Hasil pencarian
9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ajakan Menghapus Feminisme
KAMPANYE antifeminis muncul pertengahan Maret 2019 di Instagram melalui akun Indonesia Tanpa Feminis. Akun tersebut mengampanyekan uninstall feminisme, Indonesia tidak butuh feminisme, dan “Tubuhku bukan miliku”. Kampanye yang disebut terakhir selain menegasi pandangan para feminis bahwa perempuan punya ototritas atas tubuhnya, juga bertentangan dengan desakan pengesahan RUU PKS baru-baru ini. Per 4 April 2019, pengikutnya mencapai 2700-an akun. Namun, jumlah like kirimannya hanya sekira 300-an, jauh lebih sedikit dari jumlah pengikut akun tersebut. Kehadiran akun tersebut pun memancing komentar pengguna Instagram . Mayoritas mencibir kampanye antifemnisme yang diusung. Menurut Julia Suryakusuma, penulis Ibuisme Negara , kemunculan akun ini sudah lagu lama yang hanya menemukan platform baru, yakni lewat media sosial. Pada tahun-tahun sebelumnya, gerakan serupa bermunculan dari kelompok konservatif, seperti penentang pacaran, atau anti asing. Sebelum dibubarkan, Muslimah HTI bahkan secara terang-terangan menolak feminisme dalam demonstrasi mereka, seperti diberitakan Republika Online , Maret 2015. Julia menuturkan kampanye yang dilakukan Indonesia Tanpa Feminis menunjukkan ketidakpahaman akun tersebut. Feminisme disederhanakan sebagai liberalisme Barat, dianggap membenci lelaki, suka bakar bra, lesbian, dan membenci kegiatan domestik. “Mau disodori fakta tentang feminisme, mereka tidak akan berubah karena tidak mau tahu,” kata Julia kepada Historia . Selain mispersepsi tentang feminisme, menururt Julia, nalar kampanye akun tersebut, yang membenturkan Islam dan feminisme, amat keliru. Pasalnya, keduanya sama-sama membuka kesempatan bagi perempuan. Islam hadir membela hak perempuan ketika orang-orang di negara Arab masih menggangap perempuan sebelah mata. Soal hak waris, misalnya, semula tak ada, setelah Islam datang perempuan mendapat 1/3 bagian. Pernyataan bahwa Indonesia tidak butuh feminisme pun menjadi wagu ketika orang-orang di balik akun ini justru menikmati usaha panjang para perempuan di masa lalu seperti kemampuan membaca, menulis, dan akses untuk menyalurkan pendapat. “Ironinya itu, mereka bisa bersuara juga akibat gerakan feminisme. Jadi, aneh-aneh-lucu,” kata Julia. Sejak akhir abad ke-19, usaha pengentasan buta huruf bagi anak perempuan sudah dilakukan banyak tokoh perempuan, seperti RA Kartini, Dewi Sartika, dan Rahmah El Yunusiyah. Sementara gerakan perempuan dengan bentuk organisasi, tulis Ruth Indiah Rahayu dalam “Gerakan Perempuan Indonesia dalam Belenggu Historiografi Indonesia-Androsentris”, baru dikenal pada awal abad ke-20. Di masa itu, kesadaran perempuan untuk memerdekakan diri dari penjajahan dan adat yang membelenggu mulai bangkit. Masalah yang disoroti pun melebar ke soal praktik kawin paksa, perkawinan anak, penelantaran keluarga, dan permaduan sewenang-wenang. Para permepuan berusaha mengatasi masalah ini lewat pembentukan Biro Konsultasi yang diketuai Maria Ullfah (menteri sosial RI pertama). Dari usaha bertahun-tahun tersebut, lahir Undang-Undang Perkawinan tahun 1974 yang mengatur pencatatan perkawinan, batas usia, dan taklik-talak. Usaha melindungi perempuan dari kekerasan dalam rumah tangga menyusul diupayakan sejak 1997 dan berbuah sebuah legislasi: UU KDRT tahun 2004. Usaha ini tak mulus lantaran penentangan dari golongan konservatif Islam muncul sejak aturan itu diusulkan. Mereka menganggap kemunculan RUU KDRT berpotensi menghancurkan keharmonisan rumah tangga sehingga mesti ditolak. Dalam bidang politik, para perempuan menuntut hak mereka untuk bisa memilih dan mengajukan diri dalam Volksraad. Meksi akhirnya hanya lolos sampai Dewan Kota, usaha ini menjadi bekal perjuangan hak politik perempuan ketika Indonesia merdeka. Jaminan akan hak dasar yang sama bagi semua penduduk juga diperjuangkan hingga lahir UUD 1945 pasal 27. “Padahal, apa yang mereka kecam adalah apa yang diperjuangkan oleh para aktivis perempuan sejak lama. Saya yakin tidak banyak yang akan tertarik,” kata Julia. Sejak 25 Maret 2019, akun tersebut mengajak pengguna Instagram untuk memposting foto diikuti tagar uninstallfeminisme. Dari pantauan Historia, sejauh ini ajakan itu sepi peminat. Jumlahnya bisa dihitung jari, hanya sembilan kiriman.
- Kado Berdarah Buat Siluman Merah
SEKIRA awal 1947, tersebutlah sebuah warung kecil di Soreang (sekarang menjadi ibu kota Kabupaten Bandung). Letaknya yang dekat jembatan Citarum menjadikan warung tersebut kerap dikunjungi para serdadu Belanda yang melintas di sana. Mereka bukan saja menjadikan warung yang dikelola sepasang suami isteri yang sudah uzur itu sebagai tempat makan, tetapi juga tempat yang sangat enak untuk bercengkrama dan melepas lelah sehabis melakukan patroli ke pelosok. Tanpa dinyana oleh para serdadu itu, Kapten Achmad Wiranatakusumah (Komandan Batalyon 26 Divisi Siliwangi) kerap menyambangi juga warung itu. Tujuannya mematai-matai secara langsung gerik-gerik musuh. Tentu saja kehadiran Achmad di sana dalam samaran. Dia berperan sebagai asisten pemilik warung tersebut. Berbulan-bulan lamanya, Achmad berlaku sebagai telik sandi. Hingga sampailah suatu hari dia meminta kakek dan nenek itu untuk menyingkir selamanya dari warung itu. Setelah membayar harga warung beserta seisinya dengan harga yang mahal, Achmad kemudian meminta beberapa anak buahnya untuk memindahkan sepasang orang tua itu ke tempat yang lebih aman. “Pak Achmad kemudian secara total menggantikan kedua orang tua itu dalam melayani semua pembeli termasuk melayani serdadu Belanda langganan warung tersebut,” ungkap Uweb (98 tahun), eks anggota Batalyon 26 (selanjutnya disebut Yon 26). Suatu senja datanglah puluhan serdadu Belanda yang baru pulang berpatroli. Seperti biasa usai makan dan minum, mereka lalu bercengkrama di warung itu. Situasi sangat santai ketika Achmad berdehem keras. Begitu deheman yang ketiga habis, tetiba rentetan senjata dari berbagai jenis menyalak dari atas para-para. Para serdadu yang sedang lengah itu tentu saja tak bisa berbuat apa-apa kecuali terpaksa menerima siraman peluru. Beberapa menit kemudian, situasi menjadi sepi. Darah membanjiri setiap sudut yang dipenuhi tubuh-tubuh yang sudah tak bernyawa. Beberapa anggota Yon 26, berloncatan dari atas para-para. Mereka lantas mengamankan senjata-senjata milik para para serdadu itu untuk kemudian menghilang di balik lembah-lembah dan hutan-hutan di sekitar Kali Citarum. “Usai kejadian itu pimpinan tentara Belanda di Bandung sangat marah dan memerintahkan untuk membuat operasi khusus penghancurkan “pasukan siluman” yang telah menghabisi anak buahnya,” ujar Rochidin (103 tahun), eks anggota Yon 26 yang lain. Diincar Militer Belanda Sejak kejadian di Soreang, pamor “pasukan siluman” semakin mencorong. Seiring dengan itu, kebencian militer Belanda menjadikan mereka terus mengincar kedudukan Yon 26 dan menghantamnya terus dengan berbagai serangan. Puncaknya terjadi pada 21 Juli 1947. Akibat serangan besar itu, Yon 26 terpaksa mundur ke Gunung Sadu. Yang berada di pinggiran Soreang. “Dipilihnya Gunung Sadu karena di situ Yon 26 bisa memanfaatkan gua-gua pertahanan yang dulu pernah dibikin serdadu Jepang,” ujar Letnan Sastrawirya (salah satu perwira di Yon 26) seperti