Hasil pencarian
9656 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Jabatan Panglima APRA untuk Sultan Hamid II
RAKYAT Indonesia pernah menerima teror mengerikan pasukan Belanda antara 1946-1950. Rakyat di sejumlah daerah, khususnya Sulawesi Selatan, menjadi sasaran pembunuhan massif militer Belanda. Aksi kejam itu dipimpin oleh Kapten Raymond Pierre Paul Westerling. Pemerintah Belanda memberi hak khusus dalam setiap aksi Westerling tersebut. Itu karena tindakannya didasarkan atas cita-cita Belanda menguasai kembali Republik Indonesia. Dukungan untuk Westerling rupanya datang juga dari seorang Republik yang ingin mempertahankan kekuasan negerinya. Adalah Sultan Hamid II atau Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie, sultan ke-7 Kesultanan Qadriyah Pontianak. Hamid cukup dekat dengan Westerling karena kerap bertemu di sebuah kafe (yang terletak di Jakarta) sepanjang Januari 1948.
- Serdadu Ambon Gelisah di Bandung
BANDUNG bukan kota yang asing bagi Elisa Sahertian. Nyong Ambon yang sudah punya pengalaman bekerja di pemerintahan ini lama menetap di kota berjuluk “Kota Kembang” itu. Hal itu dimungkinkan karena Bandung adalah kota terbuka bagi banyak etnis sejak dulu. “Pada bulan Mei 1948 saya mengundurkan diri dari RVD (Rijksvoorlichtingsdienst, red .). Saya kemudian menghabiskan beberapa bulan di Sorong, dan kemudian kembali ke Bandung untuk belajar elektro dan radio,” aku Elisa Sahertian, dikutip koran De Preanger tanggal 3 Februari 1956.
- Mereka yang Diincar APRA
SERSAN Mayor Soedarja masih ingat rumor yang beredar pada awal Januari 1950. Tersebutlah orang-orang Belanda yang tak puas dengan kesepakatan Konfrensi Meja Bundar (KMB). Mereka bermaksud membentuk gerakan tersendiri guna memanjangkan kembali kekuasaan Belanda di Indonesia. “Kelompok itu bernama APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) yang dipimpin oleh eks komandan Korps Pasukan Khusus (KST), Kapten Raymond Westerling,” ujar eks anggota intelijen Divisi Siliwangi itu.
- Amuk Ratu Adil di Oude Hospitaalweg
KABUT pagi masih tertinggal di Bandung, ketika sekelompok serdadu bersenjata lengkap memenuhi jalanan utama. Mereka yang datang dari arah Cimahi itu lantas menyebar dalam formasi tempur. Sebagian terlihat berlindung di balik pohon-pohon besar di pinggir jalan. Sebagian yang lain mengokang senjatanya di sela tembok-tembok gedung. Satya Graha masih ingat dia baru saja keluar dari rumah saat seorang prajurit TNI berpangkat kopral ditembak mati di depan Hotel Preanger. Kendati di sekitarnya ada beberapa polisi, namun mereka sama sekali tak bertindak. “Malah saya lihat mereka tertawa-tawa bersama serdadu-serdadu pembunuh itu,”kenang Satya, eks wartawan Soeloeh Indonesia . Sementara itu di Oude Hospitaalweg (sekarang Jalan Lembong), para serdadu yang belakangan diketahui berasal dari Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) itu melakukan gerakan mengepung Markas Besar Divisi Siliwangi. Jarum jam menunjukan angka 9, kala mereka memulai tembakan pembuka dari arah parit-parit seberang jalan yang langsung berhadapan dengan markas Siliwangi. “Kami jadi gugup dan berlarian ke sana ke mari di ruangan tamu,” ujar Letnan Kolonel R.Soetoko, Wakil Kepala Staf Divisi Siliwangi dalam buku Tanpa Pamrih Kupertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 (otobigrafi Kolonel Purnawirawan Mohamad Rivai). Namun hadirnya para perwira yang sudah makan asam garam pertempuran (seperti Letnan Kolonel Abimanyu dan Mayor Mashudi) di ruangan itu menjadikan situasi cepat terkendali. Dengan cara berpindah-pindah tempat, mereka bisa melakukan perlawanan melalui jendela-jendela yang ada di gedung tersebut. “Para pengawal berhasil opstelling (membangun kubu) sekitar markas sambil melepaskan tembakan-tembakan gencar ke arah gerombolan APRA,”kenang Soetoko. Dengan sepucuk Sten di tangan, Soetoko sendiri menembak terus menerus secara mengitar. Hamburan peluru dari senjatanya membuat para penyerbu lintang pukang dan tak berani mengangkat kepala mereka di dalam parit itu. Kendati sempat diimbangi, amuk para Ratu Adil itu akhirnya tak terbendung. Sebagai perwira yang jabatannya paling tinggi, Soetoko lantas memerintahkan para prajurit dan perwira yang sudah kehabisan peluru untuk meloloskan diri