top of page

Hasil pencarian

9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Layar Kehidupan Robert De Niro

    SUDAH 55 tahun ia berkecimpung di industri layar perak. Usianya kini sudah menginjak 77 tahun. Kendati demikian, Robert De Niro belum akan tutup layar kariernya. Sepanjang masih bisa bernafas, sang aktor kondang nan eksentrik itu masih akan menggeluti dunia peran. Hingga tahun ini De Niro sedikitnya sudah membintangi 129 film sejak 1965. Film terakhirnya yang rilis 12 Oktober adalah film bergenre komedi kelam The Comeback Trail.  Sebelumnya, pada 2019, De Niro bergabung di proyek film garapan sineas legendaris Martin Scorsese, The Irishman.  Film ini sukses besar di pasaran global meski De Niro gagal menyabet satupun Piala Oscar walau mendapat sembilan nominasi. Kini De Niro kembali bekerjasama dengan Scorsese dalam film yang masih tahap pra-produksi bertajuk Killers of the Flower Moon . Film ini diprediksi baru akan rampung dan rilis pada 2022. “Bersama Scorsese sudah 10 film, termasuk Flower Moon . Selalu senang dan hebat rasanya bisa bekerja lagi dengan Martin. Saya beruntung punya hubungan pekerjaan dengan dia dan dalam sedemikian waktu selalu spesial. Tidak ada rahasia apapun di antara saya dengan Martin. Hubungan spesial itu terjadi begitu saja,” tutur De Niro dalam diskusi daring “Living Live” yang dipandu aktor Reza Rahadian dan eks Dubes RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal di Mola TV , Rabu (16/12/2020) malam. Sudah 10 film yang dikerjakan De Niro dan sineas legendaris Martin Charles Scorsese. (Instagram @theirishmanfilm). Keluarga Seniman Dalam diskusi itu, aktor gaek berdarah Italia itu juga berbagi kisah tentang bagaimana ia pertamakali terjun ke dunia akting sejak usia dini. Darah seninya tak lain diturunkan ayah dan ibunya yang menekuni seni lukis kala De Niro lahir pada 17 Agustus 1943 di New York, Amerika Serikat. De Niro merupakan anak tunggal pasangan Robert Henry De Niro Sr. dan Virginia Holton Admiral. Henry punya darah Irlandia dan Italia, sementara Virginia keturunan Belanda, Inggris, Prancis, dan Jerman. Keduanya sama-sama pelukis. Ketika De Niro berusia dua tahun, rumahtangga Henry-Virginia retak. Mereka bercerai setelah Henry menjadi gay. Meski akhirnya berpisah, Henry tetap tinggal tak jauh agar hubungannya dengan putra semata wayangnya tetap dekat. Ketika bersekolah di Public School 41, De Niro terjun ke dunia seni peran dengan mengikuti kelas akting di Dramatic Workshop. “Saya belajar akting sejak kecil dari usia 10. Lalu sempat berhenti ketika berumur 15. Tetapi saya mulai lagi untuk akting pada usia 18 tahun. Orangtua saya karena mereka juga seniman, tentunya tidak melarang dan justru mendukung. Orangtua saya mengatakan bahwa semua orang bisa menjadi aktor asal mau banyak belajar dan bekerja keras,” ujar De Niro. De Niro mengungkap kisahnya di "Living Live Mola TV". (Tangkapan layar Mola TV). Setelah lulus dari Rhodes Preparatory School di usia 18 tahun, De Niro mulai membidik masa depannya dari atas panggung teater sebelum beralih ke layar kaca dan kemudian layar lebar. Menurut Shawn Levy dalam De Niro: A Life , minat itu bermula dari getolnya De Niro terhadap sejumlah program di TV yang tengah jadi tren baru di Amerika medio 1963. “Ketika itu saya sedang memerhatikan sebuah acara TV dan saya bilang, ‘jika para aktor ini bisa punya mata pencaharian seperti ini, di mana akting mereka juga tidak bagus, maka saya tentu bisa tampil lebih baik dari mereka,” ujar De Niro dikutip Levy. Ia pun mengejar karier itu dengan belajar akting di HB Studio dan Lee Strasberg’s Actors Studio. Pada 1965 De Niro mendapat peran figuran di film pendek Encounter. Film berdurasi panjang pertamanya adalah Three Rooms in Manhattan . Seiring waktu, De Niro mulai mendapat peran yang lebih besar. Pada 1973, ia bertemu dan bekerjasama dengan Scorsese lewat film bergenre kriminal Mean Streets . Nama De Niro melejit lewat film Mean Streets garapan Martin Scorsese. (Warner Bros). Sejatinya, De Niro dan Scorsese bukan dua orang yang belum saling kenal sama sekali. Disebutkan Andrew J. Rausch dalam The Films of Martin Scorsese and Robert De Niro , dua orang keturunan Italia yang tumbuh di New York itu saling kenal wajah namun tak pernah berteman dekat. Mereka baru saling mengenal nama dan akrab kala bertemu di casting yang digelar  tim produksi Scorsese . “Kita pernah beberapakali juga bertemu dan saling sapa di acara makan malam dan dansa (komunitas) Amerika-Italia. Kita punya teman-teman yang saling mengenal satu sama lain,” kata De Niro dikutip Rausch. Sejak saat itu, Scorsese yang tahu beberapa film yang dibintangi De Niro mempercayakan salah satu peran utama di Mean Streets . Keputusannya tak keliru lantaran filmnya cukup sukses. Dari ongkos produksi hanya 500 ribu dolar, Mean Streets meraup keuntungan hingga 3 juta dolar. Kelak pada 1997, rol master film aslinya dilestarikan US National Film Registry ke Library of Congress karena filmnya dianggap punya pesan budaya, historis, dan estetika yang signifikan. Langganan Nominasi Oscar Film yang meroketkan nama De Niro tak lain adalah film racikan Francis Ford Coppola, The Godfather Part II (1974). Coppola sudah membidik nama De Niro lantaran pernah ikut casting di film epik kriminal pertamanya, The Godfather (1972). Maka ketika menggarap prequelnya, Coppola sudah mencanangkan keputusannya memilih De Niro untuk memerankan tokoh utama Vito Corleone di masa muda. Karakter kondang itu sebelumnya dimainkan aktor ternama Marlon Brando di The Godfather (1972). Namun, kata De Niro dalam diskusi di atas, dia mengaku tak banyak meniru Brando ketika memerankan Corleone di masa muda. “Sebelumnya saya tak pernah bertemu Marlon. Untuk menciptakan gaya karakternya saya hanya melihat lewat film pertamanya yang diputar kembali. Secara teknis saya sedikit mengambil gayanya tapi tidak dengan mimiknya. Saya punya gaya sendiri yang kemudian saya sesuaikan,” sambung De Niro. Karakter fiktif mafia legendaris Vito Corleone yang diperankan De Niro dalam  The Godfather Part II.  (Paramount Pictures). Tantangan lain yang membutuhkan pendalaman dalam memerankan Corleone adalah soal bahasa. Kendati punya leluhur Italia dan bisa sedikit bahasanya, De Niro tak bisa santai karena karakter Corleone merupakan mafia Italia berwatak dan punya dialek khas Sisilia. “Saya harus mempelajari dialek Sisilia karena di Italia punya beberapa dialek berbeda. Salah satu caranya, saya belajar dari seorang Sisilia di Los Angeles dan juga memperhatikan cara dia berbicara,” lanjutnya. Saat The Godfather Part II dirilis ke pasar, ia tak kalah meledak dari film pertamanya. De Niro bahkan meraih Piala Oscar pertamanya di kategori aktor terbaik lewat The Godfather Part II . Bersama Brando, De Niro membuat rekor pertama sebagai sepasang aktor yang memenangkan Piala Oscar dengan memerankan satu tokoh fiktif yang sama. Sejak kemenangan pertamanya itu, De Niro hampir tak pernah absen jadi langganan nominasi, baik di Academy Awards (Piala Oscar) maupun Golden Globe lewat kiprahnya di beragam genre film. De Niro memenangkan Piala Oscar keduanya sebagai aktor terbaik lewat drama biopik olahraga Raging Bull (1980). Raging Bull mengangkat riwayat Giaccobe ‘Jake’ LaMotta, petinju yang lantas jadi komika atau pelawak stand up-comedy . Ide film ini berasal dari De Niro setelah terpukau dengan kisah hidup LaMotta yang dibacanya dari memoar berjudul Raging Bull: My Story. De Niro lantas menyarankan Scorsese untuk mau mengangkatnya ke layar perak. Memerankan petinju Jake LaMotta dalam Raging Bull , De Niro meraih Piala Oscar keduanya sebagai aktor terbaik. (United Artists). Sembari syuting film The Deer Hunter, De Niro mempersiapkan fisiknya untuk film LaMotta. Oleh keluarga LaMotta, De Niro diberikan beberapa rekaman asli LaMotta ketika sedang berlatih untuk dipelajari gaya bertarungnya di atas ring kendati De Niro juga tak menirunya mentah-mentah. “Saya bertemu, menghabiskan waktu, dan dilatih LaMotta sendiri. Saya juga bertemu mantan istrinya sebagai salah satu upaya meneliti lebih dalam tentang Jake. Tapi pada akhirnya Anda harus punya interpretasi sendiri terhadap kehidupan dia. Juga saya tambahkan beberapa improvisasi, seperti ketika adegan dia di dalam penjara. Saya berimprovisasi menghantamkan kepala ke tembok karena saya ingin memperlihatkan keadaan seseorang yang sangat emosional dan batinnya yang sangat terbebani,” tambah De Niro. Kini di usia senjanya, De Niro mulai selektif terhadap tawaran-tawaran film mengingat fisiknya tak lagi seperti dulu. Ia lebih sering hadir dalam film-film bergenre komedi, seperti waralaba Meet the Parents (2000), Meet the Fockers (2006), dan Little Fockers (2010), dan The Comedian (2016). “Film komedi pertama saya The King of Comedy (1982) juga dikerjakan bersama Martin (Scorsese). Lalu juga ada trilogi Meet the Parents . Saya memang ingin membuat film komedi yang berbeda. Saya suka keeksentrikan masing-masing karakternya,” tandasnya.

  • CIA dan Lembaga Humor Indonesia

    ARWAH Setiawan bukan pelawak tapi menaruh minat besar pada humor. Dia menyampaikan gagasannya lewat tulisan di berbagai media massa dan ceramah. Bahkan, dia memprakarsai sebuah wadah untuk mengembangkan humor. Wadah itu, Lembaga Humor Indonesia (LHI), berdiri pada 29 November 1978. Arwah bersama para pengurusnya, antara lain Kris Biantoro, S. Bagyo, G.M. Sidharta, dan Bambang Utomo, menghadap Wakil Presiden Adam Malik.

