top of page

Hasil pencarian

9792 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • 11 Maestro Bola Kaki Beralih Politisi (Bagian I)

    KENDATI FIFA berupaya sekuat tenaga menjauhkan sepakbola dari politik, olahraga terpopuler di dunia ini sulit jauh dari politik. Malahan, tak sedikit maestro lapangan hijau yang merapatkan diri dengan isu politik kendati tak semua beralih jadi politisi. Diego Armando Maradona, misalnya. Legenda sepakbola Argentina itu tak sekali-dua bicara politik dengan lantang. Maradona dikenal anti-Amerika Serikat. Di otobiografinya, El Diego , Maradona terang-terangan mengagumi sosok pemimpin Kuba Fidel Castro. Maradona juga bersahabat dekat dengan mantan Presiden Venezuela Hugo Chavez di samping Presiden Carlos Menem. Selain Maradona, Johan Cruyff juga nyaring jika bicara politik dan HAM. Dia blak-blakan menentang aksi pembersihan orang-orang kiri di Argentina semasa rezim Jorge Videla. Itu menjadi salah satu faktor Cruyff menolak ikut timnas Belanda ke Piala Dunia 1978 di negeri Tango. Setidaknya ada 11 maestro sepakbola lain yang berkarier sampai di milenium kedua serta tak alergi isu-isu politik dan akhirnya memilih jadi politisi. Ada yang sukses, ada pula yang gagal. Berikut nama-nama itu: George Weah Ikon sepakbola Liberia ini mulai menikmati kecemerlangan karier pesepakbola sejak bergabung di Liga Prancis bersama klub AS Monaco. Karier George Talwon Manneh Oppong Ousman Weah mencapai puncak setelah berseragam merah-hitam, warna kebesaran klub Serie A Italia AC Milan. Di tim asal kota mode itu, Weah bergelimang gelar. Selain dua gelar juara Serie A (1995-1996, 1998-1999), Weah mengoleksi gelar-gelar individu seperti Onze d’Or, Ballon d’Or (1995), dan Golden Foot Legends Award (2005). Setelah gantung sepatu, Weah terjun ke politik dan langsung berniat mencalonkan diri pada Pemilihan Presiden (Pilpres) Liberia 2005 menggunakan kendaraan Partai CDC (Partai Kongres untuk Perubahan Demokratik). Namun, Weah gagal. Menurut BBC News 13 November 2005, Weah dengan perolehan suara 40,6% kalah dari lawannya, Ellen Johnson Sirleaf, yang mendapat suara 59,4%. Pada pemilu 2011, Weah berkenan hanya menjadi calon wakil presiden bersama Winston Tubman. Sialnya, Weah kalah lagi dari Ellen Sirleaf asal Unity Party, 90,7%-9,3%. Weah maju lagi dalam pilpres Liberia 2017 melawan Joseph Boakai dan Charles Brumskine. Meski kalah dari Boakai, Weah lolos ke putaran kedua. Namun, putaran kedua yang sedianya digelar 7 November 2017, ditunda atas perintah mahkamah agung akibat protes Brumskine. Namun, gugatan itu ditolak mahkamah agung. Pada pemilihan putaran kedua Weah menang dan resmi menjadi Presiden Liberia. Pele Semasa menjadi pemain, Edson Arantes do Nascimento atau yang biasa disapa Pele terkesan jarang bicara politik. Maestro yang ibarat dewa bagi masyarakat Brasil ini hanya fokus mengukir prestasi di lapangan hijau bersama klub Santos, kemudian New York Cosmos dan timnas Brasil. Pele ikut mengukir prestasi ikonik Brasil tiga kali juara Piala Dunia (1958, 1962, 1970). Pun begitu, Pele pernah jadi menteri. Pada 1995, Pele ditunjuk Presiden Brasil Fernando Henrique Cardoso untuk menduduki jabatan Menteri Olahraga Luar Biasa. Semasa menjabat, Pele pernah mengajukan program pencegahan korupsi dalam sepakbola Brasil, dijuluki “Pele Law”. Pele, tulis BBC News 25 Maret 1998, mewajibkan klub-klub olahraga mengikuti prosedur dan hukum bisnis, serta menunaikan pajak dalam jangka waktu dua tahun. Pele juga mendesak program itu disetujui badan legislasi Brasil, di mana turut terdapat izin klub-klub mengorganisasi liga kecil yang otomatis memutus monopoli CBF (induk organisasi sepakbola Brasil). Program itu justru ditentang banyak organisasi olahraga. Pele mundur dari jabatannya pada 2001 setelah muncul tuduhan korupsi dana UNICEF 700 ribu dolar Amerika. Tuduhan itu tak pernah terbukti, UNICEF pun membantahnya. Romario Meski berjuluk baixinho atau si kecil, prestasi penyerang Brasil ini samasekali tak kecil. Karier Romario de Souza Faria meroket setelah bergabung dengan klub Eredivisie PSV Eindhoven. Prestasinya yang apik dan stabil membuatnya kemudian dipinang Barcelona. Romario juga melegenda buat para pecinta timnas Brasil. Bersama Selecao (julukan timnas Brasil), Romario mempersembahkan dua trofi Copa America (1989 dan 1997), trofi Piala Dunia 1994, dan gelar juara Piala Konfederasi 1997. Selepas pensiun, Romario terjun ke arena politik. Dengan kendaraan Partai Sosialis Brasil (PSB) di Pemilihan Legislatif 2010, Romario terpilih mewakili Negara Bagian Rio de Janeiro di Camara dos Deputados atau Kamar Perwakilan Rakyat Brasil. Media Brasil Globo4 melaporkan pada Oktober 2010, Romario mendapatkan kursi setelah menempatkan diri di urutan keenam dengan total suara 146.859. Jalan politik Romario kian mulus setelah pada Pemilu 2014 sukses terpilih di Senat Brasil, juga mewakili Negara Bagian Rio de Janeiro. Carlos Valderrama Nama Carlos Alberto Valderrama Palacio melesat sebagai salah satu pesepakbola terhebat Kolombia kala berseragam Deportivo Cali. Kariernya semakin mengkilap setelah merantau ke klub Prancis Montpellier HSC dan klub La Liga Real Valladolid. Di timnas Kolombia, Valderrama masih dihormati sebagai pemain dengan caps atau penampilan terbanyak, 111 laga. Dia menjadi capitan timnas Kolombia di tiga gelaran Piala Dunia (1990, 1994 dan 1998), serta lima turnamen Copa America (1987, 1989, 1991, 1993 dan 1995). Setelah gantung sepatu, pada 2014 Valderrama mencalonkan diri sebagai senat pada Pemilihan Parlemen lewat Partai Sosial Persatuan Nasional. Gianni Rivera Setelah meniti karier di klub medioker Alessandria, Gianni Rivera memahat nama besarnya bersama AC Milan. Tiga titel Serie A, empat gelar Coppa Italia, masing-masing dua trofi Winners Cup dan Piala Champions serta sebiji gelar Intercontinental Cup diraihnya bersama Rossoneri (julukan AC Milan). Adapun bersama Gli Azzurri (julukan timnas Italia), centrocampista (gelandang) kelahiran Alessandria, 18 Agustus 1943 itu memboyong Piala Eropa 1968. Setelah terjun ke dunia politik, karier Rivera sama moncernya. Dengan bendera Partai Demokrasi Kristen, dia merebut satu kursi Parlemen Italia pada Pemilu 1987. Dia terpilih lagi pada 1992 dan 1994 di bawah Pakta Segni. Dua tahun kemudian dia bergabung di Koalisi Uniti nell’Ulivo. Menurut Il Corriere della Sera edis 29 September 2014, Rivera lantas ditunjuk menjadi asisten sekretaris urusan pertahanan di bawah Pemerintahan Romano Prodi. Pada 2005-2009, Rivera duduk sebagai anggota Parlemen (Uni) Eropa.

