Hasil pencarian
9741 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Peran Lasminingrat dalam Pendidikan dan Penerjemahan
RABU, 29 Maret 2023, Google menampilkan doodle tokoh Lasminingrat untuk memperingati ulang tahunnya yang ke-169. Putri menak Sunda ini memiliki perhatian besar terhadap pendidikan kaum perempuan dan penerjemahan buku-buku cerita untuk anak-anak dari bahasa Belanda ke bahasa Sunda. Raden Ayu Lasminingrat lahir di Garut pada 29 Maret 1854. Ayahnya, Raden Haji Muhammad Musa, seorang kepala penghulu di Garut dan pendiri Sekolah Raja serta penasihat pemerintah kolonial Belanda. Menurut Nina Herlina Lubis dalam Kehidupan Kaum Menak Priangan, 1800–1942 , Haji Muhammad Musa menjalin persahabatan dengan sejumlah orang Belanda, di antaranya Karel Frederik Holle yang dikenal sebagai penasihat honorer pemerintah untuk urusan bumiputra dan seorang tuan tanah di wilayah Garut, serta Levyson Norman yang pernah menjadi controleur di Sumedang.
- Petugas Imigrasi Mesir Menahan Rombongan Agus Salim
PESAWAT yang membawa rombongan Haji Agus Salim mendarat di Lapangan Udara Kairo pada 10 April 1947. Kedatangan delegasi Indonesia ini dalam rangka memenuhi undangan Liga Arab sekaligus memperjuangkan pengakuan kemerdekaan Indonesia secara de jure . Haji Agus Salim bertindak sebagai pemimpin delegasi didampingi A.R. Baswedan (Menteri Muda Penerangan), dan Dr. Mr. Nazir St. Pamuncak (Pegawai Tinggi Kemenlu). Sementara itu, H.M. Rasyidi (sekjen Kementerian Agama) dan Mayor Jendral Abdul Kadir (perwira tinggi Kementerian Pertahanan) duluan tiba di Mesir pada 5 April. “Pada masa inilah Republik Indonesia mengirimkan misi persahabatan ke negara-negara Islam yang dipimpin oleh Haji Agus Salim pada tanggal 4 April 1947,” sebut Mukayat dalam Haji Agus Salim: Karya dan Pengabdiannya .
- Melanggengkan Praktik Kamp Interniran
DI KAMP interniran Jepang di Cideng, Tanah Abang, orang-orang Belanda yang jadi tawanan hidup bak di neraka. Jepang memang tak pandang bulu. Tak hanya laki-laki, “Neraka Cideng” menjadi tempat interniran khusus bagi perempuan dan anak-anak Belanda maupun Eropa. Sogokan uang dari para interniran kaya tak berlaku untuk membayar kebebasan mereka di luar kamp interniran. “Bagi Jepang tidak ada salam tempel. Yang ada ditempeleng,” ujar Nunus Sapardi dalam bedah bukunya di Galeri Cemara 6–Toety Heraty Museum, Jakarta Pusat, 1 April 2026. Nunus Supardi, pakar cagar budaya, menulis dua buku tentang kamp interniran Jepang: Documenta Historica Kamp Interniran: Masa Pendudukan Jepang hingga Revolusi di Indonesia dan Beragam Segi Kehidupan di Balik Kamp Interniran . Buku pertama berisi riset mendetail mengenai ratusan kamp interniran bentukan Jepang di seluruh Indonesia. Sementara buku kedua berkisah tentang kehidupan para interniran dan dinamika sosial yang terjalin antara sesama interniran maupun dengan serdadu Jepang penjaga kamp. Dari 864 kamp interniran, menurut Nunus, kamp interniran yang paling keras bagi para interniran adalah kamp Cideng. “ Di Cideng itu, di Jati Baru, ada 200 perumahan orang Belanda kemudian dipagari dengan kawat berduri dan gethek (anyaman bambu). Jadi, mereka dibatasi tidak boleh keluar,” terang Nunus. Di kamp Cideng, para interniran harus berebut tempat tidur. Mereka hidup berdesak-desakan dalam hunian padat dan sempit. Untuk makan pun mesti berebut karena jatah yang terbatas. Begitu pula dengan sistem sanitasi yang kurang memadai, para interniran harus mengeluarkan kotoran