Hasil pencarian
9727 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sekilas Perjalanan Sukarno ke Venezuela
OPERASI militer Amerika Serikat yang melancarkan serangan udara ke Venezuela lantas menculik Presiden Nicolás Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores pada Sabtu (3/1/2026) menggegerkan dunia internasional. Termasuk Indonesia yang mengkhawatirkan para Warga Negara Indonesia (WNI) di negeri dengan cadangan minyak bumi terbesar di dunia itu. Dalam pernyataannya sehari pasca-penculikan Presiden Maduro, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyatakan keprihatinannya atas tindakan yang melibatkan penggunaan kekuatan militer di Venezuela. “Indonesia menyerukan kepada semua pihak agar mengendepankan dialog dan menahan diri, serta mematuhi hukum internasional, termasuk prinsip-prinsip yang tertuang dalam Piagam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan hukum humaniter internasional khususnya perlindungan terhadap warga sipil, yang keselamatan dan kondisinya harus tetap menjadi prioritas utama,” demikian pernyataan Kemlu dalam utas di akun resmi X-nya, @Kemlu_RI , Minggu (4/1/2026).
- Minyak Venezuela Menggiurkan
PADA pesta malam tahun baru di kediamannya di Mar-a-Lago, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat mengutarakan resolusinya, “Damai. Damai di bumi.” Itu menjadi ironis karena tak sampai sepekan kemudian Trump menggerakkan militernya untuk melancarkan bombardir udara ke utara Venezuela, lalu menangkap Presiden Venezuela Nicolas Máduro di ibukota Caracas dan kemudian membawanya ke AS. Operasi militer bersandi “Operasi Absolute Resolve” itu disetujui Presiden Trump pada Jumat (2/1/2026) malam. Serangan terkoordinasinya dijalani pada pukul 2 dini hari waktu setempat, Sabtu (3/1/2026). Selain melancarkan serangan udara, pasukan khusus AS menangkap Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores. Serangan itu disebut turut menewaskan 80 jiwa dari kalangan pejabat dan militer Venezuela dan Kuba.
- Greenland Dikuasai Denmark, Diancam Amerika Serikat
GREENLAND, pulau terbesar di dunia itu luasnya 2,16 juta kilometer persegi, sekitar 19,6 persen lebih besar dari luas wilayah Indonesia. Menariknya, Indonesia punya hubungan perdagangan dengan negeri yang berada di bawah kedaulatan Denmark itu meski nilainya relatif kecil. Mengutip data Market Inside , per Oktober 2024-September 2025 nilai perdagangan kedua negara ini mencapai US$146 ribu atau setara Rp2,46 miliar. Indonesia mengekspor berbagai macam produk besi dan baja, mesin dan peralatan elektronik, produk-produk keramik, tekstil, hingga furnitur. Meski masih di bawah Denmark, Greenland bisa mengatur negerinya sendiri sejak 2009, termasuk soal perdagangan. Hak otonom mereka dapatkan lewat Undang-Undang Pemerintahan Mandiri sehingga mereka punya parlemen dan perdana menteri (PM). Suatu perubahan yang selangkah lebih dekat menjadi negara merdeka.
- Bintang Telenovela Venezuela di Layar Kaca Indonesia
ARTIS Venezuela pernah memesona penonton Indonesia. Salah satunya bintang telenovela Gabriela Spanic. Ia sampai berkunjung ke Indonesia untuk menemui penggermarnya pada 2000. Gaby disambut bak ratu. Kemanapun ia pergi selalu dirubungi para penggemarnya. “Saya senang berada di Indonesia. Hingga penerbangan selama 14 jam dari Venezuela ke Jakarta, lelahnya hilang semua,” tutur Gaby dalam bahasa Spanyol, seperti dikutip Bali Post , 2 April 2000. Gabriela “Gaby” Spanic lahir di Ortiz, negara bagian Guarico, Venezuela, 10 Desember 1973. Gaby mempunyai saudari kembar, Daniela yang berprofesi sebagai model. Gabriela Spanic mengawali kariernya sebagai artis telenovela setelah memenangi kontes kecantikan Miss Guarico pada 1992. Namanya melejit di Indonesia setelah sukses membintangi telenovela La Usurpadora pada 1998.
