Hasil pencarian
9807 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Menelusuri Gagasan LRT di Indonesia
Kereta Lintas Rel Terpadu atau Light Rail Transit (LRT) mulai beroperasi secara terbatas di Jakarta sejak Selasa, 11 Juni 2019. Warga boleh naik moda transportasi publik baru berbasis rel ini selama program uji coba gratis. Seluruh rutenya melayang, melintang sejauh 5,8 kilometer dari Kelapa Gading (Utara)—Velodrome Rawamangun (Timur). Satu rangkaian LRT Jakarta terdiri atas dua kereta. Tiap kereta hanya mampu mengangkut 135 penumpang sekali jalan. Lebih kecil dari kapasitas angkut kereta Moda Raya Terpadu atau Mass Rapid Transit (MRT) yang mencapai 350 orang per kereta. Sebab bobot LRT lebih ringan ketimbang kereta MRT. Kesamaan keduanya terletak pada kecepatan, ketepatan waktu, kenyamanan, dan teknologi kiwari. Pembangunan fisik LRT Jakarta mewujud pada Juni 2016. Tetapi gagasan seputar LRT di Jakarta telah mengemuka sejak 1987. Masa inilah gagasan LRT di Indonesia mulai bertumbuh. Wiyogo Atmodarminto, Gubernur Jakarta 1987—1992, memperoleh masukan dari tim gabungan studi sistem angkutan kota untuk mengembangkan transportasi massal berbasis rel. Tim studi menilai penggunaan kereta api sebagai transportasi publik masih rendah. Dari satu juta perjalanan warga per hari di Jakarta, hanya 30.000 perjalanan terlayani oleh kereta api (sekira 3 persen). Selebihnya dengan kendaraan bermotor pribadi dan umum (bus, angkot, dan taksi). “Padahal menurut teori, seharusnya sebaliknya. Pada waktu ini kami mempunyai sasaran agar warga yang dilayani kereta api bisa mencapai 20%,” kata Wiyogo dalam Catatan Seorang Gubernur . Angka 20 persen berasal dari Master Plan Jakarta 1965. Orientasi Angkutan Berbasis Rel Semangat mengembangkan transportasi publik berbasis rel di Jakarta terdorong oleh situasi dan diskusi tentang transportasi publik dari luar dan di dalam negeri. Wiyogo mengetahui Manila, ibukota Filipina, telah membangun sistem LRT pada 1984, lalu menyusul Bangkok, ibukota Thailand. Kemudian pada 1987, Asosiasi International Angkutan Umum menggelar kongres tentang teknologi LRT. “Disimpulkan bahwa sistem LRT mencakup konsep angkutan yang terpisah dari lalu-lintas pribadi, pengembangan rutenya dalam beberapa tahap, sangat fleksibel dan efisien, serta biaya investasi rendah,” catat Roos D, pengamat transportasi dalam “LRT Generasi Trem Modern”, termuat di Kompas , 7 November 1991. Dari dalam negeri, diskusi seputar kemungkinan pembangunan kereta bawah tanah (MRT) di Jakarta kian mengemuka. Tim studi dari Japan International Agency Cooperation (JICA) juga sedang berupaya gencar memperbaiki sistem Kereta Rel Listrik (KRL) komuter Jakarta—Bogor—Tangerang—Bekasi (Jabotabek). Wiyogo ingin menghadirkan alternatif transportasi publik berbasis rel. “Yang kami maksud dengan kereta api di sini adalah kereta api ringan—Light Rail Transport (LRT)—yang tidak seberat kereta api biasa,” kata Wiyogo. Keunggulan LRT di atas moda transportasi publik lainnya bertumpu pada kapasitas angkut dan kecepatan. LRT mampu mengangkut sekira 340 orang per kereta. Dua kali lebih besar daripada kapasitas angkut bus terpandu ( guided bus ). LRT sanggup bergerak lebih cepat daripada bus terpandu dan KRL. Jalur LRT melayang sehingga tidak bersilangan dengan jalur moda transportasi lain seperti KRL atau bus terpandu. Bus terpandu merupakan salah satu rencana perbaikan transportasi publik pada era Wiyogo. Bus akan melaju di sepanjang jalur Blok M (Selatan)—Kota (Utara), satu jalur dengan MRT. “Bis terpandu bisa dipakai sebagai kelengkapan,” tambah Wiyogo. Dengan demikian, dia lebih mengedepankan moda transportasi massal berbasis rel. Semangat