  • Race, Kisah Dramatis Atlet Kulit Hitam di Pentas Olahraga Era Nazi

    SUATU pagi di tahun 1933. Duduk di sebuah ruang tunggu di Ohio State University, Jesse Owens (diperankan Stephan James) sangat gugup. Lututnya tak berhenti bergetar. Jemarinya juga tak bisa diam hingga ketika pelatih atletik, Larry Snyder (Jason Sudeikis), datang menyapanya. Sebagaimana pemuda kulit hitam yang berhadapan dengan sosok kulit putih di masa itu, Owens tak berani menatap langsung mata sang pelatih. Matanya tetap masih tertuju ke bawah ketika dia sudah berbincang di ruangan. Sikap Owens membuat Snyder memintanya untuk tidak takut menatap mata orang yang jadi lawan bicara. Dari berkas-berkas berisi catatan prestasi yang didapat dari pelatih atletik Owens di SMA, Snyder paham bahwa pemuda kulit hitam di hadapannya punya bakat alami. Namun, kata Snyder, bakat alami takkan cukup untuk membuat Owens menjadi atlet lari juara. Selain meminta Owens untuk mau berlatih keras, Snyder berharap Owens tahan banting terhadap beragam hal diskriminatif. Pasalnya yang akan dihadapi Owens bukan hanya para pesaingnya di trek lari, melainkan juga khalayak yang bakal mencacinya begitu tajam. Adegan yang menggambarkan titik balik kehidupan Owens itu jadi salah satu adegan kunci drama biopik bertajuk Race racikan sutradara Stephen Hopkins. Drama ini mengangkat satu bab paling dramatis dalam kehidupan pelari Afro-Amerika legendaris yang mencetak segudang rekor dunia itu. Adegan Jesse Owens ketika bertemu pelatihnya yang baru, Larry Snyder di Ohio State University. ( focusfeatures.com ). Cerita lantas dikebut Hopkins dengan menyajikan scene yang menggambarkan sejumlah prestasi Owens yang perlahan membalikkan cacian rasis menjadi sanjungan setelah menjadi manusia tercepat berkat besutan Snyder. Salah satunya di ajang Big Ten Conference 1935, di mana Owens memecahkan rekor dunia di kategori sprint 220 yard , lari gawang 220 yard (ukuran jarak di ajang domestik), serta lompat jauh. Di ajang kualifikasi tim atletik Amerika Serikat untuk Olimpiade Berlin 1936, Owens menyapu bersih tiga kemenangan di sprint 100 dan 200 meter, serta lompat jauh. Di situlah Hopkins membuka percabangan cerita dengan adegan petinggi Komite Olimpiade Amerika Avery Brundage (Jeremy Irons) yang mendapat tentangan dari para anggotanya soal keikutsertaan Amerika. Tentangan muncul karena saat itu Jerman di bawah Kanselir Adolf Hitler tengah gencar menggelar kebijakan antisemit. Hal itu sampai terdengar ke telinga Menteri Propaganda Jerman Dr. Joseph Goebbels (Barnaby Metschurat) yang jadi penanggungjawab olimpiade. Goebbels lalu mengundang Brundage, pebisnis kelas kakap sekaligus bos Komite Olimpiade Amerika, ke Berlin. Goebbels meminta Brundage untuk mau meyakinkan para anggotanya agar tak memboikot Olimpiade Berlin 1936. Sebagai kompensasi, Goebbels menawarkan kerjasama bisnis pembangunan Kedutaan Besar Jerman di Washington DC kepada Brundage. Sementara, Owens yang sudah lolos kualifikasi tak hanya dikhawatirkan ancaman boikot para anggota komite, tapi juga dari NAACP. Asosiasi warga kulit berwarna di Amerika itu menyerukan agar tak pergi ke Berlin untuk menegaskan sikap anti-Hitler. Hampir semua ajang domestik disapu bersih Jesse Owens menjelang Olimpiade 1936. ( focusfeatures.com ). Bagaimana kelanjutan drama penuh intrik yang harus dijalani Owens? Baiknya Anda saksikan sendiri film Race. Meski sudah rilis sejak Februari 2016, via streaming di Mola TV, Race bisa jadi hiburan dengan banyak informasi di masa pandemi COVID-19 ini. Tak hanya menarik, Race dikemas seotentik mungkin sesuai fakta historisnya. Diiringi scoring musik garapan Rachel Portman dengan beraneka genre musik, mulai dari yang beritme tinggi hingga orkestra bernada dramatis dan selebrasi, emosi penonton bakal dibawa naik-turun. Penggambaran latar belakang dari tim penyunting pimpinan John Smith juga ciamik. Syutingnya dilakoni di Olympiastadion Berlin. Tim Smith meramunya menggunakan teknologi efek visual CGI (Computer-Generated Imagery)agar menjadikan stadion megah yang sudah berubah wajah itu kembali seperti di tahun 1936. Dengan CGI pula sejumlah banner swastika di kota Berlin bisa dihadirkan, lantaran membuat banner asli akan menyinggung masyarakat Berlin yang masih sangat sensitif terhadap semua atribut Nazi. Tim penulis naskah yang dinakhodai Joe Shrapnel dan Anna Waterhouse membuat script berangkat dari pengombinasian sejumlah sumber historis lantaran para sejarawan dan pelaku sejarah hingga saat ini punya versi masing-masing pada beberapa kejadian. Tim juga berdiskusi dengan keluarga mendiang Owens. “Sejak awal kami dilibatkan. Pihak produksi menghubungi kami lima tahun lalu. Kami juga yang menyetujui naskah akhirnya sesuai permintaan kami. Kami gunakan hak veto kami untuk menolak beberapa hal (adegan fiktif, red. ). Fokus kami untuk memastikan sejarah tidak ditulis ulang dan mereka berpegangan pada fakta-fakta. Walau tentu kami menyetujui beberapa dramatisasi dalam proses kreatifnya,” tutur Marlene Owens Rankin, salah satu putri Owens, kepada TMZ Sports , 1 Desember 2016. Adegan intrik Joseph Goebbels (kanan) memberi tekanan kepada Avery Brundage ( focusfeatures.com ) Beberapa hal yang didramatisasi sebagai bagian proses kreatif dari pengalihwahanaan kisah ke layar perak itu antara lain, adegan ketika Dr. Goebbels menuntut Brundage untuk tidak menurunkan dua pelari Yahudi, Sam Stroller (Giacomo Gianniotti) dan Marty Glickman (Jeremy Ferdman), di nomor estafet 400 meter. Dalam film, Goebbels dan Hitler merasakan tamparan keras dari melihat pelari kulit hitam memenangi tiga medali emas. Goebbels tak ingin publik Jerman lebih dipermalukan jika ajang itu harus juga dimenangi pelari Yahudi. Saat Brundage hendak menolak, Goebbels mengancam akan menguak kesepakatan kerjasama antara dia dan perusahaan konstruksi Brundage terkait rencana pembangunan gedung Kedutaan Jerman di Washington. Brundage jelas terancam akan dicap pro-Nazi jika hal itu dibongkar Goebbels. Brundage kemudian digambarkan memerintahkan pelatih kepala tim atletik Amerika Lawson Robertson (Tony Curran) dan asisten pelatih Dean Cromwell (Jonathan Higgins) untuk menarik Stroller dan Glickman dari anggota tim estafet. Dramatisasi itu faktanya tak pernah terjadi. Menurut sejarawan David Clay Large dalam Nazi Games: The Olympics of 1936 , tak pernah ada fakta tentang kesepakatan dan perjanjian kerjasama antara pemerintah Jerman Nazi yang diwakili Goebbels dan perusahaan konstruksi milik Brundage untuk membangun gedung Kedutaan Jerman di Washington DC sebelum olimpiade. Kesepakatannya sendiri baru terjadi pada 1938 atau dua tahun setelah olimpiade. Dua pelari Yahudi Martin Irving 'Marty' Glickman & Sam Stroller dalam film dan dunia nyata. (IMDb/ ushmm.org ). Adegan Brundage memberi tekanan kepada pelatih kepala atletik Amerika untuk tak menurunkan Stroller dan Glickman pun faktanya masih abu-abu. Hingga detik ini, kebenarannya belum terungkap. “Brundage sendiri menyangkal terkait peranan apapun tentang keputusan itu. Dari sejumlah surat dan pernyataannya kepada publik di kemudian hari juga tak mengindikasikan peran apapun,” tulis Large. Kemunculan isu antisemit dan peran Brundage lahir dari klaim Glickman. Sementara menurut Stroller, keputusan Robertson dan Cromwell lebih berbau nepotisme karena dua pelari lain di tim estafet, yakni Frank Wykoff dan Foy Draper, merupakan anak asuh Cromwell di University of Southern California. Robertson dan Cromwell sendiri yang akhirnya memutuskan Owens dan Ralph Metcalfe sebagai pengganti Glickman dan Stroller. Keduanya beralasan karena mereka melihat tim Jerman dan Belanda sengaja menyimpan para pelari tercepat mereka untuk tampil all out di estafet 400 meter yang jadi ajang pamungkas cabang atletik. Bersama Ralph Metcalfe, Jesse Owens diturunkan menggantikan Glickman dan Stroller di estafet 400 meter untuk kemudian meraih emas keempatnya. (IMDb/Bundesarchiv). Uniknya, dalam beberapa kali latihan, Glickman dan Stroller justru punya catatan waktu lebih baik ketimbang Draper dan Wykoff. Oleh karenanya, isu tentang nepotisme dan antisemit itu terus bergulir menjadi kontroversi hingga empat dekade berikutnya. “Saya diberikan keputusan yang menyakitkan. Anda tak bisa menyimpan pelari tercepat begitu saja di ajang sebesar olimpiade. Jadi alasan mengapa saya dan Glickman tak diturunkan adalah pengaruh dari asisten pelatih yang menginginkan anak-anak asuhnya untuk tampil,” tutur Stroller dikutip Large. Fakta lain yang didramatisir adalah penggambaran Hitler menolak bertemu dan bersalaman dengan Owens yang memenangkan empat medali emas. Dalam film digambarkan Owens dibawa Brundage naik ke tribun kehormatan untuk bertemu Hitler sesuai yang dijanjikan sebelumnya. Tetapi setibanya di sana, Goebbels menyatakan Hitler sudah meninggalkan stadion dan takkan sudi berjabat tangan dengan seseorang dari ras inferior, betapapun hebatnya pencapaian Owens. Padahal, kenyataannya tak pernah terjadi adegan Brundage mengantar Owens dan kemudian ditolak Hitler. Yang terjadi, menukil Triumph: Jesse Owens and Hitler’s Olympics karya jurnalis olahraga Jeremy Schaap, hanya Owens pernah berpapasan secara tidak sengaja dengan Hitler. “Setelah menang, saya jalan buru-buru ke booth radio (untuk wawancara, red. ). Saat saya lewat dekat kanselir (Hitler), dia bangkit, melambaikan tangannya kepada saya dan saya membalas lambaian tangan juga. Saya pikir para penulis yang menganggap Hitler menolak saya menunjukkan selera buruknya dalam mengkritik orang terpenting di Jerman itu,” aku Owens, dikutip Schaap. Kanselir Jerman Adolf Hitler yang hadir di Olimpiade Berlin 1936. (Bundesarchiv/ focusfeatures.com ). Di Amerika, media ramai memberitakan hal itu. Beragam klaim muncul dalam pemberitaan, mulai dari soal Hitler yang menolak Owens hingga yang menyatakan di tajuk utamanya bahwa Hitler memberikan salam hormat ala Nazi kepada Owens. Yang membuat Owens kecewa, hampir tak ada yang mengkritik Presiden Amerika Franklin Delano Roosevelt yang malah tak mengakui pencapaian Owens. “Hitler tidak menolak saya. Adalah presiden (Roosevelt) yang menolak saya. Presiden bahkan tak mengirimkan telegram ucapan selamat karena katanya dia sedang sibuk,” sambung Owens. Hingga puluhan tahun kemudian, prestasi Owens mengharumkan negerinya tak diakui Gedung Putih. Pengakuan baru datang pada 1976 atau empat tahun sebelum Owens wafat (31 Maret 1980) lewat penghargaan Presidential Medal of Freedom yang dikeluarkan Presiden Gerald Ford, dan penghargaan Living Legend Award dari Presiden Jimmy Carter pada 1979. Satu dekade pascawafat, Presiden George Bush menganugerahkan Owens Congressional Gold Medal secara anumerta. Data Film: Judul: Race | Sutradara: Stephen Hopkins | Produser: Karsten Brünig, Luc Dayan, Kate Garwood, Jean-Charles Levy, Nicolas Manuel, Louis-Philippe Rochon, Dominique Séguin | Pemain: Stephan James, Jason Sudeikis, Carice van Houten, William Hurt, Jeremy Irons, Shanice Banton, Barnaby Metschurat, David Kross | Produksi: Forecast Pictures, Solofilms, Trinica, Trinity Race | Distributor: Entertainment One Films, LFR Films, SquareOne Entertainment, Focus Pictures | Genre: Biopik Olahraga | Durasi: 135 Menit | Rilis: 19 Februari 2016, 2020 ( MolaTV ) .