dari ember-ember di tempat tidur. Bedah buku Beragam Segi Kehidupan di Balik Kamp Interniran: Masa Pendudukan Jepang hingga Akhir Revolusi di Indonesia. (Martin Sitompul/Historia.ID). Seorang kapten Jepang bernama Kenichi Sonei menjadi penguasa di kamp Cideng. Sonei terkenal dengan tindakannya yang kejam dan bengis terhadap para interniran. Sonei disebut tak segan-segan untuk menghajar penghuni kamp bahkan sampai mati. “Kalau diceritakan seram juga gitu ya,” kata Nunus. Menurut Dwi Mulyatari, sejarawan Universitas Indonesia yang mendalami studi masa pendudukan Jepang, para interniran yang masuk ke dalam kamp harus melalui proses pendaftaran terlebih dahulu. Selain untuk klasifikasi gender dan rasial, Jepang ternyata meraup keuntungan dari pendataan interniran. Bagi laki-laki dari ras Eropa dan Amerika dikenai biaya sebesar 150 gulden dan 80 gulden bagi perempuan. Sementara itu, dari kalangan Asia lainnya sebesar 100 gulden untuk laki-laki dan 50 gulden untuk perempuan. “Jadi selain pendaftaran, mendata berdasarkan gender dan ras untuk kemudian dikelompokkan mereka akan ditawan di kamp-kamp tertentu. Lalu dipungut juga biaya untuk itu,” kata Mulyatari. Tokoh-tokoh Belanda yang pernah mendekam dalam kamp interniran antara lain Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Stakenborgh dan Panglima Angkatan Perang KNIL Jenderal Hein ter Poorten. Mereka diinternir di Perkemahan Batalion 10 di Batavia. Begitu pula dengan Alberta Erika Maureau, istri dari Hubertus van Mook, gubernur jenderal setelah Stakenborgh. Dari kelompok ilmuwan tersebut nama Roolof Goris, ahli epigrafi naskah kuno Bali, dan kurator Museum Batavia Genootschap (kini Museum Nasional) Adriaan van der Hoop. Mereka diinternir di Cimahi dan setelah bebas pada 1946 kembali ke Belanda. Beberapa tokoh lain di luar orang Belanda juga ada yang turut diinternir. Muriel Stuart Walker, jurnalis perempuan kebangsaan Skotlandia yang kemudian dikenal dengan nama K’tut Tantri, diinternir di penjara Kediri. Ia sempat mengalami siksaan dan pelecehan seksual. Di kemudian hari, K’tut Tantri dikenal sebagai sahabat Presiden Sukarno. Selain itu, Lauren van der Post, seorang perwira Inggris kelahiran Afrika Selatan yang bertugas di Hindia Belanda, diinternir tahun 1942–1945. Beberapa tokoh pemuka Indonesia juga mengalami interniran di masa pendudukan Jepang, antara lain K.H. Hasyim Asy’ari, Oerip Soemoardjo, Pramoedya Ananta Toer, Gusti Sulung Lelanang, dan lain-lain. Menurut Teuku Reza Fadeli, sejarawan Universitas Indonesia, praktik kamp interniran tak lantas berhenti meski Jepang angkat kaki dan Indonesia telah merdeka pada 1945. Praktik pemenjaraan semacam kamp interniran masih terus berlanjut dalam konteks revolusi. Setelah Perang Dunia II, sebanyak 46.000 orang Belanda di Indonesia masih diinternir. Mereka secara berangsur dipulangkan ke Singapura kemudian Belanda. Sebaliknya, tentara Belanda yang kembali ke Indonesia untuk menegakkan kekuasaan juga menginternir orang-orang pejuang yang dianggap ekstremis atau pemberontak. “Praktik kamp interniran ini tidak berhenti di masa Jepang. Orang-orang pribumi terutama di masa Republik berdiri itu juga melakukan interniran,” terang Reza, “Pada masa revolusi kekerasan itu terjadi dari dua belah pihak, dari pihak Republik maupun Belanda. Revolusi yang sering kali tidak terkoordinasi dan carut-marut, serta kontrol pusat yang hampir tidak ada, tapi tetap bisa menghasilkan sistem kamp. Ini jadi suatu paradoks.” Ketika Belanda kembali ke Indonesia, opsir-opsir Jepang yang menangani kamp interniran ditangkap dan diadili. Mereka didakwa sebagai pelaku kejahatan perang. Kenichi Sonei, pemimpin kamp interniran Cideng, termasuk salah satu dari 200 perwira Jepang yang dieksekusi atas kekejaman perang di Hindia Belanda. Pada akhir 1946, Sonei dihadapkan ke regu tembak di penjara Glodok yang sekaligus mengakhiri hidupnya.*
