Hasil pencarian
9656 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Spanyol 1936
PADA sebuah barak Lenin di Barcelona, sehari sebelum bergabung dengan milisi antifasis, George Orwell terpukau pada penampilan seorang laskar muda asal Italia. Pria itu, kata Orwell, berusia sekitar 25 atau 26 tahun, berdiri tepat di hadapannya dengan sorot mata tajam, memperhatikan sebuah peta terhampar di atas meja dengan kening berkerut kebingungan. “Ada sesuatu di wajahnya yang membuatku tersentuh. Itulah wajah seorang lelaki yang rela berjibaku membunuh dan tak memedulikan hidupnya demi seorang kawan,” tulis Orwell dalam memoarnya yang masyhur Homage to Catalonia .
- Palestina (Bukan) Harga Mati
SELAMA berabad-abad, bangsa Yahudi mencari “Tanah yang Dijanjikan”, sebuah wilayah yang akan mereka jadikan tanah air mereka. Mordecai Manuel Noah memulai langkah ini dengan membeli sebidang tanah di Grand Island di Sungai Niagara dekat Buffalo, New York, Amerika Serikat, pada 1825. Menurut Seymour “Sy” Brody dalam biografi singkat Mordecai Manuel Noah (1785-1851), di tanah itu Noah membayangkan sebuah koloni Yahudi yang dia disebut Ararat –bukan pegunungan Ararat di Turki tempat peristirahatan Noah’s Ark (Bahtera Nabi Nuh). Di tempat itu pula dia mendirikan monumen dengan tulisan: “Ararat, sebuah Kota Perlindungan untuk orang Yahudi, didirikan oleh Mordecai M. Noah pada Bulan Tishri, 5586 (September 1825) dan pada Limapuluh Tahun Kemerdekaan Amerika”.
- Trah Djiwandono dalam Kabinet
PRESIDEN Joko Widodo melantik tiga pejabat baru di kabinetnya kemarin, Kamis (18/7/2024). Salah satu nama yang dilantik adalah Thomas Djiwandono. Bendahara Umum Partai Gerindra itu ditunjuk presiden menjadi wakil menteri keuangan. Thomas merupakan putra pasangan Soedrajad Djiwandono dan Biantiningsih Djojohadikusumo, putri begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo yang merupakan ayah presiden terpilih Prabowo Subianto. Soedrajad sendiri merupakan salah satu orang kepercayaan mantan Presiden Soeharto di bidang keuangan, hingga dipercaya menduduki beberapa jabatan dalam Kabinet Pembangunan pemerintahan Orde Baru. Soedrajad berasal dari lingkungan Keraton Yogyakarta. Ketika Sri Sultan Hamengkubuwono VIII bertakhta di era 1930-an, keraton punya banyak abdi dalem . Salah satunya Thomas Sastro Djiwandono. Sastro memperistri Pariah. Pasangan ini punya banyak anak. Dari 12 anak mereka, hanya sembilan yang bertahan hidup setelah bayi. Di antaranya yang lahir pada 13 Oktober 1933, yang bernama panjang Johannes Baptista Soedjati Djiwandono. Anak paling bungsu lahir pada 17 Agustus 1938 dengan nama Joseph Soedrajad Djiwandono. Kesembilan anak Sastro-Pariah tumbuh di tengah situasi politik yang bergonta-ganti dalam waktu relatif singkat, dari era kolonial Belanda lalu pendudukan Jepang dan diakhiri Perang Kemerdekaan Indonesia. Di masa Perang Kemerdekaan itulah, catat Dawam Rahardjo dalam Bank Indonesia dalam Kilasan Sejarah Bangsa , Sastro meninggal dunia ketika Soedrajad berusia 10 tahun. Kendati begitu, kehidupan terus berlanjut. Setelah perang, anak Sastro dan Pariah tumbuh dewasa. Maria Etty dalam TS. Gerbang Rahmat mencatat, Soedjati setelah lulus Sekolah Guru Atas (SGA) sempat kursus B1 dan kursus bahasa Inggris di Universitas Wellington, Selandia Baru. Dia lalu kuliah politik dan bahasa Rusia di