top of page

Hasil pencarian

9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Suap di Balik Upaya Pembebasan Irian Barat

    Pada pertemuan hari kedua, Soegih Arto melanjutkan lobi-lobi dengan Mr. Olaf de Rijke. Misi memenangkan Irian Barat lewat jalan menyuap ketua fraksi Dewan Papua itu tinggal selangkah lagi. Perundingan sendiri akan membicarakan soal keuangan dan mekanisme pembayaran. Semula pembicaraan diawali dalam bahasa Belanda. Namun ketika akan memasuki inti perundingan, de Rijke menyela. Tetiba, dia menggunakan bahasa Jawa. “Mr. de Rijke nyeletuk dalam bahasa Jawa agar sekretarisnya yang Belanda totok itu tidak dapat mengerti apa yang sedang dirundingkan,” tutur Soegih Arto dalam otobiografi Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto . Soegih Arto dan rekannya, Kartono Kadri tidak keberatan. Mereka pun mulai tawar menawar dalam bahasa Jawa. De Rijke membuka penawaran pada angka US$ 1.000.000. Soegih Arto minta turun menjadi US$ 500.000. Setelah negosiasi bolak-balik, akhirnya tercapai titik temu pada harga US$ 750.000. Perkara berapa jumlah uang sogokan beres. Pembicaraan kemudian beralih lagi mengenai bagaimana cara menyerahkan uang itu.       Pada prinsipnya, Soegih Arto bersedia membayarkan uang itu melalui bank yang dipilih de Rijke setelah resolusi bergabung dengan Indonesia dikeluarkan oleh parlemen Dewan Papua. Namun suasana pembicaraan mendadak jadi panas karena Mr. de Rijke minta dibayarkan saat itu juga. Soegih Arto tidak dapat menyetujui usulan de Rijke tersebut. Muncullah saling tuduhan dan perkataan yang menyinggung satu sama lain.   Mr. de Rijke mengatakan bahwa orang Indonesia lihai berpolitik licik sehingga tidak dapat dipercaya. Mosi senanda pun dilantarkan Soegih Arto karena de Rijke bersedia menjual Papua demi uang. De Rijke tetap ngotot  dan membela diri. Menurutnya, tindakannya bernegosiasi dengan pihak Indonesia menanggung resiko yang besar sekali. Kalau ketahuan oleh pemerintah Belanda, kata de Rijke, maka dia bisa dibunuh. Soegih Arto memutuskan untuk menunda pembicaraan. Agar tidak bersikap gegabah, dia ingin melapor dan menanti instruksi selanjutnya dari Presiden Sukarno. Usul itu dengan susah payah disetujui de Rijke. Menurut de Rijke, tidak mudah baginya keluar masuk Papua tanpa dicurigai. De Rijke juga menggambarkan suasana di parlemen Dewan Papua yang ternyata cukup banyak anggotanya pro-Republik Indonesia. Hanya saja, suara mereka belum mencapai mayoritas untuk menggolkan suatu resolusi. Oleh karena itu, de Rijke perlu melobi dan butuh dana untuk beberapa anggota. Itulah sebabnya, de Rijke bersikukuh agar uang sogok dibayarkan Soegih Arto saat perundingan berlangsung. Menurut pakar intelijen Ken Conboy, de Rijke begitu bernafsu agar pihak Indonesia  mengirim uang yang dijanjikan ke sebuah rekening Bank Australia. Tetapi, sebelum melakukan ini Soegih Arto dan Kartono Kadri meminta jaminan itikad baik bahwa Dewan Papua akan bersiap-siap mendukung integrasi. “Sesudah ditunggu beberapa hari, ternyata si anggota dewan ini tidak menghubungi lagi. Upaya penyuapan ini kemudian dibatalkan dan dananya tidak pernah dikirim,” tulis Conboy Dalam Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia . Dalam otobiografinya, Soegih Arto mengisahkan perundingannya dengan de Rijke berakhir di persimpangan jalan. Pertemuan itu tidak pernah dilanjutkan karena sulit untuk mencapai titik temu, terutama mengenai cara dan kapan penyerahan keuangan. Pendirian Soegih Arto tersebut didukung oleh Bung Karno. Pun tanpa praktik suap-menyuap itu, Indonesia pada akhirnya dapat memenangkan Irian Barat. “Persoalan diplomasi gelap ini hilang lenyap tidak berbekas dan Irian Barat diselesaikan melalui New York Agreement, pada tanggal 15 Agustus 1962,” tutur Soegih Arto. Operasi rahasia yang dikerjakan Soegih Arto dan Kartono Kadri gagal karena, menurut Ken Conboy, “anggota Dewan Papua asal Belanda (de Rijke) yang bermaksud menarik keuntungan pribadi atas nama pemerintahnya, menjadi ketakutan.” Pada Oktober 1962, Kartono Kadri menjadi sekretaris Soedjarwo Condronegoro, kepala perwakilan Indonesia di Irian Barat. Dalam sebuah pertemuan yang tidak direncanakan, Kartono Kadri sempat bersua dengan de Rijke. Pada saat itu, de Rijke tinggal di depan Yachtclub. Kadri mendapati de Rijke dengan raut penuh gelisah. De Rijke menanyakan siapa saja yang mengetahui tentang pertemuan rahasia di Hongkong. Jawaban yang disampaikan Kadri rupanya tidak memuaskan. Betapa takutnya de Rijke sehingga keesokan harinya dia menyeberang ke Papua Nugini yang masih dikuasai Australia. Hingga Soegih Arto merampungkan otobiografinya pada 1989, de Rijke diketahui masih berada di Papua Nugini dan tercatat sebagai warga negara Australia.

  • Berlindung di dalam Sarung

    Selain sebagai komandan batalion di Maospati, Kapten M. Jasin juga menjabat kepala personalia Resimen 31 yang berkedudukan di Madiun. Sedangkan Kapten Soetarto Sigit menjabat kepala seksi intel Resimen 31. "Suatu pengalaman yang menegangkan sekaligus lucu saya alami,"kata Jasin dalam memoarnya, Saya Tidak Pernah Minta Ampun Kepada Soeharto . Jasin menambahkan, "Saya bersama Soetarto Sigit ditemani seorang penghubung berpangkat kopral, berada di wilayah garis demarkasi di daerah Mojokerto. Kami bertiga beristirahat di sebuah warung di tepi jalan raya." Soetarto menyebut tentara penghubung ( renrakukei ) itu bernama Kopral Saimin. Namun, lokasi demarkasinya berbeda dengan Jasin. "Pengalaman yang tidak terlupakan terjadi pada Agustus 1946. Pada waktu itu Pak Jasin dan saya meninjau batalion Resimen 31 yang sedang bertugas di Front Surabaya Barat, tepatnya sekitar Desa Kedamean," kata Soetarto dalam testimoni di memoar Jasin. Garis demarkasi yang biasanya tenang mulai memanas karena suhu politik pertentangan Indonesia-Belanda mendekati titik mendidih. Maklum mendekati peringatan kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1946. Pagi itu, Jasin, Soetarto, dan Kopral Saimin mendekati kompi di sebelah barat Desa Kedamean. Tiba-tiba pesawat Belanda terbang rendah di atas Front Barat Kedamean disertai suara gemuruh. "Alangkah terkejutnya kita ketika iring-iringan kendaraan lapis baja pasukan musuh menembus garis demarkasi menyerang kedudukan kita," kata Soetarto. "Secara refleks," kata Jasin, "saya dan Soetarto segera lari menyeberangi jalan yang menjadi batas demarkasi. Kopral penghubung kami masih berada di warung, tidak sempat menyeberang." Namun, menurut Soetarto, dirinya, Jasin, dan Kopral Saimin sempat berlindung di kebun ketela. Kopral Saimin kemudian berusaha mencari hubungan dengan kompi-kompi di seberang jalan. Baru saja ia menyeberang, datang iring-iringan tank dan half-track penuh dengan pasukan Belanda. "Kopral Saimin dengan cepat memasuki sebuah warung yang berada di seberang jalan untuk bersembunyi. Tetapi apa lacur, iring-iringan kendaraan lapis baja musuh berhenti di muka warung tersebut," kata Soetarto. Beberapa serdadu Belanda memasuki warung. "Pak Jasin dan saya hanya bisa melihat dengan hati berdebar-debar menunggu bunyi tembakan yang akan menghabisi nyawa Kopral Saimin," kata Soetarto. Waktu seakan berjalan pelan. Entah apa yang terjadi di dalam warung. Beberapa saat kemudian tentara-tentara Belanda keluar dari warung. Sungguh mengherankan mereka tidakmembawa Kopral Saimin, padahal ia jelas berada di warung dan tak mungkin keluar tanpa diketahuitentara Belanda yang bertebaran di jalan dan sekeliling warung. "Hati kami berdegub keras, sebab kalau kopral itu tertangkap, Belanda-Belanda itu juga akan segera dapat menangkap kami," kata Jasin. Apakah Kopral Saimin telah dibunuh ? Tetapi tidak terdengar letusan senjata. Beberapa tentara Belanda juga memeriksa daerah sekitar warung. Tak lama kemudian komandan mereka memerintahkan untuk memberangkatkan konvoi. Tuhan masih melindungi Kopral Saimin. Menurut Jasin, setelah yakin tank-tankBelanda berada di tempat jauh, "maka kami segera lari ke warung. Bersamaan dengan itu, kopral kami juga muncul dengan wajah pucat." Sedangkan menurut Soetarto, setelah iring-iringan musuh meneruskan penyerbuan ke arah markas batalion,  " Kopral Saimin loncat keluar menyeberangjalan untuk bergabung kembali dengan Pak Jasin dan saya." "Bagaimana kamu bisa selamat?" tanya Jasin. "Saya masuk ke dalam kain sarung yang dipakai oleh ibu penjaga warung," kata Kopral Saimin dengan tersipu, sebagaimana diingat Soetarto. Sedangkan yang diingat Jasin, Kopral Saimin memberikan jawaban cukup panjang: "Wah, maaf Kapten, saya tidak sempat lari. Ketika Belanda-Belanda itu masuk warung, saya bersembunyi di dalam kain perempuan pemilik warung tersebut, yang terus diamdan tidak bergerak ketika Belanda menanyainya dan memeriksa warung. Saya selamat bersembunyi di selangkangan perempuan tadi!" Tentu saja, Kopral Saimin harus menahan napas selama bersembunyi di dalam kain itu. Ia pun dapat bernapas lega setelah selamat dari tentara Belanda.

