Hasil pencarian
9753 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Korban Granat di Front Bandung
Ketika datang kali pertama pada Oktober 1945, militer Inggris menemukan kenyataan Jawa merupakan medan perang yang panas bak neraka. Perlawanan sangat keras hampir terjadi setiap hari hingga menimbulkan korban yang cukup banyak di kedua pihak. “Kami seolah tengah masuk ke dalam suatu gudang peluru yang siap meledak,” tulis Letnan Kolonel A.J.F. Doulton dalam The Fighting Cock, The Story of the 23RD Indian Division. Salah satu palagan yang membuat pasukan Inggris sibuk adalah front Bandung. Di sana, Brigade Infanteri ke-37 pimpinan Brigadir N. Mac Donald mendapatkan perlawanan seru dari para pejuang Indonesia: mulai serangan tak terkoordinasi gaya amuk hingga hujan peluru artileri dan serangan sistematis yang dipandu buku-buku pegangan tentara Jepang. “Korbannya jangan dibayangkan. Mereka yang merupakan pemenang Perang Dunia II hampir tak berdaya menghadapi orang-orang nekat,” ungkap Letnan Kolonel (Purn) Eddie Soekardi, pimpinan TKR di Jawa Barat pada 1945-1946. Namun di balik kebrutalan perang di barat Jawa itu, terselip berbagai kisah lucu yang dialami oleh para pejuang Indonesia. Salah satu-nya pengalaman R.J. Rusady W dari Batalyon 33 Pelopor. Ceritanya, suatu hari Rusady bersama salah seorang kawannya bernama Ridwan, ditugaskan berjaga di perempatan Grote Postweg dan Pangeran Sumedang (sekarang Jalan Asia Afrika dan Jalan Oto Iskandar Dinata. “Saya saat itu bersama Ridwan berada di belakang tumpukan karung pasir,” kenang Rusady dalam otobiografinya, Tiada Berita dari Bandung Timur. Saat berjaga itulah, dari arah barat muncul sebuah tank Sherman yang dikendarai oleh beberapa prajurit Gurkha. Melihat itu, Rusady cepat menyiapkan granat tangan bekas milik prajurit KNIL yang beberapa waktu sebelumnya diperoleh pasukannya dari sebuah gudang amunisi tua. Dalam hitungan detik, tank itu semakin mendekat ke arah Rusady dan Ridwan. Begitu berada dalam jarak lempar, Rusady pun langsung menyambitkannya ke kendaraan tempur baja tersebut. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Alih-alih mencapai tubuh Sherman itu, granat justru mengenai kawat listrik dan berbalik kembali ke tumpukan pasir tempat kedua prajurit TKR tersebut berlindung. Glaarrr! Meledaklah granat itu, diikuti rubuhnya Rusady dan Ridwan. Anehnya beberapa saat kemudian, Rusady merasa dia masih hidup. Namun saat siuman dia membayangkan kondisi tubuhnya dan jadi merasa ngeri sendiri. “Yang terpikir kami pasti berantakan dibuatnya dan tak berani membuka mata,” kenang ayah dari artis Paramitha Rusady itu. Yang pertama-tama dilakukan oleh Rusady adalah menggerakan jari-jemari tangannya. Ternyata tak ada rasa sakit sama sekali. Kemudian dia menggerakan jari-jari kaki. Itu pun terasa biasa. Diberanikannya untuk membuka sebelah mata, karena tak berharap melihat pemandangan yang mengerikan dari tubuhnya. Ternyata seluruh tubuhnya normal. Tak ada yang putus atau terlepas sama sekali. Meskipun merasa aneh, Rusady dan Ridwan langsung bangkit. Mereka betul-betul tidak percaya jika granat yang mental itu tidak menyebabkan luka apapun. Mukjizat Tuhankah ini? Ternyata belakangan mereka baru tahu jika granat milik KNIL itu memang tidak ditujukan untuk membunuh. Granat tangan tersebut memang jenis yang jika digunakan hanya membuat sasaran hidup menjadi pingsan saja dan dijadikan tawanan. Hal yang lucu terkait granat juga terjadi dalam pertempuran seru di Jalan Lengkong pada Desember 1945. Menurut Aleh (93), beberapa pejuang Indonesia yang masih buta akan amunisi mesiu, melemparkan beberapa granat tanpa mencabutnya pin-nya terlebih dahulu. “Akibatnya granat dikembalikan oleh musuh dan meledak hingga menimbulkan korban yang banyak di pihak kita,” ungkap eks pejuang Hizbullah Bandung itu. Menjadi “korban granat” juga dialami oleh Soleh (92), seorang tukang dagang telur bebek. Suatu ketika seorang yang dikenalnya sangat baik di kota Bandung tetiba menitipkan sejumlah telur bebek yang sudah rapi tertata di keranjang kepadanya. Dia berpesan jika sudah sampai Majalaya, telur-telur itu harus diserahkan ke sebuah warung makan. Soleh tentu saja tidak keberatan membawa telur-telur bebek itu. Apalagi Si Penitip memberinya upah yang lumayan besar. Tanpa curiga dibawanya telur-telur itu hingga melewati beberapa pos penjagaan serdadu Inggris yang melewatkannya begitu saja. “Saya memang sering tak diperiksa oleh tentara-tentara itu karena selain saya memang sudah dikenal oleh mereka, beberapa tentara itu juga adalah langganan saya,” tutur Soleh. Bukan main terkejutnya Soleh setelah sampai di warung itu. Dia baru tahu bahwa di sela-sela telur tersebut ada sejumlah granat tangan yang sengaja dicat mirip warna telur. “Teu kabayang upami harita Abah digaradah ku Gurkha, tos pasti Abah tinggal ngaran ayeuna (Tidak terbayang jika saya saat itu diperiksa tentara Gurkha, sudah pasti saya tinggal nama saja sekarang),” ujarnya sambil terkekeh.
- Kisah Penyintas Terlupakan di Perang Pasifik
CAKRAWALA di atas Samudera Pasifik Selatan mulai gelap petang (16 Januari 1942) itu. Pilot Angkatan Laut Amerika Serikat Harold Dixon (diperankan Garret Dillahunt) masih sibuk dengan kompas dan peta di kokpit pesawat pembom torpedo Douglas TBD Devastator-nya. Dia mulai kelimpungan mencari arah. Dixon terpaksa memerintahkan awak radionya, Gene Aldrich (Jake Abel), untuk membuka saluran radio ke USS Enterprise, kapal induk basis mereka. Dengan misi mencari dan melenyapkan kapal selam Jepang sebagai bagian dari Skadron Torpedo VT-6, sebetulnya mereka dilarang membuka saluran radio ke markas demi menghindari radar musuh. Sial, upaya Aldrich membuka kontak ke USS Enterprise hasilnya nihil. Alih-alih sambungan radio dari markas, Aldrich malah menangkap siaran radio Jepang. Buru-buru dia hentikan upayanya itu. Detik demi detik berlalu tanpa keberhasilan mendapatkan arah, Dixon memerintahkan kru pembom Tony Pastula (Tom Felton) untuk membuang torpedo demi mengurangi beban dan menghemat bahan bakar. Tetap saja harapan Dixon untuk menemukan arah kembali ke kapal induk nihil. Dixon pun memerintahkan kedua krunya menyiapkan segala hal yang diperlukan untuk menyintas. Dixon melakukannya lantaran memilih mendaratkan pesawatnya di air ketimbang jatuh kehabisan bahan bakar. Adegan mati-matian Harold Dixon, Tony Pastula, dan Gene Aldrich bertahan hidup di Samudera Pasifik Selatan (The American Film Company) Adegan itu membuka drama film perang bertajuk Against the Sun garapan sineas Brian Falk. Film yang mengangkat perjuangan tiga awak pesawat pembom torpedo yang terombang-ambing di lautan luas Samudera Pasifik Selatan itu mengambil setting waktu Perang Dunia II. Adegan lalu berganti ke adegan pesawat mereka mendarat darurat di air. Dixon yang bergegas keluar kokpit segera berkutat dengan kaleng CO2-nya (karbon dioksida) yang macet. Dia harus segera membukanya demi mengembangkan perahu karet darurat buat mereka menyelamatkan diri. Di dekat Dixon, Pastula dan Aldrich nyaris tenggelam bersama pesawat karena sabuk pengaman mereka macet. Kegigihan mereka akhirnya membuat mereka bisa keluar dari kokpit sebelum dibawa pesawat yang tenggelam dengan cepat. Namun, mereka mesti merelakan perlengkapan survival, termasuksuplai makanan dan air, yang ikut tenggelam bersama pesawat . Hanya kompas, tang, gulungan kabel, dan kantong air tanpa isi yang selamat. Perjuangan mereka yang terombang-ambing di Samudera Pasifik Selatan tanpa makanan dan air selama lebih dari sebulan di bawah terik matahari dan hujan badai pun dimulai. Bagaimana akhir perjuangan mereka, apakah berhasil ataukah gagal? Anda bisa saksikan sendiri Against the Sun di aplikasi daring Mola TV . Kisah Para Penyintas dari Pasifik Kisah yang dialami Dixon, Aldrich, dan Pastula bukan kejadian langka. Dalam Perang Pasifik, banyak pelaut dan penerbang AL Amerika mengalami kejadian serupa. Presiden Amerika ke-41, George Herbert Walker Bush, salah satunya. Ia terombang-ambing di lautan selama empat jam sebelum diselamatkan kapal selam Amerika USS Finback pada 1 Agustus 1944. Wajar bila kisah mereka banyak difilmkan. Oleh karena banyaknya film bertema itu, sutradara Brian Falk menyebut Against the Sun serupa tapi tak samajika dibandingkan dengan Lifeboat (1944) besutan Alfred Hitchcock, Unbroken (2014) garapan Angelina Jolie atau film-film bertema survival dalam Perang Pasifik lain. “Akan selalu ada perbandingan di antara film-film bertema penyintas dengan perahu penyelamat di lautan terbuka. Tentu saya menonton Lifeboat sebelum menggarap film ini. Lifeboat bagus tapi itu termasuk film noir sementara Against the Sun bukan seperti itu,” ujar Falk dalam wawancaranya dengan Jared Frederick yang dimuat di blognya, 26 Januari 2015. Untuk “mengalahkan” Unbroken, yang rilis lima hari sebelum Against the Sun dan mendapat perhatian khalayak lebih luas mengingat timpangnya ongkos produksi, Falk menyiasatinya dengan memilih tiga aktor utama yang solid demi memainkan tiga karakter asli dengan apik. Penyiasatan juga dilakukan denganpenggunaan CGI (Computer-Generated Imagery) yang halus dan music scoring sentimentil apik dari komposer Petr Cikhart. “ Unbroken sedikit lebih mirip tetapi sayangnya bisnis film tidaklah berdasarkan garis start yang sama (ongkos produksi, red ). Jika orang menyukai Unbroken , mereka akan menyukai Against the Sun dan sebaliknya,” sambung Falk. Pesawat pembom torpedo Douglas TBD Devastator (atas) & sosok asli trio Harold Dixon (kanan), Tony Pastula (tengah) dan Gene Aldrich (Navy National Museum of Naval Aviation) Dari segi topik, kisah yang diusung Against the Sun dalam