Hasil pencarian
9735 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Lautan Manusia di Wembley
ARSENAL akhirnya keluar sebagai juara FA Cup tahun ini setelah mengalahkan rival sekota, Chelsea FC 2-1. Laga final yang sengit antara kedua klub itu berlangsung Stadion Wembley, Inggris pada Sabtu (1/8/2020) lalu. Dalam sejarahnya, FA Cup yang dikenal sebagai turnamen tertua di dunia itu acap menghadirkan sejarah anyar. Di final FA Cup ke-139 lalu, dua sejarah baru terukir di Stadion Wembley. Pertama , Arsenal menjadi klub pengoleksi trofi terbanyak (14 kali). Kedua , untuk kali pertama final FA tak dihadiri seorang pun penonton di stadion mengingat masih merebaknya pandemi corona. Dalam statistik internal tim juga tercipta catatan baru. Arsenal menjadi klub paling banyak merumput di partai final (21 laga final), pembesutnya pun, Mikel Arteta, menjadi orang pertama di Arsenal yang menyabet titelnya sebagai pemain (musim 2013-2014 dan 2014-2015) dan pelatih (2019-2020).
- Aquaman Sang Penguasa Tujuh Lautan
SUATU hari di pesisir Maine medio 1985, penjaga mercusuar Thomas Curry (Temuera Morrison) melihat dan menyelamatkan sesosok jelita yang pingsan. Si cantik ternyata seorang putri dari Kerajaan Atlantis, Putri Atlanna (Nicole Kidman). Seiring perjalanan waktu, dua sosok berbeda alam itu memadu kasih hingga melahirkan seorang anak yang kelak menjadi pahlawan penjaga lautan, Aquaman (Jason Momoa). Sutradara James Wan menyajikan adegan pembuka itu sebagai pengantar film superhero milik DC Extended Universe (DCEU), Aquaman . Wan ingin mengajak penonton terlebih dulu mengenal muasal pahlawan super yang pertamakali muncul di film Justice League (2017)-nya franchise DCEU-Warner Bros. Plot film lantas beringsut ke masa kekinian (2018) dengan sang Aquaman yang ber-alter ego Arthur Curry beranjak dewasa. Alur cerita naik-turun ketika Aquaman bersama Mera (Amber Heard) bertualang mencari trisula kuno milik mendiang Raja Atlan, kakek Aquaman.
- Bekasi Lautan Api di Mata Dua Saksi
EDI B. SOMAD masih ingat betul situasi di Bekasi 73 lampau kala kota di pinggiran timur Jakarta itu mendadak bagaikan inferno (neraka) pada 13 Desember 1945. “Dibombardir, Bekasi dijadikan lautan api. Tangsi polisi di alun-alun dihantam. Juga area Kayuringin, Pasar Bekasi, Kampung Duaratus, Kampung Tugu. Hampir semua habis jadi debu,” kenang veteran berusia 90 tahun itu saat ditemui Historia di kediamannya di Tambun Selatan, akhir November 2018. Ratusan permukiman warga ludes dilahap api. Puluhan ribu warga sipil dipaksa mengungsi ke luar kota dalam peristiwa yang dikenal sebagai Bekasi Lautan Api itu. Segenap elemen bersenjata republik, baik Tentara Keamanan Rakyat (TKR) maupun laskar, memilih tak meladeni amukan Sekutu yang merangsek dari garis demarkasi di Cakung dan maju hingga ke Gedung Tinggi (kini Gedung Juang) Tambun. “Gara-garanya itu, para awak pesawat (Sekutu) dieksekusi,” lanjutnya.
- Penjajahan Memudarkan Visi Kelautan
INDONESIA harus kembali membangun visi kelautan. Sejarah membuktikan, bangsa Indonesia adalah penjelajah samudera yang mampu membawa pengaruh budayanya hingga ke Madagaskar. Hal itu diutarakan diplomat senior sekaligus ahli hukum laut internasional, Hasjim Djalal dalam pidatonya berjudul “Visi Kelautan Indonesia dari Segi Sejarah” sebagai pembicara kunci dalam Seminar Nasional Indonesia (SNI) X di Jakarta, Selasa (8/11). “Kalau dilihat dari segi sejarah tidak ada keraguan,” ujar penasihat khusus menteri kelautan dan perikanan itu. Hasjim menuturkan, dahulu bangsa Indonesia mampu mengembangkan teknologi pelayaran, mengembarai Samudera Hindia sampai Madagaskar. Tak cuma ke sana, orang Indonesia bagian timur pun sudah menjelajahi Samudera Pasifik hingga Kepulauan Paskah.
