top of page

Hasil pencarian

9807 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Corak Asing di Kesultanan Cirebon

    AGAMA Islam masuk ke Cirebon pada permulaan abad ke-14. Itu  bersamaan terjadinya kontak pertama antara orang-orang asing (Arab dan Tiongkok) dengan pribumi. Islam pun dikenal oleh masyarakat Cirebon sebagai agama pendatang yang dibawa oleh para pedagang Arab dan Tiongkok.  Namun karena saat itu belum terjadi kontak budaya yang signifikan, penyebaran Islam pun baru terjadi secara masif pada masa Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon. Ketika pertama datang orang-orang Arab dan Tionghoa menempati wilayah pesisir Cirebon. Sebagai pedagang, mereka lebih  banyak melakukan aktivitasnya di sana. Maka tidak heran jika hanya wilayah pesisir saja yang sejak awal telah mengenal Islam. Pada 1415 berdiri kampung Tionghoa (Pecinan) di wilayah Pelabuhan Muara Jati. Pemukiman itu dibangun oleh utusan Laksamana Cheng Ho, penjelajah Tionghoa Muslim dari Dinasti Ming. Salah seorang utusan itu adalah Tan Eng Hoat. “Ia adalah seorang Cina Muslim dan sudah menjadi haji” tulis Rokhimin Dahuri dalam Budaya Bahari: Sebuah Apresiasi di Cirebon . Para pedagang asing itu banyak berinteraksi dengan penduduk lokal. Akibatnya, tidak sedikit dari mereka yang memutuskan untuk menetap di Cirebon. Mereka kemudian menikahi perempuan-perempuan pribumi. Orang-orang Tionghoa menempati Pecinan, sementara orang-orang Arab menempati Kampung Arab. Peran orang-orang Tionghoa dan Arab di Kesultanan Cirebon cukup besar. Keberadaan mereka berdampak pada perkembangan kebudayaan di masyarakat. Seperti terlihat pada bangunan, kesenian, hingga benda-benda pusaka. Pengaruh Arab Dalam Babad Cirebon diceritakan peran orang-orang Arab dalam penyebaran Islam di Cirebon. Terdapat tiga tokoh penting, yakni Syarif Abdurrahman, Syarif Abdurrahim, dan Syarifah Baghdad. Ketiganya merupakan anak kandung,dari Sultan Baghdad. “Mereka diperintah untuk berlayar ke Pulau Jawa oleh sang ayah. Di Cirebon ketiganya berguru kepada Syekh Nurjati dan diperkenalkan dengan Pangeran Cakrabuana, pendiri Cirebon.” tulis Bambang Setia Budi dalam Masjid Kuno Cirebon . Pangeran Cakrabuana kemudian meminta Syarif Abdurrahman dan Syarif Abdurrahim mengajarkan Islam kepada masyarakat Cirebon. Masing-masing diberi satu wilayah untuk dikelola menjadi pemukiman Muslim. Sang kakak menempati wilayah yang sekarang dikenal sebagai Panjunan. Sedangkan sang adik dipercaya mengelola wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kejaksan. Di Panjunan, Syarif Abdurrahman membangun sebuah masjid sebagai pusat ajarannya. Pengaruhnya yang besar membuat masjid Panjunan pernah digunakan sebagai tempat musyawarah dan pertemuan para wali penyebar Islam dari seluruh Nusantara. Sebelum akhirnya dipindahkan ke Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang didirikan Sunan Gunung Jati. Syarif Abdurrahman juga mendirikan tempat pembuatan jun atau keramik porselen. Dalam prosesnya ia mengajak serta masyarakat pribumi. Sehingga mulai bermunculan tenaga pertukangan di wilayah Panjunan. “Keberadaan tenaga pertukangan dan pengrajin mengandung arti yang dalam bagi masyarakat Cirebon karena memunculkan kelompok masyarakat baru” tulis A. Sobana Hardjasaputra dalam Cirebon dalam Tiga Zaman: Abad ke-15 hingga Pertengahan Abad ke-20 . Sama seperti Panjunan, di Kejaksan Syarif Abdurrahim pun membangun sebuah masjid. Pembangunan masjid Kejaksan hampir berbarengan dengan masjid Panjunan. Keduanya memperlihatkan arsitektur khas masjid abad ke-15 di Cirebon. Cirinya adalah bentuk yang sederhana, terdiri dari ruang shalat, serambi, tempat wudhu, tiang besar, dan sakaguru di puncak atapnya. Sementara itu saudara perempuan mereka, Syarifah Baghdadi, menikah dengan Sunan Gunung Jati. Ia pun turut membantu penyebaran agama Islam bersama saudara dan suaminya. Pengaruh Tiongkok Sama seperti kebudayaan Arab, pengaruh tradisi Tiongkok pun cukup kental terasa di Cirebon. Beberapa masjid kuno di sana menggunakan keramik dari Tiongkok untuk hiasan dindingnya. Jumlahnya tidak sedikit dan motifnya pun sangat beragam. Keramik-keramik itu didatangkan langsung dari Tiongkok. Sebagian besar dibawa oleh para pedagang, sementara sisanya didapat dari utusan raja. Namun ada juga yang dibuat oleh orang-orang Tionghoa yang sudah menetap di Cirebon. Tidak hanya di masjid, keramik-keramik Tiongkok juga menghiasi bangunan publik lainnya. Bahkan di makam Sunan Gunung Jati pun tersebar hiasan-hiasan keramik Tiongkok. Hal itu diperkuat dengan keberadaan istri Sunan Gunung Jati yang berdarah Tionghoa, yakni Ong Tien Nio. Nuansa Tiongkok juga terlihat pada salah satu motif batik di Cirebon, yakni Megamendung. Sobana menyebut bahwa gambaran naga pada kereta pusaka kesultanan Cirebon sangat erat kaitannya dengan kebudayaan Tiongkok. “Namun selain menyerap budaya luar yang bersifat positif, diduga sebagian warga masyarakat Cirebon juga menyerap budaya yang bertentangan dengan ajaran Islam” kata Sobana. Salah satunya adalah arak. Hal itu didasarkan pada keberadaan pabrik arak di Cirebon yang dikelola oleh orang-orang Tionghoa. Dalam Eenige Offciele Stukken met Betrekking tot Tjirebon , laporan resmi pemerintah Belanda yang ditulis J.L.A. Brandes, menyebut kebiasaan minum minuman keras telah menjadi budaya di pelabuhan-pelabuhan Cirebon yang dibawa oleh para pedagang dari mancanegara.

  • AURI Ingin Membom Markas Kostrad?