  • Islamisasi ala Cheng Ho

    MASYARAKAT Indonesia begitu menghormati Laksamana Cheng Ho sebagai seorang muslim yang melakukan Islamisasi di Nusantara. Karenanya dia diabadikan sebagai nama masjid di berbagai daerah. “Itu bagian dari pencarian identitas yang didasarkan atas fakta sejarah. Sejarah digunakan untuk justifikasi dalam rangka formasi identitas Chinese moslem di Indonesia dan kawasan lain,” ujar Singgih Tri Sulistyono, sejarawan Universitas Diponegoro, kepada Historia . Cheng Ho yang bernama asli Ma Ho lahir pada 1371 dari orangtua Muslim etnis Hui di Yunan. Hui adalah komunitas Muslim campuran Mongol-Turki. Pada 1381, Jendral Fu Yu-te dan pasukan Dinasti Ming menduduki Yunan dan menangkapi semua anak lelaki dewasa dan dan anak-anak. “Mereka dipotong alat vitalnya sebagai teror agar tunduk pada negara. Ma Ho adalah salah satu anak yang dikebiri. Dalam perkembangannya, Ma Ho tampil seperti raksasa dengan tinggi lebih dari dua meter yang mungkin disebabkan defisiensi hormon lelaki akibat emaskulasi,” tulis Sumanto Al Qurtuby dalam Arus Cina-Islam-Jawa . Ma Ho membantu Ceng Chu merebut takhta Dinasti Ming dari keponakannya, Kaisar Kien Wen. Sebagai pelarian politik, Kien Wen konon bersembunyi di Palembang. Ceng Chu atau Kaisar Yun Lo memberi nama Cheng Ho dan menjabat pemegang komando tertinggi atas ribuan abdi dalem di Dinas Rumah Tangga Istana. Menurut Sumanto Kaisar Yung Lo mengganti diplomasi politik dari jalur darat menjadi jalur laut. Dia mengerahkan 62 kapal besar dengan 225 junk (kapal berukuran kecil) dan 27.550 orang perwira dan prajurit termasuk politisi, juru tulis, pembuat peta, tabib, ahli astronomi, ahli bahasa, ahli geografi, dan ahli agama. “Sebagai commander in chief -nya diserahkan kepada Cheng Ho lewat sebuah Dekrit Kerajaan dengan wakil Laksamana Muda Heo Shien (Husain), sekretaris Haji Ma Huan dan Fei Shin (Faisal), juru bahasa Arab selain Ma Huan adalah Hassan, seorang imam pada bekas ibukota Sin An (Changan),” tulis Sumanto. Selain mengemban misi menjalin persahabatan dengan negara-negara lain serta menunjukkan supremasi politik dan ekonomi bangsa Tiongkok, ekspedisi Cheng Ho juga membawa agenda tersembunyi ( hidden agenda ). Penempatan konsul, diplomat, dan duta keliling mesti dibaca dalam penegakan otoritas politik. Demikian pula penempatan konsul dagang mesti dilihat dari aspek ekonomi. “Juga persebaran para juru dakwah Islam di hampir setiap kota yang disinggahi adalah upaya melakukan misionarisme Islam (Islamisasi). Singkatnya, ekspedisi besar itu menyimpan hidden agenda baik untuk kepentingan pragmatis Kekaisaran Ming maupun kepentingan ‘primordial Islam’ Cheng Ho,” tulis Sumanto. Sumanto menguraikan di Palembang, Cheng Ho membentuk masyarakat Tionghoa Islam yang sudah sejak zaman Sriwijaya banyak didiami orang-orang Tionghoa. Dari situ, Cheng Ho membentuk komunitas Tionghoa Islam di Sambas. “Barangkali di Palembang-lah masyarakat Tionghoa Islam di Nusantara yang pertama, kemudian diteruskan di Jawa, Semenanjung dan Filipina,” tulis Sumanto. Kehadiran armada Cheng Ho di pesisir Jawa, terutama pada pelayaran pertama tahun 1405 dan ketiga tahun 1413, disambut cukup antusias oleh masyarakat Islam setempat terlebih para pemuka agamanya. Seperti Maulana Malik Ibrahim, tokoh muslim awal di Gresik, yang menyambut baik rombongan Cheng Ho dan Ma Huan. Cheng Ho kemudian meninggalkan juru dakwah Tionghoa dan pengikutnya yang berhasrat tinggal di Jawa untuk berbaur dengan komunitas Islam guna menyebarkan Islam. “Hampir di setiap pesisir Jawa sejak Sunda Kelapa, Cirebon, Semarang, Demak, Jepara sampai Tuban, Gresik dan Surabaya, Cheng Ho selalu menempatkan orang-orang Islam dari Tiongkok,” tulis Sumanto. Namun, Singgih berpendapat “saya belum pernah melihat bukti bahwa Cheng Ho memiliki misi Islamisasi meski dia seorang muslim. Misi pelayarannya untuk meneguhkan kekuasaan kekaisaran Tiongkok di kawasan laut selatan.” Meskipun demikian, Singgih tak menolak jika ada pengikut Cheng Ho yang turut melakukan pengislaman di pesisir Jawa. “Kalau itu (Islamisasi) bisa terjadi. Sebagian dari anak buah Cheng Ho tetap tinggal di pantai utara Jawa. Bagaimanapun juga ada diaspora Muslim Tionghoa pada periode itu untuk berdagang. Para pedagang ini yang mungkin menyebarkan Islam, karena tiap muslim punya kewajiban dakwah meski hanya satu ayat. Mereka berasal dari Mazhab Hanafi. Dengan demikian mereka berkontestasi dengan Mazhab Syafi’i yang dibawa dari India dan Timur Tengah. Lalu kalah,” ujar Singgih. Dari tahun 1405 hingga meninggalnya tahun 1433, Cheng Ho telah melakukan pelayaran tujuh kali dan mengunjungi 37 negara: dari Champa sampai India, sepanjang Teluk Persia serta Laut Merah hingga pesisir Kenya, termasuk Nusantara. “Prestasi besar ini menjadikan Cheng Ho diberi julukan oleh Kaisar Yung Lo sebagai Ma San Bao (Ma Si Tiga Permata). Pada masyarakat santun, julukan itu menunjuk pada Tri Ratna dalam Buddhisme. Sementara pada lingkungan yang bejat, julukan itu berarti bahwa Ma seorang prajurit jempolan meski tak punya zakar dan penis,” tulis Sumanto. Julukan Ma San Bao yang merujuk pada Tri Ratna (Buddha, Dharma, dan Sangha) seakan menyiratkan agama yang dianut Cheng Ho. Buddha adalah guru, Dharma adalah ajaran dan Sangha adalah para pendeta dan vihara . Kendati dijuluki Ma San Bao, Sumanto tetap yakin Cheng Ho adalah seorang muslim yang melakukan Islamisasi. Meyebut Cheng Ho bukan muslim bahkan dijadikan dewa yang disembah di berbagai kelenteng dengan sebutan Sam Po Kong oleh penganut Konfusianis di Tiongkok “adalah sebuah anakronisme (hal ketidakcocokan dengan zaman tertentu, red. ).”