literatur-literatur sejarah tentang Perang Pasifik masih kalah kondang dibanding Unbroken atau USS Indianapolis: Men of Courage (2016) yang dibintangi aktor kawakan Nicolas Cage. Kendati dibayang-bayangi kisah-kisah yang lebih populer, pengalaman trio Dixon-Aldrich-Pastula sarat inspirasi. “Kisahnya saya dapat dari naskah yang sudah dirangkum penulis skenario Mark David Keegan. Dalam kisahnya terdapat semangat dari pepatah para pelaut: lautan tenang takkan menciptaskan pelaut handal. Idenya adalah mengangkat sifat dan karakter terbaik dari manusia itu sendiri saat menghadapi situasi terburuk dan buat saya, itu menarik untuk dieksplorasi,” imbuhnya. Sebagaimana misi rumah produksinya yang selalu ingin mengangkat kisah nyata yang terlupakan, Falk pun selalu berusaha mericek semua naskah hingga properti sesuai eranya. Ia dibantu konsultan sejarah Robert Cressman yang pakar sejarah Angkatan Laut Amerika di Perang Dunia II. Tujuannya agar bumbu dramanya tak jauh melenceng dari fakta kisah asli Dixon dan kedua anak buahnya. Namun, Anda mesti bersiap cepat bosan. Against the Sun minim adegan-adegan action seru sebagaimana Unbroken yang ber-budget 65 juta dolar atau USS Indianapolis yang berbiaya 40 juta dolar. Unbroken menyuguhkan sejumlah adegan pertempuran kolosal di angkasa. Pertempuran itu membuat tokoh utamanya, Louie Zamperini, terdampar 47 hari di lautan sebelum ditawan Jepang. Dua film bertema serupa: Unbroken (kiri) & USS Indianapolis: Men of Courage (IMDb) Sementara, USS Indianapolis hadirdengan aksi tokoh utama Kapten Charles McVay III yang menakhodai kapal penjelajah berat USS Indianapolis terdampar akibat diserang Jepang pascamisi mengantarkan bom atom. Serangan itu mengakibatkan 300 dari 1.100 awak USS Indianapolis yang selamat harus mati-matian bertahan hidup. Setelah tiga setengah hari terombang-ambing di lautan, mereka akhirnya diselamatkan. Against the Sun adalah melulu soal daya tahan fisik dan mental tiga manusia minim perlengkapan survival di lautan lepas. Bagaimana mereka saling bekerjasama, mengharap kemurahan Tuhan yang lantas datang dengan hujan deras pemberi persediaan air minum mereka, dan berbagai aksi lain yang membuat mereka survive menjadi pesan utama yang disampaikan film ini. Hanya dengan dua faktor itu, ditambah pertolongan Tuhan, mereka berjuang menghadapi bahaya yang datang bukan dari pasukan lawan namun dari keganasan alam. Yang pasti, bagaimana detail perjuangan mereka dan hasil akhir yang didapatkan merupakan pesan moril amat berharga bagi siapapun dalam mengarungi lautan kehidupan, kapan dan di manapun. Data Film: Judul: Against the Sun | Sutradara: Brian Falk | Produser: Brian Falk, Kurt Graver, Mark Moran | Pemain: Garret Dillahunt, Tom Felton, Jake Abel | Produksi: American Film Company | Distributor: Goldcrest Films NYC | Genre: Drama Perang | Durasi: 99 menit | Rilis: 22 November 2014, 2020 (Mola TV)
- CIA, PRRI, dan PSI
SUATU hari pada Mei 1957, Sumitro Djojohadikusumo menemui Sutan Sjahrir, ketua umum Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan mantan perdana menteri, di kediamannya di Jalan Jawa, Jakarta. Dia mengungkapkan niatnya untuk bergabung dengan gerakan di daerah. Saat itu, dia giat mendorong otonomi daerah. Sejak menjadi menteri keuangan (1952–1953), dia telah merasakan adanya ketimpangan pembangunan antara pusat dan daerah.
- Harem, antara Fantasi Erotis dan Kenyataan
Dua perempuan, yang satu telanjang, yang satu setengah telanjang, tengah bersantai di sebuah permandian mewah bergaya Timur Tengah. Seorang pelayan berkulit gelap dengan pakaian menutupi seluruh tubuhnya berbicara kepada mereka. Masing-masing kedua tangannya membawa satu pipa hookah. Di belakang ketiganya terletak kolam permandian. Lima perempuan telanjang lainnya sedang bersantai di tepian kolam itu. Adegan itu dituangkan Jean Leon Gerome (1824–1904), seniman orientalis dari Paris, dalam lukisannya yang berjudul “Pool in a Harem” pada sekira 1876. Gerome adalah salah satu dari seniman abad ke-19 yang kerap mengangkat tema negeri Timur dalam karyanya, khususnya kehidupan di dalam harem. Sebagaimana lukisan Gerome, dalam imajinasi orang Barat, harem adalah rumah berisi banyak perempuan yang dikumpulkan dari banyak negeri oleh lelaki yang berkuasa. Harem difantasikan berisi perempuan-perempuan telanjang yang ada untuk memuaskan tuan penguasa. Menurut Wendy M.K. Shaw, profesor sejarah seni budaya Islam di Free University, Berlin, dalam tulisannya di Al - Jazeera , penggambaran harem semacam ini hanyalah imajinasi orientalis Barat atas dunia Timur. Itu pun baru berkembang pada sekira abad ke-19. Fantasi Erotis Shaw berpendapat, fantasi sensual orang Barat tentang harem terpicu setelah karya 1001 Malam diperkenalkan kepada orang-orang Eropa pada sekira awal abad ke-18. Orang yang bertanggung jawab adalah Antoine Galland, orientalis asal Prancis, yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Prancis. Karya ini terbit pertama kali pada 1704. Ditambah kemudian pada 1798 pasukan Prancis yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte menyerbu dan menduduki Mesir hingga 1801. Sebagaimana disebut Jennifer Meagher, senior kataloger di Departement of European Paintings, The Metropolitan Museum of Art, di New York, Amerika Serikat, bahwa kehadiran orang Eropa di Mesir pun menarik para pelancong Barat ke wilayah Timur Dekat hingga Tengah. “Banyak di antara mereka yang menuangkan kesan mereka ke dalam karya seni,” tulis Meagher dalam “Orientalism in Nieteenth-Century Art” di Heilbrunn Timeline of Art History . Baca juga: Memahami Sejarah lewat Lukisan Pada 1809, pemerintah Prancis juga menerbitkan jilid pertama dari 24 volume Description de l’Égypte (1809–22). Karya ini menggambarkan topografi, arsitektur, monumen, kehidupan alam, dan populasi Mesir. Menurut Meagher, Description de l'Égypte merupakan yang paling berpengaruh dari banyak karya lainnya yang mendokumentasikan budaya Mesir. “[ Description de l'Égypte ] membawa pengaruh yang mendalam pada arsitektur Prancis dan seni dekoratif periode itu, sebagaimana dibuktikan dalam dominasi motif Mesir di gaya kekaisaran,” jelas Meagher. Sementara banyak orang Eropa mengandalkan catatan perjalanan dan literatur resmi seperti Description de l'Égypte dalam membangun kesan terhadap dunia Timur, para seniman justru melakukan satu atau lebih perjalanan ke wilayah tersebut. Mereka di antaranya Eugene Delacroix (1798–1863), Jean-Léon Gérôme (1824–1904), Théodore Chassériau (1819–1856), Alexandre-Gabriel Decamps (1803–1860), dan William Holman Hunt (1827–1910). “Lukisan orientalis pada abad ke-19 sangat dipengaruhi oleh pengalaman langsung seniman dalam kehidupan sehari-hari di kota dan permukiman di Timur Dekat,” tulis Meagher. Baca juga: Kisah Aneh tentang Turki Usmani di Nusantara Penggambaran tentang harem termasuk dalam beberapa adegan yang paling populer. Namun soal ini, kata Meagher, seniman pria sangat bergantung pada desas-desus dan imajinasi. Mereka mengisi interior harem dalam kanvas dengan dekorasi mewah, juga budak atau selir perempuan, yang berwajah orang Eropa, tengah berbaring telanjang atau dalam balutan pakaian bergaya Timur. Misalnya, lukisan karya pelukis Prancis, Jean Auguste Dominique Ingres (1780–1867), berjudul “The Turkish Bath”. Di sana ia menggambarkan suasana permandian dengan banyak perempuan telanjang. Ada yang sedang bermain musik, menari, dan berbaring. Semuanya lebih mirip perempuan Eropa alih-alih orang Timur Tengah. Baca juga: Kesultanan Aceh Pernah Minta Jadi Vasal Turki Usmani Dalam menciptakan karyanya itu, Ingres bahkan tak pernah melakukan perjalanan ke Timur. “Ia menggunakan latar harem untuk menuangkan angan-angan erotisnya,” jelas Meagher. Pada masa berikutnya banyak pelukis dan novelis orientalis mengembangkan repertoar harem yang lebih fantastis lagi. Ini makin meningkat terutama dengan erotisasi tari perut yang ditampilkan dalam Pameran Dunia (Exposition Universelle) di Paris pada 1889. Harem di dalam Istana Topkapi, Istanbul, Turki. (MehmetO/Shutterstcok). Propaganda Imperialisme Menurut Laurel Ma, sejarawan University of Pennsylvania, penggambaran harem dalam seni lukis orientalis perlu ditelusuri. Khususnya dalam dunia Islam, lingkungan harem sangat terlarang bagi orang asing, terlebih jika itu laki-laki. “Istilah harem berasal dari kata Arab yang dilafalkan haram, yang berarti terlarang atau suci,” tulis Laurel Ma dalam “The Real and Imaginary Harem: Assessing Delacroix’s Women of Algiers as an Imperialist Apparatus”, termuat dalam Penn History Review . Meagher menyebut ada maksud terselubung di balik lukisan orientalis pada awal abad ke-19. Itu dimaksudkan sebagai propaganda untuk mendukung imperialisme Prancis. Lukisan itu sengaja menggambarkan dunia Timur sebagai tempat terbelakang, barbar, di mana pelanggaran hukum kerap terjadi, yang kemudian oleh Prancis berhasil dicerahkan dan dijinakkan. Baca juga: Kolonialisme Hancurkan Kedudukan Perempuan Sementara itu, Ma berpendapat, ada dua mitos yang saling menguatkan tentang harem. Pertama adalah versi harem sebagai tempat mewah di istana Turki di mana sejumlah besar selir dan budak wanita dengan cemas menunggu kembalinya tuan atau suami mereka, yakni sultan. Kedua adalah penjara di rumah tangga muslim di mana wanita tunduk pada kendali mutlak suaminya yang bertentangan dengan keinginan mereka. Mitos ini tidak hanya diterapkan pada lingkungan domestik muslim, tetapi juga kepada perempuan yang mengenakan cadar. Kebiasaan itu dipahami dan disebarluaskan oleh orang Eropa sebagai simbol penindasan di bawah suami dan masyarakat tirani mereka. “Definisi harem bermasalah karena lebih