  • Ketika Islam dan Hindu Bertemu dalam Sikh

    Di Punjab, wilayah India utara yang berbatasan dengan Pakistan, Islam dan Hindu telah bersinggungan sejak abad ke tujuh. Konflik antar kedua agama dan terutama diprakarsai oleh para penguasa juga telah berlangsung sepanjang sejarahnya. Penjajahan dan perang pun merenggut banyak korban. Toleransi beragama di perbatasan anak benua ini sebenarnya sempat terwujud dalam kompromi Islam kepada Hindu melalui para Sufi dan kompromi Hindu kepada Islam dalam gerakan Bhakti. Namun, pada abad ke-16 seorang Guru muncul sebagai jembatan antara dua agama yang kemudian melahirkan agama baru: Sikh. Ajaran Sikh bermula dari Guru Nanak (1469–1539), anak seorang pegawai rendahan di desa dekat Lahore. Sejak kecil, Nanak sudah belajar agama Hindu dan Islam dan seringkali terlibat diskusi dan perdebatan dengan para pengembara suci yang ditemuinya. Keinginan untuk menemukan kebenaran rohani kemudian menuntunnya pada laku pertapa. Ia berpuasa, berdoa, dan bermeditasi. Guru Nanak kemudian berkeliling menyebarkan pemikirannya. Ia mengujungi desa-desa bersama dua kawannya, seorang musisi muslim dan seorang Hindu dari kasta terendah. Ia berkhotbah dalam syair yang dinyanyikan dengan iringan kecapi. “Tak ada Hindu, tak ada muslim,” begitulah pernyataan awal Guru Nanak. Menurut Khushwat Singh dalam The Sikh , pada dasarnya ajaran Guru Nanak adalah perang melawan omong kosong dalam agama. Ia juga memiliki keberanian untuk mengatur hidupnya sesuai dengan ajarannya sendiri. Dua kejadian dapat menggambarkan metode pendekatan Guru Nanak. Pertama, di Sungai Gangga. Para Brahmana biasanya mandi dan melemparkan air ke arah matahari terbit sebagai persembahan bagi leluhur mereka yang sudah mati. Namun, Guru Nanak justru melemparkan air ke arah yang berlawanan. Ketika ditanya, ia menjawab, “Saya menyirami ladang saya di Punjab. Jika Anda dapat melemparkan air ke orang mati di surga, akan lebih mudah untuk mengirimkannya ke tempat lain di bumi.” Kedua, suatu ketika Guru Nanak tertidur dengan kakinya mengarah ke Makkah. Seorang imam marah dan membangunkannya. Ia hanya berkata: “Jika Anda pikir saya menunjukkan rasa tidak hormat dengan mengarahkan kaki saya ke rumah Tuhan, putarlah kaki saya ke arah lain di mana Tuhan tidak tinggal.” “Ajarannya memicu imajinasi petani Punjab dan sejumlah besar pengikut berkumpul di sekelilingnya,” sebut Khushwant. Menurut J.S. Grewal dalam “The Sikh of The Punjab” yang termuat dalam The New Cambridge History of India Volume 2 , Guru Nanak telah melakukan perjalanan di dalam dan luar India selama kuartal pertama abad ke-16. Dalam satu syair, ia menyebut telah mengunjungi kota-kota di “sembilan wilayah bumi” ( nau-khand ). “Hampir tidak ada keraguan bahwa ia mengunjungi pusat-pusat penting ziarah Hindu dan muslim. Ia berdebat dengan para protagonis dari hampir semua sistem kepercayaan dan praktik keagamaan di India kontemporer,” tulis Grewal Pemikiran-pemikiran Guru Nanak tersebar terutama di wilayah Punjab dan kemudian menjadi iman bagi murid-muridnya. Dalam bahasa Sanskerta murid disebut “Shish”. Kata “Shish” inilah yang kemudian menjadi “Sikh”, sebutan bagi pengikut ajaran Guru Nanak. Meski dipuja banyak orang, Guru Nanak bukan tokoh yang membuat klaim keilahian atau kekerabatan dengan Tuhan. Ia merasa cukup hanya sebagai seorang Guru. “Sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk menyatukan umat Hindu dan muslim. Keberhasilan pribadinya ke arah ini luar biasa. Ia diakui oleh kedua komunitas,” tulis Khushwat. Ketika Guru Nanak meninggal, orang muslim ingin menguburnya. Sedangkan orang Hindu menghendakinya dikremasi. Ia telah menjadi titik temu antara orang Hindu dan muslim di Punjab. Setelah kepergian Guru Nanak, misinya dilanjutkan oleh sembilan guru lainnya. Tiap Guru tidak ditentukan oleh hukum waris melainkan dipilih, baik oleh Guru sebelumnya maupun oleh para murid, karena cocok untuk melindungi dan mengembangkan ajaran spiritual yang ditinggalkan oleh Guru Nanak. Selama 200 tahun, para penerus ini menyempurnakan aspek religius Sikhisme. Selama itu pula, naskah-naskah disusun dan kuil-kuil yang disebut Gurdwara didirikan. Guru keempat, Ram Das (1534–1591) meletakan batu pendirian kuil Amritsar yang menjadi kuil Sikh paling penting. Sementara itu, Guru kelima, Arjun (1563–1606) menyelesaikan kompilasi naskah-naskah Sikh dan memasukan tulisan-tulisan orang suci Hindu dan muslim. Kompilasi itu kemudian menjadi Adi Granth, kitab suci orang Sikh. Guru Arjun menarik perhatian penguasa muslim lalu ditangkap, disiksa dan kemudian dieksekusi di Lahore. Ia menjadi martir pertama dan terpenting dalam sejarah Sikh. Pada 1699, Guru kesepuluh sekaligus terakhir, Gobind Singh (1666-1708) mendirikan institusi Khalsa, yang artinya “murni”. Khalsa merupakan tatanan orang-orang Sikh yang setia dan terikat oleh identitas dan disiplin yang sama. Kini orang Sikh telah berdiaspora ke berbagai negara. Per 2018, mengutip worldatlas.com , ada lebih dari 25 juta penganut Sikh di seluruh dunia. Bahkan , Kanada memiliki Menteri Pertahanan Nasional , Harjit Sajjan , yang merupakan seorang Sikh.

  • Masjid di Jantung Banyuwangi

    RAMADAN kali ini penuh keprihatinan. Akibat virus Covid-19, masjid-masjid yang biasanya penuh sesak orang khusyuk beribadah kini sepi. Hal ini berlaku di seluruh masjid di Indonesia, termasuk di Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi. Pengunjung acara menunggu berbuka puasa, yang dalam bahasa Osing disebut Ngerandu Buko , bisa dihitung dengan jari. Masjid Agung Baiturrahman, yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman, memang bangunan paling mencolok di jantung kota Banyuwangi. Bangunan dua lantai ini tampak megah. Kubah-kubahnya menawan. Secara keseluruhan masjid ini memiliki 11 kubah: lima kubah besar dan enam kubah kecil. Kubah besarnya terdiri dari satu kubah utama, dua kubah sayap di utara dan selatan, serta dua kubah berjalan di serambi utara dan selatan. Kubah berjalan? Ya, kubah utama Masjid Agung Baiturrahman dapat digeser atau berjalan secara otomatis; membuka dan menutup. Jika terbuka, sirkulasi udara di dalam ruangan bisa terjaga dan para jamaah pun bisa menikmati pemandangan langit yang indah dari dalam masjid. Masjid Agung Baiturrahman adalah salah satu masjid tua di Indonesia. Ia dibangun seiring perkembangan agama Islam di Blambangan, nama lama untuk Banyuwangi. Masjid Jami’ Medio akhir abad ke-18, situasi di Blambangan belum berangsur normal setelah gejolak Perang Puputan Bayu. Meski Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) sudah menancapkan kukunya, keamanan masih belum stabil. VOC berpikir keras bagaimana menciptakan stabilitas di ujung timur Jawa ini. Atas saran dari Residen Blambangan Hendrik Schophoff, Mas Alit diangkat sebagai bupati Blambangan dengan menyandang gelar Tumenggung Wiraguna I. “Bupati pertama, Mas Alit, orang Blambangan yang ada di Madura itu muslim. Saat diangkat menjadi bupati, dia meminta kepada kompeni untuk mendirikan masjid,” ujar Hasnan Singodimayan, budayawan Banyuwangi dalam sebuah wawancara di akun BTD channel  yang tayang di laman YouTube . Mas Alit memindahkan ibukota dari Ulupampang ke Banyuwangi dan mulai membangun kota atas biaya dari VOC. Tata kota dibuat Mas Alit sendiri. Bangunan penting seperti pendopo, pasar, penjara atau kantor polisi, dan masjid dibangun sesuai konsep arsitektur Jawa. “Falsafahnya adalah pendopo mewakili kekuasaan ada di utara. Selatannya pasar. Nah, kalo kamu kerja di pasar, lalu jadi orang baik, silakan ke kanan, ke masjid. Nah kalo kamu orang jahat, suka nipu, maka arahnya ke kiri, ke kantor polisi. Di tengahnya itu lapangan,” terang Hasnan. Menurut Rully Damayanti dan Handinoto dalam “Kawasan ‘Pusat Kota’ dalam Perkembangan Sejarah Perkotaan di Jawa”, dimuat jurnal Dimensi Teknik Arsitektur , Juli 2005, struktur kota semacam itu umum di Jawa pada masa prakolonial hingga abad ke-18, baik di kota pesisir maupun pedalaman. Salah satu yang mendapat perhatian Mas Alit adalah masjid. Dia menyumbangan tanah wakaf untuk pembangunan masjid. Lalu, pada Desember 1773, dimulailah pembangunan sebuah masjid yang sederhana dan berbahan kayu yang disebut Masjid Jami’. Ukurannya tidak besar tapi cukup untuk menampung lebih banyak orang untuk salat berjemaah. Selama lebih dari setengah abad bentuk masjid tak berubah. Sampai akhirnya, pada 1844, masjid dibuat permanen. Menurut Dea Denta Tajwidi dan I Wayan Pardi dalam artikel ‘Dinamika Perkembangan Sejarah Masjid Agung Baiturrahman di Kota Banyuwangi Tahun 1773-2007” di jurnal Santhet April 2018, bentuk bangunan masjid lebih menonjolkan bentuk arsitektur Jawa seperti joglo. Karena beratap joglo, masjid ini dikenal dengan sebutan Masjid Joglo. Bentuk masjid bisa dilihat pada kartu pos yang diterbitkan Impor Mij “Djember” pada 1900-an. Dalam Kota di Djawa Tempo Doeloe , Olivier Johannes Raap mendeskripsikan masjid bergaya rumah joglo berada di belakang pendopo kabupaten. Di sampingnya terdapat sebuah menara rendah beratap oktagonal, “yang lebih mirip menara di Keraton Solo daripada menara masjid.” Raap menduga, gaya arsitektur itu merupakan adaptasi kebudayaan Mataram di wilayah Blambangan. Kondisi masjid pada saat renovasi di era bupati Harwin Wasisto. (Wikipedia). Perubahan Arsitektur Sebenarnya bukan hanya di Banyuwangi. Masjid di Asia Tenggara umumnya beratap tumpang; semakin ke atas semakin kecil dan yang paling atas berbentuk joglo. Kekaisaran Ottoman-lah yang memperkenalkan penggunaan kubah pada masjid kala melancarkan gerakan “pemurnian” Islam. “Lambat-laun kubah menjadi simbol arsitektur Islam paling modern, yang seakan-akan wajib ada pada masjid-masjid baru di Asia Tenggara,” tulis Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya: Jaringan Asia . Padahal kubah tidak identik dengan Islam. Ia merupakan bagian dari arsitektur lama, yang mulai digunakan secara luas pada abad pertengahan oleh imperium Romawi. Ini dibuktikan dengan keberadaan bangunan Panthenon (kuil) di Kota Roma yang dibangun pada 118 M-128 M oleh Raja Hadria. Kubah juga menghiasi masjid-masjid di Nusantara. Ia populer hingga 1960-an. Masjid Jami’ di Banyuwangi pun ikut terpengaruh. Kala renovasi dilakukan pada 1969-1971, atap masjid berbentuk kubah, dengan bangunan utama tetap mempertahankan bentuk Jawa. Masjid Jami' juga berganti nama menjadi Masjid Agung Baiturrahman. Perubahan kembali dilakukan sesuai konsep arsitektur yang dominan kala itu. Pada renovasi yang lakukan pada 1980-an, selain pelebaran masjid, kubah dibongkar dan atap joglo kembali digunakan. Alasannya, tulis Dea Denta Tajwidi dan I Wayan Pardi, “untuk menonjolkan ciri khas bentuk kearifan lokal masyarakat Osing pada saat itu.” Sejatinya, penggunaan atap joglo tengah digalakkan saat itu. Ini tak lepas dari pengaruh Presiden Soeharto, seorang pengagum nilai-nilai dan tradisi Jawa. Soeharto mendorong pembangunan masjid bergaya tradisional dengan Masjid Agung Demak sebagai prototipe –beratap tumpang tiga susun. Lalu, pascareformasi, Masjid Baiturrahman kembali berbenah. Pada 2005, masjid dipugar. Atap masjid dikembalikan lagi ke bentuk kubah. Lalu bagian bangunan diperkaya dengan ornamen yang menunjukkan ciri khas masyarakat Osing. Mimbar masjid bernuansa asli Banyuwangi dengan ukiran gajah oling , ragam hias atau motif yang diyakini paling tua di Banyuwangi. Deretan jendela tertutup (kaca grafir) di bawah kubah sayap selatan, tengah, dan utara juga dihiasai motif gajah oling . Begitu pula kaca grafir pada krawangan besi hollow yang mengitari semua ruangan masjid. Kini, Masjid Agung Baiturrahman lebih megah dan indah. Ia menjadi pusat kegiataan keagamaan di Kota Banyuwangi. Nuansa sejarah tetap terasa dengan keberadaan makam para bupati Banyuwangi. Untuk rekreasi, terdapat Taman Sri Tanjung –yang diambil dari tokoh Sri Tanjung dalam legenda Banyuwangi, di sisi timur masjid. Masjid ini juga digunakan untuk beragam acara budaya. Termasuk Festival Endog-endogan, acara mengarak ribuan telor setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang masuk dalam agenda Banyuwangi Festival. Untuk tahun 2020, acara dengan nama Festival Maulid dijadwalkan pada 29 Oktober.