  • Cara Bang Ali Menggunakan APBD

    WAKTU Ali Sadikin mulai kerja sebagai gubernur DKI Jakarta hampir tak tahu mesti mulai dari mana. Untungnya ada Rencana Induk Pembangunan Jakarta yang dibuat pada masa Gubernur Sudiro yang disusun oleh para ahli dari luar negeri. “Saya tahu sudah ada Rencana Induk Pembangunan Jakarta. Maka saya telaah rencana yang sudah dibuat oleh pendahulu saya itu, saya sesuaikan dengan perkembangan keadaan dan menjadikan rencana itu sebagai pedoman bagi pembangunan kota,” kata Ali Sadikin dalam memoarnya, Membenahi Jakarta Menjadi Kota yang Manusiawi karya Ramadhan KH. “Tentu saja penyesuaian-penyesuaian itu tidak asal saja. Semuanya harus diperhitungkan dengan cermat, dibahas secara teliti, baru diputuskan.” Bahkan, Ali tidak membenarkan terjadinya penyimpangan dari rencana itu. “Sebab kalau penyimpangan-penyimpangan itu kita biarkan, pasti tak ada gunanya lagi pedoman itu,” kata Ali. Ali membawa dan membahas rencana itu dengan DPRD-GR. Keluarlah surat keputusan DPRD-GR tanggal 3 Mei 1967 tentang Pengesahan Rencana Induk ( Master Plan ) DKI Jakarta 1965-1985. Rencana induk 20 tahun itu merupakan landasan pokok yang pertama ditetapkan untuk membangun Jakarta. Dan itulah salah satu prioritas utama dalam strategi dasar pemerintahan DKI Jakarta. “Maka, berjalanlah Pemda DKI Jakarta dengan pembangunannya, sementara biaya untuk itu sudah saya dapatkan dari usaha sendiri dengan kiat-kiat yang berani,” kata Ali. Kiat-kiat berani itu seperti mengizinkan perjudian dan memungut pajaknya. Sehingga, orang yang tak suka menjulukinya “gubernur judi” atau “gubernur maksiat.” Ali berhasil meningkatkan APBD DKI Jakarta dari Rp1.169.273.293 pada 1966/1967 menjadi Rp89.516.580.000 pada 1977/1978 atau kurang lebih 77 kali lipat dalam waktu sebelas tahun. Pada periode 1969/1970 sampai 1973/1974, anggaran digunakan untuk proyek-proyek pembangunan yang digolongkan menurut pembidangan: pemerintahan, keamanan dan ketertiban, kesejahteraan rakyat, prasarana, perekonomian, dan perbaikan kampung. Sejak 1971/1972 pembidangan kegiatan bertambah satu bidang yaitu PON VIII di Jakarta. “Melihat persentasenya anggaran pembangunan untuk masing-masing bidang bisa saya ingat bahwa untuk bidang prasarana adalah yang tertinggi, rata-rata lebih dari 40%,” kata Ali. Pada periode selanjutnya 1974/1975 terjadi perubahan dalam pembidangan pembangunan karena disesuaikan dengan pedoman yang dikeluarkan menteri dalam negeri. Sejak periode itu, pembidangan yang berlaku adalah bidang ekonomi sosial dan bidang umum yang mendapat anggaran terbanyak, sekira 60%. “Hal ini karena sarana kota waktu itu sudah membaik,” kata Ali. Dalam menggunakan anggaran, Ali berprinsip untuk mengutamakan anggaran untuk pembangunan. Sedangkan untuk anggaran rutin (biaya yang dikeluarkan bagi pelaksanaan umum pemerintahan di luar pembangunan dalam bentuk proyek) di bawah 50%. “Dalam menyusun anggaran RAPBD saya selalu berpedoman kepada ketetapan bahwa anggaran pembangunan harus lebih dari 50% dan anggaran rutin kurang dari 50% dari anggaran. Policy itu tetap saya pelihara, dari mulai saya jadi gubernur sampai selesai tugas (1966-1977),” kata Ali. Kendati anggaran rutin ditetapkan di bawah 50%, Ali tetap memperhatikan kesejahteraan pegawainya. Oleh karena itu, dia meningkatkan anggaran rutin dari Rp14.951.990.000 pada 1974/1975 menjadi Rp39.726.580.000 pada 1977/1978. “Hal ini antara lain disebabkan nafkah para pegawai patut saya naikkan. Dengan begitu kesejahteraan para pegawai Pemerintah DKI Jakarta naik. Penampilan mereka juga tambah menyenangkan. Harga diri mereka juga bertambah tinggi,” kata Ali.

