Hasil pencarian
9816 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Arsip Konferensi Asia Afrika Menjadi Warisan Ingatan Dunia
SEBANYAK 565 lembar arsip foto, 7 reel arsip film, dan 37 berkas arsip tekstual setebal 1778 lembar menjadi saksi sejarah berlangsungnya Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, 18-24 April 1955. Arsip KAA mulai dari potret para delegasi, notulensi rapat, rekaman pidato, hingga surat menyurat, terdokumentasi dengan baik dalam koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Pada 8 Oktober 2015, UNESCO (Organisasi PBB bidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan), mengumumkan Arsip KAA itu sebagai Warisan Ingatan Dunia. Sepanjang peradaban dunia modern, KAA menjadi konferensi internasional pertama yang mempertemukan antar bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Pencetusnya adalah Indonesia, India, Pakistan, Sri Lanka, dan Burma (Myanmar) yang diwakili perdana menteri masing-masing (Ali Sastramidjojo, Pandit Jawaharlal Nehru, Muhammad Ali, Sir John Kotelawala, dan U Nu). Kelima negara sponsor itu mempersiapkan KAA dalam Konferensi Panca Negara yang diadakan di Bogor tahun 1954. Mereka mengupayakan forum yang bisa menggaungkan suara rakyat Asia dan Afrika ditengah dominasi bangsa kulit putih dan Perang Dingin. Dari 29 negara peserta dan 200 delegasi itu lahirlah manifesto Dasasila Bandung. Sepuluh prinsip yang termaktub dalam Dasasila Bandung mencerminkan cita-cita luhur seluruh peserta KAA: merdeka dari imperialisme dan hidup berdampingan secara damai.
- Tentang Arsip dan Laporan untuk Tuan
SALAH satu tujuan utama kedatangan saya ke Den Haag adalah mencari arsip-arsip yang berkaitan dengan Boedi Oetomo. Organisasi yang digagas oleh dr. Wahidin Soedirohoesodo dan didirikan oleh dr. Soetomo itu berdiri pada 20 Mei 1908. Hari berdirinya Boedi Oetomo lantas diberlakukan sebagai hari kebangkitan nasional, karena dianggap sebagai awal tersemainya benih-benih nasionalisme Indonesia sekaligus dianggap sebagai organisasi modern pertama di Indonesia. Banyak terjadi perdebatan ihwal penetapan tersebut. Ide awal berdirinya organisasi ini lebih kepada untuk membantu pendanaan mahasiswa kedokteran yang sekolah di Stovia. Namun pada kenyataannya organisasi ini bergerak lebih jauh. Sebagian anggotanya, yang datang dari generasi muda, mulai mendiskusikan ke arah mana nasib bangsa Hindia. Ada perdebatan di dalam, tentang akan kemana nasionalisme akan dituju: Nasionalisme Hindia atau Jawa. Hanya selang setahun setelah berdirinya, organisasi ini mengalami kemunduran. Pangkal perkaranya karena organisasi ini dikuasai oleh para kaum feodal. Ketua Boedi Oetomo, Raden Adipati Tirtokoesoemo, mantan Bupati Karanganyar, lebih terlihat sebagai seorang yang tunduk kepada pemerintah kolonial Belanda. Dia bukan seseorang yang datang dengan gagasan kemerdekaan di kepalanya.
- Mengadili Polisi Brutal
KASUS penganiayaan yang dilakukan aparat kepolisian seakan tiada pernah habisnya. Baru-baru ini, viral video rekaman yang memperlihatkan personel Brimob membanting seorang mahasiswa yang berunjuk rasa di depan kantor bupati Tangerang. Bak seorang pegulat di atas ring, sang Brimob memiting lalu menghujam tubuh anak muda itu ke atas trotoar. Setelah aksi smackdown itu, si mahasiswa terlihat kejang-kejang lantaran mengerang kesakitan. Publik pun mengecam laku brutal personel Brimob yang identitasnya diketahui bernama Brigadir NP itu. Kasus serupa juga pernah menggemparkan institusi kepolisian pada dekade 1970-an. Martawibawa alias Tan Tjong ditemukan tidak bernyawa dalam tahanan. Sejumlah tanda kekerasan melekat pada jenazah tersangka kasus makelar mobil dan keimigrasian itu.