    PADA masa Orde Baru berkuasa, Angkatan Udara RI (AURI) kalah pamor ketimbang Angkatan Darat (AD). Namun tak banyak orang tahu, jika suatu waktu Soeharto, sang aktor utama Orde Baru, pernah gusar terhadap AURI. Itu terjadi pada  1 Oktober 1965 kala  dirinya menjadi panglima Kostrad berpangkat mayor jenderal.   “ Kurang lebih pukul setengah dua belas malam saya pindahkan Markas Kostrad ke Senayan, karena ada informasi, bahwa AURI akan melakukan pemboman,” kenang Soeharto dalam otobiografinya Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya . Kepanikan Soeharto diakui oleh asisten intelijennya, Kolonel Yoga Soegomo. Dalam otobiografinya, Yoga juga mendengar kabar kalau AURI hendak membom markas Kostrad di Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. “Dan bila itu terjadi maka akan berakibat sangat buruk karena tiadanya fasilitas penangkis serangan udara,” kata Yoga dalam memoarnya Memori Jenderal Yoga . Untuk menghindari kemungkinan terburuk, Soeharto memutuskan memindahkan markas Kostrad ke Senayan kemudian ke Gandaria. Pengungsian itu hanya berlangsung sehari. Keesokan harinya, pada 2 Oktober, Presiden Sukarno mengumpulkan semua perwira tinggi lintas angkatan di Istana Bogor. Sukarno menunjuk Mayjen Pranoto Reksosamudra  sebagai menjadi pimpinan sementara di AD karena keberadaan Panglima AD Letnan Jenderal Achmad Jani belum diketahui. Dalam pertemuan itu, ada Panglima AURI, Laksamana Madya Omar Dani. Soeharto jengkel dengan kehadiran Dani. Menurutnya Dani terlibat dalam Gerakan 30 September (G30S) apalagi setelah mendengar kabar markas Kostrad mau dihancurkan-leburkan oleh pesawat bomber AURI.     “Suasana tegang meliputi kami, maklum di sana ada Omar Dani yang sudah sangat saya curigai,” ujar Soeharto. Kesaksian Soepardjo Sejauh apa kebenaran isu AURI ingin membom markas Kostrad? Menurut John Roosa, sejarawan University of British Columbia, ide untuk membom markas Kostrad justru berasal dari perwira tinggi AD yang terlibat G30S, Brigjen Soepardjo. Pendapat ini didasarkan atas dokumen yang memuat kesaksian Soepardjo dalam pengadilan Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Dalam kesaksiannya, Soepardjo mengakui bahwa dirinya bertemu dengan Omar Dani di Pangkalan AU Halim Perdanakusumah pada 1 Oktober 1965. Soeperdjo berpikir pasukan G30S seharusnya membom Kostrad sebagai kekuatan potensial yang tersisa dari AD. Menurut Soepardjo, hanya dengan bantuan AURI lah itu dapat dilakukan dan satu-satunya cara memenangkan kelompok G30S. Dani sejauh batas tertentu demi pertahanan AURI, mendukung penyerangan terhadap Kostrad tapi tidak untuk pemboman.   “Dani sungguh-sungguh setia kepada Sukarno dan mungkin sangat percaya bahwa presiden perlu dilindungi dari jenderal-jenderal sayap kanan,” tulis John Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto . “Persetujuan Omar Dani terhadap pemboman Kostrad - jika memang benar - mungkin didorong oleh kehendaknya untuk melindungi presiden, yang saat itu masih berada di Halim.” Akhirnya, AURI memutuskan menentang penyerangan terhadap Kostrad. Para perwira AURI di Halim khawatir tentang kemuungkinan jatuhnya korban di kalangan sipil. Jika bom salah sasaran dengan mudah akan meledak di daerah pemukiman yang berdekatan. Keraguan soal isu AURI ingin membom markas Kostrad juga diutarakan pakar politik-militer Salim Said. Menurut guru besar ilmu politik Universitas Pertahanan itu, dapat dimengerti apabila Soeharto memindahkan markas komandonya karena takut dibom. Para jenderal AD menaruh curiga kepada AURI khususnya setelah mendengar radio pengumuman dukungan Panglima AU kepada G30S. Kendati demikian, menurut Salim, keputusan mengungsi ke Senayan dan kemudian ke Gandaria itu memang terasa lucu. Seandainya AURI berencana melakukan pemboman, intel mereka tentu akan mengetahui saat itu juga dimana keberadaan pimpinan sementara AD. “Yang akan mereka bom pastilah Senayan atau Gandaria, bukan markas Kostrad di Jalan Merdeka Timur yang sudah ditinggalkan,” kata Salim Said dalam Gestapu 65: PKI, Aidit, Soekarno, dan Soeharto . "Bahasamu Leo" Dani sendiri tidak pernah mengeluarkan perintah untuk membom markas Kostrad. Dalam pledoinya, Dani mengatakan, “Saya tidak pernah merasa bilang kepada saudara Soepardjo ‘Beuk maar Kostrad’ (hantam saja Kostrad!).” Pun demikian Soerpadjo yang dalam persidangannya mengatakan bahwa Dani tidak mendukung aksi pemboman.  Namun Dani tidak menampik pertemuannya dengan Soepardjo, sore hari 1 Oktober 1965 di Pangkalan Halim. Usai pertemuan di Halim, pada malam hari nya, Dani bersama, Panglima Komando Operasi AURI, Komodor Leo Wattimena melakukan pemantauan udara meninjau kawasan Halim sampai Madiun dengan pesawat Hercules C-130. Memasuki pergantian hari, Dani terasa lelah dan mengantuk. Dia meminta Leo untuk berkirim radiogram kepada Panglima Kostrad Mayjen Soeharto. Dani berpesan agar Soeharto tidak perlu menggerakan pasukannya memasuki Pangkalan Halim untuk mengejar pasukan G30S. Sebabnya, pasukan AD dari Yon 454/Raiders Kostrad yang berusaha memasuki Halim pada sore hari telah dihalau oleh PGT (Pasukan Gerak Tjepat)-AURI. Jika bersikeras masuk, di Pangkalan Halim hanya ada pasukan PGT-AURI, anggota Pangkalan, dan kru pesawat yang sedang dikonsinyasi. Setelah menitipkan pesan itu, Dani tertidur sehingga tidak sempat memeriksa isi radiogram. Siapa nyana, Leo Wattimena menerjemahkan maksud Dani dengan pesan radiogram yang singkat, padat, dan tegas. “Jangan masuk Halim. Kalau masuk Halim akan dihadapi,” demikian bunyi radiogram yang dikirimkan Leo ke markas Kostrad. Tidak sampai disitu. Pesan yang sama juga dikirimkan ke Komandan Wing 002 PAU Abdurachman Saleh, Kolonel (Pnb.) Soedarman di Malang. Soedarman menangkap sinyal “siaga” dan segera mengirimkan dua pesawat bomber B-25 beserta sejumlah pesawat pemburu ke Pangkalan Halim. “Mendengar informasi tentang PAU Halim  akan diserang oleh pasukan lain, mereka cepat bertindak untuk membela korpsnya,” tulis Benedicta A. Surodjo dan JMV. Soeparno dalam Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku: Pledoi Omar Dani . Dani baru mengetahui isi radiogram itu setelah ditahan di Cibogo, Bogor. Sebagai bukti yang dituduhkan kepadanya, Dani diperkenankan membaca bunyi dari isi radiogram yang dikirimkan Leo. Sewaktu membaca arsip radiogram, Dani kaget seraya berkomentar: “Oh Leo…, bahasamu memang begitu. Kort en bondig ! Cekak aos! (tegas dan singkat) dan dapat diartikan terlalu keras!”     “Radiogram itu menimbulkan kesan seakan-akan AURI memberikan ultimatum kepada Panglima Kostrad. Berita yang tersebar ke luar negeri, menimbulkan kesan seakan-akan Angkatan Udara berperang melawan Angkatan Darat,” tulis James Luhulima dalam Menyingkap Dua Hari Tergelap di Tahun 1965 . Omar Dani menyadari, apapun dan bagaimanapun bunyi radiogram itu adalah tanggung jawabnya selaku pimpinan tertinggi AURI. Dia pun meyakini benar Leo bukan bermaksud demikian. Namun Soeharto yang terlanjur geram dibuatnya menuntut balas. Ketika Soeharto memperoleh kekuasaan lewat Surat Perintah 11 Maret ( Supersemar ) 1966, Dani diseret sebagai pesakitan politik.  Panglima AURI di masa jaya ini pun harus mendekam dalam penjara selama 30 tahun. Namanya dinista semasa Soeharto berkuasa.

  • Amuk Inggris di Sungai Beramas

    MAYOR Andrew Sandilands Knox Anderson (30) tengah diganja asmara hari itu. Seorang gadis Inggris telah membuatnya kasmaran setengah mati. Ann Helen Allingham (25) namanya. Dia seorang anggota Palang Merah Inggris yang tengah bertugas di Padang, mengurusi eks tawanan perang Jepang berkebangsaan Eropa.  Situasi perang menyebabkan kedua sejoli tersebut cepat berpadu hati. Minggu, 2 Desember 1945, Anderson sudah merencanakan untuk bervakansi dengan sang kekasih ke sebuah bungalow yang dilengkapi tempat pemandian indah di kawasan Sungai Beramas (sekitar 11 km sebelah selatan Padang). Mereka memutuskan akan menginap. Namun sesuai prosedur, Anderson harus melaporkan dahulu rencananya itu kepada pihak berwenang yang mewakili Republik Indonesia (RI) di Padang.   Maka pada hari Minggu sekitar jam 8, sebelum pergi ke Sungai Beramas, Anderson dan Allingham terlebih dahulu menemui Johnny Anwar di Kantor Polisi RI. Kepada anggota Kepolisian RI yang sudah dikenalnya itu, Anderson mengutarakan niatnya. Alih-alih memberi izin, Johnny justru mengingatkan bahaya yang mengancam jika pergi ke tempat tersebut. Selain memiliki medan yang curam, pemandian itu juga terletak di dekat hutan yang rawan akan aksi kejahatan. “Saya pikir lebih baik anda tidak usah pergi ke sana. Terlalu berbahaya,” ujar Johnny. “Ah, itu urusan saya,” kata Anderson sambil tertawa. Singkat cerita, pagi itu dengan mengendarai sebuah jip militer, meluncurlah Anderson dan Allingham ke arah Sungai Beramas. Demikian penuturan Johhny Anwar kepada tim penulis buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI di Minangkabau 1945-1950 (Jilid I) . * Malam itu Pemandian Sungai Beramas terasa sepi. Selain pasangan anak muda Inggris tersebut, tak ada pengunjung lain yang menginap di sana. Alih-alih merasa khawatir, Anderson dan Allingham yang sedang dimabok kepayang itu justru semakin betah. Tanpa disadari oleh mereka, dari balik belukar Bukit Sikabau (tanah tinggi yang terletak di belakang bungalow), empat pemuda tengah mengintip kelakuan sepasang kekasih tersebut. Kamaruddin, pimpinan kelompok kecil itu, lantas meloncat ke hadapan Anderson dan Allingham. Aksi anak muda asal Bugis itu diikuti oleh tiga kawannya.  Tanpa banyak bicara, mereka lantas menyerbu Anderson dan Allingham. Menghujani keduanya dengan tusukan pisau dan golok. Dan terjadilah apa yang ditakutkan oleh Johnny: kedua anak muda tersebut tewas seketika. Besoknya, Markas Besar Tentara Inggris di Padang menjadi geger.  Mereka menyatakan telah kehilangan Mayor Anderson dan Nona Allingham. Dalam laporannya kepada Jakarta, Gubernur Sumatera Teuku Muhammad Hasan menyebut militer Inggris sangat berang dengan insiden itu.  “Mereka menuduh para pejuang Indonesia sebagai pelakunya,” ujar Gubernur Sumatera seperti dikutip A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia: Diplomasi atau Bertempur Jilid II . Tidak hanya cukup menuduh, Panglima Tentara Inggris di Sumatera Barat Brigadier Hutchinson langsung memanggil Residen Sumatera Barat Rusad Datuk Perpatih Baringek dan Wakil Ketua KNI (Komite Nasional Indonesia) Sumatera Barat Mr. S.M. Rasjid. Sang brigadier lantas memarahi keduanya sambil melontarkan ancaman. “Jika pihak anda memberlakukan hukum rimba, maka kami pun tak akan ragu untuk memberlakukan hukum rimba!” katanya. Ancaman itu memang bukan gertak sambal semata. Lima hari setelah Anderson dan Allingham dinyatakan hilang, tentara Inggris melancarkan suatu pembersihan yang sangat brutal di selatan Padang, dengan membakar habis rumah-rumah penduduk. Bahkan bukan hanya kawasan Sungai Beramas yang dibakar, kampung-kampung terdekat (Kampung Gaung, Bukit Putus dan Teluk Nibung) juga dimusnahkan tanpa memberi kesempatan kepada para penduduknya untuk menyelamatkan harta masing-masing. Pada 10 Desember 1945, mayat Anderson dan Allingham akhirnya berhasil ditemukan. Penemuan itu menjadikan militer Inggris semakin kalap dan menuntut supaya Pemerintah RI di Sumatera Barat mencari dan meringkus para pelaku pembunuhan itu dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Tidak hanya itu, mereka pun memaksa Residen Rusad dan Wakil Ketua KNI Sumatera Barat Rasjid untuk melihat kondisi kedua mayat korban di Rumah Sakit Militer Ganting. Hari itu juga tentara Inggris kembali mengamuk. Tidak hanya membakar rumah, mereka pun menembaki para pemuda dan menghancurkan markas PRI (Pemuda Republik Indonesia) dan pos-pos TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Menurut Haji Masthor (salah seorang eks pejuang di Padang), di  sekitar wilayah Sungai Beramas, militer Inggris mengadakan operasi penangkapan di jalan-jalan. Setelah berhasil menangkapi para pemuda, mereka kemudian digiring ke tepi pantai dan dibantai dengan menggunakan senapan mesin. “Saya sendiri sempat merawat seorang pemuda yang berhasil kabur dengan luka tembakan 12 peluru di kakinya,” ujar lelaki kelahiran Padang pada 1924 itu. Akibat pembersihan itu, menurut A.H. Nasution, 40 rumah terbakar di Sungai Beramas, 98 rumah musnah di Kampung Gaung, 61 rumah menjadi abu di Kampung Nibung dan 244 rumah musnah di Padang kota, Kampung Pauh, Tabing, Lubuk Alung, Koto Tengah dan Alai. “ Duabelas pemuda ditembak mati,” tulis Nasution.