dengan cara melompati tembok belakang markas. Kehabisan peluru, Soetoko lantas menggunakan sepucuk pistol untuk melakukan perlawanan. Dalam posisi ditembaki, tetiba dilihatnya Mayor Mashudi masuk ke ruangan dengan membawa hower Sten penuh berisi peluru. Tanpa banyak basa-basi, dia meminta hower tersebut dan memasangnya di Sten yang masih tergeletak di dekatnya. Perlawanan pun berlangsung kembali. Sadar jumlah mereka yang hanya berlimabelas tidak seimbang dengan ratusan para penyerbu, Soetoko memutuskan untuk meninggalkan markas. Dalam pertempuran itu, telah gugur seorang prajurit Siliwangi sedangkan 14 lainnya berhasil lolos. Begitu tak terdengar lagi tembakan dari kubu Siliwangi, pasukan APRA yang terdiri dari unit Korps Pasukan Khusus (KST), Polisi Belanda, KNIL dan Angkatan Darat Kerajaan Belanda (KL) langsung merangsek. Secara brutal, anak buah Kapten R.P.P. Westerling itu menembaki setiap ruangan. “Mereka juga merampas uang yang ada, yakni gaji para prajurit TNI dari Divisi Siliwangi yang pertama kali akan dibayarkan,” tulis A.H. Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid II: Kenangan Masa Gerilya. Malang bagi Kepala Pendidikan Angkatan Darat Letnan Kolonel A.G. Lembong dan ajudannya Letnan Satu Leo Kailola. Mereka yang tidak mengetahui sama sekali Markas Besar Divisi Siliwangi sudah dikuasai musuh tanpa curiga memasuki halaman gedung tersebut. Namun sebelum memasuki halaman markas, para prajurit APRA langsung memberondong mobil yang ditumpangi keduanya dengan ratusan peluru. Keduanya langsung tewas seketika dalam kondisi luka sangat parah. Bahkan tidak puas hanya dengan menghantam Lembong dan Kailola dengan siraman peluru, para prajurit APRA secara keji merusak wajah keduanya dengan klewang dan bayonet.*
- Banjir Besar di Jakarta
MENJELANG akhir tahun, sejumlah daerah di Indonesia rawan banjir, termasuk Jakarta yang berstatus ibu kota negara. Siklus banjir di Jakarta sudah seperti bencana berkala. Selain macet, banjir menjadi momok yang ditakuti warga Jakarta, namun sialnya masih belum teratasi hingga kini. Banjir yang melanda Jakarta pada 1977 barangkali termasuk banjir paling besar sepanjang sejarah. Pada hari Rabu, 19 Januari 1977, hujan deras mengguyur sepanjang hari. Akibatnya, sejumlah kawasan terendam air. Banjir ini disebut-sebut yang terbesar di Jakarta sejak 1892. “Sedikitnya 100.000 jiwa terungsikan,” lansir Kompas , 20 Januari 1977. Daerah paling parah terdampak banjir adalah tiga kecamatan di Jakarta Pusat, antara lain Senen, Cempaka Putih, dan Gambir. Hujan yang turun sedari pagi menyebabkan sejumlah kantor meliburkan pegawainya. Menjelang sore, sepanjang Jl. Thamrin dari bundaran air mancur ditutup untuk lalu-lintas karena ketinggian air mencapai satu meter. Kendaraan-kendaraan yang melintasi jalanan tersebut tak dapat bergerak sehingga terpaksa ditinggalkan pemiliknya. Banjir betul-betul membuat lalu-lintas Jakarta lumpuh. Taksi pasang tarif tinggi untuk jarak dekat dan tidak mau membawa penumpang melintasi rute yang tergenang banjir. Banyak mobil mogok karena mesinnya kemasukan air. Mobil Gubernur Ali Sadikin bahkan tidak mampu menembus ketinggian air hingga mogok di depan Gedung PLN. Sementara itu, para gelandangan aji mumpung menawarkan jasa dorong mobil dengan memasang harga mahal. “Bahkan ada yang minta dengan kekerasan jumlah ribuan rupiah. Rp3.000 (kini setara Rp142.000, red ) untuk seorang pendorong. Para pemilik kendaraan banyak yang lapor mengenai hal ini. Mereka tidak berdaya karena jumlah para ‘penjual jasa’ itu banyak sekali,” sebut Kompas . Banjir di Jakarta pada 1977, menurut sejarawan Restu Gunawan, bukan merupakan banjir kiriman karena curah hujan mencapai 240 milimeter setelah hujan selama sepuluh jam. Ini merupakan curah hujan tertinggi sejak 1892 yang saat itu mencapai 286 milimeter. Di Jakarta Selatan, daerah Pondok Karya dan Kebayoran Baru juga kebanjiran. “Sementara itu, di Jakarta Utara, banjir melanda Cilincing, Sunter, Lagoa, Rawa Badak, Muara Karang, Kapuk Muara, Penjaringan, Kamal, dan Pejagalan. Di bagian timur, akibat Sungai Sunter meluap, daerah yang dilanda banjir adalah Cempaka Putih dan Sunter,” tulis Restu dalam Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa . Kawasan elite seperti Jl. Medan Merdeka