- Menghidupkan Kembali Spirit Patrice Lumumba
ADA yang tak biasa dalam gelaran Piala Afrika 2025 di Maroko yang berlangsung 21 Desember 2025–18 Januari 2026. Setiap tim Kongo bermain, di tengah-tengah euforia dan tabuhan genderang suporter di tribun stadion, berdiri dengan tenang dan tak bergerak hampir 90 menit dengan mengangkat tangan. Ya, “Patrice Lumumba” hadir menyemangati dan memberi spirit kepada timnas Kongo di lapangan. Tentu ia bukan sosok asli Bapak Pendiri Republik Demokratik Kongo itu. Ia dikenal para suporter Kongo sebagai Lumumba Vae. Nama aslinya Michel Nkuka Mboladinga. Pria berusia 49 tahun itu sudah melakukan pose Lumumba sejak 2013 meski baru viral belakangan pada Piala Afrika 2025.
- Tukang Jahit Jadi Raja
PULUHAN tahun silam, Larantuka pernah menjadi bahan berita yang memilukan Indonesia. Gempa melanda Larantuka dua minggu sebelum Natal, pada 12 Desember 1992. Sekitar 2.500 orang meninggal dunia. Band asal Surabaya yang pecahan dari AKA, yakni menamakan SAS, lalu mengabadikannya lewat lagu apik dengan judul "Larantuka". Belakangan, band asal Surabaya lain yang lebih junior juga membawakan lagu apik tersebut. Terlepas dari gempa tadi, Larantuka punya sejarah menarik. Larantuka adalah salah satu kerajaan Kristen di Indonesia. Kemunculannya punya kaitan dengan pengaruh Portugis yang kuat di sana, meski kemudian Belanda yang mendominasi. Dalam Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Nusa Tenggara Timur, Koehuan dkk. menyebut pada 20 April 1859 Portugis menyerahkan wilayah Flores, termasuk Larantuka, kepada Belanda.
- Sumitro Djojohadikusumo Ingin BNI Jadi Bank Sentral
SUMITRO Djojohadikusumo barangkali orang yang paling jengkel dengan hasil perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) di bidang ekonomi. Sebagai pimpinan delegasi Indonesia untuk komisi ekonomi, Sumitro bisa dibilang kalah banyak dari delegasi Belanda. Selain harus membayar utang perang kepada Belanda, pihak Indonesia harus mengizinkan De Javasche Bank (DJB) beroperasi sebagai bank sentral dan bank sirkulasi. “Mengenai peran Bank Sentral, saya menginginkan agar BNI (Bank Negara Indonesia) menjadi Bank Sentral, itu adalah bank kita sendiri,” kenang Sumitro Djojohadikusumo dalam Pelaku Berkisah: Ekonomi Indonesia 1950-an sampai 1990-an suntingan Thee Kian Wie.
- Bung Karno Berhadapan dengan Bos Preman Medan
SUMATRA UTARA menjadi daerah rawan kekerasan setelah peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. Di Kota Medan, kesatuan aksi massa antikomunis (KAP-Gestapu) bergerak secara masif memburu anggota dan simpatisan PKI. Pemuda Pancasila termasuk organisasi yang paling gencar menumpas PKI di bawah komando Angkatan Darat. Sejak KAP-Gestapu di Medan terbentuk pada 7 Oktober 1965, Pemuda Pancasila tak pernah absen dalam operasi menghancurkan basis-basis PKI maupun yang terafiliasi dengan PKI. Mulai dari penyerbuan ke kantor Sarbupri (Serikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia), gedung SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), hingga pengambilalihan Gedung BAPERKI. Aksi-aksi itu kerap berujung pada penganiayaan dan pembunuhan terhadap pimpinan PKI setempat.