  • Trik Sulap Berujung Maut

    TERIK mentari Minggu (16/6/2019) siang membakar semangat Mandrake. Di tepi Sungai Hooghly, Kalkuta, India, pesulap cum ilusionis bernama asli Chanchal Lahiri itu sesaat lagi akan melakukan sebuah aksi meloloskan diri dari maut. Sekujur tubuhnya sudah diikat rantai dan digembok oleh para asistennya. Tubuhnya kemudian diangkat menggunakan crane untuk ditenggelamkam ke dasar sungai. Beberapa kali ia masih mencoba mengangkat kepalanya saat tubuhnya mulai menyentuh air. Itulah momen terakhir Mandrake terlihat dalam keadaan hidup yang diabadikan lewat rekaman video. Yang terjadi selanjutnya adalah petaka. Ia gagal lolos dari maut. Escapetrick ala legenda Harry Houdini yang dilakukan Mandrake gagal total. Setelah dinanti 10 menit, Mandrake tak jua muncul ke permukaan sebagaimana rencananya. Aparat setempat pun mencari ke dasar sungai tetapi baru Senin (17/6/2019) jasad Mandrake ditemukan sekira 1 kilometer dari lokasi kejadian. Kepolisian Kalkuta sampai kini masih menginvetigasi terus kasusnya. Tewasnya Mandrake menambah panjang daftar pesulap gagal dan menemui maut setelah mencoba meniru trik-trik Houdini, pesulap legendaris Amerika Serikat berdarah Hungaria yang tenar dengan trik-trik menantang malaikat kematian. Chanchal Lahiri melakukan trik sulap Houdini yang mengakhiri hidupnya. (Youtube Tuitealo). Trik-trik Houdini Lahir dari keluarga Yahudi pada 24 Maret 1874, Erik Weisz melejitkan nama panggungnya, Houdini, sejak kesuksesannya di London pada 17 Maret 1904. Kala itu ia melakoni aksi meloloskan diri dari sebuah borgol khusus. Aksi itu berawal dari tantangan suratkabar Daily Mirror bahwa tiada yang bisa meloloskan diri dari sebuah borgol buatan Nathaniel Hart yang butuh lima tahun pembuatannya. Houdini menjawab tantangan “ Handcuff Act ” itu di Teater Hippodrome London. Diungkapkan William Kalush dan Larry Sloman dalam The Secret Life of Houdini , triknya dilakukan di atas panggung dan namun di balik sebuah tirai. Butuh satu jam 10 menit bagi Houdini untuk bisa melepaskan diri dari belenggu baja itu. Banyak orang meragukan dan merasa bahwa Houdini curang. Mereka mengasumsikan Bess, istri Houdini, mengoper kunci tersembunyi di mulutnya kala mencium Houdini di panggung sebelum tirainya ditutup. Meski misteri trik ini belum terpecahkan, Houdini tetap keluar gedung dengan riuh tepuk-tangan penonton. Houdini pun menganggap trik itu yang tersulit sepanjang kariernya. Setidaknya ada 10 trik sohor dalam sepakterjang Houdini yang kian membuat harum namanya sebagai pesulap dan escape artist. Selain “Handcuff Act”, Houdini juga sohor lewat trik-trik Naked Test Prison Escape, Overboard Box Escape, Vanishing Elephant, Needle Trick, Walking through a Brick Wall, Metamorphosis, Milk Can Escape, Chinese Water Torture Cell, dan Straitjacket Escape. Sejumlah penggemar Houdini yang turut mengikuti jejaknya, kadang mengombinasi beberapa trik Houdini. Namun tidak semua mampu. Beberapa di antaranya tinggal nama, sebagaimana Lahiri di India. Triknya seolah menduplikasi trik Overboard Box Escape minus peti. Aslinya trik ini dilakukan Houdini di East River, New York pada 7 Juli 1912. “Houdini dibelenggu dengan borgol di tangan dan kakinya, kemudian direbahkan ke dalam peti yang dipaku. Lalu petinya diturunkan ke air. Dia meloloskan diri hanya dalam waktu 57 detik,” singkap Doug Henning dalam Houdini: His Legend and His Magic. Poster pertunjukan Harry Houdini melakukan trik sulap Milk Can Esccape. (New York Public Library). Seperti disebutkan di atas, Lahiri menambah daftar peniru Houdini yang berakhir tewas. Jauh sebelum itu, ada Genesta alias Royden Joseph Gilbert Raison de la Genesta. Ia tewas saat mengimitasi trik Milk Can Escape –yang sukses dilakoni Houdini pada 1908, di mana tangannya diborgol dan tubuhnya dimasukkan ke tong susu berisi air– pada 9 November 1930 di Teater Vaudevill di kota Frankfort, Kentucky, AS. Sampai waktu yang ditentukan, Genesta tak jua menampakkan diri. Para asistennya yang panik segera membuka segel tong kaleng susu secara paksa. Genesta pun dilarikan ke rumahsakit tapi nyawanya tak tertolong. Dari penyelidikan akhir, dikatakan, penyebab kematian adalah salah satu bagian tong bengkok, membuatnya tak punya ruang untuk berupaya meloloskan diri. Modifikasi trik Houdini juga mendatangkan ajal buat Karr the Magician. Pesulap bernama asli Charles Rowen itu mencoba meniru trik Straitjacket Houdini di Afrika Selatan. Mulanya Rowan diikat dengan straitjacket atau baju pengekang dan akan meloloskan diri sebelum dirinya ditabrak mobil dari jarak 180 meter dengan kecepatan 72 kilometer per jam. Hitungan matematis memberikan Rowan waktu 10-15 detik untuk meloloskan diri. Sayang, kenyataannya maut tak dapat dibendung kala Rowan mempertunjukkannya ke publik di Balai Kota Springfontein. James D. Robenalt dalam Linking Rings: William W. Durbin and the Magic and Mystery of America mengatakan, sang peniru Houdini itu justru gagal melepaskan diri dari baju pengekang tepat waktu. Tubuhnya keburu terpental mobil yang menabraknya. Joseph Burrus melakukan trik Buried Alive yang menewaskannya. (abc30.com) Pesulap lain yang gagal dalam meniru trik Houdini dan menemui ajalnya adalah Joseph W. Burrus atau Amazing Joe. Dia tewas justru saat mengadakan pertunjukan untuk memperingati 64 tahun kematian Houdini di sebuah malam Halloween 1990. Mengutip laporan suratkabar Los Angeles Times , 1 November 1990, Joe melakoni triknya di taman hiburan Blackbeard’s Family Fun Center dan sebelum beraksi, dengan pede-nya ia mengklaim dirinya lebih hebat dari Houdini. “Saya adalah ahli ilusi dan meloloskan diri. Saya percaya bahwa saya adalah Houdini berikutnya dan akan jadi lebih hebat darinya,” kata Joe. Joe melakoni trik Buried Alive. Dalam trik itu, ia akan berbaring di peti mati dalam keadaan tangan diborgol dan kaki dirantai. Peti itu lantas dimasukkan ke dalam sebuah lubang dan diuruk semen basah dan tanah seberat sembilan ton. Nahas, saat semen cair dituangkan, terdengar bunyi retakan peti. Saat para kru menyelamatkan Joe, semuanya sudah terlambat.*

  • Ketika Gula Berjaya di Clappa-doa

    CATATAN perdagangan milik pemerintah Inggris untuk Hindia Timur menyisakan teka-teki tentang aktivitas jual-beli gula dan tebu para pedagang Tionghoa di Banten. Arsip yang tersimpan di India Office Records, London, Inggris itu menyebut sebuah tempat di Kesultanan Banten: “Clappa-doa” (Kelapadua), yang menjadi pusat kegiatan ekonomi orang-orang Tionghoa di sana. Kelapadua sendiri saat itu merupakan perkampungan yang sebagian besar diisi oleh orang-orang Tionghoa. Sebagai pedagang, masyarakat di sana memilih untuk menanam tebu dan mengolahnya menjadi gula. Bahkan ketika arus perdagangan sedang ramai oleh lada dan pala, para pengusaha Tionghoa di Kelapadua tidak ikut latah. Itulah pemerintah Inggris memanfaatkan mereka. Dalam arsip tertua pemerintah Inggris di Banten (1635), hubungan dagang antara pihaknya dengan orang-orang Tionghoa dan Kesultanan Banten telah teralin baik. Hampir tidak ada konflik yang terjadi. Hasil pertanian yang diperdagangkan sebenarnya cukup beragam, tetapi bagi pedagang Tionghoa gula menjadi yang utama. “Para pedagang dari loji Inggris di Banten pergi ke Kelapadua untuk membeli sebanyak mungkin gula yang dapat dimuat di dalam kapal-kapal mereka,” tulis Claude Guillot dalam Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII . Tidak main-main, pejanjian dagang antara Inggris dan pedagang Tionghoa itu diatur dalam sebuah kontrak dagang yang diawasi langsung oleh Sultan Banten, Pangeran Ratu atau Sultan Abu al-Mafakhir Mahmud Abdulkadir (1596-1651). Sebelum Inggris datang, tidak ada catatan yang menjelaskan tentang kegiatan perdagangan gula orang-orang Tionghoa. Tetapi dari beberapa catatan yang berasal dari sumber lisan, Claude menyimpulkan bahwa kegiatan sebelumnya hanya dilakukan dalam lingkup yang kecil.  Para pengusaha gulu di Kelapadua menjual hasil pertaniannya pada warga lokal. Selain itu mereka juga mengirimkan sebagian hasilnya ke luar Banten (Batavia, Cirebon, dan Jepara) untuk dijual oleh pedagang Tionghoa lain. “Pengiriman gula dari Banten ke Batavia pada 1637 dilakukan melalui Sungai Angke. Begitu juga dengan wilayah Cirebon dan Jepara,” tulis Claude Guillot dan Jacques Dumarcay dalam The Sultante of Banten . Pada kontrak pertama dengan Inggris, Februari 1638, sebanyak 8 pabrik gula dan 6 keluarga Tionghoa penanam tebu setuju untuk memenuhi kebutuhan dagang pemerintah Inggris selama 3 tahun. Mereka hanya boleh menjual hasil pertanian mereka kepada Inggris. Sultan pun memberikan pengawasan yang ketat kepada para pengusaha Tionghoa tersebut. Dengan menyutujui kontrak dagang tersebut, orang-orang Tionghoa itu harus menjual 100.000 batang tebu setiap tahunnya kepada Inggris. Praktis pemerintah mendapatkan 600.000 batang tebu dari 6 keluarga Tionghoa yang ada di dalam kontrak. Kemudian para pemilik pabrik gula, sebagai tempat mengolah tebu, menjanjikan jumlah yang cukup besar, yakni 450 pikul (sekitar 2,8 ton) gula untuk setiap 100.000 batang tebu. Mereka juga sangat yakin dengan kualitas gula yang dihasilkan. Terbukti setelah dua tahun berjalan, pemerintah Inggris segera membuat kontrak baru dengan para pengusaha gula tersebut. Pada 26 Agustus 1640, kontrak kedua disetujui dengan isi yang sama. Namun di dalamnya ditambahkan beberapa kebijakan baru, terkait hubungan para pedagang Tionghoa dan sultan Banten. Calude menyebut pemerintah Inggris menambahkan hak-hak khusus kepada sultan dan pemerintahannya. Kesultanan Banten boleh menggunakan tenaga, bahkan lahan orang-orang Tionghoa untuk menggarap hasil pertanian selain gula, selama masa panen telah selesai. Sultan juga diberi hak mengambil gula sebanyak 2 kati (sekitar 1,5 kilogram) atau lebih selama itu untuk konsumsi pribadi. “Catatan dagang Inggris ini memberikan indikasi tentang sejauh mana orang Inggris menguasai perdagangan bahan ini (gula) pada zaman itu di Banten,” tulis Claude. Kawasan pabrik gula Kelapadua terus melakukan aktivitas produksinya hingga kedatangan Belanda pada 1682. Setelah, menancapkan kekuasaannya di Banten, Belanda memindahkan kegiatan produksi gula ke Tanara dan Tanggerang. Hal itu dilakukan agar pendistribusian ke Batavia, sebagai basis perdagangan mereka, lebih mudah dan cepat. Claude dan Jacques mencatat kegiatan produksi gula di Banten terus menurun sejak pertengahan abad ke-19. Akhirnya ketika memasuki abad ke-20, pemerintah Belanda memindahkan seluruh aktivitasnya ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta beberapa pabrik kecil di Jawa Barat.

