 unit. Di telepon umum-telepon umum itulah muda-mudi dari berbagai kota di Indonesia sering melepas rindu pada kekasih. Meski kerap harus mengantri, mereka rela demi mendengar suara pujaan hati. Fenomena itu yang menginspirasi diciptakannya lagu “Telepon Umum” milik Wiwiek Sumbogo (1987). Lagu ini mengisahkan orang-orang yang menelepon untuk membunuh jenuh saat menunggu bis datang. Kebetulan, kala mengantri telepon umum, si penyanyi bertemu pujaan hati. Kala radio panggil atau pager mulai booming pada akhir 1990-an, muncul pula lagu yang mengiringinya, “ Tididit”. Lagu yang dinyanyikan grup Sweet Martabak ini liriknya berbunyi, “Tididit pagerku berbunyi, tididit begitu bunyinya.” Menurut WartaEkonomi, pada 1997 ada sekira 60.000 pelanggan yang dilayani PT Persada Komindo. Perusahaan yang dipimpin Hengky Liem ini mengelola Nusapage, operator pager yang bekerjasama dengan Motorola. Pada Februari di tahun yang sama, Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi (Menparpostel) Joop Ave meresmikan PT Metro Media Raya. Perusahaan dalam negeri ini memproduksi radio panggil dengan merek Falcon. Harapannya, operator radio panggil dalam negeri akan bekerjasama dengan pabrikan dalam negeri dibanding pabrikan luar. Meski tak masuk ke semua lapisan masyarakat, pager amat berguna bagi penggunanya. Aktivis HAM Usman Hamid dalam Digital Nation Movement mengingat, saat demo 1998 para mahasiswa menggunakan pager atau HT untuk memudahkan koordinasi. Kejayaan pager tergusur begitu telepon seluler (ponsel) mulai dijual murah pada tahun 2000-an. Pada akhir 1990-an pager mampu bertahan karena ponsel di Indonesia masih mahal baik harga perangkatnya maupun biaya operasionalnya. Pesan singkat atau SMS (Short Messages Service) sebagai salah satu fitur dalam ponsel menjadi media paling diandalkan untuk berkomunikasi jarak jauh karena berbiaya murah. Asa Briggs menulis dalam Sejarah Sosial Media , di Amerika Serikat layanan pesan singkat mulai dikenalkan tahun 2000. Meski awalnya SMS tak mendapat sambutan antusias, pada 2001, tulis SundayTimes, para remaja kecanduan untuk saling berkirim pesan singkat. Bahkan, seorang remaja bisa mengirim sampai 1000 SMS dalam sebulan. Di Indonesia sendiri, pada 2006 pelanggan jasa telepon selular dengan berbagai platform dari semua operator mencapai 64 juta. Di tahun yang sama, lagu “SMS” yang dinyanyikan Ria Amelia muncul dengan lirik, “Bang, SMS siapa ini, Bang.” Kemunculan Facebook pada paruh kedua 2000-an ikut mempengaruhi pola komunikasi di Indonesia. Dengan jumlah pengguna yang terus meningkat, dari 322 ribu orang pada 2008 menjadi 26,8 juta pada 2010, Facebook kini menjadi salah satu media komunikasi utama lintas-usia dan lintas-gender. Sebagai media komunikasi yang menandakan sebuah zaman, Facebook menginspirasi band Gigi merilis lagu berjudul “My Facebook” pada Agustus 2009. Lagu tersebut mengisahkan pertemuan mantan kekasih melalui Facebook .
- Tuntutan Merdeka 100%
Hari ini, tujuh puluh tahun silam, di kota sejuk Purwokerto, Jawa Tengah, berlangsung pertemuan besar yang dihadiri sekitar 300 orang dari pengurus partai, badan-badan perjuangan, dan perkumpulan pemuda. Wakil-wakil pengurus partai yang hadir dari Partai Boeroeh Indonesia, Masyumi, Partai Sosialis, Partai Komunis Indonesia. Lalu dari perkumpulan lain seperti pucuk pimpinan Serikat Rakyat Indonesia, Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Gerakan Rakyat Indonesia, Persatuan Wanita Republik Indonesia, Partai Revolusioner Indonesia, Pesindo, KRIS, Hizbullah. Dua tokoh utama yang hadir adalah Tan Malaka dan Panglima Besar Jenderal Soedirman. “Tidak ada siaran pers. Semua yang hadir mendapat undangan pribadi atau melalui organisasi yang diwakilinya,” tulis Harry A. Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan kiri, dan revolusi Indonesia: Agustus 1945-Maret 1946 . Mereka berkumpul untuk merapatkan barisan dan membuat kesepakatan mengenai arah perjuangan, apalagi pusat pemerintahan sudah berpindah ke Yogyakarta dari Jakarta. Pertemuan besar dengan ketua penyelenggara Sastro Suwirjo dan sekretaris Sukarni ini, digelar dua hari, 4-5 Januari 1946. Hari pertama pertemuan berisi laporan-laporan barisan pemuda yang sudah melakukan perjuangan di daerah. “Suasana Jawa Timur tak lain diliputi oleh suasana pertempuran yang hendak mengenyahkan segala upaya kaum penjajah. Oleh karena perjuangan rakyat Jawa Timur itulah, perjuangan rakyat Indonesia terdengar ke seluruh dunia. Karena diplomasi pemerintah kita, maka perjuangan rakyat Surabaya yang tadinya sangat menguntungkan menjadi kurang menguntungkan karena musuh mendapat tempo menyusun tenaganya lebih kuat,” ujar Ismail wakil dari Jawa Timur, seperti dikutip harian Kedaulatan Rakjat , 6 Januari 1946. Laporan senada disampaikan wakil dari Jawa Tengah. “Inggris katanya datang melucuti Jepang, menolong kaum interniran. Namun itu bohong belaka. Inggris datang ke Magelang tanpa diketahui gubernur Jawa Tengah, tetapi tentara dan meriamnya bertambah terus. Kelemahan kita ialah pemerintah selalu berdaya upaya untuk menghentikan semangat rakyat berjuang mempertahankan kemerdekaan. Selain itu, rasa berjuang rakyat juga belum tebal. Masing-masing ingin menjadi jenderal, masing-masing saling mencurigai,” ujar Sayuti Melok dari Jawa Tengah. Sementara di Jakarta, ujar Chaerul Saleh, sudah menjadi kota “sana” dan “sini”. “Jalanan utama Jakarta, dari Senen hingga Jatinegara dikuasai oleh Batallion Depoot Speciale Troepen,” tulis Erwiza Erman dan Ratna Saptari dalam Dekolonisasi Buruh Kota dan Pembentukan Bangsa. “Saya ingat dulu di daerah Senen itu batas antara wilayah Belanda dan Republik, kalau daerah Republik yang dipakai ya uang ORI (Oeang Republik Indonesia). Di dekat-dekat situ, para pejuang ngumpul atau tinggal bersama. Namanya anak-anak, pengen melihat seperti apa sih pejuang itu. Ternyata ya macam-macam orangnya,” ujar Cornelia Sutantri, 85 tahun, kepada Historia . Saat itu, Cornelia tinggal di daerah Tanah Nyonya, daerah Gunung Sahari. Pada hari kedua, 5 Januari 1946, giliran Tan Malaka dan Jenderal Soedirman yang berbicara. Tan menyoroti soal kemerdekaan penuh atau 100% yang harus diraih oleh Indonesia. “Kita tidak suka berunding dengan siapa saja sebelum kemerdekaan tercapai 100% dan sebelum musuh meninggalkan pantai dan lautan kita dengan beres. Jangan kira kalau rakyat tidak mengerti diplomasi. Kita tidak suka berunding selama musuh masih dalam negeri kita. Selama masih ada 1 kapal musuh, kita harus terus berontak,” ujar Tan Malaka, seperti dikutip harian Merdeka , 11 Januari 1946. Seluruh peserta pertemuan di Purwokerto sepakat membentuk volksfront dengan minimum program: berunding atas pengakuan kemerdekaan 100% sesudah tentara asing meninggalkan laut Indonesia; pemerintah rakyat; tentara rakyat; melucuti tentara Jepang; mengurus tawanan bangsa Eropa; menyita dan menyelenggarakan pertanian; menyita dan menyelenggarakan industri. Melihat dua hari yang gempita, Jenderal Soedirman pun menyatakan dukungannya atas kemerdekaan 100%. “Saudara-saudara yang siap sedia membela kemerdekaan 100%! Saya sangat gembira akan dibentuknya volksfront . Tentara timbul tenggelam dengan negara. Pemimpin negara boleh berganti, kabinet pun boleh berganti tiga bulan sekali. Namun, tentara tetap berjuang terus bersama rakyat sampai kemerdekaan tercapai 100%. Lebih baik di-atoom sama sekali daripada tak merdeka 100%,” ujar Soedirman, seperti dikutip dari harian Kedaulatan Rakjat , 6 Januari 1946. Di kemudian hari, volksfront ini dikenal sebagai Persatuan Perjuangan.