  • Ketika Demokrasi Mengendalikan Shinto

    Di depan corong radio nasional Jepang, Hideo Kishimoto, ahli budaya dan Shinto, mengumumkan hal penting pada 17 Desember 75 tahun silam. Pengumuman yang dibacakannya atas permintaan Civil Information and Educational (CIE), seksi di Supreme Commander for Allied Powers (SCAP) pimpinan Jenderal Douglas MacArcthur, itu tentang Shinto Directive yang dikeluarkan SCAP dua hari sebelumnya. Shinto Directive membawa Jepang keluar dari era lama yang banyak berdasarkan nilai-nilai Shinto. “Semangat kebebasan beragama dipatuhi sepenuhnya dan kebebasan berkeyakinan dalam menghormati tempat suci dijamin sepenuhnya. Kuil menghadapi kebutuhan untuk mengembangkan karakter religius mereka dan mulai sekarang dapat dengan bebas berusaha untuk membuat awal yang baru ke arah yang baru,” demikian penggalan pidato Kishimoto sebagaimana dikutip Helen Hardacre dalam Shinto: A History . Shinto Directive digagas MacArthur setelah penandatanganan penyerahan resmi Jepang kepada Sekutu di geladak kapal USS Missouri , 15 September 1945. Tujuannya untuk memisahkan Shinto (agama) dari negara. MacArthur menilai, pemisahan itu merupakan  prasyarat agar janji pembangunan politik dan ekonomi Jepang oleh Amerika pascaperang dapat dilaksanakan. Pembangunan hanya dapat dijalankan apabila sifat ultranasionalis dan militeristis pada rakyat Jepang sudah dihilangkan. Untuk dapat menghilangkan keduanya, dia –sebagaimana para sarjana Amerika memandang Shinto– menganggap bahwa yang pertama harus dibenai adalah akar dari keduanya, yakni Shinto. MacArthur kemudian menugaskan kepala CIE Letnan William K. Bunce, yang merupakan ahli budaya Jepang, untuk mengkonsep Shinto Directive. “Sebagaimana dinyatakan dalam kalimat pembukaannya, Directive tersebut dikeluarkan untuk (1) membebaskan rakyat Jepang dari paksaan langsung atau tidak langsung untuk percaya atau mengaku percaya pada suatu agama atau kultus yang secara resmi ditunjuk oleh negara, (2) untuk melepaskan diri Orang Jepang dari menanggung beban dukungan finansial wajib dari sebuah ideologi yang telah berkontribusi pada rasa bersalah perang mereka, kekalahan, penderitaan, privasi dan kondisi menyedihkan saat ini, (3) untuk mencegah terulangnya penyimpangan teori dan kepercayaan Shinto menjadi propaganda militeristik dan ultranasionalistik yang dirancang untuk menipu orang-orang dan memimpin mereka ke dalam perang agresi, dan (4) untuk membantu mereka dalam mengubah kehidupan nasional mereka untuk membangun Jepang baru berdasarkan cita-cita perdamaian dan demokrasi abadi. Tujuan tambahannya adalah untuk memperkuat prinsip kebebasan beragama,” tulis William P. Woodard dalam The Allied Occupation of Japan 1945-1952 and Japanese Religions. Bunce merespon perintah MacArthur dengan membentuk tim yang juga mengikutsertakan Kishimoto. Bagaimanapun, Bunce sadar urusan yang digarapnya merupakan isu amat sensitif. Pengikutsertaan Kishimoto dilakukan untuk mendapatkan pandangan lebih holistik mengenai Shinto sehingga tim terhindar dari membuat kesalahan fatal. Dalam studinya, tim membagi Shinto menjadi tiga: Kuil Shinto, Negara Shinto, dan Nasionalis Shinto. Negara Shinto, yang sebetulnya tidak pernah menjadi kebijakan resmi Kekaisaran, mendapat perhatian lebih karena MacArthur dan para sarjana Amerika menganggapnya sebagai pangkal masalah yang menyebabkan terjadinya Perang Pasifik. “Kalimat pembukaan studi tersebut mencatat bahwa Negara Shinto telah ‘digunakan oleh militeris dan ultranasionalis... untuk membangkitkan dan menumbuhkan semangat militer di dalam rakyat dan untuk membenarkan perang ekspansif,’” tulis Woodard mengutip kalimat pembuka draf. Yang membuat sulit tim adalah pembahasan mengenai kultus Kokutai , identitas nasional yang mendasari sistem pemerintahan, karena amat sensitif. Dalam soal ini, kaisar dan posisi politiknya mesti ditinjau ulang meski dalam pandangan masyarakat Jepang itu merupakan hal terlarang. Dalam keyakinan orang Jepang, kaisar merupakan titisan dewa Amaterasu. Oleh karena itu, Bunce merincinya lewat poin-poin spesifik agar mendapat pembahasan lebih dalam. Poin-poin itu antara lain: penilaian hari libur nasional; peringatan dan penghormatan pada korban perang melalui monumen, permakaman umum, dan tempat pemujaan bagi korban perang. Mengenai kaisar, tim merinci lebih dalam ke dalam sub poin, meliputi: pertanyaan umum tentang dugaan keilahian kaisar, yang turunannya antara lain penghapusan desain mata uang dan perangko yang militeristik di samping larangan literatur ultranasionalistik. Praktik membungkuk kolektif ke istana yang diterapkan di sekolah, dan perlakuan terhadap tempat-tempat tertentu yang ditunjuk secara khusus terkait erat dengan Kaisar Meiji. Kesimpulan Bunce, Shinto tak dapat dihapuskan dan dia menganggap tak perlu menghapuskannya. Adapun bahaya dari Negara Shinto yang diyakini Bunce terletak pada: dukungan sponsor, dan propagasi oleh negara; penggunaan mitologi samar-samar tentang asal ilahi tanah, kaisar, dan orang-orang yang ditetapkan oleh pemerintah Jepang dan nasionalis Shinto; dan paksaan yang diberlakukan pada semua orang Jepang untuk menjalankan ritual dan secara lahiriah menerima premisnya sebagai fakta sejarah. “Bahaya juga ditemukan bukan pada interkoneksi antara kaisar dan Shinto, tetapi dalam sifat khas dari sistem politik yang secara nominal menempatkan semua kekuatan sipil dan militer di tangan seorang raja-pendeta tetapi sebenarnya membiarkan kekuasaan itu menjadi dilakukan oleh setiap kelompok kuat yang menguasai mesin pemerintahan,” sambung Woodard. Dari hasil analisis itu, Bunce menawarkan solusi berupa: pemisahan menyeluruh antara agama dan negara, dan mengamankan revisi Konstitusi yang akan dilakukan terutama tentang penempatan kendali negara langsung di tangan perwakilan yang dipilih oleh rakyat. Bertolak dari solusi itu, Bunce merekomendasikan penghapusan semua dukungan, arahan, atau kendali pemerintah terhadap tempat-tempat suci, pendeta, upacara atau beragam ritual lain. Dengan begitu, Negara Shinto diposisikan sama dengan agama-agama lain. Kedua, Shinto mesti dihapus dari sistem pendidikan. Shinto hanya diizinkan berlanjut sebagai agama individu. Bertolak dari solusi itu, kata Woodard, Bunce merekomendasikan agar penyebaran Shinto dalam bentuk apapun dan dengan cara apapun di institusi pendidikan manapun yang didukung seluruhnya atau sebagian oleh dana publik harus dilarang. Kemudian, perintah kerajaan tentang Pendidikan, sebagai instrumen tunggal paling penting untuk memasukkan kesalehan dan kesetiaan kepada kaisar, harus diganti, diubah, atau ditafsirkan ulang dengan reskrip baru yang secara tegas menolak interpretasi ultranasionalistik atau dibuang dari sekolah. Semua altar Shinto, yang biasa disebut kamidana harus disingkirkan dari semua sekolah umum dan bangunan umum. Aturan wajib hadir siswa dan guru di kuil harus secara tegas dilarang dan diskriminasi terhadap siapa pun karena pandangannya tentang Shinto tidak boleh diizinkan. Terakhir, Dewan Kuil ( Jingi-in ) Kementerian Dalam Negeri dan semua lembaga yang didukung sepenuhnya atau sebagian oleh dana publik dan memiliki fungsi utama baik penyelidikan maupun penyebaran Shinto atau pelatihan imamat harus dihapuskan. Tiga bulan setelah berjibaku lewat studi dan diskusi, tim berhasil menyelesaikan draf mentah. Setelah dilaporkan kepada SCAP pada 3 Desember dan hasilnya memuaskan, draf mengalami perbaikan redaksional. Setelah semua selesai, SCAP mengeluarkannya sebagai kebijakan resmi pada 15 Desember. Dua hari kemudian, Kishimoto mengumumkannya dalam siaran radio. Respon orang Jepang berbeda-beda terhadap Shinto Directive. Ada yang sekadar tidak setuju, benci, melawan, acuh tak acuh, ada pula yang mendukung. Pemerintah Jepang mematuhi Shinto Directive. Dewan Kuil bahkan telah mengeluarkan instruksi kepada tiap kepala prefektur agar menghentikan kontribusi ke kuil-kuil di wilayah masing-masing sehari setelah pengumuman Kishimoto. “Untuk alasan yang berkaitan dengan reorganisasi kuil dan penggabungannya di bawah Ordonansi Organisasi Keagamaan, beberapa undang-undang tidak sepenuhnya dihapuskan sampai Februari 1946. Pada tanggal 1 Dewan Kuil dan Kantor Pembangunan Kembali Ise ( Zojingu Shicho ) di Kementerian Dalam Negeri dibubarkan dan keesokan harinya dikeluarkan perintah untuk menghapus atau mengubah 34 aturan hukum yang berkaitan dengan Shinto. Demikianlah Negara Shinto berakhir,” tulis Woodard. Kendati beitu, orang-orang di Kuil Kume di Prefektur Shimane membujuk walikota dan kepolisian setempat agar bergabung ke dalam barisannya sebagai oposisi. Akibatnya, polisi dari tingkatan lebih tinggi mengambil tindakan. “Polisi mengintimidasi anggota Society dengan menginterogasi mereka, menyita daftar keanggotaan, dan mencoba untuk mengusir mereka,” tulis Helen. Meski tujuannya baik, kemunculan Shinto Directive tetap tak lepas dari pertanyaan. “Liputan surat kabar tentang Shinto Directive sangat minimal dan menunjukkan ketertarikan paling besar pada pertanyaan apakah kaisar akan dipaksa turun tahta atau sistem kekaisaran dihilangkan sama sekali. Tetapi karena instruksi itu dikeluarkan hanya empat bulan setelah penyerahan, kekhawatiran tentang bertahan hidup dari satu hari ke hari berikutnya masih menjadi perhatian utama semua orang. Selain itu, Pendudukan telah memberlakukan kebijakan penyensoran yang dimulai pada September 1945, sehingga bahkan jika seseorang dengan keras tidak menyetujui Shinto Directive, protes tampaknya tidak akan terjadi. Dilarang mengkritik Pendudukan atau kebijakannya, sebuah sikap ironis bagi sebuah rezim yang bermaksud mendemokratisasi Jepang,” tulis Helen