mencerminkan fantasi seksual orang Eropa tentang perempuan Timur daripada realitas domestik yang seharusnya digambarkannya di wilayah itu,” tulis Ma. Interior di dalam Harem Istana Topkapi, Istanbul, Turki. (Tolgaildun/Shutterstock) Peran Penting dalam Politik Kenyataannya, para perempuan di harem memainkan peran yang jauh lebih besar daripada sekadar menghibur sultan atau suami secara umum. Beberapa bahkan memiliki andil dalam perpolitikan Kekaisaran Ottoman yang kuat. Sejak 1299 hingga 1920, harem sultan Ottoman terdiri dari istri, pelayan, kerabat perempuan sultan, dan selir. Murat Iyigun menjelaskan, di kesultanan itu, harem memegang otoritas politik yang cukup besar, terutama selama periode yang dikenal sebagai “Kesultanan Wanita”, yakni sekira 1533–1656. Masa ini kemudian membawa harem kepada kekuasaan yang lebih besar dari sebelumnya. Baca juga: Para Sultanah di Kesultanan Aceh “Anggota harem dengan latar belakang etnis atau agama yang berbeda sering melobi sultan untuk mempengaruhi penaklukkan Ottoman,” tulis Murat dalam “Lessons from the Ottoman Harem on Culture, Religion, and Wars”, termuat dalam Economic Development and Cultural Change . Adapun Kekaisaran Ottoman memiliki pengaruh besar di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Itu pada puncak kekuasaannya, yakni antara 1453 dan 1699. Lingkungan harem Istana Topkapi di Istanbul, Turki. (Shyshko Oleksandr/Shutterstock). Ruang Privat dalam Rumah Tangga Bagaimanapun, kata Shaw, harem sebenarnya hanyalah bagian pribadi dari sebuah rumah tangga. Misalnya, seperti juga ditulis dalam dailysabah , pada setiap rumah orang Turki, baik di desa maupun di kota biasanya memiliki dua bagian, harem dan selamlik . Harem adalah bagian dari sebuah rumah yang diperuntukkan bagi perempuan, dan hanya kerabat laki-laki yang diizinkan masuk. Selamlik , sebaliknya, adalah tempat para tamu laki-laki dijamu. Seperti rumah tangga mana pun, bangsawan atau bukan, harem adalah ruang pendidikan, dan perempuan dari berbagai status sosial mempelajari tugas-tugas dasar rumah tangga, membaca, dan mempelajari al-Quran. Untuk perempuan di kalangan elite, mereka biasanya berpartisipasi dalam lingkungan sosial budaya yang mencakup pembacaan puisi hingga urusan administrasi warisan dan properti. Baca juga: Perempuan-Perempuan Bersenjata Harem menjadi ruang bagi perempuan untuk mendapat akses yang sama ke pendidikan dan partisipasi publik. “Harem bukanlah seperti yang Anda pikirkan. Itu hanyalah bagian pribadi dari rumah tangga yang cukup besar, untuk membedakan antara tempat pribadi dan umum,” tulis Shaw. Sementata di balik erotisme para seniman orientalis, adegan tentang harem juga membangkitkan rasa keindahan banyak orang Barat. Cita rasa seni budaya Timur dalam motif arsitektur, furnitur, seni dekoratif, dan tekstil, selanjutnya semakin banyak dicari oleh kalangan elite Eropa.
- Cerita Impor Kedelai di Indonesia
Masyarakat Indonesia mendapat kejutan pada awal tahun baru 2021. Tempe dan tahu menghilang dari pasaran. Musababnya pembuat tempe dan tahu kesulitan mengolah kacang kedelai. Harga kedelai impor naik pesat. Padahal lebih dari 70 persen kebutuhan kedelai Indonesia berasal dari impor. Belakangan, pembuat tempe dan tahu mulai berproduksi kembali. Tapi harga tempe dan tahu naik. Harga kedelai naik pesat bukanlah cerita baru. Sejarah menunjukkan Indonesia sulit lepas dari ketergantungan impor kedelai. Impor ini telah bermula sejak masa Hindia Belanda. Menurut William Shurtleff dan Akiko Aoyagi dalam History of Tempeh and Tempeh Products (1815–2011), Hindia Belanda menjadi salah satu pengimpor besar kedelai di dunia pada 1920-an. “Setiap tahun, Jawa membutuhkan jumlah kedelai yang cukup banyak. Sekitar setengahnya berasal dari impor,” ungkap Shurtleff dan Aoyagi, mengutip catatan D.F. Blokhuis dalam Over de Beteekenis van de Sojaboon als Handelsproduct (Arti Pentingnya Kacang Kedelai Secara Komersial Sebagai Komoditas) terbitan 1932. Jumlah impornya mencapai 200 ribu ton untuk kebutuhan 35 juta penduduk. Dari 200 ribu ton kedelai impor, 95 ribu ton lebih berasal dari Manchuria. Kedelai impor itu digunakan untuk membuat tempe, tahu, dan kecap. Blokhuis menyebut sebenarnya kedelai lokal sama cocoknya untuk digunakan sebagai bahan utama pembuatan tiga jenis makanan tersebut. “Tetapi para pembuat tempe dan tahu memilih menggunakan kedelai impor sebagai bahan utama pembuatan tempe dan tahu karena kedelai impor lebih memuaskan,” sebut Blokhuis. Ukuran kedelai impor lebih besar daripada kedelai lokal. Selain itu, pasokannya juga lebih stabil. Masa itu, pasokan kedelai lokal terbanyak di Hindia Belanda berada di Jawa Tengah dan Timur. Di sini para pembuat tempe dan tahu memilih kedelai lokal. Tapi di Jawa Barat justru kebalikannya. Sebab lahan kedelai di Jawa Barat lebih sedikit daripada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedikit lahan mengakibatkan sedikitnya produksi kedelai. Buntutnya pasokan tak stabil dan kurang. Karena itulah, kedelai impor sangat laku di Jawa Barat. Memasuki masa kemerdekaan, impor kedelai menurun. Saat bersamaan, kebutuhan terhadap kedelai juga stagnan. Masa-masa setelahnya sampai era Demokrasi Terpimpin Sukarno, data produksi tempe sangat minim. Tak diketahui secara pasti berapa nilai impor dan produksi tempe dalam negeri ketika itu. Yang pasti, tempe saat itu termasuk menjadi menu andalan bersama jagung untuk Revolusi Menu yang dicanangkan Sukarno pada 1964. Sebab tempe telah dikenal memiliki kandungan protein tinggi. Bahkan Institut Teknologi Bandung memproduksi tempe dengan kandungan gizi lebih tinggi daripada telur. Data impor dan produksi tempe muncul kembali pada 1970-an. Menurut Anes Rachman dkk. dalam Ekonomi Kedelai di Indonesia, Indonesia mengimpor kembali kedelai pada 1972. Jumlahnya 183 ton. Relatif kecil dibandingkan dengan produksi dalam negeri yang mencapai 518.229 ton. Sementara kebutuhan kedelai saat itu berada pada angka 515.357 ton untuk 131 juta penduduk. Angka tersebut menunjukkan Indonesia surplus kedelai sehingga mampu mengekspor kedelai sebesar 3.055 ton. Tapi cerita manis ini berubah memasuki 1976. Nilai konsumsi kedelai Indonesia naik sedikit menjadi 692.969 ton. Begitu pula dengan produksi. Ada kenaikan menjadi 521.777. Tetapi kenaikan ini tak sebanding dengan kebutuhan. Defisit konsumsi tersebut tak tertutup oleh pembukaan keran impor kedelai secara besar-besaran. Tercatat saat itu nilai impor kedelai naik drastis hingga 171.746 ton. Anes Rachman mencatat, defisit tersebut terjadi karena beberapa hal seperti penurunan areal produksi, peningkatan jumlah penduduk, dan kelambanan perubahan teknologi. Karena itulah, pemerintah meminta Badan Urusan Logistik (BULOG) untuk mengurangi defisit kebutuhan kedelai nasional. BULOG memegang monopoli impor kedelai dan harus menjaga harga kedelai lokal agar tetap bisa bersaing dengan kedelai impor. Untuk urusan ini, BULOG bekerja sama dengan Koperasi Pengusaha Tempe Tahu Indonesia (KOPTI) yang berdiri sejak 1979. Radius Prawiro dalam Pergulatan Indonesia Membangun Ekonomi Pragmatisme dalam Aksi menyebut BULOG mencatat peran penting dalam swasembada beras di Indonesia pada 1980-an. Tetapi dalam kasus kedelai, BULOG tak berperan banyak.Beberapa program BULOG yang sukses diterapkan dalam program swasembada beras seperti Bimbingan Masyarakat, gagal pada ranah kedelai. Dalam urusan penentuan harga kedelai pun, BULOG tak berdaya menghadapi tekanan hukum permintaan dan penawaran. “Harga komoditas kedelai hampir tidak tersentuh oleh kebijakan pemerintah. Harga kedelai sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme pasar, yang tergantung pada permintaan dan penawaran ( demand and supply ),” catat Tahlim Sudaryanto dan Dewa K.S. Swastika dalam “Ekonomi Kedelai di Indonesia” termuat dalam Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangan. Kondisi tersebut membuat harga kedelai impor selalu lebih rendah daripada kedelai lokal. Petani menjadi tak begitu tertarik untuk memproduksi lebih banyak kedelai. Sebab, tak banyak untung dari memanen kedelai. Mereka lebih memilih menanam jagung karena harganya lebih kompetitif dan menguntungkan. Sementara itu, angka perbandingan pertumbuhan produksi dan konsumsi kedelai sepanjang dekade 1970–1990 juga jomplang. Angka konsumsi selalu lebih tinggi daripada angka produksi. Tahlim Sudaryanto mengungkapkan tingkat produksi kedelai Indonesia sebenarnya pernah mengalami penurunan beberapa kali sejak 1992 hingga puncaknya pada 1998. Tetapi penurunan konsumsi itu terjadi karena penurunan ketersediaan kedelai impor. “Turunnya volume impor kedelai secara otomatis menurunkan volume persediaan (penawaran) dalam negeri. Konsumsi pun menyesuaikan dengan ketersediaan kedelai di dalam negeri,” ungkap Tahlim. Untuk mengatasi itu, pemerintah mengakhiri monopoli impor kedelai di tangan BULOG pada 1998. Sejak itulah, swasta ikut berperan dalam menentukan tinggi rendahnya jumlah impor kedelai. Produksi kedelai nasional tak kunjung mampu mencukupi kebutuhan kedelai. Sejak itulah pemerintah menerapkan bea impor nol persen. Kebijakan liberalisasi ini membuat kedelai impor kian membanjiri Indonesia. Sebagian besar berasal dari Amerika Serikat. Kemudian pada 2004, pemerintah menghapus subsidi dan kredit lunak untuk palawija termasuk kedelai. “Menyebabkan biaya produksi kedelai di dalam negeri meningkat, sehingga daya saing usaha tani kedelai semakin lemah,” tulis Dewa K.S. Swastika dkk. dalam “Perdagangan Internasional Kedelai” termuat dalam Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangan. Hingga hari ini, Indonesia masih terbelit lingkaran setan produksi kedelai nasional.