- Kala Kolera Menyerang Batavia
Wabah difteri melanda tanah air pada penghujung 2017. Penyakit epidemi yang ditandai gejala peradangan saluran pernafasan dan demam ini lebih rentan menyerang anak-anak. Sebanyak 28 provinsi terjangkit wabah difteri, tak terkecuali Jakarta. Karena masifnya penularan dan besarnya jumlah korban meninggal, Kementerian Kesehatan menetapkannnya dalam status Kejadian Luar Biasa (KLB). Pemerintah bahkan sampai mengeluarkan himbauan agar anak-anak divaksin difteri. Kejadian serupa juga pernah terjadi di Jakarta kala masih bernama Batavia. Pembunuhnya bernama bakteri kolera ( cholera asiatica ). Orang awam lebih mengenalnya dengan sebutan “muntaber” (muntah berak). Menurut buku Sejarah Pemberantasan Penyakit di Indonesia yang diterbitkan Departemen Kesehatan, penyakit kolera mulai dikenal pada 1821. Penyakit yang menyerang usus besar ini ditandai dengan gejala muntah-muntah dan buang air besar yang hebat. Penderita kolera dapat mengalami kematian dalam beberapa jam apabila tak mendapat penanganan secara serius. Roorda van Eysinga, pegawai kolonial urusan pribumi (Indlansche Zaken), menyaksikan hiruk pikuk ketika wabah kolera menjangkit masyarakat Batavia. “Ada hari-hari ketika di Batavia terdapat 160 orang mati (akibat kolera). Mereka mengalami kejang-kejang hebat, dan meninggal dunia beberapa saat kemudian,” catat Eysinga dalam Verschillende Reizen en Lotgevallen . Kolera menyebabkan kepanikan luar biasa di kalangan orang Eropa. Pasalnya, wabah kolera menyebar lebih cepat dibandingkan penyakit epidemi lainnya semisal malaria, tipus, atau disentri. Pada 1864, kolera merenggut nyawa sebanyak 240 orang Eropa. Sementara tingkat kematian di kalangan penduduk bumiputra mencapai dua kali lipat dari jumlah itu. Persebaran bakteri kolera biasanya menular lewat air minum, makanan, dan kontak langsung. Susan Blackburn dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun menyebutkan ragam kebiasaan unik warga Batavia untuk menangkal kolera. Bagi masyarakat etnis Tionghoa, wabah kolera dapat dicegah dengan menggelar pertunjukan barongsai yang mengitari permukiman pecinan . Mereka meyakini setan penyebar kolera takut pada barongsai. Sedangkan warga bumiputra yang beragama Islam akan menghindari penyakit ini dengan meminum air khusus yang didoakan oleh para kyai. “Kolera merupakan penyakit yang sangat baru dan menyebarluas dengan cepat sehingga komunitas Indonesia dan Tionghoa menanggapinya dengan cara yang tak lazim,” tulis Susan Blackburn. Dalam Ensiklopedia Jakarta: Volume 2, tahun 1910 dan 1911 tercatat sebagai tahun kolera. Selama jangka waktu itu, rata-rata tiap 1000 orang bumiputra yang tinggal di hulu kota meninggal sedangkan di kota hilir (Batavia Lama) jumlahnya 148 orang. Hingga mendekati akhir, total warga Batavia yang meninggal diperkirakan sebanyak 6000 orang. “Begitu banyaknya orang meninggal sehingga banyak mayat yang tidak sempat dikubur. Mayat-mayat itu diletakkan didekat jalan raya bersama peti matinya. Wabah itu bahkan menyebar hingga ke kota Bogor,” tulis Wiwin Juwita Ramelan, dkk dalam laporan penelitian di Universitas Indonesia berjudul 'Penyakit Menular di Batavia'. Dari Batavia, kolera bahkan terbawa hingga ke ujung utara Sumatra. Menjelang abad 20, tentara Belanda mengadakan ekspedisi militer untuk menaklukkan Aceh. Sebagaimana diungkap Anthony Reid dalam Asal Mula Konflik Aceh , kolera masih terus berjangkit di kalangan serdadu Belanda dan menyebar pula kepada orang-orang Aceh. Pemerintah kolonial menyatakan wabah kolera rentan menjangkit saat terjadi musim kemarau. Jumlah penderita kolera mulai menyusut memasuki musim penghujan. Namun kolera akan muncul lagi bila musim kemarau tiba ketika air sungai mendangkal. Dampak sosial yang ditimbulkan wabah kolera cukup memprihatinkan kehidupan masyarakat kolonial di Batavia. Sangat sulit untuk merawat pasien dari kelas sosial rendah yang biasanya tinggal di ruangan kecil berdinding bata. Ruangan-ruangan itu harus ditutup rapat untuk mencegah aliran udara. Mereka dirawat dengan metode pengobatan sederhana seperti mandi dengan air hangat atau kadangkala dengan arak. “Kondisi menyedihkan mereka membuat perawatan itu menjadi pekerjaan yang tak tertahankan dan dapat dikatakan sangat menyengsarakan,” ujar Eysinga . Pemerintah mulai menaruh perhatian terhadap sektor kesehatan beriringan dengan bergulirnya era politik etis. Sosialiasi penyuluhan kesehatan dan inovasi pengobatan ditingkatkan. Pada 1911, vaksin kolera diperkenalkan kepada masyarakat. Namun wabah kolera benar-benar tak dapat ditanggulangi sepenuhnya. Meski waksin sudah diproduksi, sampai dengan tahun 1920, penyakit kolera tetap mewabah setiap tahun. Di Batavia, kolera memang sulit diatasi mengingat buruknya sanitasi lingkungan dan kebersihan perorangan yang rendah.