- Hari Tua Anggota DPR Termuda
TAHANAN politik (tapol) di Penjara Cipinang semasa Orde Baru adalah tahanan-tahanan yang saling tolong-menolong dengan sesama tahanan. Tak peduli afiliasi politik mereka kanan –biasanya kelompok Islam yang terkait Negara Islam Indonesia (NII)– ataupun kiri –terdiri dari pelaku G30S, mantan anggota PKI atau mereka yang diduga punya simpati terhadap partai kiri tersebut. Mereka tak hidup ekslusif dengan membuat kelompok sendiri selama di tahanan. Bahkan, mereka karib bergaul dengan Xanana Gusmao, pemimpin Fretilin. “Satu penderitaan. Sama-sama membenci Soeharto, kan. Gak peduli ideologinya apa,” ujar Fauzi Isman, salah satu tapol kasus Talangsari, Lampung yang terkait NII. Selama dalam tahanan, Fauzi pun berkawan dengan orang-orang PKI yang usianya jauh di atasnya. Ketika masuk penjara, Fauzi masih 22 tahun. Salah satu tahanan lain yang dikenalnya adalah Sukatno Hoeseni.
- Asal-Usul Lagu Halo-Halo Bandung
KOTA Bandung hangus dilalap api. Tentara republik membakar markas dan asrama-asramanya serta bangunan-bangunan penting. Banyak warga juga ikutan membakar sendiri rumah mereka dibantu para laskar. Segenap rakyat Bandung tidak sudi menyerahkan kota mereka begitu saja kepada tentara Sekutu. Begitulah situasi kota Bandung di masa genting revolusi, Maret 1946, yang kemudian dikenal sebagai “Bandung Lautan Api”. “Peristiwa ini yang oleh komponis Ismail Marzuki kemudian diabadikan dalam lagu ‘Halo, halo Bandung’,” tulis Pramoedya Ananta Toer, dkk. dalam Kronik Revolusi Jilid 2 (1946) . Lagu “Halo-Halo Bandung” mengusung spirit heroisme. Ia kerap dinyayikan dengan tempo mars. Liriknya sederhana tapi penuh semangat, terutama pada bagian akhir yang mengenang perjuangan rakyat Bandung mempertahankan kemerdekaan, sebagai berikut:
- Halo-Halo Bandung, Sebuah Syair Cinta Anonim
LAGU “Halo-Halo Bandung” merupakan salah satu lagu perjuangan paling terkenal di Indonesia, tapi juga yang paling kontroversial karena penciptanya tidak diketahui. Ada yang menyebut komposer Ismail Marzuki, seorang pemuda pejuang Ciparay, dan L. Tobing, anggota Divisi Siliwangi. Saya berargumen bahwa lirik dalam lagu tersebut merupakan syair cinta yang dibuat seorang pemudi pejuang tidak dikenal kepada tunangannya. Pendapat ini berdasarkan berita yang diterbitkan Antara , 10 Agustus 1946. Judulnya, “Tentang anggauta2 LASJWI jang goegoer dimedan pertempoeran Djawa Barat: Asmara kalah dengan semangat berdjuang”. Di sana diceritakan konteks bagaimana syair itu digubah. Pada Juli 1946, Belanda mengebom Majalengka. Sejumlah pejuang wanita menjadi korban, termasuk dari Lasjkar Wanita Indonesia (Lasjwi) Yogyakarta, PPI Garut, dan PMI Tasikmalaya. Para pemudi yang selamat mengungsi ke ibu kota Republik, Yogyakarta.
- Empat Karya Seni Terinspirasi Peristiwa Bandung Lautan Api
BANDUNG Lautan Api pada 24 Maret 1946 menjadi peristiwa penting dalam sejarah revolusi kemerdekaan Indonesia. Ia menginspirasi para seniman dalam karya-karyanya. Berikut ini empat karya mereka: Lagu Ismail Marzuki yang ikut mengungsi menciptakan beberapa lagu: Saputangan dari Bandung Selatan , Karangan Bunga dari Selatan , O, Angin Sampaikan Salamku , dan Gugur Bunga. Lagunya yang terkenal dan kontroversial adalah Halo-halo Bandung . Menurut J.A Dungga dan L. Manik dalam Musik di Indonesia dan Beberrapa Persoalannja, Halo-halo Bandung merupakan lagi mars yang melodi dan harmoni bagian pertamanya hampir sama dengan melodi dan harmoni dari kalimat-kalimat lagu When It’s Springtime in the Rockies karya Robert Sauer dan Mary Haley Woolsey.
