top of page

Hasil pencarian

9735 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • ACI, Film Seri Idaman Tahun 1980-an

    SUATU siang, di sebuah sekolah menengah pertama, terjadi kegaduhan. Uang milik salah satu siswi yang disimpan di dalam tas tiba-tiba raib. Berita itu sampai ke telinga wali kelas. Dilakukanlah penggeledahan terhadap setiap tas siswa di kelas itu. Uang itu ditemukan di tas seorang siswi bernama Wati. Seluruh kelas mencapnya sebagai pencuri. Tak merasa mengambil uang itu, Wati sakit hati. Ia merasa difitnah. Pihak sekolah bersiap memberikan sanksi tegas: mengeluarkan Wati dari sekolah. Kabar itu menyebar. Pada akhirnya terkuak cerita sesungguhnya. Seorang siswa menemukan gulungan uang di bawah meja Wati saat jam istirahat dan ruangan kelas kosong. Mengira uang milik Wati, ia langsung memasukkannya ke tas Wati. Setelah tahu cerita sebenarnya, Amir segera meminta sebagian temannya menghubungi kepala sekolah dan yang lain meminta maaf kepada Wati.

  • Tokio Jokio, Film Animasi Propaganda AS Masa Perang Dunia II

    DI MASA Perang Dunia II, film tak hanya diproduksi untuk tujuan hiburan, tetapi juga menjadi media propaganda. Negara-negara seperti Jerman, Amerika Serikat, hingga Jepang berlomba-lomba menayangkan film live action maupun animasi yang sarat akan pesan-pesan propaganda. Tak jarang film tersebut menampilkan karakter serta adegan yang memiliki maksud untuk mempermalukan musuh, selain yang utama yakni untuk meningkatkan semangat patriotisme di kalangan penduduk negaranya. Industri film memang tak begitu saja menghilang ketika perang berkecamuk pada 1940-an. Besarnya peran film sebagai media propaganda dimanfaatkan pemerintah untuk menarik minat masyarakat agar mau ikut ambil bagian dalam mempertahankan negara, serta melawan musuh yang dianggap mengancam kedamaian dunia. Di Amerika Serikat, sepanjang tahun 1941 hingga 1945, para animator Hollywood memproduksi banyak kartun yang tak hanya untuk menghibur tetapi juga menjadi corong propaganda di masa perang.

  • Mengelola Film Lama

    FIRDAUS, staf pemeliharaan film Sinematek Indonesia, masuk ke ruang penyimpanan film di basement gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), yang berlokasi di Jalan Rasuna Said Kav C-22, Jakarta Selatan. Begitu melewati pintu masuk, aroma pengap yang kuat tercium. Bau itu, yang berasal dari film seluloid, bisa membuat pusing. Namun, tanpa mengenakan masker, Firdaus tetap melenggang masuk.   Di dalam ruangan, rak-rak dengan tinggi sekitar 3 meter menyimpan wadah-wadah kaleng berisi film seluloid. Ada sekira 719 judul film seluloid, baik negatif maupun rilis. Jumlah itu belum termasuk film dari Bangun Citra Nusantara (yayasan milik kroni Soeharto) dan sumbangan dari pemerintah Jerman, Prancis, dan Kanada.

  • The Long Road of the “Film Butcher”

    THREE members of the Film Censorship Board (BSF) watched a new movie called Perawan Desa  (The Village Virgin) in 1978. The film was directed by Frank Rorimpandey, written by Putu Wijaya, and produced by Safari Sinar Sakti. Like other films, Perawan Desa  had to pass censorship before being screened in theaters. As a sign of passing the censorship, a Certificate of Passing Censorship must be included with the roll of film sent to the theater. Perawan Desa  is based on the true story of 17-year-old Sumarijem in Yogyakarta in 1970. She was gang-raped by the sons of officials. In the end, the perpetrators were acquitted of the charges. This case is known by the people of Yogyakarta as the Sum Kuning case. In the movie, Sumarijem's character was changed to Sumira, played by Yati Surachman.