dikutip A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid V: Agresi Militer Belanda I. Untuk lebih menggandakan semangat dan memunculkan kebanggan korps, di Gunung Sadu, Kapten Achmad lantas memberi nama baru untuk Yon 26. Uniknya nama baru itu diambil dari julukan kebencian militer Belanda terhadap pasukan mereka, yakni Siluman Merah. Singkat cerita, Siluman Merah tetap melakukan perlawanan. Bahkan dari Gunung Sadu, kini justru giliran Siluman Merah yang kerap melakukan serangan ke posisi militer Belanda di Soreang. Terlebih secara militer, posisi Siluman Merah ke Soreang lebih strategis karena tepat berada di atas pertahanan tentara Belanda dan jaraknya hanya sekitar 0,5 km saja. “Secara jelas, bendera merah putih yang kami pancangkan di puncak Gunung Sadu bisa terlihat dari arah mana pun seolah menantang tentara Belanda,” ujar Achmad Wiranatakusumah seperti dikutip oleh Aam Taram, R.H. Sastranegara, dan Iip D. Yahya dalam Letjen TNI (Purn.) Achmad Wiranatakusumah, Komandan Siluman Merah. Wajar jika kemudian militer Belanda kalap dan balas menghujani Gunung Sadu dengan serangan artileri, siraman peluru senapan mesin 12,7 mm dan bom yang dilemparkan dari pesawat udara. Mereka seolah ingin memberikan kado berdarah buat Siluman Merah atas aksi-aksi maut batalyon itu di Soreang. “Memang banyak anggota pasukan kami yang menjadi korban,” kenang Uweb. Pindah Markas Kendati dibombardir dari berbagai arah, awalnya Kapten Achmad tetap memilih bertahan di Gunung Sadu. Namun keputusan itu ternyata dianggap konyol oleh Kolonel A.H. Nasution. Panglima Divisi Siliwangi itu lantas memerintahkan Achmad untuk pindah markas ke kawasan Barutunggul di Ciwidey. Sebuah perintah yang kemudian sangat disesali oleh Achmad. “Dengan ditinggalkannya Gunung Sadu, terbukti kemudian tentara Belanda dari Pangalengan bisa menguasai Ciwidey melalui Perkebunan Gambung,” ujar Achmad. Namun perintah dari Nasution merupakan komando. Mau tidak mau, Siluman Merah harus tetap bergerak ke Barutunggul. Di lihat dari segi militer, sejatinya Barutunggul merupakan wilayah strategis. Posisinya berupa lembah dengan hutan lebat diapit oleh dua gunung: Sepuh dan Tambakruyung. “Tidak rugilah kalau Siluman Merah bermarkas di sana,” ujar Rochidin. Memang dalam kenyataannya, militer Belanda seolah tak bisa menembus Barutunggul. Walaupun sudah mengirim panser, tank dan pesawat pembom, pasukan Belanda tetap tidak bisa mengusir lagi Siluman Merah dari Barutunggul. Sebelum mereka melewati jalan-jalan yang diapit tebing curam dan jurang-jurang yang sangat dalam, mereka dipastikan hancur duluan karena serangan-serangan yang dilakukan dari atas tebing. “Posisi ini tak dapat lagi mereka rubah sampai saat perintah cease fire ,” ungkap A.H. Nasution.
- Penaklukkan Sriwijaya di Pulau Bangka dan Jawa
“…Jika pada saat mana pun di seluruh wilayah kerajaan ini ada orang yang berkhianat, bersekutu dengan pengkhianat, menegur pengkhianat atau ditegur oleh pengkhianat, sepaham dengan pengkhianat, tidak mau tunduk, dan tak mau berbakti, tak setia kepadaku dan kepada mereka yang kuserahi kekuasaan datu, orang yang berbuat demikian itu akan termakan sumpah. Kepada mereka, akan segera dikirim tentara atas perintah Sriwijaya. Mereka sesanak keluarganya akan ditumpas!” Begitu sejarawan Slamet Muljana dalam Sriwijaya menerjemahkan sebagian kalimat kutukan yang ada dalam Prasasti Kota Kapur. Prasasti Kota Kapur adalah satu dari enam prasasti kutukan Kedatuan Sriwijaya yang sejauh ini sudah ditemukan. Prasasti ini berasal dari 686 M. Ada beberapa hal yang bisa diketahui lewat prasasti itu. Ini terutama yang berkaitan dengan ekspedisi militer Sriwijaya. Pertama , pendapat Slamet Muljana bahwa Prasasti Kota Kapur menunjukkan hubungan antara Sriwijaya dan Pulau Jawa. Pada 686 M, Sriwijaya berusaha menundukkan Pulau Jawa. Sayangnya, kerajaan mana yang akan ditundukkan tak diketahui pasti. Nama kerajaannya tak disebut. Yang dinyatakan pada Prasasti Kota Kapur hanyalah bhumi Jawa. “Tentara Sriwijaya berangkat ke Jawa pada hari pertama bulan terang bulan Waisaka 608 Saka. Piagam persumpahan Sriwijaya adalah follow up operasi militer Sriwijaya,” tulisnya. Kedua,pendapat Nicholaas Johannes Krom, peneliti sejarah awal Indonesia asal Belanda, bahwa prasasti ini merupakan pernyataan pemilikian atas wilayah baru. Karena Prasasti Kota Kapur ini ditemukan di Pulau Bangka, di sebelah utara Sungai Menduk, artinya pada 686 M, Pulau Bangka sudah ditaklukkan. “Sampai ke mana ekspansi itu pada akhir abad ke-7? Hal ini ditunjukkan justru dengan adanya prasasti-prasasti tadi,” tulis George Coedes, arkeolog asal Prancis, dalam Kedatuan Sriwijaya Penyebutan bhumiJawa dalam prasasti itu menimbulkan berbagai tafisran. Bagi Kern dan Blagden, bhumi Java berarti Jawa atau Sumatra. Sementara Rouffaer memilih Jawa. Namun, Krom lebih melihatnya sebagai Pulau Bangka atau bagian Nusantara yang kemudian oleh bangsa Arab dinamakan negeri Zabaj. “Sebab, jika yang dimaksud Pulau Jawa, maka tak masuk akal mengapa ekspedisi yang dilancarkan untuk menyerbu bhumi Java disebut dalam prasasti yang ditemukan di Bangka,” kata Krom, sebagaimana dikutip Coedes. Coedes lebih sepakat pada penafsiran bhumi Java harus dicari di luar Bangka. Itu tiada alasan untuk tidak mengidentifikasikannya sebagai negeri yang sudah selama-lamanya bernama Jawa. “Jika dalam sejarah Jawa benar-benar ada kurun waktu sebagian Pulau Jawa diserang oleh Sriwijaya, maka mungkin asal mulanya harus dicari pada ekspedisi 686 itu,” tulis Coedes. Karenanya, bisa disimpulkan, prasasti itu tak menyebut perebutan wilayah sesudah perang. Prasasti Kota Kapur hanya memberitakan, pemahatannya terjadi pada saat balatentara Sriwijaya baru berangkat untuk menyerang bhumi Java yang tak takluk pada Sriwijaya. “Jelaslah ekspedisi itu disebut sebagai contoh agar penduduk tempat prasasti itu didirikan, yaitu di Pulau Bangka, berpikir dulu kalau-kalau ada niat untuk memberontak terhadap kekuatan Sriwijaya,” kata Coedes. Itu sebagaimana yang bisa ditafsirkan dari penutup prasasti. Kalimatnya, bahwa pada waktu prasasti itu dikeluarkan, tentara Sriwijaya berangkat ke bhumi Java. Alasannya, kata Slamet Muljana, karena Pulau Jawa tidak berbakti kepada Sriwijaya. Ceritanya, keberangkatan tentara Sriwijaya ke Jawa berakibat berkurangnya kekuatan pertahanan dalam negeri. Raja Dapunta Hyang yang ketika itu berkuasa pun takut kalau-kalau timbul pemberontakan di wilayah Sriwijaya sebagai usaha untuk memperoleh kemerdekaan mereka kembali atau sebagai balas dendam terhadap Sriwijaya. “Pemberontakan yang mungkin timbul adalah pemberontakan di negeri bawahan,” catat Slamet Muljana. Sebagai Kedatuan, Sriwijaya terdiri dari wilayah-wilayah yang dipimpin oleh datu. Mereka ini masuk ke wilayah Sriwijaya setelah mengakui kedaulatan Sriwijaya, yaitu Kedah, Ligor, Semenanjung Melayu, Kota Kapur, Jambi, Lamoung, dan Baturaja. “Kedatuan dari kata datu atau orang yang dituakan. Dalam prasastinya tidak pernah menyebutnya sebagai kerajaan,” kata Ninie Susanti, arkeolog Universitas Indonesia. Menurutnya, prasasti-prasasti semacam ini adalah salah satu cara Sriwijaya untuk menancapkan hegemoninya, “Isinya adalah ancaman bagi mereka yang berani melawan raja. Ini sebagai bukti bagaimana ia (Sriwijaya, red. ) diakui,” ujar Ninie lagi.