- Kisah di Balik Bandung Lautan Api
KAMIS, 21 Maret 1946. Sebuah Dakota milik RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris) melayang-layang di atas Kota Bandung. Alih-alih melemparkan bom, justru pesawat angkut tersebut menurunkan ribuan lembar kertas. Isinya: Para ekstrimis Indonesia harus mengosongkan Bandung selambat-lambatnya pada 24 Maret 1946, jam 24.00 dan mundur sejauh 11 km dari tanda kilometer nol. Asikin Rachman sedang di wilayah Cicadas saat kertas-kertas itu berhamburan dari udara. Betapa terkejutnya pejuang dari Lasykar Hizboellah tersebut ketika membaca tulisan yang tertera di dalamnya. Giginya gemeretak, darahnya mendidih. “Kami ini dianggap apa sama Inggris? Tanah, tanah kami sendiri. Negeri, negeri kami sendiri. Mengapa harus ikut perintah mereka?” ujar lelaki yang kini berusia 93 tahun itu.
- Sebelum Bandung Jadi Lautan Api
AWAL 1946. Divisi ke-23 British Indian Army sudah nyaris menguasai setiap sudut Bandung. Namun demikian, nyatanya kekacauan masih meliputi kota tersebut. Bentrok antara tentara Inggris dengan kaum nasionalis Indonesia alih-alih melemah malah semakin sporadis di mana. Bahkan sudah melibatkan rakyat sipil. Sebagai respon terjadinya pembersihan-pembersihan yang dilakukan tentara Inggris, pada Februari 1946, para pejuang Bandung mengirimkan tembakan-tembakan mortir dari wilayah Bandung Selatan dan Lembang ke arah Bandung Utara. “Karena dilakukan secara serampangan tanpa alat pembidik, kompas dan peta yang mumpuni, peluru-peluru mortir itu malah mengena sasaran-sasaran sipil dan rumah orang-orang Belanda di kawasan Jaarbeurs dan kamp interniran di Jalan Riau hingga menimbulkan korban jiwa yang tak sedikit,” ungkap A.H. Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 1: Kenangan Masa Muda .
- When the Bader Fish Eats Coconut Flowers
THE SCORCHING sun burned his nape as he walked along the rice fields towards a reservoir. With one hand carrying a hat, the man pointed to a side of the reservoir where his village, Guyuban, used to exist. Guyuban was one of the 37 hamlets that were flooded in order for the Kedung Ombo Reservoir mega project to succeed. "Here is all of the villages (used to be), but now it's all water," said Djaswadi, aged 80. Everyone in Kedungmulyo and Kedungrejo Hamlet in Kemusu District, Boyolali Regency knows who Djaswadi is, as the two hamlets came into existence because of his struggle 30 years ago. Djaswadi's fingers are always trembling, the Javanese call it buyuten . His steps are small and hesitant, his stammering voice is weak. When he talks about his resistance to the construction of the Kedung Ombo Reservoir in the 1980s, his voice turns fiery.
- Ketika Ikan Bader Memakan Bunga Kelapa
LAKI-LAKI yang tengkuknya terbakar terik matahari itu berjalan pada pematang sawah menuju ke pinggiran waduk. Sambil menenteng caping, ia menunjuk ke bagian waduk tempat dusunnya dulu berada, Guyuban. Satu dari 37 dusun yang ditenggelamkan untuk proyek raksasa Waduk Kedung Ombo. “Jadi ini (dulu) kampung-kampung semua, tempat air ini,” kata Jaswadi, laki-laki berusia 80 tahun itu. Jika kamu mengunjungi Dusun Kedungmulyo dan Kedungrejo di Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, tak ada orang yang tak mengenal Jaswadi. Dua dusun ini dibangun atas perjuangannya sekitar 30 tahun lalu. Jari Jaswadi selalu bergetar. Orang Jawa bilang buyuten . Langkahnya kecil dan tak pasti. Suaranya lemah terbata-bata. Tapi ketika bercerita tentang perlawanannya terhadap pembangunan Waduk Kedung Ombo pada dekade 1980, suaranya berubah.





