  • Kuasa “Jagal Film” Negara

    TIGA anggota Badan Sensor Film (BSF) menonton film baru berjudul Perawan Desa pada 1978. Film ini disutradarai Frank Rorimpandey, penulis skenario Putu Wijaya, dan diproduksi Safari Sinar Sakti. Seperti film lainnya, Perawan Desa harus lolos sensor sebelum diputar di bioskop. Sebagai tanda lolos sensor, Surat Tanda Lulus Sensor harus disertakan bersama roll film yang dikirim ke bioskop.   Perawan Desa  dibuat berdasarkan kisah nyata Sumarijem, 17 tahun, di Yogyakarta pada 1970. Dia diperkosa beramai-ramai oleh anak-anak pejabat. Pada akhirnya, anak pejabat terbebas dari tuntutan penjara. Kasus ini dikenal oleh masyarakat Yogyakarta sebagai kasus Sum Kuning. Dalam film, karakter Sumarijem diubah menjadi Sumira, yang dimainkan Yati Surachman.

  • Hinatsu Eitaro, A Filmmaker with Three Names

    HIS life story was both unique and controversial. His name is recorded in the history of three countries: Korea, Japan, and Indonesia; as Huh Young, Hinatsu Eitaro, and Huyung. He did it for the sake of his dream to be a film director; which could make him labeled as a collaborator, a defector, a hero, or simply a naive and pragmatic person. Huh Young (some write Hae Young, Heo Yeong, or Ho Yong), his real name, was born in Hamgyong, Korea, on September 21, 1908. There are no records of his family and childhood. Growing up, he wanted to become a film director, but it was a difficult dream to chase if he remained in his homeland. Since 1910, two years after he was born, Korea became part of the Japanese Empire.

  • Anak-anak Nonton Film di Zaman Kolonial Belanda

    DI AWAL kemunculannya di Hindia Belanda pada penghujung abad ke-19, film telah menarik perhatian banyak orang,tak hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak. Kala itu, film yangdisebut gambar idoep ditayangkan di bioskop yang lokasinya berpindah-pindah. Tak jarang pemutaran film dilakukan di ruang terbuka hingga melahirkan istilah bioskop misbar (gerimis bubar). Sementara bioskop permanen mulai muncul di beberapa kota pada periode awal abad ke-20. Menurut M. Sarief Arief dalam Politik Film di Hindia Belanda , ketika itu film telah menjadi sarana hiburan yang diminati oleh penduduk lokal. Salah satu pemicunya yakni meningkatnya kebutuhan akan tempat hiburan saat malam hari. “Pada setiap malam Minggu pertemuan remaja pria dan wanita sering diadakan yang dilanjutkan dengan acara menonton pertunjukan film di bioskop,” tulis Arief. Guna menjaring lebih banyak penonton dari berbagai kalangan dan kelompok umur, sejumlah bioskop mengadakan pertunjukan khusus untuk anak-anak. Biasanya pertunjukan itu diselenggarakan seminggu sekali dengan harga tiket masuk lebih murah dan sudah termasuk tiket pendampingnya. Bahkan, sebuah bioskop di Sidoarjo pernah memberikan hadiah hiburan gratis menonton film bagi murid-murid sekolah. Murid yang berhasil meraih peringkat tertinggi mendapat tempat duduk kelas VIP.

  • Membersihkan Najis dari Film

    MENYAMBUT Ramadan, stasiun televisi dan bioskop menayangkan film-film bertema Islam. Film-film itu menyampaikan ajaran Islam melalui ide cerita yang beragam. Kesamaan film-film itu terletak pada gagasan bahwa film hanya berupa media dan Islamlah pesannya. Berpuluh tahun lampau, orang mempertentangkan dua hal ini. Film masuk ke Hindia Belanda pada 1900. Khalayak Hindia Belanda menerima kehadiran film. Hari demi hari, film berkembang makin menarik. Dari bisu menjadi bersuara. Semula hanya dokumenter kemudian beranjak mempunyai jalan cerita. Omongan sehari-hari penduduk Hindia Belanda pun mesti bersinggah pada perihal film. Lalu selingkar orang berpaham kaku mengkhawatirkan perkembangan film dalam masyarakat. Menurut mereka pergi ke bioskop menonton film perbuatan tak berfaedah. Film mulai menampilkan adegan percumbuan, pergaulan lelaki dan perempuan bukan muhrim, cerita fantasi, dan mempertontonkan lekuk tubuh perempuan. Orang berpaham kaku akhirnya memvonis film sebagai perusak moral masyarakat, barang berbahaya.

