top of page

Hasil pencarian

9916 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Selamat Jalan Anak Muda Gaul

    KABAR duka datang dari Shanty Sys di Kemang Timur, Jakarta Selatan. Suami Shanty, Raden Mas Haryo Heroe Syswanto Ns. Soerio Soebagio atau lebih dikenal dengan Sys NS, meninggal dunia pada 23 Januari 2018 di usia 61 tahun. Sys populer tahun 1970-an sebagai anak muda gaul Jakarta. Lahir di Semarang, 18 Juli 1956, Sys hanya numpang lahir di sana karena tumbuh-besar sebagai anak Jakarta. Ketika ayahnya, RM Soerio Soebagio, dipindahtugaskan ke Semarang pada 1973, Sys berontak. Mulanya dia ikut pindah ke Semarang, tapi dua hari berselang kabur ke Jakarta. Ayahnya yang teguh pada pendirian akhirnya luluh dan menuruti keinginan Sys tetap di Jakarta. Sys lalu masuk SMA 3 Teladan, Setiabudi, Jakarta. Tapi prestasinya buruk, Sys sampai harus pindah sekolah sembilan kali. Dia yang di Jakarta tinggal menumpang pada kerabatnya kemudian juga tak betah. Setelah kabur, Sys memilih kembali ke tempat tinggal masa kecilnya di sebuah perkampungan di Kelurahan Guntur, Setiabudi, Jakarta Selatan. “Gue tidur di Pos Hansip. Urusan mandi dan ganti baju, numpang di rumah teman,” kata Sys seperti ditulis N. Syamsuddin Ch. Haesy dan Gauri Nasution dalam Pop Biografi dan Kreatografi Sys NS.

  • The Singing Commodore

    PENSIUN dari Angkatan Udara, Soejoso Karsono atau biasa dipanggil Oom Yos menyulap garasi rumahnya di Jalan Gereja Theresia, Menteng, Jakarta Pusat, menjadi studio musik. Mula-mula dia bermusik bersama keluarga dan kawan-kawannya. Seiring waktu, dia melengkapi studionya dan pada 1954 mendirikan perusahaan rekaman Irama Records. Irama menjadi label rekaman pertama di Indonesia. Di awal kiprahnya, Irama Records memproduksi album piringan hitam Sarinande (1956) buah karya The Progressief, band jazz yang digawangi Nick Mamahit (piano), Dick Abel (gitar), Dick van der Capellen (drum), dan Max van Dalm (bass). Album instrumentalia ini cukup mendapat tempat di hati pendengar. Dalam perjalanannya, Irama merekam hampir semua jenis musik. “Mulai dari jazz, rock ‘n roll, pop, keroncong, melayu, hingga gambang kromong,” tulis Theodore KS dalam Rock ‘n Roll Industri Musik Indonesia.

  • Ahmad Subardjo dan Keponakannya

    SEKITAR tahun 1840, sebuah kapal layar terdampar di pantai utara Cirebon. Pemilik kapal itu adalah Teuku Muhammad Usman dari Aceh. Usman tidak memilih pulang kampung dan menetap di Penganjang. Ia kemudian menikahi seorang gadis Jawa dan dikaruniai lima anak. Salah satunya Teuku Abdul Karim. Dari perkawinan Abdul Karim dengan anak gadis Haji Husein melahirkan beberapa anak termasuk Teuku Jusuf. Teuku Jusuf yang pandai mengaji lalu menikahi putri seoranng camat Telukagung, yang masih keturunan priayi dari Rembang. Teuku Jusuf bekerja di departemen dalam negeri kolonial dan pernah menjadi mantri polisi. Ia dan istrinya punya empat orang anak. Semuanya tak memakai gelar teuku tapi raden. Teuku Jusuf termasuk orang tua yang peduli pada pendidikan anak di zaman itu. Ia berani mengirimkan anak-anaknya yang masih kecil untuk belajar di Batavia (Jakarta).

  • Lika-liku Harley Quinn dalam Birds of Prey

    KOTA Gotham di suatu malam. Harleen Quinzel alias Harley Quinn (diperankan Margot Robbie) keluar dari sebuah diskotek dengan setengah mabuk. Semalaman ia berpesta dengan tingkah polah konyol sehingga mengusik banyak tamu. Tapi toh semua orang tahu dia takkan tersentuh karena Harley adalah pacar supervillain yang disegani, Joker. Siapapun tak berani menegur, apalagi membalasnya. Namun, banyak orang, termasuk bos mafia pemilik diskotek Roman Sionis alias Black Mask (Ewan McGregor), tak tahu Harley dan Joker sudah putus. Lama-kelamaan, Harley tak tahan menyimpan rahasianya lantaran dianggap bukan cewek mandiri dan terus-menerus bergantung pada perlindungan Joker. Ia pun meng-update status hubungannya dengan Joker.