dan Silang Monas termasuk titik terparah yang terendam banjir. Tugu Monas yang menjulang megah tampak kontras dengan pemandangan sekitarnya yang tampak seperti kali. Padahal, Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto direncanakan untuk meninjau diorama Supersemar dalam Museum Monas pada hari Jumat, 21 Januari 1977. Keadaan banjir tidak memungkinkan kunjungan Presiden Soeharto. Agendanya dibatalkan. Menurut berita Sinar Harapan , banjir menerjang masuk sampai ke ruangan diorama Museum Monas. Sebanyak delapan mobil sedot tinja dikerahkan guna menyedot air dari ruang-ruang museum. Diperkirakan ketinggian air yang merendam Museum Monas mencapai 60 cm. “Akibat hujan yang turun sejak tengah malam beberapa tempat di ibukota lagi-lagi tergenang air. Kawasan Monas dan Medan Merdeka dekat Istana tidak luput dari gangguan air tersebut. Nampak Museum Monas di ruangan diorama dengan genangan air yang sebagian sudah disedot oleh 8 mobil tinja. Menurut rencana Presiden dan Ny. Tien Soeharto Jumat pagi akan mengadakan peninjauan dalam musim ini, kunjungan tersebut dibatalkan,” diwartakan Sinar Harapan , 20 Januari 1977. Dari rencana semula meninjau Museum Monas, kegiatan Presiden Soeharto lantas dialihkan untuk meninjau banjir. Dengan menumpang pesawat helikopter milik Pertamina, Soeharto dan Ibu Tien berangkat dari Parkir Timur Senayan menuju daerah industri Pulogadung, Cakung, Grogol, Pulomas, dan Jalan Jakarta Bypass . Selama peninjauan ini, Soeharto beberapa kali mengabadikan daerah terdampak banjir dari udara dengan kameranya. Selain itu, Soeharto memberikan bantuan 50 ton beras setiap daerah walikota yang terkena banjir. Seperti diterangkan dalam Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973—23 Maret 1978 , Soeharto kemudian memanggil sejumlah pejabat tinggi ke kediamannya di Jl. Cendana 8, Menteng, Jakarta Pusat. Antara lain Menteri Perdagangan ad interim J.B. Sumarlin, Kepala Bulog Bustanil Arifin, Dirut Pertamina Piet Harjono, dan Direktur Pembekalan Dalam Negeri Pertamina Yudo Sumbogo. Soeharto menginstruksikan langkah-langkah menjaga kelancaran arus barang-barang kebutuhan pokok seperti gula dan minyak. Dia berharap harga barang-barang kebutuhan pokok dapat dikendalikan. “Pesta air” yang melanda Jakarta, seperti disebut laporan Tempo , 5 Februari 1977, menyebabkan sekira 40 persen wilayah DKI Jakarta tergenang. Persentasi ini meningkat drastis dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 17 persen. Namun, kecekatan petugas-petugas Pemprov DKI Jakarta dalam menyelamatkan para korban banjir cukup diapresiasi sehingga mereka tak menderita lebih parah. Barangkali karena sudah cukup berpengalaman dari peristiwa-peristiwa serupa sebelumnya. Sementara itu, Gubernur Ali Sadikin mengatakan, diperlukan biaya sebesar 1 miliar dolar AS untuk mengatasi banjir di Jakarta. “Kalau biaya itu harus dibebankan kepada DKI, sampai kiamat tak akan ada uangnya. Padahal, dengan banjir baru-baru ini warga ibukota sudah merasa seperti kiamat sudah datang,” tandas Ali Sadikin seperti dikutip Tempo . Pada Februari 1977, Jakarta kembali diguyur banjir. Namun, dampaknya tidak sebesar seperti di bulan Januari sehingga relatif teratasi. Sementara itu, agenda Soeharto meninjau diorama Supersemar di Museum Monas baru dilaksanakan pada 18 Maret 1977. Soeharto bersama Ibu Tien berkunjung ke Monas didampingi Kepala Pusat Sejarah ABRI Nugroho Notosutanto. Soeharto menyetujui diorama di museum sejarah Monas yang menggambarkan suasana menjelang terbitnya Surat Perintah 11 Maret 1966, sebagai awal berdirinya Orde Baru.*
- Marcel Dassault dan Jet Tempur Kebanggaan Prancis
MUSIM semi 6 April 1945, sejumlah pasukan SS (Schutzstaffel/Paramiliter Nazi Jerman) penjaga kamp konsentrasi Buchenwald dekat kota Weimar, Jerman makin sibuk. Upaya evakuasi makin kacau seiring kian mendekatnya pasukan Amerika. Di hari itu, sekitar 46 nama masuk daftar evakuasi. “Daftar 46 tahanan diperintahkan untuk melapor ke gerbang depan pada 6 April 1945. Perancang pesawat Marcel Bloch satu di antaranya. Tetapi dia jadi satu-satunya tahanan yang diperintahkan kembali oleh SS (ke barak tahanan),” ungkap Harry Stein dalam Buchenwald Concentration Camp, 1937-1945: A Guide to the Permanent Historical Exhibition.