Universitas Otago dan mendapat gelar sarjananya di sana. Sekitar tahun 1966, Soedjati kembali ke Indonesia. Dia ikut Khalawat Sebul (Khasebul) di bawah bimbingan Pater Joseph Beek, pastur anti-komunis yang ikut mendorong berdirinya Orde Baru. Soedjati kemudian bekerja di pusat kajian strategi internasional Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Dia sampai menjadi direktur eksekutif di sana. Soedjati kemudian melanjutkan sekolahnya di London School of Economics and Political Science (LSE) sejak 1977 dan mencapai gelar Doctor of Philosophy (PhD). Dia baru menikah pada usia 37 tahun. Dia menikah dengan Vonny Phoa. Sementara, si bungsu Soedradjad pada 1963 berhasil jadi sarjana ekonomi setelah kuliah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Kemudian sejak 1964-1967, Soedrajad belajar di Universitas Winconsin dan setelah pulang ke Indonesia dia bekerja di bermacam instansi negara. Pada 1971, Soedrajad menikah dengan Biantiningsih Miderawati Djojohadikusumo. Perempuan berdarah Jawa-Minahasa ini merupakan putri Menteri Perdagangan Sumitro Djojohadikusumo dan Dora Marie Sigar. Pasangan Soedrajad-Bianti, disebut Aristides Katoppo dkk. dalam Jejak Perlawanan Begawan Pejuang Sumitro Djojohadikusumo , hidup sebagai penganut Katolik. Pasangan ini dikaruniai dua anak: Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono dan Gerardus Budisatrio Djiwandono. Setelah bekerja di Departemen Keuangan dan Departemen Perdagangan, pada 1972 Soedrajad bekerja pada Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di bawah ekonom Widjojo Nitisastro. “Saya diminta Pak Widjojo untuk bekerja di Bappenas, pada waktu itu untuk mempersiapkan penyusunan Repelita II,” kenang Soedrajad dalam “Guru dan Mentor Saya” di buku Kesan Para Sahabat Tentang Widjojo Nitisastro . Di Bappenas, karier Soedrajad terus menanjak. Dia sampai menjadi kepala biro. Dia juga pernah menjadi staf ahli menteri perdagangan. Pada 1988, di usia yang hampir 50 tahun, Soedrajad diangkat Presiden Soeharto menjadi menteri muda perdagangan dalam Kabinet Pembangunan V. Pada 1993, Soedrajad dipercaya menjadi gubernur Bank Indonesia dalam Kebinet Pembangunan VI. Di tahun terakhir masa jabatannya di Bank Indonesia, adik ipar Soedrajad juga sedang naik daun di militer. Brigadir Jenderal TNI Prabowo Subianto, adik ipar itu yang juga sebagai menantu daripada Presiden Soeharto, adalah Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus) yang kemudian diangkat menjadi panglima Kostrad. Namun, berbeda dari Prabowo, Soedrajad dan Soedjati kakaknya punya sikap kritis di akhir pemerintahan Soeharto. Bahkan, kekritisan mereka merugikan kolega Soeharto. “Gubernur Bank Sentral Indonesia Dr. Sudrajad Djiwandono, yang menutup bank-bank relasi Soeharto tahun 1997, akhirnya diberhentikan dengan hormat oleh Presiden Soeharto pertengahan 1998,” tulis George Aditjondro dalam Korupsi Kepresidenan . Soedrajad, kata Aristides dkk., menolak keinginan Soeharto untuk menerapkan Currency Board System (CBS). Prabowo sendiri kemudian berpisah dengan putri Soeharto. Setelah tinggal beberapa waktu di Yordania, dia kemudian pulang dan terjun ke dunia politik. Berkali-kali kalah dalam pemilihan presiden, Prabowo akhirnya berhasil terpilih sebagai presiden lewat Pemilu 2024 didampingi anak bekas lawan yang mengalahkannya dalam dua pemilihan