top of page

Hasil pencarian

9659 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Tidak Lagi Memunggungi Afrika

    DARI tanggal 21 Agustus sampai 24 Agustus Presiden Joko Widodo melakukan lawatan ke empat negara Afrika: Kenya, Tanzania, Mozambik, dan Afrika Selatan. Momen ini historis karena merupakan kunjungan luar negeri pertama Jokowi ke kawasan Afrika selama menjabat sebagai presiden. Jokowi berpendapat bahwa hubungan antara Indonesia dan Afrika telah terjalin panjang. Indonesia merupakan inisiator dari Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang diadakan di Bandung tahun 1955. Hubungan antara Indonesia dan Afrika berlanjut dalam Gerakan Non-Blok yang dianggap sebagai pewaris dari aspirasi perdamaian dan non-blok dari KAA. Jokowi menekankan bahwa ‘Spirit Bandung inilah yang akan saya bawa dalam kunjungan ke Afrika dengan memperkokoh solidaritas dan kerja sama di antara negara-negara Global South.

  • Pesta Liar dan Skandal Bintang Besar Hollywood

    KASUS hukum yang menjerat rapper terkenal Amerika Serikat Sean “Diddy” Combs turut menyeret nama sejumlah pesohor Hollywood, mulai dari Jennifer Lopez, Leonardo DiCaprio, Jay-Z, Beyoncé, hingga Justin Bieber. Para bintang terkenal itu diduga mengetahui tindak kejahatan yang dilakukan P. Diddy. Salah satunya berkaitan dengan Freak Off , pesta liar besar-besaran yang kerap diadakan oleh sang rapper dan dihadiri banyak selebritis papan atas. Pesta mewah yang berlangsung selama beberapa hari itu dilaporkan sarat akan tindakan kejahatan, termasuk kekerasan seksual. Skandal ini mulai menjadi sorotan publik setelah mantan kekasih Diddy, Cassie Ventura, mengajukan gugatan kepada pelantun lagu I’ll Be Missing You itu pada November 2023. Cassie menuding Diddy “menjebak” dirinya selama sepuluh tahun atas “pelecehan, kekerasan, dan perdagangan seks yang dilakukan berulang kali.” Gugatan yang diajukan Cassie akhirnya memicu kemunculan gugatan-gugatan lain terhadap Diddy.

  • Tenun Nusantara Merambah Generasi Muda

    KAIN tenun lurik biasanya dipakai sebagai busana tradisional masyarakat Solo. Tapi, pernahkah terbayang motif garis-garis tenun lurik melekat pada celana jins, jaket, dan ragam busana lain yang biasa dipakai oleh anak-anak muda? Tenun tentu tak lagi dipandang sebagai pakaian tradisional semata ataupun objek koleksi para kolektor wastra. “Ini perpaduan antara pattern (desain) yang biasa kita pakai di koleksi sebelumnya dengan wastra lurik. Warnanya kita tabrakin menjadi sesuatu yang lebih fun untuk dipakai. Sebuah pieces yang lebih modern dan bisa dipakai untuk apa aja, fashion event apapun tujuannya biar bisa dipakai ke semua umur,” ungkap Reva Marchelin, penata fesyen Moneyman Works, dalam konferensi pers pertunjukan fesyen “VERSI” yang diselenggarakan Cita Tenun Indonesia (CTI) di Senayan City, 25 September 2024.

  • Kisah Anak-anak Marhaen

    WALUJO Martosugito masih ingat kejadian setengah abad lalu itu. Suatu siang saat dirinya dan Wakil Perdana Menteri Roeslan Abdulgani tengah berbincang dengan Presiden Sukarno di bagian belakang Istana Negara, seorang perwira tiba-tiba datang menghadap. Ia melaporkan bahwa Istana Negara sudah dikepung oleh para demonstran dari KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia).   “Dilapori itu, Bung Karno sama sekali tidak panik. Ia malah bilang supaya dinamika anak-anak muda jangan dimatikan,” ujar lelaki kelahiran Klaten 80 tahun lalu tersebut.

  • Mengenang Amelia Earhart yang Mampir di Bandung

    GRAND Hotel Preanger, Bandoeng. Begitu keterangan yang tercetak di kop surat bertanggal 22 Juni 1937 dengan sisipan potret seorang perempuan pionir dirgantara berambut pendek mengenakan jaket kulit. Itulah potret Amelia Earhart si perempuan pilot pencari tantangan keliling dunia. Tapi surat yang dimaksud bukanlah surat dari tulisan tangan Earhart, melainkan navigator yang menemani Amelia berkeliling dunia, Frederick Joseph Noonan. Suratnya ditujukan untuk salah seorang sahabat perempuannya di Amerika Serikat (AS), Helen Day.

  • Tak Akur dengan DPR, Gus Dur Lengser

    SETELAH mencabut TAP MPRS Nomor 33/MPRS/1966 yang memberhentikan Sukarno dari jabatannya sebagai presiden, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) kembali mencabut TAP MPR terkait pengakhiran kekuasaan eksekutif dua presiden lain, yakni Soeharto dan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Hal itu diungkapkan Ketua MPR Bambang Soesatyo. “Menegaskan Ketetapan MPR Nomor II/MPR 2001, tentang pertanggungjawaban Presiden RI KH Abdurrahman Wahid saat ini kedudukan hukumnya tidak berlaku lagi,” kata Bambang, dikutip kompas.com , 25 September 2024.