  • Upaya Memberantas Cacar

    SAAT tiba di Jawa pada 1811, John Crawfurd, dokter berkebangsaan Inggris, disambut wabah cacar. Menurutnya, penyakit cacar telah menimbulkan kekacauan luar biasa di kalangan pribumi. Di Pekalongan, cacar menyerang tiap dua-tiga tahun sekali, sementara di Surakarta dan Yogyakarta cacar menjadi penyakit paling mengkhawatirkan sebelum 1820. Dari seluruh anak yang lahir di Yogyakarta pada 1820-an, 10 persen di antaranya meninggal karena cacar. Cacar sudah ditemukan di Jawa sejak awal abad ke-17. Pernyakit tersebut diperkirakan masuk ke Jawa melalui Batavia pada 1644. Kasus cacar kemudian makin parah dan mewabah lantaran belum mutakhirnya obat dan kelangkaan jumlah tenaga medis. Pada abad ke-18, penyakit cacar sudah menyerang Priangan, Bogor, Semarang, Banten, dan Lampung. Diperkirakan ada 100 penduduk Jawa terserang cacar pada 1781, 20 di antaranya meninggal dunia. Virus ini rentan menyerang bayi yang daya tahan tubuhnya masih rendah. Pada akhir abad ke-18 tingkat kematian bayi karena cacar di Bogor dan Priangan mencapai 20 persen. Intensitas serangan cacar makin naik pada abad ke-19 hingga memunculkan temuan bahwa pada masa tertentu, suatu penyakit akan muncul (siklis). Di beberapa daerah, cacar muncul tiap tujuh tahun sekali. Di Pekalongan, cacar muncul dua tahun sekali di mana terjadi puncak-puncak wabah pada 1820, 1835, 1842, 1849, 1862, dan 1870. Dari 1019 bayi yang lahir, setidaknya 102 yang meninggal akibat cacar. Tingkat kematian akibat cacar pada anak di bawah 14 tahun juga tinggi, antara 10-30 persen. Usaha penanggulangan cacar pun sudah dilakukan sejak penyakit ini muncul. Sebelum vaksin ditemukan, variolasi jadi langkah medis pertama untuk pencegahan dan penanganan cacar. Variolasi dilakukan dengan menginfeksi pasien dengan virus cacar berkadar ringan. Tubuh pasien yang terpapar cacar ringan akan membangun antibodi yang menghindarkan pasien dari penyakit cacar parah yang mematikan. Percobaan pertama variolasi dilakukan dokter muda J van der Steege kepada 13 pasien cacar, beberapa di antaranya anak-anak, di Batavia pada 1779. Hingga 1781, 100 penderita cacar telah divariolasi di Batavia. Namun risiko penyembuhan dengan metode tersebut juga tinggi, mulai dari bekas luka borok parah hingga meninggal dunia akibat tak cukup kuatnya daya tahan tubuh pasien. Vaksin cacar yang ditemukan pada akhir abad ke-18, baru digunakan di Hindia Belanda pada awal abad ke-19. Vaksin cacar pertama tiba di Batavia pada Juni 1804 dengan diangkut kapal Elisabeth dari Pulau Isle de France. Sebelum sampai ke Batavia, vaksin ini dibawa dari pusat pengembangan vaksin di Jenewa, kemudian dikirim ke Baghdad dan Basra, lalu singgah ke India. Dari India, vaksin ini dibawa ke Isle de France lalu diteruskan ke Hindia. Begitu diterima di Batavia, vaksin langsung dikirim ke Surabaya, Semarang, Jepara, Surakarta, dan Yogyakarta. “Upaya vaksinasi cacar besar-besaran dilakukan pada masa pemerintahan Raffles dengan memperluas daerah operasi di luar daerah Surabaya, Semarang, dan Batavia,” tulis Baha’Udin dalam “Dari Mantri hingga Dokter Jawa” yang dimuat dalam Humaniora Oktober 2006. Namun, adanya vaksin belum mengatasi masalah lantaran kurangnya dokter yang bertugas menyembuhkan sekaligus mendistribusikan vaksin. Akibatnya, ketika wabah cacar menyerang Banyumas pada 1847, pemerintah kolonial kelimpungan. Wabah itu menewaskan buruh-buruh pekerja perkebunan, yang mengganggu perekonomian Hindia. Keadaan makin sulit karena adanya interaksi antara para buruh dengan tuan tanah atau mandor yang mengakibatkan orang kulit putih khawatir tertular cacar. Lantaran cepatnya virus cacar menyebar, pemerintah kolonial mengirim banyak dokter yang semua orang Belanda ke berbagai daerah. Namun jumlahnya tetap tak memadai, terlebih ditambah dengan banyaknya dokter yang enggan ke pelosok dan memilih menetap di kota. Para pribumi di kampung pun banyak yang meninggal akibat cacar. Untuk menanganinya, pemerintah lalu mendirikan Sekolah Dokter Djawa di Batavia pada 1851. Pemerintah menanggung seluruh biaya pendidikan dengan masa studi 2 tahun dan 17 mata pelajaran yang disampaikan dengan bahasa Melayu itu. Para murid tinggal di asrama. “Alasan utama dibukanya Sekolah Dokter Jawa ialah dibutuhkan tenaga untuk memberikan vaksinasi atau menjadi vactinateur cacar. Penyakit cacar masih jadi masalah besar yang bisa merenggut nyawa kala itu. Penyakitnya menular sampai ke desa-desa sementara tenaga medis belum memadai,” tulis Firman Lubis dalam Jakarta 1960-an. Pada tahun pertama pembukaannya, hanya ada 12 siswa yang mandaftar. Jumlah itu naik tahun berikutnya jadi 11 siswa. Setelah 5 tahun berjalan, sekolah ini sudah mencetak 23 dokter jawa yang bertugas sebagai mantri cacar. Sementara, untuk memudahkan distribusi vaksin ke Hindia, pada 1870 pemerintah Belanda mendirikan perhimpunan produsen dan distributor vaksin cacar. Tiap 2-3 bulan sekali vaksin cacar dikirim dari Amsterdam, Rotterdam, Utrech, dan Den Haag. Sejak itu, penyakit cacar tak seganas di masa sebelumnya.