calon presiden sebelumnya. Di partai yang didirikan Prabowo, Gerindra, itulah putra Soedrajad, Thomas Djiwandono, menjadi bendahara umum partai. Namanya bahkan disebut-sebut dalam bursa calon menteri keuangan. Selain dirinya, adiknya, Budi Djiwandono, juga disebut-sebut namanya dalam bursa calon gubernur Jakarta. Keluarga Djiwandono tak hanya bagian dari keluarga besar Djojohadikusumo, tapi juga bagian dari Partai Gerindra yang dipimpin Prabowo, ipar Soedrajat itu. Kini, Thomas mewakili trah Djiwandono-Djojohadikusumo menjadi bagian dari kabinet. Ia dilantik presiden menjadi wakil menteri keuangan pada Kamis, 18 Juli 2024, ketika acara Kamisan digelar –untuk menagih janji presiden yang pernah berjanji akan menyelesaikan kasus-kasus HAM– di depan Istana Merdeka, Jakarta.*
- Kunjungan Putra Mahkota Belgia Leopold dan Putri Astrid ke Hindia Belanda
DENGAN kapal Insulinde, Putra Mahkota Leopold dari Belgia dan Putri Astrid berangkat ke Hindia. “Itu adalah perjalanan yang berat, tetapi juga menyenangkan,” kata Kapten Kapal GH Ruhaak pada Bataviaasch Nieuwsblad edisi 17 Maret 1933. Desember 1928 merupakan kali pertama pasangan Kerajaan Belgia itu berkunjung ke Hindia-Belanda. Mereka datang untuk melihat-lihat tanah dan orang-orang di negeri jajahan milik kerajaan tetangga. Orang-orang di negeri jajahan Belanda amat antusias menyambut kedatangan pasangan ini. Kebun Raya Bogor bahkan menyiapkan satu spot untuk ditanami bunga yang melambangkan bendera Belgia: hitam, kuning, dan merah. Jalan di sisi bunga itu juga dinamai Astrid Boulevard.
- Perang Jawa Memicu Kemerdekaan Belgia dari Belanda
LUKISAN penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh jadi simbol perlawanan bangsa Indonesia atas kolonialisme Belanda. Seperti diketahui, Perang Jawa yang dinyalakan Diponegoro antara 1825–1830, menyebabkan kerugian besar bagi Belanda. Kas pemerintah kolonial habis terkuras. Begitu pula tentaranya banyak berguguran di tangan pasukan Diponegoro. Hanya lewat tipu muslihat, Belanda akhirnya berhasil menangkap Diponegoro sekaligus mengakhiri Perang Jawa. Tidak hanya berkecamuk di Jawa, perlawanan Diponegoro turut mengguncang kekuasaan Belanda di daratan Eropa. Konsentrasi yang tercurah sepenuhnya terhadap Perang Jawa memicu revolusi di salah satu koloni Belanda, yaitu Belgia. Revolusi Belgia berujung pada kemerdekaan Belgia tanggal 4 Oktober 1830 sekaligus memisahkan diri dari Kerajaan Belanda. “Perang Diponegoro ternyata sangat berkaitan sekali dengan negara Belgia. Pada 1825 sampai 1830, fokus Belanda tercurah kepada Perang Diponegoro, termasuk keuangan, logistik, dan lain-lain. Akibatnya, negara jajahan Belanda seperti Belgia tidak terperhatikan sehingga terjadi revolusi Belgia. Dan akhirnya Belgia bisa merdeka dari Belanda,” terang Suryagung, arsiparis sekaligus ketua tim pameran dan diorama ANRI, ketika memandu Historia.ID dalam pameran arsip 75 tahun hubungan Indonesia dan Belgia di Gedung ANRI di Jl. Gadjah Mada, Jakarta Barat, (9/12). Arsip Perang Jawa yang berkaitan dengan Belgia dalam pameran arsip “Belgia dan Indonesia: Arsip Persahabatan”. (Faraya Maulida/Historia.ID). Dalam pameran arsip bertajuk “Belgia dan Indonesia: Arsip Persahabatan” itu, lukisan penangkapan Diponegoro menjadi wahana pembuka untuk memaknai hubungan historis Indonesia-Belgia. Selain itu, tersua