- Puisi Cinta Soe Hok Gie
ALMARHUM Rudy Badil pernah bercerita. Suatu hari Soe Hok Gie mengajak seorang adik kelas yang dia pacari untuk berkemah di Mandalawangi (sebuah lembah di bawah puncak Gunung Pangrango) bersama kawan-kawan Soe Hok Gie lainnya. Sebagai sahabat, Rudy tentu saja gembira. Dia kemudian “mengondisikan” agar Soe Hok Gie bisa terus berdua-dua-an dengan sang kekasihnya tersebut, termasuk mengupayakan agar mereka berada dalam satu tenda saat malam tiba. Semua kawan-kawan Soe Hok Gie mendukung ide Rudy itu. Paginya Rudy langsung menarik Soe Hok Gie ke tempat agak sepi. Sambil tersenyum nakal, Rudy menanyakan apa yang dilakukan Soe Hok Gie bersama sang pacar selama tidur setenda tadi malam. Soe Hok Gie menatap Rudy sembari tersenyum kecil. “ Enggak ada , gue enggak melakukan apapun selain tidur,” jawab Soe Hok Gie. “Jadi lu kagak apa-apain dia? Lu cium , gitu ?” tanya Rudy dalam nada kaget. “Ya enggaklah , gue aja tidurnya agak jauh-jauhan dari dia.” Pada akhirnya Rudy mafhum, Soe Hok Gie bukanlah lelaki kebanyakan. Kendati dia seorang yang sangat galak saat mengeritik kekuasaan dan nekat ketika menjadi seorang demonstran (dia pernah membaringkan diri di hadapan tank baja yang sedang melaju dalam suatu demonstrasi menentang Presiden Sukarno), namun mengenai cinta, dia benar-benar seorang pemalu dan agak puritan. Rudy yakin Soe Hok Gie memang mencintai perempuan itu. Begitu juga sebaliknya. Namun bagi lelaki Tinghoa tersebut, cinta bukanlah soal saling membutuhkan namun lebih dari itu: ada saling pengertian, tanggungjawab dan kemerdekaan menyatakan keinginan, termasuk keinginan untuk mencintai itu sendiri. Soal terakhir itu memang menjadi masalah buat Soe Hok Gie, mengingat hubungan mereka yang tak direstui orangtua sang gadis. “Mereka selalu dihalangi untuk bertemu,” kenang Arief Budiman (kakak Soe Hok Gie) dalam kata pengantar buku Catatan Seorang Demosntran (catatan harian Soe Hok Gie). Soe Hok Gie bukannya tidak berupaya meyakinkan orangtua sang gadis. Menurut Arief, sudah beberapa kali Soe Hok Gie bicara dengan ayahnya, seorang pengusaha kaya di Jakarta. Sebagai seorang yang tidak setuju dengan berbagai ketidakberesan di Indonesia saat itu, ayah sang gadis menyatakan kekagumannya kepada Soe Hok Gie yang selalu berani melakukan kritik di koran-koran terhadap para pejabat yang dianggap tidak benar. “Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar resikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya,” curhat Soe Hok Gie kepada Arief. Keresahan Soe Hok Gie semakin bertambah saat dia sendiri tak melihat ketegasan hati dari sang kekasih. Mungkin karena usianya masih muda dan sudah terbiasa hidup nyaman, sang kekasih tak memiliki keberanian untuk melawan pendirian orangtuanya itu. “Saya katakan bahwa soal ini soal berat, karena ia harus bertempur sendirian di rumah. Kalau ia tak berani bertempur untuk hal tadi maka soalnya menjadi sulit. I can only give my support. Kemungkinan kedua adalah kita memutuskan hubungan sebelum semuanya berkembang menjadi terlalu jauh,” tulis Soe Hok Gie dalam catatan hariannya bertanggal 4 April 1969. Takdir memutuskan keduanya memilih mengkandaskan hubungan cinta mereka. Karena merasa sudah terlambat untuk menjadi “dua sahabat”, keduanya lantas sepakat untuk saling menjauhkan diri. “Si Gie pastinya sedih. Walau dia tak ngomong apa-apa ke gue , tapi gue tau pada hari-hari itu dia sedih,” kenang Rudy. Soe Hok Gie bisa jadi tak memiliki kawan yang banyak untuk dia curhati. Namun dia memiliki buku harian yang senantiasa “setia mendengar keluhannya”. Pada awal April 1969, sejatinya Soe Hok Gie telah menulis Sebuah Tanya, satu puisi yang menyatakan perasaan terakhirnya untuk sang kekasih. akhirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui. apakah kau masih berbicara selembut dahulu memintaku minum susu dan tidur yang lelap? sambil membenarkan letak leher kemejaku. (kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandalawangi. kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram meresapi belaian angin yang menjadi dingin) apakah kau masih membelaiku selembut dahulu ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat. (lampu-lampu berkerlipan di Jakarta yang sepi kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita) apakah kau masih akan berkata kudengar derap jantungmu kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta (haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti seperti kabut pagi itu) manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru. “Soal ini telah lama saya sadari. Tetapi pada waktu itu datang sebagai kenyataan, rasanya pedih sekali. Tetapi saya tak menjadi emosional. Saya pikir, saya jauh lebih tenang dan dewasa,” tulis Soe Hok Gie dalam catatan hariannya bertanggal 5-6 April 1969. Sejarah mencatat, keduanya memang tak pernah tersatukan. Soe Hok Gie meninggal di Puncak Mahameru pada 16 Desember 1969 sedangkan sang kekasih beberapa tahun kemudian menikah dengan lelaki lain dan tinggal di luar negeri hingga kini.*
- Pergaulan Ahmad Subardjo dengan Teosofi
SETELAH menamatkan sekolah menengah pada 1917, Ahmad Subardjo segera menentukan sekolah lanjutan yang akan ditempuhnya. Dia berkeinginan belajar di sebuah universitas. Sementara di dalam negeri pendidikan tinggi semacam itu masih sangat terbatas. Sehingga dia pun memilih pergi ke Belanda, melanjutkan pendidikan di fakultas hukum. Namun pada tahun tersebut, perang masih berkobar di Benua Biru. Akses masuk menjadi sulit. Ditambah kekhawatiran keluarga, yang makin memberatkan langkah Subardjo pergi ke Negeri Kincir Angin. Akhirnya dia memutuskan menunda sampai perang berakhir. Sambil menunggu, Subardjo mempergunakan waktunya untuk belajar bahasa Latin dan Yunani. Keduanya amat dibutuhkan dalam proses belajar nanti, mengingat pendidikan hukum kala itu masih menggunakan teks-teks berbahasa klasik. “Mereka yang keluaran gymnasium di Negeri Belanda, diperbolehkan segera masuk Fakultas Hukum, karena mereka telah mendapatkan pelajaran dalam bahasa-bahasa klasik tersebut. Tetapi bagi mereka yang berasal dari sekolah menengah umum, seperti kami, harus menempuh ujian tambahan dalam bahasa-bahasa itu,” kata Subardjo. Bersama dua orang kawan yang sama-sama berencana ke Negeri Belanda, Nazir Datuk Pamuntjak dan Andries Alex Maramis, Subardjo meminta bekas guru sejarah di sekolah menengahnya dahulu, Tuan Green, untuk mengajarkan bahasa klasik. Diceritakan dalam otobiografinya, Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi, selama dua kali dalam seminggu ketiganya menerima pelajaran tambahan dari Tuan Green. Khusus bagi Subardjo, perkenalan dengan bahasa-bahasa itu telah membangkitkan minatnya kepada aliran Teosofi. Antara 1917-1919, Subardjo mencoba mengetahui sejauh mana ketertarikannya terhadap aliran itu. Dia lalu berkenalan dengan Zainal Arifin, seorang hakim daerah yang menjadi bagian dari masyarakat Teosofi. Arifin bersama kelompok Teosofi di Batavia menempati sebuah kawasan di Koningsplein-West (sekarang Merdeka Barat) bernama Blavatsky-park . Subardjo berkali-kali berkunjung ke sana untuk mencari informasi tentang tujuan dan obyek Teosofi. Dia mendapati bahwa organisasi itu bersifat internasional dengan pengaruh yang amat luas. Dengan tak berprasangka terhadap agama-agama lain dan aliran-aliran kepercayaan apapun, isi pada praktek-praktek Teosofi menarik perhatian Subardjo. “Arifin merasa senang, bahwa aku menjadi anggota masyarakat Teosofi itu, terutama ketika aku pindah dari rumah ke villanya yang menyenangkan itu, serta menjalankan tugas-tugas dan kewajiban seorang Teosofis. Aku baru memutuskan setelah aku mempelajari dengan cermat latar belakang sejarah dari Teosofi itu,” uajarnya. Sejak tinggal di Blavatsky-park , Subardjo mulai berkenalan dengan orang-orang terpandang di kelompok Teosofi itu, seperti B. Fournier, seorang pejabat tinggi Belanda di Jawatan Pos, Telepon, dan Telegraf. Dalam berbagai kesempatan makan malam di kediaman Fournier, Subardjo semakin memperdalam pengetahuannya akan ilmu Teosofi, terutama tentang pengaruh-pengaruhnya bagi perkembangan jiwa manusia. Ada juga pertemuan mingguan yang rutin diadakan pemuka-pemuka Teosofi di Batavia. Jumlah peserta yang ikut pun tidak main-main. Mereka berasal dari berbagai kalangan, baik Eropa maupun bumiputra. Bagi Subardjo, pertemuan yang bertajuk kuliah umum itu lebih mirip khotbah. Isinya banyak memperingatkan para peserta untuk melakukan meditasi secara teratur dan membaca karangan-karangan mengenai Teosofi, serta berusaha mempraktekan ajaran Teosofi di kehidupan nyata agar dapat menjaga moral baik di masyarakat. “Sebenarnya, dalam kecenderungan untuk mengetahui diri sendiri, berterus terang kepada diri sendiri, ternyata yang mendorongku ke Teosofi hanyalah perasaan ingin tahu, bukan agama. Naluriku terhadap agama adalah berdasarkan agama Islam, sesuai dengan agama yang secara turun-temurun kudapatkan dari nenek moyangku dari Aceh,” kata Subardjo. “Sedangkan, ajaran-ajaran Teosofi berisikan lebih banyak unsur agama Hindu, daripada ajaran-ajaran agama Islam,” lanjutnya. Masyarakat Teosofi, imbuh Subardjo, memiliki semboyan: Tak ada agama yang lebih tinggi dari kebenaran. Mereka berpegang kepada keyakinan bahwa kebenaran harus dicari melalui penyelidikan, renungan, kesucian hidup, dan berbakti untuk cita-cita yang luhur. Kalangan mereka juga menganggap bahwa kepercayaan seharusnya merupakan hasil dari penyelidikan atau naluri sendiri, dan bukan karena suatu yang terjadi dulu, dan seharusnya berdasarkan pengetahuan, bukan pada pernyataan. Ada begitu banyak hal di dalam keyakinan masyarakat Teosofi yang membuat kagum Subardjo. Tetapi ada banyak pula syarat-syarat yang dipaksakan kepada anggotanya. Seperti kewajiban bermeditasi, dan mendengarkan khotbah mingguan yang tidak bisa diterima Subardjo. Meski rasa haus akan pengetahuan agama begitu kuat dalam diri Subardjo, namun dia merasa ilmu Teosofi tidak bisa secara penuh menyegarkannya. “Mungkin sekali aku tak berbakat untuk mendapat pengetahuan yang inti dalam bentuk seperti yang diterangkan oleh peraturan-peraturan dari masyarakat tersebut. Akhirnya aku menyerah dalam usahaku untuk menjadi seorang anggota Teosofi yang baik, dan pindah dari Blavatsky-park untuk kembali berkumpul dengan keluargaku,” kata Subardjo.