- Ashin Jinarakkhita Membangkitkan Agama Buddha di Indonesia
“GALILAH yang lama, sesuaikan dengan zaman dan lingkungan.” Demikianlah kata-kata mutiara yang terlontar dari mulut Ashin Jinarakkhita, biksu yang membangkitkan agama Buddha yang inklusif di Indonesia modern. Ashin dianggap sebagai biksu pertama Indonesia setelah 500 tahun keruntuhan agama Buddha pada era Majapahit. Sejak perkembangan Islam di Nusantara begitu pesat, lambat laun agama Hndu dan Buddha tersisih. Sebagian yang bertahan, mundur ke daerah pegunungan seperti ke Tengger, Bromo dan juga di Pulau Bali. Sepanjang era kolonialisme, agama Buddha lebih dikenal sebagai agama orang Tionghoa bersama Konghucu dan Taoisme.
- Pengusaha Hiburan Malam Naik Haji
DI suatu malam, datanglah seorang perempuan yang disebut-sebut istri muda walikota Ambon ke klub malam bernama Latin Quarter. Tanpa ada walikota Ambon yang menjadi suaminya, perempuan itu datang ditemani beberapa laki-laki. Salah satu laki-laki itu bertanya ke kasir tempat Gito Rollies dan Gaga Abulhayat melayani pelanggan dan menanyakan bill yang harus dibayar. Rp14.950 jumlah tagihan yang harus dibayar rombongan istri muda pejabat itu untuk makan-minum di klub tersebut. Rombongan tersebut tak mau membayar tunai. Keributan pun terjadi antara laki-laki dalam rombongan istri muda itu dengan pekerja klub. Dalam peristiwa itu, Paul Houbert Endoh Fuhrer, pekerja klub yang juga vokalis band Cockpit, luka berat dan harus dirawat di rumahsakit. Selang beberapa waktu, suami dari istri muda tadi pun tak jadi walikota Ambon lagi. “Pendeknya tamu itu raja, jadi kita tidak boleh menggunkan tindakan tegas yang bisa membuat mereka kapok datang,” kata Abulhayat di majalah Aktuil nomor 161, Februari 1975. Abulhayat sejatinya bisa main keras kepada tamu bermasalah. Namun, itu opsi pamungkas. Kepuasan tamu adalah segala-galanya dalam bisnis hiburan. Tamu harus dilayani, bahkan jika sang tamu itu hanya seorang tukang becak pun tukang bikin onar. Latin Quarter dikelola oleh pengusaha bernama Abulhayat. Pada 1975 itu tak hanya Latin Quarter yang diurusnya, tapi juga Copacobana dan Binaria Seaside di Jakarta dan Blue Ocean di Surabaya. Selain mengelola klub, Abulhayat juga seorang pencari bakat dan manajer artis. Di antara artis orbitannya adalah Dorce Gamalama, Grace Simon, dan Emilia Contesa. Sejak bocah, Abulhayat sudah dekat dengan dunia seni dan hiburan. Pria asal Madura yang lahir pada 1926 ini terganggu masa mudanya karena Perang Dunia II. Setelah perang, ia mengikuti panggilan revolusi kemerdekaan Indonesia yang meletus sejak 1945. Seperti pemuda lain, dia masuk kemiliteran. Setelah perang melawan tentara Belanda berlalu, dirinya terus berkarier di militer, tapatnya di Polisi Militer Angkatan Darat (POMAD), Corps Polisi Militer (CPM). Semasa menjadi PM, dirinya pernah diperbantukan di bawah Menteri Agama Saifuddin Zuhri sebagai ajudan dengan pangkat mayor. Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren menyebut Mayor Abulhayat ikut dalam rombongan menteri agama ke Lebanon dan Yerusalem pada 1964. Sebelum ke sana, rombongan menteri itu juga pergi ke Makkah. Di sana mereka melakukan umrah. Namun, kesehatan Abulhayat terganggu di negeri yang panas dan kering kerontang itu. “Bapak Mayor CPM Abulhayat yang sakit keras di Makkah dibawa dengan ambulans ke Arafah. Semua yang sakit akan dibawa, yang penting asal berada di Arafah waktu wukuf supaya memenuhi syarat berhaji,” ingat Misbach Yusa Biran dalam Kenang-kenangan Orang Bandel . Misbach ikut ke Saudi ketika itu. Dia terlibat dalam pembuatan film tentang haji. Padang Arafah kala itu masih tanpa pohon –kini, banyak pohon mindi ( Pohon Sukarno ) di sana. Terik mataharinya di siang bolong sangat panas. Banyak yang meninggal dunia di sana, seperti tokoh 10 November 1945 di Surabaya Bung Tomo . Banyak jamaah haji percaya hal di luar nalar manusia kerap terjadi di Makkah dan Padang Arafah. Itu juga dialami Abulhayat. “Aneh sekali, ketika Mayor Abulhayat akan dibantu turun dari ambulans, beliau bisa berjalan dan selanjutnya terus sehat,” kenang Misbach yang mendirikan lembaga arsip film Sinematek .*