pengembangan transportasi publik berbasis rel di Jakarta merambah ke perusahaan swasta. PT Citra Patenindo Nusa Pratama (PT CPNP), perusahaan milik Tutut Soeharto, menyatakan siap membantu Pemerintah DKI Jakarta mewujudkan rencana pembangunan LRT. PT CPNP telah menghadirkan prototipe kereta LRT di kawasan wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada April 1989. Nama kereta itu aeromovel . Tapi di TMII, penggunaan aeromovel lebih bertujuan untuk wahana wisata. Aeromovel bergerak memanfaatkan tenaga angin dan listrik. Asal teknologi ini dari Brazil. Pemerintah kota setempat sudah menerapkan teknologi aeromovel untuk sistem kereta LRT. Teknologi ini berbeda dari LRT di Eropa. Investasi pengembangan a eromovel Braziljauh lebih murah ketimbang LRT di Eropa dan sejumlah negara Asia. “Hanya US$ tiga juta per kilometer. Kalau ingin perbandingan, LRT (Light Rail Train) yang diterapkan di Bangkok —sama-sama teknologi baru di bidang perkeretaapian— menelan 19 juta untuk lintasan single track dengan panjang yang sama,” tulis majalah Clayperon , Vol. 28, Desember 1989. Tetapi keinginan PT CPNP menjadikan aeromovel sebagai teknologi kereta LRT terganjal regulasi. Aeromovel tidak kunjung menerima sertifikat kelayakan dari pemerintah sebagai moda transportasi publik. Tak ada sertifikat berarti tak ada proyek. Triple Decker Gagal dengan aeromovel sebagai LRT, grup usaha lain milik Tutut Soeharto, PT Citra Lamtorogung Persada (PT CLP), mengajukan konsep penggabungan LRT dengan jalan layang susun tiga ( Triple Decker ). Mereka menggandeng perusahaan swasta asal Swedia, Jerman, Prancis, dan Kanada demi menggolkan proyek ini. Triple decker terbagi atas jalan arteri, jalan tol, dan jalur LRT. Penggabungan ini untuk menyiasati nilai investasi, menekan harga tiket LRT, dan mempersingkat termin balik modal perusahaan tersebut. Menteri Pekerjaan Umum Radinal Mochtar (menjabat 1988—1998) cukup berterima dengan konsep triple decker . “Untuk jangka pendek, triple decker perlu segera dibangun karena investasinya lebih murah, bisa subsidi antara jalan tol dengan LRT,” kata Radinal dalam Eksekutif , Agustus 1996. Triple Decker akan melintang sejauh 25,7 kilometer dari selatan ke utara (Bintaro hingga Kota). Studi pendahuluan bersama tim Sistem Angkutan Umum Massal Jabotabek dan PT CLP menyebut kelak triple decker juga akan membujur sepanjang 36,5 kilometer dari barat ke timur (Tangerang ke Bekasi) dan membentang di pusat perkantoran/pemerintahan. Tidak seperti aeromovel , teknologi kereta LRT dalam triple decker menggunakan tenaga listrik penuh. Daya angkutnya mencapai 25 ribu orang per jam untuk dua arah. “Investasi proyek transportasi baru ini Rp2,2 triliun. Dananya 80% dari pinjaman sindikasi dan 20% modal sendiri,” catat Eksekutif . PT CLP merencanakan pembangunan fisik triple decker mulai pada 1998. Beriringan dengan pembangunan fisik MRT/ subway Jakarta. Kedua proyek itu telah memperoleh lampu hijau dari pemerintah pusat dan daerah. Tetapi bala krisis keuangan melanda Indonesia pada 1998. Rezim Soeharto rontok. Begitu pula dengan sejumlah perusahaan milik anaknya. Setelah sekian lama terpendam, LRT akhirnya mengada di Palembang pada Agustus 2018, saat Asian Games. Tetapi keberadaannya justru menuai kritik. Antara lain tersebab ketidakjelasan studi pendahuluan dan kelayakan, besaran dana pembangunan, sudah ditinggalkan oleh negara maju, kerugian operasional, dan sengkarut izin operasi. Begitu juga dengan LRT Jakarta. Banyak keberatan dari berbagai pihak. Orang juga menduga LRT Jakarta akan bernasib serupa LRT Palembang. Benarkah demikian? Kita tunggu jawabannya kelak ketika LRT Jakarta mulai beroperasi secara komersial.