  • Proses Kreatif Usmar Ismail di Balik Layar

    SINEAS Riri Riza menaruh respek tinggi pada sosok Usmar Ismail. Dalam diskusi daring dalam rangka 100 Tahun Usmar Ismail dan menjelang Hari Film Nasional bertajuk “Usmar dan Cerita-Cerita dalam Filmnya” di kanal Youtube Rumata Artspace , Rabu (24/3/2021) malam, Riri mengupas lebih dalam sosok “Bapak Perfilman Nasional” yang idealisme dan gagasannya sangat kuat dalam karya-karyanya. Hal itu membuat kiprah Usmar di belakang layar masih sangat relevan dijadikan obyek studi di dunia perfilman. “Film-filmnya sampai saat ini masih dijadikan sandaran studi tidak hanya di perfilman Indonesia tapi juga dunia. Karya-karyanya punya kekuatan bercerita yang sinematik secara audio dan visual,” ujar Riri. Film-film Usmar, baik sebagai sutradara maupun produser, yang kerap dijadikan obyek studi para sineas muda hingga kini antara lain Darah dan Doa  (1950), Harimau Tjampa (1953), Krisis (1953), Lewat Djam Malam , dan Tiga Dara  (1956). Karya-karya tersebut dianggap sineas muda Salman Aristo menetapkan standar tinggi bagi mutu perfilman Indonesia.

  • Pemikiran Usmar Ismail dalam Film-filmnya

    HISTORIOGRAFI perfilman Indonesia tak bisa dilepaskan dari nama Usmar Ismail.   “Bapak Perfilman Indonesia” itu pemikirannya dalam berkarya masih jadi inspirasi bahkan   bagi para sineas muda 100 tahun setelah kelahirannya (20 Maret 1921). Pesatnya perkembangan perfilman Indonesia sejak 1950, tahun ditetapkannya Hari Film Nasional yang bertolak dari hari pertama syuting film Darah dan Doa  ( The Long March ) karya Usmar pada 30 Maret 1950, tak bisa dilepaskan dari kiprah Usmar. Tema film, misalnya, lebih variatif dari masa ke masa. Menurut pemerhati industri perfilman Indonesia   JB Kristanto, Usmar dengan film-filmnya setelah Darah dan Doa  jadi pembeda dari generasi pembuat film sebelumnya. Garis pemisahnya ia hadirkan lewat film-film yang temanya lebih logis dan tak lagi bertema dongeng.

  • Kisah Tragis Akhir Hidup Bapak Film Nasional

    USMAR Ismail ditahbiskan sebagai Bapak Film Nasional. Dia mendirikan Perfini (Pusat Film Nasional Indonesia) dan pada 30 Maret 1950 memulai shooting pertama filmnya, Darah dan Doa di Purwakarta. Tanggal 30 Maret kemudian ditetapkan sebagai Hari Film Nasional. Selama hidupnya, antara tahun 1950-1970, Usmar Ismail membuat 33 film layar lebar: drama (13 film), komedi atau satire (9 film), aksi (7 film), musical/entertainment (4). Namun, ada satu film yang membuatnya tertekan dan berakhir dengan kematiannya. Menurut Rosihan Anwar, wartawan senior dan ipar Usmar Ismail, tidak semua publik tahu tentang cerita tragis yang dialami Usmar Ismail dan yang membawanya kepada kematian relatif muda.

  • 30 Maret 1950: Film Nasional Pertama

    USMAR Ismail mulai menggarap film pertamanya. Bersama krunya, pada 30 Maret 1950 dia berangkat ke Subang dan Purwakarta untuk syuting The Long March atau dikenal juga Darah dan Doa . Pemainnya adalah pemuda-pemuda yang tidak punya pengalaman di dunia seni peran, seperti Del Yuzar dan Awaluddin Djamin (di kemudian hari jadi Kepala Polri). Awaloedin Djamin yang baru pertama main film pun diajari seluk-beluk film dan acting dari yang paling dasar. “Usmar menceritakan kepada kami tentang cara-cara membuat film. Untuk pertama kalinya saya melihat diri saya sendiri bergerak dan berbicara di layar putih,” kata Awaloedin dalam memoarnya Awaloedin Djamin, Pengalaman Seorang Perwira Polri. Meski mengambil aktor nirpengalaman, di kemudian hari salah satu pemainnya menjadi aktris terkenal yang membintangi banyak film, yakni Suzzanna, si pemeran tokoh Ina dalam Darah dan Doa .

bottom of page