- Tedy Jusuf Jenderal Tionghoa
SUATU hari di tahun 1954, rumah keluarga Him Ie Nyan di Pasar Baru, Jakarta kedatangan dua tamu. Mereka bukan akan pesan koper atau semacamnya lantaran Him Ie Nyan penjual koper kulit. Dua tamu itu adalah anggota satuan Pertahanan Sipil (Hansip). Di telinga Him Ie Nyan yang sedang duduk di meja, kedua hansip itu terdengar sedang marah-marah. “Sedang tidak punya uang, lain kali ke sini lagi,” kata Him Ie Nyan kepada dua hansip tadi. Kedua hansip tetap tidak mau pergi. Saking inginnya uang dari Him Ie Nyan, kedua hansip itu lalu menendang kursi Him Ie Nyan. Setelah pergi tanpa dapat uang, dua hansip itu tak lupa ngomel-ngomel . Him Ie Nyan hanya bisa bersabar. Kesedihannya tak terbendung, air matanya tertumpah. Merasa sebagai pendatang sulit baginya untuk melawan hansip, yang biasanya bukan pendatang. Him Tek Ji, anak laki-lakinya yang baru 10 tahun, pun tentu tak bisa berbuat banyak. Orang Tionghoa dianggap pendatang, tak punya backing di kekuasaan maupun dalam kemiliteran atau lembaga yang kemiliter-militeran macam Hansip. Begitulah keadaan keluarga Him Ie Nyan sebagaimana dikisahkan Him Tek Ji dalam memoarnya, Tedy Jusuf, Kacang Mencari Kulitnya. Orang Kristen ke Istiqlal Tak terasa, masa SMA Him Tek Ji hampir berlalu. Dia hanya tinggal menanti ijazahnya keluar. Kala itu ijazah SMA masih berharga lantaran lulusan SMA belum sebanyak sekarang. Pada 1962, lulusan SMA bisa jauh dari pekerjaan kuli dan ijazahnya tidak akan ditahan pemilik toko. Him Tek Ji sangat ingin kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), seperti Sukarno setengah abad sebelumnya. Tapi Tek Ji sadar keadaan. Ada adik-adiknya yang harus dibiayai sekolah dasar dan menengahnya. Tak hanya dirinya saja yang butuh uang hasil keringat ayahnya. Di tengah kegalauannya akan masa depannya itu, Him Tek Ji kedatangan salah satu pamannya dari Semarang. Kegalauannya pun sirna. “Apakah mau masuk AMN?” tanya Gustaaf Brugman, pria yang biasa disapanya sebagai Om Brugman itu. Tek Ji hanya terdiam. Esoknya, dirinya diajak Om Brugman pergi. Om Brugman berpakaian necis atasan dan bawahan putih dilengkapi dasi. Rupanya dia hendak mengantar Tek Ji mendaftar agar menjadi tentara. Mereka lalu pergi ke daerah Gambir. Mula-mula ke tempat yang kini menjadi Markas Kostrad, lalu ke Mabes Angkatan Darat dan akhirnya tempat yang kini jadi Masjid Istiqlal yang kala itu markas KODAM Jaya. Tek Ji pun mencoba peruntungannya. Kala itu yang terpikir olehnya hanyalah untuk menyenangkan Om Brugman. Brugman sendiri merupakan tentara. Dari dokumen tawanan perangnya, dia ditawan militer Jepang setelah Jepang berkuasa di bekas Hindia Belanda. Saat ditawan, dia tercatat sebagai personel zeni KNIL di Malang, Jawa Timur dengan pangkat Adj. Onderofficier. Tek Ji dan Brugman lalu ke bagian Ajudan Jenderal (Ajen) untuk mendaftar. Pendaftaran hampir ditutup, tapi Tek Ji masih bisa mendaftar dan akhirnya boleh ikut tes. Setelah mengikuti serangkaian tes, Tek Ji ternyata diterima dan berangkat menuju Magelang, tempat Akademi Militer Nasional (AMN) berada. Sekolah kedinasan gratis ini adalah pencetak perwira Angkataran Darat. Pendidikan dilaluinya hingga lulus. Setelah lulus sebagai perwira infanteri, Tek Ji menjalani kariernya dengan duka dan sukanya sebagai perwira. Dia akhirnya sampai menjadi contoh langka di Angkatan Darat, yakni menjadi brigadir jenderal keturunan Tionghoa. Jauh sebelum jadi jenderal, ketika masih menjadi letnan dua, Tek Ji pernah bertemu dua hansip yang dulu minta uang dengan kasar kepada ayahnya. Dua hansip itu