- Serba Pertama di Piala Dunia (Bagian II – Habis)
SELALU ada sejarah baru dalam setiap gelaran Piala Dunia. Di Piala Dunia 2018 Rusia yang akan berlangsung Juni mendatang, belum lagi perhelatannya berjalan, dua sejarah sudah muncul. Pertama , untuk pertama kalinya semua (209) anggota FIFA terdaftar dalam kualifikasinya, walau akhirnya Indonesia dan Zimbabwe didiskualifikasi sebelum melakoni satu pertandingan pun. Kedua , Piala Dunia 2018 juga jadi momen pertama penggunaan video replay. Sejak kali pertama digelar di Uruguay pada 1930, Piala Dunia selalu melahirkan catatan unik. Sebelumnya, di bagian pertama kami sudah mengupas apa saja yang menjadi sejarah pertama dalam sejarah Piala Dunia sejak 1930 sampai 1958. Kali ini, kami menghadirkan sejarah baru dalam Piala Dunia mulai gelaran 1962 sampai yang terakhir di Brasil tahun 2014: Piala Dunia 1962 Piala Dunia 1962 yang berlangsung di Chile, 30 Mei-17 Juni, menjadi Piala Dunia pertama diterapkannya regulasi selisih gol. Aturan itu dibuat FIFA untuk menentukan satu dari sekian tim dengan poin sama yang berhak lolos ke babak selanjutnya. Tim dengan catatan gol-kemasukan terbaik akan berhak melaju ke babak selanjutnya. Di Piala Dunia 1962 juga untuk pertamakalinya diterapkan aturan pemain yang sudah pernah membela sebuah tim sejak babak kualifikasi dilarang tampil dengan tim lain. Dalam gelaran-gelaran Piala Dunia sebelumnya, bintang-bintang seperti Ferenc Puskas (Hungari, Spanyol), Jose Santamaria (Uruguay, Spanyol), dan Jose Altafini (Brasil, Italia) pernah memperkuat dua tim berbeda. Robert Prosinecki mendapat pengecualian di Piala Dunia 1998 di mana dia diziinkan membela Kroasia lantaran negeri yang dia bela pada Piala Dunia 1990 (Yugoslavia) sudah bubar. Piala Dunia 1962 menjadi Piala Dunia pertama yang memiliki lagu resmi. Lagu “El Rock del Mundial” ciptaan Jorge Rojas Astorga yang dinyanyikan band Los Rambles menjadi lagu resmi gelaran itu. Dalam Piala Dunia ini juga lahir catatan gol tendangan sudut pertama. Gol itu dicetak pemain Kolombia Marcos Coll di menit ke-68 saat menghadapi Uni Soviet, 3 Juni. Piala Dunia 1966 Jika poster Piala Dunia sudah eksis sejak gelaran pertama 1930, maskot Piala Dunia untuk pertama kalinya baru muncul di gelaran 1966 di Inggris (11-30 Juli 1966) dengan Willie, singa kecil nan lucu, yang menjadi maskot. Tradisi ini bergulir terus sampai sekarang. Dalam Piala Dunia ini FIFA dan panitia untuk pertama kali mewajibkan tiap pemain semua tim peserta untuk menjalani tes doping. Bagi benua Asia, Piala Dunia 1966 jadi kebanggaan tersendiri lantaran Korea Utara menjadi wakil pertama benua itu yang berhasil lolos dari babak grup. Piala Dunia 1970 Di Piala Dunia yang digelar di Meksiko, 31 Mei-21 Juni 1970, ini untuk pertama kalinya kartu kuning dan merah digunakan. Adalah Evgeny Lovchev, pemain Uni Soviet yang menerima kartu kuning pertama, dalam laga pembuka kontra tuan rumah Meksiko, 31 Mei. “Itu menjadi kartu kuning satu-satunya yang saya terima sepanjang karier saya,” kenang Lovchev, di situs FIFA, 13 Mei 2016. Piala Dunia ini juga merupakan Piala Dunia pertama yang menerapkan aturan pergantian pemain secara reguler. Di gelaran-gelaran sebelumnya, pemain hanya boleh digantikan oleh cadangan jika cedera. Rumania menjadi negara pertama yang melakukan pergantian pemain, saat menghadapi Brasil, 10 Juni, dengan memasukkan kiper cadangan Steve Adamanche untuk menggantikan kiper utama Necula Raducanu. Bagi dunia industri, Piala Dunia 1970 menjadi momen penting sebab untuk pertama kalinya FIFA merilis bola resmi. Untuk itu, FIFA menunjuk Adidas, merek produsen alat olahraga asal Jerman, yang kemudian memproduksi bola bernama Telstar. Bola 32 panel dengan perpaduan warna hitam-putih itu sengaja dibuat Adidas supaya mudah terlihat di layar TV hitam putih –seiring perkembangan zaman dan teknologi, bola Piala Dunia motif dan warnanya terus berkembang dalam tiap gelaran. Piala Dunia 1974 Piala Dunia yang dihelat di Jerman Barat, 13 Juni-7 Juli 1970, ini menjadi Piala Dunia pertama yang dimiliki semua benua, bukan hanya milik Amerika dan Eropa seperti sebelum-sebelumnya. Setelah Mesir mewakili Afrika pertama kali pada 1934 dan Hindia Belanda mewakili Asia, giliran Australia jadi negara kawasan Oseania –walau pada 2006 memilih meleburkan diri ke AFC (Asia)– pertama di Piala Dunia. Di Piala Dunia ini, hukuman kartu merah untuk pertamakalinya dikeluarkan. Adalah ariete (penyerang) Chile Carlos Caszely yang mendapat hukuman tersebut dari wasit Dogan Babacan asal Turki, dalam laga Jerman Barat vs Chile, 14 Juni. Piala Dunia 1978 Kendati sarat kontroversi terkait kediktatoran Jorge Videla, Piala Dunia 1978 berjalan lancar dan sukses di Argentina dari 1-25 Juni 1978. Tak hanya menjadikan Argentina untuk pertamakalinya menjadi juara, Piala Dunia ini juga jadi yang pertama menerapkan babak adu penalti. Sebelum, dua tim yang gagal menentukan pemenang di babak perpanjangan waktu harus memainkan laga ulang –meski tak pernah ada yang mengalaminya. Bek Belanda Ernie Brandts menjadi pemain pertama Piala Dunia yang bikin gol ke dua gawang berbeda dalam satu laga. Di laga Belanda vs Italia, 21 Juni, Brandts melakukan gol bunuh diri di menit ke-19 namun menebusnya dengan menjebol gawang lawan 30 menit berselang. Piala Dunia 1982 Kendati aturan adu tendangan penalti diperkenalkan di Piala Dunia Argentina 1978, babak dramatis ini baru terjadi kali pertama di Piala Dunia Spanyol 1982. Adu penalti pertama itu terjadi di laga Jerman Barat vs Pranccis, 8 Juli. Pemain tengah Prancis Alain Giresse menjadi eksekutor pertama adu penalti yang dimenangkan Jerman Barat 5-4 itu. Untuk regulasi, Piala Dunia 1982 menjadi Piala Dunia pertama yang diikuti 24 partisipan. Format ini memungkinkan wakil Asia dan Afrika ikut secara reguler karena Asia dan Oseania mendapat satu tempat sementara Afrika mendapat dua. Piala Dunia 1986 Pada 1974, sejatinya Kolombia yang terpilih untuk menghelat Piala Dunia 1986. Namun karena problem keuangan, FIFA menjatuhkan alternatif tuan rumah dadakan kepada Meksiko, yang sukses menggelarnya pada 31 Mei-29 Juni. Dalam Piala Dunia ini, untuk pertama kalinya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ikut mempropagandakan sepakbola untuk perdamaian dengan memamerkan sejumlah papan display berlogo PBB dan FIFA bertuliskan: “Football