- Kari Perjuangan Hamzah Abdullah
DI MASA lalu, Rumah Makan (RM) Fadjar Asia cukup populer di Medan. Seperti umumnya rumah makan, Fadjar Asia juga dikenal karena menu andalannya. Rumah makan milik Nyak Hamzah Abdullah itu dikenal karena menu kari kambingnya. Hamzah merupakan saudagar perantau asal Aceh. Menurut Apriani Harahap dalam tulisannya berjudul “Mencari Jalan Aman: Strategi Bertahan dan Kekacauan Sosial dalam Komunitas India di Perkotaan Sumatera Timur, 1945-1946” di buku Dunia Revolusi Perspektif dan Dinamika Lokal Pada Masa Perang Kemerdekaan Indonesia, 1945-1949, Hamzah yang berdarah India besar di Aceh. Tidak mengherankan jika Hamzah berdagang kari di Medan. Orang India-Muslim sudah cukup lama masuk ke Sumatra Utara. “Pengaruh Muslim-India menghasilkan hidangan seperti nasi biryani, martabak dan berbagai hidangan kari,” catat Fadly Rahman dalam pembekalan Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024 secara daring pada 18 Mei 2024.
- Kisah Keluarga Tionghoa Saat Revolusi
BATAVIA (kini, Jakarta), 12 Agustus 1945. Lim Him Nio atau dikenal dengan Laetitia, yang juga dipanggil Letty Kwee tengah berada di rumah sakit di daerah Menteng, Jakarta, yang berjarak sekitar satu kilometer dari tempat Sukarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Letty melahirkan Tjoe, yang berarti lemah lembut, pada momen bersejarah. Tiga hari sebelum kelahirannya, Jepang menyerah dan kalah dalam Perang Dunia II. Lima hari kemudian, Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan. Letty menceritakan kisah hidup Tjoe dalam buku Baby Jaren in Indie (Tahun-tahun Bayi di Hindia), yang diterbitkan oleh Vereniging van Huisvrouwen te Batavia (Perkumpulan Ibu Rumah Tangga Belanda di Batavia). Letty pernah belajar di sekolah Eropa untuk menjadi guru ekonomi.
- Bayi Revolusi Berbaju Sampul Buku
“Baju-baju bayi ini simbol revolusi.” Merapi Obermayer mengisahkan episode kelahirannya sekitar 74 tahun lalu, tepatnya 6 September 1947 di koloni penderita kusta Plantungan, Jawa Tengah. Julia Nessen dan Paul Wolfgang mengambil nama gunung Merapi yang pernah meletus pada 1930 untuk nama depan putrinya itu. Nama yang kental dengan sejarah, begitu juga kehidupannya yang penuh perjuangan untuk bertahan di tengah kecamuk revolusi di Jawa. Merapi mengisahkan kembali masa-masa sulit orang tuanya melewati periode kelam revolusi. Mereka menyaksikan mayat-mayat korban kekerasan bergelimpangan di antara arus sungai yang melewati koloni di Plantungan.
- Kesaksian Putri Tentara KNIL
MARTHA Anthony Akihary terdiam sejenak. Lalu bibirnya bergetar saat menceritakan tentang ayahnya, Sersan Mayor Petrus Akihary, komandan KNIL asal Maluku. “Sepanjang revolusi… dia bahagia Indonesia telah merdeka. Dan… sebetulnya, dia ingin kembali di kepulauan Maluku sebagai purnawirawan. Tapi yang terjadi tak sesuai harapan,” kata Martha. Kesaksian Martha tentang ayahnya itu ditayangkan di channel Youtube Rijksmuseum, saat pembukaan pameran Revolusi! Indonesia Independent di Rijksmuseum, Amsterdam, Belanda, pada 11-12 Februari 2022. Martha adalah putri sulung dari Petrus Akihary, yang menjadi prajurit KNIL saat usia 18 tahun pada 1926. Petrus Akihary terdaftar sebagai prajurit KNIL dengan nomor 20574. “Saya bangga bila membaca nomor dog-tag-nya. Sebuah pencapaian luar biasa. Seorang biasa dari desa Aboru,” kata Martha.
- Muthia Datau dari Lapangan Kembali ke Lapangan
BETAPAPUN jauhnya melangkah hingga ke dunia perbankan dan hiburan, Muthia Datau tetap kembali ke lapangan. Namun bukan lagi sebagai pemain, tapi sebagai pegiat sepakbola putri. Muthia memulai karier sepakbolanya di usia belasan tahun bersama tim Buana Putri Jakarta. Perkembangannya yang pesat menjadikannya pilar inti di bawah mistar tim nasional PSSI putri sejak 1977. Kariernya berhenti setelah dia gantung sarung tangan di Buana Putri pada 1985. Seperti lazimnya pesepakbola putri, Muthia pensiun dari sepakbola lantaran menikah. Perempuan cantik itu dipinang Herman Felani, aktor yang beradu akting dengan Muthia antara lain di film Malu-Malu Kucing (1980), Sirkuit Kemelut (1980), dan Intan Mendulang Cinta (1981).