- Politisi Bertensi Tinggi
BILA seorang jenderal berperangai temperamental bisa jadi wajar. Dunia militer yang penuh disiplin dan tegas biasanya membentuk watak prajurit menjadi keras. Sebelumnya, beberapa profil jenderal dengan tipikal demikian telah kami ulas. Namun bagaimana dengan para politisi sipil bertensi tinggi alias gampang tersulut emosi? Tentu saja ada. Baru-baru ini kita menyaksikan video viral yang memperlihatkan Senator Australia, Fraser Anning meninju dan menendang seorang remaja tanggung yang melemparkan telur ke batok kepalanya. Masih aktual juga, Menteri Pertahanan kita, Ryamizard Ryacudu pernah bilang akan menempeleng mereka yang suka menuding orang lain dengan sebutan kafir secara serampangan. Di masa lalu pun begitu. Alih-alih kalem dan santun, sewaktu-waktu mereka dapat meledak melampiaskan kemarahan bak sebagian koleganya yang berasal dari kalangan militer. Berikut kisahnya. Duel Badik Wartawan tiga zaman Rosihan Anwar punya pengalaman dengan Ketua Umum PNI, Soejono Hadinoto. Pada 1949, mereka sama-sama ke Den Haag, Belanda menghadiri Konferensi Meja Bundar (KMB). Soejono menjadi salah satu delegasi pemerintah Indonesia. Sementara Rosihan, jurnalis suratkabar Pedoman yang bertugas meliputnya. Pada dekade 1950-an, Soejono menjabat Menteri Perekonomian. Rosihan tetap berkhidmat di Pedoman selaku pemimpin redaksi. Pernah sekali waktu, Soejono menantang Rosihan berduel memakai badik (pisau belati bermata satu). Soejono ingin pertarungan satu lawan satu dengan Rosihan; sama-sama masuk ke dalam sarung lantas saling tikam dengan badik. Rosihan enggan menanggapi. Laga adu bacok itu pun urung terjadi. “Soejono bilang dalam bahasa Belanda kepada saya, ‘ Je bent een viswif ’. Maksud dia, saya tukang ngomong doang, tapi pengecut,” kenang Rosihan dalam Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 5: Sang Pelopor . Soejono emosi lantaran ilustrasi tentang dirinya muncul dalam pojok Kili-Kili – rubrik satir khas Pedoman. Dalam pojok Kili-Kili , Soejono dilukiskan sebagai Menteri Perekonomian yang mobilnya mengibarkan bendera Merah Putih dengan didahului oleh polisi voorijder lengkap dengan bunyi sirene. Soejono yang membacanya tersinggung. Sekonyong-konyong, timbulah niatnya untuk mengadu badik dengan Rosihan Anwar, orang yang dianggap paling bertanggung jawab atas pemuatan gambaran tersebut. Hampir Adu Jotos Chaerul Saleh adalah pentolan tokoh pemuda pada hari-hari menjelang kemerdekaan. Presiden Sukarno dalam otobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat menyebut Chaerul sebagai pemuda yang berkepala panas. Namun pada awal 1960, Chaerul Saleh menjadi pembantu Sukarno paling loyal. Dia dipercaya menjabat Wakil Perdana Menteri Tiga yang mengurusi bidang ekonomi. Pada akhir 1964 ketika sidang kabinet berlangsung, Charul Saleh hampir saja adu jotos dengan pemimpin PKI, D.N. Aidit. Saat itu, Chaerul menemukan risalah yang secara tersirat menunjukan rencana PKI merebut kekuasaan paling lambat tahun 1970. Aidit membantah. Dengan muka merah padam dan tangan gemetar, Aidit menegaskan bahwa dokumen tersebut bukan buatan PKI. Sebaliknya, dia menyerang Chaerul merupakan kaki tangan musuh sekaligus antek nekolim. Sebagaimana dicatat Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang, nyaris terjadi keributan antara Chaerul dan Aidit. Di kemudian hari terungkap bahwa dokumen tersebut memang palsu. Aidit menyayangkan sikap Chaerul. “Tetapi dia (Chaerul) sudah mengakui kesalahannya dengan mengatakan, perbuatannya merupakan vergissing , kekhilafan,” tulis Julius Pour. Presiden Sukarno sendiri tidak bereaksi menyikapi polemik dokumen itu dan segera menutup persidangan. Umpatan dan Gamparan Kendati merintis kariernya sebagai perwira TNI Angkatan Laut, namun Ali Sadikin lebih dikenal karena reputasinya memodernisasi Jakarta kala menjabat gubernur. Bang Ali -panggilan warga Jakarta kepada Ali Sadikin - menjadi orang nomor satu Jakarta selama dua periode (1966-77). Selama memimpin Jakarta, Bang Ali kerap kali kontroversial. Bicara nya ceplas-ceplos. Tindakannya pun kadang-kadang di luar dugaan. Mulai dari kata-kata yang ketus hingga main tangan. “Ali Sadikin jika marah sering mengumpat. Banyak pejabat yang pernah jadi sasarannya, termasuk saya,” kenang mantan bawahan Ali Sadikin di Pemda Jakarta, Wardiman Djojonegoro yang pernah jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam memoarnya Sepanjang Jalan Kenangan: Bekerja dengan Tiga Tokoh Besar. Ali Sadikin bahkan pernah menggampar sopir truk ABRI yang menyetir ugal-ugalan. Ketika itu, Ali Sadikin hendak menuju Menteng menghadiri upacara, tiba-tiba mobilnya di salip sang sopir truk. Selain itu, sopir truk melaju kencang di tengah jalan. Karena dapat membahayakan pengguna jalan yang lain, sontak saja Bang Ali murka. Dia perintahkan sang sopir untuk menepi. Sopir truk didatangi, lantas melayanglah dua kali tempelengan Bang Ali ke wajahnya. Setelah puas melampiaskan kemarahan dengan menggampar si sopir tadi, Bang Ali tetap saja dongkol. “Lalu lintas di Jakarta brengsek. Sayalah yang paling tidak puas terhadap keadaan itu,” demikian kekesalan Bang Ali sebagaimana dikisahkannya kepada Ramadhan K.H. dalam Ali Sadikin: Membenahi Jakarta Menjadi Kota yang Manusiawi.
