top of page

Hasil pencarian

9816 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • “Darah Rakjat” di Perayaan Kemerdekaan

    PERAYAAN Hari Kemerdekaan Indonesia biasanya dipersiapkan jauh-jauh hari. Sebuah panitia dibentuk. Acara disusun. Namun, pada 1950-an, susunan acara perayaan Hari Kemerdekaan mendapat protes karena menyertakan lagu-lagu berbau kiri. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Presiden Sukarno menetapkan susunan anggota Panitya Negara Urusan Perajaan Hari Kemerdekaan Indonesia. Tugas Panitya Negara adalah mengatur dan memutuskan segala sesuatu yang bersangkutan dengan pekerjaan peringatan hari ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Melalui Keputusan Presiden No. 167 tahun 1957, yang dikeluarkan pada 29 Juli 1957, Presiden Sukarno mengangkat Menteri Penerangan Sudibjo sebagai ketua merangkap anggota, Menteri Pengerahan Tenaga Rakjat untuk Pembangunan A.M. Hanafi sebagai wakil ketua I merangkap anggota, serta Direktur Kabinet Presiden Mr. Tamzil sebagai wakil ketua II merangkap anggota.

  • Iduladha di Kesultanan Aceh

    HARI Raya Iduladha 1637. Peter Mundy terkagum-kagum kala menyaksikan prosesi itu. Dia melihat semua warga Kesultanan Aceh seolah larut dalam suatu perayaan pesta akbar: seluruh lapangan besar antara pintu masuk istana hingga ke masjid Bait ur-Rahman dihiasi dengan bendera-bendera besar. Sultan datang dengan menaiki gajah yang dihias sangat megah dan mewah. “Kedatangan Sultan diiringi arak-arakan besar yang terdiri atas 30 barisan,” ujar pedagang Inggris tersebut seperti dikisahkan oleh Denys Lombard dalam Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda. Mundy juga melihat, dalam barisan ke-28 ada 30 ekor gajah yang dihias dengan benda mirip menara kecil di atas punggungnya. Di setiap menara berdirilah dengan gagah masing-masing seorang serdadu yang berpakaian merah seraya memegang bedil. Pada deretan pertama rombongan yang terdiri atas 4 ekor gajah, gadingnya masing-masing dipasangi dua pedang besar. Banyak di antara gajah itu memiliki nama, salah satunya, gajah yang dinaiki Sultan, bernama Lela Manikam.

  • Ken Angrok dan Tradisi Kurban di Nusantara

    DAHULU kala pada awal diciptakannya manusia, ada anak seorang janda di Djiput. Tingkah lakunya buruk. Suatu hari anak itu pergi ke daerah Bulalak. Di Bulalak, hiduplah seorang pertapa bernama Mpu Tapawangkeng. Sang Mpu ingin membuat pintu gerbang untuk pertapaannya. Untuk keperluan itu, ia diminta mengorbankan seekor kambing berwarna merah (wdus bang) oleh Dewa Penjaga Pintu. Anak janda dari Djiput kemudian mengetahui peristiwa itu. Dengan sukarela, ia menyerahkan dirinya untuk menjadi kurban. Keinginannya bisa pulang ke tempat Dewa Wisnu dan menjelma kembali menjadi manusia yang lebih luhur. Mulanya Mpu Tapawengkeng tak bersedia. Ia takut bila mengorbankan seorang manusia, ia akan masuk neraka. Namun, ia tak punya cara untuk menemukan kambing merah. “Lagipula toh tujuan si anak baik, dengan mengurbankan diri ia ingin lahir kembali menjadi manusia yang baik,” pikir Sang Mpu.

  • Raja-raja Awal Nusantara yang Berkurban

    KURBAN hewan muncul dalam beberapa prasasti yang dikeluarkan kerajaan-kerajaan awal di Nusantara. Seperti Prasasti Yupa dari Kerajaan Kutai Kartanegara, Prasasti Tugu dari Kerajaan Tarumanegara, dan Prasasti Dinoyo dari Kerajaan Kanjuruhan, Jawa Timur. "Dalam Prasasti Yupa dan Prasasti Tugu dikisahkan pengurbanan lembu dan jumlahnya fantastis," kata Dwi Cahyono, arkeolog dan dosen sejarah Universitas Negeri Malang, kepada Historia.ID. Dalam salah satu Prasasti Yupa yang ditemukan di Muarakaman, Kalimantan Timur, disebutkan Raja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana untuk upacara di tanah suci bernama Vaprakeswara.