- Tak Ada Dokter, Mantri pun Jadi
ISTILAH “mantri” kini hampir tak diketahui orang. Di masa lalu, mantri menjadi andalan orang sakit untuk bisa sembuh, selain dokter, perawat, atau bidan. Mantri merupakan petugas medis yang biasanya terdapat di desa dan pelosok. “Mantri cuma ada di Indonesia karena jumlah lulusan kedokteran belum banyak sehingga mantri dikerahkan,” kata Martina Safitry, dosen Institute Agama Islam Negeri Surakarta, pada Historia. Mantri, tulis Martina dalam tesis berjudul “Dukun dan Mantri Pes”, mulanya berarti juru rembug dan sebuah pangkat dalam birokrasi keraton Jawa. Ada mantri guru, mantri tanam, mantri ukur, dan lain-lain. Mantri yang mengurus kesehatan muncul kemudian, ketika wabah cacar menjangkiti Banyumas pada 1847. Wabah itu kebanyakan menyerang buruh pribumi di perkebunan milik Belanda. Lantaran virusnya cepat menyebar dan obat penangkalnya kala itu belum mutakhir, orang-orang Belanda khawatir tertular. Selain itu, wabah cacar yang menyerang buruh membuat usaha perkebunan rugi lantaran jumlah buruh berkurang dan produktivitas turun. Untuk menanggulangi wabah itu, pemerintah kolonial mengirim banyak dokter yang semua orang Belanda. Namun jumlah dokter tak memadai. Lebih lagi, wabah cacar menyerang sampai ke pelosok sementara petugas kesehatan baru terdapat di kota. “Karena keterbatasan jumlahnya, (para dokter, red. ) merasa tidak sanggup untuk menanggulangi keganasan penyakit,” tulis Baha’udin dalam artikelnya di Jurnal Humaniora, Oktober 2006, “Dari Mantri hingga Dokter Jawa” . Akhirnya, dibentuklah profesi baru di bidang kesehatan dengan memberikan pelatihan kilat kepada pribumi. Saat itulah profesi mantri kesehatan lahir, dengan bermacam kategori. Ada mantri cacar, mantri vaksin, mantri pes, bahkan mantri kakus. Arsip foto menunjukkan, pribumi yang dapat pelatihan mantri hanya lelaki, sehingga populer kalimat “berobat ke Pak Mantri”. Upaya pembangunan medis lebih serius baru muncul pada Oktober 1847, saat Kepala Miliataire Geneeskundige Dienst (Dinas Kedokteran Militer) Dr. William Bosch mengusulkan pada Gubernur Jenderal J.J. Rochussen agar mengadakan pendidikan kedokteran Barat untuk penduduk pribumi. Hasilnya, didirikanlah Dokter Djawa School di Weltevreden, Batavia dengan masa studi dua tahun. Di tahun pertama, para siswa diberi pelajaran seputar Fisika, Kimia, Geologi, Botani, Zoologi, dan analisis terhadap tubuh manusia. Sementara pada tahun kedua, para murid diberikan ilmu bedah, Patologi, Anatomi Patologis, material medica, obat-obat pokok, dan pelatihan praktek di klinik. Ketika lulus, siswa mendapat gelar Dokter Jawa meski sebenarnya mereka bukan dokter, melainkan pembantu dokter Eropa ( hulp geneesher ). Sebagian dari Dokter Jawa itu diberi tugas sebagai mantri cacar. Jumlah petugas medis masih belum memadai kendati sekolah dokter pribumi sudah ada. Maka ketika wabah penyakit seperti malaria atau pes muncul, perekrutan dan pelatihan mantri masih terus dilakukan. Ide pembentukan profesi mantri yang lebih paten dilakukan pemerintah Hindia Belanda pada 1935 dengan mendirikan Sekolah Mantri Kesehatan, bekerjasama dengan Rockefeller Foundation. Distrik Purworkerto ditetapkan sebagai model