- Aneka Olahraga Sandiaga
ADA Sandiaga, ada olahraga. Di sela kesibukan politiknya jelang Pilpres 17 April 2019, cawapres nomor urut dua bernama lengkap Sandiaga Salahuddin Uno itu tak pernah lepas dari olahraga. Entah itu lari, senam aerobik, renang, atau basket. Dalam Debat Cawapres yang digelar KPU pada 17 Maret 2019, pasangan capres Prabowo Subianto itu bahkan mengangkat program promotif preventif 22 menit per hari berolahraga untuk masyarakat Indonesia. Gaya hidup semacam ini sudah lama diterapkan dalam keluarganya. “Sejak dini saya sudah mengajarkan kepada Sulaiman (putra bungsu Sandi, red. ) pentingnya berolahraga. Dari kecil saya sudah merutinkan Sulaiman untuk les renang,” kicau Sandi di akun Twitter -nya, @sandiuno, 4 Oktober 2018. Kendati hobi renang, sosok kelahiran Rumbai, 28 Juni 1969 itu memang tak pernah punya prestasi membanggakan. Namun, hobi itu pernah bikin heboh ketika dia ikut memeriahkan Festival Danau Sunter, 25 Februari 2018. Sandi berduel dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di Danau Sunter. Dalam perlombaan itu, Sandi berenang sementara Susi berkayak dengan paddle board -nya sejauh 2x500 meter. Dalam olahraga basket, Sandi rutin sparring dengan para sahabatnya atau terkadang dengan kolega politik. Menjelang debat 17 Maret 2019, Sandi bermain dengan Agus Harimurti Yudhoyono di Bulungan, Jakarta Selatan. “Mudah-mudahan ini juga menjadi motivasi untuk muda-mudi yang hadir, bahwa menempuh jalur politik itu banyak kebaikannya dan tentunya harus diperjuangkan setiap saat dengan cara-cara yang baik pula,” ungkapnya, dikutip Kumparan , 17 Maret 2019. Dorongan Orangtua Sedari dini, Sandi sudah menjajal olahraga renang dan basket. Aktivitas itu berasal dari dua faktor: keturunan dan dorongan orangtua. Ibunda Sandiaga, Rachmini Rachman alias Mien Uno, sejak belia sudah terobsesi dengan banyak jenis olahraga. “Berawal dari kemampuannya berlari cepat, ia mudah mengakrabi bidang atletik, termasuk lompat jauh dan lompat tinggi. Tak ketinggalan, ia juga piawai bermain voli. Bisa dipastikan, nilai rapor Mien untuk mata pelajaran Pendidikan Djasmani selalu tinggi cemerlang. Jadilah ia langganan mendapat rupa-rupa piala dan piagam,” tulis Herry Gendut Janarto dalam Mien R. Uno: Menjadi Wanita Indonesia . Namun, Mien Uno anti terhadap satu olahraga yang justru disenangi Sandi, yakni renang. “Gara-gara guru olahraganya pernah bernasihat bahwa otot-otot untuk lari cepat akan terganggu bila ia juga berenang. Karena itu, Mien enggan berlatih renang, di samping karena merasa jijik melihat kolam yang amit-amit dicemplungi banyak orang,” lanjut Herry. Maka itu, hobi renang Sandi berasal dari ayahnya, Razif Halik ‘Henk’ Uno. Selain memperkenalkannya, Henk mengajarkan Sandi renang sejak masih tinggal di Rumbai. Kian intensnya renang Sandi membuatnya dimasukkan ke klub renang setelah pindah ke Jakarta. “Setiap pagi sehabis salat Subuh, dia bersama kakaknya (Indra Cahya Uno, red. ) berlatih renang, setelah itu baru mereka berangkat sekolah. Ketika masih SD, ia lalu didaftarkan ayahnhya menjadi anggota klub renang,” tulis Bintang Wahyu dalam Ketika Mimpi & Usaha Berbuah Manis . Selain lari dan renang, Sandiaga rutin berolahraga basket (Foto: Twitter @sandiuno) Saking intensnya berlatih renang, baik di klub maupun oleh ayahnya, Sandi dan Indra pun sempat jenuh. Namun, Henk bergeming. “Supaya kalau tercebur ke sungai tidak tenggelam,” cetus Henk. Setelah sekian lama Sandiaga baru insyaf bahwa kata-kata ayahnya punya makna dalam: belajar berenang ibarat belajar survive dan menyesuaikan diri di lingkungan yang berbeda. Faktor lain yang membuat Henk terobsesi terhadap renang adalah Lukman Niode. Putra Gorontalo itu merebut tiga medali emas renang di SEA Games 1977. Di SEA Games 1979 dia bahkan meraih lima emas. Pilih Basket Terinspirasi Magic Johnson Sandi tak pernah benar-benar menseriusi renang. Ayahnya pun pasrah setelah Sandi jatuh cinta pada basket. “Saya tidak ingin menjadi Lukman Niode. Cukup satu Gorontalo saja yang mengharumkan nama bangsa di kolam renang. Biarkan Gorontalo yang satu ini mengibarkan Sang Merah Putih di arena bola basket,” papar Sandi dalam otobiografinya, Kerja Tuntas, Kerja Ikhlas . Sandi kepincut basket saat duduk di kelas lima SD PSKD Bulungan. Saking seriusnya menekuni basket, dia tidak hanya sekadar berlatih di sekolah tapi juga masuk ke klub basket Tunas Junior pada 1980. Idolanya, Earvin ‘Magic’ Johnson. Sandi acap membayangkan dirinya dengan bintang NBA itu setiapkali bermain. “Saya ingin menjadi Magic Johnson. Dengan tinggi badan 206 sentimeter, Johnson seharusnya bisa jadi center yang kokoh tapi memilih menjadi point guard untuik tim LA Lakers. Cincin NBA pertamanya bersama Lakers didapatkannya bersamaan dengan mulainya saya bermain basket pada 1980,” kenang Sandi. Di timnya, Sandi pun memilih posisi yang sama dengan idolanya, point guard. Baginya, posisi itu punya peran besar menciptakan visi permainan dengan menjaga keakuratan passing , menciptakan peluang mencetak angka, dan menjaga penguasaan bola. Saat bertahan, orang di posisi itu jadi yang pertama menghadang serangan lawan. “Posisi ini memberikan banyak pelajaran hidup untuk saya di masa depan. Saya belajar bahwa kita butuh kerjasama tim dan strategi untuk mencapai kemenangan. Di luar lapangan, terutama setelah divonis mengidap HIV, Johnson juga tak kalah ajaibnya. Lewat basket, saya belajar dari Magic Johnson bahwa kita tidak boleh berhenti berlari bahkan ketika waktu tak lagi berpihak pada kita semua,” sambung Sandi. Menukil otobiografi Johnson, My Life , ia pertamakali mengetahui dirinya mengidap HIV medio November 1991. Saking down -nya mental Johnson, ia sampai berniat pensiun. Johnson mengakui bahwa ia terkena HIV karena seks bebas. Beruntung, istri dan anak dalam kandungan istrinya tak ikut terpapar HIV. Earvin "Magic" Johnson (Foto: nba.com ) Namun, Johnson akhirnya batal pensiun. Kariernya tetap cemerlang hingga dia dipercaya memegang ban kapten The Dream Team alias timnas Amerika Serikat di Olimpiade 1992. Namanya tetap populer di kalangan generasi muda penggila basket. “Banyak orang memanggil saya pahlawan karena saya kemudian mendedikasikan hidup saya untuk mengedukasi generasi muda tentang HIV dan bagaimana mereka bisa terlindungi. Saya katakan, saya bukan pahlawan karena saya mengidap HIV, karena saya melakukan seks yang tidak aman. Tapi kini saya hanya bisa menatap ke depan. Saya akan berjuang dan berbagi pada generasi muda tentang apa yang sudah saya alami,” ujar Johnson. Hal itu amat inspiratif buat Sandi. Tapi, Sandi akhirnya gagal jadi atlet basket profesional. Begitu bersekolah di SMP 12 dan di SMA Pangudi Luhur, Sandi beralih minat ke olahraga lari yang tak lain bermula dari kewajiban dari mata pelajaran Pendidikan Jasmani. “Ketika cita-cita basket redup, saya berkenalan dengan cinta baru yang kelak jadi rutinitas saya. Guru olahraga kami, almarhum Bapak Bobby, selalu mewajibkan seluruh siswanya menempuh lari jarak jauh sebagai syarat kelulusan ujian olahraga,” kenang Sandiaga. Kala itu, olahraga lari belum booming seperti beberapa tahun belakangan. Lari seolah hanya jadi formalitas di setiap sekolah atau pelengkap sesi pemanasan macam-macam olahraga lain. Tapi, Sandi memandangnya berbeda. “Ibu” dari berbagai cabang olahraga itu lantas kemudian terbukti jadi tren baru di berbagai daerah di Indonesia. Pada akhirnya, Sandi tak mengentaskan cita-citanya jadi atlet basket. Tapi antusiasmenya terhadap basket dan renang tak hanya sekadar rutinitas. Sandi ikut mengurus timnas basket putri sebagai manajer jelang SEA Games 2005 dan sempat jadi ketua umum Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) periode 2013-2017.