  • Kisah Buronan Sekutu

    Pasca berakhirnya Perang Dunia II, banyak tentara Jepang yang melakukan desersi. Alih-alih menuruti seruan pimpinan tertingginya, mereka malah bergabung dengan para pejuang kemerdekaan Indonesia. Menurut peneliti sejarah dari Jepang Aiko Kurasawa, jumlah mereka hampir mendekati 1.500 orang. “Motivasi mereka bermacam-macam, namun sebagian karena takut menghadapi pengadilan perang Sekutu,” ungkap penulis buku Sisi Gelap Perang Asia itu. Baca juga:  Cerita Para Desersi Jepang Aiko tidak salah. Setidaknya itu yang menjadi salah satu motivasi Masharo Aoki untuk lari ke Jawa dan bergabung dengan gerilyawan TNI dari unit Pasukan Pangeran Papak (PPP) sejak Maret 1946. Sumber-sumber Belanda menyebut bahwa Aoki tadinya merupakan pimpinan kamp konsentrasi  yang bertanggungjawab atas ratusan tawanan Eropa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). “Dia dikenal sangat kejam, namun beberapa saksi menyebut Aoki justru berlaku fair terhadap orang-orang Eropa yang menjadi tanggungjawabnya di sebuah kamp yang terletak di Flores,” tulis  koran Nieuwe Courant , 24 Juni 1949 . Aoki kemudian merubah namanya menjadi Abu Bakar. Dia dikenal sebagai salah satu komandan paling populis di Markas Besar Gerilya Galunggung (MBGG), sebuah unit rahasia yang dibentuk oleh TNI di pegunungan Garut-Tasiklmalaya. Dalam suatu penggerebekan, Aoki berhasil ditangkap militer Belanda di Gunung Dora pada 26 Oktober 1948. Alih-alih diserahkan kepada pihak Sekutu, militer Belanda malah mengadili lelaki Jepang kharismatik itu. Aoki akhirnya ditembak mati di Garut pada 21 Mei 1949. Baca juga:  Drama di Gunung Dora Nasib serupa juga dialami oleh Nishida dan Karta (belum jelas benar siapa nama Jepang-nya). Kedua eks tentara Jepang itu menurut sumber-sumber Sekutu yang berhasil digali oleh sejarawan Des Alwi, merupakan bekas algojo-algojo yang bertanggungjawab atas hilangnya nyawa puluhan orang Amerika Serikat, Inggris, Belanda dan Australia di Kamp Ambon, Maluku pada 1943-1945. “Des menceritakan itu langsung kepada saya,” ungkap almarhum Priyatna Abdurrasyid, eks perwira Corps Polisi Tentara (CPT) di Bogor. Menghindari kejaran pihak Sekutu, Nishida dan Karta lantas lari ke Surabaya sekira akhir 1945. Dari Surabaya mereka pergi ke Batavia dan selanjutnya menghindar ke pelosok hingga bergabung dengan Tentara Republik Indonesia (TRI) dari Batalyon II Resimen Bogor pimpinan Mayor A.E. Kawilarang. Baca juga:  Mayor Alex dan Harta Karun Jepang Rupanya keberadaan kedua buronan perang itu tercium oleh intelijen Sekutu. Awal April 1946, Detasemen Kejahatan Perang Australia (AWCD) mengirimkan petugasnya yang bernama Squadron Leader Frederick George Birchall untuk meringkus Nishida dan Karta. Demikian menurut pemberitaan koran The Canberra Times , 20 April 1946. Sebelum mendapatkan keduanya, Birchall justru dibunuh duluan oleh Nishida dan Karta dengan bantuan satu kompi TRI pimpinan Letnan Bustomi dari Yon II. Mayat Birchall kemudian dikubur di sebuah kebun dekat Stasiun Maseng, Bogor Selatan. “Dibantu oleh dua warga setempat, saya berhasil menemukan jasadnya dan memberikannya ke pihak Sekutu via pemerintah RI,” ujar Priyatna. Atas permintaan Sekutu, Nishida dan Karta kemudian ditangkap. Dengan mudah mereka kemudian diringkus oleh Polisi Tentara (PT) di markas Yon II. Dalam otobiografi-nya ( Untuk Sang Merah Putih ), A.E. Kawilarang yang saat itu menjabat sebagai komandan batalyon mengaku awalnya keberatan anak buahnya ditangkap begitu saja. Namun karena ada surat perintah langsung dari Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin, Kawilarang tak bisa berbuat apa-apa. Nishida dan Karta lantas diserahkan ke Markas Besar Komandemen Jawa Barat di Purwakarta. Di sana, mereka berdua diperlakukan secara baik, bahkan ditempatkan tidak di sel tahanan. “Kami ditampung bersama kedua Jepang itu di sebuah mess Komandemen,” ujar Priyatna yang ikut mengantar Nishida dan Karta ke Purwakarta. Baca juga:  Tewasnya Perwira Australia di Bogor Selanjutnya, Priyatna, yang saat itu berpangkat letnan satu, jadi terlibat lebih akrab dengan kedua Jepang itu. Kepada perwira PT tersebut, Nishida berkisah bagaimana mereka berdua mengikuti nasib terlempar dari satu medan perang ke medang perang lainnya di Asia: mulai Indocina hingga Indonesia. Setelah beberapa hari tinggal bersama kedua tahanan itu, Priyatna akhirnya harus balik ke Bogor. Seiring dengan itu, keluar perintah dari Jakarta kepada Panglima Komandemen Jawa Barat Jenderal Mayor Didi Kartasasmita. “Mereka memerintahkan saya untuk memberangkatkan kedua mantan tentara Jepang itu ke Jakarta,” ungkap Didi Kartsasmita dalam otobiografinya, Pengabdian bagi Kemerdekaan (disusun oleh Tatang Sumarsono). Namun perintah itu tak pernah terlasanakan. Sebelum Kepala Intel Komandemen Jawa Barat Mayor Soeroto Koento menyampaikannya secara langsung kepada Nishida dan Karta, kedua eks tentara Jepang tersebut keburu mati dalam kondisi kepala pecah. Penyebabnya, ledakan granat yang konon mereka lemparkan sendiri ke dinding kamar. Rupanya Nishida dan Karta lebih memilih harakiri daripada harus berdiri sebagai pesakitan di pengadilan militer Sekutu. Baca juga:  Desersi Jepang Masa Perang Kemerdekaan