dan labolatorium pelatihan mantri. Para lulusan sekolah itu ditempatkan di kampung-kampung dan daerah terpencil. Sosok mantri kadang tidak bisa dibedakan dengan dokter Jawa karena mereka menggunakan atribut dan peralatan yang sama. Para mantri juga berperilaku laiknya dokter, menganalisis penyakit pasien dan memberi obat. “Kalau menurut peraturan internasional, yang boleh memberi obat hanya dokter, tapi karena jumlahnya masih sedikit, mantri bertugas seperti dokter umum,” kata Martina. Kehadiran mantri di kampung-kampung menjadi jalan bagi pribumi untuk mengenal pengobatan modern yang tidak berjarak lantaran penyembuh dan pasien sama-sama pribumi. Banyak pasien pribumi lantas berobat ke “Pak Mantri” kala penyakit menyerang. Namun, jalaran banyaknya kritik pada kualitas lulusan dokter jawa, pada 1898 Sekolah Dokter Jawa diubah menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Masa studinya diperpanjang jadi delapan tahun dan gelar yang didapat bukan lagi Dokter Jawa, melainkan Inlandsche Arts (dokter pribumi). “Ada perbaikan kurikulum dan dokter pribumi mulai dicetak. Lulusan eranya Tjipto Mangoenkoesoemo atau Radjiman Wedyodiningrat, bukan difungsikan sebagai mantri atau dokter jawa tapi dokter betulan,” Kata Martina.
- Tan Malaka di Hong Kong
HONG KONG yang lazimnya ramai oleh beragam aktivitas bisnis dan kehidupan sosial dengan udara bebas, kini bergejolak. Sekira satu juta penduduknya turun ke jalan menentang Undang-Undang Ekstradisi yang tengah dibahas badan legislatifnya. Jika UU itu disahkah, roda kehidupan di Hong Kong dipercaya takkan lagi sama. Sejak dikembalikan Inggris pada 1997, Hong Kong dijadikan wilayah otonomi khusus di bawah Republik Rakyat China (RRC). Sampai 50 tahun usai penyerahan, Hong Kong diberi jaminan ketertiban hukum, kebebasan berpendapat, dan sistem perekonomiannya akan tetap sama sebagaimana saat masih di bawah ketiak Inggris.
- Ganja untuk Ritual Pemakaman
Baru-baru ini sebuah penelitian menunjukkan kalau mengisap ganja sudah dilakukan manusia paling tidak sejak 2.500 tahun lalu di Tiongkok. Dari hasil penelitian para arkeolog dan ahli kimia dari Chinese Academy of Sciences dan Chinese Academy of Social Sciences di Beijing, sejenis ganja teridentifikasi sebagai tanaman yang dibakar dalam ritual di makam purba dari 500 SM. Masyarakat di Pegunungan Pamir, Tiongkok Barat, yang melakukan ritual dengan membakar ganja tersebut. Berdasarkan artikel berjudul “The origins of cannabis smoking: Chemical residue evidence from the first millennium BCE in the Pamirs” yang diterbitkan Science Advance, Rabu (12/6), kandungan ganja ditemukan saat menganalisis potongan kayu sisa pembakaran di makam. Residu yang ditemukan di situs mengandung senyawa kimia yang menunjukkan tingkat tetrahydrocannabinol (THC) dalam kadar tinggi. Itu adalah senyawa tanaman yang bersifat psikoaktif atau bisa memunculkan efek euforia pada penggunanya. Selain sisa kayu bakar, peneliti juga menemukan piring dan mangkuk, manik-manik kaca, kain sutra, dan harpa Tiongkok. Ada pula tulang-belulang manusia yang memiliki lubang ditengkoraknya. Lubang pada tengkorak itu diperkirakan akibat hantaman benda keras. Karenanya para peneliti