- Kala Budak Dibebaskan
PADA 1 April 1905, Raja Rama V atau dikenal pula Raja Chulalongkorn mengesahkan penghapusan perbudakan dan kerja paksa yang sudah dipraktikkan sejak masa Raja Ramathibodi II (1518). Ia juga menyatakan bahwa semua orang Siam yang lahir ketika ia berkuasa (1868-1910) adalah orang merdeka. Tanggal 1 April kemudian diperingati sebagai Hari Penghapusan Perbudakan di Thailand. Pada 1874, ia memberlakukan aturan yang menurunkan harga penebusan budak. Antonio L. Rappa dalam The King and the Making of Modern Thailand menyebut langkah Rama menjadi satu kemajuan untuk penghapusan perbudakan. Di beberapa negara, semisal Inggris Raya, aturan tentang pembatasan perbudakan dikeluarkan pada 1807 atas usulan William Wilberforce, anggota House of Commons. Inggris akhirnya mengeluarkan undang-undang penghapusan perbudakan pada 1833. Amerika Serikat mengikuti menghapus perbudakan dengan amandemen ke-13 konstitusi AS pada 1865. Di Indonesia, usaha penghapusan perbudakan dimulai sejak masa VOC. Kala itu, banyak orang-orang kaya memelihara budak, baik orang Eropa, Tionghoa, maupun bumiputra kaya. De Graaff secara khusus menyoroti perilaku orang-orang Belanda pada budak mereka sebagai sebuah kecongkakan yang memuakkan. Hal itu umum terlihat antara lain saat para perempuan Belanda pergi ke gereja. Mereka pergi dengan rombongan budak laki-laki dan perempuan untuk melayaninya. Ada budak yang bertugas untuk memayungi, membawakan kitab, dan kotak sirih. Mereka dilayani laiknya puteri raja. Bila si budak tidak memuaskan majikannya, hukuman penyiksaan sebagai ganjaran lumrah terjadi. Ada budak yang dipukuli, dicambuk, disiram air panas, atau dipaksa bekerja tanpa istirahat hingga putus asa dan memilih bunuh diri. Ada juga budak yang mengamuk dan balik menyerang majikannya. Dengan banyaknya kasus kekerasan antara majikan dan budak sepanjang abad ke-17, penguasa Belanda mulai ikut campur dalam kasus perbudakan pada abad ke-18. Jika ada budak yang dibunuh oleh majikannya, budak yang memiliki hubungan dengan korban harus dipindahtangankan. Aturan ini barang kali untuk melindungi majikan agar terhindar dari balas dendam. Meski demikian, menurut Jean Gelman Taylor dalam Kehidupan Sosial di Batavia, pada akhirnya penguasa Belanda mulai serius memikirkan nasib budak. Pada 1742, seorang Belanda kaya diusir dari seluruh wilayah VOC karena menembak mati seorang budak dan menyiksa tiga orang lain. Hukuman bisa pula berupa pencabutan hak kepemilikan budak karena memperlakukan budak dengan sangat kejam. Pada 1757, aturan yang membatasi kepemilikan budak dikeluarkan. Untuk budak yang dipelihara dalam kastil, batas maksimal adalah 1200 orang sedangkan budak yang boleh dipelihara di Pulau Onrust (sekarang Pulau Kapal di dekat Teluk Jakarta) maksimal 300 orang. Aturan-aturan tentang perbudakan lebih baru keluar pada 1 Januari 1758. Isinya, larangan membawa budak di bawah umur 14 tahun ke Batavia. Pada 1803, pemerintah Batavia mengeluarkan aturan tentang pemenuhan akomodasi dan pembagian makanan yang adil. Ketika Thomas Raffles berkuasa, aturan pembatasan budak usulan Wilberforce masih dipergunakan. Pada 1812, Raffles melakukan pembatasan budak dengan mewajibkan majikan mendaftarkan budak mereka, memberi pajak lebih pada para majikan, dan mengeluarkan larangan mengimpor budak ke Pulau Jawa sejak 1813. Perdagangan budak akhirnya dilarang di Jawa pada 1860 kendati pasar budak di Batavia baru tutup tahun 1880 ketika impor dan perdagangan budak dihentikan.
- Zarima di Arena
NIKMATNYA narkoba andai memang ada, hanya sesaat. Selebihnya, penyesalan. Karier tercoreng. Masa depan hancur. Potensi dan prospek yang terbangun runtuh seketika dan bukan perkara mudah untuk pulih. Pandangan masyarakat bakal tetap abadi. Itulah yang terjadi pada figur cantik Zarima Mirafsur. Kalau menyebut nama Zarima, hingga kini yang terngiang pastilah julukan “Ratu Ekstasi”. Padahal, ia punya potensi cemerlang tidak hanya di dunia artis tapi juga bulutangkis. Zarima merupakan sosok yang punya prospek cerah dalam bidang tepok bulu. Itu diingat betul oleh Yuni Kartika, mantan pebulutangkis yang kini jadi presenter olahraga. Eks pebulutangkis kelahiran 16 Juni 1973 ini pertamakali mengenal Zarima di audisi PB Djarum Jakarta medio 1984. “Waktu itu saya ikut audisi pas usia 11 tahun. Lucu tuh di situ angkatan saya. Ada Zarima Mir yang ratu ekstasi itu juga termasuk. Ade Rai yang sekarang angkat besi, terus ada Jean Pattikawa, anaknya (sutradara) Chris Pattikawa. Jadi memang kalau dilihat komposisi yang diterima ini, beda-beda banget karakternya dan ini membuat dinamika dalam latihan menarik. Seru sih waktu itu,” ujar Yuni kala ditemui Historia di Djarum Foundation Jakarta, 15 Januari 2019. Namun, sedikit yang teringat dari sosoknya karena memang Yuni hanya sebentar satu “kamp” dengan Zarima. Dia berpindah-pindah klub, seperti ke PB Jaya Raya dan Bimantara Badminton Club. “Kalau mainnya, dia cukup lincah dan tipe pemain reli,” kenang Yuni. Lahir di Bandung 3 Desember 1972 (sumber lain menyebutkan 1974), Zarima merupakan anak ketiga pasangan blasteran Pakistan-Sunda Mirafsur Khan-Mardiah. “Zarina (Zarima, red. ) dilahirkan dari keluarga harmonis dan berkecukupan. Mirafsur seorang pengusaha penginapan Grup Palm dengan anak usaha Karina, Permata Hati dan Palm di Cisarua, Bogor,” tulis Rahmawati Maharani dalam Ekstasi: Zarima Mir, Ria Irawan, Mohd. Said . Ketertarikan dan bakatnya terhadap bulutangkis mulai tampak sejak pulang dari New York, Amerika Serikat usai menyelesaikan sekolah dasar (SD) di Negeri Paman Sam. Sebagaimana juga Zulfikar kakaknya, ketertarikan Zarima bermula setelah dikenalkan sang ayah. “Ayah kandungnya, Mirafsur-lah yang sangat menginginkan Zarina menjadi atlet andal,” sambung Rahmawati. Bakatnya diasah sejak masuk SMP di Rawamangun hingga Ragunan, sebelum diseriusi lagi dengan masuk klub. “Obsesi itu membuat Mirafsur berlaku keras terhadapnya. Tak sia-sia, ia pernah jadi juara tunggal putri di Kejurda DKI Jaya,” sambungnya. Dari Ragunan, PB Djarum, PB Jaya Raya hingga Bimantara, karier Zarima akhirnya barlabuh ke Pelatnas PBSI di Senayan pada 1989. Ia bermain di tunggal putri dan ganda campuran berpasangan dengan Ardy Bernardus Wiranata. “Iya, kita pernah berpasangan di ganda campuran. Seingat saya pertamakali kenal sebenarnya sejak saya masih di PB Tunas Inti. Agak lupa juga saya soal sosoknya. Saya masih sangat muda waktu itu. Paling yang teringat, dia orangnya sangat pendiam,” kenang Ardy kala dihubungi Historia , 25 Maret 2019. Di Pelatnas, Zarima dilatih legenda Rudy Hartono dan Retno Koestijah. Laman BWF mencatat, Zarima ikut memperkuat skuad Indonesia di Malaysia Open 1989 tapi hanya turun di tunggal putri. Ia hanya sampai babak kedua setelah keok dua set langsung, 10-21 dan 2-11, dari Fiona Smith asal Inggris. Sayangnya, hanya sekira tiga tahun Zarima berkiprah di Pelatnas lantaran kemudian memutuskan terjun ke dunia hiburan. Zarima dalam film Cinta Anak Muda produksi 1990. (Youtube/Star Chanel) Gegara Prahara Psikis Zarima ikut terguncang akibat prahara keluarga. Ayah dan ibunya bercerai. Zarima pun gantung raket pada 1993. “Sejak itu kariernya sebagai pemain bulutangkis berantakan. Ia juga dihadapkan pada pilihan, ikut ayah atau ibu. Baginya dan saudara-saudaranya, pilihan ini berat,” kata Rahmawati. Zarima , yang sudah merintis karier film di sela-sela jadi atlet , akhirnya memutuskan terjun ke dunia hiburan . Namun ironisnya, di era itu pula Zarima terlibat narkoba hingga melekatkan julukan “Ratu Ekstasi” padanya. Bukan hanya pihak keluarga yang kaget, kawan-kawannya di dunia bulutangkis juga terkejut. “Sejak Zarima berhenti main badminton, saya enggak pernah kontak juga. Ya namanya juga zaman dulu alat komunikasi dan media sosial enggak seperti sekarang. Mendadak cuma tahu berita Zarima kena kasus narkoba itu,” ujar Ardy lagi. Mantan pelatihnya, Retno, syok dan menyesalkan skandal itu. “Padahal selain pukulan-pukulan Zarima cukup bagus, dia juga disiplin. Makanya kaget ketika melihat fotonya terpampang di koran karena kasus ekstasi,” ungkap Retno dikutip Rahmawati.