  • Bergaya dengan Pakaian Baru Saat Resesi

    PENGUNJUNG pasar Tanah Abang membludak hingga 100 ribu orang menjelang Lebaran. Mereka datang untuk berburu pakaian baru. Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani meminta masyarakat agar tetap merayakan Lebaran dengan membeli pakaian baru. Tujuannya menggerakkan ekonomi masyarakat yang mandeg akibat pandemi Covid-19. Dalam masa susah, pakaian baru tetap menjadi buruan orang dan sesuatu yang harus ada dalam kehidupan mereka. Selain untuk menyambut hari-hari besar, pakaian baru juga ditujukan untuk bergaya, membedakan identitas satu kelompok dengan kelompok lainnya, dan cara beradaptasi terhadap situasi sulit itu sendiri. Ini misalnya terjadi di kalangan masyarakat Eropa pada masa resesi ekonomi di Hindia Belanda pada 1930-an. “Penampilan dan pakaian sebagai sarana pembedaan atau diskriminasi manusia,” kata Agung Wibowo, penulis buku Bergaya di Masa Sulit: Gaya Hidup Masyarakat Eropa di Batavia Masa Depresi Ekonomi.

  • Lipstick Effect, Kemewahan Kecil di Tengah Krisis Ekonomi

    SEORANG pengunjung memilih blind box yang berisi karakter di toko permainan yang berada di pusat perbelanjaan Jakarta akhir pekan lalu. Kotak itu digoyang-goyang untuk memastikan isinya sesuai dengan yang diinginkan. Ada pula yang membeli satu set sekaligus agar mendapatkan beragam karakter, dan jika beruntung bisa mendapatkan karakter langka yang disebut secret edition. Tren blind box atau kotak misterius berisi karakter seperti boneka, gantungan kunci, hingga aksesoris populer sejak beberapa tahun lalu. Besarnya minat anak muda terhadap blind box seakan mengingatkan pada fenomena Lipstick Effect yang muncul ketika krisis ekonomi. Saat terjadi resesi, ketika anggaran semakin ketat dan konsumen mengurangi pengeluaran, orang mengira penjualan barang mewah atau produk-produk terkait hobi, hiburan atau gaya hidup akan anjlok. Meski pengetatan anggaran pengeluaran tak perlu menjadi pilihan populer, penjualan barang-barang bermerek atau berkaitan dengan hobi dan gaya hidup tak sepenuhnya ambruk. Bila di masa lalu terlihat dari meningkatnya penjualan kosmetik atau pembelian makanan cepat saji, fenomena Lipstick Effect juga relevan di masa kini dengan banyaknya orang mengalokasikan uang untuk mencari kenikmatan kecil dalam blind box, kopi, makanan enak atau produk kecantikan. Kondisi ini menggambarkan bagaimana seseorang mencoba mencari cara untuk meningkatkan suasana hati, penampilan, bahkan kepercayaan diri di tengah kondisi krisis yang memicu rasa takut dan khawatir akan masa depan. Istilah Lipstick Effect muncul pada masa Depresi Besar yang melanda Amerika tahun 1929– 1930. Istilah ini semakin populer setelah ekonom dan psikolog mengamati tingkah laku masyarakat yang mengekspresikan diri atau mencari kenyamanan untuk bertahan di tengah krisis dengan membeli barang-barang bermerek atau hobi dan gaya hidup meskipun dalam kesulitan. Alexander Varvarenko menulis dalam The Psychology Playbook, pada awal tahun 2000-an, riset pasar mengonfirmasi pola ini. Selama resesi, konsumen seringkali mengorbankan liburan mahal atau menahan diri membeli barang mewah, tetapi berbelanja secara royal untuk hal-hal kecil yang memberikan dorongan emosional. “Ini adalah bentuk ‘terapi belanja’, di mana pembelian itu sendiri terasa seperti tindakan kecil pemberontakan terhadap stres dan ketidakpastian. Lipstick Effect mengungkap hubungan kompleks antara ekonomi dan emosi,” tulis Varvarenko. Sementara itu, menurut Daniel MacDonald dan Yasemin Dildar dalam “Social and psychological determinants of consumption: Evidence for the Lipstick Effect during the Great Recession”, termuat di Journal of Behavioral and Experimental Economics, fenomena Lipstick Effect digunakan untuk menjelaskan kesuksesan industri kosmetik selama Depresi Besar, serta kinerja perusahaan selama resesi ekonomi yang lebih baru. Teori ekonomi tradisional memprediksi, akibat pengetatan keuangan, pengeluaran untuk kosmetik seharusnya menurun selama resesi. Tiga mekanisme menjelaskan fenomena yang berkebalikan dengan teori ekonomi tradisional tersebut. Mekanisme pertama berkaitan dengan motivasi psikologis, di mana saat pendapatan menurun selama resesi, wanita membeli lipstik alih-alih pakaian bermerek mewah atau perhiasan untuk “memanjakan” diri dengan cara yang lebih hemat. Mekanisme kedua didasarkan pada hipotesis antropologi dan psikologi sosial, yang menjelaskan di masa ekonomi tidak pasti, wanita membeli lipstik dan kosmetik lainnya untuk meningkatkan daya tarik mereka dalam mencari pasangan. Sedangkan mekanisme ketiga didasarkan pada lapangan kerja, yakni ketika tingkat pengangguran tinggi, wanita membeli lebih banyak produk yang meningkatkan kecantikan dan menjadi lebih aktif dalam bersosialisasi untuk meningkatkan peluang tetap bekerja atau mendapatkan pekerjaan. “Hanya ada sedikit penelitian akademis mengenai Lipstick Effect, namun semuanya menemukan bukti yang mendukung fenomena tersebut. Satu-satunya perbedaan yang signifikan terletak pada mekanisme yang mendasari fenomena itu,” tulis McDonald dan Dildar. Dalam sejumlah penelitian Lipstick Effect, keadaan krisis ekonomi atau PHK massal mendorong para wanita muda untuk mengurangi pengeluaran di beberapa kategori, tetapi mereka mengalokasikan dana yang lebih besar di bagian lain, seperti kosmetik. “Di kondisi-kondisi seperti Resesi Besar, wanita beralih dari pakaian bermerek dengan harga mahal ke kosmetik –klaim yang masuk akal mengingat pembelian kosmetik relatif lebih murah daripada pakaian merek tertentu. Ini merupakan bukti kuat yang menunjukkan substitusi tersebut didorong oleh keinginan psikologis untuk ‘memanjakan’ diri dengan cara lebih hemat selama masa krisis ekonomi,” jelas McDonald dan Dildar. Menurut Varvarenko, membeli kemewahan kecil lebih dari sekadar materialisme. Ini adalah mekanisme psikologis untuk mengatasi tekanan. Ketika keadaan eksternal meningkatkan kekhawatiran atau ketakutan akan masa depan, orang mencari kendali dan kesenangan melalui cara-cara kecil dan terjangkau. Seperti halnya yang dilakukan perempuan-perempuan di masa Depresi Besar, membeli lipstik merah tidak hanya memantik perasaan senang, tetapi juga menjadi simbol dari ketangguhan, feminitas, atau optimisme. Namun, fenomena Lipstick Effect dimanfaatkan perusahaan untuk memasarkan produk. Dengan mempromosikan kesenangan terjangkau di masa-masa sulit atau pentingnya merawat diri, pemberdayaan, dan kebahagiaan kecil, perusahaan berharap dapat meningkatkan penjualan di tengah krisis ekonomi. Lipstick Effect juga memiliki sisi negatif. Hal ini mendorong pembelian impulsif dan menutupi masalah keuangan yang lebih dalam. Pengeluaran kecil ini dapat menambah utang atau menunda penanganan kesulitan ekonomi yang serius. “Lipstick Effect mengingatkan kita bahwa perilaku manusia selama krisis bersifat dinamis dan memiliki banyak sisi. Ini bukan hanya soal mengalokasikan pengeluaran, tetapi menemukan makna dan kebahagiaan di tengah kesulitan. Intinya, fenomena ini menyoroti bagaimana kenyamanan kecil dapat memiliki beban emosional yang besar, menawarkan secercah kepercayaan diri saat hidup terasa tidak stabil,” tulis Varvarenko.*