  • Drama Penangkapan Brigjen Soepardjo

    Brigjen Mustafa Sjarief Soepardjo jadi buronan kelas kakap. Kodam V/Jaya  memasukkan namanya ke dalam daftar hitam pencarian. Soepardjo diburu karena dianggap bertanggung jawab dalam operasi makar Gerakan 30 September 1965 (G30S). Padahal, Soepardjo sebelumnya bertugas di Kalimantan Barat sebagai panglima Komando Tempur Ganyang Malaysia. Soepardjo dalam kesaksiannya di Mahkamah Militer Luar Biasa: Perkara M.S. Supardjo , mencatat bahwa banyak sekali berita-berita suratkabar ibukota yang memberitakan dirinya. Termasuk pula foto-foto maupun reklame yang bertuliskan, “tangkap hidup atau mati Supardjo ex brigadir jenderal TNI adalah gembong Gestapu/PKI” dan sebagainya. Dewan Revolusi yang berada di balik G30S, menempatkan Soepardjo sebagai orang kedua setelah Letkol Untung Sjamsuri. Untung sendiri telah dieksekusi mati pada akhir Maret 1966 di daerah Cimahi, Jawa Barat. Sementara itu, pemimpin PKI D.N. Aidit sudah lebih dulu dieksekusi di Boyolali, Jawa Tengah, diperkirakan itu terjadi pada November 1965. Tersisa Sebatang Kara Menurut Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang . Soepardjo merupakan satu-satunya pimpinan militer G30S yang belum berhasil diciduk sampai awal 1967. Di sisi lain, komplotannya sudah berhasil ditumbangkan atau diringkus. Melihat kenyataan tersebut, sosok Soepardjo memang perlu dicermati. Mengapa dia sanggup bertahan begitu lama? “Sebagai seorang perwira tinggi berkualifikasi Rangers , ternyata hanya dia yang tetap bisa menunjukkan kemampuan. Sanggup berjuang sendirian dalam belantara Ibu Kota,” tulis Julius Pour. Terhitung, satu setengah tahun lamanya Soepardjo meloloskan diri sejak G30S meletus. Soepardjo mulai menghilang setelah kemunculan terakhirnya di kawasan Halim Perdanakusuma pada awal Oktober 1966. Mula-mula. dia bersembunyi di sebuah rumah di belakang gedung hiburan Miss Cicih, Pasar Senen selama satu malam. Di daerah itu, Soepardjo berkenalan dengan beberapa orang anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Salah seorang dari mereka bernama Saleh mengajak Soepardjo menetap di Cilincing, Jakarta Utara. Selama empat bulan bermukim di Cilincing, Soepardjo tinggal berpindah. Mulai dari rumah Mayor (Laut) Suwardi, kemudian Kapten (Laut) Nandang, hingga sekali waktu di rumah Kopral (Udara) Sutarjo di Komplek AURI Halim Perdanakusuma. Atas bantuan Suwardi, Soepardjo berhasil memiliki KTP baru Kelurahan Semper dengan nama Sjarief. Mengibuli Kalong Untuk menangkap Soepardjo, Kodim 0501 Jakarta Pusat membentuk satuan tugas dengan sandi “Operasi Kalong” pada 16 Agustus 1966. Mendengar namanya, dapat ditebak operasi ini bergerak pada malam hari. Operasi Kalong dipimpin oleh Kapten (Inf.) Suroso, beranggotakan 8 intel dari kodim-kodim di wilayah Kodam V/Jaya. Pada 24 Desember 1966, tim Operasi Kalong melancarkan operasi penyergapan. Namun, Soepardjo keburu mencium gelagat tidak aman sehingga dia berhasil meloloskan diri. Meskipun demikian, anggota Satgas Operasi Kalong berhasil mengetahui tempat persembunyian Soepardjo. Keesokan hari, upaya penyergapan kedua dilancarkan. Satgas Operasi Kalong bekerja sama dengan beberapa anggota Angkatan Laut yang tinggal di daerah sekitar persembunyian Soepardjo. Operasi kedua ini dilakukan dengan sangat hati-hati sekaligus dipersiapkan sebagai hadiah “Natal”. Lagi-lagi Soepardjo gagal diringkus. “Rupanya Soepardjo memiliki feeling yang tajam dan gerakan yang licin bagaikan belut. Ia kembali berhasil meloloskan diri dari upaya penyergapan,” tulis Ki. Onto Bogo dalam “Operasi Unik: Penyergapan Gembong PKI Ex Brigjen Supardjo” termuat di majalah Senakatha, No. 19, Oktober 1994. Setelah berhasil mengelabui pemburunya, Soepardjo bergegas meninggalkan daerah Cilincing. Soepardjo menuju kawasan Halim Perdanakusuma dengan menyamar sebagai pedagang radio keliling. Penyaramarannya cukup apik. Jenderal bintang satu ini berpakaian layaknya pedagang keliling berkopiah hitam dan berkacamata. Soepardjo yang berperawakan gagah dan berkumis sedang itu menggunakan nama samaran: Ibrahim. Tertangkap di Loteng Setiba di Halim, Soepardjo menumpang di rumah seorang kenalannya bernama Kopral Udara Sutarjo yang tinggal di Komplek AURI Rajawali. Sutarjo meyediakan kamar khusus yang berfungsi sebagai kamar kerja maupun kamar tidur bagi Soepardjo. Namun, bila sewaktu-waktu situasi tidak aman, Soepardjo tidur di atas loteng yang diatur sedemikian rupa. Di tempat ini pula Soepardjo menyimpan risalah yang ditulisnya sendiri bertajuk “Beberapa Pendapat jang Mempengaruhi Gagalnja ‘G-30-S’ Dipandang dari Sudut Militer”.  Satgas Operasi Kalong terus membuntuti Soepardjo. Kapten Suroso memimpin langsung operasi penangkapan sekaligus menjalin kerja sama dengan Komandan Pangkalan AU Halim Perdana Kusuma Kolonel (Udara) Rusman. Untuk itu, AURI  memperbantukan 4 intel dan 8 anggota Polisi Militer Angkatan Udara. Sejak itu, Satgas Operasi Kalong beranggotakan 20 orang.  Memasuki Idul Fitri, 12 Januari 1967, Satgas Operasi Kalong bergerak dari markasnya di bilangan Tanah Abang menuju Halim pukul 03.00. Pukul 05.00, tim menggerebek kediaman Kopral Sutarjo. Kapten Suroso memerintahkan anak buahnya memeriksa setiap penjuru rumah. Setelah semua kamar digeledah, buronan yang dicari tidak ketemu. Kapten Suroso kemudian memerintahkan Sersan Sukirman dan Peltu Rosadi naik ke atap untuk memeriksa loteng. Dalam keadaan remang temaram, Peltu Rosadi melaporkan adanya benda putih tergeletak di sudut loteng. Sementara itu, Kapten Suroso mendengar bunyi gesekan kaki di atap yang mencurigakan. Untuk memastikan, Peltu Rosandi diperintahkan sekali lagi naik ke atap dan menyergap. Setiba di loteng terjadilah percakapan antara Peltu Rosandi dan Brigjen Soeparjo. “Kalau manusia harap menyerah, tetapi kalau bukan akan saya tembak,” seru Peltu Rosandi. Mendengar ancaman itu, Soepardjo memperlihatkan diri dan membalasnya dengan jawaban, “ya, saya menyerah,” sebagaimana terkisah dalam Senakatha . Supardjo berhasil ditangkap hidup-hidup dalam suatu penggerebekan setengah jam yang mencekam. Setelah diringkus, Soepardjo diangkut panser ke markas Kodim 0501. Kedua belah tangannya diborgol. Ketika memasuki anak tangga depan kantor Kodim, sebagaimana dicatat juru warta TVRI Hendro Subroto dalam Dewan Revolusi PKI , keringat mengucur dari wajah Soepardjo sambil tangannya bergetar. Soepardjo kemudian dihadapkan kepada Komandan Kodim 0501 Letkol Sudjiman yang dulu pernah jadi anak buahnya.   Penangkapan Soepardjo, seperti disebutkan Ki Onto Seno melahirkan guyonan, “Baru dalam sejarah, ada jenderal diterkam kalong di atas loteng rumah.” Sementara itu, berbagai media ibukota ramai-ramai memberitakannya sebagai hadiah Lebaran bagi umat Islam Indonesia. Namun, Oei Tjoe Tat, menteri Kabinet Dwikora dalam Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno agaknya meragukan peran Soepardjo sebagai otak di balik G30S. Menurut Oei, Soepardjo pernah menyampaikan kepadanya tentang adanya golongan yang serius dengan konfrontasi dan ada golongan yang cuma pura-pura saja demi duit. “Sekiranya benar, ia tidak berniat berontak terhadap pemerintahan Sukarno,” kata Oei.

  • Bu Ruswo, Pahlawan dari Balik Dapur Umum

    Dalam keadaan lelah usai menyabung nyawa dalam pertempuran di front Bukateja, Purbalingga pada 1947, prajurit-prajurit republik terpaksa “berjuang” kembali untuk bisa kembali ke tempat asal, Yogyakarta. Selain terpaksa duduk di bordes rangkaian kereta api, mereka mesti menahan lapar di tengah udara dingin sepanjang perjalanan Temanggung-Yogyakarta itu lantaran gerimis. “Kalau begini ada Bu Ruswo tidak bakal lapar. Tidak bakal haus. Tidak bakal kedinginan. Mulut bisa ngebul!” kata salah satu prajurit kepada temannya, seperti diceritakan Tjiptoning dalam Majalah Minggu Pagi , 1 Februari 1959. Namun, setibanya di Stasiun Tugu, Yogyakarta, asa mereka kembali muncul. Seorang yang mereka harapkan telah siap sedia. Dialah Ibu Ruswo, ibunya para prajurit. Bu Ruswo merupakan orang yang berperan penting pada masa revolusi fisik di Yogyakarta. Ia tak mengangkat senjata dan maju ke medan pertempuran, namun berjuang di belakang layar dengan memasok logistik bagi para prajurit. Lahir dengan nama Kusnah pada 1905 di Yogyakarta, ia kemudian lebih dikenal sebagai Bu Ruswo sejak menikah dengan pemuda bernama Ruswo Prawiroseno. Pada 1928, Bu Ruswo mulai aktif dalam berbagai organisasi. Mulanya ia bergabung dengan Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO), organisasi kepanduan yang berdiri sejak 1926. INPO kemudian melebur dengan beberapa kepanduan lain menjadi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). Menurut Tjiptoning, Bu Ruswo memang memiliki minat dalam kepanduan. Selama aktif dalam kepanduan, Bu Ruswo seringkali berperan dalam mengurus logistik. “Di Jogja, ada jambore KBI urus makanan. Ada Perkino (Perkemahan Kepanduan Indonesia) di Ambarwinangun (Jogja) – Sri Sultan untuk pertama kalinya hadir; zaman Belanda!-, urus makanan. Ada Kongres Indonesia Muda, urus makanan. Ada Kongres Taman Siswa, urus makanan, ada Kongres PNI, Kongres Partindo, kongres PSSI (sepakbola) urus makanan!,” tulis Tjiptoning. Pada zaman pendudukan Jepang, Bu Ruswo bergabung dengan Badan Pembantu Prajurit Indonesia (BPPI). BPPI kemudian berubah menjadi Badan Penolong Keluarga Korban Perjuangan. Karena keaktifannya, Bu Ruswo bersama kawannya Lasmidjah Hardi pernah dipanggil pemerintah Dai Nippon. "Dengan hati berat dan bermacam-macam pertanyaan dalam hati, kami menghadap. Tapi syukurlah bukan hukuman yang kami terima, melainkan tugas untuk memimpin Fujinkai (organisasi wanita) di Yogyakarta,” tulis Lasmidjah Hardi dalam Sumbangsihku bagi Pertiwi: (Kumpulan Pengalaman dan Pemikiran). Selama Revolusi Fisik di Yogyakarta, Bu Ruswo aktif mengorganisir dapur-dapur umum di setiap kantong pasukan Republik. Ia juga menggerakkan para perempuan agar turut membantu perjuangan dari belakang layar, di samping mengumpulkan sumbangan penduduk untuk memenuhi kebutuhan logistik. Menurut Pranoto Reksosamodra, yang kelak menjadi Asisten Pernsonalia Men/Pangad, dalam Memoar Mayor Jenderal Raden Pranoto Reksosamodra, Bu Ruswo rajin keluar masuk kota-kota yang kala itu diduduki pihak Belanda. “Dia bertugas sebagai kurir atau berbelanja keperluan kami yang sedang bergerilya di luar kota,” tulis Pranoto . Pranoto mengenang, suatu ketika dia bertemu dengan Bu Ruswo yang membawakan oleh-oleh surat kabar, kemenyan, kelembak, dan tembakau. Dengan itu, dia dan gerilyawan lainbisa merokok meski kertas rokoknya menggunakan surat kabar bekas. Meski dikenal sebagai pahlawan dari dapur umum, Bu Ruswo sebenarnya tak melulu mengurus makanan. Ia sempat bergabung dengan Komite Pembela Buruh Perempuan Indonesia, Komite Penyokong Perguruan Indonesia, hingga Perkumpulan Pembrantasan Perdagangan Perempuan dan Anak (P4A). Dalam Peng hancuran Gerakan Perempuan, Saskia Wieringa mencatat bahwa Bu Ruswo turut hadir dalam Kongres Persatuan Perkumpulan Isteri Indonesia (PPII) II di Surakarta pada 1932 di mana isu perdagangan perempuan santer diperbincangkan. Bu Ruswo, sebagaimana dikutip Wieringa dari Perikatan Perkoempoelan Isteri Indonesia, mengatakan bahwa perdagangan perempuan merupakan “penyakit dunia.. yang sudah ada sejak dulu kala sampai dewasa ini, dari Timur maupun sampai Barat… Suatu penyakit yang merajalela di setiap sudut hubungan manusia, dari tingkat rendah sampai tinggi, di kalangan kulit putih dan berwarna.” Namun, lantaran sudah terlanjur dikenal sebagai pahlawan dari balik dapur umum, aktivitas maupun pemikiran Bu Ruswo dalam berbagai organisasi perempuan hampir tak tercatat dalam sejarah. Atas jasa-jasanya, pada 1958 Bu Ruswo dianugerahi B intang Gerilya oleh Presiden Sukarno yang diberikan bersama penganugerahan untuk almarhum Jenderal Sudirman dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Nama Bu Ruswo kemudian diabadikan menjadi nama jalan di Yogyakarta, Jalan Ibu Ruswo.