  • Dihadang TKR di Dawuan

    STASIUN Cikampek, 21 November 1945. Sebuah pesan telegram diterima oleh petugas stasiun kereta api dari petugas telik sandi Resimen V di stasiun kereta api di Jakarta. Isinya pemberitahuan tentang keberangkatan satu formasi pasukan Inggris dari unit Gurkha Rifles yang mengawal kereta api logistik serta amunisi dari Jakarta. “Mereka bergerak menuju Bandung tanpa surat izin dari pemerintah Republik Indonesia," ujar Letnan Kolonel Moeffreni Moe’min dalam Jakarta-Karawang-Bekasi dalam Gejolak Revolusi: Perjuangan Moeffreni Moe’min karya Dien Madjid dan Darmiati. Komandan Resimen V Cikampek itu lantas memerintahkan jajarannya bersiap siaga melakukan penghadangan. Sebagai pengemban tugas adalah Batalyon Priyatna yang berkedudukan di Dawuan, terletak sekira 10 km dari Stasiun Cikampek. Hari menjelang siang saat dua puluh satu gerbong yang ditarik sebuah lokomotif itu bergerak menuju Bandung dari Stasiun Cikampek. Begitu melintas wilayah Dawuan tetiba kereta api yang tengah berjalan pelan, dihadang oleh satu unit pasukan TKR (Tentara Kemanan Rakjat). Beberapa dari mereka lantas meloncat ke atas lokomotif dan dalam bahasa Inggris yang fasih memerintahkan kereta api berhenti. “Kami minta surat izin untuk memasuki daerah kami dari pemerintah Republik Indonesia?" teriak salah satu dari anggota TKR tersebut. “Apa? Kami harus memakai surat izin? Sejak kapan petugas Allied Forces (Tentara Sekutu) yang ditugaskan ke Indonesia harus memakai izin? Tidak ada, kami tidak usah memakai surat izin!” jawab seorang letnan yang memimpin rombongan Sekutu tersebut. Adu mulut pun kemudian terjadi antara anggota Resimen V Cikampek dengan letnan tentara Inggris itu. Di tengah situasi tersebut, tiba-tiba terdengar rentetan tembakan dari salah satu jendela gerbong. Maka tak ayal lagi, tembakan itu disambut oleh salakan senjata dari ratusan prajurit Batalyon Priyatna. Pertempuran seru pun berlangsung. Mungkin karena kalah jumlah dan ketiadaan pengetahuan akan medan setempat, peleton tentara Inggris dari kesatuan Gurkha itu pun menyerah setelah sebagian besar serdadunya banyak yang tewas. “Seluruh isi gerbong kami sita dan empat orang Gurkha kami sisakan sebagai tawanan,” ujar Darminta, 89 tahun, veteran yang terlibat dalam adu senjata itu. Markas Sekutu di Jakarta lantas geger. Mereka lalu melaporkan soal itu kepada Pemerintah Republik Indonesia. Beberapa jam kemudian Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin menelepon Markas Resimen V Cikampek dan memerintahkan Moefreni untuk mengembalikan isi seluruh gerbong yang dirampas serta membebaskan para serdadu yang tertawan. Namun perintah itu ditolak oleh Moefreni. “Kalau kita terlalu mentolelir, lambat laun mereka akan menginjak kita dan kita akan kehilangan wibawa,” demikian alasan Moefreni. Akhirnya beberapa hari kemudian ditemukan jalan tengah: empat tawanan dari unit Gurkha itu akan ditukar dengan delapan tawanan Indonesia. Salah satunya adalah penyair Chairil Anwar. Sedangkan logistik yang sudah disita tidak akan dikembalikan karena sudah terlanjur dibagi-bagikan kepada semua anggota Resimen V Cikampek dan masyarakat sekitar Dawuan. Pihak Markas Besar TKR menugasi Letnan Kolonel A.E. Kawilarang sebagai wakil Republik yang mengurusi pertukaran tawanan tersebut. Menurut Ramadhan K.H. dalam Untuk Sang Merah Putih , begitu bertemu dengan keempat tawanan TKR itu di Stasiun Jatinegara, Kawilarang langsung disambut dengan teriakan "merdeka." Rupanya empat prajurit itu belajar kebiasaan pasukan TKR selama dalam tawanan di Cikampek. Untuk mencegah terjadinya insiden yang sama, selanjutnya dibuat kesepakatan baru bahwa pihak Sekutu akan melibatkan anggota TKR dari Jakarta dalam setiap misi pengiriman logistik via kereta api. Menurut R.H.A. Saleh dalam Mari Bung Rebut Kembali! , itu terjadi kali pertama pada 11 Desember 1945, saat satu kelompok kadet Akademi Militer Tangerang (AMT) pimpinan Daan Mogot ikut mengawal kereta api yang memuat kiriman logistik untuk para interniran di Bandung. Namun anehnya, hal tersebut tidak diterapkan Sekutu dalam misi pengiriman logistik yang memakai jalur darat lainnya. Kala pasukan dari TKR Jakarta mengawal misi-misi RAPWI via kereta api ke Bandung, di beberapa kota justru penghadangan-penghadangan tetap dilakukan. Salah satu penghadangan yang paling merepotkan militer Inggris terjadi di rute Bogor-Sukabumi-Cianjur-Bandung pada Desember 1945 dan Maret 1946.