- Kedai Cepat Saji Tertua di Dunia
Di mana kedai cepat saji tertua di dunia? Mungkin jawabannya bisa ditelusuri di situs permukiman kuno, Pompeii. Para arkeolog baru-baru ini menemukan sebuah kedai makanan ringan kuno di Pompeii, sebuah kota zaman Romawi kuno yang telah menjadi puing dekat kota Napoli dan sekarang berada di wilayah Campania, Italia. Lukisan-lukisan berwarna-warni yang menghiasi kios itu telah bertahan hampir 2.000 tahun di bawah abu vulkanik dan batu apung. Hasil penelitian itu diumumkan Taman Arkeologi Pompeii Jumat (29/3). Mereka merilis beberapa gambar dari sebuah kios kuno atau termopolium yang masih terawat baik. “Para peneliti berpikir kios itu mungkin pernah menyajikan makanan panas,” tulis Katherine Hignett dalam Newsweek, Jumat (29/3). Terletak di persimpangan Vicolo delle Nozze d'Argento dan Vicolo dei Balconi, kios itu ditemukan selama penggalian di bagian Regio V di situs arkeologi. Telah ada sekira 80 termopolium yang ditemukan di Pompeii. "Sebuah termopolium terungkap dengan lukisan dinding pada konternya yang indah," tulis Massimo Osanna, arkeolog University of Naples Federico II, dalam sebuah unggahan di Instagram. Dalam temuan itu, nampak sebuah meja yang dihiasi dua lukisan. Satu adalah figur nereid , atau nimfa laut, makhluk mitologi Yunani. Ia digambarkan tengah duduk di atas kuda. Sementara lukisan lain diperkirakan menggambarkan seorang pekerja di lingkungan kios makanan kecil. Arkeolog pun menyamakan gambar itu sebagai pertanda toko modern yang tengah mengiklankan bisnis. Kemudian sejumlah wadah, yang dikenal dengan sebutan amphora ditemukan dalam kios itu. Amphora adalah wadah keramik berbentuk vas dengan dua pegangan di kedua sisinya. Bagian lehernya panjang dan lebih sempit dari bagian badannya. Bentuknya sangat mirip dengan yang digambarkan dalam lukisan dinding. Ilustrasi Amphora “Bahkan jika struktur seperti ini telah dikenal di Pompeii, menemukan lebih banyak lagi bersama dengan benda-benda yang berhubungan dengan kehidupan komersial dan sehari-hari mereka, akan terus membawa emosi yang kuat, mengingatkan kita ke saat letusan tragis itu,” kata Alfonsina Russo, direktur sementara Taman Arkeologi Pompeii, sebagaimana dikutip dalam laman itu. Kendati begitu, dia menambahkan, reruntuhan Pompeii menawarkan wawasan unik tentang peradaban Romawi Kuno. Pompeii sebelumnya tergulung letusan Gunung Vesuvius pada 79 M. Di sisi lain, letusan ini menjadi seperti kapsul waktu. Ia melindungi kota dari masa Romawi Kuno itu selama ribuan tahun. Kota yang sudah lama terlupakan itu dan tetangganya, Herculaneum, dieksplorasi dalam penggalian yang dimulai pada abad ke-18. Dalam beberapa bulan terakhir para arkeolog telah menemukan lukisan dinding, beberapa tubuh manusia dan bahkan sisa-sisa kuda. Terletak di selatan Italia masa kini, situs ini terkenal dengan gips yang menyerupai kehidupan pada saat-saat terakhir kehidupan penghuninya. Para peneliti membuat gips dengan menuangkan plester ke dalam rongga yang ditinggalkan oleh lapisan abu pada tubuh masyarakat penghuninya.
- Bencana di Danau Ladoga
ARLOJI tua itu masih berdetak. Arloji itulah satu-satunya benda yang jadi medium Nastya Tkachyova (Galina Kuznetsova) tu mengenang pria yang dikasihinya. Arloji itu juga saksi bisu kala Nastya muda mati-matian menyelamatkan diri dari Pengepungan Kota Leningrad (kini St. Petersburg) via Danau Ladoga, sepanjang malam 16 September hingga pagi 17 September 1941. “Hanya arloji ini yang tersisa. Kami tidak punya foto. Semua sudah binasa bersama kota yang luluh lantak oleh pengeboman (Nazi Jerman),” kenang Nastya. Sekilas memori wanita tua itu jadi mukadimah yang disajikan sutradara Aleksey Kozlov dalam film Spasti Leningrad ( Saving Leningrad ). Drama sepanjang 96 menit ini mengangkat satu dari sekian bab sejarah mengenai Pengepungan Leningrad (8 September 1941-27 Januari 1944). Wanita uzur itu mengingat kembali peristiwa tersebut, Nastya muda (Maria Melnikova) buru-buru mengepak koper untuk ikut kekasihnya Kostya Gorelov (Andrey Mironov-Udalov), seorang kadet artileri Angkatan Darat (AD) Uni Soviet. Keduanya berniat menumpang Tongkang 752 untuk keluar dari kota via Danau Ladoga menuju Novaya Ladoga di timur Leningrad, wilayah yang belum dikepung Nazi Jerman. Kebetulan, kompi tempat Kostya bertugas juga akan diberangkatkan bersama ratusan kadet medis Angkatan Laut (AL) Soviet. Tapi jelang keberangkatan, sekompi kadet itu justru mendapat perintah dadakan untuk tidak berangkat dan membantu Tentara Merah dan milisi sipil menahan Nazi Jerman di pesisir Leningrad. Kostya mestinya batal berangkat bersama kompinya, namun ayahnya, Kolonel Laut Nikolai Gorelov (Vitaliy Kishchenko), menyuruhnya berganti seragam dari kadet AD menjadi kadet AL. Sang ayah tetap ingin putranya ikut keluar dari Leningrad. Mulanya banyak perwira yang khawatir untuk memberangkatkan Tongkang 752 dengan ditarik Kapal Selemdzha, terlebih turut diisi ribuan sipil. Selain khawatir ancaman Luftwaffe (Angkatan Udara Jerman), buruknya cuaca juga jadi kecemasan besar sang nakhoda kapal penarik tongkang, Kapten Dmitrievich Erofeev (Aleksey Shevchenko). “Saya yang akan bertanggungjawab jika terjadi apa-apa. Sebagai buktinya, putra saya akan ada di tongkang (752) itu,” ujar Kolonel Gorelov yang merupakan komandan pangkalan. Sang nakhoda pun melaksanakan perintahnya untuk memenuhi tongkang usang berkapasitas 600 orang itu dengan 1500 orang. erjatuhan kala Tongkang 752 diserang pesawat Jerman (Foto: Twitter @roskino) Namun belum lama tongkang berlayar, badai mengombang-ambingnya dan kapal penarik. Paginya, giliran dua pesawat Jerman menghujani tembakan ke arahnya. Dengan senjata seadanya, Mosin-Nagant, Kostya dan sisa kadet AL Soviet dengan heroik balas menembak hingga kedua pesawat jatuh. Meski begitu, serangan udara itu sudah lebih dulu memakan ribuan jiwa. Hanya sekira 200-an jiwa yang selamat dan ditolong kapal penarik dan beberapa kapal motor AL Soviet lain yang datang terlambat. Mereka dievakuasi ke Novaya Ladoga. Di pesisir Novaya Ladoga, Kostya berkumpul dengan sisa kompinya pasca-gagal memukul mundur pasukan Jerman. Termasuk bertemu lagi dengan sersan-pelatihnya yang sempat menyita arlojinya untuk kemudian dikembalikan pada Kostya. Sinematografi yang Kurang Greget Saving Leningrad jadi penggambaran terbaru tentang pengepungan Leningrad di Perang Dunia II setelah beberapa film dokumenter dan film Attack on Leningrad (2009). Namun, alur Saving Leningrad kurang greget dan adegan-adegan pertempuran di pesisir kota serta