  • Lika-liku Mobil Listrik yang Menggelitik

    SEMENJAK Raja Kasunanan Surakarta Pakubuwono X memiliki “kereta setan” alias mobil, jumlah kendaraan bermotor empat roda terus bertambah. Namun, pertambahan mobil sebagai kendaraan pribadi masyarakat Indonesia berjalan lambat. Penggunaan mobil baru masif jauh setelah Indonesia merdeka, terutama setelah masuknya mobil-mobil Jepang pada 1970-an. Masifnya penggunaan mobil sebagai kendaraan pribadi membuat pasar otomotif tanah air membesar. Para produsen dari berbagai belahan dunia tertarik. Beragam jenis mobil berikut teknologi yang menyertainya pun bermunculan. Isu kelestarian lingkungan menjadi tantangan sekaligus pangsa pasar tersendiri yang mendorong para produsen mengembangkan mesin bertenaga listrik sebagai pengganti mesin bertenaga bahan bakar minyak (BBM). Di Indonesia, Hyundai menjadi pelopornya dengan meluncurkan mobil listrik murni Ioniq Electric dan SUV (Sport Utility Vehicle) Kona Electric oleh PT Hyundai Motor Indonesia pada 6 November 2020. Beragam fitur teknologi yang disandang Hyundai Ioniq dan Kona merupakan bagian dari perjalanan sejarah panjang mobil listrik. Laju Sejarah Mobil Listrik Embrio mobil listrik muncul pertamakali pada 1828 lewat mesin elektrik ciptaan Ányos Jedlik, ilmuwan Hungaria sekaligus pendeta Ordo Santo Benediktus. Bereksperimen sejak setahun sebelumnya,dengan hanya bermodalkan imajinasi, Jedlik menciptakan alat penggerak elektromagnetis yang dinamakannya lightning-magnetic self-rotor (baling-baling kilat magnetis yang bergerak sendiri). “Bagaimana jika, secara kebetulan, sebuah aliran listrik cukup besar yang melewati kumparan ditempatkan di sekitar pasak magnetis? Jika hasilnya membuat pasaknya lebih kuat, maka aliran listriknya akan membuat sekeliling pasaknya lebih kuat pula, di mana hal itu akan memberikan aliran lebih kuat lagi hingga sebuah batas tertentu,” ungkap Jedlik dalam catatannya, dikutip Kevin Desmond dalam Innovators in Battery Technology: 95 Influential Electrochemist . Jedlik lantas menjajal alat buatannya dengan menempatkan di sebuah kendaraan kecil seukuran mainan. Percobaannya berhasil, namun karya Jedlik itu dianggap tak punya prospek apapun saat itu. “Mesinnya tak punya tujuan pengaplikasian yang praktis, apalagi komersial sebagaimana pandangan Ordo Benediktus saat itu, hingga akhirnya ciptaannya dikesampingkan. Ia juga tak pernah lagi membicarakan penemuan revolusionernya itu selama tiga dekade berselang,” sambung Desmond. Ányos István Jedlik dengan mesin listrik ciptaannya. (anc/ jedliktarsasag.hu ). Di periode yang sama, ilmuwan asal Skotlandia Robert Anderson menciptakan hal serupa. Dia membuat purwarupa kereta yang tak digerakkan dengan kuda, melainkan dengan baterai pada 1832. “Hanya sedikit yang diketahui dari penemuan Robert Anderson –sayangnya detail-detail tentang kendaraan buatannya sudah hilang. Hanya diketahui antara 1832-1839 d ia mendesain, membangun, dan menguji kereta yang digerakkan baterai. Anderson juga sayangnya belum punya alternatif selain menggunakan baterai berisi sel-sel timbal-asam non-isi ulang. Baterai yang rechargeable sendiri baru ditemukan pada 1859,” tulis Nigel Burton dalam History of Electric Cars. Meskipun penemuan Anderson hanya jadi catatan kaki dalam historiografi mobil listrik, nama Anderson tetap diakui sebagai pionir mobil listrik. Anderson tak seberuntung ilmuwan Belanda Sibrandus Stratingh. Bila penemuan Anderson minim apresiasi, kereta tiga roda berpenggerak baterai karya Stratingh pada 1834 diapresiasi secara luas. Ciptaan Stratingh itu berupa kereta terbuat dari kayu berbobot tiga kilogram yang ditempatkan dua pelat kumparan masing-masing bermaterial tembaga dan seng. Di atas keretanya, Stratingh menempatkan sebuah guci berisi asam encer. Idenya datang setelah membaca sejumlah riset karya Moritz von Jacobi yang mendesain mesin elektromagnetik di St. Petersburg, Rusia. Sibrandus Ezn. Stratingh dengan kereta bermesin listrik pertamanya. ( rug.nl ). Dibantu mekanik Christopher Becker, Stratingh membuat beberapa purwarupa untuk dijajal beperjalanan keliling kota Groningen pada 22 Maret 1834. Suratkabar Groninger Courant edisi 27 Maret 1834 melaporkan, percobaan perdana Stratingh berjalan lancar tanpa masalah apapun. “Pada pagi 22 Maret, perjalanan ujicoba pertama dilakukan Tuan Stratingh dan Becker dengan kendaraan mereka yang beperjalanan melalui jalan-jalan berliku di kota dengan hasil positif. Para pembuatnya sangat senang dengan pengujiannya hingga mereka merasa masih bisa melakukan pengembangan lagi agar juga bisa melewati jalan-jalan berbatu tanpa masalah,” demikian Groninger Courant memberitakan . Kereta buatan Stratingh melakoni pengujian jarak jauh pertamanya pada 3 November 1835 dengan rute Groningen-De Punt yang berjarak 20 kilometer. Hasilnya memuaskan. Kabar keberhasilan itu mencapai telinga Raja Willem I yang lantas memberi Stratingh insentif 600 gulden demi melanjutkan penelitiannya dan berbagi pengetahuan ke sejumlah kampus. Namun, penelitian Stratingh acap terhambat karena kesehatannya mulai terganggu. Sepeninggal Stratingh yang tutup usia pada 15 Februari 1841, pengembangan mobil listrik dilanjutkan insinyur Prancis Gustave Trouvé. Dengan ketersediaan baterai timbal-asal yang bisa diisi ulang ciptaan ilmuwan Belgia Gaston Planté, pada 1881 Trouvé menciptakan mobil beroda tiga yang bisa mengangkut manusia. “Trouvé sebelumnya mengembangkan mesin itu untuk pengaplikasian transportasi air, hingga menghasilkan perahu bermesin listrik pertama yang melintasi Sungai Seine, hingga kemudian dia mengadaptasikannya ke sebuah kendaraan beroda tiga Coventry-Rotary,” sambung Burton. Purwarupa pertama mobil Trouvé lahir pada 26 Mei 1881. Dalam pengujiannya, kendaraan itu bisa melaju hingga kecepatan 3,6 km/jam saat jalan menanjak dan 9 km/jam di jalanan menurun. Dia memamerkan penemuannya di Exsposition Internationale d’Électricité di Paris, 15 Agustus-15 November 1881. Thomas Parker, insinyur Inggris yang kondang berkat inovasinya berupa trem di Liverpool dan Birmingham, turut menciptakan mobil bertenaga listrik pada 1884. Mobil beroda empatnya bahkan bisa mengangkut tiga orang. Kelebihan mobil Parker adalah mesinnya tak mengepulkan asap seperti buatan Trouvé atau Stratingh. Searah jarum jam: kolase mobil listrik ciptaan Gustave Pierre Trouvé, Thomas Parker, Andreas Flocken dan LRV milik NASA. (Bibliothèque Nationale de France/ evrijders.nl /Deutsches Museum/ nasa.gov ). Empat tahun berselang, giliran ilmuwan Jerman Andreas Flocken melaju dengan mobil ciptaannya, Flocken Elektrowagen. Mobil ini diklaim sebagai mobil listrik pertama yang dilengkapi penerang listrik di depannya dan diproduksi massal oleh Macinenfabrik A. Flocken di Coburg. Amerika Serikat baru mengikuti pada 1890 lewat kereta bermesin listrik pertama yang bisa mengangkut penumpang hingga 12 orang ciptaan William Morrison. Dibuat di Des Moines, Iowa, mobil ini bisa melaju hingga 23 km/jam. Mobil ini ditenagai mesin listrik dengan baterai yang bisa diisi ulang dan dilengkapi sistem gir dan mekanisme setir yang lebih praktis ketimbang para pendahulunya. Diklaim sebagai mobil listrik praktis pertama, mobil Morrison jadi pijakan awal kepopuleran mobil listrik hingga akhir abad ke-19. Dalam Used Battery Collection and Recycling , G. Pistoia, JP Wiaux, dan SP Wolsky menulis, mobil listrik mampu bersaing dengan mobil Internal Combustion Engine (ICE) atau mobil konvensional BBM di pasar Amerika. “Pada akhir abad ke-19 sebenarnya teknologi mesin listrik dan uap lebih maju ketimbang mesin berbahan bakar minyak. Sampai tahun 1900, 38 persen mobil di Amerika adalah mobil listrik. Hampir 34 ribu mobil listrik terdaftar di Amerika pada 1912,” tulis Pistoia dkk. Pengoperasian yang tidak berisik, kehandalan, dan kemudahan menyalakan mesin jadi sejumlah faktor kesuksesan penjualannya. Namun, kekurangan mobil listrik pada awal abad ke-20 adalah masih belum bisa digunakan jarak jauh. Harganya pun relatif lebih mahal ketimbang mobil BBM yang mulai 1930-an menenggelamkan kepopuleran mobil listrik. Krisis Minyak Beberapa produsen mobil konvensional terkemuka perlahan mengembangkan mobil listrik. Terutama pada 1970-an ketika terjadi krisis minyak dan mencuatnya isu lingkungan. Terbukanya potensi pasar mobil bermesin alternatif kemudian memunculkan mobil hybrid (dua mesin: BBM dan listrik), ataupun plug-in hybrid (bermesin BBM dan listrik yang yang di- charge dari sumber listrik eksternal). Di Indonesia, Hyundai menjadi pelopor mobil listrik murni dengan meluncurkan Ioniq dan Kona. Keduanya jadi ujung tombak pabrikan asal Korea Selatan itu untuk mendobrak pasar mobil konvensional. Mengusung kampanye “Be Bold, Be Electric”, Hyundai menawarkan aspek filosofis sekaligus aspek ekonomis melalui Ioniq dan Kona. Kedua mobil ini merupakan agen perubahan gaya hidup kita agar ramah lingkungan dan secara ekonomis. Ioniq dan Kona bukan hanya mobil listrik murni termurah di Indonesia (di bawah Rp1 miliar) namun juga 4,4 kali lebih irit dibanding mobil konvensional, hybrid ataupun plug-in hybrid . Keiritan Ioniq dan Kona didapat dari pasokan sejumlah teknologi mutakhir. Ioniq & Kona, dua mobil listrik murni pertama di Indonesia persembahan Hyundai Motor Indonesia. ( hyundai.com ). Ioniq yang lebih dulu lahir (Juli 2016) dan masuk Indonesia sebagai armada taksi online, tenaganya dipasok baterai lithium-ion polymer berkapasitas 38,3 kWh. Ia bisa menjelajah sejauh 277 kilometer. Sementara Kona yang lahir pada Juni 2017 di Korea, ditopang tenaga listrik dari baterai lithium-ion berkapasitas 39,2 kWh dan magnet synchronous 150 kW. Kona mampu menjelajah hingga 261 kilometer. Baterai Ioniq maupun Kona dilengkapi Electric Power Control Unit (EPCU) dan On Board Charger (OBC) untuk memastikan kondisi baterai berpendingin itu tak mati tiba-tiba di tengah jalan. Untuk pengisiannya pun mudah. Pengguna bisa mengisi daya di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang disediakan Perusahaan Listrik Negara (PLN) –saat ini masih seratas area Jakarta, Tangerang, Bandung, Surabaya Denpasar, dan Makassar– atau di semua dealer resmi Hyundai di Indonesia. Keseriusan Hyundai dalam menyongsong era mobil listrik juga dilakukan dengan memperhatikan desain Ioniq maupun Kona. Untuk ini, Hyundai menggandeng desainer Luc Donckerwolke. Alhasil desain primium Ioniq dan Kona kuat menampilkan kesan futuristik. Melalui Ioniq dan Kona, Hyundai ingin melibas sejumlah mitos mobil listrik yang selama ini acap jadi kekhawatiran masyarakat: kesulitan mencari tempat pengisian daya baterai, harga selangit, dan daya tahan baterai itu sendiri.