  • Sri Tanjung: Kisah Eksorsisme di Ujung Timur Jawa

    DENGAN penuh harap Sri Tanjung menanti Sidapaksa pulang. Suaminya telah sepekan pergi ke surga demi menjalankan perintah Prabu Hadikrama. Namun bukannya berbalas rindu, Sri Tanjung justru ketakutan karena suaminya pulang dengan amarah. Menurut Sidapaksa, Raja Sulakrama telah memergoki Sri Tanjung bermesraan dengan laki-laki lain ketika ia bertugas. Sidapaksa tetap tak percaya ketika Sri Tanjung memberitahu bahwa justru Raja Sulakrama yang hendak memperkosanya. Sri Tanjung lalu diajak ke Hutan Setra Gandamayu. Rambutnya ditarik dari belakang. Di tangan kanan suaminya, tergenggam sebilah keris. “Apabila darah saya berbau harum, maka benarlah kalau saya istri yang betul-betul setia kepada suami,” ucap Sri Tanjung sebelum keris sang suami membunuhnya. Darah Sri Tanjung ternyata wangi. Sidapaksa langsung menyadari kesalahannya dan menyesal. Ia menjadi gila, memohon kepada dewa agar istrinya dihidupkan kembali. Jiwa Sri Tanjung ketika itu sudah mencapai alam kematian. Ia telah menyeberangi sungai dibantu seekor buaya putih. Tapi ia bertemu Dewi Durga, yang menghidupkannya kembali usai mendengar kisahnya. Ia dipulangkan ke rumah kakeknya, pertapa Tambapetra. Di sanalah akhirnya ia ditemukan kembali oleh Sidapaksa. Sri Tanjung diminta kembali hidup bersama sang suami. Sri Tanjung yang tadinya malas akhirnya bersedia. Syaratnya Sidapaksa membawakan kepala Raja Sulakrama. Ia akan menjadikannya alas kaki. Syarat itu dipenuhi. Kesumat Sri Tanjung terbalaskan. Sri Tanjung dan Sidapaksa kembali hidup bersama. Begitulah kisah Sri Tanjung yang digubah dalam bentuk kidung dan hadir dalam banyak manuskrip. Salah satu versinya pernah dipentaskan secara teatrikal dalam Banyuwangi Ethno Carnival yang masuk rangkaian Banyuwangi Festival 2016. Masyarakat Banyuwangi percaya kalau Sri Tanjung dan kisahnya benar-benar pernah terjadi. Baca juga:  Menak Jingga yang Ganteng Menurut Anis Aminoedin dkk dalam Penelitian Bahasa dan Sastra dalam Naskah Cerita Sri Tanjung di Banyuwangi, sebagaian masyarakat meyakini beberapa tempat di Banyuwangi berkaitan dengan kisah itu. Misalnya daerah Penataban. Wilayah ini dulunya lokasi Sidapaksa natab-natab atau membentur-benturkan kepalanya akibat gila karena membunuh istrinya. Lalu Desa Kramasan dianggap sebagai tempat keramas Sri Tanjung sebelum ia dibunuh. Adapun Desa Tanjung, yang letaknya beberapa kilometer ke arah selatan Kota Banyuwangi, merupakan tempat asal Sri Tanjung. Hingga saat ini pun terdapat sumur yang dikenal luas sebagai Sumur Sri Tanjung di belakang Pendopo Shaba Swagata Blambangan, rumah dinas Bupati Banyuwangi. Menurut masyarakat ini adalah lokasi jasad Sri Tanjung diceburkan setelah dibunuh. Konon, sumber mata air itu mengeluarkan wangi sebagai bukti kesetiaan Sri Tanjung. Itulah yang kemudian dipercayai masyarakat sebagai asal-usul nama Banyuwangi, yaitu " banyu " yang berarti air dan " wangi " yang berarti harum. “Masih ada tempat-tempat lain yang dihubung-hubungkan dengan cerita Sri Tanjung. Karena sangat percayanya, cerita ini dianggap tabu untuk dipentaskan di berbagai media seni, seperti ludruk, ketoprak, atau drama,” catat Anis Aminoedin. Tak cuma di Banyuwangi, cerita Sri Tanjung yang punya banyak versi itu dikenal di beberapa daerah. Kisah ini bahkan sudah lebih dulu populer sejak berabad lalu oleh orang-orang Majapahit. Dari Majapahit ke Banyuwangi Filolog R.M. Ng. Poerbatjaraka dalam Kapustakan Djawi menyebutkan kalau kisah Sri Tanjung juga dikenal di Bali. Sementara Prijono dalam disertasinya Sri Tanjung, Een Oud-Javaansch Verhall mendata ada 22 versi naskah yang berasal dari Bali dan Banyuwangi. Satyawati Suleiman dalam Batur Pendopo Panataran mencatat arkeolog Belanda P.V. van Stein Callenfels pernah menyebut kalau kisah Sri Tanjung bersama Sudamala termasuk dalam kesusastraan Aliran Banyuwangi . Ini merupakan aliran yang menurutnya pernah berkembang pada abad ke-17 dan ke-18, yakni ketika Kerajaan Blambangan belum mengenal Islam. Kisah Sri Tanjung itu berkembang berdasarkan sebuah cerita yang sudah lebih dulu ada pada masa Kerajaan Majapahit. Kerajaan ini, berdasarkan sumber Serat Pararaton , pada masa pemerintahan Kalagemet atau Jayanagara (1309-1328) memperluas kekuasaannya ke bagian timur Jawa, menembus area dari Lumajang hingga ke timur, termasuk Blambangan. Baca juga:  Perlawanan Jagapati sebagai Hari Jadi Banyuwangi Pada masa keruntuhan Majapahit abad ke-15, Blambangan berdiri sebagai satu-satunya kerajaan Hindu di Jawa. Ia mengontrol wilayah Ujung Timur Jawa. Wilayah ini kini terbagi dalam lima kabupaten, yakni Banyuwangi, Jember, Lumajang, Bondowoso, dan Situbondo. Pada masa Majapahit, kisah Sri Tanjung ditemukan dalam beberapa relief candi. Antara lain Candi Jabung di Probolinggo yang berangka tahun 1354. Ditemukan pula pada Batur Pendapa Panataran di Blitar yang terdapat angka tahun 1375. Lalu pada dinding Candi Surawana di Kediri yang tak berangka tahun namun diperkirakan dibangun pada 1400 atau 12 tahun setelah kematian Bhre Wengker, paman Raja Hayam Wuruk yang didharmakan di candi ini. Kisah Sri Tanjung dalam relief dikenali dari penggambaran seorang gadis yang duduk di atas seekor ikan besar. Gambar ini mengingatkan pada satu bagian dari cerita versi teks yang menceritakan Sri Tanjung dibawa buaya putih menyeberangi sungai ke alam kematian. “Pada relief-relief di Jawa Timur tak terdapat seekor buaya yang ditumpangi perempuan. Mungkin para pemahat pada waktu itu lebih suka menggambarkan seekor ikan daripada seekor buaya,” kata Satyawati. Baca juga:  Keindahan yang Terjaga dari Hutan Tua Sementara Lydia Kieven dalam Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit berasumsi ikan merupakan bagian dari kisah Sri Tanjung versi lisan yang lebih tua, atau mungkin versi tulis yang sudah hilang. Tak menjadi soal kalau cerita pada relief seakan menyimpang dari naskah. Kidung Sri Tanjung ini adalah salah satu cerita yang digubah pada periode Jawa Timur tanpa bergantung pada sumber India. Dari tradisi lisan, cerita ini mewujud dalam penggambaran pada relief. “Harus dipertimbangkan bahwa Indonesia, khususnya Jawa, memiliki tradisi lisan yang kuat. Sampai hari ini, media penyebarluasan lisan masih lebih disukai khalayak luas daripada media tulisan,” katanya. Tradisi lisan inilah yang kemudian membawa kisah Sri Tanjung ke berbagai daerah dengan versi masing-masing. Kata Kieven, fakta adanya beberapa manuskrip yang isinya agak berbeda untuk sejumlah teks Jawa Kuno membuktikan kreativitas dalam mengarang versi baru yang menghasilkan bentuk amat beragam. “Kita dapat menyimpulkan bahwa bahkan ada lebih banyak lagi variasi yang tidak kita ketahui,” ujarnya. Simbol Penyucian Dari semua episode, bagian kisah Sri Tanjung menunggang ikan untuk menyeberang dari alam kehidupan ke kematian selalu dipilih oleh para pemahat relief. Menurut Kieven, ini memperlihatkan kisah Sri Tanjung mungkin berfungsi sebagai pengantar peziarah candi dalam transisi mereka dari ranah duniawi ke ranah suci. Terlebih lagi kisah cinta seperti dalam cerita Sri Tanjung ini, dinilai Kieven, akan memikat para peziarah sebelum mereka menyelami cerita lainnya yang mempunyai makna spiritual lebih kuat. Misalnya pada dinding Candi Surawana. Selain terpahatkan kisah Sri Tanjung, terdapat relief bermuatan kisah Arjunawiwaha . Menurut Kieven, relief Sri Tanjung bisa dianggap sebagai pengantar sebelum pengunjung mendekati relief Arjunawiwaha yang bermuatan lebih filosofis dan sakral.  Baca juga:  Merawat Kisah Nabi Yusuf Cerita Sri Tanjung bukan cuma menyoal tema percintaan, tetapi ada makna eksorsisme di dalamnya. Kata Kieven, kisah Sri Tanjung sengaja digambarkan dalam relief candi untuk menekankan soal pembebasan spiritual. “Pembebasan jiwa adalah topik utama dalam berbagai pemujaan. Jelas pula merupakan fungsi penting situs-situs keagamaan,” katanya. Hal ini terbukti dari betapa populer kisah itu. Tak heran, selain Sudamala, kisah Sri Tanjung hingga kini sering pula dibawakan dalam tradisi ruwatan di Jawa. Kisah ini dipercaya menjadi simbol melepas segala bentuk perbuatan jelek, malapetaka, hal kotor yang bersifat duniawi menuju kondisi yang kembali suci.*

  • Kerusuhan Siswa Tionghoa Singapura, Cara Komunis-Nasionalis Lawan Kolonalis Inggris