- 200 Tahun, Pasar Baru Terus Melaju
Perdagangan di pasar mungkin salah satu aktivitas tertua manusia. Di Nusantara, catatan tentang itu terlihat dalam relief Karmawibhangga panil 1 di Candi Borobudur , Jawa Tengah . Relief candi dari abad ke-10 M itu menggambarkan ramainya suasana pasar. Berbagai macam orang dan jenis barang bersua di pasar. Suasana Pasar Baru tempo dulu. (Fernando Randy/Historia.id). Seiring waktu, pasar berkembang di berbagai tempat. Sebagian di antaranya masih bertahan berabad lamanya. Di Jakarta, pasar semacam itu terletak kawasan di Jakarta Pusat. Bernama Pasar Baru, pasar ini merupakan pasar tertiga tertua di Jakarta setelah Pasar Senen dan Tanah Abang. Pasar ini mempertemukan orang-orang dari berbagai ras di Batavia . Mulai warga Tionghoa, India , Eropa, sampai Melayu berdagang di Pasar Baru. Beberapa toko tersebut masih bertahan. Sebagai contoh, toko Lee Ie Seng. Toko ini berdiri sejak 1873 dan menjual berbagai perlengkapan sekolah dan alat jahit. Suasana Pasar Baru tempo dulu. (Fernando Randy/Historia.id). Lee Ie Seng salah satu toko tertua di Pasar Baru. (Fernando Randy/Historia.id). Memasuki usianya yang sudah 200 tahun, tempat yang dulu bernama Passer Baroe ini terus menghadapi berbagai tantangan. Munculnya berbagai tempat belanja baru hingga bencana kebakaran yang berulang kali menimpa adalah sebagian dari percikan yang terjadi di sana. Namun, itu semua nyatanya masih mampu diatasi oleh daerah yang ujung selatannya berbatasan langsung dengan Gedung Kesenian Jakarta tersebut. Suasana Pasar Baru saat ini. (Fernando Randy/Historia.id). Aktivitas di Pasar Baru saat ini. (Fernando Randy/Historia.id). Para pengunjung saat berbelanja di Pasar Baru. (Fernando Randy/Historia.id). Berbagai pedagang di Pasar Baru saat ini. (Fernando Randy/Historia.id). Tantangan terberat bagi Pasar Baru sekarang adalah Covid-19. Sama seperti kawasan belanja lain, toko-toko di Pasar Baru mulai sepi pengunjung. Tukang bajaj yang biasa mangkal di sana pun kehilangan penumpang. “Wah sepi sekali saat ini, baik akhir pekan maupun hari biasa. Lihat saja toko itu sudah tutup tidak bisa bertahan lagi,” ujar Rohman (63), salah satu tukang bajaj yang telah puluhan tahun mangkal di Pasar Baru. “Bukan hanya itu, sekarang para tukang bajaj seperti saya pun susah mencari penumpang. Dulu siang begini sudah bisa bawa 7-8 penumpang. Sekarang sehari 2 penumpang saja sudah bagus,” lanjutnya. Suasana Pasar Baru saat ini. (Fernando Randy/Historia.id). Para pedagang di Pasar Baru. (Fernando Randy/Historia.id). Melihat kondisi Pasar Baru terkini memang bukan seperti biasanya. Namun, keyakinan agar tempat itu tetap bertahan masih terus ada. Salah satu faktornya adalah pengalaman para pedagang di sana yang telah puluhan tahun diterjang berbagai kendala, tapi mereka terus mampu beradaptasi dan hidup hingga saat ini. Pedagang buah di kawasan Pasar Baru. (Fernando Randy/Historia.id). Berbagai barang yang dijual di kawasan Pasar Baru. (Fernando Randy/Historia.id).
- Relief Tersembunyi di Gedung Sarinah
Gedung Sarinah ramai diperbincangkan setelah akun Instagram @liayuslan memperlihatkan foto relief tersembunyi di lantai dasar gedung toserba pertama Indonesa itu. Relief-relief itu dibuka kembali bersamaan dengan renovasi Sarinah. Menurut unggahan Instagram @liayuslan, relief itu berukuran 3x12 meter. Relief tersebut, sebagaimana diunggah arkeolog Candrian Attahiyyat di saluran Youtube, berada di dalam ruang mekanikal elektrikal di lantai dasar. Beberapa bagiannya terhalang oleh pipa-pipa dan perangkat kelistrikan. Secara umum, relief tersebut menggambarkan beberapa sosok petani, pedagang dengan pikulan berisi ikan hingga perempuan membawa bakul hasil panen. Dalam video Candrian disebutkan bahwa relief ini kemungkinan ditutup pasca-kebakaran tahun 1984. Namun belum ada informasi pasti perihal itu. Yuke Ardhiati, penulis buku Bung Karno Sang Arsitek, menyebut bahwa informasi mengenai relief itu belum bisa dipublikasikan dan menunggu konferensi pers resmi dari pihak PT Sarinah. Siapa seniman yang membuat patung tersebut juga belum bisa dipastikan. “ Not clear . Belum ditemukan data otentiknya,” kata Yuke kepada Historia . Pembangunan gedung Sarinah dimulai dengan peletakan batu pertama pada 17 Agustus 1963 oleh Presiden Sukarno. Sukarno menginginkan Sarinah bisa menjadi department store untuk mengatur harga sekaligus menyokong ekonomi sosialis. Ia juga menegaskan bahwa yang dijual di Sarinah adalah barang hasil berdikari. “Barang bikinan Indonesia. Yang boleh impor hanya 40 persen. Tidak boleh lebih. Enam puluh persen mesti barang kita sendiri. Jual-lah di situ kerupuk udang bikinan sendiri. Jual-lah di situ potlot kita sendiri ,” kata Sukarno dalam Sidang Paripurna Kabinet Dwikora, 15 Januari 1966, yang termuat dalam Revolusi Belum Selesai . Gedung yang diberi nama dari nama pengasuh Sukarno itu diresmikan pada 17 Agustus 1966. Sarinah menjadi salah satu proyek mercusuar Sukarno bersama Monumen Nasional, Stadion Gelora Bung Karno, dan berbagai patung di Jakarta. Dalam pembangunan proyek-proyek tersebut, Sukarno kerap menambahkan patung, relief maupun mozaik. Patung, relief, dan mozaik itu digunakan untuk menunjukkan unsur keindonesiaan dalam sebuah bangunan. Beragam unsur kebudayaan dan mitologi dirangkai menjadi tamansari wajah Indonesia. Salah satu yang cukup terkenal sekaligus sempat terbengkalai adalah relief di ruang VIP Bandara Kemayoran. Relief itu dibuat oleh para anggota Seniman Indonesia Muda (SIM) di bawah komando Harijadi Sumadidjaja, Surono, dan Sudjojono. Bandara Kemayoran mulai terbengkalai setelah dibuka Bandara Halim Perdana Kusuma dan Soekarno Hatta pada 1985. Beruntung, pada 2019 Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Pusat Pengelolaan Komplek (PPK) Kemayoran melakukan Konservasi Karya Relief di eks Bandara Kemayoran. Relief serupa yang dibuat dari gagasan Sukarno adalah relief “Pesta Pura di Bali” karya Harijadi serta relief “Perempuan Indonesia Terbang” karya RM Surono di depan Hotel Indonesia. Sementara, relief “Untung Rugi di Kaki Merapi” karya Harijadi menghiasi Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta. Dibukanya kembali keberadaan relief di Gedung Sarinah tentu dapat melengkapi narasi sejarah seni rupa Indonesia.