  • USIS dan CIA di Indonesia

    AUGUSTIN Sibarani (1925-2014), karikaturis lepas, biasa nongkrong dan main catur di restoran “Sederhana” di daerah Pasar Senen, Jakarta. Pada suatu hari, dia didatangi seorang peminat karikaturnya. Dia bekerja di bagian ekspedisi penerbitan majalah dari kantor USIS (United States Information Service).

  • Islamisasi di Tanah Ternate

    Kejayaan Ternate sebagai salah satu bandar niaga terkemuka di wilayah Timur Nusantara telah membawa perubahan besar bagi sebagian rakyatnya. Di bawah pimpinan Sida Arif Malamo (1322-1331), Ternate menjadi pintu masuk utama perniagaan Maluku, mengungguli saudaranya, Tidore. Para pedagang dari Cina, Arab, dan Gujarat pun berlomba menarik hati rakyat di daerah penghasil cengkih raja (cengkih kualitas terbaik) itu untuk menjalin hubungan dagang dengan negeri mereka. Di tengah aktivitas niaga tersebut, ajaran agama Islam yang dibawa pedagang Arab mulai dikenal rakyat Ternate. Keinginan untuk memperdalamnya pun mulai dirasakan sebagian dari mereka, terutama yang sering bersinggungan dengan orang-orang Arab itu. Namun hingga pertengahan abad ke-15, proses Islamisasi di sana belum sepenuhnya dapat diterima rakyat Ternate. Tidak adanya dukungan dari para penguasa membuat Islam sulit berkembang kala itu. Baca juga:  Berebut Rempah di Maluku Barulah pada masa pemerintahan Marhum (1431-1486), di akhir kekuasaannya, ajaran Islam mulai mendapat tempat dan diterima banyak penguasa Ternate. Perkembangannya saat itu cukup intens. Bahkan, menurut M. Adnan Amal dalam Kepulauan Rempah-rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950 , Marhum membawa Islam ke lingkungan terdalam istana. “Putra Marhum, Zainal Abidin, memperoleh didikan Islam sejak kanak-kanak hingga dewasa di bawah bimbingan juru dakwah terkenal, Datu Maulana Husein, yang dapat dianggap sebagai pembawa Islam ke Maluku, khususnya ke Ternate,” ungkap Adnan. Juru Dakwah dari Gresik Menurut Mundzirin Yusuf dalam Sejarah Peradaban Islam di Indonesia, Datu Maulana Husein berasal dari Minangkabau. Dia datang ke Ternate pada 1465 sebagai pedagang dan juru dakwah dari Gresik. Datu Maulana Husein berhasil menjalin hubungan persahabatan dengan Marhum. Berkat itu, dia mampu menyebarkan ajaran Islam di lingkungan istana Ternate. “Dia pandai membaca Al-Qur’an dan suaranya amat merdu. Hampir setiap malam dia membaca kitab suci itu dengan tilawah yang baik dan menarik pribumi Ternate. Akibatnya, banyak pribumi Ternate datang ke rumahnya sekedar mendengar tilawah Al-Qur’an, dan jumlahnya semakin membengkak dari hari ke hari,” kata Adnan. Baca juga:  Sultan Baabullah, Pahlawan Nasional dari Ternate Dengan cara tersebut Maulana Husein mampu menarik minat rakyat Ternate untuk mengenal Islam. Di antara mereka juga banyak yang meminta diajarkan cara membaca Al-Qur’an. Di kediamannya, Maulana Husein lalu membuka pengajian dan sekolah untuk mengajarkan ajaran Islam secara lebih dalam kepada siapapun yang ingin mempelajarinya. Masyarakat pun berbondong-bondong mendatangi Maulana Husein untuk menjadi seorang muslim. Di lingkungan istana, setelah berhasil mengislamkan Marhum, Maulana Husein memberikan pengajaran Islam kepada seluruh keluarga istana dan pejabat istana. Dia mengajarkan tata cara shalat, membaca Al-Qur’an, dan ajaran Islam lainnya. Raja juga memerintahkan semua orang untuk memeluk Islam. Menurut Adnan, Marhum menjadi raja pertama Ternate yang dimakamkan secara Islam. Murid Sunan Giri Zainal Abidin meneruskan takhta Ternate setelah ayahnya, Marhum, wafat pada 1486. Dia ditetapkan sebagai sultan pertama negeri tersebut. Di bawah pemerintahannya, Islam menjadi agama resmi kerajaan Ternate. Zainal Abidin melakukan perubahan-perubahan besar di Ternate, di antaranya: gelar Kolano yang digunakan raja berubah menjadi Sultan; Ternate secara resmi menjadi kesultanan; mempertegas kedudukan agama Islam di pemerintahan; dan membentuk Lembaga Jolebe yang bertugas membantu tugas harian Sultan di bidang agama (jolebe berjubah putih) dan pemerintahan (jolebe berjubah hitam). “Perubahan struktur dan kelembagaan Kesultanan Ternate telah membawa pengaruh besar terhadap kerajaan-kerajaan lainnya di Maluku. Kerajaan-kerajaan seperti Tidore dan Bacan, akhirnya juga terpengaruh dan menerapkan struktur dan kelembagaan kerajaannya mengikuti struktur dan kelembagaan baru yang diintroduksi Ternate,” tulis Adnan. Baca juga:  Akhir Tragis Sultan Ternate di Tangan Portugis Dasar pendidikan agama yang diperoleh Zainal Abidin selain berasal dari gurunya, Datu Maulana Husein, juga berasal dari salah seorang Wali Songo, yakni Sunan Giri. Pada 1495, dengan didampingi Maulana Husein, Zainal pergi ke Gresik untuk memperdalam Islam di madrasah milik Sunan Giri. Menjadi murid seorang Wali Songo memang menjadi cita-cita Zainal Abidin sejak remaja. Berkat cerita yang selalu disampaikan gurunya, dia selalu membayangkan sosok para penyebar ajaran Islam di tanah Jawa tersebut. Zanal Abidin menjadi satu-satunya sultan asal Maluku yang menimba ilmu dari seorang Wali Songo. Di sekolah teman-temannya memberi nama kecil untuk Zainal Abidin, yakni Sultan Bualawa (Sultan Cengkih). Dikisahkan H.J. De Graaf dan TH. Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa , Zainal Abidin dikenal handal dalam berpedang. Pernah suatu hari, dia bertemu seorang pemuda yang mengamuk dan hendak menyerang Sunan Giri. Dengan sigap, Zainal Abidin mencabut pedangnya dan dengan satu tebasan membelah kepala orang tersebut. De Graaf juga menyebut ada kisah yang menyebut keahilan berpedangnya dapat membelah sebuah batu karang. Baca juga:  Pengabdi VOC dari Ternate Selama di Giri, Zainal Abidin menjalin hubungan baik dengan penguasa dan orang-orang berpengaruh lainnya. Ketika hendak pulang ke tanah airnya, dia mengajak sejumlah ahli agama ke Ternate untuk mengajarkan agama dan budaya Islam. Satu yang cukup terkenal di antara mereka adalah Tuhubahahul. Para ulama tersebut diberi tugas sebagai guru agama, mubaligh, dan imam di Kesultanan Ternate. Pada 1500, Zainal Abidin wafat. Dia digantikan oleh Bayanullah, yang di kalangan orang Barat dikenal dengan nama Sultan Boleif atau Abu Lais. Pada masa pemerintahannya, aturan-aturan yang bertujuan memantapkan syairat Islam di segala segi kehidupan masyarakat Ternate dibuat. Dan para pelanggar aturan tersebut akan diganjar hukum berat. Baca juga:  Islamisasi Minangkabau Beberapa peraturan yang dibuat Bayanullah, di antaranya: pembatasan poligami, larangan pergundikan, pemangkasan biaya pernikahan yang berlebihan, dan peraturan berpakaian bagi perempuan. Peraturan lain yang dikeluarkan untuk mempertegas kedudukan Islam adalah kewajiban memeluk agama Islam bagi semua rakyat Ternate. “Setelah Zainal Abidin, Bayanullah dapat dipandang sebagai tokoh paling berjasa dalam penyebaran agama Islam, khususnya di wilayah Kesultanan Ternate. Di samping itu, Bayanullah merupakan sultan yang paling signifikan jasanya dalam implementasi prinsip-prinsip Islam ke dalam struktur dan lembaga-lembaga Kesultanan Ternate. Dia juga sukses mengeluarkan rakyatnya dari politeisme ke moniteisme Islam,” ungkap Adnan.