    HARI ini, 13 Mei, 66 tahun silam. Para siswa di sekolah-sekolah menengah Tionghoa di Singapura berkumpul di Sekolah Chung Cheng, sekolah Tionghoa terbesar di Singapura. “Mereka bermaksud mengajukan petisi kepada Gubernur Singapura Franklin Gimson,” tulis Cheong Suk-wai dalam Sound of Memories, the Recordings from the Oral History Centre, Singapore . Inti petisi mereka yakni menentang ordonansi National Service, aturan wajib militer paruh-waktu kepada pemuda berusia 18-20 tahun. Ordonansi tersebut merupakan salah satu langkah pemulihan yang diambil pemerintah kolonial Inggris untuk mengembalikan kekuasaannya di koloni selepas Perang Dunia II. Dinas wajib itu dilakukan untuk menyiasati masalah pertahanan yang saat itu praktis dipegang oleh militer yang mayoritas kulit putih dan jumlahnya tak seberapa. Padahal, rencana jangka panjang pemerintah kolonial diprioritaskan pada peningkatan kehidupan sosial-ekonomi. Peran-serta masyarakat lokal amat diperlukan. Untuk mencapainya, pemerintah berpijak pada pembangunan pendidikan modern (Barat) berbahasa pengantar Inggris. Perhatian lebih pada pendidikan Barat itu mematikan pendidikan berbahasa daerah (Tionghoa maupun Melayu) dan kemudian memunculkan sentimen negatif di kalangan siswa dan juga guru sekolah-sekolah Tionghoa terhadap pemerintah kolonial. Di sisi lain, banyak dari siswa sekolah Tionghoa sudah memiliki kesadaran akan kemerdekaan. Di antara mereka sudah ada yang menjalin kerjasama dengan gerakan anti-kolonialisme yang diusung Klub Sosialis Univeritas Malaya. Fakta-fakta di luar seperti kemenangan Vietnam atas kolonialis Prancis di Dien Bien Phu atau yang lebih dulu, kemerdekaan Indonesia, makin memacu mereka untuk bergerak menentang kolonialis Inggris demi memerdekakan Singapura. Sentimen para siswa Tionghoa terhadap kolonialis itu bertemu dengan keinginan kaum komunis yang berupaya mengenyahkan kolonialisme. Mereka menganggap para pelajar sebagai potensi “bahan bakar” bagi perjuangan melawan kolonialisme. Selepas dikeluarkannya keadaan darurat di Malaya (Juni 1948) oleh pemerintah kolonial akibat pembunuhan terhadap tiga orang kulit putih yang dilakukan aktivis komunis di bawah Chin Peng di perkebunan, perjuangan kaum komunis terpaksa tiarap. “Pada 1948, pemerintah Singapura juga mengeluarkan Peraturan Darurat, melarang Partai Komunis Malaya (MCP), dan jajaran kepemimpinannya. Dari tahun 1950-1953, kepemimpinan komite dan cabang-cabang distrik di Singapura runtuh, dan organisasi berada dalam keadaan tanpa kemudi. Hanya ada tiga anggota partai tersisa. Mereka adalah Fang Chuang Pi yang bertugas menyebarkan ideologi melalui koran Freedom , Chiam Choon Chian yang bertanggung jawab atas gerakan buruh, dan Ng Meng Chiang yang bertanggung jawab atas gerakan mahasiswa,” tulis buku yang dieditori Kwa Chong Guan dan Kua Bak Lim, A General History of the Chinese in Singapore . Peran Ng Meng Chiang, yang dijuluki Kamerad D, amat vital dalam mengorganisir pelajar. “Pada periode ketika jaringan bawah tanah dihancurkan dan semangat kerja rendah, pemimpin mahasiswa Partai Komunis Malaysia, Ng Meng Chiang, dan editor koran Freedom , Fang Chuang Pi, meluncurkan gerakan massa yang terbuka dan legal untuk mengumpulkan pelajar, pekerja dan petani dari Februari 1954 hingga April 1955, juga dikenal sebagai ‘The Open United Front’,” sambung Guan dan Lim. Di tangan Kamerad D-lah protes-protes terhadap kebijakan kolonialis, terutama yang terkait dengan dunia pendidikan, diorganisir. “Ini termasuk boikot ujian sekolah tahun 1951 karena dianggap ‘konspirasi untuk melemahkan pendidikan Cina’ dengan Lim Chin Siong sebagai salah satu pemimpinnya. Ini diikuti oleh demonstrasi kekerasan Mei 1954 melawan National Service di bawah kepemimpinan Ng Meng Chiang alias Comrade D dan dibantu Lim Hock Koon dan Lim Chin Siong,” tulis Bilveer Singh dalam Quest for Political Power: Communist Subversion and Militancy in Singapore . Maka begitu pemerintah kolonial mengesahkan ordonansi National Service pada Desember 1953, Kamerad D dan para pendukungnya amat senang. Mereka mendapat momentum pas untuk meluncurkan gerakan lagi. “Masalah National Service adalah anugerah bagi MCP (Malayan Communist Party),” tulis Guan dan Lim. Ordonansi itu sendiri mewajibkan semua siswa sekolah dan warga koloni berusia 18-20 tahun untuk ikut pelatihan militer paruh waktu. Mereka yang tak mematuhinya akan dihukum denda atau penjara. Pendaftaran paling akhir dijadwalkan pada 12 Mei 1954. Namun menjelang tenggat berakhir, belum ada satupun dari siswa sekolah-sekolah Tionghoa yang mendaftar meski tim dari pemerintah sudah dua kali dikirim ke sekolah Chung Cheng untuk membagikan formulir pendaftaran. “Para siswa di sekolah-sekolah menengah Cina menolak seruan tersebut yang dianggapnya sebagai cara lain Inggris untuk melemahkan kekuatan peluang pendidikan dan karier mereka,” tulis Cheong Suk-wai dalam Sound of Memories, the Recordings from the Oral History Centre, Singapore . Tak adanya pendaftar dari pelajar Tionghoa mendorong Kepala Sekretaris William Goode melakukan pertemuan dengan perwakilan Serikat Siswa Sekolah Menengah Tionghoa pada 13 Mei. Karena jadwal pertemuan sudah diketahui luas, sekira seribu pelajar Tionghoa yang sedang mengikuti kompetisi olahraga di Stadion Jalan Besar bergeser ke tempat pertemuan Goode, berjarak sekitar 30 menit berjalan kaki, sebagai bentuk dukungan kepada perwakilan pelajar Tionghoa. Di tengah penantian mereka terhadap hasil perundingan itulah hal tak terduga terjadi. Entah siapa yang memulai. “Semuanya berubah menjadi kekacaun saat mereka bentrok  dengan polisi anti-huru-hara,” sambung Cheong Suk-wai. Meski tak ada korban jiwa, lebih dari 20 orang dari kedua belah pihak mengalami luka-luka. Pemerintah kolonial menahan lebih dari 50 orang yang dianggap terlibat dalam kerusuhan. Lee Kuan Yew, pengacara yang kemudian menjadi “Bapak pendiri Singapura”, membela para pimpinan pelajar di pengadilan. “Saat ia membantu pembelaan hukum para siswa yang ditangkap, Lee Kuan Yew memiliki kesempatan untuk masuk ke kalangan pendidikan Tiongkok. Dia melihat dan mengalami langsung semangat juang, cita-cita politik, dan tekad untuk menggulingkan kolonialisme di kalangan mahasiswa Tiongkok. Untuk membangun Malaya yang demokratis, anti-Komunis, sosialis, Lee Kuan Yew memutuskan untuk membasmi para elit kelompok untuk membantunya mendapatkan dukungan dari para siswa yang berpendidikan Cina. Dia percaya bahwa dia dapat memenangkan para aktivis Tiongkok berpendidikan untuk mendukung tujuannya untuk pemerintahan sendiri dan kemerdekaan. Insiden 13 Mei memberi Lee Kuan Yew pengantar ke kalangan berpendidikan Cina,” tulis Guan dan Lim.*