beberapa arsip, antara lain Arsip Diponegoro: Yogyakarata Residency , No. 214, tentang maklumat perang pemerintah kolonial Belanda terhadap Pangeran Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi. Arsip tersebut juga menyatakan rasa frustrasi pemerintah kolonial untuk meringkus kedua pangeran Jawa tersebut. Satu arsip lagi menyangkut pelukis Raden Saleh dalam Algeemene Secretarie MGS , No. 4551. Arsip ini memuat surat keputusan bertanggal 24 Juni 1859, No. 49, yang menetapkan penugasan Raden Saleh sebagai pelukis kerajaan untuk menyelesaikan dan memperbaiki koleksi potret Gubernur Jenderal di Istana Buitenzorg (Bogor), sekaligus menetapkan pembayaran honorariumnya. Fakta menarik tentang Raden Saleh bahwa gurunya adalah pelukis terkemuka kebangsaan Belgia. “Raden Saleh sendiri belajar melukis secara formal kepada pelukis Belgia Antoine Auguste Joseph Payen. Sebagai salah satu pelukis Indonesia terbesar, ternyata Raden Saleh belajarnya sama pelukis Belgia. Orang Belgia sangat bangga sekali dengan fakta itu,” tutur Suryagung. Lukisan Antoine Auguste Joseph Payen karya Raden Saleh (1847). (Katalog pameran arsip 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Belgia). Selain Payen, Raden Saleh juga terinspirasi oleh karya seni Belgia yang dipamerakan di berbagai kota Eropa antara 1842 hingga 1844. Karya-karya maestro seni Belgia turut memberikan pengaruh mendalam terhadap gaya artistik dan proses kreatif Raden Saleh. Namun, koneksi Indonesia-Belgia tak berhenti di Raden Saleh. Pada 1855, Belgia telah membuka konsulat yang pertama di Batavia. Seturut catatan Regeering Almanak voor Nederlandsh-Indie 1898, Belgia kemudian membentuk lagi kantor konsulat di Semarang, Surabaya, Padang, dan Makassar. Menjelang berakhirnya masa kolonial Hindia Belanda, Arsip Konsulat Jenderal Belgia 1938–1940 menunjukkan keberadaan sebuah konsulat Belgia di Medan. Berdirinya konsulat Belgia di sejumlah kota membuktikan kepentingan ekonomi Belgia maupun komunitas Belgia sudah eksis di Hindia Belanda. Ketika Indonesia merdeka, Belanda kembali datang untuk menjajah kembali. Di masa perang mempertahankan kemerdekaan, Indonesia juga menjalankan perjuangan secara diplomatik. Belgia pun hadir di sela-sela perjuangan diplomasi Indonesia. Dalam Komisi Tiga Negara (KTN), Belgia mewakili Belanda, Australia mewakili Indonesia, sedangkan Indonesia dan Belanda menunjuk Amerika Serikat sebagai mediator. Komite ini bertujuan untuk menghentikan permusuhan dan memfasilitasi perundingan damai antara Indonesia dengan Belanda pasca agresi militer Belanda pertama pada 1947. Hasil prakarsa KTN ini kemudian menghasilkan perundingan lanjutan yang dikenal sebagai Perundingan Renville pada awal 1948. “Belgia hanya mewakili Belanda dan itu tujuannya untuk perdamaian. Bukan semata-mata mendukung Belanda untuk tetap berkuasa di Indonesia. Mereka kan pernah dijajah Belanda juga,” beber Suryagung. Belgia termasuk salah satu negara Eropa paling awal yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Hubungan diplomatik dengan Belgia secara resmi terjalin pada 1949, ditandai dengan penunjukkan Ide Anak Agung Gde Agung sebagai duta besar Indonesia pertama untuk Belgia. Sementara itu, Belgia menunjuk Paul Vanderstichelen sebagai duta besar Belgia pertama untuk Indonesia. Presiden Soeharto menjadi presiden Indonesia