menduga beberapa orang yang dimakamkan di lokasi itu tewas dalam ritual pengurbanan manusia. “Kita dapat mulai menyatukan gambaran tentang upacara penguburan yang meliputi api, musik dan asap halusinogen, yang semuanya dimaksudkan untuk membimbing seseorang ke dalam kondisi setengah sadar,” tulis para peneliti itu. Sebelumnya, batang dan biji ganja pernah ditemukan di beberapa situs pemakaman di sekitar Eurasia. Namun bukti di pemakaman Pamir, yang diverifikasi oleh teknologi ilmiah canggih, menunjukkan hubungan yang lebih langsung antara tanaman dan ritual pada masa-masa awal. “Temuan baru ini memperluas jangkauan geografis penggunaan ganja di wilayah Asia Tengah yang lebih luas,” kata Mark Merlin, profesor botani di Universitas Hawaii di Manoa, yang tidak ikut serta dalam penelitian ini. Menurut sejarawan yang meneliti ganja itu, temuan ganja itu penting. Artinya ganja pernah digunakan untuk memfasilitasi tubuh berkomunikasi dengan alam baka dan dunia roh. Dari penelitian itu juga bisa dikatakan orang pada masa itu telah sengaja menanam ganja dan secara sadar memilih spesies yang efeknya lebih kuat karena temuan itu mengandung senyawa THC tinggi. “Ganja liar, yang tumbuh secara umum di kaki gunung berair di Asia Tengah, biasanya memiliki kadar cannabinol yang rendah, itu suatu metabolit THC,” tulis para peneliti. History mencatat ada beberapa bukti bahwa orang-orang dari budaya kuno sudah tahu tentang sifat psikoaktif tanaman ganja. Mereka mungkin telah menanam beberapa varietas yang menghasilkan THC lebih tinggi untuk digunakan dalam upacara keagamaan atau praktik penyembuhan. “Benih ganja yang terbakar telah ditemukan di kuburan dukun di Cina dan Siberia sejak 500 SM,” tulis laman itu. Ilustrasi tanaman ganja dalam Vienna Dioscurides (512 M) Kendati begitu, studi lain pernah diterbitkan oleh para peneliti dari Freie Universität Berlin dua tahun lalu. Lewat jurnal Vegetation History and Archaeobotany diungkapkan kalau ganja telah digunakan di Jepang dan Eropa Timur dalam waktu hampir bersamaan, yaitu antara 11.500 dan 10.000 tahun yang lalu. Sebagaimana dikutip laman New Scientist, penelitian itu mengkaitkan peningkatan penggunaan ganja di Asia Timur dengan meningkatnya perdagangan lintas benua antara Eropa dan Timur antara 4.000 dan 5.000 tahun yang lalu, pada awal Zaman Perunggu. Orang-orang Yamnaya, yang bermarkas di tempat yang sekarang disebut Eropa Timur, diperkirakan telah mengangkut ganja melintasi benua saat mereka melakukan perjalanan ke arah timur. Diperkirakan ganja adalah salah satu barang komoditas di sepanjang Jalur Perunggu ke Asia, yang kemudian jalur itu dikenal sebagai Jalur Sutra. Jalur itu adalah jaringan kuno rute perdagangan yang menghubungkan Eropa dan Cina. "Tanaman ganja tampaknya telah didistribusikan secara luas sejak 10.000 tahun yang lalu, atau bahkan lebih awal,” ujar Tengwen Long, yang memimpin tim peneliti. Dia menambahkan nilai tinggi tanaman sangat bisa digunakan sebagai alat tukar. Selain sifat piskoaktifnya, ganja juga diambil seratnya untuk bahan pembuatan kain. “Ini akan membuatnya menjadi barang yang ideal, yaitu sebagai tanaman komersial sebelum ada uang tunai,” jelas Tengwen Long.