for Peace–Peace Year” plus slogan Piala Dunia 1986: “El Mundo Unido por Un Balon” (Menyatukan Dunia dengan Bola). Atraksi penonton “The Wave” mengglobal di Piala Dunia 1986 ini kendati sebelumnya atraksi dengan nama lain “Mexican Wave” ini sudah eksis di final sepakbola Olimpiade 1984. Catatan lain, pelatih Paraguay Cayetano Re Ramirez menjadi pelatih pertama yang diusir wasit di Piala Dunia. “Cayetano Re diusir wasit pada 11 Juni (1986) dalam laga melawan Belgia karena berdiri terlalu dekat dengan lapangan,” tulis Doug Lennox di buku Now You Know Soccer. Piala Dunia 1990 Piala Dunia ke-14 yang digelar di Italia, 8 Juni-8 Juli 1990, menjadi momen pertama diperkenalkannya bendera Fair Play. Mengutip European Yearbook 1996 , bendera Fair Play ikut dibawa masuk dan dibentangkan di antara dua bendera negara yang bertanding sebelum laga dimulai. Tujuannya, mendorong semangat fair play dalam pertandingan. Piala Dunia ini menjadi Partai Dunia pertama yang juaranya merupakan kebalikan dari juara Piala Dunia sebelumnya. Bagi juara bertahan Argentina, Piala Dunia ini menjadi momen sial karena selain kalah di final juga mesti kehilangan pemain akibat kartu merah dalam pertandingan puncak itu. Celakanya, Pedro Monzon, bek Argentina yang mendapat kartu merah itu, menjadi pemain pertama yang dikartumerahkan wasit di laga final. Argentina juga tercatat jadi tim pertama yang gagal bikin gol di final Piala Dunia. Piala Dunia 1994 Selain menjadi Piala Dunia pertama yang salah satu venue -nya merupakan stadion indoor (Pontiac Silverdome, Detroit), Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat (17 Juni-17 Juli 1994) merupakan Piala Dunia pertama yang menerapkan aturan no back pass alias kiper tak boleh memegang atau menangkap bola operan kawan setim. Dalam Piala Dunia ini juga untuk pertamakalinya diterapkan aturan tambahan waktu di tiap babak dalam sebuah pertandingan. Para pemain yang kesakitan di dalam sebuah laga juga tak lagi diizinkan mendapat perawatan di dalam lapangan. Untuk membuat pertandingan terus berjalan, FIFA mengatur perawatan pemain cedera dilakukan di luar lapangan. Guna mendukung aturan tersebut, untuk pertamakalinya panitia Piala Dunia menggunakan golf car di dalam lapangan, untuk mengangkut pemain cedera ke luar arena. Piala Dunia 1994 juga merupakan Piala Dunia pertama yang kostum pemainnya dilengkapi nama, bukan sekadar nomor seperti sebelumnya. Rekor gol juga pecah di Piala Dunia ini, saat striker Rusia Oleg Salenko menjadi pemain pertama yang mencetak lima gol dalam satu laga kala menekuk Kamerun 6-1. “Saya saat itu tak berpikir tentang rekor. Mereka mengatakan sesuatu di pengeras suara dalam bahasa Inggris, namun saya tak mendengar detail-nya,” kenang Salenko di situs resmi FIFA, 27 Maret 2017. Catatan lain, Gianluca Pagliuca menjadi kiper pertama yang mendapat kartu merah, saat Italia meladeni Norwegia, 23 Juni. Piala Dunia ini juga melahirkan sejarah: juara menang lewat adu penalti. Piala Dunia 1998 Prancis menjadi tuan rumah Piala Dunia terakhir di abad ke-20 (10 Juni-12 Juli 1998). Pdi Piala Dunia ini, untuk pertama kalinya negara peserta berjumlah 32. “Jumlah partisipan itu menjadi alasan bagi masyarakat dan komunitas baru untuk menyaksikan Piala Dunia untuk kali pertama,” tulis Fernando Fiore dalam The World Cup: The Ultimate Guide to the Greatest Sports Spectacles in the World. Beberapa aturan anyar juga diperkenalkan. Seperti regulasi kartu merah otomatis untuk tekel dari belakang, tiga pergantian pemain per pertandingan, penggunaan papan elektronik untuk pergantian pemain dan golden goal . Defenseur (bek) Laurent Blanc menjadi pemain pertama yang mencetak golden goal di menit ke-113 (perpanjangan waktu) ke gawang Paraguay, 28 Juni 1998. Piala Dunia 2002 Menginjak abad ke-21, untuk pertama kalinya Piala Dunia digelar di benua Asia. Pertama kalinya juga eksis dua tuan rumah bersama: Jepang dan Korea Selatan (31 Mei-30 Juni 2002). Fakta lainnya adalah, untuk pertama kalinya juga hadir tim-tim dari Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, Afrika dan Asia di babak perempatfinal. FIFA juga untuk pertama kali mewajibkan setiap tim berisi 20 pemain dan tiga kiper. Piala Dunia 2006 Brasil datang ke Piala Dunia 2006 di Jerman (9 Juni-9 Juli 2006) sebagai juara bertahan. Namun untuk pertama kalinya diputuskan bahwa juara bertahan tak memainkan laga pembuka. Partai perdana justru digulirkan antara tuan rumah Jerman vs Kosta Rika yang berakhir 4-2 untuk tuan rumah. Piala Dunia 2010 Setelah Asia, giliran Afrika untuk pertama kali kebagian jatah jatu tuan rumah. Afrika Selatan yang beruntung menggelar turnamen akbar empat tahunan itu pada 11 Juni-11 Juli 2010. Australia untuk pertama kalinya tampil sebagai satu dari empat wakil Asia, setelah sebelumnya pindah dari OFC (Oseania) ke AFC (Asia). FIFA juga untuk kali pertama merilis All-Star Team (tim berisi pemain-pemain terbaik Piala Dunia) hasil dari voting online publik. Sebelumnya All-Star Team acap dipilih sendiri oleh FIFA. Piala Dunia 2014 Brasil sebagai tuan rumah Piala Dunia 2014 (12 Juni-13 Juli) mendapat “kehormatan” terkait diperkenalkannya goal-line technology atau teknologi garis gawang untuk kali pertama dalam Piala Dunia. Gol pertama yang muncul dari keputusan teknologi garis gawang itu, adalah gol bunuh diri pemain Honduras, Noel Valladares saat melawan Prancis. Pertama kalinya juga FIFA mengizinkan cooling break atau istirahat untuk pendinginan, masing-masing sekali dalam dua babak. Dua tim pertama yang meminta break itu adalah Belanda dan Meksiko yang berduel di babak perdelapan final. Terakhir, perkenalan vanishing foam untuk pertama kalinya digunakan wasit dalam setiap tendangan bebas.
- Muslim Zaman Dinasti Tang
SAMPAI tulisan ini digarap, belum ditemukan literatur era Dinasti Tang (618-907) yang membahas secara benderang soal adanya penganut Islam –baik itu orang China sendiri atau pun mereka yang berasal dari wilayah kekuasaan kekhalifahan yang membentang begitu luas– di China. Keberadaan muslim di China zaman Dinasti Tang hanya didasarkan pada asumsi bahwa pedagang, diplomat, dan atau prajurit yang disebut catatan-catatan China klasik berasal dari Dashi alias Arab, adalah menganut Islam dan karenanya keturunan mereka setelah menikah dengan penduduk lokal juga mengimani agama yang sama dengan leluhurnya.