pertama yang berkunjung ke Belgia pada 1972. Dilanjut dengan kunjungan balasan Raja Baudouin dan Ratu Febiola ke Indonesia pada 1974. Raja dan Ratu Belgia itu mendatangi sejumlah destinasi wisata Indonesia, mulai dari Kebun Raya Bogor, Candi Borobudur, hingga air terjun Sipiso-piso yang menghadap Danau Toba. “Raja Baudouin dan Ratu melakukan kunjungan ke Indonesia selama 13 hari. Betah juga ya mereka di sini,” ujar Suryagung berkelakar. Cuplikan komik Tintin di Bandara Kemayoran. Pencipta karakter Tintin, Hagen, merupakan komikus kebangsaan Belgia. (Faraya Maulida/Historia.ID). Hubungan diplomatik Indonesia dengan Belgia terus terjalin pada pemerintahan-pemerintahan selanjutnya. Presiden Abdurrahman Wahid, Joko Widodo, hingga Prabowo Subianto telah melakukan kunjungan kenegaraan ke Belgia. Pada 2008, Pangeran Philippe yang kini menjadi raja Belgia juga berkunjung ke Indonesia. Jalinan bilateral kedua negara meliputi berbagai bidang kerja sama: politik, ekonomi, hingga seni dan pengetahuan. Duta Besar Belgia untuk Indonesia Frank Felix mengakui kilas balik yang menarik mengenai hubungan mendalam dan abadi antara Indonesia dengan Belanda. “Dari masa pasca Perang Jawa, yang turut membentuk kondisi bagi revolusi dan kemerdekaan Belgia pada tahun 1830, hingga peran penting Belgia dalam Commitee of Good Offices atau Komisi Tiga Negara, yang mendukung perjalanan Indonesia menuju kedaulatan. Sejarah bersama kita kaya dan beragam, dari kunjungan kenegaraan timbal balik pada 1970-an hingga puluhan kerja sama yang bermanfaat dalam bidang pendidikan, pembangunan, perdagangan, investasi, dan budaya,” kata Frank Felix dalam testimoninya untuk pameran 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Belgia. Pameran arsip “Belgia dan Indonesia: Arsip Persahabatan” berlangsung hingga Januari 2026.*
- Dari Ukraina untuk Indonesia
PADA 4 Desember 1945, dalam sebuah konferensi pers, Perdana Menteri Sutan Sjahrir menyatakan bahwa campur tangan Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah jalan terbaik untuk memecahkan soal Indonesia dan kalau Belanda akan menempuh jalan kekerasan, niscaya tidak ada persetujuan yang akan dicapai. Untuk itu, Sjahrir mengirim surat dan dokumen-dokumen penting kepada Sidang Umum PBB yang pertama pada 10 Januari 1946 di Church House Westminster, London, Inggris. Dalam suratnya, Sjahrir menguraikan dan meminta agar masalah Indonesia dibicarakan dalam sidang. Keputusan yang akan diambil oleh sidang amat penting mengingat masalah Indonesia hanya dapat disetujui atau tidak untuk dibicarakan oleh Dewan Keamanan PBB, bergantung pada sidang tersebut.
- Albert Speer Arsitek Kebanggaan Nazi
SUATU pagi di awal November 1966. Albert Speer menyambut hangat dua jurnalis majalah Der Spiegel di kediamannya, sebuah apartemen di Heidelberg. Speer tampil rapi dan necis dengan jas beserta dasi dan rambutnya yang klimis. Hari itu memang dipersiapkannya spesial untuk bicara A-Z terkait profesinya sebagai arsitek, yang difavoritkan Adolf Hitler. Wawancara berlangsung lugas sejak pertanyaan pertama. Termasuk tentang pernyataan kontroversialnya soal rencana pembunuhan Hitler pada medio Februari 1945, yang pertamakali diutarakannya secara singkat di Pengadilan Nuremberg (30 September 1945-1 Oktober 1946). Dua dekade kemudian, pernyataan itu dijelaskannya kepada Der Spiegel.