  • Cara Cucu KH Noer Ali Menyelami Heroisme Sang Kakek

    RAUT wajah dan sorot mata pria itu menampakkan ketenangan bak air telaga. Namun, hatinya bergejolak. Setelah memberi pembekalan pada murid-muridnya, dia langsung memimpin mereka ke tempat penghadangan di Sasak Kapuk (kini Pondong Ungu, Kota Bekasi). Di sana, mereka akan menghadapi pasukan pemenang Perang Dunia II. Adegan itu menempati bagian awal perhelatan reka ulang Pertempuran Sasak Kapuk yang digelar Ikatan Abiturien Attaqwa dan Komunitas Sejarah Front Bekasi pada Sabtu, 18 November 2017. Acara yang dibuat untuk memperingati Hari Pahlawan itu berlangsung di Lapangan Pesantren Attaqwa, Ujungmalang, Bekasi. Gambaran fisik dan spirit Nur Ali, sang pemimpin, tadi mampu memancarkan gambaran sosok KH Noer Ali, pahlawan nasional yang memimpin rakyat Bekasi dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Bukan kebetulan bila hal itu bisa terjadi. Nur Ali merupakan salah satu cucu KH Noer Ali sang pahlawan. Ayah Nur Ali, KH Amin Noer –pendiri Yayasan Attaqwa, merupakan anak ketiga KH Noer Ali. Maka, Nur Ali amat bersemangat ketika memerankan sang kakek. Bermodal pistol Webley, dia ikut berjibaku ‘becek-becekan’ di lapangan bersama pasukannya yang diperankan 40 siswa Pesantren Putra Attaqwa Pusat. Itu merupakan cara Nur Ali menyelami heroisme kakeknya tentang masa-masa revolusi yang belum pernah didengarnya semasa sang kakek masih hidup. “Kesannya memerankan beliau itu luar biasa sekali. Ada rasa senang, namun juga ada harapan. Saya memang ingin tahu bagaimana menonjolnya sosok beliau (di masa perjuangan – red .),” ujar Nur Ali kepada Historia. Untuk memerankan sosok sang kakek, Nur Ali menyempatkan diri ikut latihan drama itu di sela-sela kesibukanya mengajar di Pesantren Attaqwa. Latihan itu sendiri berjalan hampir setiap hari sejak sebulan pra Hari H. “Kesulitannya ya mungkin karena memang saya enggak punya basic reka ulang atau drama. Apalagi kan peran utama ini sosok yang cukup dituakan dan juga kakek sendiri,” sambungnya. Nur Ali amat bangga bisa memerankan sosok kakeknya. Terlebih, sang ayah KH Amin Noer ikut memberi masukan padanya. Dan yang terpenting, Nur Ali bisa memetik keteladanan dari kakeknya, seorang ulama pejuang yang pada 2006 ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah. “Yang bisa kita teladani dari KH Noer Ali tentang peristiwa ini (Pertempuran Sasak Kapuk – red .) adalah tekad yang bulat. Dia juga merupakan sosok pemimpin yang sayang kepada anak buahnya. Kita juga bisa meneladani strateginya yang matang (dalam berperang di masa revolusi),” tandas Nur Ali.

  • Prahara di Pinggir Jakarta

    LETJEN Sir Philip Christison tak menyangka penugasannya sebagai panglima Komando Tentara Sekutu di Jawa usai Perang Dunia II bakal merepotkannya. Belum lagi Pertempuran Surabaya hilang dari ingatan, ulah para pemuda pejuang di Bekasi kembali membuatnya berang. Keberangannya kali ini berawal dari jatuhnya pesawat angkut Dakota milik Inggris yang berangkat dari Bandara Kemayoran pada 23 November 1945. “Dakota itu membawa 20 pasukan dari 2/19th Kumaon. Pesawat pengintai melaporkan kedua kru dan para penumpangnya selamat,” tulis Richard McMillan dalam The British Occupation of Indonesia: 1945-1946. Menurut AH Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Vol. 2 , para awak dan penumpang Dakota yang jatuh di Rawa Gatel, Cakung itu kemudian ditahan laskar pimpinan H Maksum. Para laskar lalu menyerahkan mereka ke Klender, daerah kekuasaan Barisan Rakyat (BaRa) pimpinan Haji Darip. BaRa enggan menampung mereka. Entah atas prakarsa siapa, para penumpang Dakota itu lalu diangkut menuju markas komando TKR Batalyon V Resimen V Cikampek. Namun dalam perjalanan, mereka justru disembelih dan jasad-jasadnya dibuang ke Kali Bekasi. Berita penyembelihan itu sampai ke telinga Christison dan membuat sang panglima naik pitam. Pada 29 November, dia langsung mengerahkan pasukan untuk mencari jasad-jasad penumpang Dakota meski harus melanggar garis demarkasi Kali Cakung. “Sekutu menggunakan tentara Punjab ke-1/16, Skuadron Kavaleri FAVO ke-11, Pasukan Perintis ke-13, pasukan Resimen Medan ke-37, Detasemen Kompi Medan ke-69, serta 50 truk dan lima meriam,” ujar Ali Anwar dalam biografi KH Noer Ali, Kemandirian Ulama Pejuang . Pasukan itu nyaris tak mendapat perlawanan dalam perjalanan sampai Kali Cakung. Namun di perlintasan kereta Rawa Pasung, Kranji (kini dekat Stasiun Kranji), mendadak mereka diserang puluhan pejuang Kelompok Pesilat Subang di bawah pimpinan Ama Puradiredja. Kelompok pejuang yang sempat mendapat latihan dasar kemiliteran dari Resimen V itu menyerang dengan menggunakan golok dan granat tangan. “Pertempuran tiba-tiba ini mengakibatkan enam pesilat gugur dan pihak lawan tak diketahui pasti. Namun dari pertempuran ini dapat dirampas 12 senapan mesin dan 10 karaben (senapan),” ujar Susila Budi Moeffreini yang mewakili keluarga besar Moeffreini Moe’min di buku Jakarta-Karawang-Bekasi dalam Gejolak Revolusi: Perjuangan Moeffreini Moe’min . Konvoi Inggris yang mengalami beberapa korban tewas dan luka itu lalu mundur kembali ke Jakarta via Cakung. Sialnya, di dekat wilayah Sasak Kapuk (kini pertigaan Pondok Ungu antara Jalan Sultan Agung dan Jalan Kaliabang, Kota Bekasi) mereka dicegat lagi, dari dua sisi. Kawasan itu memang sudah diplot jadi titik pencegatan oleh gabungan pasukan republik yang terdiri dari Laskar Rakyat pimpinan KH Noer Ali, pasukan Yon V Bekasi di bawah Mayor Sambas Atmadinata, dan TKR Laut pimpinan Mayor M Hasibuan. Pimpinan ketiga pasukan mengerahkan 400 personil untuk mencegat Inggris. Kontak senjata pun terjadi antara pasukan Inggris dan republik yang keberadaannya hanya dibatasi Kali Sasak Kapuk. Persenjataan pasukan Inggris jauh lebih superior daripada pasukan republik yang banyak di antara personilnya hanya bersenjatakan golok, arit, bambu runcing, dan ketapel. Gempuran-gempuran mortir dan artileri Inggris pun memakan banyak korban pasukan republik serta memaksa pasukan KH Noer Ali dan TKR Laut mundur ke utara. “KH Noer Ali selamat dari terjangan peluru dan segera menyelamatkan diri dengan cara menceburkan diri ke Kali Sasak Kapuk,” ujar Ali Anwar. Pertempuran skala besar pertama di Bekasi –yang kemudian dikenal sebagai Pertempuran Sasak Kapuk– itu menyebabkan 40 pejuang republik gugur dan 15 lainnya hilang. Sementara, korban dari pasukan Inggris tak diketahui. Pasukan Inggris langsung melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta setelah berhasil membuat mundur pasukan republik.