- Yap Thiam Hien dari Pengajar ke Pengacara
SEKIRA tahun 1994, Harry Wibowo, mantan Koordinator Tim Pencari Fakta kasus pembunuhan Marsinah, ditarik pengacara Todung Mulya Lubis untuk menjadi pengurus Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Yapusham). Dia diminta Todung untuk memperbaiki kinerja Yapusham khususnya program database mengenai Hak Asasi Manusia (HAM). Program pusat informasi HAM yang dimiliki Yapusham ini juga digunakan untuk melakukan penjaringan tokoh masyarakat yang berjuang dalam penegakan HAM sehinga layak mendapat Yap Thiam Hien Award. “Guna mendapat database HAM yang lengkap, kami berlangganan 32 koran kuning (sebutan bagi koran yang memberitakan masalah kriminal dan seks, red. ), lalu kami teliti pemberitaan mengenai pelanggaran HAM. Koran kuning ini kan isinya kejadian-kejadian di daerah yang luput dari perhatian pusat. Sekaligus dari penelitian ini, kami memberi masukan siapa-siapa saja yang bisa menjadi nominator penerima Yap Thiam Hien Award,” ujar Harwib kepada Historia . Siapakah Yap Thiam Hien sehingga namanya dijadikan penghargaan bagi pejuang HAM di Indonesia? Yap Thiam Hien lahir di Banda Aceh pada 25 Mei 1913 sebagai anak pertama dari pasangan Yap Sin Eng dan Hoan Tjing Nio. Leluhurnya adalah eksodus dari Tiongkok Selatan, tepatnya dari Provinsi Kwantung Distrik Moi-yan Subdistrik Lo-yi, sekira 1844. Setiba di Hindia Belanda, leluhurnya menetap di Baturusa, Bangka. Dia menikahi perempuan setempat hingga dikaruniai tiga putra dan seorang putri. Putra ketiga, Yap A Sin, kakek buyut Yap Thian Hiem, hijrah ke Baturaja dan menikahi Tjoe Koei Yin, putri Kapitan Tjoe Ten Hin, pada 1874. Di Baturaja, kedudukan Yap A Sin meningkat yang semula kontraktor tenaga kerja menjadi berpangkat letnan. Kedudukan ini diteruskan putra pertamanya, Yap Joen Khoy, yang kemudian menjadi wijkmeester atau kepala lingkungan. Yap Joen Koy (1875-1919) menikahi Tjoa Soei Hian dan dikaruniai putra, Yap Sin Eng, ayah Yap Thiam Hien. Setelah Tjoa Soei Hian meninggal muda, Yap Joen Koy menikah lagi dengan perempuan Jepang, Sato Nakashima. “Yap Sin Eng ini menjadi garis pertama dalam keluarga tersebut yang mengidentifikasi diri menjadi lebih peranakan daripada totok. Selain bisa mengunakan bahasa Hakka dan Hokkien, dia juga mampu berbahasa Melayu dan Belanda, bahkan mengikuti pendidikan Belanda. Baju yang dikenakan pun model Eropa dan belajar menggesek violin –seperti yang dilakukan Yap Thiam Hien kelak– dan Yap Sing Eng pun menjadi pegawai kantor,” tulis Daniel S. Lev dalam No Concessions: The Life of Yap Thiam Hien, Indonesian Human Rights Lawyer . Belajar dan Mengajar Yap Thiam Hien adalah anak sulung dari lima bersaudara tetapi dua saudaranya meninggal lebih dulu. Di usia sembilan tahun, dia kehilangan ibunya yang meninggal karena sakit. Dia dan dua adiknya diasuh Sato Nakashima. Neneknya itu memberinya rasa aman, perhatian, kasih sayang dan pendidikan karakter, yang tak didapat dari ayahnya karena sibuk. Saat Yap Sin Eng memohon status hukum disamakan ( gelijkstelling ) dengan bangsa Eropa, anak-anaknya pun memperoleh kesempatan menempuh pendidikan Eropa. Sehingga Yap Thiam Hiem dapat belajar di Europesche Lagere School (sekolah dasar untuk orang Eropa) dan MULO (sekolah menengah pertama untuk orang Eropa) di Banda Aceh. Pada 1920-an, Yap Sin Eng membawa Yap Thiam Hien dan adiknya, Yap Thiam Bong, pindah ke Batavia dan melanjutkan sekolah di MULO Batavia. Yap meneruskan ke Algemene Middelbare School program bahasa-bahasa Barat di Bandung dan Yogyakarta, dan lulus pada 1933. “Selama di Yogya, Hien indekos di rumah keluarga Hermann Jopp. Dia adalah warga keturunan Jerman-Indonesia yang bekerja sebagai topografer untuk keraton, dan tinggal di Jalan Magelang, sekira dua mil ke arah utara keraton. Di sini pula Hien mengenal agama Kristen Protestan,” tulis Lev. Setamat AMS tahun 1933, Yap kembali ke Batavia. Suasana Depresi Ekonomi membuat perekonomian tersendat, termasuk keluarganya. Di Batavia, Yap frustrasi sebab tak kunjung beroleh kerja. Dia mencoba menjadi guru dengan memasuki Hollands-Chineesche Kweekschool (HCK) di Meester Cornelis (kini, Jatinegara), sekolah pendidikan guru satu tahun dengan biaya 5 guilder per bulan. Neneknya, Sato, membantu uang kuliahnya. Setelah lulus dari HCK, Yap menjadi guru di sekolah misionaris di Cirebon dan Hollandsch Chineesche School (HCS) di Rembang yang termasuk wilde scholen atau sekolah yang tidak diakui pemerintah. Sebagai guru, Yap membaur dengan para siswanya. Dia sering bermain kasti ( baseball ala Belanda), berenang, dan bersepeda dua kali dalam sebulan. Masa empat tahun di Cirebon dan Rembang sangat penting dalam kehidupan Yap selanjutnya. Pergaulannya meluas, kemampuan mengorganisasi berkembang baik dan kepercayaan diri yang meningkat. “Dua puluh tahun pertama dalam hidupnya, Hien bergaul dengan bermacam kelas, baik dengan sesama Tionghoa maupun dengan etnis lain. Dia mulai mendekatkan diri dan bergaul dengan banyak sekali kaum miskin,” tulis Lev. Di usia 25 tahun pada 1938, Yap memutuskan kembali ke Batavia. Jalan Pembela Di Batavia, keadaan ekonomi keluarga Yap Sin Eng tak juga membaik. Mau tak mau, sebagai anak tertua, Yap Thiam Hien menggantikan posisi ayahnya sebagai kepala keluarga. Di zaman itu, kehidupan peranakan jauh lebih sulit daripada totok. Kaum totok dapat saja kembali ke negeri Tiongkok, tetapi kaum peranakan harus bertahan. Yap Thiam Hien kembali menjadi guru di HCS khusus anak-anak Tionghoa miskin. Dari situ, dia pindah kerja menjadi pencari pelanggan telepon hingga menjadi pemeriksa wilayah komersial milik warga Tionghoa di sepanjang Jalan Molenweg (kini, Jalan Hayamwuruk, Jakarta Pusat). Dia digaji 100 guilder per bulan. Dia mengambil sekolah hukum setelah tabungannya cukup. Keputusan ini disetujui segenap anggota keluarganya. Pada 1946, Yap Thiam Hien berangkat ke negeri Belanda guna menempuh studi hukum di Universitas Leiden, dengan menumpang kapal yang membawa orang-orang Belanda dari Indonesia ke negara asalnya. Selama belajar di Leiden, dia tak hanya belajar hukum tetapi juga mendalami agama dan politik. Dalam politik, dia banyak belajar dengan para mahasiswa Indonesia yang dekat dengan Partai Buruh. Dia tinggal di Zendinghuis, daerah Oogstgeest, di luar Kota Leiden. “Dia banyak membaca teologi Protestan modern dan bergaul dengan siswa yang mempersiapkan pekerjaan misi. Dia berkomitmen terhadap gereja, namun juga penafsiran independennya tentang agama, semakin dalam. Gereja menawarkan kepadanya pelatihan lebih lanjut di Selly Oakes di Inggris jika dia akan berkomitmen pada pekerjaan gereja di Indonesia,” tulis Daniel S. Lev dalam “Becoming an Orang Indonesia Sejati: The Political Journey of Yap Thiam Hien,” Indonesia , edisi Juli 1991. Yap Thiam Hien meraih gelar Meester in de Rechten pada 1947. Sekembali ke Indonesia, dia aktif dalam gereja dengan turut mendirikan Yayasan Pendidikan Gereja Indonesia. Sejak 1948, Yap memutuskan untuk menjadi pengacara profesional hingga akhir hayatnya.*