- Bobolnya Gedung Capitol
GEDUNG Capitol di Washington DC, Amerika Serikat, diserang dan diduduki massa pendukung Donald Trump pada Rabu (6/1/2021) siang hingga petang waktu setempat. Simbol parlemen negeri adidaya itu dikuasai karena massa tak terima figur yang diusungnya, petahana dalam Pilpres 2020, kalah dari Joe Biden. Sebagaimana dirangkum Boston Globe , Rabu (6/1/2021), ribuan pendukung Trump berbondong-bondong dari The Ellips, taman di sisi selatan Gedung Putih, menuju Gedung Capitol. Mereka terprovokasi pernyataan Presiden Trump yang bersikeras kekalahannya karena dicurangi. “Kita bertarung habis-habisan karena jika tidak, kita akan kehilangan negara kita. Kita akan turun ke jalan menyusuri Pennsylvania Avenue dan kita akan menuju (gedung) Capitol,” seru Trump kepada ribuan pendukungnya di The Ellips. Di saat yang sama di Gedung Capitol, para anggota senat dan legislatif tengah merampungkan penghitungan suara final dan kemudian akan meresmikan kemenangan pasangan Joe Biden dan Kamala Harris dari Partai Demokrat. Namun belum lagi agenda mereka rampung, ribuan massa pro-Trump sudah menerobos barikade dan aparat keamanan Capitol. Pendudukan Gedung Capitol oleh massa perusuh pro-Donald Trump. (Wikipedia). Aparat keamanan tak mampu membendung arus massa. Kekuatan mereka dipecah antara untuk yang mengadang dan mengevakuasi para anggota senat dan legislatif serta wakil presiden petahana Mike Pence. Sekira pukul 2.30 siang, Gedung Capitol pun dikuasai massa yang kemarahannya mereka salurkan ke tindakan penjarahan, vandalisme, dan pengrusakan. Butuh waktu tiga jam bagi para anggota Kepolisian Capitol dan Metropolitan DC, yang dibantu para agen FBI dan Homeland Security, untuk merebut kembali Gedung Capitol. Bentrokan sempat terjadi dengan klimaksnya terdengar beberapa kali suara tembakan. Sebanyak 70 orang luka-luka dan lima nyawa melayang, satu dari aparat kepolisian dan empat dari pihak massa. Penangkapan terhadap 80 oknum massa yang mengikutinya kemudian menuai kecaman. Selain dari politisi Partai Demokrat maupun Republik, kecaman juga datang dari kalangan akademisi. Sosiolog Profesor David Meyer dari University of California, salah satunya. “Gedung Capitol adalah magnet bagi aksi unjuk rasa dan kadang kekerasan yang menyertainya. Hanya saja yang sangat tidak masuk akal kali ini adalah, Presiden Amerika (Donald Trump) sendiri yang mengajak massa untuk melakukan kekerasan terhadap lawan politiknya,” ujar penulis The Politics of Protest: Social Movements in America itu kepada Reuters , Jumat (8/1/2021). Meyer juga mengungkit bahwa itu bukan kali pertama simbol demokrasi Amerika yang terbagi dua kamar parlemen itu diinvasi. Dua abad silam, hal serupa pernah terjadi meski faktor penyebab dan kondisinya berbeda. Capitolinus, Capitolina, Capitol Gedung Capitol dibangun bersamaan dengan Capitol Hill yang jadi kawasan tempat tinggal tertua di Washington City (kini Washington DC), kota yang menyandang nama presiden pertama, George Washington. Kota itu baru dibangun dan akan dikembangkan sebagai calon ibukota baru, menggantikan Philadelphia yang menjadi ibukota sementara sejak Revolusi Kemerdekaan Amerika. Gagasan pemindahan ibukota oleh pemerintah federal lantas direalisasikan lewat dikeluarkannya Residence Act pada 1790, di mana ibukota akan dipindah dari Philadelphia ke Washington City (kini Washington DC). “Setelah adanya Residence Act, pada Maret 1791 (menteri luar negeri) Thomas Jefferson mengemukakan usulan rencana tata kotanya kepada (presiden) George Washington. Pada 4 April (1791) Washington mempercayakan penggarapan rencananya kepada Mayor Pierre Charles ‘Peter’ L’Enfant, seorang insinyur di kalangan militer Amerika keturunan Prancis,” ungkap James D. Kornwolff dkk. dalam Architecture and Town Planning in Colonial North America, Volume 3 . Arsitek William Thornton (kiri) dan cetak biru L'Enfant Plan. (National Gallery of Art/Repro: History of the United States Capitol ). Khusus untuk gedung parlemen yang dalam cetak biru masih disebut sebagai “Congress House”, Mayor L’Enfant menetapkan lokasinya di Jenkin’s Hill. Posisinya tepat di seberang President’s Mansion (kini Gedung Putih) yang hanya terpisahkan bentangan jalan Pennsylvania Avenue. Setelah penentuan lokasi, desain Congress House bersamaan dengan desain President’s Mansion disayembarakan oleh Jefferson pada 1792 dengan iming-iming hadiah uang 500 dolar dan sebidang tanah di Washington City. Sayembara itu dimenangkan oleh desain karya arsitek William Thornton. Menurut William C. Allen dalam History of the United States Capitol: A Chronicle of Design, Construction, and Politics , desain Thornton dianggap yang paling elegan di antara 10 karya arsitek yang ikut sayembara. Desain Congress House Thornton terinspirasi dari dua monumen megah di Paris: Monumen Panthéon dengan kubah besarnya dan Louvre Colonnade atau muka bangunan sisi timur Palais du Louvre dengan pilar-pilar megah bergaya Romawinya. Desain awal Congress House alias Gedung Capitol karya arsitek William Thornton. (Library of Congress). Pembangunannya kemudian dimulai dengan peletakan batu pertama oleh Presiden Washington pada 18 September 1793, dan rampung tujuh tahun berselang. Sesuai rencana awal, gedung tersebut mulai ditempati para anggota parlemen tahun 1800. Nama Congress House kemudian diganti menjadi The Capitol, senada dengan permukiman Capitol Hill yang juga bagian tata kota garapan L’Enfant. “Jeffersonlah yang konsisten dan bersikeras kala beraudiensi dengan anggota legislatif bahwa gedungnya akan dinamai ‘Capitol’ ketimbang ‘Congress House’ sebagaimana dalam rencana L’Enfant. Nama ‘Capitol’ bersumber dari bahasa Latin untuk penyebutan Kuil Dewa Jupiter Capitolinus yang berlokasi di atas Bukit Capitolina, Roma, Italia,” singkap Allen. Kendati begitu, lanjut Allen, belum ada penjelasan lebih terang terkait hubungan antara kuil di Roma itu dengan gedung parlemen di Washington. Kemungkinan besar Jefferson memilih nama itu sekadar menyamakan beberapa bagian arsitekturnya yang bergaya Romawi. Dikuasai dan Dibakar Pasukan Inggris Belum dua dekade digunakan para anggota parlemen Amerika, Gedung Capitol diinvasi, dirusak, hingga dibakar pasukan Inggris. Petaka itu datang pada 24 Agustus 1814 di tengah Perang 1812 yang berlangsung 18 Juni 1812-17 Februari 1815. Perang 1812 adalah konflik skala besar antara Amerika dan Inggris setelah Perang Revolusi Amerika (1775-1783). Inggris menjadikan Washington City sasaran untuk diratakan dalam Kampanye Chesapeake, satu bagian dalam Perang 1812, sebagai balasan terhadap pembumihangusan Port Dover, ibukota Provinsi Upper Canada, oleh pasukan Amerika pada Mei 1814. Dalam kampanye Chesapeake, 4.500 ribu personil pasukan Inggris pimpinan Jenderal Robert Ross dengan gemilang memukul pasukan Amerika yang dikomando Jenderal William H. Winder –yang jumlahnya nyaris dua kali lipat– pada 24 Agustus 1814 dalam pertempuran dramatis di kota Bladensburg, 13,8 km timur laut Washington City. Usai Pertempuran Bladensburg, hari itu juga pasukan Jenderal Ross terus menerjang musuhnya hingga memasuki Washington City. “Seiring laju mundur pasukan Amerika, Inggris yang masuk ibukota pada malam hari mulai menunaikan kesumatnya lewat darat dan laut atas serangan Amerika ke ibukota Kanada sebelumnya. Pasukan Inggris menghancurkan gedung-gedung pemerintahan federal,” sambung Allen. Gedung Capitol termasuk yang jadi sasaran. Setelah diserbu, gedung setinggi 88 meter itu barang-barangnya dijarah dan bangunannya dirusak dan dibakar atas perintah Jenderal Ross. Ketika ditinggalkan pasukan Inggris, Gedung Capitol hanya menyisakan aula sisi barat yang masih utuh. “Kerugian dari pembakaran itu antara lain jurnal-jurnal rahasia negara yang disimpan di ruangan juru tulis Gedung Capitol, juga sejumlah barang seni, naskah-naskah bersejarah, buku-buku dan peta-peta di perpustakaan. Walau aula legislasinya masih utuh, tetap saja kerusakan-kerusakannya jadi kerugian yang sangat besar,” tambahnya. Pasukan Inggris memasuki Washington City (atas) dan Gedung Capitol setelah dibakar Inggris (bawah). (Library of Congress/Repro History of England, from the Earliest Periods ). President’s Mansion yang kini bernama Gedung Putih juga mengalami nasib serupa seiring pembumihangusan Washington City. Beruntung, hujan badai mengguyur Washington City keesokan paginya sehingga memadamkan kebakaran hebat di seantero kota. Gedung Capitol bersamaan dengan President’s Mansion baru dibangun kembali setelah perang berakhir, tepatnya pada 1815. Selain diperbaiki, aula di kedua sayap bangunan yang menjadi “kandang” para anggota senat dan legislatif itu didesain ulang oleh duet arsitek George Bomford dan Joseph Gardner Swift. Seiring dengan bertambahnya anggota parlemen dari negara bagian-negara bagian baru, pada 1850 Gedung Capitol mengalami perluasan di kedua sayapnya di bawah pimpinan arsitek Thomas Ustick Walter. Kendati sejumlah renovasi dan penambahan bangunan terjadi hingga 1960, bentuk dan luas bangunan Gedung Capitol tak lagi berubah setelah gedung tersebut dinyatakan sebagai National Historic Landmark oleh National Park Service.