  • Djohan Effendi dan Pidato Soeharto

    SYAHDAN, pada 1975 Sekretariat Kabinet minta Departemen Agama (Depag) untuk membuatkan sambutan Presiden Soeharto untuk Hari Raya Iduladha. Karena tengah berada di Mekkah memimpin jamaah haji ( amirul haj ), Menteri Agama Prof. Mukti Ali minta pihak Setneg agar menghubungi Sekjen Departemen Agama Bahrum Rangkuti. Bahrum-lah yang kemudian mengorder draf pidato kepada Djohan Effendi. Hal ini termasuk yang dilaporkan oleh Bahrum setelah Mukti Ali pulang dari Tanah Suci.

  • Menggelorakan Kembali Perlawanan Dahsyat di Bekasi

    SAMBIL berjongkok dan memegang sebatang bambu, pemuda-pemuda berkemeja putih itu waspada. Mereka menunggu kedatangan lawan, pasukan Inggris, yang akan datang menyerang. Suasana tegang pra-pertempuran itu terjadi menjelang Pertempuran Sasak Kapuk. Tapi, itu bukan Pertempuran Sasak Kapuk yang terjadi tahun 1945, melainkan Pertempuran Sasak Kapuk dalam drama reka ulang yang bertempat di Lapangan Pesantren Attaqwa, Ujungharapan, Babelan, Bekasi. Reka ulang pertempuran yang dihelat untuk memperingati Hari Pahlawan itu berlangsung pada Sabtu, 18 November 2017, siang. Bukan semata untuk “menghidupkan” kembali Pertempuran Sasak Kapuk dan Serangan Kranji, Ikatan Abiturien Attaqwa (IKAA) dan Komunitas Sejarah Front Bekassi membuat drama itu untuk mengedukasi masyarakat. “Reka ulang ini demi mengingatkan masyarakat sekitar tentang besarnya peranan ulama, khususnya KH Noer Ali dalam Revolusi Fisik,” kata Nurkholis Wardi, sekjen IKAA yang juga keponakan mendiang KH Noer Ali, kepada Historia . “Karena banyak masyarakat sekitar maupun di kota-kota lain tidak tahu tentang pertempuran ini. Kita giat menggelar ini agar masyarakat tahu bahwa ada pertempuran besar yang melibatkan KH Noer Ali di Pondok Ungu. Kegiatan ini juga sesuai amanat KH Amin Noer (putra ketiga almarhum KH Noer Ali – red. ) agar tidak melupakan sejarah,” sambung Nurkholis. Sekira 70 orang berpartisipasi dalam drama yang dibuat untuk melukiskan peran KH Noer Ali beserta murid-muridnya semirip mungkin itu. Mereka berasal dari beragam komunitas yang ada di Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Selain membawa atribut seperti seragam, mereka juga melengkapi drama dengan replika senjata sendiri. Tak lupa, dua jip Willys dan kendaraan taktis Ford Lynx, yang didatangkan dari Museum Mandala Wangsit Siliwangi, juga disertakan untuk menduplikasi konvoi pasukan Inggris. Teriakan takbir menjadi penanda serangan dadakan pertama Kelompok Pesilat Subang yang diperankan enam murid-murid Padepokan Silat Sima Maung, diselingi dentuman-dentuman mercon. Adegan itu dibuat untuk memperlihatkan peristiwa sergapan heroik Kelompok Pesilat Subang pimpinan Ama Puradiredja di Rawa Pasung, Kranji. Lepas dari serangan pertama, konvoi Inggris kembali kena serangan kejutan. Kali ini serangan datang dari pasukan TKR Laut, TKR Batalyon V Bekasi, dan Hizbullah di bawah pimpinan KH Noer Ali, yang dalam drama ini diperankan cucunya yang bernama Nur Ali. Suara beragam jenis mercon lebih menggelegar dari sebelumnya. Adegan untuk menunjukkan Pertempuran Sasak Kapuk itu dimainkan 50 siswa Madrasah Aliyah Attaqwa Pusat. Kepedihan KH Noer Ali, yang melihat banyak muridnya menjadi korban, menjadi adegan penutup drama reka ulang itu. “Ini jadi pertempuran frontal pertama dan terakhir yang diterapkan KH Noer Ali di masa revolusi fisik. Selebihnya, KH Noer Ali menjadikannya pelajaran dan memilih taktik perang gerilya,” tutur penggiat komunitas sejarah Front Bekassi, Beny Rusmawan kepada Historia.