  • Pangeran Jepara Menuntut Takhta Banten

    Sultan Banten Hasanuddin dikaruniai dua anak laki-laki dari pernikahannya dengan putri Sultan Demak, Tranggana, pada 1552. Yang sulung, Maulana Yusuf, menggantikan ayahnya yang meninggal pada 1570. Sedangkan adiknya diasuh dan dijadikan anak angkat oleh bibi dari pihak ibunya: Ratu Kalinyamat, karena tidak memiliki anak. “Dia diberi nama Pangeran Aria dan kemudian Pangeran Jepara; di Jepara dia diperlakukan sebagai ‘putra’ mahkota; dan setelah bibinya meninggal, dia memegang kekuasaan di kota pelabuhan itu,” tulis H.J. de Graaf dan Th. G. Th. Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa. Ratu Kalinyamat dijuluki Ratu Pajajaran. Pemberian julukan itu menandakan di Keraton Demak pada pertengahan abad ke-16 ada kebiasaan memberi nama gelar kepada para pangeran atau putri keturunan raja yang menunjuk ke daerah-daerah yang jauh. “Mungkin dengan harapan agar mereka yang memakai gelar itu kelak dalam hidupnya benar-benar akan mendapatkan daerah itu,” tulis De Graaf dan Pigeaud. Tentu saja Ratu Kalinyamat tak pernah mendapatkan Pajajaran. Namun, Pajajaran berhasil ditaklukkan oleh kemenakannya, Maulana Yusuf, pada 1579. “Pangeran Jepara tidak ikut dalam ekspedisi melawan Pajajaran,” tulis De Graaf dan Pigeaud. Maulana Yusuf meninggal dunia pada 1580. Dia meninggalkan seorang anak lelaki berusia delapan tahun, Pangeran Mohammad. Takhta Banten pun jadi rebutan dua kekuatan: kaum bangsawan dan pedagang. “Kelompok pertama mendukung pangeran dari Jepara yang saat itu telah dewasa, dan berharap mampu mengembalikan hak istimewa para bangsawan dan membatasi pengaruh kaum pedagang dalam pemerintahan Banten,” tulis Claude Guillot dalam Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII . Menurut Guillot kaum pedagang yang bersekutu dengan para pejabat tinggi ( ponggawa ) menyisihkan Pangeran Jepara, calon putra mahkota yang sah yang sudah cukup usianya untuk memerintah, untuk mengangkat Mohammad yang masih kanak-kanak. Tujuan mereka untuk menguasai kewalirajaan, yang tak lain adalah pimpinan kesultanan, sampai Mohammad dewasa. “Kiyai Wijamanggala bersama empat tokoh penting dari kalangan pedagang berhasil mengusir Pangeran Jepara dan membentuk dewan kewalirajaan,” tulis Guillot. Pangeran Jepara gagal merebut takhta Banten karena dikhianati seorang patih yang awalnya akan membantunya. “Setelah itu, timbullah di Banten pertempuran yang hebat. Ki Demang Laksamana gugur, dan Pangeran Jepara terpaksa kembali ke kotanya dengan tangan hampa,” tulis De Graaf dalam Awal Kebangkitan Mataram . Demang Laksamana, panglima armada, menemui ajalnya dalam perkelahian melawan perdana menteri Banten. Apakah serangan yang gagal itu dilakukan atas gagasan Ratu Kalinyamat? Menurut De Graaf, namanya tidak ada dalam kisah tersebut. Tetapi memang sangat mungkin Ratu Kalinyamat sudah meninggal antara tahun 1574 dan 1580. Pangeran Jepara kemudian menggantikan ibu angkatnya. Di bawah Pangeran Jepara, kekuatan Jepara sempat ditakuti bahkan oleh Mataram. “Mereka (Mataram, red. ) mungkin masih merasa gentar melihat benteng yang mengelilingi kota dan benteng di Gunung Danareja,” tulis De Graaf dan Pigeaud. Menurut pelaut-pelaut Belanda, kebanyakan kota pelabuhan di Jawa dikelilingi tembok batu atau kayu, pada sisi yang menghadap daerah pedalaman. Pada dasawarsa terakhir abad ke-16, kekuasaan Pangeran Jepara di laut masih dihormati. Pada 1593, dia memerintahkan armadanya menduduki Pulau Bawean di Laut Jawa. Pada 1598, dia masih mengesankan orang Belanda seakan-akan memiliki sarana kekuasaan yang luar biasa. Akhirnya, pasukan Mataram menyerang Jepara tahun 1599. Tamatlah kekuasaan Pangeran Jepara. Penghancuran kota Jeparadisebut dalam surat berbahasa Belanda tahun 1615. Serangan Mataram dari pedalaman ke kota-kota pelabuhan pesisir yang makmur itu mengakibatkan kerusakan berat. Tidak mustahil, Jepara juga menjadi korban amukan mereka. Mungkin saja istana Kalinyamat juga dihancurkan. “Tidak ada kabar tentang nasib keluarga raja Jepara,” tulis De Graaf dan Pigeaud. Penguasa Mataram kemudian mengangkat seorang bupati untuk memerintah di Jepara .

  • Asal-Usul Sunat

    Ada banyak teori soal akar praktik sunat pada laki-laki. Ada pendapat kalau sunat lahir dari kebudayaan Mesir Kuno. Namun, teori terbaru menyebut sunat berasal dari kebudayaan Arab selatan dan sebagian Afrika. Selama ribuah tahun, menurut Ancient Origins , sunat paling sering digunakan sebagai ritual keagamaan, ritual kedewasaan, dan sebagai hukuman pada masa perang. D. Doyle dalam “Ritual Male Circumcicion: a Brief History”terbit dalam  The Journal of the Royal College of Physicians of Edinburgh menjelaskan, sunat telah dipraktikkan di beberapa bagian Afrika seperti Mesir, kepulauan di Laut Selatan, Australia oleh suku Aborigin, dan oleh suku Inca, Aztec, Maya, juga orang-orangYudaisme, dan Islam. Sunat di Mesir dan Israel Relief di Saqqara Telah diketahui banyak orang kalau negeri para Firaun adalah pelopor tradisi sunat. Referensi paling awal soal sunat berasal dari 2.400 SM. Itu terlacak lewat sebuah relief di tanah pemakaman kuno Saqqara yang menggambarkan serangkaian adegan medis, termasuk sunat pisau. Di Mesir Kuno, praktik ini dilakukan pada remaja pria yang akan diinisiasi menjadi pria dewasa dari kelas bangsawan. “Sunat Mesir mungkin juga telah digunakan untuk membatasi kelas elite khusus,” tulis laman  Ancient Origin . Namun, menurut perkiraan Doyle, orang Mesir mengadopsi sunat dari masa yang jauh lebih awal, dari orang-orang yang tinggal di wilayah yang lebih jauh ke selatan, yang sekarang masuk wilayah Sudan dan Ethiopia. Orang-orang selatan itu, secara genetik terkait dengan bangsa Sumerian dan Semit. Mereka menurut para antropolog berasal dari Semenanjung Arab dan telah melakukan kontak rutin, seperti berdagang atau bertempur dengan orang Mesir. Sementara, bagi tetangga mereka, orang Yunani, tradisi sunat ini dipandang aneh. Pada abad kelima, Herodotus mengemukakan pendapatnya lewat sebuah karya The History of Herodotus . "Mereka (orang Mesir, red. ) mempraktikkan sunat demi kebersihan, menganggap lebih baik bersih daripada cantik," tulis laman  livescience . Adapun di Israel kuno, sunat memiliki fungsi dan proses yang agak berbeda. Sunat merupakanpenanda etnis yang menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari bangsa Israel. Sebagaimana orang Yahudi modern, sunat biasanya dilakukan pada bayi, delapan hari setelah kelahiran. Kendati praktik itu bisa juga dilakukan pada orang dewasa, jika diperlukan. Mereka biasanya orang yang tadinya non-Israel tapi kemudian memutuskan ingin masuk ke komunitas Yahudi. “Salah satu cara yang membedakan agama Kristen dari Yudaisme adalah orang Kristen non-Yahudi tidak perlu disunat,” jelas  Ancient Origin. Lukisan Ishak yang tengah disunat atau Isaac's circumcision dalam Regensburg Pentateuch, Jerman sekira 1300. (Rachel-Esther/Flickr) Sunat di Budaya Afrika Lainnya Mesir bukan satu-satunya budaya Afrika yang mempraktikkan sunat. Sunat umum di kalangan masyarakat Afrika timur. Sebagaimana di Mesir Kuno, biasanya sunat terkait ritus peralihan ke dewasa. Laki-laki muda dari etnis Xhosa dan Zulu secara tradisional memiliki ritual sunat yang rumit, di mana tubuh mereka akan dicat dengan kapur sebelumdisunat. Mereka akan diisolasi dari komunitas selama beberapa minggu. Mereka tak boleh berdekatan dengan perempuan. Setelah disunat, mereka akan meninggalkan kulit khitan yang terpotong di hutan sebagai simbol meninggalkan kehidupan masa kecil untuk menjadi laki-laki, dan kemudian mencuci kapur di sungai. “Sunat masih dilakukan secara teratur oleh pengusung kebudayaan ini, tetapi biasanya di rumah sakit bukan dengan cara tradisional,” tulis  Ancient Origin. Sunat di Kawasan Oseania Sunat secara historis tidak hanya di Afrika dan Timur Tengah. Praktik semacam ini juga dilakukan di Oceania dan Australia oleh suku Aborigin. Mereka menggunakan kerang laut sebagai alat pemotongnya.Orang yang disunat ditahan tubuhnya agar menghadap ke atas. Dia berbaring di punggung seorang pria yang berlutut. Lengandan kakinya dipegangi pria lain. Untuk menghentikan pendarahan, menurut Doyle, mereka berjongkok atau berdiri di atas asap dari api yang ditutupi dengan daun kayu putih selama beberapa jam. “Ada yang mengatakan, darah yang menetes ke dalam api adalah simbol simpati kepada perempuan yang mengalami menstruasi,” jelasnya. Di Oceania dan Australia, sunat adalah ritual peralihan ke dewasa sekaligus ujian keberanian. Masa perang Bukan hanya sebagai ritual menuju dewasa dan alasan keagamaan, sunat juga digunakan untuk menghukum tentara musuh. Beberapa kasus terjadi di Timur Tengah, Afrika timur, dan Asia Selatan. W.D. Dunsmuir dan E.M. Gordon dari Department of Urology St. George’s Hospital NHS Trust  dalam "The History of Circumcision" yang terbit di  Journal BJU International  menyebut sunat juga dipercaya sebagai tanda kekotoran atau perbudakan. Di Mesir Kuno misalnya, prajurit yang ditangkap sering dimutilasi sebelum dijadikan budak. Relief praktik sunat di Mesir Kuno pada dinding utara bagian dalam Kuil Khonspekhrod di Precinct of Mut, Kuil Karnak, Luxor, dari masa Dinasti kedelapan belas, Amenhotep III, sekira 1360 SM. (Lasse Jensen/Wikipedia) Siapa Tukang Sunatnya? Apakah selalu dokter yang melakukan sunat di zaman kuno? Mungkin tidak.  Dunsmuir dan Gordon mengatakan, pada zaman Alkitab sunat dilakukan para ibu ketika bayi baru lahir. Namun, perlahan-lahan tukang sunat ( mohel ) mengambil alih. Mereka adalah pria yang memiliki keterampilan bedah dan pengetahuan agama yang mumpuni.  "Setelah berdoa, mohel menyunat bayi itu dan kemudian memberkati anak itu, suatu praktik yang sedikit berubah hari ini," tulisnya.  Sementara dalam masyarakat Mesir Kuno, sunat dilakukan oleh pendeta dengan kuku jempolnya yang sering dilapisi emas. Pun sepanjang abad pertengahan, sunat dilakukan oleh petugas laki-laki yang religius. "Ada kemungkinan bahwa dokter tidak melakukan sunat sampai paruh kedua abad ke-19," lanjutnya. Relief di Italia yang memperlihatkan praktik sunat pada anak kecil. (Wikimedia Commons) Bagaimanapun, sunat dulunya merupakan kebiasaan yang langka. Sebagian besar budaya di luar Afrika, Timur Tengah, dan Oseania, semula tidak mempraktikkannya. Namun, praktik di budaya mereka nyatanya berpengaruh signifikan pada peradaban terutama karena salah satu pilar peradaban barat, Israel Kuno, melakukannya. Sunat masih berlanjut hingga kini. Menurut  Ancient Origin , sepertiga dari pria di seluruh dunia disunat, trutama di kalangan Muslim dan Yahudi, karena alasan agama. Di luar itu, sunat tersebar luas di Amerika Serikat dengan alasan kesehatan. Namun, banyak organisasi medis utama dunia tidak setuju ada manfaat yang signifikan dari sunat. Sunat menjadi kontroversi karena kekhawatiran kurangnya informasi cara pembedahan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia.