- Rudini Berani Koreksi Atasan
SUATU hari, seorang perwira menengah melapor kepada Ibu Negara Tien Soeharto. Perwira itu melapor karena habis ditindak oleh Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Rudini akibat keseringannya “ngobyek” dan bisnis tanah. Perwira itu dekat dengan Tien Soeharto. Rudini tak tinggal diam menanggapi kasak-kusuk si perwira tadi. Sebab, namanya di mata ibu negera bisa terancam rusak. Dia lalu mengajak Direktur Jenderal (Dirjen) Agraria menemui istri Presiden Soeharto untuk meluruskan dan mengoreksi apa yang disampaikan perwira tadi.
- A Historical Pilgrimage to Petamburan, Jakarta (1)
THE Petamburan Public Cemetery in Central Jakarta is quite exceptional. Despite being a public cemetery, Petamburan is reserved for non-Muslim residents of Jakarta. It is no surprise that many non-native people have been buried in Petamburan since colonial times. From Chinese, Japanese, to Europeans, including Jewish graves, each has its own burial block. There is also the grandest mausoleum in Southeast Asia here. The mausoleum is the burial place of Oen Giok Khow, a wealthy landlord in Batavia.
- Pelé adalah Sepakbola, Sepakbola adalah Pelé
PIALA Dunia 2022 Qatar sudah tutup buku. Nama Lionel Andrés Messi dielu-elukan bak “Tuhan” saban waktu usai ikut merebut trofi Piala Dunia untuk yang ketiga kalinya buat Argentina. Julukan “GOAT” (Greatest of All Time) melekat padanya dan bahkan, sejumlah pihak mengusulkannya mendapat anugerah Super Ballon d’Or. Mantan pelatih Real Madrid asal Italia Fabio Capello sampai menyetarakan Messi dengan Pelé. Namun, ocehan Capello sepertinya berlebihan. Sebagian tokoh sepakbola tetap menyebut pesepakbola terbaik hingga saat ini adalah Pelé. Tiada seorang pun di kolong langit, terutama yang mengaku penggila bola, yang tak mengenal siapa Pelé. Magisnya mampu menghipnotis siapapun yang pernah menyaksikan aksi-aksinya di tengah lapangan, baik mereka yang sebelumnya nol pengetahuan tentang sepakbola hingga para legenda sepakbola lintas zaman.
- Garrincha dari Pabrik Tekstil ke Pentas Dunia
HARI itu, 28 Oktober 1933, di Pau Grande, sebuah kawasan industri di Negara-bagian Rio de Janeiro, Brasil, Maria Carolina dos Santos melahirkan anak kelimanya di rumahnya yang sangat sederhana. Sang ibu memberinya nama baptis “Manuel” sebagaimana nama kakak iparnya. Sang bayi pun di rumahnya dipanggil Mané, tapi kelak dunia mengenalnya dengan nama “Garrincha”. Mané lahir dengan keadaan “spesial”. Kaki kanannya membengkok ke depan dan lebih pendek dari kaki kiri. Sementara kaki kirinya juga sedikit membengkok ke arah luar. “Sang ibulah yang pertama kali memperhatikan kedua kaki bayinya tak normal. Manuel mewariskan kondisi kakinya itu bukan dari ayahnya, Amaro Francisco, melainkan dari Maria Carolina sendiri, meski kondisi kaki ibunya tak seburuk putranya. Mungkin sebuah calliper akan sangat membantu tapi tiada yang terpikirkan hal itu di Pau Grande pada 1933,” tulis Ruy Castro dalam Garrincha: The Triumph and Tragedy of Brazil’s Forgotten Footballing Hero.
- Liur yang Lezat
LAURENT Manda, perempuan karier di Jakarta, masih ingat pengalaman kulinarinya di Ancol pada 1992. Bersama keluarganya, dia pergi ke Hailai Restaurant untuk sarapan. Menunya, sebuah hidangan istimewa, yang tak semua orang pernah merasakannya: sup sarang burung walet. Porsinya sedikit tapi harganya selangit. “Kalau orang Chinese bilang cia po, artinya makanan berisi obat-obatan buat memulihkan tubuh yang kurang sehat,” ujar Laurent kepada Historia . Namun, Laurent sendiri tak terlalu menyukainya karena, “Agak amis. Rasanya kenyal-kenyal seperti rumput laut.”






