  • Dendang Liris Sastra Marhaenis

    SETELAH upacara seremonial di halaman kantor Dewan Pimpinan Pusat PNI, yang dihadiri tokoh-tokoh terkemukanya, regu Front Marhaenis membawa panji-panji Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN). Rencananya, panji-panji itu akan dibawa secara estafet menuju tempat tujuan: Solo.   Panji-panji itu tiba di Surakarta pada 20 Mei 1959, bertepatan dengan pembukaan kongres Lembaga Kebudayaan Nasional Seluruh Indonesia, yang dihelat di Gedung Chuan Min Kung Hui, Sorogenen. Kongres dihadiri utusan dari 21 daerah dan berlangsung selama tiga hari. Dimeriahkan pula dengan pertunjukan kesenian.

  • Sidik Jari untuk Orang yang Dicurigai

    PADA abad ke-19, buruh sering berpindah-pindah pekerjaan. Maklum, karena bukan buruh terampil, mereka hanya mendapat kontrak singkat; sebagai besar buruh harian atau bulanan. Ini terjadi pada perusahaan milik pemerintah maupun swasta. Perluasan jaringan rel kereta api sejak 1870 memicu mobilitas buruh. Pengusaha menikmati melimpahnya buruh, namun mereka kesulitan dalam pengawasan. “Mereka khawatir tingginya mobilitas buruh menyulitkan kontrol terhadap buruh. Mengawasi buruh pribumi ‘yang tidak diinginkan’ menjadi perhatian utama perusahaan,” tulis John Ingleson dalam Buruh, Serikat, dan Politik: Indonesia Pada 1920an-1930an.

  • Layu Setelah Melaju

    SABAN pagi, lurah Djoearta tak pernah absen menunggu lalu membaca Suluh Indonesia ( Sulindo ). Sebagai anggota fanatik PNI, dia tak mau melewatkan waktu untuk mengikuti perkembangan partai. “Saya ingat Sulindo selalu ditunggu-tunggu bapak saya, karena hanya dari koran itu ia bisa mendapatkan berita terbaru mengenai perkembangan politik di tanah air,” ujar Tresnawati (70), salah satu putri Djoearta, kepala desa Nagrak, Cianjur, era 1960-an.   Sulindo , yang dikelola bagian Penerangan Propaganda (Penprop) PNI, terbit perdana pada 1 Oktober 1953, dengan empat halaman. Meski masih sederhana, partai mencetaknya 75.000 eksemplar. Distribusi dilakukan melalui dua cara: agen-agen suratkabar dan cabang-cabang partai. Penerbitan pertama ini langsung ludes, tetapi nyaris tanpa laba.

  • Di Balik Nama Buah Kiwi

    SETIAP negara di dunia umumnya memiliki julukan atau ikon yang menjadi ciri khas. Julukan yang disematkan dapat berkaitan dengan berbagai hal: letak geografis, bangunan bersajarah, hewan hingga tanaman yang tumbuh di negara itu. Sebagai contoh, Kepulauan Indonesia yang memiliki kekayaan alam melimpah dan dilintasi oleh garis ekuator membuat negara ini dijuluki Zamrud Khatulistiwa. Sementara negara tetangga Indonesia, yakni Australia, dijuluki Negeri Kangguru karena hewan tersebut banyak ditemukan di sana. Kisah menarik muncul terkait dengan julukan Negeri Kiwi yang disematkan kepada Selandia Baru. Sebagian orang menganggap julukan ini berasal dari buah kecil berdaging hijau yang dikenal sebagai buah kiwi. Namun tak sedikit orang yang menganggap bahwa nama kiwi sesungguhnya berasal dari seekor burung berbulu yang tidak bisa terbang. Hewan endemik yang menjadi ikon negara Selandia Baru itu bernama burung kiwi.

  • Merawat Semangat Oposan

    KABAR pertemuan Arnold Manonutu dengan Semaoen di kota Amsterdam, Belanda, tercium intelijen Belanda. Dia pun mulai dimata-matai. Bahkan, pemerintah Hindia Belanda melarang orangtuanya mengirim uang bulanan.   Merasa tak nyaman, Arnold pulang ke tanah air. Tak berselang lama tinggal di Batavia, Arnold mendapat surat dari orangtuanya di Manado bahwa dia dicalonkan sebagai sekretaris di Minahasa Raad atau Dewan Minahasa, menggantikan G.S.S.J. Ratulangi. Namun, Arnold ditolak Residen Manado, karena dituduh pernah bekerjasama dengan Semaoen yang komunis.

  • Secuplik Kisah Walikota Bandung yang Terlibat G30S

    TIDAK hanya semata sebagai ruang terbuka hijau nan asri, Taman Sejarah Bandung juga menyajikan wahana untuk merekam cerita-cerita edukatif. Taman yang berhimpitan dengan sisi selatan Balai Kota Bandung itu turut menghadirkan sejumlah ilustrasi potret para walikota Bandung dari masa ke masa, tak terkecuali sosok kontroversial Kolonel R. Didi Djukardi Sastradiwirja. Sebagaimana yang ditampilkan di barisan ilustrasi potret beserta keterangan masa pemerintahannya, Didi Djukardi jadi walikota dengan masa jabatan tersingkat setelah Sjamsuridjal yang hanya menjabat 1 tahun 120 hari (1 November-1 Maret 1947). Adapun Djukardi hanya menjabat selama 2 tahun.

bottom of page