- Soedarsono “Kudeta 3 Juli” dari Komisaris ke Komisaris Lagi
SETIDAKNYA sejak 1950 sudah ada Polisi Perairan (kini Polairud) di Indonesia. Menurut catatan 20 Tahun Perkembangan Angkatan Kepolisian Republik Indonesia , orang yang diperintahkan membentuk Polisi Perairan itu adalah Raden Panji Soedarsono. Buku Sejarah Kepolisian di Indonesia menyebut dialah yang menjadi kepala institusi itu pertama. Dia pensiun pada 1958 dengan pangkat terakhir Komisaris Besar Polisi yang setara Kolonel. Setelah pensiun, dia tinggal di rumah kontrakan. “Saya tidak punya rumah, di sini saya menyewa sejak tahun 1952,” ujarnya dikutip buku Memoar Perjoangan Menegakkan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945 . Soedarsono berkarier di kepolisian sejak zaman Hindia Belanda. Laki-laki kelahiran Purbalingga, 6 April 1903 ini lulusan HIS (1920) dan MULO (1924). Setelah itu, pada 1925 dia masuk Sekolah Polisi Sukabumi. Dia kakak kelas Kapolri pertama Raden Said Soekanto Tjokroatmodjo. Setahun pendidikan di sana, dia menjadi Ajun Inspektur Polisi.
- Berpacu Melawan Waktu dalam 1917
PAGI 6 April 1917. Kopral Tom Blake (diperankan Dean-Charles Chapman) dan sahabatnya, Kopral Will Schofield (George MacKay), dari Batalyon ke-8 pasukan Inggris tetiba dibangunkan dari istirahat singkatnya oleh Jenderal Erinmore (Colin Firth). Keduanya diberi misi berbahaya: menyampaikan pesan berisi perintah langsung. Blake dan Schofield diperintahkan menerobos garis kubu Jerman guna mengantarkan pesan untuk Kolonel Mackenzie (Benedict Cumberbatch). Opsi itu diambil Erinmore lantaran jaringan telegram sudah diputus oleh Jerman. Sebelumnya Mackenzie, komandan batalyon ke-2 Resimen Devonshire, berencana mengejar sisa-sisa pasukan Jerman yang mundur. Namun laporan pengintaian udara menginformasikan, ternyata Jerman mundur secara teratur dan teroganisir membentuk kekuatan baru di Hindenburg Line. Jadi 1.600 pasukan Mackenzie, termasuk Letnan Joseph Blake, kakak Kopral Tom Blake, akan masuk ke perangkap Jerman.
- Raja Pontas Lumbantobing, Sang Penganjur Modernitas
Dr. Naek L. Tobing, SpKJ. meninggal dunia pada 6 April 2020 karena Covid-19. Ia dikenal sebagai seksolog atau pakar kesehatan seks terkemuka di Indonesia. Selain membuka praktik kesehatan seks, ia juga rajin menulis buku-buku tentang masalah reproduksi, seperti Problema Seks dalam Rumah Tangga (1989), Masalah Seks di Kalangan Remaja (1990), Seks dan Problemanya (1991). Dokter kelahiran Samosir, Tapanuli, 14 Agustus 1940 ini tamatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara. Sempat mendalami masalah kejiwaan sebelum akhirnya tertarik mendalami seksologi. Di balik sosoknya yang humoris, ternyata Naek mengagumi sosok raja dari tanah Batak, Raja Pontas Lumbantobing. Raja Pontas Lumbantobing lahir sekira 1835. Dikenal sebagai pelindung kaum misionaris seperti Gerrit van Asselt (1833–1910), dan I.L . Nommensen (1834–1918). Cerita beredar menyebutnya sebagai sosok pemberani, gemar mengembara tanpa rasa takut dari desanya di Silindung menuju daerah Toba atau Uluan, sekarang Porsea.