tampak tertunduk. Keduanya merasa kalah seragam. Tek Ji tak bisa melupakannya. “Jangan coba-coba lagi ganggu Papa saya, saya tembak kepalamu. Mulai saat ini, kamu tidak boleh lewat depan rumah saya!” kata Tek Ji kepada kedua hansip itu. “Iya, Pak. Maaf,” kata hansip. Semasa berdinas di TNI, Tek Ji yang kemudian dikenal sebagai Tedy Jusuf itu pernah bertugas di Batalyon Infanteri 519 dan 507 (Sikatan) di Jawa Timur. Dia juga pernah dikirim ke Timor Timur. Setelahnya, dia pernah dipercaya menjadi komandan KODIM Jakarta Pusat, komandan KOREM Manado, lalu staf ahli panglima ABRI. Dia jadi jenderal di masa orde baru, ketika orang Tionghoa sulit berekspresi dan hanya dihargai karena perkara ekonomi dalam orde yang mendaku diri orde pembangunan itu.*
- Meledakkan Borobudur
ANCAMAN peledakan Borobudur beredar di media sosial pada 15 Agustus 2014. Menurut laman The Jakarta Post , ancaman berasal dari akun Facebook bernama “We Are Islamic State”. Polisi menanggapi serius ancaman itu untuk menghindari peledakan Borobudur jilid II. Sebab, sekelompok orang pernah meledakkan Borobudur pada 21 Januari 1985. Jarum jam menunjuk pukul 01.20. Dua satpam Borobudur bergerak meninggalkan pos I untuk berpatroli rutin. Baru sepuluh menit berjalan, mereka mendengar suara keras. Sebuah ledakan! Keduanya berlarian. Pada langkah kesepuluh, mereka mendengar ledakan lagi. Dan lagi. “Ledakan terakhir pukul 03.40 adalah ledakan yang ke-9,” tulis Naning Indrati dalam “Sembilan Ledakan di Borobudur,” termuat di Rangkaian Peristiwa 1985 . Petugas Garnisun Magelang tiba pukul 04.30 dan lekas menyisir candi. Mereka melihat batu-batu candi berserakan. “Ledakan ternyata telah merusak 9 stupa berlubang: 3 yang berada di sisi timur batur pertama Arupadhatu , 2 lagi yang terdapat di batur kedua dan 4 lainnya di batur ketiga,” tulis Daoed Joesoef , mantan menteri pendidikan dan kebudayaan sekaligus tokoh pemugaran candi Borobudur, dalam Borobudur . Pagi pukul 09.00, masyarakat dan wartawan mulai berkumpul. Tiba-tiba kegemparan melanda lagi. Petugas menemukan dua bom aktif di lantai 8 dan 9 candi. Sersan Sugianto, ahli bom dari Yon Zipur IV Polda Jateng, berhasil mencegah bom meledak. Siang pukul 14.00, Pangdam VII Diponegoro Mayjen TNI Soegiarto menggelar konferensi pers. Dia berusaha menenangkan masyarakat, mengumumkan bahwa tak ada korban jiwa dan candi tak rusak berat. Tapi masyarakat tetap terkejut dan khawatir situs sakral bagi umat Buddha itu hancur. “ How come ?” tanya Daoed Joesoef. Dia marah dan malu bom bisa meledak di Borobudur. Indonesia seketika jadi sorotan internasional. “Ledakan yang menghancurkan itu pasti mencoreng muka Ibu Pertiwi yang beradab karena ternyata masih memiliki putra yang biadab,” tulis Daoed. Dia bilang sering menerima surat kaleng dan selebaran gelap. Isinya berupa makian, hujatan, dan kutukan; bahwa Daoed seorang kafir dan bertanggung jawab atas pembangunan berhala terbesar di tanah air. Spekulasi pelaku peledakan pun bermunculan. Pemerintah mengarahkan kecurigaan pada kelompok Islam radikal. Ketegangan antara pemerintah dan kelompok Islam meningkat sejak peristiwa Tanjung Priok September 1984 dan penolakan asas tunggal Pancasila. Kiai Haji Haman Djafar, pemimpin Pondok Pesantren Pabelan yang berlokasi 8 kilometer dari Borobudur, mencoba membedakan aksi peledakan dari ajaran Islam. “…Perbuatan itu tidak mewakili perbuatan sesuatu agama, tetapi perbuatan orang marah,” kata Haman, dikutip Naning Indrati. Dia juga mengajak semua pihak agar mawas diri dan saling tepa slira . Empat bulan setelah peledakan, polisi menangkap para pelaku. Antara lain Abdul Kadir bin Ali al-Habsyi dan Husein bin Ali al-Habsyi, dua bersaudara. Di pengadilan jaksa penuntut menuduh mereka meledakkan Borobudur sebagai balas dendam atas peristiwa Tanjung Priok 1984. Mereka menolak tuduhan jaksa, tapi pengadilan tetap memutuskan mereka bersalah. Abdul Kadir mendapat hukuman 20 tahun penjara, sedangkan Husein seumur hidup. Tapi Husein mendapatkan grasi dari pemerintah B.J. Habibie pada 23 Maret 1999. Peledakan Borobudur masih menyisakan misteri. Sebab, Mohammad Jawad, yang dituding Husein sebagai otak peledakan, sampai saat ini belum tertangkap.*
