- 10 Des 2022
- 11 menit membaca
Diperbarui: 9 jam yang lalu
LAKI-LAKI yang tengkuknya terbakar terik matahari itu berjalan pada pematang sawah menuju ke pinggiran waduk. Sambil menenteng caping, ia menunjuk ke bagian waduk tempat dusunnya dulu berada, Guyuban. Satu dari 37 dusun yang ditenggelamkan untuk proyek raksasa Waduk Kedung Ombo.
“Jadi ini (dulu) kampung-kampung semua, tempat air ini,” kata Jaswadi, laki-laki berusia 80 tahun itu.
Jika kamu mengunjungi Dusun Kedungmulyo dan Kedungrejo di Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, tak ada orang yang tak mengenal Jaswadi. Dua dusun ini dibangun atas perjuangannya sekitar 30 tahun lalu.
Jari Jaswadi selalu bergetar. Orang Jawa bilang buyuten. Langkahnya kecil dan tak pasti. Suaranya lemah terbata-bata. Tapi ketika bercerita tentang perlawanannya terhadap pembangunan Waduk Kedung Ombo pada dekade 1980, suaranya berubah.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