- Berpulangnya Presiden Malioboro Umbu Landu Paranggi
UMBU Landu Paranggi, penyair yang disebut sebagai Presiden Malioboro, wafat tadi malam, 6 April 2021, dalam usia 77 tahun. Umbu adalah guru bagi banyak penulis dan sastrawan Indonesia, seperti Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi, Landung Simatupang, Agus Dermawan T, Ahmadun Yosi Herfanda, Yudhistira ANM Massardi, dan banyak lagi. Umbu lahir di Kananggar, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur pada 10 Agustus 1943. Sejak remaja, Umbu hijrah ke Yogyakarta. Di kota inilah Umbu lahir untuk kali kedua. “Pokoknya saya jatuh hati rata dengan tanah pada Jogja,” kata Umbu dalam wawancara di Balairung , No. 30 Tahun 1999. Umbu sempat menempuh pendidikan tinggi di jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Politik dan Sosial Universitas Gadjah Mada dan jurusan hukum Universitas Janabadra di Yogyakarta. Tapi ketertarikan Umbu pada sastra jauh lebih kuat daripada pilihan studinya.
- Chailan Si Peliput Kongres Perempuan Pertama
DALAM Kongres Perempuan Pertama, 1928, ada satu perempuan yang hadir khusus untuk meliput acara tersebut. Dialah Chailan Syamsu Datuk Tumenggung, tokoh perempuan yang lantang menyuarakan hak pilih bagi perempuan pribumi dan penghapusan perkawinan anak. Chailan meliput atas perintah Pejabat Penasihat Urusan Pribumi CH O van der Plas. Van der Plas merupakan atasan suami Chailan yang bekerja sebagai pegawai pemerintah Hindia-Belanda. Dalam tugas ini, Chailan diminta untuk membuat laporan rinci tentang penyelenggaraan dan pembahasan dalam kongres tersebut. Meski ditugaskan oleh pejabat Hindia, laporan Chailan, seperti dikutip Susan Blackburn dalam Kongres Perempuan Pertama, Tinjauan Ulang, bernada simpatik. Ia mencatat ide-ide perempuan tentang perkawinan yang adil juga penghapusan perkawinan anak.
- Kala Pasukan Muslim Menggedor Eropa Lewat Iberia
EKSPANSI dunia Islam tak hanya menyasar Timur Jauh ke Nusantara via surat-menyurat khalifah dengan raja Sriwijaya. Kekuatan Islam pun merambah Eropa pada abad ke-8. Pintunya dibuka lebar oleh Kekhalifahan Umayyah, bukan melalui Konsantinopel, melainkan via Semenanjung Iberia (kini Spanyol dan Portugal). Kekhalifahan Umayyah yang berpusat di Damaskus, Syam (kini Suriah), didirikan Gubernur Syam Mu’awiyah bin Abu Sufyan pada 661 Masehi selepas kemunduran Khulafaur Rasyidin (623-661 M) di Madinah dan Kufah pasca-Perang Saudara Islam I (656-661 M). Kekhalifahan Umayyah terus menyebarkan Islam dari timur ke barat. Dalam artikelnya di Jurnal Islamic Studies , Vol. 2, No. 1, terbitan Maret 1963,” Two Letters from the Maharaja to the Khalifah: A Study in the Early History of Islam in the East ”, sejarawan studi Islam di Asia Tenggara S.Q. Fatimi mengungkapkan bahwa ada dua surat yang pernah dikirimkan penguasa Kerajaan Sriwijaya kepada Kekhalifahan Umayyah. Surat pertama ditujukan langsung kepada Khalifah Mu’awiyah yang berkuasa periode 661-680 M. Diperkirakan suratnya datang dari raja pertama Sriwijaya, Dapunta Hyang Sri Jayanasa.