- Mengenal Pahlawan Nasional Rahmah El Yunusiyah
SUMATERA Barat kembali mendapat kehormatan tahun ini. Dari 10 tokoh yang dianugerahi pahlawan nasional usai upacara Hari Pahlawan pada Senin (10/11/2025), satu di antaranya adalah Hj. Rahmah El Yunusiyah, tokoh pelopor pendidikan Islam untuk kaum perempuan. Pada upacara penganugerahan pahlawan nasional di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025), 10 tokoh dianugerahi pahlawan nasional melalui Keppres No. 116/TK Tahun 2025. Selain Rahmah El Yunusiyah dari Provinsi Sumatera Barat, sembilan figur lainnya adalah KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (Jawa Timur), Jenderal H.M. Soeharto (Jawa Tengah), Marsinah (Jawa Timur), Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja (Jawa Barat), Jenderal (Purn.) Sarwo Edhi Wibowo (Jawa Tengah), Sultan Muhammad Salahuddin (Nusa Tenggara Barat), Syaikhona Muhammad Kholil (Jawa Timur), Tuan Rondahaim Saragih (Sumatera Utara), dan Zainal Abidin Syah (Maluku Utara). Nama Hj. Rahmah El Yunusiyah sudah diusulkan pemerintah Provinsi Sumatera Barat sejak 2023. Presiden RI Prabowo Subianto menyerahkan anugerah pahlawan nasionalnya secara langsung kepada ahli warisnya. Sebagai ulama dan pejuang kemerdekaan, Rahmah diangerahi pahlawan nasional bidang perjuangan pendidikan Islam. Para ahli waris dari 10 tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. (setneg.go.id). Memuliakan Perempuan lewat Pendidikan Pada medio 1950, Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias Hamka tiba di Kairo, Mesir. Apa yang pernah diceritakan ayahnya –Abdul Karim Amrullah alias Haji Rasul yang pernah ke Mesir pada 1925– tentang Mesir begitu nyata di hadapan matanya. Mesir dengan Universitas Al-Azharnya memajukan peradaban Islam dengan pendidikan. Hampir semua tokoh cendekiawan tanah Minang “berkiblat” ke Universitas Al-Azhar. “Thawalib kalah, Djokja kalah, bahkan Mekkah sendiripun kalah. Mesir yang di atas!” kata Hamka dalam catatan pribadi yang dibukukannya, Tindjauan Dilembah Nil. Meski begitu, dari banyak pengamatannya, masih ada satu hal yang minus dan “kalah” jika dibandingkan Minangkabau. Di Mesir, bahkan di Universitas Al-Azhar sekalipun, belum ada sekolah atau kampus khusus perempuan untuk memperdalam agama Islam. “Ketika ia bertemu (para tokoh) organisasi-organisasi perempuan, Hamka membanggakan fakta bahwa Indonesia sudah punya dua menteri dari kalangan perempuan. Hamka juga membanggakan fakta bahwa di Bukittinggi ada sekolah untuk perempuan, Diniyah Puteri yang didirikan dan dipimpin Rahmah el-Junusiyah,” tulis Hairus Salim HS dalam artikel “Indonesian Muslims and Cultural Network” di buku Heirs to World Culture: Being Indonesian, 1950-1965. Di kalangan ulama dan cendekiawan asal Minang, nama Rahmah El Yunusiyah begitu berkibar. Putri bungsu pasangan Rafi’ah dan Muhammad Yunus al-Khalidiyah bin Imanuddin kelahiran Nagari Bukit Surungan, Padang Panjang pada 26 Oktober 1900 itu satu-satunya perempuan yang mampu mendobrak tradisi dengan mendirikan sekolah khusus perempuan. “Rahmah adalah anak yang dikenal keras hati dan teguh pendirian, kemauannya pantang dihalangi. Cita-cita Rahman muncul dari kesadaran adanya ketidakadilan yang dialami kaumnya, di samping ketimpangan sosial dalam masyarakatnya. Dia melihat kaumnya jauh tertinggal dari laki-laki. Rahmah melihat ketidaksetaraan kepandaian perempuan disebabkan karena mereka tidak mendapatkan kesempatan belajar yang sama,” ungkap Junaidatul Munawaroh dalam artikel “Rahmah