  • Wonder Woman 1984 dan Nilai Kejujuran

    PUTRI Diana kecil (diperankan Lilly Aspell) menggebu-gebu berpacu dengan sejumlah pendekar Amazon yang lebih dewasa dalam sebuah kompetisi. Di fase akhir, Diana tinggal melontarkan sebilah tombak untuk menang. Namun langkahnya dihentikan Antiope (Robin Wright), pendekar Amazon yang menjadi pengawas kompetisi, hingga akhirnya Diana urung juara.Diana kecil menangis sesenggukan sehingga harus ditenangkan ibunya, Ratu Hippolyta (Connie Nielsen). Persoalannya, Diana hampir menang dengan cara yang culas dan mengambil jalan pintas di sebuah fase kompetisinya. Itu yang digarisbawahi sang ibu bahwa dalam keadaan apapun, perempuan Amazon tak boleh hanya mengandalkan kekuatan, melainkan harus memprioritaskan nilai-nilai kejujuran. Pesan inti dari prolog itu jadi kunci cerita film pahlawan super Wonder Woman 1984 yang diracik sineas Patty Jenkins. Film itu merupakan film kesembilan dari waralaba DC Extended Universe cum sekuel dari film pahlawan super serupa, Wonder Woman (2017).

  • Pesona Wonder Woman dalam Empat Wajah

    SECANTIK Aphrodite, sebijak Athena, segesit Hermes, dan sekuat Hercules. Begitulah William Moulton Marston menciptakan karakter perempuan dahsyat Wonder Woman. Lama tak beraksi di versi live action, superhero ber-alter ego Diana Princes yang muncul sejak 1941 itu comeback di bawah naungan waralaba DC Extended Universe (DCEU) dalam Wonder Woman 1984. Jagat maya sontak heboh selepas pihak distributor Warner Bros merilis trailer terbarunya, Senin (7/12/2020). Wonder Woman 1984 yang tertunda penayangannya akibat pandemi COVID-19, baru akan tayang di bioskop-bioskop terbatas di Inggris mulai 16 Desember 2020 dan 25 Desember 2020 di Amerika Serikat. Pemutaran secara global akan dilakukan via streaming di HBO Max, juga pada 25 Desember 2020. Aktris cantik Gal Gadot untuk ketiga kalinya memerankan Diana Princes alias Wonder Woman. Gal nongol pertama kali dalam Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), dilanjutkan di Wonder Woman (2017) dan Justice League (2017).

  • Dari Captain Thunder, Captain Marvel, hingga Shazam

    KEGADUHAN mengusik istirahat pasangan suami-istri (pasutri) Rosa (diperankan Marta Milans) dan Victor Vasquéz (Cooper Andrews). Keduanya terhenyak tanpa bisa berkata apapun saat enam sekawan pahlawan super dewasa berpakaian ketat warna-warni bak Power Rangers masuk kamar tidur mereka tanpa permisi. Setelah sekian lama, hari itu pasutri itu baru insyaf enam sekawan itu merupakan anak-anak asuh mereka yang rata-rata masih ABG. Enam sekawan itu adalah “Shazamfamily”, terdiri dari Freddy Freeman (Jack Dylan Glazer dan Adam Brody), Eugene Choi (Ross Butler dan Ian Chen), Pedro Pena (DJ Cotrona dan Jovan Armand), Darla Dudley (Meagan Good dan Faithe Herman), Mary Bromfield (Grace Caroline Currey), dan Shazam alias Billy Batson (Zachary Levi dan Asher Angel) sang pemimpin Shazamfamily. Mereka berubah menjadi superhero dewasa hanya dengan mengucap kata keramat: Shazam! Adegan menegangkan bercampur absurd nan jenaka itu jadi permulaan klimaks film pahlawan super, Shazam! Fury of the Gods racikan sutradara David F. Sandberg. Film ini merupakan sekuel dari kisah sebelumnya, Shazam! (2019), sekaligus film ke-12 dalam franchise DC Extended Universe (DCEU).