  • Menyorot Tradisi Maskot

    IBARAT sayur kurang garam. Itulah yang mungkin bakal terjadi bila event akbar olahraga modern, Piala Dunia ataupun Olimpiade, tak memiliki maskot. Sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018, Rusia telah siap dengan maskotnya. Zabivaka, nama maskot itu, merupakan sesosok serigala lucu berbulu coklat yang mengenakan balutan celana merah dan jersey putih berlengan biru yang bertuliskan “Russia 2018”. Ekaterina Bocharova, sang desainer maskot, melengkapi sosok Zabivaka dengan kacamata sport ber- frame oranye. Zabivaka sendiri merupakan kata dalam bahasa Rusia yang berarti pencetak gol. Zabivaka menjadi maskot ke-14 dalam sejarah Piala Dunia. Tradisi penggunaan maskot dalam gelaran megah olahraga terpopuler ini berawal pada Piala Dunia 1966 di Inggris. Sebagai tuan rumah, Inggris kala itu kesulitan mendapatkan sponsor. Untuk mendorong promosinya, negeri tiga singa itu lalu membuat maskot. Reg Hoye, ilustrator buku anak-anak Penerbit Enid Blyton, mendapat kepercayaan menggarap maskot itu. Selain mengupayakan pendeskripsian putranya, Leo, Hoye mengambil inspirasi dari simbol negerinya, singa, dan memadukannya dengan ikon budaya pop yang sedang trendi untuk mencipta maskot itu. Hasilnya, seekor singa mengenakan baju bergambar Union Jack (bendera Inggris Raya) dan bertuliskan “World Cup”. “Hoye memodernkan sosok singa yang merupakan ikon kerajaan (Inggris) dengan rambut bergaya (band) The Beatles,” tulis buku 1966 and Not All That karya Amy Lawrence dkk. Alih-alih menamakan maskotnya dengan nama sang anak, Hoye justru menamakan maskot yang rampung pada Juli 1965 itu Willie. “Pemilik asli nama (maskot Willie) adalah Kepala Administrasi Piala Dunia, EK ‘Willie’ Wilson. Nama panggilan akrab yang berasal dari para stafnya inilah yang kemungkinan diberikan untuk maskot,” tulis Jonathan Mayo dalam The 1966 World Cup Final: Minute by Minute . Maskot Willie lalu eksis dalam gambar ilustrasi dan beragam merchandise , mulai boneka hingga botol bir. Panitia serta FIFA meraup keuntungan melimpah dari produk-produk yang menyertakan gambar Willie. Keuntungan bertambah setelah lagu “Willie World Cup” diciptakan oleh Lonnie Donnegan. Lagu itu berandil besar mendongkrak pendapatan dari siaran radio dan hak siar televisi. “Pendapatan dari semuanya itu merupakan ledakan komersial pertama di Piala Dunia. Dilaporkan, FA (PSSI-nya Inggris) dan FIFA mendapat keuntungan hingga 3 juta poundsterling,” ungkap mantan penyerang timnas Inggris Jimmy Greaves dalam Greavsie: The Autobiography . Willie tak hanya memelopori penggunaan maskot dalam setiap turnamen empat tahunan tersebut tapi juga perhelatan akbar olahraga multicabang, Olimpiade. Setelah Olimpiade musim dingin 1968 Grenoble (Prancis) hadir dengan maskot Schuss karya Mme Lafargue, Olimpiade musim panas mengikuti dua tahun kemudian ketika Olimpiade Munich 1972 hadir dengan maskot ciptaan Olt Aicher bernama Waldi. Delapan tahun kemudian, Piala Eropa mengikutinya dengan perhelatan di Italia yang menampang Pinocchio sebagai maskot. “Willie meretas sejarah dan menjadi warisan yang berpengaruh. Bahkan sampai sekarang, memorabilia World Cup Willie masih bisa ditemukan, tidak hanya untuk pasar kolektor, namun juga suvenir kontemporer,” tulis Kevin Tennent dan Alex Gillett dalam Foundations of Managing Sporting Events: Organising the 1966 FIFA World Cup.

  • Benjol Segede Bakpao

    SETYA Novanto, tersangka kasus korupsi KTP elektronik, mengalami kecelakaan di Kompleks Perumahan Permata Hijau, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis malam (16/11/2017). Mobil fortuner yang ditumpanginya menabrak tiang listrik. Ketua DPR RI itu dilarikan ke RS Medika Permata Hijau, kemudian ke RS Cipto Mangunkusumo. Fredrich Yunadi, pengacara Setya Novanto, menyampaikan sebagaimana dikutip berbagai media, bahwa kepala kliennya benjol segede bakpao. Warganet pun segera menjadikannya candaan, selain tiang listrik. Bakpao, hidangan Tionghoa yang telah menjadi makanan siapa saja. Semula sesuai arti namanya, bakpao berisi daging babi: bak (daging babi) dan pao (roti). Roti kukus berbentuk setengah bola ini kemudian berisi aneka bahan-bahan manis seperti kacang ijo dan coklat. “Memang pada zaman dahulu bakpao identik dengan daging babi. Namun, kini di negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim, konotasi bakpao tidak lagi demikian. Kini pengertian umum dari bakpao adalah hidangan dari tepung terigu, difermentasi, diberi aneka isian dan dimatangkan dengan cara dikukus,” tulis Diah Surjani Ananto, penulis buku-buku tentang kue, dalam Bakpao . Sementara itu, food architect Istiawati Kiswandono, menerangkan bahwa di negara asalnya, Tiongkok utara yang dingin, roti kukus empuk berwarna putih ini rasanya tawar, tanpa isi dan disantap sebagai pengganti nasi, disebut ho yek pao . Sedangkan di Tiongkok selatan yang subtropis, roti ini diisi daging sapi cincang atau ayam berbumbu, disebut gou ruk . “Di Indonesia populer dengan sebutan bakpao asin. Berbeda dengan mantao yang rasanya agak manis, gou ruk bentuknya dilipat menjadi dua bagian, kemudian diisi dengan daging babi masak kecap yang diselipkan di tengahnya,” tulis Istiawati dalam Make Over dari Makanan Biasa Menjadi Hidangan Kreatif Eksklusif. Pada awal tahun 1950-an, makanan Tionghoa yang dijajakan keliling, seperti bakmi baso, bakmi pangsit, dan bakpao, belum diminati masyarakat. Sebab, kata Firman Lubis, seorang dokter, banyak yang menganggapnya makanan haram karena memakai minyak atau daging babi. “Seingat saya, baru pada akhir 1950-an, makanan Tionghoa mulai populer setelah dijual dan dipasarkan sebagai bakmi baso atau bakmi pangsit sapi. Selain itu juga bakpao dan masakan-masakan Cina secara umum mulai diperkenalkan sebagai makanan halal,” kata Firman dalam Jakarta 1950-an: Kenangan Semasa Remaja.