  • Penghormatan dari Para Pemetik Laut

    PULUHAN perahu nelayan beraneka motif dan warna mengarungi Laut Muncar. Di sebuah lokasi berair tenang di Plawangan, iring-iringan perahu berhenti. Dengan dipimpin sesepuh nelayan, githik (perahu kecil) berisikan berbagai sesaji dan hasil bumi dilarung ke tengah laut. Para nelayan sontak menceburkan diri ke laut, berebut mendapatkan sesaji. Ada juga yang menyiramkan air yang dilewati sesaji ke seluruh badan perahu. Mereka percaya air ini menjadi pembersih malapetaka sekaligus limpahan berkah ketika melaut nanti. Dari Plawangan, iring-iringan perahu bergerak menuju Tanjung Sembulungan yang terletak di kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Di tempat ini nelayan kembali melarung sesaji untuk penunggu Tanjung Sembulungan. Setelah itu ritual dilanjutkan ziarah ke makam Sayid Yusuf, orang pertama yang diyakini membuka lokasi Tanjung Sembulungan. Ritual diakhiri dengan selamatan dan doa bersama. Kemudian dilanjutkan menikmati tari gandrung dengan gending-gending klasik suku Osing hingga sore hari.  Upacara Petik Laut rutin digelar setiap tahun oleh para nelayan di kawasan Muncar, sekitar 30 km meter dari kota Banyuwangi, Jawa Timur. Biasanya setiap 15 Muharram/Suro penanggalan Jawa. Upacara Petik Laut bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil tangkapan ikan yang melimpah sekaligus permohonan agar selalu mendapatkan keselamatan (tolak bala). Kosmologi Pesisir Muncar adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Dengan wilayah berada di pesisir pantai, tak heran mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan. Di Muncar terdapat pelabuhan penghasil ikan terbesar di Jawa dan terbesar kedua di Indonesia setelah Bagansiapiapi, Riau. Pelabuhan ini sudah ada sejak masa Kerajaan Blambangan. Muncar didiami nelayan dari beragam etnis. Orang Madura, Bugis, dan Mandar datang dan menyatu dengan penduduk Jawa dan Osing. Mereka juga memperkenalkan agama Islam dan mengadaptasi budaya-budaya lokal. Dari sinilah lahir tradisi Petik Laut. Tradisi lisan meyakini ritual Petik Laut berkembang setelah kehadiran orang Madura di Banyuwangi. Konon, ritual ini sudah diadakan nelayan Muncar sejak 1901 dengan dipimpin seorang dukun. Ritual ini dikaitkan dengan kepercayaan bahwa laut dan segala isinya ada yang menjaga. Nelayan dapat selamat dan memperoleh ikan karena izin dari penjaga laut, yakni Nyi Roro Kidul.  Baca juga:  Ikan-ikan dari Muncar Selain Nyi Roro Kidul, ada tokoh supranatural lainnya yang justru dianggap paling penting dalam ritual ini. Ia adalah Ratu Rejo Mino, yang dalam kepercayaan Wong Osing dianggap sebagai “Ratu Ikan”. “Ratu Rejo Mino ( the lesser spirit ) sebagai ratu penguasa ikan-ikan di laut memiliki kekuasaan untuk melimpahkan ikan atau tidak,” tulis Nur Ainiyah dalam “Islam, Osing dalam Bingkai Tradisi dan Kosmologi: Studi Nelayan Kedungrejo-Banyuwangi”, dimuat jurnal Lisan Al-Hal , Desember 2016.  Dalam artikel lain berjudul “Petik Laut”, dimuat jurnal Religia Vol. 20, No.2, 2017, Nur Ainiyah mengaitkan ritual Petik Laut dengan sebuah legenda. Dalam kitab Marsodo Mancing , ada kisah dua bersaudara yang memancing dengan kail emas dan berhasil menangkap Ratu Rejo Mino. Dalam dialog , Sang Ratu mengatakan bahwa dia akan memberikan banyak ikan jika setiap Muharrom masyarakat melakukan ritual laut. Versi lain menyebut ritual Petik Laut dimulai dengan kedatangan seorang nelayan dari Timor yang bernama Sayid Yusuf ke Muncar, bersamaan waktunya dengan penyebaran agama Islam di Blambangan. Baca juga:  Di Balik Ritual Keboan Sayid Yusuf dikenal sebagai orang yang “pandai” dan suka membantu masyarakat sekitar. Suatu ketika ikan-ikan di laut Muncar seolah menghilang. Ditambah lagi, banyak nelayan menemui ajal oleh ganasnya ombak. Untuk mengusir petaka itu, Sayid mengajak masyarakat untuk melakukan upacara, memohon kepada Yang Kuasa, dengan menyertakan kesenian gandrung yang disukainya. Setelah upacara itu malapetaka pun sirna. Sejak itulah upacara Petik Laut diadakan setiap tahun. Sayid Yusuf dimakamkan di Tanjung Sembulungan dan masih dikeramatkan sebagian masyarakat nelayan Muncar. Tempat ini pula yang hingga kini menjadi lokasi terakhir dari rangkaian kegiatan upacara Petik Laut. Di Tanjung Sembulungan pula terdapat dua makam penari gandrung yang diziarahi nelayan dalam ritual Petik Laut. Cerita tutur menyebut Sayid Yusuf menyukai kesenian gandrung. Dia juga mencintai seorang penari gandrung. Bahkan ada yang menyebut orang Osing menikahkan Sayid Yusuf dengan penari gandrung yang cantik. Hingga suatu ketika penari tersebut meninggal dan dimakamkan di dekat pantai Tanjung Sembulungan. Festival Petik Laut Muncar di Pelabuhan Muncar, Banyuwangi, Minggu, 16 Oktober 2016. (Dok. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi). Cerita tutur lainnya menyebutkan, saat ritual Petik Laut pertama kali digelar di Tanjung Sembulungan, seorang penari gandrung meninggal dan dimakamkan di pinggir pantai. “Sejak itu, Petik Laut wajib menghadirkan penari gandrung,” tulis Farah N. Azizah dan Turyati dalam “Gandrung dalam Upacara Ritual Petik Laut di Pantai Muncar Kabupaten Banyuwangi”, dimuat jurnal seni Makalangan , Juni 2014. Setelah ritual dipraktikkan turun-temurun, arus perubahan terjadi seiring menguatnya pengaruh kiai dan kalangan pesantren di daerah Muncar. “Ritual Petik Laut yang semula hanya merupakan ritual kecil para nelayan dan masih terpengaruh kuat dengan animisme dan dinamisme, kemudian berkembang menjadi ritual besar yang banyak dihiasi unsur-unsur Islam,” tulis Eko Setiawan dalam “Eksistensi Budaya Bahari Tradisi Petik Laut di Muncar Banyuwangi”, dimuat jurnal Universum , Juli 2016. Baca juga:  Selera Naga Sejuta Rasa Nur Ainiyah menyebut objek penting lain dari persembahan dalam ritual Petik Laut, yakni Nabi Hidir. Nabi Hidir secara historis dijelaskan dalam Alquran, bahwa ia hidup abadi sampai akhir zaman dan hidupnya di laut atau di pantai. Masyarakat nelayan Islam Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, meyakini bahwa laut dan isinya dijaga Nabi Hidir. Mereka berharap bisa bertemu agar bisa mengubah nasib. “Hal ini cukup beralasan karena Nabi Hidir adalah sosok suci yang setiap permintaannya dikabulkan oleh Allah,” tulis Nur Ainiyah. Maka, jadilah ritual Petik Laut sebagai bentuk akomodasi dari tradisi lokal dan Islam di kalangan nelayan yang menjadi satu bingkai kosmologi pesisir. Wahana Pariwisata Upacara Petik Laut memiliki rangkaian kegiatan yang penting. Ritual dimulai dari pembuatan sesaji oleh sesepuh nelayan. Sesaji terdiri dari berbagai macam; dari pancing emas hingga pisang raja, dari segala jenis buah hingga aneka jajan pasar. Salah satu sesaji yang sangat penting adalah kepala kambing kendit, yaitu kambing hitam dengan bulu putih melingkar dari perut sampai punggung. Pemakaian kambing kendit dan sejumlah sesaji itu meniru cara Sayid Yusuf. Masing-masing punya makna. Misalnya, w arna kambing hitam dan putih melambangkan sifat baik dan buruk manusia. Pancing emas disimbolkan sebagai pengingat para nelayan bahwa bekerja di lautan itu senilai emas, perlu pengorbanan, demi menghidupi keluarga. Pada malam hari sebelum pelaksanaan Petik Laut, masyarakat menggelar pengajian atau semaan di sejumlah surau dan rumah warga. Baca juga:  Sajian dari Beragam Pasar Kuliner Menjelang siang, sesaji diarak keliling kampung ( ider bumi ) menuju tempat pelelangan ikan (TPI). Setiba di TPI, sesaji disambut enam penari gandrung. Setelah dibacakan doa oleh sesepuh nelayan, sesaji diarak menuju perahu. Dimulailah prosesi upacara melarung sesaji di lautan. Ritual Petik Laut masih bertahan hingga kini. Selain tujuannya sebagai ungkapan syukur sekaligus tolak bala, ritual Petik Laut merupakan bentuk penghormatan nelayan lokal terhadap laut. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memberikan dukungan agar kearifan lokal tersebut tetap terjaga. Selain itu, kegiatan Petik Laut bisa menjadi wahana pariwisata. Salah satunya dengan mengemas tradisi tersebut menjadi bagian dalam agenda wisata tahunan Banyuwangi Festival. Untuk tahun 2020, Petik Laut Muncar dijadwalkan digelar 3 September 2020.

  • Narasi di Balik Jersey Legendaris Magic Johnson

    PUBLIK basket Amerika Serikat dihebohkan oleh lelang sepasang sepatu langka Nike Air Jordan edisi pertama. Sepatu yang dimaksud adalah sepasang sepatu yang pernah dipakai legenda NBA Michael Jordan pada musim 1985. Sepatu milik Jordan Geller, pendiri museum sepatu Shoezeum di Las Vegas, itu dilempar ke Balai Lelang Sotheby hingga 17 Mei 2020 dalam rangka pemutaran episode pamungkas serial dokumenter Michael Jordan bertajuk The Last Dance . Nun jauh di seberang, publik basket di tanah air dihebohkan dengan bakal dilelangnya sebuah jersey asli milik Earvin ‘Magic’ Johnson. Pelelangan jersey Magic Johnson milik Ary Sudarsono itu dalam rangka kepedulian penanggulangan pandemi SARS-Cov-2 (virus corona ). Dalam live Instagram yang diprakarsai komunitas Manusia Basket Indonesia pada Minggu (10/5/2020), Ary memaparkan bahwa jersey LA Lakers berwarna ungu bernomor punggung 32 itu pemberian Magic Johnson. Ia dilelang via daring di akun Instagram (@sudarsonoary) dan Facebook -nya dalam kurun 12-23 Mei 2020 setiap pukul 08.00-23.00 WIB. Ia membuka harga Rp5 juta dan setiap peserta lelang bisa mengajukan tawarannya lewat kolom komentar di dua akun medsosnya itu. Baca juga: Salam Olahraga! Apa Kabar Ary Sudarsono? Jersey Magic Johnson milik Ary Sudarsono yang dilelang (Foto: Instagram @sudarsonoary) Uang hasil bidding itu nantinya bisa disumbangkan si pemenang lelang ke instansi atau pihak manapun yang dikehendakinya dalam bentuk bantuan langsung, baik berupa alat pelindung diri (APD) atau sembako. Ary hanya meminta bukti foto penyaluran sumbangannya maupun bukti transfer senilai tawaran tertinggi. "Apa yang saya lakukan atas nama komunitas Manusia Basket Indonesia ingin menyampaikan, bahwa basket itu bukan hanya olahraga, pertandingan atau sekedar bermain saja. Tapi basket itu gambaran tentang sportivitas, kesetiakawanan dalam kehidupan, bagaimana manusia memainkan perannya masing-masing baik secara individu ataupun kelompok, menjadi kepedulian untuk hasil terbaik bagi kelompoknya,” ujar Ary dalam live Instagram -nya. Kenangan Berharga Antara Ary punya cerita panjang tentang Magic Johnson. Pertemuannya pertamakali terjadi di Amerika pada 1991. Pertemuan  bermula dari ketika sang mantan pebasket, wasit basket internasional, dan presenter olahraga beken itu berupaya mendatangkan tayangan NBA ke Indonesia. Ketika itu, Ary tengah gelisah karena targetnya membawa tayangan premium NBA tak menemui hasil lantaran negosiasinya dengan Komisioner NBA David Stern stag. Namun, pada akhirnya Ary sukses membawa tayangan NBA yang kemudian disiarkan RCTI itu di tahun yang sama. Keberhasilan itu berkat pertemuan tak sengaja dengan Magic Johnson dan bantuan morilnya. Ketika Ary tengah makan siang usai negosiasi alot dengan pihak NBA di New York, ia bertemu Johnson yang hendak nge - gym . Baca juga: Jungkir Balik Mengimpor NBA ke Indonesia Kolase Ary Sudarsono bersama Earvin 'Magic Johnson Jr. (kiri) & Julius Winfield 'Dr. J' Erving II (Foto: Instagram @sudarsonoary) Johnson bersimpati atas upaya Ary mendongkrak pamor basket di sebuah negeri Asia Tenggara yang mungkin belum pernah didengar Johnson. Tetapi karena keterbatasan waktu, Johnson meminta Ary mengontaknya di lain hari. Janji itu ditepati Johnson. Beberapa hari berselang, Ary diajak menonton laga Boston Celtics vs LA Lakers dan dikenalkan pula dengan legenda NBA Julius ‘Dr. J’. Erving. Jejaring Ary di NBA meluas. Komunikasi dan negosiasi lanjutan dengan pihak NBA pun jadi lebih moncer. Dua tahun berselang, Ary bertemu lagi dengan Johnson. Pada pertemuan kedua di tahun 1993 itulah Ary dihadiahi jersey LA Lakers bertandatangan Johnson yang belum terpakai. “ Jersey itu dari tahun 1993 saat saya bertemu untuk bicara soal tayangan NBA di Indonesia dan perkembangan minat basket di Indonesia. Sekaligus penjajakan untuk undang dia ke Indonesia,” tutur Ary ketika dihubungi lebih lanjut oleh Historia . “ Jersey -nya memang dipersiapkan oleh Magic Johnson untuk saya. Itu satu set. Ada bola, topi, syal, dan jersey. Bolanya sudah rusak karena kelamaan didiamkan di lemari. Tanda tangannya juga sudah tipis karena kelamaan tersimpan pula,” sambungnya. Baca juga: Ary Sudarsono " Mr. Golden Whistle " Jersey orisinil LA Lakers pemberian Magic Johnson yang diharapkan bisa terlelang dengan harga tinggi (Foto: Instagram @sudarsonoary) Selang empat tahun, Ary pun sukses mendatangkan sang legenda beserta beberapa pebasket NBA lain ke Jakarta dalam tim Magic Johnson All Stars. Di tim itu, Johnson bermain menghadapi tim Satria Muda dan Indonesia Texmaco pada Januari 1997. “Bangga dan bahagia bisa main lawan Magic Johnson. Istimewanya, cuma 20 orang Indonesia yang bisa langsung lawan Magic dan kebetulan saya salah satunya, sekaligus ditugaskan untuk menjaga dia,” kata Wahyu Widayat, mantan pebasket Satria Muda, mengenang laga melawan Magic Johnson 23 tahun silam itu. “Saya sebagai insan basket wajib mendukung apapun itu yang dilakukan orang-orang atau berbagai komunitas, termasuk Manusia Basket Indonesia yang bertujuan mulia untuk berbagi kebaikan. Apalagi jersey yang dilelang itu kelasnya legenda NBA. Semoga terjual dengan nilai yang pantas,” tambah asisten pelatih timnas basket putra tersebut. Bagaimana keberhasilan Ary mendatangkan Magic Johnson itu, Ary punya kisahnya tersendiri. Menurutnya, “Negosiasi mendatangkannya? Kita ngobrol biasa saja. Cuma ada kesamaan pola pikir. Bagaimana menjadikan basket tidak hanya bermain atau bertanding, tetapi jadi media untuk membangun kesamaan, kepedulian, sportivitas, dan sportsmanship . Semua itu jadi bekal hidup manusia dalam kehidupan di luar basket. Bahwa basket adalah pendidikan,” kata Ary menutup obrolan. Baca juga: Cerita Sandiaga yang Mengidolakan Magic Johnson