- Angkernya Sirkuit Nürburgring
MENDIANG Niki Lauda (1949-2019), juara dunia Formula One (F1) tiga kali (1975, 1977, 1984), dikenal karena dua hal sepanjang kariernya memiloti jet darat (F1) sejak 1971 hingga 1985. Pertama , persaingan kontroversialnya dengan James Hunt. Kedua , kecelakaan hebat yang dialaminya saat mengikuti Grand Prix (GP) Jerman di Sirkuit Nürburgring, 1 Agustus 1976. F1 musim 1976 jadi puncak rivalitas sengitnya dengan Hunt. Di musim itu pula tragedi yang nyaris membuatnya almarhum di usia muda terjadi. Sirkuit Nürburgring sejatinya bukan arena yang asing baginya. Lauda punya beberapa rekor gemilang di sirkuit angker itu. “Pertamakali saya ke Ring (Nürburgring, red. ) tahun 1969 saat masih 20 tahun mengendarai mobil Formula Vee. Sejak awal 1970-an saya mulai sering balapan di Ring. Pada 1973 di ajang Touring Class, pernah mencatatkan waktu 8 menit 17,4 detik mengendarai BWM. Musim 1975 di mana saya meraih gelar pertama, untuk pertamakali saya mencatatkan waktu di bawah tujuh menit,” kata Lauda dalam otobiografinya, To Hell and Back: An Autobiography. Di Nürburgring Lauda pernah menorehkan catatan waktu 6 menit 58,6 detik. Rekor waktu tercepat itu bertahan selama bertahun-tahun. Namun seiring pengalamannya di Nürburgring, Lauda paham betapa berbahayanya Nürburgring. Sudah banyak pembalap tewas di sirkuit tersebut. Maka ketika cuaca buruk terus menaungi langit Nürburgring sejak sesi latihan hingga menjelang race GP Jerman 1976 dimulai, Lauda cemas dan mengambil inisiatif. “Saat rapat pembalap, saya mengusulkan agar kami memboikot Ring. Namun usulan saya kalah suara dan saya harus terima. Media langsung menyerang saya. Dikatakan saya pengecut dan mestinya berhenti saja dari Formula 1. Yang saya ingat jelang balapan hanyalah mengganti ban dari ban basah ke ban slick,” imbuhnya. Kecelakaan hebat Pembalap Ferrari Andreas Nikolaus 'Niki' Lauda di Sirkuit Nürburgring, 1 Agustus 1976 ( scuderiafans.com ) Suka atau tidak, Lauda tetap mengikuti race . Saat itulah mobil Ferrari 312T2-nya tergelincir dan menghantam pagar pembatas diiringi nyala api yang menyelimuti mobilnya. Namun hari itu Lauda masih dinaungi keberuntungan. Nyawanya masih utuh meski dirinya mengalami luka bakar serius dan infeksi di paru-paru. “Setelah keluar rumahsakit saya ditunjukkan sejumlah fotonya. Ada beberapa pembalap: Guy Edwards, Brett Lunger, Harald Ertl berusaha menyelamatkan saya. Tetapi penyelamat sejati saya adalah Arturo Merzario yang nekat menerobos api tanpa memedulikan dirinya untuk bisa melepaskan sabuk pengaman saya,” lanjut Lauda. Pasca-kecelakaan itu, Nürburgring sementara tak digunakan untuk F1. Sejak pertamakali dibuka pada 1927 hingga saat ini, Nürburgring sudah memakan korban 69 pembalap dari beraneka ajang. Enam di antaranya pembalap di pentas Formula (F3, F2, dan F1). Nürburgring jadi sirkuit Formula paling angker kedua setelah Indianapolis Speedway di Amerika Serikat yang memakan tujuh nyawa pembalap Formula. Kuburan Pembalap di Pegunungan Eifel Nürburgring (berarti Lingkar Nürburg) mengambil nama dari Nürburg, satu dari empat kota kecil di Distrik Eifel, Rhineland, Jerman di samping Quiddelbach, Herschbroich, dan Breidscheid. Berada di bukit tertinggi kedua Pegunungan Eifel, Nürburg merupakan kota benteng terkenal semasa Kaisar Nero berkuasa di Romawi (54-68 SM). Latar belakang itu dipercaya sebagai akar mitos yang menyelimuti sirkuitnya. Menurut Sam S. Collins dalam Autodrome: The Lost Race Circuits of Europe , gagasan pembangunan sirkuit Nürburgring baru hadir jauh setelah balap mobil dan motor populer di Jerman sejak 1907. “Adalah Dr. Otto Creuz, seorang anggota dewan distrik Eifel, datang dengan gagasan menghadirkan (sirkuit) Nürburgring dan mengajukannya secara resmi pada April 1925. Ia didukung ADAC (Allgemeiner Deutscher Automobil-Club), asosiasi otomotif pemerintah Jerman, dan juga Walikota Cologne Konrad Adenauer yang berperan membujuk pemerintah mendukung ide itu,” tulis Collins. Pemerintah Kekaisaran Jerman lantas memberi lampu hijau dan menyokong pendanaan proyek pembangunan senilai 8,1 juta Reichsmarks (setara 27 juta euro sekarang) itu. Selama dua tahun pembangunan trek di sepanjang jalur Pegunungan Eifel yang melewati empat kota kecil di atas, proyek itu menyedot sekitar tiga ribu pekerja. Begitu rampung dua tahun berselang, Sirkuit Nürburgring punya dua trek. Pertama, Südschleife atau Lingkar Selatan dengan trek aspal sepanjang 7,7 kilometer, dan kedua, Nordschleife atau Lingkar Utara yang treknya kombinasi aspal dan beton sepanjang 22,8 kilometer. “Nordschleife mulanya digunakan untuk balapan internasional dan Südschleife didesain untuk balapan level klub lokal dan sesi uji coba. Kedua trek biasanya baru dikombinasikan menjadi 28,2 kilometer (17,5 mil) jika menggelar balapan kelas berat Gasamstrecke,” imbuh Collins. Rudolf Caracciola (kanan) pembalap pertama yang menang di inagurasi Sirkuit Nürburgring ( nuerburgring.de ) Ajang Eifelrennen (18-19 Juni 1927) di sektor Nordschleife yang menghadirkan balap motor kelas 350 cc dan mobil 5000 cc menjadi momen inagurasi Sirkuit Nürburgring yang berkapasitas 80 ribu penonton. Rudolf Caracciola sang putra daerah mencatatkan namanya jadi pembalap mobil pertama yang menjuarai Eifelrennen di Nürburgring. Sementara Toni Ulmen asal Inggris juara di ajang balap motor. “Ketika datang ke Nürburgring yang baru dibuka pada 1927, mata kami terbelalak. Kami tak pernah melihat sirkuit seperti Nürburgring. Sirkuit dengan trek di tengah-tengah Pegunungan Eifel, jalur melingkar yang nyaris 180 derajat terbentang lebih dari 22 kilometer. Ditambah rute miring yang memaksa mesin bergetar dan terasa sampai ke paru-paru, namun di sisi lain punya panorama indah saat melewati lembah-lembah dan pedesaan di sekitarnya,” ujar Caracciola, dikutip George Bishop dalam The Concise Dictionary of Motorsport. Namun sejak masa awal itu juga, sambung Collins, para pembalap mulai memendam rasa takut di Nürburgring. Trek Norsdschleife dengan 160 belokan maupun di Trek Südschleife dengan 27 belokan sama-sama menakutkan. “Beberapa pembalap mengklaim dihantui oleh arwah-arwah dari abad pertengahan yang disebutkan, kerap muncul dari pepohonan di samping trek dan memaksa mobil keluar jalur dengan kecepatan tinggi,” singkap Collins. Ajang balapan mobil di Nürburgring pada Eifelrennen 1927 (kiri) & 1935 (kanan) ( nuerburgring.de/Daimler AG) Korban tewas pertama bahkan terjadi setahun setelah Nürburgring diresmikan. Tepatnya pada ajang Große Preis der Sportwagen, 15 Juli 1928. Pembalap Bugatti Type 35B asal Cekoslovakia Čeněk Junek jadi pembalap nahas pertama yang nyawanya melayang di Nürburgring. “Čeněk Junek meninggal di depan mata istrinya, Elisabeth, yang juga pembalap. Ia tewas di tempat setelah kecelakaan fatal. Meski tengah berada di puncak kariernya, Elisabeth memutuskan pensiun dari dunia balap setelah merasa kehilangan dan ia menjual semua mobil Bugatti milik Elisabeth dan suaminya,” tulis Jean François Bouzanquet dalam Fast Ladies: Female Racing Drivers 1888 to 1970. Semenjak itu pula hampir setiap tahun ada saja pembalap mobil dan motor yang malang dan meregang nyawa di Nürburgring, terutama di Südschleife. Maka sejak 1930-an hingga masa vakumdi Perang Dunia II,kebanyakanajang balapinternasional lebih sering digelar di Trek Nordschleife. Sebelum perang, Nürburgring tercatat sudah memakan korban delapan jiwa pembalap. Nürburgring terbengkalai sepanjang Perang Dunia II (1939-1945). Pada Maret 1945, pasukan Amerika masukdari Mullenbach dan menjadikan Nürburgring markas serta tempat parkir tank-tank Amerika. “Ditambah sejak 1939 terbengkalai, treknya rusak parah akibat tank-tank sejak areanya dijadikan markas Sekutu. Namun dengan bantuan pemerintah Prancis, Trek Südschleife dibangun kembali pada awal 1947. Ada beberapa perubahan; permukaan baru dan jalurnya sedikit dilebarkan di beberapa belokan. Ajang inagurasi Südschleife baru dihelat lewat balapan motor pada Agustus (1947), sementara Nordschleife baru ikut direnovasi pada 1949,” sambung Collins. Sejumlah wajah pembalap nahas yang tewas di tembok peringatan di Sirkuit Nürburgring ( nuerburgring.de ) Kendati dua treknya sudah direnovasi, keangkeran Nürburgring yang sudah bertambah kapasitas menjadi 150 ribu penonton tak berkurang. Pada ajang German F3 Championship yang digelar di Trek Nordschleife (20 Agustus 1950), pembalap tuan rumah Günther Schlüter yang mengendarai mobil Scampolo 501 jadi pembalap mobil Formula nahas pertama pascaperang. Korban tewas kedua di ajang mobil Formula di Nürburgring tercatat atas nama pembalap asal Argentina Onofre Marimón. Pembalap F1 itu tewas di atas mobil Maserati 250F pada sesi latihan F1 GP Jerman, 31 Juli 1954. The New York Times , 1 Agustus 1954, menggambarkan kronologi kejadian itu. Bermula dari saat Marimón ingin mempercepat catatan waktu. Kala melewati tikungan Breidscheid, mobilnya lepas kendali saat berusaha berbelok di tikungan dengan jalur menurun yang berbahaya itu. Ia langsung tewas di tempat, tepat di ujung turunan. Sampai insiden yang menimpa Niki Lauda pada 1976, sudah empat pembalap F1 yang menyusul Marimón ke alam baka dari Trek Nordschleife Nürburgring. Peter Collins (Inggris/Ferrari) mengalaminya pada 3 Agustus 1958, lalu Carel Godin de Beaufort (Belanda/Porsche) pada 1 Agustus 1964, John Taylor (Inggris/Brabham) pada 7 Agustus 1966, dan Gerhard Mitter (Jerman/BWM) pada 1 Agustus 1969. Padahal, dua tahun sebelum meninggalnya Mitter, Nürburgring sudah mengubah beberapa sektor treknya. Antara lain, penambahan chicane (kelokan ganda) sebelum garis start /finis agar para pembalap mengurangi kecepatan baik saat melewati garis finis maupun ketika hendak ke jalur masuk pit lane . “Meski begitu tetap saja pembalap Jackie Stewart masih menjulukinya ‘Green Hell’ (neraka hijau) sepanjang balapan F1 digelar di Nordschleife. Julukan yang merujuk kenyataan bahwa trek itu masih sangat serius dan membahayakan. Hingga sekarang masih jadi sirkuit paling menantang nyali di dunia,” tulis Alex Christou dalam One Careful Owner. Maka menjelang GP Jerman 1970, para pembalap menyerukan pemboikotan Nürburgring. Boikot itu menyeruak pasca-kecelakaan fatal Piers Courage (Inggris/Williams) di Sirkuit Zandvoort saat GP Belanda. Upaya boikot makin intens pada rapat para pembalap di GP Prancis yang jadi ajang sebelum GP Jerman. Jika Nürburgring tak mengalami perubahan signifikan, kata para pembalap, mereka enggan mengaspal di trek yang lebih angker dan berbahaya dari Zandvoort itu. Sirkuit Nürburgring yang sudah diperbarui dan diubah layout-nya ( formula1.com ) Otoritas pengelola Nürburgring mengaku tak sanggup merenovasi dalam waktu begitu singkat. Alhasil, GP Jerman “diungsikan” dari Nürburgring ke Sirkuit Hockenheimring. Berbeda dari usaha boikot pada 1970 itu yang berhasil, enam tahun berselang upaya serupa gagal di GP Jerman. Cuaca buruk terus menaungi langit Nürburgring sejak sesi latihan, kualifikasi, hingga menjelang race . Lauda yang masih menganggap Nürburgring sama angkernya kendati sudah dilakukan perubahan pada 1971, lantas mengusulkan pembatalan atau setidaknya penundaan GP di Nürburgring hingga cuaca cerah. “Pada 1976 saya mengusulkan para pembalap menggelar rapat dan saya mengajukan boikot pada sirkuit ini. Tentu saja semua orang mulai mengatakan saya pengecut. Tapi masalahnya simpel: Nürburgring adalah bahaya yang mesti dihindari,” ujar Lauda dikutip Maurice Hamilton dalam Niki Lauda: The Biography . Selain membutuhkan kondisi fisik dan mental yang prima, baginya membalap di Nürburgring butuhkan mobil berkondisi prima. Jika tidak, kecelakaan sudah menanti. “Pada sirkuit modern lain, jika ada kerusakan pada mobil, persentasenya 70:30 antara saya baik-baik saja atau saya akan mati. Di sini (Nürburgring), jika ada kerusakan di mobil, 100 persen akan mati,” lanjut Lauda. Sial, upaya Lauda gagal. Dari voting yang dilakoni 28 pembalap, pendukung boikot Lauda kalah satu suara. Horor Nürburgring lantas menimpa Lauda sebagaimana diuraikan di awal. Momen itu juga jadi momen terakhir Nürburgring menghelat GP Jerman. Posisinya di F1 GP Jerman digantikan Hockenheimring. Nürburgring setelah itu hanya menghelat F1 GP Eropa, dimulai pada 1985. Gelaran F1 GP Eropa tak diadakan di Trek Nordschleife, namun di trek anyar GP-Strecke yang lebih pendek (5,1 kilometer). Nürburgring menggelar GP Eropa sejak 1985 hingga 2014. Setelah vakum selama tujuh tahun, Nürburgring hadir lagi di kalender F1 sebagai tuan rumah GP Eifel. Sementara, Südschleife maupun Nordschleife digunakan untuk ajang-ajang lain. Hingga kini, total ada 69 pembalap yang meregang nyawa di Nürburgring. Wolf Silvester jadi nama terakhir yang tewas di Trek Norsdschleife. Pembalap Jerman dari tim Opel Astra itu tewas dalam ajang VLN Endurance Championship, 22 Juni 2013.