  • John le Carré di Antara Dunia Mata-mata dan Sastra

    NAMA David John Moore Cornwell mungkin terdengar asing bagi penikmat novel bertema intelijen, apalagi tema non-intelijen. Padahal hanya satu sosok yang menyandang namanya. Cornwell tutup usia pada Sabtu (12/12/2020) malam waktu setempat di Rumahsakit Royal Cornwall di Truro, Inggris. Dalam pernyataan keluarganya, Cornwell meninggal setelah lama menderita pneumonia . Sejumlah sejarawan dan novelis Inggris pun terpukul mendengar wafatnya salah satu novelis sohor Inggris era Perang Dingin itu. “Hati saya terasa sakit. Dia (Cornwell) adalah figur besar dalam sastra Inggris,” tutur sejarawan dan novelis Simon Sebag Montefiore sebagaimana dikutip BBC , Senin (14/12/2020). Jonny Geller, agen sekaligus manajer almarhum, menyatakan bahwa dunia novel akan sangat kehilangan sosok yang bisa membawa jutaan pembacanya memahami situasi politik dan manusianya yang kompleks di masa Perang Dingin. “Dia tokoh besar dalam sastra Inggris yang tiada duanya. Kita takkan melihat penulis yang seperti dia lagi. Kematiannya akan sangat berpengaruh pada setiap pecinta buku dan semua orang yang perhatian terhadap kondisi manusia (dalam dunia mata-mata, red. ). Ia sosok yang ramah, humoris, dan cerdas. Saya pribadi kehilangan seorang sahabat, mentor, dan inspirasi,” imbuh Geller. Sepanjang hayatnya, Cornwell yang menggunakan nama pena John le Carré sudah menghasilkan puluhan karya bertema intelijen, di mana 27 di antaranya adalah novel yang laris di pasar global. Beberapa dari karya best seller -nya diadaptasi ke layar kaca maupun layar lebar dengan judul serupa, antara lain: The Tailor of Panama (2001), The Constant Gardener (2005), Tinker Tailor Soldier Spy (2011), dan Our Kind of Traitor (2016). Karya-karya Cornwell bisa membawa para pembacanya menyelami alam kerahasiaan para karakter yang bergelut sebagai agen intelijen. Tak lain lantaran Cornwell merupakan mantan agen MI5 dan kemudian MI6, dinas intelijen Inggris yang beroperasi di area domestik dan luar negeri. Mata-mata Penulis Novel Mata-mata Lahir pada 19 Oktober 1931 di kota pelabuhan Poole, Inggris sebagai anak kedua pasangan Olive Moore Glassey dan Ronald Thomas Archibald ‘Ronnie’ Cornwell, sejak dini ia sudah belajar untuk jadi pria dewasa di jalanan. Hal itu disebabkan karena sejak usia lima tahun Cornwell sudah dititipkan ibunya ke asrama St. Andrew’s Preparatory School. Ayahnya jarang memberikan kasih sayang lantaran berkecimpung di “dunia hitam”. Ronnie merupakan anak buah bos geng Kray Twins. Ia sering dipenjara karena kasus penipuan asuransi. Menurut Adam Sisman dalam biografi sang novelis, John le Carré: The Biography , latar belakang keluarganya itu membuatnya mulai gemar menciptakan fantasi tersendiri dalam kepalanya yang kemudian ia tuangkan menjadi cerita fiktif dengan pena. “John le Carre pernah mengatakan: ‘Orang yang punya masa kecil tidak bahagia, biasanya sangat terampil menciptakan sesuatu. Saya seorang pembohong. Diciptakan, lahir, dan dilatih untuk berbohong.’ Sebagai seorang bocah, dia belajar untuk menciptakan dan merekayasa cerita fantasi untuk menghibur diri, untuk melarikan diri dari kenyataan. Ia lalu memanfaatkannya sebagai mata-mata dan kemudian penulis,” tulis Sisman. David Cornwell alias John le Carré mulai menulis novel bertema mata-mata saat masih bertugas di MI5. (Twitter @lecarre_news). Minimnya kasih sayang orangtua membuat Cornwell jadi anak yang sering mendapat masalah dengan gurunya selama di asrama. Meski begitu ia tetap mampu lulus hingga tingkat atas dan bahkan kuliah jurusan bahasa asing di University of Bern, Swiss tiga tahun pasca-Perang Dunia II berakhir. Di situlah ia yang menjadi poliglot tertarik pada dunia intelijen. Setelah lulus pada 1950, ia diterima di Korps Intelijen Angkatan Darat Inggris. Cornwell yang fasih bahasa Jerman ditugaskan sebagai anggota tim penerjemah dan interogasi mata-mata di Austria yang saat itu masih diduduki Sekutu. Kebanyakan yang diinterogasinya adalah pelarian dari Jerman Timur, yang dikhawatirkan disusupi agen rahasia Uni Soviet. Dua tahun bertugas di Austria, Cornwell kembali ke Inggris dan ditempatkan di MI5, dinas intelijen dalam negeri Inggris. Dalam salah satu tugas untuk mendeteksi kelompok-kelompok kiri di Inggris, ia menyamar jadi mahasiswa di Lincoln College di Oxford, kemudian di Millifield Preparatory School di Somerset, dan menjadi guru sastra Prancis dan Jerman di Eton College. Sejak menjadi perwira intel pada 1958 di bawah asuhan mata-mata senior MI5, Lord Clanmorris, Cornwell mulai tergelitik untuk berbagi cerita pengalamannya lewat karya fiksi. Di tahun 1958 itulah dia menulis novel mata-mata pertamanya, Call for the Dead, yang rampung dan dirilis pada 1961. Call for the Dead  (kiri) novel pertama John Le Carré dan Tinker Tailor Soldier Spy  salah satu karyanya yang terlaris. (Twitter @lecarre_news/ raptisrarebooks.com ). Novel yang mengisahkan sosok George Smiley, agen MI6 yang bertugas di luar negeri, itu memuat beberapa sosok yang terinspirasi dari orang-orang di sekitar Cornwell. Sosok Smiley sendiri merupakan kombinasi karakter bijak Vivian H. H. Green (mantan dosennya di Lincoln College) dan karakter cerdas Lord Clanmorris (bosnya di MI5) yang cekatan dan sigap bertindak di masa genting. Kepada atasannya, Cornwell berterus terang bahwa ia menulis novel tentang dunia intelijen. Atasannya, sebagaimana ditulis George Plimpton dalam artikel “John le Carré, The Art of Fiction” yang dimuat Majalah The Paris Review edisi Agustus 1997, mengaku tak keberatan asal Cornwell menerbitkannya dengan nama samaran. Cornwell lalu merilisnya dengan nama pena John le Carré di bawah Penerbit Victor Gollancz Ltd. Berulangkali ia ditanya dari mana mendapatkan inspirasi nama pena berbau nama Prancis itu. Namun setiap kali itu juga ia memberikan jawaban berbeda-beda. “Saat Anda berada di dinas intelijen dan Anda menulis buku, entah itu hanya buku tentang serangga, harus ditulis dengan nama samaran. Penerbit saya, Victor Gollancz, menyarankan nama yang monosilabel, seperti ‘Chuck-Smith’, misalnya. Saya sering bohong tentang dari mana saya dapat nama itu tapi sejujurnya saya tidak ingat dan sengaja saya bohong karena sering saya tidak bisa meyakinkan semua orang bahwa saya tidak ingat nama itu saya dapat dari mana,” aku Cornwell kepada Plimpton. Kegiatan menulis novel tetap dilanjutkan ketika Cornwell sudah dipindahtugaskan ke MI6 (dinas intelijen luar negeri Inggris) pada 1960. Dengan tugas samaran sebagai diplomat di Kedutaan Inggris di Bonn, Jerman Barat, Cornwell menelurkan novel-novel intelijen era Perang Dingin yang kemudian laris di pasaran. Hampir semuanya terinspirasi dari pengalaman Cornwell semasa tugasnya. Aktor watak Gary Oldman (kiri) memerankan karakter George Smiley dan John le Carré (kanan) yang jadi cameo dalam film Tinker Tailor Soldier Spy.  ( studiocanal.com ). Dalam Tinker Tailor Soldier Spy (1974), misalnya, ceritanya masih seputar tokoh George Smiley. Namun kali ini misinya memburu Bill Haydon, intel pengkhianat yang menjadi agen ganda di KGB (dinas intelijen Soviet). Tokoh Haydon diciptakan Cornwell yang terinspirasi Kim Philby di dunia nyata. Philby adalah agen MI6 yang kemudian jadi agen ganda dalam lingkaran “Cambridge Five”, semacam kelompok agen ganda yang bekerja untuk KGB pada medio 1964. Philby yang mencari suaka di Moskow, beberapa kali mengoper informasi rahasia kepada KGB yang berimbas pada kematian sejumlah agen lapangan Inggris, termasuk agen-agen yang disebar Cornwell. “Dia (Philby) adalah pengkhianat dan pembunuh. Dia mengkhianati orang-orang yang mati secara mengenaskan sebagai konsekuensi perbuatannya,” kata Le Carré, dikutip John L. Cobbs dalam Understanding John le Carré. Sejak terungkapnya borok Philby, karier Cornwell di MI6 pun tutup buku. Semenjak itulah Cornwell total bergelut dengan penanya sampai akhir hayatnya. Dari puluhan novelnya, Cornwell mengoleksi 21 anugerah penghargaan dan mendapat doktor honoris causa dari Universitas Oxford. Anugerah terakhir diterimanya beberapa bulan sebelum maut menjemput, yakni Olof Palme Prize, pada Januari 2020. Hadiah uangnya senilai USD100 ribu ia sumbangkan ke LSM kesehatan Médecins Sans Frontières.