- Meninjau Kembali Peran Arung Palakka
DI bulan Desember ini, 350 tahun yang lalu, suasana tegang masih menyelimuti hati setiap orang di Benteng Somba Opu. Sebuah perjanjian yang sangat penting bagi Kerajaan Gowa-Tallo baru saja ditandatangani sebulan sebelumnya, tepatnya pada 18 November 1667. Perjanjian yang dikenal sebagai Perjanjian Bungaya itu terpaksa disetujui oleh pihak Kerajaan Gowa-Tallo setelah berkonflik dengan VOC ( Vereenigde Oostindische Compagnie ) selama setengah abad. Sejak paruh pertama abad ke-17, berbagai perlawanan yang dilancarkan oleh Kerajaan Gowa-Tallo di Kepulauan Maluku dianggap sebagai ancaman serius. Saat itu Kompeni melakukan berbagai cara untuk memantapkan monopoli perdagangan di kawasan timur Nusantara tersebut. Kompeni yang melihat banyaknya palili’ (daerah/kerajaan bawahan) yang dimiliki Gowa, serta dengan mempertimbangkan suasana politik yang panas antara palili’ dan Sultan Hasanuddin sebagai Raja Gowa, akhirnya menemukan celah dengan menjalin koalisi tak terduga dengan Arung Palakka, seorang bangsawan nan cerdas dari Bone yang dibawa sebagai tawanan ke Gowa pada akhir 1644.
- Inilah Makanan Orang Jawa Kuno
DATA tentang makanan kebanyakan muncul dalam prasasti yang menuliskan aneka hidangan yang disuguhkan pada upacara sima (tanah perdikan atau tanah bebas pajak) . Khususnya pada bagian penutup, yaitu acara makan bersama sebagai rangkaian upacara sima . Bukan hanya dalam prasasti, naskah kuno dan panil relief juga sering menyajikan keterangan mengenai makanan. Berikut ini makanan-makanan yang dimakan orang Jawa Kuno. Masakan dari Nasi Nasi tumpeng atau disebut skul paripurna biasanya disajikan dalam perayaan penetapan suatu desa sebagai sima. Dalam prasasti juga biasa disebutkan skul liwet , yaitu nasi yang ditanak dengan pangliwetan. Adapun skul dinyun adalah nasi yang ditanak dalam periuk. Sementara skul matiman adalah nasi yang ditim. Masakan Ikan Berdasarkan kesaksian para pelaut yang datang ke Asia Tenggara, hasil ikan pada masa Jawa Kuno sangat melimpah. Ikan-ikan itu biasanya disantap dengan lebih dulu diasinkan atau dikeringkan, yang disebut grih. Hingga kini orang Jawa menyebutnya gereh. Ada juga ikan yang dikeringkan yang disebut dendeng ( deng atau daing ). Ada dua macam rasa dendeng yang disebutkan dalam prasasti: asin atau tawar. Satuan ukuran ikan asin disebut kujur yang diketahui dari Prasasti Waharu I atau Prasasti Jenggolo dari 851 saka atau 929 M. Tidak hanya disajikan saat penetapan sima, ikan asin juga untuk makan sehari-hari. Umumnya jenis ikan yang biasanya diasinkan atau didendeng adalah ikan laut seperti ikan kembung ( rumahan ), tenggiri ( tangiri ), bawal ( kadiwas ), selar ( slar ), sontong/cumi-cumi ( hnus ), layar/pari ( layar-layar ), gabus, kerang-kerangan ( iwak knas ), kepiting laut ( getam ), kepiting sungai (hayuyu), dan udang ( hurang ). Ada pula beberapa jenis ikan lain yang dalam prasasti disebut dengan wagalan, kawan-kawan, dlag. Ikan lainnya tak diketahui habitatnya, seperti bijanjan, bilunglung, harang, halahala, dan kandari. Masakan dari Hewan Ternak Makanan sumber hewani selain ikan antara lain ayam ( ayam ), bebek ( andah ), angsa ( angsa ), babi ternak ( celeng ), kambing, dan kerbau ( kbo/ hadangan ). Hewan-hewan itu dalam prasasti hanya disebut sebagai penganan yang disayur. Kemungkinan ada juga makanan yang dipanggang. Selain hewan yang diternak, masyarakat Jawa Kuno juga terbiasa mengkonsumsi babi hutan ( wok ), kijang ( kidang ), kambing ( wdus ), kera ( wrai ), kalong ( kaluang ), sejenis burung ( alap-alap ), hingga kura-kura (kura ). Rakyat dan kerajaan secara umum memiliki perbedaan tingkat konsumsi daging. Terkadang kebiasaan makan bersama dalam pesta yang diselenggarakan raja, seperti penetapan sima , maksudnya adalah membagi persediaan daging pada rakyat yang jumlahnya terbatas. Sayuran Lalap dari sayuran mentah juga sejak dulu sudah dikenal. Dalam prasasti, lalapan diistilahkan dengan Rumwahrumwah. Adapula kuluban , yang oleh orang Sunda saat ini diartikan sebagai sayuran yang direbus. Sementara dudutan juga sering disebut mungkin sejenis kangkung, salada, atau genjer yang cara memanennya seperti didudut atau dicabut. Camilan Selain lauk pauk dan masakan dari nasi, ternyata orang Jawa Kuno juga mengenal berbagai camilan. Prasasti Sanguran di Malang dari 850 saka (928 M), menyebutkan panganan bernama tambul dan dwadwal atau dodol . Makanan Raja ( Rajamangsa ) Prasasti sering menyebut makanan yang menjadi hak istimewa, atau istilahnya rajamangsa. Makanan ini termasuk kambing yang belum keluar ekornya, penyu badawang, babi liar pulih , babi liar matinggantungan , dan anjing yang dikebiri. Hak mengkonsumsi makanan itu umumnya dijumpai pada prasasti yang memuat pemberian hak istimewa yang dikeluarkan sejak masa Mpu Sindok hingga masa Majapahit. Ada juga asu buntung atau anjing yang tak berekor. Sementara cacing, tikus, keledai dan katak juga dijadikan masakan. Padahal hewan-hewan itu, menurut Nagarakrtagama termasuk makanan pantangan yang jika dilanggar mengakibatkan dihina musuh dan mati dalam kondisi bernoda. Bumbu Dapur Bagaimana rasa makanan-makanan itu? Yang jelas tak akan sama dengan rasa makanan saat ini. Bumbu Jawa yang kini populer baru pada masa kemudian diimpor. Jintan misalnya, tumbuh di Timur Tengah. Kuma-kuma ( saffron ) dibawa dari Mediterania. Adapun ketumbar aslinya dari Timur Tengah dan wilayah Mediterania. Tanaman untuk bumbu yang diketahui ditanam di Jawa sejak lama adalah merica, lada hitam, lada putih, dan cabe Jawa. Sementara kemukus telah menjadi produk ekspor ke Tiongkok sejak 1200-an. Laos adalah tanaman Jawa. Marco Polo pernah mencatat tanaman ini diproduksi di Jawa pada abad 13. Adapun jahe dan bawang disebut sebagai produk yang diperjualbelikan di desa. “Kita dapat memperkirakan makanan pada abad 10 M mungkin saja dibumbui dengan jahe, kunyit, kapulaga, dan laos, juga merica,” tulis Antoinette M. Barret Jones, peneliti epigrafi Indonesia asal Australia dalam Early Tenth Century Jawa From the Inscriptions .*
- Serba Pertama di Piala Dunia (Bagian I)