el-Yunusiah: Pelopor Pendidikan Perempuan” di buku Ulama Perempuan Indonesia . Rahmah mulanya berguru pada ayahnya dan kakaknya, Zainuddin Labai El Yunusi, yang pendiri Diniyah School. Sepeninggal sang kakak dan Diniyah School mengalami kemunduran, Rahmah mengambilalihnya pada 1916. Rahmah bahkan mulai menerima murid perempuan ketika mengajar di surau di Jembatan Besi pada 1918. “Di antara yang turut belajar pada waktu itu ialah Rasuna Said, Nanisah, dan Upik Japang. Boleh dikatakan bahwa sebelum itu belumlah ada kaum perempuan yang belajar agama, nahwu, dan sharaf, fiqih dan ushul-nya. Sebelum itu kaum perempuan baru belajar dalam pengajian umum, mendengarkan tabligh guru-guru,” tulis Hamka dalam bukunya yang lain, Ayahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera. Butuh lima tahun bagi Rahmah hinggga dapat mendirikan sekolah khusus perempuan, Diniyah Puteri, pada 1 November 1923. Mulai berubahnya pandangan masyarakat terhadap pentingnya pendidikan perempuan membuat Rahmah sedikit demi sedikit mendapat banyak sumbangan. Utamanya setelah gedung sekolahnya runtuh pasca-gempa bumi pada 1926. “Ke mana-mana dia berjalan mencari perbantuan kaum Muslimin untuk membangun gedung sekolahnya, karena tempat asrama kawan-kawannya itu telah runtuh. Perhatian kaum Muslimin amat besar atas usahanya itu. Sampai dia mengembara ke Malaya, menemui sultan-sultan Melayu meminta bantuan,” imbuh Hamka. Rahmah kian menyibukkan diri dengan mengajar dan kegiatan sosial setelah suaminya, Bahauddin Lathif, ditangkap Belanda dan ikut diasingkan ke Boven Digul. dalam Khazanah Ulama Perempuan Nusantara , Nur Hasan menulis Rahmah mengikuti kursus ilmu kebidanan di Kayu Tanam pada 1931. Salah seorang yang membimbingnya adalah Kudi Urai, bidan yang pernah membantu kelahiran Rahmah sendiri dan Sutan Sjahrir. Untuk memenuhi kebutuhan pendidik sekolahnya, Rahmah pun membuka sekolah guru untuk puteri, Kulliyyatul Mualimat el Islamiyyah, pada 1937. Di era pendudukan Jepang, Rahmah bersama para aktivis perempuan di Anggota Daerah Ibu (ADI), seringkali menuntut pemerintahan militer Jepang untuk menutup rumah-rumah bordil dan penghentian praktik jugun ianfu (wanita penghibur). Gedung Sekolah Diniyah Puteri sendiri sering dijadikan tempat perawatan rakyat. Gedung yang sama pula jadi tempat bendera merah putih pertamakali dikibarkan di Sumatera Barat pasca-proklamasi kemerdekaan. Di masa revolusi kemerdekaan, Rahmah turut menginisiasi pembentukan unit perbekalan Tentara Keamanan Rakyat di Padang Panjang. Kompleks Diniyah Putri pun jadi dapur umum. Keterlibatannya itu pula yang membuat Rahmah ikut ditarget Belanda. Pada 7 Januari 1949, pasukan Belanda menangkap Rahmah sebagaimana juga para pemimpin republik di Padang Panjang. Ia dijadikan tahanan rumah di Padang sampai gencatan senjata terjadi hingga ia kembali jadi pengajar. Ketika Hamka berkunjung ke Mesir pada 1950, kabar mengenai Diniyah Puteri yang didirikan Rahmah menjadi perbincangan di Mesir. Rektor Universitas Al-Azhar Syekh Abdurrahman Taj sampai berkunjung ke Padang Panjang medio 1955 untuk menengok sekolah tersebut. “Beliau kagum melihat usaha yang besar ini dan mengakui terus terang bahwa Mesir dengan Al Azharnya masih jauh ketinggalan. Perhatian kepada pendidikan dan pengajaran Agama Islam yagn mendalam sebagai Diniyah Puteri itu belum ada di Mesir, apalagi di negeri-negeri Arab yang lain,” terang Hamka. Universitas Al-Azhar kemudian mengundang Rahmah untuk berbalas kunjungan ke Mesir. Rahmah menjawab undangan itu setelah menunaikan haji pada 1957. Oleh Universitas Al-Azhar, Rahmah diberi gelar “Syekhah”. Universitas Al-Azhar sendiri baru membuka kampus khusus perempuan, Kulliyatul Banat, pada 1962. “Maka harus diakui bahwa Rahmahlah pelopor kaum perempuan belajar agama sebagai(mana) kaum laki-laki,” tandasnya.*






