  • Sekolah Masa Revolusi

    Lonceng sekolah berbunyi. Murid-murid masuk ke kelas. Seorang guru lelaki mengambil tumpukan rapor di mejanya dan memanggil nama muridnya satu per satu. Murid-murid cemas. Sampai di meja guru, murid melihat rapornya masing-masing. Ada yang wajahnya berubah senang, ada juga yang tegang. Sebagian murid tak naik kelas. Harus mengulang lagi setahun. Nilai rapornya jelek. Matanya basah. Murid lainnya tampak sumringah. Senyumnya lebar. Mereka naik kelas. Nilai rapornya bagus. “Ruang kelas dalam sekejap terisi oleh para pelajar yang bergembira diselingi dengan pelajar-pelajar yang berlinang-linang matanya. Banyak pula yang menangis terisak-isak terutama murid wanitanya,” cerita Asmadi tentang suasana pembagian rapor murid kelas 2 Sekolah Menengah Tinggi (SMT) di Malang pada Juli 1947 dalam Sangkur dan Pena. Salah satu murid itu bernama Rahmad. Dia termasuk beruntung. Nilai rapornya bagus sehingga bisa naik kelas. Padahal Rahmad juga seorang anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Batalyon 5000 di Malang, Jawa Timur, pada 1947. Waktunya sering terbagi antara belajar di sekolah dan berlatih di asrama untuk menghadapi tentara NICA. Selama masa 1945–1949, banyak pelajar setingkat SMP dan SMA bergabung ke TRIP. Sekolah mereka tetap jalan. Usia mereka sudah terlalu dewasa untuk duduk di bangku sekolah. Rahmad, misalnya, telah berusia 19 tahun saat menginjak kelas 2 SMT. Cerita Asmadi menunjukkan pendidikan di sekolah tetap berjalan walaupun dalam suasana perang.   Memasuki masa awal kemerdekaan, Indonesia berusaha merumuskan ulang sistem, konsep, dan tujuan pendidikan. Pendidikan menjadi salah satu kementerian dalam susunan pemerintahan Indonesia dengan nama Kementerian Pengajaran. Lalu berubah jadi Kementerian Pengajaran dan Kebudayaan. Menterinya pun silih berganti dalam waktu singkat. Pemerintah menetapkan pendidikan Indonesia bersendikan agama dan kebudayaan bangsa. Susunan pelajarannya terdiri atas pengetahuan umum, pendidikan budi pekerti, pendidikan semangat bekerja, kekeluargaan, cinta tanah air, dan keprajuritan. “Syarat itu diwajibkan untuk semua sekolah baik negeri maupun swasta,” catat Suradi HP dkk. dalam Sejarah Pemikiran Pendidikan dan Kebudayaan . Jenjang pendidikan tak banyak berubah. Sekolah dasar masih enam tahun, lalu berlanjut ke sekolah menengah pertama tiga tahun dan menengah atas tiga tahun. Penerapan kebijakan pendidikan ini tak mudah. Selama masa ini, pendidikan Indonesia mengalami masa krisis. Kementerian kesulitan menjalin komunikasi dengan sekolah-sekolah negeri dan swasta di daerah. Belanda menduduki beberapa wilayah di Jawa sehingga mempersulit penyelenggaraan pendidikan. Banyak sekolah dan sarananya juga rusak. “Sebagian dari gedung-gedung sekolah dimusnahkan oleh badan-badan perjuangan dan di antaranya ada juga yang untuk seterusnya dipakai sebagai kantor umum atau diduduki tentara. Alat pelajaran pun banyak yang hilang,” catat Helius Sjamsuddin dalam Sejarah Pendidikan di Indonesia Zaman Kemerdekaan (1945–1966). Selain itu, kelas-kelas juga tak jarang kosong. Murid-murid SMP dan SMA meninggalkan bangku sekolah untuk angkat senjata atau masuk palagan. “Banyak pelajar yang tidak dapat masuk sekolah, terutama mereka yang bertugas sebagai anggota tentara RI,” sebut Istingatun, mantan murid SMT Jakarta 1943–1945 dalam Jembatan Antar Generasi: Pengalaman Murid SMT Djakarta 1942–1945. Sebagian orang menganggap mereka keren. Pahlawan muda, berani, dan patriot. Tapi tak sedikit pula yang kecewa dengan keputusan murid-murid itu meninggalkan sekolah. “Untuk apa kita mengorbankan anak-anak kita secara percuma begitu. Mereka masih mempunyai hari depan yang lebih baik dan tidak hanya sekadar untuk memuaskan diri sendiri seperti mereka sekarang ini,” seru para penentang keikutsertaan pelajar dalam perang, seperti diungkap Asmadi dalam Pelajar Pejuang . Kelompok ini termasuk pula Ikatan Pelajar Indonesia (IPI). Mereka menggulirkan gerakan kembali ke sekolah bagi para pelajar. Selebaran tentang pelajar-pelajar yang tewas di palagan disebarkan saban hari. “TRIP mengorbankan pelajar mati konyol!” tulis sebuah selebaran. Gerakan ini cukup kuat memancing perdebatan di kalangan pelajar. “Berbagai anggota TRIP Staf I yang terdiri dari pelajar SMT berhari-hari lamanya memperdebatkan masalah itu,” lanjut Asmadi. Puncak perdebatan ditandai oleh kembalinya ratusan anggota TRIP ke sekolah. Ini terjadi menjelang musim kenaikan kelas. Yang jadi masalah, gedung sekolahnya seringkali tak layak dan cukup untuk menampung pelajar. Di samping itu juga sekolah kekurangan guru. Banyak guru juga ikut larut dalam kancah revolusi. Kegiatan di sekolah juga berlangsung sulit. Para pelajar telah banyak lupa dengan materi pelajaran. “Otak yang sudah lama terlatih untuk itu telah menjadi beku,” ungkap Asmadi. Pemerintah juga belum mencetak buku-buku pelajaran. Sehingga para murid menyalin ulang pelajaran dari papan tulis. Hampir seluruh waktu belajar habis untuk menyalin. Setelah itu, barulah para murid mendapat penerangan dari para guru. Menyalin kesannya sepele. Tapi bagi para murid, itu menjadi kegiatan yang membosankan. Apalagi kualitas alat tulis dan buku mereka sangat buruk. “Sedang asyik-asyiknya menulis tiba-tiba pensilnya patah atau kertasnya sobek,” terang Asmadi. Masalah lainnya, salinan itu cepat luntur. Lebih lagi bila terkena air. “Tulisan-tulisan yang dengan susah payah digoreskan ke dalamnya akan hilang tanpa bekas,” kata Asmadi. Lama berjuang di palagan membuat tabiat para murid berubah. Mereka jadi lebih pandai mengayunkan sangkur ketimbang pena. Lebih takut terhadap pelajaran dan susah konsentrasi pada ujian. Padahal di palagan mereka tak takut musuh dan mati. Konsentrasi terus pada posisi pertahanannya. Tapi di kelas, semuanya berubah. Para murid kesulitan menghadapi pelajaran ilmu alam, mekanika, kimia, aljabar, ilmu bumi, bahasa Inggris, Jerman, dan Indonesia. Mereka harus bersusah payah menghafal kembali materi tersebut. “Harus banyak mengurangi saat-saat mengaso dan tidur,” kata Asmadi. Saking stresnya dengan pelajaran, tak jarang para murid jatuh sakit. “Tak sedikit di antara pelajar-pelajar itu berubah menjadi kurus karenanya,” terang Asmadi. Keadaan mulai berangsur normal setelah 1949. Perang dengan Belanda berakhir. Sekolah-sekolah mulai bisa memperbarui fasilitasnya. Undang-undang pendidikan pun segera disusun. Gelombang pelajar kembali ke sekolah kian banyak. Sebagian mereka telah lewat umurnya untuk dikategorikan sebagai pelajar SMP atau SMA. Tapi mereka acuh dengan itu. Buat mereka ilmu di sekolah juga perlu diraih kembali.

  • Hikayat Sunan Prapen

    Pertengahan abad ke-16, kegaduhan terjadi di wilayah Tengah dan Timur Pulau Jawa. Wafatnya pemimpin kharismatik Demak, Sultan Trenggana, membuat kekosongan kekuasaan terjadi di kerajaan Islam terbesar di Jawa tersebut. Perebutan kekuasaan pun tidak terhindarkan antara Pajang dan Jipang, yang semakin memperkeruh suasana di Jawa kala itu. Akibatnya, banyak negeri  vasal yang memutuskan hubungan dengan Demak dan memilih merdeka. Satu di antara negara yang telah sepenuhnya merdeka itu adalah Giri Kedaton di Gresik, Jawa Timur. Sebenarnya, sejak kejatuhan Majapahit pada 1527, Giri tidak pernah merasa ada di bawah kuasa Demak. Mereka menganggap diri sebagai negeri merdeka dan bebas. Sebagaimana diuraikan H.J De Graaf dan TH. Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa , baik dalam tutur Demak maupun Giri tidak pernah disebutkan adanya pendudukan atas Giri. Namun kejatuhan itu telah membuat wilayah Gresik secara umum terbebas dari bayang-bayang kuasa Demak. Di wilayah Giri Kedaton, kekuasaan tertinggi dipegang oleh pemimpin agama. Tempat itu sejak abad ke-15 telah digunakan oleh para ulama untuk menuntut ilmu dan menyebarkan ajaran Islam. Sewaktu keributan di Demak terjadi, pemimpin agama di Giri diduduki oleh Sunan Prapen, atau dikenal juga dengan nama Sunan Mas Ratu Pratikal. Dia diangkat pada 1548, menggantikan adiknya Sunan Seda-ing-Margi yang tewas di dalam sebuah perjalanan. “Sunan Prapen ialah pemimpin agama di Giri. Selama pemerintahannya yang panjang sekali (dari tahun 1548 sampai kira-kira tahun 1605) ia banyak berjasa membentuk dan memperluas kekuasaan “kerajaan imam” Islam, baik di Jawa Timur dan Jawa Tengah maupun di sepanjang pantai pulau-pulau Nusantara Timur,” kata Graaf dan Pigeaud. Sunan Prapen diketahui merupakan cucu Sunan Giri, salah seorang Wali Songo. Selama berada di bawah pimpinannya, Giri mencapai masa keemasannya. Daerah itu menjadi pusat peradaban Islam, serta pusat ekspansi Jawa di bidang ekonomi dan politik. Menurut Bagenda Ali dalam Awal Mula Muslim di Bali Kampung Loloan Jembrana Sebuah Entitas Kuno , Sunan Prapen juga menjadikan Giri tempat penyebaran Islam ke wilayah Indonesia bagian timur, termasuk Bali yang amat kental dengan kehinduannya dan Nusa Tenggara. Islamisasi Bali dan Nusa Tenggara Tidak dijelaskan dengan pasti kapan Sunan Prapen melakukan Islamisasi di Bali dan Nusa Tenggara. Namun menurut David D. Harnish dalam Between Harmony and Discrimination: Negotiating Religious Identities within Majority-Minority Relationships in Bali and Lombok , Sunan Prapen pergi ke Bali dan Lombok dalam misi penyebaran Islam yang dijalankan Giri. “Sunan Prapen asal Gresik memang menyiarkan Islam di Buleleng, sebelum akhirnya melanjutkan ke wilayah Lombok. Dia membangun Mushola di Buleleng untuk memfasilitasi para pedagang Muslim yang datang ke Buleleng,” tulis Dhurorudin Mashad dalam Muslim Bali: Mencari Kembali Harmoni yang Hilang . Di Lombok, ditemukan banyak bukti keberadaan Giri. Di Desa Dasan Geres, Gerung, Lombok Barat, terdapat sebuah tempat bernama Giri Menang. Tempat itu dipercaya sebagai persinggahan Sunan Prapen selama proses penyebaran Islam di Lombok. Ditemukan juga masjid tua di beberapa lokasi di Lombok Utara dan Lombok Tengah. Selain itu, ada Kelurahan Prapen di Praya, Lombok Tengah, yang dipercaya diambil dari nama Sunan Prapen. “Situs-situs itu menjadi bukti perjalanan Islam dari Jawa ke wilayah Lombok,” tulis Harnish. Di Nusa Tenggara, Sunan Prapen pergi ke banyak tempat, seperti Sumbawa, Bima, Dompu, Lombok, hingga sekitar pegunungan Rinjani, sebelum akhirnya kembali ke Bali untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Jawa Timur. Proses pengenalan Islam yang dilakukan Sunan Prapen tidak selamanya berjalan mulus. Menurut Harnish, banyak masyarakat yang kembali ke kepercayaan lamanya begitu Sunan Prapen meninggalkan tempat mereka. Tidak adanya pemimpin agama yang sekualitas Sunan Prapen disebut menjadi alasan kondisi itu terjadi. Tempat Berlindung Para Raja Pada 1549, sebagai simbol kebebasan dari belenggu Demak, Sunan Prapen membangun sebuah kedaton baru di Giri, menggantikan kedaton milik kakeknya yang dibangun pada 1488. Menurutnya kedaton lama itu tidak menunjukkan kekuasaan dan kejayaan para pemimpin agama di Giri. Sehingga perlu dilakukan perubahan. Selain itu bangunan baru tersebut, kata de Graaf, menjadi bukti bahwa seorang pemimpin agama ingin disejajarkan dengan raja-raja yang merdeka. Sebagai pemimpin agama, Sunan Prapen lebih banyak memusatkan usahanya untuk memperluas kekuasaan rohani. Di samping kegiatan-kegiatan dagang ke wilayah timur untuk keperluan ekonomi Giri. Menurut De Graaf, dia tidal terlalu mencampuri urusan politik penguasa-penguasa di pedalaman Jawa Tengah. Bahkan di Jawa Timur pun Sunan Prapen tidak memperlihatkan usaha-usaha mencari kekuasaan lebih besar. Banyak penguasa Jawa menganggap Sunan Prapen seorang alim yang bijak. Diceritakan dalam Serat Kandha , Sunan keempat Giri itu pernah menjadi pendamai antara pasukan Mataram dan pasukan Surabaya yang bertempur pada 1589. Kedaton Giri juga oleh Sunan Prapen dijadikan tempat berlindung bagi raja-raja Jawa Tengah dan Jawa Timur yang terdampak pertempuran tersebut. “Menjelang akhir hidupnya yang panjang itu, Sunan Prapen menyatakan keinginan menghormati kakeknya, Prabu Satmata, pendiri dinasti pemimpin-pemimpin rohani di Giri. Ia telah memberi perintah untuk membuat cungkup di atas makam kakeknya. Rupanya, ia menyadari bahwa kekuasaannya di Jawa Timur terletak atas dasar rohani yang kukuh, yang telah diletakkan oleh seorang ulama, yakni kakeknya itu,” tulis De Graaf dan Pigeaud. Sunan Prapen hidup hingga mencapai usia lebih dari 100 tahun. Menurut penuturan pelaut Belanda Olivier van Noort, ketika singgah di Gresik pada 1601, dia mendengar bahwa daerah itu dipimpin oleh seorang tua berusia 120 tahun. “Istri-istrinya yang banyak itu mempertahankan hidupnya dengan menyusuinya seperti seorang bayi,” tutur Olivier. Dalam berita-berita Cina juga disebutkan tentang raja tua yang umurnya lebih dari seratus tahun. Sunan Prapen diperkirakan wafat pada 1605. Dia dimakamkan di sekitar Giri Kedaton, bersama pemimpin-pemimpin agama Giri lainnya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page