serangan pesawat Jerman ke Tongkang 752 pun kurang mengena jika dibandingkan film-film tentang front timur lain, seperti Enemy at the Gates (2001). Saving Leningrad juga tidak sepenuhnya menggambarkan derita sipil yang kelaparan dan serdadu Soviet yang kekurangan amunisi dalam meladeni serbuan Jerman di dalam kota. Kozlov lebih fokus menggambarkan kepanikan dan ketakutan yang dialami ribuan penumpang Tongkang 752 yang belum pernah diungkap ke publik sebelumnya. Namun, iringan tata suara garapan Yuri Poteyenko, ditambah bahasa Rusia yang dipergunakan dalam seluruh dialognya, cukup membawa penonton ke suasana Leningrad di masa itu. Hebatnya lagi, film yang diluncurkan awal tahun 2019 ini hampir tak diselipi visual effect selain di adegan tongkang dihantam badai. Untuk itulah Kozlov dan timnya mereplika Tongkang 752 dan laiknya Dunkirk (2017) garapan Christopher Nolan, shooting- nya benar-benar dilakukan di air, di Danau Ilmen, Novgorod. “Perfilman Rusia kekurangan entertainment, menurut saya. Jika kami bisa mendekati film yang dibandingkan dengan kami (Dunkirk), saya senang, tidak hanya untuk diri saya sendiri tapi juga untuk perfilman Rusia,” tutur Kozlov, dikutip media Rusia Tech2 , 25 Januari 2019. Fakta yang Terungkap Bencana yang menewaskan sekira 1500 orang itu baru pada 2004 terungkap dari sebuah arsip yang lama disimpan militer Soviet (kini Rusia). Dari arsip-arsip inilah Kozlov menggodok naskah. Faktanya diperkuat dengan kesaksian seorang penyintas Tongkang 752 yang ditemuinya, Galina Kuznetnsova. Galina adalah karakter figuran wanita tua yang digambarkan menceritakan kisahnya sebagai Nastya. “Awalnya sutradara meminta saya memainkan peran utama di usia tua. Umur saya 87 tahun dan saya sudah tidak terlalu sehat. Karenanya saya menolak peran utama,” ujar Galina yang akhirnya setuju jadi figuran di awal film, dilansir metronews.ru , 25 Januari 2019. Kapten Erofeev merupakan figur nyata satu-satunya dalam Saving Leningrad yang diperankan Aleksey Shevchenko Kendati jalan ceritanya berdasarkan pengalaman Galina, nyaris semua karakter dalam film adalah fiktif. Hanya satu tokoh yang berdasarkan karakter nyata, yakni Kapten Erofeev, nakhoda kapal penarik Tongkang 752. Namanya diambil Kozlov dari arsip-arsip yang diungkap militer Rusia. “Selain dia, karakter sisanya adalah fiktif. Tetapi kami mengangkat fakta terkait imbas yang diderita akibat blokade itu. Fakta yang tidak diketahui sebelumnya oleh siapapun yang baru akan tahu pada 28 Januari,” sambung Kozlov. Saving Leningrad resmi dirilis pada 28 Januari 2019 di St. Petersburg, bersamaan dengan peringatan 75 tahun pembebasan Leningrad. Produser Arkady Fateev berharap generasi muda bisa mengambil pelajaran dari film dan arsip-arsip yang baru diungkap itu. “Kami harus mengoreksi fakta-fakta yang sebelumnya direkayasa. Oleh karenanya kami bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan untuk membuka mata pelajaran terbuka tentang blokade Leningrad ini kepada para pelajar pada 28 Januari. Film kami dibuat untuk memicu masyarakat berpikir kritis, mempelajari tentang tragedi ini dan banyak hal lain terkait fakta-fakta yang belum terungkap,” tandasnya, disitat RIA Novosti , 25 Januari 2019.
- Mula KDRT Diusut
NENENG harus pasrah menerima nasib. Oleh suaminya, dia dilecehkan. Dibantu LBH Apik Neneng memperkarakan pelecehan itu ke jalur hukum pada 1997. Sayang beribu sayang, pembuktian kasus tersebut cukup sulit lantaran kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih asing saat itu dan tak ada payung hukumnya. Usaha panjang pembuktian di pengadilan akhirnya membuahkan hasil berupa ancaman hukuman delapan bulan penjara terhadap suami Neneng. Namun, hukuman itu hanya bisa dieksekusi bila sang suami kembali melecehkan istrinya selama satu tahun masa percobaan hukuman. Kala itu, hukum di Indonesia belum mengatur tentang KDRT. Definisi kekerasan pun masih sebatas luka fisik. KUHP pasal 285 yang mengatur perkosaan, tidak memasukkan istri dalam kategori korban, meniadakan kemungkinan terjadinya pemerkosaan dalam rumah tangga. Ditambah adanya pemeo bahwa orang tak berhak ikut campur masalah rumah tangga orang lain, korban sulit mendapat bantuan sehingga kasus KDRT makin sulit ditangani. Kasus Neneng menjadi titik tolak pengusulan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (RUU PKDRT) yang diinisasi LBH Apik. Di tahun tersebut, mereka menghadapi situasi krisis dengan banyaknya temuan kasus KDRT seperti pemukulan, penelantaran, atau perkosaan dalam rumah tangga ( marital rape ). “Gagasannya sejak 1997. LBH Apik mencatat ada peningkatan kekerasan pada istri. Temuan ini mendorong masyarakat menyepakati perlunya UU PKDRT,” kata Anita Dhewy, pemimpin redaksi JurnalPerempuan dalam “Peluncuran Jurnal Perempuan Edisi 100” di Hotel JS Luwansa, Rabu (27/03/2019) lalu. Usaha pengusulan RUU PKDRT dimulai pada November 1997. LBH Apik membuat pertemuan dengan pemuka agama, penegak hukum, dan pendamping korban. Dari hasil pembicaraan itu mereka sepakat untuk mengusulkan pembuatan RUU PKDRT. Sebagai tindak lanjut, dibentuk pula Jaringan Kerja Advokasi Keamanan dalam Rumah Tangga (Jangkar) yang dimotori LBH Apik bersama 15 organisasi lain, salah satunya organisasi mantan polisi wanita. “Ada juga Forum Parlemen yang di luar struktur DPR. Forum ini jadi penghubung dengan Komisi VII yang menangani RUU PKDRT,” kata Anita. Lewat sidang paripurna 13 Mei 2003, RUU PKDRT ditetapkan sebagai RUU Inisiatif DPR. “Semua fraksi setuju menjadikannya RUU Inisiatif DPR meski terdapat sejumlah catatan dari fraksi partai Islam,” kata Ratna Batara Munti seperti dikutip Anita dalam Jurnal Perempuan Vol. 24 No. 1 Februari 2019. Untuk mempercepat pengesahan RUU PKDRT, para penyokong menggelar aksi Gerakan Seribu Payung di depan Istana Merdeka pada 31 Mei 2004. Demonstrasi ini tak sia-sia. Presiden Megawati bersedia menerima perwakilan massa. Setelah itu, Megawati mengeluarkan Amanat Presiden yang menunjuk kementerian terkait untuk membahas RUU PKDRT bersama DPR dan membuat inventaris masalah. Hasilnya, UU No. 23 tentang PKDRT yang disahkan tahun 2004. UU ini memuat beberapa pembaruan hukum pidana, seperti definisi kekerasan yang lebih luas, mencakup fisik, psikis, seksual, dan ekonomi dengan pembuktian yang mengutamakan pengakuan korban sebagai saksi utama plus satu bukti. Kendati sudah 15 tahun disahkan, angka KDRT masih tinggi. Catahu Komnas Perempuan merilis data KDRT 2018 mencapai 9.637 kasus dengan kekerasan fisik sebagai angka tertinggi, yakni 41% atau 3.927 kasus.