  • Kelana Opsir KNIL Mencari Manusia Purba

    SATU set meja kayu retro yang jadi alas mesin ketik melengkapi sesosok patung pria  berkumis mengenakan setelan kemeja dan celana putih yang sudah lusuh. Ia jadi bagian dari salah satu diorama di Ruang Pamer I Museum Purbakala Sangiran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Siang itu masih termasuk masa-masa libur Lebaran. Tak heran museum disesaki pengunjung. Pun begitu, sosok patung yang digambarkan sedang mengetik itu acap luput dari perhatian. Ia dianggap kurang menarik untuk dijadikan latar berfoto ria para pengunjung yang masih awam jika dibandingkan koleksi-koleksi lain yang dipamerkan semisal tempurung manusia purba atau fosil-fosil hewan purba. Banyak dari para pengunjung yang membanjiri Museum Sangiran itu pemudik yang mencari wahana rekreasi untuk mengisi libur mudik. Berbekal karcis masuk Rp8 ribu (turis mancanegara Rp15 ribu), kebanyakan dari mereka hanya membawa hasil foto di kamera mereka. Ada juga yang membawa pulang oleh-oleh yang dijajakan banyak pedagang yang hilir-mudik atau menggelar lapak di lingkungan museum yang dikelola Balai Pelestarian Situs Manusia Purba. Jika mau bawa pulang wawasan seperti yang dilakukan beberapa pengunjung, mesti bersedia merogoh kocek untuk menyewa jasa pemandu. Pun begitu, tetap saja sosok patung pria berkumis dengan kemeja lusuh luput dari penjelasan detail. Sayup-sayup terdengar sang pemandu mengatakan bahwa sosoknya adalah Eugène Dubois, sang penemu manusia Jawa. Diorama sosok Marie Eugene ravene Francedilois Thomas Dubois di Museum Sangiran. (Randy Wirayudha/Historia). Tapi di balik itu menarik menggali Siapa Dubois? Mengapa ia tergelitik memburu manusia purba sampai ke Hindia Belanda (kini Indonesia) dan meninggalkan kehidupan mapannya di Belanda? Pakar Purbakala Masuk Tentara Nama Marie Eugène François Thomas Dubois acap muncul di halaman-halaman buku mata pelajaran sejarah di sekolah menengah. Ia disebutkan sebagai penemu Pithecanthropus erectus atau manusia Jawa di Trinil, Ngawi, Jawa Timur pada 1891. Penemuannya dianggap melengkapi mata rantai yang hilang dari teori evolusi Charles Darwin. Nama Dubois tentu patut dikenang setiap Hari Purbakala Nasional yang jatuh setiap 14 Juni. Lahir Eijsden, Belanda pada 28 Januari 1858, Dubois sejak kecil sudah dikenalkan dengan ilmu alam. Ayahnya, Jean Joseph Balthasar Dubois, merupakan seorang apoteker yang lantas jadi burgemeister (walikota) di Eijsden. Mengutip Pat Shipman dalam The Man who Found the Missing Link: Eugène Dubois and His Lifelong Quest to Prove Darwin Right , di usia sekolah di Roermond, Dubois sudah berkenalan dengan teori evolusi Darwin dari mentornya Karl Vogt, pakar biologi dan geologi asal Jerman. Meski begitu, Dubois punya perbedaan pandangan dengan mentornya soal Teori Darwin. Teori yang dikenalkan Darwin dalam On the Origin of Species pada 1859 itu menyatakan leluhur manusia berasal dari satu gen kera. Sementara Karl Vogt menganggap manusia memang berasal dari kera namun dari kera yang berbeda. Vogt menulis dalam Lectures on Man pada 1864, manusia ras kulit putih berasal dari kera yang berbeda dari orang Negro atau manusia kulit berwarna gelap lain. Perbedaan pendapat itu mendorong Dubois ingin membuktikan teori Darwin itu dan ia merasa hanya bisa melakukannya jika berkelana ke Asia pascalulus dari studi medisnya di Universiteit van Amsterdam pada 1884. Di sela kuliahnya, Dubois  belajar anatomi manusia ketika membantu proyek-proyek salah satu dosennya, Max Fürbringer, ahli anatomi asal Jerman. Dubois hidup mandiri saat kuliah lantaran menentang ambisi ayahnya yang ingin Dubois meneruskan karier politik sang ayah. Dubois kemudian jadi dosen di kampusnya dan menikah dengan Anna Geertruida Lojenga. Rasa penasarannya untuk mencari mata rantai yang hilang evolusi manusia kian kuat lewat diskusi dengan beberapa koleganya sesama “Darwinis” seperti Hugo De Vries, Charles Lyell, dan Ernst Haeckel. Namun, bagaimana caranya bisa sampai ke Hindia Belanda? Salah satu cara tercepat dan termudah mencapai koloni Belanda itu adalah dengan masuk tentara. Di sisi lain, Dubois butuh uang untuk menghidupi anak-istrinya. Dubois lantas mendaftarkan diri ke Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) alias Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Dengan begitu Dubois bisa mendapat gaji untuk menafkahi keluarga selagi menjalani riset yang tentu juga butuh duit. “Mulanya Dubois mengajukan subsidi untuk risetnya tapi hasilnya nihil. Apalagi Belanda sedang diguncang depresi ekonomi parah pada 1885, di mana akhirnya pembiayaan proyek sains bukan jadi prioritas pemerintah. Dengan bergabung dengan Tentara Kerajaan-lah jalannya terbuka lebar, mengikuti jejak para pakar lain seperti Pieter Bleeker dan Cornelis Swaving,” ungkap L. T. Theunissen dalam Eugène Dubois and the Ape-Man from Java: The History of the First ‘Missing Link’ and Its Discoverer . Eksplorasi Sumatra dan Jawa Mendaftar ke KNIL, Dubois masuk unit Geneeskundige (medis) sebagai Opsir Medis Kelas II, sesuai bidang akademiknya. Ia lalu dikirim ke Sumatra pada 1887, membawa istri dan ketiga anaknya. Dalam pelayaran selama 44 hari itu, Dubois seringkali mengajari istrinya, Anna, berbicara bahasa Melayu untuk mengusir bosan. Mereka akhirnya tiba di Padang pada 11 Desember 1887. Situs Ekskavasi Dubois di Trinil. (ReproThe Dubois Collection: A New Look at an Old Collection). Bulan-bulan pertama di Padang Dubois disibukkan tugas sebagai opsir medis di rumahsakit. Baru pada Mei 1888 rutinitasnya tak sesibuk di Padang ketika Dubois dipindahtugaskan untuk memimpin sebuah bangsal rumahsakit untuk KNIL di Payakumbuh. Dia bisa memulai lagi aktivitas risetnya, mengeksplorasi gua-gua dan dasar-dasar sungai di Payakumbuh. Tapi, yang dia dapatkan hanya fosil hewan purba. “Ia hanya mendapat kekecewaan lantaran deposit tanah di Sumatra tergolong masih terlalu muda untuk bisa menemukan bukti-bukti manusia purba. Tapi kemudian Dubois mendengar kabar bahwa di Jawa telah ditemukan fosil manusia purba, utamanya di timur Pulau Jawa,” tulis H. James Birx dalam Encyclopedia of Anthropology, Volume 1. Fosil yang dimaksud adalah sisa-sisa tengkorak manusia purba yang lantas dinamakan homo wajakensis (Manusia Wajak) lantaran ditemukan di Wajak, Tulungagung. Fosil itu ditemukan secara tak sengaja oleh insinyur pertambangan B. D. van Rietschoten. Dubois pun minta dipindahkan ke Jawa. Kegagalannya di Sumatra membuat Dubois putar otak memainkan kata-kata dalam artikel dan suratnya kepada pemerintah Hindia Belanda agar tetap berkenan menyokong proyeknya. “Penemuannya tinggal menunggu waktu. Pakar-pakar asing lain juga sedang mengalihkan perhatian mereka ke Hindia Belanda,” tulis Dubois dalam laporannya mengenai prestis pemerintah kolonial Belanda di antara para kolonial Eropa lain, dikutip Theunissen. Pemerintah merasa tersentil. Tak hanya mengabulkan permintaan Dubois untuk dipindah ke Jawa, pemerintah juga menyerahkan fosil temuan di Wajak kepada tim Dubois. Direktorat Pendidikan, Agama, dan Industri bahkan mengirim bantuan personil ahli Franke dan Van de Nesse serta 50 buruh untuk proyek riset dan ekskavasi Dubois. Di situs tempat homo wajakensis ditemukan, para buruh gali Dubois akhirnya menemukan fosil manusia Wajak kedua pada 1890. Dubois mengeksplorasi banyak tempat, termasuk Perbukitan Kendeng tempat pelukis Raden Saleh menemukan banyak fosil hewan purba. Baru pada periode Agustus hingga Oktober 1891, Dubois menemukan satu per satu yang dicarinya. Di Trinil, Jawa Timur, Para kuli gali Dubois menemukannya sebuah fosil tempurung kepala dan tulang paha yang dipercaya sebagai manusia. Manusia purba itu diyakini sebagai bagian dari mata rantai evolusi Darwin yang hilang. Dalam laporannya tahun 1894, “Pithecanthropus erectus, eine menschenaehnliche Uebergangsform”, Dubois mengklaim bahwa yang ditemukannya adalah makhluk primata yang tingkatan evolusinya lebih tinggi dari kera tapi masih di bawah manusia saat ini, pithecanthropus erectus atau manusia kera yang berdiri tegak. Kendati harus kehilangan salah satu anaknya akibat terserang malaria, perjuangan Dubois tak sia-sia. Dalam jurnalnya itu, Dubois juga mengungkapkan bahwa Hindia Timur merupakan tempat lahir manusia, bukan Afrika sebagaimana yang disebutkan idolanya, Darwin. Sekembalinya ke Belanda pada 1897, Dubois dianugerahi doktor oleh Universiteit van Amsterdam. Temuannya itu lantas menggemparkan Eropa hingga menimbulkan banyak perdabatan di sejumlah forum akademisi dan para pemuka gereja Katolik. Dubois terpaksa menyembunyikan fosil-fosil manusia Jawa itu di rumahnya, di Haarlem, selama 30 tahun, terlepas ia kembali dianugerahi titel profesor pada 1907. Kendati sudah pensiun pada 1928, Dubois tetap menjadi kurator di Museum Teylers, Haarlem sampai akhir hayatnya. Dubois mengembuskan nafas terakhirnya pada 16 Desember 1940 di usia 83 tahun karena serangan jantung. Ia dikebumikan di Algemene Befraafplaats, Venlo tanpa konsekrasi lantaran temuannya berkebalikan dari kepercayaan Gereja Katolik.