- Petualangan Orang Makassar di Kesultanan Banten
PERTENGAHAN Agustus 1671 di Jepara muncul seorang bernama Kassi’-jala. Kehadirannya cukup menggemparkan residen setempat. Hal itu disebabkan dia membawa serta 150 orang bersamanya. Mereka tidak terlihat seperti penduduk Jawa. Perawakannya kekar, warna kulit serta wajahnya terlihat asing untuk disamakan dengan orang-orang sekitarnya. Diketahui mereka adalah kelompok pelaut dari Makassar. Berdasar catatan harian pejabat VOC di Jepara ( Daghregister, 24 Agustus 1671), Kassi’-jala dan kelompoknya datang untuk menemui dua pangeran Makassar, Kraeng Bonto Marannu dan Kraeng Luwu’. Bersama dua peangeran itu, rencananya mereka akan berlayar menuju Banten. Menurut sejarawan H.J. De Graaf, keterangan tersebut menjadi berita pertama kepindahan orang Makassar ke Banten. Dikisahkan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, pelayaran orang-orang Makassar itu terjadi setelah Gowa mengalami kekalahan perang pada 1669. Pemerintahan Arung Palakka yang bersifat menindas juga menjadi alasan para pelaut itu rela meninggalkan tanah airnya menuju tempat asing yang belum tentu menerima keberadaan mereka. “Pada 1670-an, Banten menjadi pusat pengungsi politik dari Makassar, yang membuat VOC sangat khawatir,” terang Edward A. Alpers dalam The Indian Ocean in World History . Rombongan Makassar tiba di Banten pada akhir Agustus 1671. Kraeng Bonto Maranmu membawa sekira 800 orang dalam tiga kapal sedang dan sebuah perahu besar. Begitu merapat di pelabuhan, mereka disambut oleh perwakilan istana. Menurut De Graaf dalam bukunya, Runtuhnya Istana Mataram , rupanya kedatangan mereka telah dinanti penguasa Banten. Para tamu dari Timur itu pun diberikan tempat di daerah Pontang, sebelum dipindahkan ke pusat kota, dekat pasar utama. “Tidak secara tiba-tiba mereka datang di Banten. Semangat juang mereka ditakuti, jumlah mereka yang besar diperhitungkan. Orang Banten sudah dapat menduga bahwa setelah kemenangan Speelman atas Gowa, maka merekalah yang akan mendapat giliran,” kata De Graaf. Mulanya sambutan penguasa Banten dilakukan agar orang-orang Makassar itu merasa nyaman tinggal di wilayahnya. Namun belakangan mereka diketahui mencoba memanfaatkan pengalaman orang-orang Makassar di medan tempur untuk persiapan mengahadapi serangan VOC. Kawan dari Pulau Sulawesi itu diharapkan dapat menjadi tambahan kekuatan bagi Banten. Terlebih, imbuh De Graaf, orang-orang Makassar tidak terpengaruh oleh kekalahan yang telah mereka derita pada pertempuran sebelumnya di Gowa. Tanpa disadari penguasa Banten, kian hari jumlah orang-orang Makassar di wilayahnya kian bertambah. Mereka datang dari berbagai daerah di pesisir Jawa. Tak ayal kondisi itu membuat penguasa Banten kewalahan dalam memberi kebutuhan harian mereka. Merawat ratusan orang Makassar bersama keluarganya tanpa imbalan memadai, tentu membuat beban ekonomi semakin berat. Untuk sementara kondisi itu bisa diatasi Sultan Banten, namun tidak bisa berlangsung selamanya. Maka sultan pun meminta para kraeng mengerahkan tenaga para pengikutnya untuk pekerjaan kasar, yakni menggali terusan dari Pontang ke Tanara. “Pemerintah Kompeni sendiri meragukan apakah orang-orang Makassar dengan sukarela mau melakukan pekerjaan kasar itu. Sesungguhnyalah orang-orang Makassar itu dipaksa semua oleh kraeng-kraeng mereka untuk bekerja di Pontang (Banten),” ujar De Graaf. Keberadaan Syekh Yusuf Kedatangan Kraeng Bonto Marannu dan rombongannya memang tercatat sebagai yang terbesar, namun bukan yang pertama. Dicatat De Graaf, berdasar laporan pejabat VOC, hubungan Banten dan Makassar paling awal dilakukan oleh seorang ulama besar Makassar, yang dikemudian hari dikenal sebagai Syekh Yusuf Makassar. Pada 1644, dalam usia 18 tahun, Syekh Yusuf meninggalkan Gowa menuju Mekah. Dia bermaksud menuntut ilmu agama di pusat peradaban Islam tersebut. Dia pun memulai perjalanannya dengan menumpang kapal Melayu. Permberhentian pertamanya adalah Banten. Menurut Abu Hamid dalam Syekh Yusuf Makassar: Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang , nama Banten sudah tidak asing bagi Syekh Yusuf. Dia sering mendengarnya dari pedagang-pedagang Melayu, bahwa Banten adalah pusat perdagangan di Barat, sama seperti tempat tinggalnya yang didapuk sebagai pusat niaga di Timur. “Di Banten, Yusuf cepat menyesuaikan diri dan berkenalan dengan ulama-ulama, ahli agama, dan pejabat-pejabat agama. Yusuf sempat bersahabat baik dengan putra mahkota Pangeran Surya yang dikenal kemudian sesudah menjadi sultan dengan nama Arab, Abdul Fathi Abdul Fattah Sultan Ageng Tirtayasa,” tulis Hamid. Tidak diketahui dengan pasti kapan Syekh Yusuf kembali dari Tanah Suci. Tetapi sepulang dari sana dia memilih bermukim di Banten. Dia diketahui tidak kembali ke tanah airnya, Gowa. Dicatat Frederick De Haan dalam Priangan: De Preanger-Regentschappen onder het Nederlandsch bestuur tot 1811, Syekh Yusuf bahkan menikah dengan seorang saudara perempuan Sultan Banten. Hal itu membuat dia memiliki kedudukan tetap di Kesultanan Banten. Keberadaan Syekh Yusuf menjadi salah satu alasan orang-orang Makassar datang ke Banten. Ulama kharismatik itu memiliki pengaruh yang besar di Kesultanan Banten. Dia mengajar ilmu agama di lingkungan istana, di sekitar keluarga sultan. Syekh Yusuf juga membawa kebudayaan Timur Tengah ke Banten, seperti perubahan dalam cara berpakaian sehari-hari yang terlalu terbuka, hingga larangan peredaran candu. Orang Makassar Bertingkah Pada Oktober 1671, seorang panglima perang Makassar dalam berbagai pertempuran dengan Belanda bernama Kare Mamu tiba di Banten. Dia segera bergabung dengan Kraeng Bonto Maranmu dan Kraeng Luwu’ untuk membantu rencana pertahanan Banten. Kare Mamu menjanjikan kekuatan sebesar 3000 pasukan kepada Sultan Banten. Mereka berasal dari orang-orang Makassar yang sudah lebih dahulu tinggal di pesisir Jawa. Tawaran indah itu tentu diterima dengan senang hati oleh Sultan. Sebagai gantinya, pihak Banten harus memberikan sebuah kapal besar, lengkap dengan isinya untuk mengangkut pasukan tersebut. Kedua pihak sepakat. Namun ketika hendak membuang sauh di pelabuhan, mata-mata Sultan Banten memberi laporan bahwa Kare Mamu mulai bertingkah dengan membawa lima budak Banten di atas kapalnya. Hal itu membuat sultan berang. Pelayaran pun dibatalkan. Tindakan Kare Mamu telah mengurangi kepercayaan sultan kepada orang-orang Makassar itu. Ditambah para tamunya itu terus menguras pemasukkan Banten karena sebagian besar dari mereka benar-benar menggantungkan hidupnya dari pemberian sultan. Persitiwa lain yang semakin memperburuk hubungan Banten dan Makassar adalah kasus pencurian yang dilakukan orang Makassar di istana. Pada pertengahan 1673, dua orang Makassar tertangkap basah menyelinap masuk ke kamar sultan di istana. Mereka mencuri banyak perhiasan, pakaian-pakaian mahal, dan sejumlah senjata. Keduanya segera diboyong keluar. Di depan gerbang istana, tangan kanan keduanya dipotong dan sultan menghukum mereka dengan tusukan tombak. “Tetapi semua pemuka Makassar tegak di hadapan Sultan, berlutut, dan minta ampunan. Hati Sultan menjadi lunak dan hukuman itu diubah menjadi pembuangan kembali ke Makassar,” imbuh De Graaf. Tapi rupanya pengampunan itu tidak cukup membuat jera. Pada 1674, dua orang Makassar mengamuk di kota. Sejak saat itu sultan menyuruh penjagaan ketat dilakukan di istana, dan melarang orang Makassar masuk ke pusat kota Banten. Selain itu, sultan juga memberlakukan jam malam bagi orang Makassar. Siapapun yang melanggar aturan itu akan dibunuh di tempat. Lebih buruk lagi, penduduk Banten dilarang memberi hunian kepada orang Makassar. Sehingga perlahan orang-orang Makassar terusir dari Banten. Pemimpin mereka juga mulai diperintahkan keluar dari wilayah Banten, membawa serta rombongan yang dibawanya. “Kepastian menjadi jelas setelah diperoleh berita bahwa dari pantai timur Jawa kedua orang pemimpin Makassar itu menyatakan perang terhadap Sultan Banten. Segera pula raja menyuruh mempersiapkan sepuluh kapal untuk mengangkut orang-orang Makassar yang masih tersisa di Banten,” tulis De Graaf.*




