  • Cikal Bakal Bursa Saham

    SEBAGAI salah satu jalan tertua di Amsterdam, Belanda, Warmoesstraat menjadi saksi berbagai peristiwa bersejarah, di antaranya kemunculan bursa saham pertama di dunia. Pada abad ke-16, Warmoesstraat tak hanya jalur transportasi penting, tetapi juga tempat tinggal para pedagang. Mereka hanya perlu ke luar rumah untuk bertemu pedagang lain atau melakukan transaksi jual beli. Seiring berjalannya waktu, makin banyak pedagang dari berbagai kota datang ke sana untuk berbisnis. Kawasan itu seakan tak pernah berhenti berdenyut, terlebih setelah Amsterdam menjadi pusat perdagangan di Eropa. Tak jarang para kuli angkut yang membawa gerobak kesulitan mencari jalan di antara kerumunan pengendara dan pedagang. Menyadari keadaan tersebut tidak dapat terus berlanjut, pada 1561 Dewan Kota menetapkan New Bridge sebagai tempat untuk berdagang. Di sana, selain melakukan transaksi, para penjual maupun pembeli juga bisa mengetahui berbagai informasi terkait pelayaran dan perdagangan berbagai perusahaan. Meski begitu, solusi ini tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah karena tingginya aktivitas perdagangan di Amsterdam. Sejarawan Lodewijk Petram dalam The World's First Stock Exchange menyebut transaksi yang dilakukan di ruang terbuka menjadi kendala utama.

  • Pendukung Zionis yang Mengutuki Kebrutalan Israel

    SETELAH lebih dari 80 hari tentara Israel melakukan genosida di Palestina (Gaza dan Tepi Barat) yang memakan korban lebih dari 21 ribu jiwa, narasi self-defense Israel kian diragukan. Tak hanya oleh negara-negara sahabatnya tapi juga diragukan sejumlah aktivis dan tokoh di Israel sendiri. Sebelumnya pun, Israel sudah “kalah” dalam hal perang informasi. Propaganda Israel kalah telak oleh serbuan warganet Indonesia, Malaysia, dan Turki. Itu belum termasuk “serangan” dari penyajian fakta lewat foto maupun video via media sosial oleh para wartawan Palestina yang masih bertahan di Gaza, seperti Belal Khaled, Motaz Azaiza, Hind Khoudary, Bisan Owda, Noor Harazeen, Youmna el-Sayed, Hamdan el-Dahdouh, dan kepala biro Al-Jazeera di Gaza yang segenap keluarganya sudah jadi korban, Wael el-Dahdouh. Dalam beberapa kesempatan di sidang Dewan Keamanan dan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Israel memang masih didukung beberapa negara sekutunya seperti Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Papua Nugini, dan terutama Amerika Serikat yang mem-veto sejumlah resolusi gencatan senjata. Akan tetapi belakangan Spanyol “membelot” akan mengakui kedaulatan Palestina dan Prancis mulai memberi tekanan pada Israel untuk gencatan senjata, terlepas dari Presiden Emmanuel Macron tetap mencap gerakan perlawanan Hamas yang menentang pendudukan ilegal Israel sebagai terorisme.

  • Vovinam, Silat Kebanggaan Vietnam

    UNTUK yang kedua kali, Vietnam mendapat kehormatan jadi tuan rumah SEA Games. Walau beberapa cabang olahraga (cabor) sudah dimainkan lebih dulu, upacara pembukaan SEA Games ke-31 baru dihelat Kamis (12/5/2022) di Stadion Nasional Mỹ Đình, Hanoi, Kamis (12/5/2022) malam. Mengusung tema “Let’s Shine”, SEAGOC (komite penyelenggara SEA Games Vietnam) dalam pernyataannya menyatakan ingin menampilkan aneka suguhan tradisional yang dipadukan dengan modernitas sebagai inspirasi mengarungi tantangan bersama di kawasan Asia Tenggara. “Dalam penampilan ‘Hello Vietnam’ disajikan penampilan aneka seni tari dan bela diri yang dikombinasikan dengan teknologi (grafis) mapping yang dibawakan sejumlah aktor dan atlet, mengekspersikan semangat bela diri, literatur, cinta, dan solidaritas rakyat Vietnam. Mereka menggambarkannya dengan sebuah perahu Asia Tenggara yang berlayar bersama untuk mengarungi gelombang di lautan dan menyambut masa masa depan yang brilian,” demikian bunyi rilisan SEAGOC pada Selasa, 10 Mei 2022 tersebut.