- Singkat Cerita Pesawat Hercules
SEDIKIT demi sedikit alutsista TNI AU yang dinilai sudah uzur dipensiunkan. Setelah enam helikopter angkut multifungsi SA 330 Puma pada Desember 2023, kini giliran tiga pesawat angkut Lockheed C-130B Hercules yang purnatugas. Setelah lebih dari enam dekade menjadi bagian dari kekuatan udara Indonesia, tiga pesawat Hercules yang dianggap sebagai simbol ketangguhan dan pengabdian TNI AU dipensiunkan pada Rabu (23/4/2025). Tiga pesawat dengan sandi A-1303, A-1304, dan A-1313 yang bertugas di Skadron Udara 32 yang berbasis di Lanud Abdulrahman Saleh, Malang itu dipensiunkan melalui upacara kehormatan di Depohar 10 Lanud Hussein Sastranegara, Bandung. “Pesawat ini bukan sekadar mesin tapi saksi sejarah perjuangan. Dari Operasi Trikora (1961-1962) hingga misi kemanusiaan seperti tsunami Aceh (2014), gempa Palu (2018), hingga erupsi Semeru (2021), Hercules selalu hadir di garis depan,” ujar Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal M. Tonny Harjono dalam sambutannya di upacara purnatugas Hercules, dilansir laman resmi TNI AU , Rabu (23/4/2025).
- Pesawat Hercules Hasil Barter Pembebasan Pilot CIA
PESAWAT Hercules milik Angkatan Udara Republik Indonesia jatuh di Jl. Jamin Ginting, Medan, pada 30 Juni 2015. Pesawat tersebut mengangkut 113 orang (12 kru, yaitu 3 pilot, 1 navigator, dan 8 teknisi) dan 101 penumpang sipil. Diperkirakan tak ada yang selamat, ditambah korban yang ada di bangunan yang tertimpa pesawat. Musibah pesawat Hercules ini untuk ke sekian kalinya. Kecelakaan terburuk pernah terjadi pada Hari ABRI 5 Oktober 1991. Hercules C-130 jatuh di Condet Jakarta Timur menewaskan 133 personel TNI AU serta dua warga sipil. Ternyata, ada kisah menarik di balik Indonesia memiliki pesawat Hercules. Indonesia menjadi negara pertama di luar Amerika Serikat yang mengoperasikan Hercules C-130B. Indonesia bisa memiliki pesawat Hercules gara-gara pilot CIA (Dinas Rahasia Amerika Serikat), Allen Pope, yang bergabung dengan PRRI-Permesta.
- 18 Mei 1958: Pilot CIA Ditembak Jatuh di Ambon
PADA 18 Mei 1958, pesawat pembom B-26 milik Amerika Serikat yang diterbangkan oleh Allen Lawrence Pope ditembak jatuh di Ambon. Pope, penerbang CIA (Dinas Intelijen Amerika Serikat) terlibat dalam pemberontakan Permesta (Piagam Perjuangan Semesta), yang wilayahnya meliputi Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku. Menurut Tim Weiner dalam Membongkar Kegagalan CIA , pada usia 25 tahun Pope sudah menjadi veteran selama empat tahun dari misi-misi rahasia berbahaya. Dia terkenal karena keberanian dan semangatnya. Pilot-pilot CIA telah mulai membombardir pada 19 April 1958. Pope melakukan misi terbang pertamanya di Indonesia pada 27 April 1958. Selama tiga pekan berikutnya, dia bersama rekan-rekannya sesama pilot CIA menyerang sasaran militer dan sipil di beberapa desa dan pelabuhan di timur laut Indonesia. Kedutaan Besar AS melaporkan bahwa ratusan warga sipil terbunuh. Direktur CIA, Allen Dulles dengan tegang menceritakan kepada Dewan Keamanan Nasional AS bahwa semua serangan bom tersebut telah mengundang kemarahan besar di kalangan rakyat Indonesia karena dituduhkan bahwa pilot-pilot AS memegang kendali.