SEJAK advokat Prancis Jules Rimet dan anggota pelopor FIFA menghelat turnamen sepakbola empat tahunan bernama Piala Dunia pada 1930, jumlah penikmatnya selalu meningkat. Rimet ingin Piala Dunia bisa mengangkangi pamor Olimpiade. Saban menjelang penyelenggaraan, masyarakat dari berbagai penjuru bumi selalu menantikannya. Hampir saban penyelenggaraan Piala Dunia selalu melahirkan sejarah-sejarah baru. Piala Dunia 1930 Mengingat Piala Dunia 1930 sebagai yang pertama, semua yang lahir di dalamnya otomatis sebagai yang pertama dalam sejarah Piala Dunia. Uruguay menjadi negara pertama yang menjadi tuan rumah gelaran empat tahunan itu, terlepas dari gugatan sejumlah anggota FIFA asal Eropa. Dalam turnamen yang berlangsung 13-30 Juli 1930 itu ke-13 negara peserta semua merupakan undangan FIFA, bukan negara yang lolos melewati kualifikasi seperti sekarang. Di Piala Dunia ini, aturan kartu merah maupun kuning juga belum ada. Pertandingan pembuka, Prancis kontra Meksiko (4-1) di Estadio Pocitos, Montevideo, menjadi pertandingan pertama dalam sejarah Piala Dunia. Tendangan voli pemain Prancis Lucien Laurent di menit ke-19 yang berbuah gol tercatat sebagai gol pertama di Piala Dunia dan mencatatkan nama Laurent sebagai pencetak gol pertama di ajang empat tahunan itu. Penalti dalam pertandingan Cile vs Prancis, 19 Juli, menjadi penalti pertama di Piala Dunia. Carlos Vidal (Cile) yang mengeksekusi penalti itu tercatat sebagai eksekutor penalti pertama meski tendangannya gagal berbuah gol. Gol pertama dari penalti, menurut Clementa A Lisi dalam A History of the World Cup 1930-2014 , lahir dari kaki pemain Meksiko Manuel Rosas, yang menyarangkannya ke gawang Argentina (19 Juli). Tiga hari sebelumnya, saat Meksiko jumpa Cile, Rosas tercatat sebagai pemain pertama yang melakukan gol bunuh diri. Alexis Thepot, kiper Prancis yang menggagalkan tendangan Vidal, merupakan kiper pertama yang menggagalkan penalti di Piala Dunia. Thepot juga menjadi pemain pertama yang digantikan pemain cadangan, kala Prancis jumpa Meksiko di laga pembuka. Pemain Peru Placido Galindo menjadi pemain pertama yang diusir wasit, dalam laga Peru vs Rumania (14 Juli). Sementara, pemain AS Bert Patenaude tercatat sebagai pencipta hattrick (tiga gol dalam satu laga) pertama kala AS menang 3-0 lawan Paraguay (17 Juli). Untuk topskorer pertama, catatan dipegang pemain Argentina Guillermo Stabile dengan 8 gol. Dan, tuan rumah Uruguay menasbihkan diri sebagai kampiun pertama, lewat kemenangan 4-2 atas Argentina di final . Piala Dunia 1934 Piala Dunia kedua, di Italia, menjadi Piala Dunia pertama yang disiarkan secara luas lewat radio. Sebelumnya, publikasi Piala Dunia hanya melalui media cetak. Piala Dunia 1934 juga merupakan Piala Dunia pertama yang menggunakan sistem kualifikasi untuk keikutsertaan para kontestannya. Aturan itu dibuat karena anggota FIFA kian bertambah, meski pada akhirnya tidak semua anggota FIFA ikut kualifikasi. Di Piala Dunia yang berlangsung 27 Mei-10 Juni 1934 inilah FIFA kali pertama memperkenalkan format 16 tim peserta. “Tetapi sistem kompetisinya langsung gugur. Artinya, jika Anda kalah, Anda langsung pulang,” ujar Fernando Fiore dalam The World Cup: The Ultimate Guide to the Greatest Sports Spectacle in the World. Fiore juga mencatat, di Piala Dunia 1934 ini perpanjangan waktu sebuah pertandingan terjadi untuk pertama kalinya, saat Austria menghadapi Prancis (3-2), 27 Mei. Turnamen ini juga mencatatkan sejarah Mesir sebagai wakil Afrika pertama di Piala Dunia. Dan, sang juara Italia sebagai wakil Eropa pertama yang menjuarai Piala Dunia. Piala Dunia 1938 Piala Dunia 1938 di Prancis menjadi Piala Dunia pertama yang berlangsung di negeri pencetus turnamen tersebut, Jules Rimet. Di Piala Dunia ini, rekor quattrick (empat gol dalam satu laga) untuk pertamakalinya muncul, saat Brasil vs Polandia, 5 Juni. “Meski timnya kalah (5-6 dari Brasil), Wilimowski mencetak empat dari lima gol Polandia,” tulis Tom Dunmore dalam Historical Dictionary of Soccer . Gelaran yang berlangsung 4-19 Juni 1938 itu juga mencatatkan kehadiran Hindia Belanda sebagai wakil Asia pertama dalam Piala Dunia. Juara bertahan Italia berhasil membuat rekor sebagai negeri pertama yang mampu mempertahankan gelar setelah di final menghantam Hungaria 4-2. Piala Dunia 1950 Piala Dunia 1950 di Brasil menjadi Piala Dunia pertama usai absen akibat Perang Dunia II. Dalam event yang berlangsung 24 Juni-16 Juli ini, FIFA menerapkan aturan wajib nomor punggung untuk tiap tim peserta. “Alasannya untuk memudahkan komentator radio mengidentifikasi pemain dalam siarannya,” tulis Fernando Fiore. Selain itu, di Piala Dunia ini FIFA menerapkan format 16 tim dengan sistem grup, dan dua fase: penyisihan dan final. Penentu pemenang bukan dilakukan lewat pertandingan dua tim yang lolos ke final, melainkan lewat sistem klasemen. Uruguay kembali juara setelah mengumpulkan poin terbanyak di fase final berisi empat tim yang menjadi juara grup di fase penyisihan. Uruguay mendapat lima poin hasil dari dua kemenangan dan satu kali imbang. Piala Dunia 1954 Sebagai tuan rumah Piala Dunia yang berlangsung 16 Juni-4 Juli ini, Swiss menjadi negeri pertama yang Piala Dunianya disiarkan lewat televisi (TV) milik pemerintah Swiss. Menurut Fiore, siaran TV pertama Piala Dunia yang menayangkan sembilan pertandingan itu menjangkau delapan juta pasang mata. Tentu, siaran TV itu hanya bisa dijangkau negara-negara yang berteknologi maju. Sementara, lembaran hitam sejarah Piala Dunia bertambah lagi. Dalam duel Hungaria vs Brasil, 27 Juni, perkelahian antarpemain kedua tim di tengah lapangan untuk pertamakali muncul. Perkelahian itu memaksa aparat keamanan turun tangan melerai. Laga yang sempat dihentikan itu menghasilkan tiga kartu merah untuk satu pemain Hungaria dan dua pemain Brasil. Pertandingan berakhir dengan skor 4-2 untuk Hungaria. Para pemain Brasil tak terima hingga berkelahi lagi dengan pemain Hungaria selepas laga. “Para fotografer Brasil dan pendukungnya menyerbu lapangan. Para pemain berkelahi lagi di lorong ganti,” kenang Gustav Sebes, manajer Hungaria yang dikutip Mail & Guardian , 3 Mei 2006. Piala Dunia 1958 Swedia menjadi negara Skandinavia pertama yang menjadi tuan rumah Piala Dunia, 8-29 Juni 1958. Format lama “rasa” baru kembali diperkenalkan untuk kali pertama. Masih dengan 16 tim, namun sistem fase pertamanya grup berisi empat tim. Dua tim terbaik masing-masing grup itu berhak maju ke perempatfinal yang bersistem gugur. Sistem tersebut berlanjut hingga beberapa edisi Piala Dunia setelahnya. Di Piala Dunia 1958 ini untuk pertamakalinya terjadi pertandingan berakhir zonder gol. Rekor itu terjadi saat pertandingan Brasil melawan Inggris di laga kedua Grup 4, 11 Juni.