  • Cerita Sedih dari Bukittinggi

    BUKITTINGGI, 2008. Pagi baru saja menyeruak, ketika Sutan Iskandar berdiri mematung tepat di bawah Jam Gadang. Matanya seolah menyapu pemandangan sekeliling. Angin bulan Desember berdesir lembut, mengarahkan hawa sejuk pegunungan ke pori-pori tubuh. Dalam wajah sendu dan bibir agak gemetar, mulut Iskandar nampak komat-kamit membaca sebait doa. “Semoga ninik mamak kita yang sudah berpulang dan menjadi korban perang saudara di masa lalu diterima di haribaan Allah Subhanahu wa Ta'ala . Amiiinnn…” ujarnya, nyaris tak terdengar. Sutan Iskandar masih berusia 12 tahun ketika kejadian itu berlangsung. Dengan mata kepalanya sendiri, dia menyaksikan tentara-tentara pusat (sebutan orang-orang Minang saat itu kepada tentara pemerintahan Sukarno) menggiring ratusan orang dalam kelompok-kelompok kecil ke sekitar monumen Jam Gadang. Mereka mayoritas adalah laki-laki. “Selanjutnya saya tidak menyaksikan lagi mereka diapakan, tapi memang saya mendengar tembakan berkali-kali dari arah Jam Gadang,” kenang lelaki kelahiran Bukittinggi pada 1947 itu. Apa yang terjadi di ranah Minang saat itu? Tersebutlah PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) yang dicetuskan oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein (tokoh pejuang kemredekaan Sumatera Barat) pada 10 Februari 1958 di Padang. Gerakan ini sejatinya menurut sejarawan R.Z. Leirissa dalam PRRI Permesta: Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis adalah koreksi politik terhadap pemerintahan Presiden Sukarno yang dianggap berat ke sebelah kiri. Alih-alih menerima dengan lapang dada, kritik dan tawaran untuk membubarkan kabinet Djuanda, Presiden Sukarno malah memerintahkan tentara untuk menyerang Sumatera Barat. Maka diadakanlah Operasi 17 Agustus yang diluncurkan pada 17 April 1958, dipimpin oleh Kolonel Achmad Yani dengan mengirimkan pasukan ke wilayah-wilayah Sumatera Barat. Sejak itulah ranah Minang dibekap perang saudara yang memilukan. Saya sendiri baru menulis kembali kisah sedih itu hari ini. Ketika kali pertama saya mendengarnya dari mulut Iskandar 11 tahun yang lalu, saya hanya menyimpan data sejarah tersebut dan belum sempat mengkonfirmasinya ke dokumen-dokumen atau buku-buku tentang gerakan PRRI. Hingga beberapa hari lalu saya menemukan sebuah buku berjudul PRRI: Pemberontakan atau Bukan?  hasil riset seorang guru jebolan fakultas sejarah Universitas Negeri Padang bernama Syamdani.   Dalam buku itu putra kelahiran Minang tersebut, menukil sebuah artikel yang pernah dimuat surat kabar Singgalang pada 20 Januari 2000 berjudul "Tragedi di Bawah Jam Gadang, Pasukan A. Yani Bunuh 187 Orang". Di artikel itu disebutkan dari jumlah 187 orang yang dibunuh hanya 17 orang yang teridentifikasi sebagai gerilyawan PRRI, sedangkan 170 lainnya adalah rakyat sipil yang belum tentu terlibat dalam gerakan itu. Rupanya apa yang diceritakan oleh Sutan Iskandar kepada saya 11 tahun lalu bukanlah isapan jempol semata. Selain Insiden Jam Gadang, pembunuhan, penyiksaan dan teror pun banyak dialami oleh rakyat Sumatera Barat kala itu. Betti Yusfa dalam sebuah makalah yang dikeluarkan oleh IKIP Padang pada 1998, "Kekerasan dalam Zaman PRRI di Tlatang Kamang 1958-1961", menuliskan kisah pilu keluarga seorang ulama asal Kamang bernama Kari Mangkudung. Dari hasil wawancara Betti dengan seorang tokoh masyarakat di Kamang, Z. Sutan Kabasaran, dituturkan bagaimana keluarga Kari Mangkudung musnah dibantai tentara pusat. “Mereka hanya menyisakan seorang bayi berusia tiga bulan yang kemudian dibawa seorang tentara pusat dan sampai sekarang tidak diketahui lagi di mana rimbanya,” ungkap Sutan Kabasaran seperti dikutip oleh Betti dalam makalahnya. Betti juga mengungkap insiden di Desa Bansa pada 1959. Dari saksi sejarah bernama M. Datuk Manindieh dikisahkan tentang kisah sedih tiga pemuka masyarakat Desa Bansa bernama Datuk Kabasaran, Datuk Beco dan Datuk Alam. Tanpa sebab musabab, ketiga orang tua yang tak berdaya itu diperintahkan jalan ke Desa Pauh (berjarak 4 km dari Bansa) sambil diiringi oleh sekelompok tentara pusat. Begitu sampai di Desa Pauh, para tentara itu menyuruh ketiga orang tua tersebut mendaki sebuah bukit. Sambil terseok-seok, ketiganya menuruti apa yang diperintahkan oleh para prajurit tersebut. Alih-alih dibebaskan, ternyata ketiganya hanya menjadi sasaran latihan tembak. “Dari jarak yang cukup jauh, tentara pusat menembaki mereka satu persatu hingga mayat-mayat ketiganya bergulingan ke kaki bukit,” ungkap Datuk Manindieh. Teror juga dilakukan oleh tentara pusat terhadap orang-orang Kuala Tangkar. Kesaksian seorang penduduk bernama Sanur dalam surat kabar Singgalang , 2 Februari 2000, menyebutkan bahwa pernah karena orang-orang Kuala Tangkar dianggap pro-PRRI, mereka menyerang desa itu dengan mengerahkan empat tank baja. “Tank-tank itu menghujani rumah-rumah penduduk dengan peluru-peluru secara membabi buta hingga musnah terbakar,” ungkap Sanur. Pembantaian massal juga pernah dilakukan tentara pusat pada November 1959 di Kamang. Pada hari Senin saat diadakan hari pakan/pasar, sejak pukul 7 pagi, tak hentinya tentara pusat mengirimkan peluru-peluru mortir dari Bukittingi. Tak cukup dengan menggunakan mortir, artileri berat dari Angkatan Darat pun ikut berbunyi disusul dengan serangan udara dari sebuah pesawat tempur. Akibatnya banyak rakyat bersimbah darah. Teror pun dilakukan dengan mengumpulkan anak-anak dan perempuan. Mereka kemudian diinterogasi satu persatu dan disuruh mengaku bahwa suami-suami mereka terlibat dalam gerakan PRRI. Kemudian aksi-aksi identifikasi dilkukan oleh tentara pusat dengan memberi tanda silang besar pada rumah-rumah yang dicurigai salah satu anggota keluarganya terlibat dalam gerakan PRRI. “Zaman itu adalah zaman yang penuh kesedihan, tak ada orang Minang yang hidup saat itu segera bisa melupakannya,” kata Sutan Iskandar, masih terngiang  begitu jelas di telinga saya.