- Muthia Datau, Ikon Sepakbola Putri Indonesia
SEDARI kebetulan, malah jadi keterusan. Muthia Datau sejak kecil tak pernah menyangka dirinya bakal jadi tenar gara-gara sepakbola. “Dari sepakbola, semua orang mengenal saya. Orang (publik) kalau kenalnya, ya Muthia yang kiper itu ya?,” cetus Muthia saat berbincang dengan Historia di sela-sela syuting FTV-nya di Pondok Kacang Barat, Tangerang Selatan. Padahal, Muthia merintis karier lewat dunia hiburan di akhir 1970-an. Berawal dari foto model majalah, Muthia lalu menjuarai ajang Abang-None Jakarta Barat 1978, jadi Ratu Jakarta Fair, membintangi sejumlah iklan, dan terjun ke dunia layar lebar. “Ya kebetulan cocok ketika ada yang menawari main film, ya sudah (mulai membintangi film). Dulu pertamakali main film layar lebar, judulnya Sepasang Merpati (1979). Terus lanjut ada Malu-Malu Kucing, Sirkuit Kemelut. Banyak kok, sekitar enam film,” lanjutnya.
- Merunut Sejarah Yoga, Merelaksasi Jiwa dan Raga
BAGI Muthia Datau, mantan kiper timnas putri Indonesia yang kini aktris sinetron dan FTV, olahraga amat penting untuk menjaga vitalitas tubuh. Meski sudah lama gantung sepatu, perempuan berusia 58 tahun itu tetap rutin berolahraga. “Olahraga semua itu baik, tapi ya harus menyesuaikan umur kita,” ujarnya kepada Historia saat ditemui di lokasi syuting di Pondok Kacang Barat, Tangerang Selatan. Muthia memilih yoga sebagai olahraga yang ditekuninya. Dia bahkan sampai membuka sanggar di Warung Jati Barat, Jakarta Selatan sejak 2013. “Sejak menyenangi yoga tahun 2000, saya ambil program instruktur yoga juga. Saya ambil sertifikat, ikut workshop, sampai sekarang masih mengajar yoga,” sambung Muthia. Di saat perempuan lain seuisanya sudah direpotkan oleh bermacam penyakit, Muthia justru masih sibuk dengan bermacam aktivitas. Yoga membuat Muthia tetap fit kala menjalani jadwal syuting yang padat, mengajar, dan bermacam aktivitas lainnya.
- PRRI dan Rumah Makan Padang
DALAM suatu percakapan antara sejarawan Taufik Abdullah, antropolog Sjafri Sairin, dan sosiolog Ignas Kleden di sebuah dapur paviliun, Taufik nyeletuk, “Wah, ini ada bahan makanan yang bisa dimasak. Siapa yang bisa masak?” Sjafri menjawab bahwa dia sedikit-sedikit bisa masak. “Biarlah saya yang memasak,” kata Sjafri dalam Sejarah dan Dialog Peradaban. “Okelah kalau begitu. Sjafri yang masak, Ignas cuci piring dan saya sendiri duduk-duduk menyaksikan sambil bercerita,” kata Taufik. Taufik mengatakan bahwa dia memang orang Padang. Tetapi, orang Padang yang kurang lengkap. Alasannya karena tidak bisa berdagang dan tidak bisa masak. Padahal, kedua keterampilan itu merupakan ciri umum orang Padang, terutama yang pergi merantau.
- Sang Penangkap Diponegoro
WAKTU Perang Jawa (1825-1830) berkecamuk, di Sulawesi Utara Residen D.E.W. Pietermaat minta orang Minahasa menolong Belanda dalam perang tersebut. Sebagai kelanjutan darinya, terbentuklah sebuah pasukan tempur berjumlah 1.421 orang yang disebut Serdadu Manado atau Pasukan Tulungan. Komandannya Tololiu Hermanus Willem Dotulong yang diberi pangkat mayor. Dotulong dibantu tiga kapten. “Mereka antara lain Benjamin Sigar (Langowan), D. Rotinsulu (Tonsea), dan Polingkalim (Tondano),” tulis Jessy Wenas dalam Sejarah dan Kebudayaan Minahasa. Pasukan Tulungan atau Hulptroepen (pasukan bantuan) Minahasa ini adalah sebagian dari banyak hulptroepen yang membantu Belanda. Setelah terbentuk, pasukan itu langsung diberangkatkan ke Jawa.





