- “Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran
KABAR beredar di sekitar Desa Timbang dan Sajana, Kabupaten Cirebon, seorang Indo-Belanda, Frans Emile Groeneveld, diangkat menjadi kuwu (kepala desa). Bukan hanya tak lazim --kepala desa adalah jabatan untuk orang yang disebut Indonesia asli atau pribumi, pengangkatan itu juga membuat geger. Kuwu Groeneveld sebelumnya pernah magang sebagai teknisi laboratorium di pabrik gula Panggoengredjo dan kemudian bekerja di perkebunan Karet Limburg Estate. Dia sempat menjadi pengelola toko tembakau di Jamblang sebelum menjadi petani kecil dan kuwu pada Senin (14 November 1932) sore mengerahkan ratusan massa di Desa Timbang. De Indische Courant tanggal 21 November 1932 menyebut orang yang dikumpulkan itu jumlahnya sekitar 500 hingga 600 orang. Mereka, kata De Locomotief edisi 17 November 1932, diajak Kuwu Groeneveld untuk tidak perlu membayar obat pengendalian hama.
- Titi Papan dan Awal Tembakau Deli
DI usia 21 tahun, Ali Adjer menjadi saksi tuannya yang bertakhta di Kesultanan Deli, Sultan Mahmud Al Rasyid Perkasa, didatangi tiga orang Eropa. Said Abdullah, orang kepercayaan sultan, yang membuat mereka datang ke Deli. Pembicaraan pun terjadi antara Sultan Mahmud dan ketiga orang Eropa tadi. Setelah pembicaraan itu, dua dari orang Eropa itu meninggalkan Deli. Satu yang tetap tinggal bernama Jacobus Nienhuys (1836-1927). Nienhuys baru saja gagal menanam tembakau yang baik di Tempeh, Lumajang, Jawa Timur. A. Hoynck van Papendrecht dalam Tabak Maatschappij Arendsburg 1877-1927 menyebut, uang dari firma Pieter van den Arend sebesar 36.000 gulden lenyap karena kegagalan itu. Namun Nienhuys tak patah arang dan berupaya kembali di tempat lain. Pieter van den Arend mendukung usaha Nienhuys.
- Jago Perang Denmark Cucu Tuan Kebun Deli
ANDERS Lassen digambarkan sebagai ahli dalam membunuh lawan-lawannya, termasuk dengan tangan kosong atau tanpa senjata api dalam film The Ministry of Ungentlemanly Warfare (2024) arahan Guy Ritchie. Dia disebut-sebut sebagai “Palu Denmark” dalam film tentang Operasi Postmaster melumpuhkan kapal logistik pendukung U-Boat Jerman itu. Karakter Anders Lassen itu diperankan oleh Alan Ritchson. Baik Operasi Postmaster maupun karakter Anders Lassen adalah riil. Anders Frederik Emil Victor Schau Lassen (1920-1945) memang berasal dari Denmark, anak dari Emil Victor Schau Lassen and Suzanne Maria Signe Lassen. Ibunya seorang penulis dan ayahnya adalah kapten dalam bala keselamatan.
- Secuplik Kesan Istri Nixon Ngetrip ke Indonesia
KERUMUNAN orang di pinggir landasan mulai bersorak ketika pesawat Lockheed Constellation milik Military Air Transport Service mendarat Bandara Kemayoran, Jakarta pada 21 Oktober 1953 sekira pukul 10 pagi. Setelah taxiing dan parkir, tamu kehormatan mulai turun dari tangga pesawat: Wakil Presiden (Wapres) Amerika Richard Nixon dan istri, Thelma “Pat” Nixon, serta anggota rombongannya. Rombongan Wapres Nixon lalu mendapat sambutan penghormatan dengan lantunan lagu kebangsaan Amerika, “The Star-Spangled Banner”. Wapres Nixon dan istri lantas saling bertegur sapa dan jabat tangan dengan rombongan penyambut, di antaranya Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo dan istri, Menteri Luar Negeri (Menlu) Sunario Sastrowardojo, Walikota Jakarta Syamsuridjal, serta Duta Besar (Dubes) Amerika untuk RI Hugh Smith Cumming Jr.






