- Bukti Terbaru Asal Usul Manusia Modern
Homo sapiens modern pertama kali muncul di Afrika lebih dari 300.000 tahun lalu. Namun ada perdebatan besar di antara para sarjana apakah orang-orang pertama itu sama seperti orang yang sekarang hidup. Artinya, itu dalam kapasitas mentalnya, dan bila mereka hidup di tengah-tengah masyarakat sekarang akan sulit membedakan mereka dari manusia modern lainnya. Kendati begitu, para arkeolog percaya kalau orang-orang awal yang mirip seperti orang masa kini pernah hidup dalam komunitas kecil pada zaman es di pantai Afrika Selatan. Setidaknya 100.000 tahun lalu. Peneliti dari University of Huddersfield dengan rekannya dari University of Cambridge dan University of Minho di Braga, menggunakan pendekatan genetik untuk menjawab salah satu pertanyaan paling sulit selama ini: bagaimana dan kapan manusia menjadi seorang manusia sejati? Berdasarkan artikel yang diunggah dalam laman resmi University of Huddersfield berjudul Researchers Shed New Light on the Origins of Modern Humans , disebutkan orang-orang itu sempat meninggalkan bukti yang mengisyaratkan mereka sudah berpikir dan berperilaku seperti manusia modern, sekira 100.000 dan 70.000 tahun lalu. Mereka meninggalkan bukti simbolisme, seperti penggunaan pigmen, mungkin untuk pengecatan tubuh. Selain itu, ada pula jejak gambar dan ukiran, manik-manik kerang, dan alat batu kecil, yang disebut mikrolit. Alat batu ini mungkin bagian dari busur dan anak panah. Beberapa bukti ini menunjukkan apa yang oleh beberapa arkeolog disebut sebagai “perilaku manusia modern” telah ada jauh lebih mundur lagi, yaitu lebih dari 150.000 tahun lalu. Sayangnya, meskipun pencapaian itu membuat orang-orang itu istimewa karena menunjukkan kemungkinan garis langsung dengan orang saat ini, genetika dari "Khoi-San" modern di Afrika Selatan tak mendukung itu. “Genom kami menyiratkan bahwa hampir semua non-Afrika modern dari seluruh dunia –dan memang sebagian besar orang Afrika juga– berasal dari sekelompok kecil orang yang hidup bukan di Afrika Selatan tetapi di Afrika Timur, sekitar 60.000-70.000 tahun yang lalu,” sebut artikel itu. Namun itu sampai akhirnya tim ahli genetika Huddersfield-Minho yang dipimpin oleh Martin Richards di Huddersfield dan Pedro Soares di Braga, bersama dengan arkeolog Cambridge, Sir Paul Mellars, mempelajari DNA mitokondria yang diwariskan secara maternal dari Afrika. Mereka pun telah mengidentifikasi sebuah sinyal yang jelas tentang migrasi skala kecil dari Afrika Selatan ke Afrika Timur. Migrasi ini terjadi sekira 65.000 tahun yang lalu. “Tanda-tanda itu hanya terbukti di DNA mitokondria. Di seluruh genom, tampaknya telah terkikis habis-habisan oleh rekombinasi, perombakan gen kromosom antara orang tua setiap generasi, yang tidak mempengaruhi DNA mitokondria,” jelas artikel itu. Kemudian, kemungkinan itu juga dibuktikan lewat iklim. Sebagaian besar dari beberapa ratus tahun terakhir, beberapa bagian Afrika telah mengalami iklim yang kering. Namun untuk periode yang singkat, yaitu pada 60.000-70.000 tahun yang lalu terjadi periode lembab di seluruh benua. Kelembaban ini cukup untuk membuka jalur antara selatan dan timur. “Menariknya sekira 65.000 tahun yang lalu beberapa tanda kompleksitas teknologi yang terlihat sebelumnya di Afrika Selatan mulai muncul di timur,” lanjut artikel itu. Adanya bukti ini pun membuka kemungkinan terjadinya migrasi sekelompok kecil orang dari Afrika Selatan ke arah Timur pada sekira 65.000 tahun yang lalu. Dalam prosesnya, mereka kemudian mentransmisikan budaya manusia modern mereka yang canggih itu kepada orang-orang di Afrika Timur. Secara biologis, orang Afrika Timur itu sedikit berbeda dari Afrika Selatan. Mereka semua adalah Homo sapiens modern, otak mereka sama maju dan mereka pasti siap secara kognitif untuk menerima manfaat dari ide-ide baru dan peningkatannya. Bagaimanapun, penelitian itu mengungkapkan, sepertinya sesuatu terjadi ketika kelompok-kelompok dari selatan bertemu kelompok manusia yang berada di timur. “Karya ini menunjukkan bahwa kombinasi genetika dan arkeologi yang bekerja bersama dapat menyebabkan kemajuan yang signifikan dalam pemahaman kita tentang asal usul Homo sapiens,” kata Mellars.
- Jembatan Perlawanan Mangkunegaran
DARI sekian banyak barang antik dan foto serta lukisan yang ada di Museum Puro Mangkunegaran, barang-barang koleksi milik serta tentang Mangkunegara VII mungkin paling banyak jumlahnya. Mangkunegara VII merupakan raja yang peduli terhadap budaya dan sejarah bangsanya. Selain itu, hidupnya sudah di era modern di mana fotografi telah masuk Hindia-Belanda. “Memang beliau ini, Mangkunegoro VII ini, multi talenta,” kata Supriyanto dari Dinas Urusan Istana Mangkunegaran kepada Historia, 18 Maret 2019. Selain peduli terhadap seni-budaya dan politik, raja yang bernama lahir RM Soerjo Soeparto ini juga peduli terhadap ekonomi dan yang terpenting, terhadap rakyatnya. Kepedulian terhadap rakyatnya itu antara lain dia tuliskan usai mengunjungi kota-kota di Eropa semasa menuntut ilmu di Belanda. “Begitu senangnya hatiku, jarang-jarang melewati jalan, yang segalanya, pemeliharaan, juga pengerjaannya, melebihi segala sesuatu yang pernah aku bayangkan, kemewahan teringat terus di dalam hati, merasakan keindahan pemandangan di jalan-jalan selalu tampak taman, kemudian teringat pada tanah airku, sedih sekali hatiku memikirkan nasib bangsaku, alangkah sedikitnya, ibarat bisa dihitung yang memiliki banyak uang, bisa memiliki tanah pekarangan,” tulisnya, dikutip Wasino dalam Modernisasi di Jantung Budaya Jawa: Mangkunegaran 1896-1944 . Kepedulian itu kemudian direalisasikannya setelah naik takhta pada 1916. Mangkunegara VII yang inovatif itu menyempurnakan banyak hal milik Mangkunegaran dan mewujudkan banyak hal baru. Salah satunya, pembangunan jembatan air di Sungai Wiroko, Wonogiri pada 1936. Untuk itu, dia menugaskan Insinyur Sedyatmo (kelak menjadi penemu fondasi cakar ayam), kerabat Mangkunegaran yang baru dua tahun lulus dari Technische Hooge School (THS, kini Institut Teknologi Bandung). “Mangkunegoro VII menyerahkan sepenuhnya pembangunan jembatan air tersebut demi kepentingan petani di Desa Wiroko dan sekitarnya. Mangkunegoro VII hanya mengharapkan terwujudnya jembatan air itu sehingga Sungai Wiroko akan dapat berguna bagi para petani dalam menggarap tanah mereka,” tulis Ahmad Effendi dan Hermawan Aksan dalam Prof. Dr. Ir. Sedyatmo: Intuisi Mencetus Daya Cipta . Namun ketika pembangunan baru berjalan separuh, Mangkunegara VII mendapat surat dari Insinyur Valkenburg, kepala Departemen Pekerjaan Umum Hindia Belanda. Sang pejabat minta jembatan itu dibongkar karena pembangunannya menggunakan rumus-rumus yang menyimpang dari rumus-rumus yang berlaku di seluruh dunia dan diajarkan di kampus-kampus. Mangkunegara VII lalu meminta patihnya, Ir. Sarsito Mangunkusumo, memberikan surat teguran itu kepada Sedyatmo. Sedyatmo memutuskan untuk tetap melanjutkan pembangunan Jembatan Wiroko. Lewat keputusan itu dia ingin mengaplikasikan teori yang dikembangkannya dan membuktikan teori itu lebih jitu ketimbang teori-teori dari buku-buku kampus yang digunakan para insinyur Belanda. Keputusan itu membuat pemerintah kolonial kembali menegur. Kali ini lewat surat rektor THS Profesor Sprenger. Sang rektor meminta jembatan itu dibongkar karena diprediksi tak akan tahan lama. “Jembatan itu akan cepat jebol dan jebolnya jembatan itu nantinya akan menjatuhkan nama baik THS, sebab Sedyatmo adalah mantan mahasiswa sekolah tinggi Bandung.” Baik Sedyatmo maupun Mangkunegara VII sama-sama bergeming terhadap teguran itu. Sedyatmo pun merasa didukung sang raja sehingga semakin semangat menyelesaikan pembangunan jembatan itu. Pada 1937, pembangunan jembatan itu berhasil dirampungkan Sedyatmo. Sebelum mengundang Mangkunegara VII untuk meresmikan, Sedyatmo menjajal jembatan itu untuk membuktikan kekuatannya. “Sebelum diresmkan, jembatan ini akan saya coba lebih dulu. Saya merasa malu kalau hasil karya saya ini tidak baik mutunya. Saya lebih baik mati bersama hancurnya jembatan itu daripada hidup menanggung malu. Saya akan berdiri di atasnya sehingga kalau jembatan tersebut ambruk, saya pun ikut jatuh bersamanya,” kata Sedyatmo. Jembatan itu pun diuji Sedyatmo dan para pembantunya yang tak ingin membiarkan sang insinyur sendirian di atas jembatan. Hasilnya, Sedyatmo yakin jembatannya kuat. Selang beberapa saat kemudian, Mangkunegara VII pun meresmikan penggunaan jembatan itu.