- Mata Uang Tiongkok Era Majapahit
PADA masa Majapahit ada kecendrungan baru terkait uang. Masyarakatnya menjadi punya kebiasaan menabung menggunakan celengan dalam berbagai bentuk dan ukuran. Kebiasaan ini banyak dijumpai, khususnya di pusat kota. Uang yang mereka tabung biasanya mata uang logam dari Tiongkok yang sudah lama mempengaruhi sistem moneter di wilayah Nusantara. Hal ini berkaitan erat dengan hubungan dagang antardua wilayah itu. Mata uang baru ini terutama terbuat dari tembaga dan digunakan terbatas pada akhir abad 10 M. Mata uang tembaga Tiongkok diimpor secara besar-besaran ke Jawa seiring meningkatnya perdagangan dengan Tiongkok pada abad 11 M dan awal abad 14 M. Mata uang ini kemudian dikenal dengan sebutan picis.
- Permusyawaratan Perempuan
BERSAMA 360 perempuan yang dipimpinnya, Nyonya Hafni Abu Hanifah bergegas ke Yogyakarta dari Jakarta. Mereka tak menghiraukan bahaya yang bakal menghadang akibat belum usainya perang. Beberapa daerah yang bakal dilalui keretapi yang mereka tumpangi masih dikuasai tentara Belanda. Dalam perjalanan, di daerah kekuasaan tentara Belanda, mereka harus mengalami pemeriksaan. Tentara Belanda menggeledah seisi gerbong. Satu per satu anggota rombongan Nyonya Hafni menjalani interogasi. Toh, hal itu tak meluluhkan tekad mereka untuk menghadiri dan menyukseskan acara Permusyawaratan Perempuan. Lewat acara itu, para perempuan akan menentukan sikap perjuangan baik bagi kaum mereka maupun kedaulatan negeri. Sumbangsih Untuk Negeri Mendengar akan dilaksanakannya Konferensi Meja Bundar (KMB), para perempuan aktivis bersemangat untuk ikut serta. Bukan dengan cara langsung ikut dalam KMB tapi dengan mengadakan Permusyawaratan Wanita Seluruh Indonesia di Yogyakarta, 26 Agustus-2 September 1949. Burdah Yusupadi, Siti Sukaptinah, dan Maria Ulfah, sesuai hasi Kongres Wanita Indonesia VII di Solo (1948), dipercaya menjadi panitia penyelenggaranya. “Kongres yang penyelenggaraannya mendekati KMB ini menunjukkan tekad para perempuan dalam mencapai kemerdekaan nasional,” tulis Saskia Eleonora Wieringa dalam Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia . Meski kondisi politik masih panas dan beberapa daerah masih dikuasai Belanda, 82 perwakilan organisasi perempuan dari seluruh Indonesia menghadiri acara tersebut. Perjuangan mereka untuk bisa sampai Yogya tak mudah. Sama seperti rombongan dari Jakarta, yang dikisahkan Cora Vreede-de Stuers dalam Sejarah Perempuan Indonesia, rombongan dari luar Jawa, yang datang menggunakan moda transportasi laut, juga mengalami penggeledahan, interogasi, dan lain-lain. Adanya tekanan Belanda tak membuat pertemuan itu batal. Kerjasama erat panitia dan peserta justru membuat acara berjalan lancar. Dalam acara itu, masing-masing perwakilan membacakan laporan. Laporan antara lain berisi tentang pembunuhan pegawai-pegawai PMI dan pengungsi di Solo. Ada pula laporan tentang pembunuhan terhadap 4.000 orang di Sulawesi Selatan, lalu laporan peristiwa penembakan Gunung Sumping terhadap perempuan dan anak-anak di Pasar Kembang, Solo. Laporan-laporan itu sontak membuat para peserta memprotes keras perbuatan-perbuatan kejam yang dilakukan tentara Belanda. Mereka menuntut hukuman setimpal bagi pelakunya. Tuntutan itu menjadi satu dari sekian tuntutan hukum yang didiskusikan dan dibuat dalam Permusyawaratan itu. Buku terbitan Kowani, Sejarah Setengah Abad Kesatuan Pergerakan Wanita , menyebutkan tuntutan-tuntutan yang mereka ajukan meliputi persamaan kedudukan di bidang hukum dan pemerintahan bagi tiap warga negara, adanya hak atas pekerjaan dan penghidupan layak bagi kemanusiaan untuk tiap warga negara, adanya peraturan dalam undang-undang kerja di RIS yang melindungi pekerja khususnya perempuan pekerja. Pada hari kelima, 30 Agustus 1949, Permusyawaratan membuat resolusi. Selain berisi tuntutan kemerdekaan penuh dan tidak bersyarat bagi Indonesia di tahun itu juga, lewat resolusi itu para perempuan menuntut dibebaskannya para tawanan akibat perjuangan kemerdekaan, dan mendukung resolusi Kongres Pemuda Indonesia tentang penarikan tentara Belanda sebelum pengakuan kedaulatan dan mengakui hanya satu bendera, merah-putih, dan lagu “Indonesia Raya”. Permusyawaratan juga membentuk Badan Kontak yang terdiri dari 19 organisasi. Badan kontak yang diketuai Maria Ulfah itu menyepakati tujuan perjuangan perempuan Indonesia dalam Kowani adalah mewujudkan kemerdekaan penuh bagi seluruh Indonesia. Setelah menyalin, panitia mengirim tuntutan-tuntutan maupun resolusi hasil Permusyawaratan ke pers, berbagai organisasi gerakan perempuan seluruh dunia, dan delegasi BFO maupun Republik Indonesia untuk diperjuangkan di KMB.





