  • Gelar Khalifatullah untuk Raja Yogya

    Raja trah Mataram Islam semula bergelar Panembahan, Sunan atau Susuhunan. Gelar Khalifatullah kemudian dipakai oleh raja dari Kesultanan Yogyakarta.

  • Kemenangan Semu Atas Kejahatan Perang Belanda

    Penantian panjang, hampir delapan tahun akhirnya terbayar sudah. Usaha para keluarga korban menuntut keadilan dari kekejaman militer Belanda pimpinan Kapten R.P.P. Westerling di Sulawesi Selatan berbuah manis. Diberitakan The Guardian, para hakim Pengadilan Sipil Belanda di Den Haag memutus bersalah Pemerintah Belanda. Mereka harus membayar kompensasi kepada keluarga korban atas kejahatan militer yang dilakukan di Sulawesi Selatan antara tahun 1945-1949. Di dalam putusannya, pemerintah Belanda diharuskan memberi kompensasi antara 3.634 euro (sekira Rp 66 juta) hingga 10 ribu euro (sekira Rp 181,5 juta) kepada 8 janda dan 4 anak korban kejahatan perang militernya. Kasus ini sendiri dibawa ke pengadilan oleh pengacara HAM Lisbeth Zegveld pada 2012. Baru pada Maret 2020 gugatan ini berhasil dimenangkan. Baca juga:  Keluarga Korban Westerling Menangkan Gugatan Hasil akhir dari para hakim di pengadilan Den Haag itu keluar tidak lama setelah Raja Belanda Willem-Alexander melakukan kunjungan ke Indonesia pada 10 Maret 2020 lalu. Di hadapan Presiden RI Joko Widodo, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, raja menyampaikan permintaan maaf dalam pidato sambutannya. “Saya ingin menyampaikan rasa penyesalan dan permintaan maaf terhadap kekerasan yang berlebihan oleh pihak Belanda di tahun-tahun itu (1945-1949). Saya menyampaikannya dengan kesadaran penuh bahwa rasa sakit dan kesedihan keluarga yang terdampak masih terasa sampai hari ini,” ujar Raja Willem-Alexander, dikutip royal-house.nl. Masyarakat pun bersuka cita atas "kemenangan" tersebut, sekaligus mengapresiasi permintaan maaf tersebut. Banyak yang kemudian menanggapnya sebagai capaian penting dalam upaya mengungkapkan praktik kekejaman Belanda di Indonesia. Bahkan tidak sedikit juga masyarakat yang menganggap itu sebagai kesuksesan bangsa Indonesia. Lantas benarkah kemenangan sidang dan permintaan maaf Raja Belanda menjadi cara menghilangkan dosa masa lalu mereka? Kejahatan Perang Belanda Keberhasilan di dalam sidang itu rupanya masih menyimpan polemik. Meski para penggugat telah memastikan kemenangan, itu tidak merubah fakta sejarah yang ada. Bukan berarti berbagai kompensasi yang diberikan pemerintah Belanda kepada keluarga korban akan begitu saja menghapuskan catatan hitam militer mereka di negeri ini. Persoalan utama yang diangkat dalam persidangan di peradilan Den Haag adalah kekejaman militer Belanda selama kurun 1945-1949. Menurut sejarawan Anhar Gonggong, waktu empat tahun itu hanyalah sebuah simbol. Kekejaman sebenarnya militer Belanda di Indonesia telah terjadi selama ratusan tahun, menimpa kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri di sini. Jumlah korbannya pun tidak bisa terbayangkan. Baca juga:  Enam Hal Penting tentang Westerling Dalam acara diskusi “Berdamai dengan Sejarah: Pandangan Orang Indonesia terhadap Konflik Indonesia-Belanda (1945-1949)” pada 9 Mei 2020, Anhar menyebut ada perbedaan besar antara kekejaman Belanda sebelum dan sesudah tahun 1945. Bedanya, aksi militer yang terjadi masa kerajaan-kerajaan dilakukan di wilayah koloni Belanda. Artinya tindakan mereka bukan sebuah pelanggaran karena tidak ada hukum yang melarang itu. Sementara kekejaman yang dilakukan Belanda bersama pasukannya antara 1945-1949 itu sasarannya adalah rakyat di sebuah negara yang sudah merdeka. Karena jelas proklamasi kemerdekaan telah berkumandang di Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, dan sehari setelahnya negara ini telah sah merdeka. “Kejahatannya Belanda adalah bahwa dia mau menentang arus sejarah dalam arti dia mau mengembalikan penjajahannya ke negara yang sudah menyatakan dirinya merdeka,” ujar Anhar Gonggong. Anhar Gonggong sendiri merupakan salah satu keluarga korban kekejaman Belanda di Sulawesi Selatan. Ayah dan kakak, serta beberapa sanak keluarga lain, tewas di tangan militer Belanda. Menurut Anhar perjuangan keluarganya telah dimulai sejak abad ke-19, melalui sebuah kerajaan kecil di Sulawesi Selatan bernama Alitta. Baca juga:  Kekerasan Militer Belanda Terhadap Rakyat Sipil dalam Perang Kemerdekaan Sama halnya dengan Anhar, keluarga Irma Devita juga turut menjadi korban militer Belanda di Jawa Timur. Kakeknya adalah Letkol Mohammad Sroedji, tentara republik yang memimpin pengusiran Belanda di Jember. Letkol Sroedji menjadi satu dari komandan 17 brigade yang tersebar di seluruh pulau Jawa. Dia memimpin pasukannya bergrilya di wilayah Jawa Timur dan telah terlibat di dalam berbagai pertempuran. Letkol Sroedji gugur di Karangkedawung pada 8 Februari 1949 setelah dihujani peluru militer Belanda. “Kebetulan dalam catatan sejarah yang masih harus dikonfirmasi, bola matanya dicongkel dan tangan-tangannya dipotong, serta diseret sejauh sekitar 20 kilo dan dipertontonkan selama tiga hari di alun-alun Jember sebelum akhirnya bisa dimakamkan,” kata Irma. Baca juga:  Yang Gugur di Karang Kedaung Bukan Kemenangan Sesungguhnya Memang benar jika kemenangan di Pengadilan Negeri Den Haag adalah sebuah pencapaian dalam pengusutan kebrutalan militer Belanda di Indonesia. Namun hal itu bukan semata prestasi saja. Ada kekeliruan dalam menafsirkan kemenangan di Pengadilan Negeri Den Haag tersebut. Menurut Irma masyarakat dan kebanyakan media telah salah menempatkan posisi bangsa Indonesia di sini. Bergelut di bidang hukum, Irma sedikit banyaknya mengerti tentang persoalan Pengadilan Negeri Den Haag tersebut. Menurut Irma, proses hukum di Pengadilan Negeri Den Haag atas kasus militer Belanda di Indonesia keliru. Karena jika yang menjadi korban adalah warga negara merdeka, seharunya kasus ini dibawa ke Mahkamah Internasional, bukan pengadilan negeri. Keduanya sama-sama berkedudukan di Den Haag, sehingga banyak yang tidak bisa membedakannya. Baca juga:  Bulan Puasa di Bawah Agresi Militer Belanda Dijelaskan I Made Pasek Diantha dalam Hukum Pidana Internasional: dalam Dinamika Pengadilan Pidana Internasional, Mahkamah Internasional bertugas menindak hukum pidana internasional yang terdiri dari ketentuan-ketentuan internasional yang ditetapkan oleh PBB sebagai kejahatan “ de iure gentium ”, di antaranya: agresi, kejahatan perang, genosida, kejahatan kemanusiaan, narkotika, dan lain-lain. “Menurut hemat penulis, kejahatan agresi, kejahatan perang, genosida, kejahatan kemanusiaan adalah materi hukum pidana internasional yang sebenarnya atau pure international criminal law karena pada tingkatan terakhir para pelakunya dapat diadili pada pengadilan pidana internasional yang dibentuk oleh PBB atau oleh kumpulan besar negara-negara anggota PBB,” tulis Diantha. Sementara jika kasus dibawa ke pengadilan negeri itu berarti proses hukum dilakukan untuk warga negarnya. Artinya, kata Irma, kejahatan itu dilakukan oleh seorang tentara kepada warga negaranya. Oleh karenanya permintaan maaf dilayangkan setelah melakukan kekerasan terhadap warga negaranya. Itu berarti Belanda masih menempatkan Indonesia sebagai wilayah kekuasaannya, bukan sebagai negara merdeka, dan kekerasan dilakukan terhadap warga yang tinggal di wilayahnya. Akhir yang Diharapkan Kemenangan di Pengadilan Negeri Den Haag menyimpan akhir yang tidak jelas bagi sebagian keluarga korban. Permintaan maaf yang dilakukan Belanda kepada para korban bagi Anhar Gonggong bukanlah sesuatu yang penting. Menurutnya persoalan sejarahnya sudah selesai. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi. Persoalan yang menimpa keluarganya pun sudah sejak lama dilupakan. Hanya saja kejelasan tentang permintaan maaf itu yang harus dikedepankan. Anhar mempertanyakan sikap Belanda yang menempatkan warga Indonesia sebagai bekas jajahan yang belum merdeka karena kasus itu diselesaikan di pengadilan negeri bukan mahkamah internasional. Sikap itulah yang mesti diperjelas oleh pemerintah Belanda. Baca juga:  Ketika Karawang Jatuh ke Tangan Belanda “Saya tidak mau itu. Ayah saya, keluarga saya, kakak saya mati tidak sebagai warna negara Belanda tapi sebagai warga negara dari sebuah bekas jajahan Belanda yang sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945,” ucap Anhar. Senada dengan itu, Irma pun menuntut kejelasan terkait penyelesaian kasus di pengadilan Belanda. Bagi Irma keluarganya sudah lama memberikan maaf atas kasus yang menimpa kakeknya, tetapi bukan berarti hal itu akan begitu saja melepaskan tanggung jawab yang harus diselesaikan Belanda. Penderitaan para korban tidak dapat hilang sampai kapanpun. Sehingga pertanggung jawaban yang sesuailah yang harus dibuktikan oleh Belanda. “Sebagai bangsa yang pemaaf tentu kita akan selalu memaafkan tetapi seperti kata pepatah: forgive but not forget. Oleh karenanya memaafkan di sini bukan berarti kita melupakan kekejaman-kekejaman Belanda,” kata Irma.

  • Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat

    Di beranda Istana Negara, Presiden Sukarno menerima kedatangan Kolonel Soegih Arto. Konsul jenderal Indonesia untuk Singapura itu mendadak dipanggil ke Jakarta untuk satu tugas penting. Setelah tamu-tamu presiden beranjak pergi, tinggallah tiga orang di beranda: Sukarno, Soegih Arto, dan Menteri Luar Negeri merangkap Kepala Badan Pusat Intelijen (BPI) Soebandrio. Mereka lantas saling berbincang. “Bung Karno bicara dan menjelaskan bahwa pemerintah mempunyai rencana untuk memperoleh Irian Barat dengan cara-cara yang inkonvensional,” kata Soegih Arto dalam otobiografinya Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto. Soegih Arto tercengang mendengar skema pembebasan Irian Barat yang diembankan padanya. Sukarno memerintahkannya pergi ke Hongkong dengan membawa uang kira-kira US$ 1.000.000. Dengan uang sebanyak itu, Soegih Arto harus bisa “membeli” Irian Barat. Baca juga:  Kisah Tentara Jadi Diplomat Rencananya, dana itu akan menjadi "pelicin" agar Dewan Rakyat Papua bentukan pemerintah Belanda bisa mengeluarkan resolusi ingin bergabung dengan Indonesia. Meskipun berbiaya tinggi, politik uang ini telah diperhitungkan dengan cermat. Apabila misi ini berhasil, menurut Soegih Arto, maka akan menghindarkan bentrokan senjata dan menyelamatkan banyak jiwa. Berunding di Hongkong Operasi rahasia ini tidak dikerjakan oleh Soegih Arto sendirian. Turut bersamanya tim dari BPI. Mereka antara lain Kartono Kadri, kepala seksi dua BPI bidang operasi dan pengumpulan informasi dan Komisaris Besar Polisi Samsudin. Secara resmi, selain anggota BPI, Samsudin merangkap sebagai sekretaris Konsul RI di Singapura. Soegih Arto, Kartono Kadri, dan Samsudin berangkat dari Singapura.   Soegih Arto tidak mencatat kapan persisnya keberangkatan mereka ke Hongkong. Namun menurut Ken Conboy dalam Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia , peristiwa itu berbarengan dengan operasi militer Komando Mandala yang dipimpin Mayor Jenderal Soeharto. Tepatnya, pada kuartal kedua 1962.    Baca juga:  Intel Indonesia Dilatih CIA Di Hongkong, BPI telah menyiapkan segala sesuatunya. Soegih Arto dan kawan-kawan menginap di Hotel Sunning House. Mereka akan dipertemukan dengan orang Belanda yang berpengaruh di Irian Barat. Sebagai kepala negosiator, Soegih Arto diberi kuasa untuk menawarkan sejumlah uang tetapi tidak melebihi dana yang ada sebagai harga penggabungan Irian Barat kepada Indonesia. Pertemuan terjadi di Hotel Miramar, Kowloon, tempat delegasi Belanda menginap. Pihak Indonesia hanya diwakili Soegih Arto dan Kartono Kadri. Sementara itu di pihak seberang, tampak seorang Indo-Belanda bernama Mr. de Rijke didampingi seorang sekretaris perempuan.    Menyogok Pembelot Mr. de Rijke terkekeh-kekeh sewaktu  memperkenalkan diri kepada Soegih Arto. Dia menyebut nama lawan rundingnya Soegih Arto yang berarti kaya. Namanya sendiri, de Rijke juga berarti kaya. De Rijke menjelaskan bahwa dirinya lahir di Kediri sehingga mengerti bahasa Jawa. Menurut pengakuannya, de Rijke adalah ketua fraksi di Dewan Rakyat Papua (Nieuw Guinea Raad). Pertemuan perdana dengan de Rijke itu berlangsung dalam suasana santai karena diawali basa-basi lewat pendekatan  kultural. Menurut Soegih Arto, tidak ada ketegangan sama sekali. Maka tanpa kesulitan berarti, Soegih Arto langsung memajukan agenda utama perundingan. Pertama , membicarakan resolusi penggabungan Papua dengan Republik Indonesia. Kedua , soal keuangan. Baca juga:  Papua dan Ambisi Presiden Pertama Ketika membicarakan soal penggabungan Papua, De Rijke mengajukan banyak tuntutan. Pertama , agar infiltrasi tentara Indonesia supaya dihentikan. Kedua , Papua harus dijadikan daerah istimewa. Ketiga, Missi (Katolik) dan Zending (Protestan) jangan diganggu. Keempat, supaya Papua boleh memakai uang sendiri, seperti di Riau. Kelima, Papua supaya dibolehkan memakai bendera sendiri. Setiap tuntutan itu segera ditanggapi oleh delegasi Indonesia. Tidak semua tuntutan diterima atau ditolak, namun ada masukan untuk mencapai kompromi. “Pertama, kami setuju memberi status Propinsi Istimewa bagi Irian Barat. Kedua, Riau pada waktu itu masih menggunakan mata uang Singapura, jadi kami setuju mata uang Belanda tetap dapat digunakan. Ketiga, kami setuju misionaris katolik dan Protestan bisa tetap tinggal. Kami tidak setuju bendera Papua berkibar sendiri, tetapi kami mengatakan bendera itu dapat berkibar sedikit di bawah bendera Indonesia,” kata Kartono Kadri sebagaimana dikutip dalam buku Ken Conboy. Mengenai infiltrasi tentara Indonesia, dijawab Soegih Arto akan segera dihentikan kalau Irian Barat sudah bergabung dengan Indonesia. Titik temu mengenai tuntutan de Rijke beres. Penyusunan konsep resolusi juga tidak memakan waktu lama. Isi pokok resolusi itu adalah, “Bahwa Papua dan Indonesia sama-sama mempunyai sejarah yang sama, sehingga sebaiknya berjalan bersama-sama dan oleh karena itu, Parlemen Papua sepakat untuk menggabungkan diri dengan Republik Indonesia.” Baca juga:  Operasi Jatayu, Penerjunan Terakhir di Irian Barat Perundingan hari pertama ditutup setelah terjalin kesepakatan mengenai isi resolusi. Rancangan resolusi itu dibawa Soegih Arto ketika kembali ke Jakarta untuk diserahkan kepada Soebandrio. Hingga Soegih Arto merampungkan otobiografinya Sanul Daca pada 1989, keberadaan konsep resolusi tersebut tidak diketahui rimbanya. Menurut sejarawan Belanda Pieter Drooglever dalam Tindakan Pilihan Bebas: Orang Papua dan Penentuan Nasib Sendiri , beberapa pejabat yang duduk dalam Dewan Papua memang dicurigai bersekongkol dengan Indonesia. Namun dari sekian nama, tidak tersebut nama de Rijke. Drooglever mencatat, de Rijke merupakan pengacara berpengalaman berkebangsaan Indo-Belanda yang mendukung kepentingan orang Indo-Belanda di Papua. Selain itu, de Rijke juga pernah tersandung kasus pemalsuan surat yang diganjar hukuman empat bulan penjara. Arsip nasional Inggris menyimpan berkas dokumen pribadi milik de Rijke. Dalam deksripsi katalog disebutkan, de Rijke yang bernama lengkap Jacob Olaf de Rijke, lahir pada 9 September 1921. Sayangnya, berkas-berkas de Rijke masih konfidensial dan akan terbuka pada publik pada 1 Januari 2024 mendatang. Kita tunggu saja.  (Bersambung)

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page