  • Captain Marvel, Antara Nostalgia dan Isu Feminisme

    KEKALUTAN mengacaukan sebuah misi rahasia. Alih-alih menyelamatkan mata-mata, Vers (Brie Larson) dan rekan-rekan militer bangsa Kree justru disergap. Vers sempat ditangkap dan diinterogasi Talos (Ben Mendelsohn), pemimpin bangsa Skrull, tapi lantas bisa melarikan diri meski harus terdampar ke planet C-53 alias bumi. Adegan itu jadi pilihan duet sutradara Anna Boden dan Ryan Fleck untuk membuka film bertajuk Captain Marvel. Keduanya ingin lebih dulu menghadirkan asal-usul sang jagoan yang superhero perempuan terkuat di Marvel Cinematic Universe (MCU) yang berpusar pada rentang masa 1995. Kedatangan Vers di bumi tak pelak menarik perhatian bos agen SHIELD, Nick Fury (Samuel L. Jackson). Walau harus melewati “perkenalan” rumit, Vers dan Fury akhirnya bisa akur dan bertandem untuk meladeni Talos dan anak-anak buahnya yang juga mengejar Vers ke bumi.

  • Black Hole Terlalu Aneh untuk Dipercaya

    BERKAT Katie Bouman, astronom sekaligus ilmuwan komputer, gambar lubang hitam (black hole) bisa ditangkap untuk pertama kali oleh Teleskop Event Horizon. Gambar ini tak hanya mengonfirmasi teori Albert Einstein, tapi juga memberikan bukti tak terbantahkan kalau monster gravitasi itu ada. Menurut laman resmi NASA, lubang hitam bukanlah lubang sama sekali. Lubang hitam adalah wilayah di ruang angkasa di mana gaya tarikan gravitasi begitu kuat. Bahkan cahaya pun tak bisa lepas dari jeratannya. Jika bintang yang terang bersinar tepat di sebelah lubang hitam, lubang hitam itu akan menelan cahaya bintang selamanya. “Apa pun yang terlalu dekat dengan lubang hitam akan tertelan,” tulis laman itu. Gravitasi yang kuat terjadi karena materi telah ditekan ke dalam ruang kecil. Kompresi ini dapat terjadi pada akhir kehidupan sebuah bintang. Beberapa lubang hitam adalah hasil dari bintang yang sekarat.

  • Gundala Bukan Jagoan

    JAGAT Sinema Bumilangit telah merilis film pertamanya: Gundala (2019). Film arahan Joko Anwar ini bisa ditonton di bioskop tanah air mulai 28 Agustus 2019. Jagoan karya komikus Harya Suraminata atau Hasmi yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Tapi, dia malah membantahnya. “Aku bukan jagoan,” kata Sancaka. Dia menolak membantu para aktivis pasar melawan preman pasar. Lalu seseorang tiba-tiba memukul Sancaka dengan balok kayu dari belakang, berniat menjajal kekuatan Sancaka. Benar saja, seketika dia pingsan. Sancaka memang manusia biasa. Para aktivis pasar mengira Sancaka memiliki kekuatan super. Dia pernah sekali mengeluarkan petir dari tangannya ketika dikeroyok 30 preman. Namun ternyata itu tidak disengaja Sancaka. Lalu siapa Gundala jika bukan jagoan?

  • Lilik Sudjio, Gundala, dan Para Pahlawan

    DUNIA perfilman Indonesia kembali ramai dengan film-film pendekar dan pahlawan super. Sebelumnya, sutradara Angga Sasongko membuat Wiro Sableng 212 (2018). Kini, Joko Anwar akan segera merilis film pahlawan super Gundala (2019). Kabarnya, Bumilangit Studios juga sedang mempersiapkan film pahlawan fiksi Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Maza, Godam, Aquanus, Mandala, Si Buta dari Goa Hantu, dan Sri Asih. Tokoh-tokoh pendekar dan pahlawan super tersebut merupakan tokoh komik yang populer pada 1970-an sampai 1980-an dan beberapa pernah diadaptasi ke media film.

  • Gundala Main Film

    SUTRADARA Joko Anwar dalam cuitannya di akun Twitter pribadinya mengumumkan niatnya menggarap film superhero Gundala. Penggarapan film Gundala adalah proyek yang tertunda. Rencana itu pernah menjadi bahan perbincangan pada 2014. Hanung Bramantyo, sutradara ternama, saat itu mengumumkan dirinya membesut film tersebut. Tapi film tersebut gagal diproduksi, karena tak ada kecocokan sang sutradara dengan Bumilangit Studios, yang kini memegang hak karakter komik Gundala. Gundala adalah karakter superhero yang diciptakan komikus Harya Suraminata atau lebih dikenal dengan nama Hasmi pada 1969. Jauh sebelum Hanung maupun Joko Anwar mengumumkan akan menyutradarai film ini, sebenarnya Gundala sudah difilmkan pada 1981.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page