  • Berburu Kesenangan di Pagelaran Rakyat Jakarta

    SORE itu Jakarta Internasional Expo (JIEXPO) di Kemayoran terlihat diserbu oleh ribuan orang. Mereka silih berganti berdatangan. Jakarta Fair Kemayoran (JFK) 2019, perayaan tahunan di ibu kota RI tersebut, adalah salah satu tujuan.  Farizi Fatwa (24), adalah salah seorang dari pengunjung . Antrian yang mengular di pintu masuk tidak menajadi soal baginya untuk ikut larut menikmati JFK 2019 ini. “Seumur hidup saya belum pernah mengunjungi PRJ. Karena promosi besar-besaran di media massa dan pemerintah akhirnya saya tertarik untuk datang ke sini,” ucap Farizi kepada Historia . Terlahir dari ide  Ali Sadikin (salah satu gubernur DKI Jaya yang terkemuka), Jakarta Fair menjadi pagelaran tahunan masyarakat ibu kota. Digelar pertama kali pada Juni 1968, festival rakyat ini diberi nama ‘Djakarta Fair’. Bang Ali, sapaan akrab Ali Sadikin, ingin menghidupkan kembali pasar malam yang pernah digelar masa Belanda di Jakarta (sebutannya masih Batavia kala itu). “Saya ingat, dulu semasa kecil ada Pasar Gambir. Itu merupakan keramaian yang menyenangkan,” kenang Ali Sadikin dalam biografinya, Bang Ali: Demi Jakarta . Gelaran Pasar Gambir dilakukan sebagai bentuk perayaan atas hari kelahiran Ratu Wilhelmina dan penobatannya sebagai Ratu Belanda pada 1921. Dalam perayaan itu disajikan banyak hiburan untuk masyarakat Batavia. Dalam buku Keadaan Jakarta Tempo Doeloe: Sebuah Kenangan 1882-1959 karya Tio Tek Hong, sulap, komidi putar, dan American Carnaval Show menjadi acara yang paling diminati. Permainan panjat-panjatan juga menarik banyak perhatian pengungjung karena hadiah yang ditawarkan. Perayaan Pasar Gambir terhenti pada masa pendudukan Jepang. Setelah itu tidak ada lagi gagasan tentang festival rakyat ini. Barulah pada 1953, pemerintah kotapraja Jakarta menggelar acara bertajuk Pekan Raya Nasional. Masih di tahun yang sama, pemerintah Indonesia juga mengadakan sebuah perayaan yang dinamai Pekan Raya Internasional. Namun sayang kedunya hanya bertahan dua tahun. Tak ada lagi perayaan di Jakarta, baik bersakala nasional maupun internasional. Gagasan membangkitkan pekan raya di Jakarta kembali muncul pada 1968. Pemerintahan Bang Ali saat itu merasa kebutuhan perayaan semacam ini sudah mendesak di ibu kota. “Selain sebagai wadah promosi industri dan perdagangan, pekan raya juga dimaksudkan untuk menambah tempat-tempat hiburan yang sehat bagi warga kota,” tulis Ali Sadikin dalam Gita Jaya: Catatan H. Ali Sadikin . Setelah melalui berbagai persiapan, Djakarta Fair –selanjutnya dikenal sebagai ‘Pekan Raya Jakarta (PRJ)’ –yang pertama terselenggara pada 15 Juni 1968, sebagai bagian dari kemeriahan HUT Kota Jakarta ke-441. Acaranya berlangsung selama 30 hari. Sebagai penyelenggara, pemerintah Jakarta bekerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Jaya membentuk sebuah kepanitiaan. Lokasi yang dipilih untuk acara utama adalah bagian selatan Lapangan Monas, di areal seluas kira-kira 11 hektar. Terdapat 161 peserta, terdiri dari pengusaha dalam dan luar negeri, serta pemerintah daerah, yang mengisi booth dalam acara tersebut. Antusiasme yang tinggi dari masyarakat membuat pemerintah Jakarta segera menetapkan PRJ sebagai acara tahunan. Melalui Keputusan Gubernur Kepala Daerah tanggal 16 Desember 1968 No. Jb.3/3/28/1968 tentang Pembentukan Yayasan Penyelenggara Pekan Raya Jakarta, didirikan badan kepanitiaan tetap perayaan tersebut. Pada perjalanannya, PRJ terus mengalami perubahan. Baik itu dalam isi acara yang dihadirkan, maupun jenis hiburannya. Tercatat pada perayaan tahun 1969, panitia menambah waktu penyelenggaraan menjadi 71 hari. Keputusan itu diambil setelah melihat sambutan yang begitu tinggi dari masyarakat pada gelaran sebelumnya. Tapi setelah itu acara tidak pernah digelar lebih dari 40 hari. Walau terus berubah, ada yang tetap dipertahankan dalam gelaran PRJ, yakni sebagai pusat kegiatan ekonomi dan sebagai pusat hiburan rakyat. Keduanya menjadi fondasi utama pagelaran rakyat di Jakarta, baik saat perayaan Pasar Gambir, Pekan Raya Nasional, Pekan Raya Internasional, hingga Pekan Raya Jakarta. Hal itulah yang terlihat pada JFK 2019 ini. Ada lebih dari 200 booth perusahaan besar dan kecil, mulai dari fashion, kuliner, furniture, elektronik, hingga otomotif yang meramaikan acara tahun ini. Mereka menghadirkan ribuan produk unggulannya dengan harga yang cukup terjangkau. Tidak lupa, diskon besar pun dipampang untuk menarik perhatian para pengunjung. Jika pada awal kehadirannya para pengunjung dikenakan tarif Rp25 (dewasa) dan Rp5 (anak-anak), tahun ini biaya masuknya sebesar Rp25.000 sampai Rp40.000. Setiap harinya JFK akan diramaikan dengan berbagai pertunjukan, baik musik maupun budaya di dua panggung utama yang dipersiapkan. Tidak hanya bagi dewasa, anak-anak pun terlihat sangat menikmati setiap acara yang disuguhkan JFK. Areal Gambir Expo, Kids Area dan Wara-Wiri menyediakan banyak booth rekreasi yang mampu menghibur mereka. Ada lempar bola, panahan, Bianglalaa, Snow Park, dan lain sebagainya yang aman untuk dimainkan. Berbagai fasilitas yang disediakan dalam pagelaran JFK 2019 ini sudah baik. Pengunjung tidak perlu khawatir kesulitan mencari toilet. Bahkan tempat ibadah pun tersedia di banyak tempat. Namun sayang sejauh yang saya lihat, panitia penyelenggara tidak tersebar secara merata. Banyak tempat yang tidak mendapat penjagaan dari panitia, sehingga agak sulit untuk menemukan mereka.

  • Lelucon Long March Siliwangi

    BEGITU Belanda menyerang ibu kota Yogyakarta pada 19 Desember 1948, atas perintah Pang lima Besar Jenderal Soedirman, prajurit-prajurit dari Divisi Siliwangi bergerak kembali ke Jawa Barat. Selama perjalanan panjang ( long march ) menempuh jarak sekitar 600 km tersebut, banyak halangan yang menghadang mereka termasuk serangan tentara Belanda dan medan yang berat. Suatu hari, Batalion Kala Hitam yang dipimpin oleh Mayor Kemal Idris tengah bergerak menuruni Gunung Ijen. Untuk mencapai kampung terdekat, mereka harus melewati hutan lembab yang banyak dipenuhi pacet. Itu sejenis lintah yang hidup di wilayah lembab nan dingin. Untuk menghindari gigitan pacet, mereka mempergunakan tembakau yang dibasahi lalu digosokan ke badan dan kaki. “ Walaupun pacet tidak berbahaya, tetapi banyak orang merasa geli melihat lenturan tubuh pacet …” ujar Kemal Idris dalam otobiografinya: Bertarung dalam Revolusi. Salah satu perwira bawahan Kemal Idris ternyata memiliki rasa jijik yang luar biasa terhadap binatang melata itu. Kendati seluruh tubuhnya sudah dilumuri tembakau, namun ketegangan masih mewarnai wajahnya saat pasukan mulai memasuki hutan lembab tersebut. Satu menit, dua menit hingga setengah jam, perjalanan masih aman. Namun begitu memasuki waktu satu jam, tiba-tiba terdengar letusan pistol. Semua anggota pasukan kontan berlindung dan mengokang senjata, siap melakukan pertarungan maut. Setelah diselediki, ternyata pelepas tembakan pistol tersebut adalah letnan yang sangat jijik terhadap pacet-pacet itu. Rupanya saat seekor pacet hinggap di sepatunya, tanpa berpikir panjang ia mengeluarkan pistol dan menembaki pacet malang  tersebut. Akibatnya sungguh fatal: bukan sang pacet hancur lebur namun kaki sang letnan pun ikut terluka akibat tembakan sendiri. “ Kejadian itu akhirnya menjadi bahan lelucon saat tiba di markas kami di Cianjur…” ujar Kemal. Lain kisah Kemal, lain pula kisah J.C. Princen, serdadu Belanda yang membelot ke kubu Indonesia dan ikut long march bersama Bataliyon Kala Hitam. Princen bercerita, suatu hari rombongan  Yon Kala Hitam sampai di suatu desa yang kosong namun minim makanan. Rupanya, makanan yang ada di desa tersebut telah habis diberikan kepada rombongan long march terdahulu dari pasukan-pasukan Divisi Siliwangi lainnya. Satu-satunya bahan mentah yang bisa didapat di sana hanyalah ikan-ikan mas yang bertebaran di sebuah kolam besar. Mereka lantas mengambil ikan-ikan tersebut dan mengolahnya di dapur umum. Singkat cerita, masakan ikan mas sudah matang dan dihidangkan. Semua anggota Yon Kala Hitam pun dipanggil untuk makan, termasuk Princen. Tanpa banyak cakap, lelaki kelahiran Den Haag yang tengah kelaparan itu pun langsung mengambil sepotong ikan “yang terlihat sangat lezat”. Namun, belum sampai ke tenggorokan, potongan ikan itu langsung dimuntahkannya kembali. “ Rasanya aneh dan membuat perutku mual…” kata Princen. Selidik punya selidik, saking tak adanya bumbu ternyata ikan-ikan mas tersebut pengolahannya hanya direbus di…Air gula! Ya, semacam kolak ikan mas ala long march . “Saat tahu ikan itu hanya diolah dengan menggunakan gula merah, saya lebih memilih kelaparan dan makan dedaunan saja,” kenang Princen. Tak terasa, setelah lebih dari 40 hari berjalan kaki dari Yogyakarta. rombongan long march   Bataliyon Kala Hitam sudah mulai memasuki wilayah Jawa Barat. Di tengah kegembiraan karena sudah kembali menapaki tanah kelahiran, di suatu kawasan pegunungan, Mayor Kemal dikejutkan oleh suara teriakan anak buahnya secara tiba-tiba.  “Kita diseraaaaangggg, awasss pesawat Belandaaaaa!!!” Tanpa menunggu komando dari  Mayor Kemal, sontak semua orang berlarian. Puluhan orang menjatuhkan diri ke jurang dangkal, sedang yang lainnya memasuki hutan. Anak-anak yang menangis “dibekap” mulutnya oleh ibunya masing-masing. Suasana begitu sangat menegangkan. Namun setelah ditunggu-tunggu, pesawat Belanda itu tak jua menghamburkan peluru. Kemal yang juga ikut bersembunyi, lantas keluar semak-semak untuk memastikan keadaan. “ Setelah diperhatikan sungguh-sungguh, ternyata itu hanya seekor elang besar yang sedang mengintai mangsanya,” ujar lelaki yang kelak dikenal sebagai oposan rezim Orde Baru itu.

bg-gray.jpg
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
bg-gray.jpg
VOC mengeksekusi 10 orang Inggris, 10 tentara bayaran Jepang, dan 1 orang Portugis yang dituduh berencana menyerang Benteng Victoria di Ambon tahun 1623.
bg-gray.jpg
Istilah tante girang populer pada 1970-an kendati sudah menggejala dua dekade sebelumnya. Sastra populer merekamnya sebagai potret sosial.
bg-gray.jpg
Dalam novel-novel karangannya, Motinggo Boesje menyuguhkan bumbu seksualitas dan erotisme yang digandrungi pembaca. Di akhir masa kepengarangannya, dia menekuni sastra serius.
bg-gray.jpg
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
bottom of page