  • Menendang Sejarah Sepakbola Vietnam

    PERANG terus menyertai perjalanan sejarah Vietnam sejak kemerdekaannya pasca Perang Dunia II. Akibatnya, perkembangan sepakbolanya berbeda dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Padahal, menurut Cho Young-han, titik nol sepakbola di Vietnam tak berbeda jauh dari ketiga negara ASEAN di atas atau negeri-negeri Afrika dan Amerika Latin, sepakbola dibawa masuk masing-masing kolonisator mereka. “Di Afrika sepakbola diperkenalkan para pedagang Eropa. Di Asia biasanya diperkenalkan lewat institusi militer, para misionaris, dan di sekolah-sekolah. Di India sepakbolanya dikenalkan dari para tentara dan misionaris. Di Vietnam oleh militer Prancis. Di Malaysia sepakbolanya dibawa Inggris bersamaan dengan olahraga Barat lainnya. Kolonialis Belanda mengenalkan sepakbola di Indonesia melalui kantor-kantor dagang, militer, dan pegawai sipil,” tulis Cho dalam Football in Asia: History, Culture and Business.

  • Menggocek Sejarah Sepakbola Vietnam

    STADION Al Maktoum di Dubai, Uni Emirat Arab pada Senin (7/6/2021) malam jadi saksi bisu kedigdayaan Vietnam. Negeri “Paman Ho” itu berpesta gol ke gawang Indonesia di laga kualifikasi Piala Dunia 2022 Qatar Grup G. Kemenangan 4-0 itu sekaligus memantapkan posisi mereka di puncak klasemen. Nguyễn Quang Hải dkk. masih akan menghadapi Malaysia di venue yang sama pada 11 Juni. Untuk menentukan lolos-tidaknya ke fase ketiga kualifikasi zona AFC sebagai juara grup, Vietnam dijadwalkan akan melakoni partai terakhir grup kontra UEA pada 15 Juni. “Kami ingin mendedikasikan kemenangan ini kepada semua rakyat Vietnam yang selalu mengikuti dan mendukung tim. Mereka akan jadi sumber motivasi besar bagi persiapan kami menyongsong pertandingan-pertandingan berikutnya,” papar Nguyễn Hải, disitat Nhân Dân, Selasa (8/6/2021).

  • Oliver Stone, Perang Vietnam, dan Pembunuhan JFK

    SIAPA tak kenal Oliver Stone? Sutradara dan penulis naskah kondang ini punya koleksi 12 Piala Oscar dan 16 Golden Globe. Banyaknya karyanya yang dipengaruhi pengalaman pribadinya sebagai veteran Perang Vietnam membuat karya-karyanya lebih realistis ketimbang film-film heroik picisan yang acap dibintangi Chuck Norris atau Sylvester Stallone. Karya legendaris Stone adalah Platoon (1986). Meski naskah awalnya banyak ditolak rumah produksi, film ini setelah mendapat rumah produksi kelas menengah, Helmdale Film Corporation dan Orion Pitures, justru meledak di pasar global. Dengan budget enam juta dolar saja, mereka meraup keuntungan hingga 138 juta dolar. “Alasan mengapa filmnya berhasil sukses, mungkin karena awalnya anggarannya rendah, lalu tidak banyak yang mengenal kami. Kami pun tak mengharap apapun karena kami tak membuat jenis film murahan seperti Chuck Norris atau Stallone. Kami membuat film yang berdasarkan kenyataan, beradasarkan pengalaman hidup yang pernah saya alami,” ujar Stone dalam diskusi Living Live Mola TV, Sabtu (20/2/2021).

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page