  • Desawarnana untuk Remaja

    Suatu hari Mien Ahmad Rifai pernah merasa bingung. Tetiba putri sulungnya yang masih duduk di kelas lima sekolah dasar bertanya tentang isi kitab Negarakertagama terjemahan Slamet Mulyana. Tak ada yang bisa dilakukannya. Dari kebingunan itulah kemudian muncul ide dalam pikirannya: coba “meremajakan” naskah klasik karya Mpu Prapanca itu. Ide Mien itu sejatinya bukan berasal dari ruang hampa. Pakar biologi itu, berkaca kepada tradisi pendidikan di Eropa yang memperkenalkan sejak dini karya klasik kepada siswa sekolah. Agar dimengerti oleh anak-anak seumuran para siswa, karya klasik itu dikreasi ulang. Sebagai contoh, adanya beberapa versi saduran karya-karya Shakespeare atau Dickens bagi siswa-siswa di Inggris. Di Indonesia hal semacam ini jarang dilakukan. Padahal, menurut Mien, itu penting agar anak-anak muda mengenal lebih dalam budaya yang pernah berkembang di Nusantara. Itulah yang mendorong Mien menyadur Nagarakertagama dalam bahasa yang lebih mudah dibaca oleh remaja. “Saya ingin membuat saduran yang bisa dibaca anak-anak sekolah dasar dan sekolah menengah. Karena kalau membaca dalam bentuk aslinya, mereka pasti akan kesulitan,” tutur Mien dalam acara peluncuran Desawarnana: Saduran Kakawin Nagarakertagama untuk Bacaan Remaja , di Perpustakaan Nasional, Kamis, (16/11/2017). Tidak sekadar menyadur, Mien juga kembali memakai judul asli naskah ini, Desawarnana . Selama ini khalayak lebih mengenal karya Mpu Prapanca tersebut sebagai Nagarakertagama sebagaimana diperkenalkan pertama kali oleh J.L.A. Brandes. Desawarnana ditemukan kembali oleh Brandes pada 1894 di Puri Cakranagara, Lombok. Brandes kemudian memperkenalkannya kepada publik dengan judul Nagarakertagama berdasarkan kolofon yang ditulis oleh penyalin terakhir naskah ini. Selama beberapa waktu, naskah temuan Brandes itu dianggap sebagai satu-satunya salinan yang tersisa. Dalam pengajaran di sekolah-sekolah pun siswa memang lebih mengenal Nagarakertagama daripada Desawarnana . Pada 1978 di Amlapura, Bali, ditemukan kembali empat naskah salinan Desawarnana yang lain. Dalam lembar pembungkus dan kolofon naskah ini dengan jelas disebutkan Desawarnana sebagai judulnya. Karena itulah Mien memilih untuk kembali memakai judul yang dimaksud oleh Mpu Prapanca sendiri untuk karyanya itu. Dalam saduran karyanya tersebut terdapat beberapa hal menarik tentang kehidupan masyarakat semasa Majapahit berjaya. Salah satunya adalah kesukaan masyarakat Majapahit akan tanaman hias. Itu terpindai dari tuturan Prapanca tentang keindahan tata kota Majapahit pada pupuh delapan sampai duabelas. “Tetumbuhan yang disebutkannya merupakan flora asli Pulau Jawa, jauh sebelum datangnya ratusan jenis tanaman pendatang baru yang dibawa orang Portugis atau Belanda beberapa abad kemudian,” ujar Mien. Contoh lain misalnya tentang tempat tetirah berupa wisma-wisma yang dibangun di atas tiang-tiang di tengah laut. Wisma tetirah itu dipersiapkan khusus untuk rombongan Rajasanegara alias Prabu Hayam Wuruk saat singgah di Patukangan, dekat Panarukan. Wisma-wisma itu dirancang sedemikian rupa hingga menyerupai segugusan pulau. “Rumah-rumah itu dihubungkan dengan jembatan bambu yang penopangnya goyah sehingga berayun-ayun sangat mengasyikkan bila diterpa alunan ombak,” tulis Mien dalam karyanya. Desawarnan juga menyebut tentang komitmen kerukunan beragama yang dipegang oleh Rajasanagara. Di Majapahit terdapat tiga aliran agama yang dianut oleh masyarakat, yaitu Shaiwa, Waisnawa, dan Buddha. Ada menteri-menteri khusus yang diperintahkan raja untuk mengurus ketiga aliran agama ini. Demi menjaga kerukunan, raja melarang pemuka suatu agama mendakwahkan agama di daerah yang mayoritas memeluk agama lain. “Karena itu pendeta Buddha yang mengemban tugas negara di sebelah barat Jawa dilarang menyiarkan kepercayaan agamanya sebab penghuninya umumnya bukan pengikut ajaran Buddha,” ungkap Mien. Kendati berlatar keilmuan biologi, Mien memiliki minat besar terhadap sastra dan budaya. Semasa sekolah ia gemar membaca sastra. Ia sempat berkeinginan mendalami bahasa dan budaya namun tidak direstui orang tuanya. Ia kemudian memilih mendalami ilmu alam. Tetapi, minatnya pada sastra tidak luntur. Juga selama menempuh studi pascasarjadi di Universitas Sheffield, Inggris, ia rajin membaca dan mengumpulkan literatur klasik dunia. “Saya merasa sebagai orang Indonesia yang utuh kala membaca karya-karya klasik penulis-penulis kita dari Sunda, Minang, Batak. Dengan mengetahui budaya bangsa, kita bisa membuat anak-anak ini cinta Indonesia,” ujar Mien. Semangat itulah yang hendak ia tularkan kepada generasi kiwari melalui Desawarnana . Baginya, “peremajaan” Desawarnana adalah juga usahanya melecut penulis lain agar ikut meremajakan adikarya klasik Indonesia lainnya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page