- Sejarah Gedung Mahkamah Konstitusi dan Medan Merdeka Barat
Pagar kawat berduri, ratusan polisi, dan tameng anti huru-hara. Beginilah pemandangan keseharian di halaman depan gedung Mahkamah Konstitusi (MK) Jalan Merdeka Barat, Jakarta, menjelang hari sidang Perselisihan Hasil Pemilu pada Jumat, 14 Juni 2019. Polisi telah melarang massa berunjuk rasa di depan gedung MK. Mereka juga akan menutup Jalan Medan Merdeka Barat ketika sidang berlangsung demi menjaga keamanan gedung MK dan kawasan bersejarah di sekitarnya. Gedung MK belum lama berdiri. Gedung ini mulai dibangun pada Juli 2005. Penggunaan gedung MK secara resmi berlangsung pada 13 Agustus 2007, bertepatan dengan hari jadi MK. Sebelum menggunakan gedung ini, MK berkantor secara nomaden dan menumpang ke beberapa lembaga negara. Antara lain di Hotel Santika, parkir Plaza Centris, dan gedung milik Kementerian Komunikasi dan Informasi. Adolf Heuken dalam Medan Merdeka Jantung Ibukota RI menyebut gedung MK berarsitektur campuran: gaya modern dan neo-klasik. Dua gaya itu terwakili oleh menara 16 lantai (modern) di belakang gedung utama dan pilar besar di sisi depan (fasade) gedung utama (neo-klasik). Paduan dua gaya ini bermaksud menciptakan kesan berwibawa, monumental, dan megah. Pilar di gedung utama berjumlah sembilan, melambangkan jumlah hakim agung MK. Tetapi, menurut Heuken, jumlah pilar ganjil di depan menyimpang dari kode dan semangat arsitektur neo-klasik. Lazimnya pilar fasade berjumlah genap. “Akibatnya gedung gado-gado ini tampak kurang elegan dan maksud semula tidak tercapai,” ungkap Heuken. Heuken juga menyebut ketiadaan standar perancangan gedung di Jalan Merdeka Barat ikut menyumbang ketidakharmonisan lingkungan. Keadaan ini tidak terjadi pada masa sekarang saja, melainkan juga berjejak pada masa kolonial. Jauh sebelum gedung MK berdiri, Jalan Medan Merdeka Barat bernama Koningsplein West. Peta Koningsplein West sebelum 1900-an menunjukkan bangunan di tepi jalan masih sepi. Hanya ada sejumlah rumah dan museum. Rumah saat itu kemungkinan bergaya indische woonhuis . Tetapi memasuki 1900-an hingga 1930-an sejumlah bangunan baru berdiri dengan beragam gaya. Antara lain bangunan milik pemerintah, rumah pribadi, kantor usaha swasta, perkumpulan teosofi, hotel, dan konsulat negara tetangga. Ada dua bangunan menonjol milik pemerintah di Koningsplein West : gedung Bataviaasch Genotschap van Kunsten Wetenschappen (sekarang menjadi Museum Nasional) dan Rechtshoogeschool (sekarang menjadi Kementerian Pertahanan). Masing-masing bangunan mewakili tahun dan gaya berbeda. Bangunan pertama bergaya klasik dan berasal dari tahun 1864, sedangkan bangunan kedua bergaya modern dan dibangun pada 1924. Catatan mengenai rumah pribadi di Koningsplein West sangat langka. Dalam bukunya, Heuken hanya menghadirkan satu foto tentang dua rumah bergaya modern. Scott Merillees, seorang kolektor kartu pos jadul, menyatakan dua rumah tersebut berlahan lebih sempit daripada rumah model mansion atau bergaya indische woonhuis . Menyiasati keterbatasan lahan, rumah tersebut dibangun bertingkat. Merillees menduga bertumbuh cepatnya populasi orang Eropa di Batavia sebagai penyebab perubahan gaya rumah pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Kebanyakan mereka bekerja sebagai pegawai perusahaan atau pegawai negeri ketimbang pedagang besar. Penghasilan mereka lebih rendah daripada pedagang besar sehingga berpengaruh terhadap kemampuan membeli lahan. Dua rumah tersebut kini sudah runtuh. Tergerus perluasan Museum Nasional pada dekade 1990-an. Demikan catat Merillees dalam Greetings From Jakarta: Postcards of a Capital 1900—1950 . Bangunan swasta di KoningspleinWest terekam dalam koleksi kartu pos lain milik Merillees dari tahun 1902. Sebuah bangunan beratap trapesium dan berlantai agak tinggi dengan beberapa tiang kecil di sejumlah sudut lantai menjadi kantor The Netherlands Indies Sport Company . Perusahaan ini berkutat di bisnis jual beli dan servis sepeda. Memanfaatkan demam sepeda di Hindia Belanda pada 1890-an. Tak jauh dari kantor The Netherlands Indies Sport Company , berdiri sebuah bangunan dengan kubah kecil. Di atasnya terdapat mahkota menyerupai bintang. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat pertemuan (loji) masyarakat Teosofi. Perkumpulan Teosofi berdiri di New York pada 1875. “Mereka memperoleh sambutan baik di kalangan elite Eropa dan Jawa di Hindia Belanda pada 1910-an,” tulis Merillees. Mereka memiliki jadwal pertemuan teratur di loji dan mengumumkannya di media massa. Sekarang loji beralih rupa menjadi gedung Sapta Pesona milik Kementerian Pariwisata. Zaman bergerak. Beberapa bangunan lama di Koningsplein West sempat dirombak. Tujuannya untuk memperbaharui citra. “Usaha ini biasanya meleset. Bagian dalam dan belakang bangunan seringkali tidak diubah,” catat Heuken. Akibatnya lingkungan jadi kurang harmonis. Kini hampir semua bangunan di Jalan Medan Merdeka Barat telah menjadi milik pemerintah, bergaya modern, dan tinggi menjulang. Terdapat satu gedung milik swasta, kantor Indosat Ooredoo di bagian selatan jalan tersebut. Beberapa bangunan tua masih tersisa. Seperti Museum Nasional. Tetapi terbenam di antara ketinggian gedung jangkung modern.
- Kisah Sang Penghilang Batas
DI DUNIA sains siapa yang tak mengenal Stephen Hawking? Vonis mati yang diterimanya tidak serta merta membuat hidup ilmuwan ini goyah. Itu dibuktikan denan terus berkaryanya dia di bidang ilmu fisika. Sejak tahun 1960-an tidak henti-hentinya, dia mengguncang dunia dengan spekulasi dahsyatnya tentang alam semesta dan kehidupan makhluk hidup di dalamnya. Dilahirkan di Oxford, Inggris, pada 8 Januari 1942, Hawking merupakan putra sulung dari empat bersaudara. Sejak remaja, dia telah memperlihatkan ketertatikan yang besar terhadap ilmu sains dan teknologi. Ketika belajar di St. Albans, Hawking (16 tahun) bersama kawan-kawannya mampu merakit sebuah komputer dengan memanfaatkan suku cadang bekas jam dan pesawat telepon. Pada 1962, Hawking lulus dari Universitas College, Oxford. Menurut Marcus Chown, seorang mantan astronom radio, walau mendapat gelar kehormatan kelas satu di bidang pengetahuan alam, Hawking pernah mengakui dirinya sebagai pemalas ketika masih menjadi mahasiswa. Tidak puas dengan gelar kesarjanaannya, Hawking pun memutuskan untuk mengejar gelar Ph.D di Universitas Cambridge. Di sana dia memilih jurusan yang waktu itu kurang populer, yakni relativitas umum, salah satu teori tentang gravitasi milik Albert Einstein yang mengantarkannya pada kepopuleran sepanjang masa. Namun belum genap setahun belajar di Cambridge, Hawking harus nenerima kenyataan pahit dalam hidupnya. Bermula dari Natal 1962, ia menyadari tubuhnya semakin lemah tanpa mengetahui sebabnya. Kemudian pada akhir semester pertama di Cambridge, ibunya membujuk Hawking untuk menemui dokter. Setelah melalui rangkaian tes melelahkan selama dua pekan, dokter memvonis Hawking menderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS): bentuk paling umum dari penyakit saraf motorik yang menyebabkan kemunduran pada fungsi sel-sel otak. "Pada usia 21 tahun, Hawking menghadapi vonis mati. Yang luar biasa, kendati dia merasa putus asa, dia tidak pernah menyerah." tulis Marcus. Normalnya, penderita penyakit ini hanya akan bertahan hidup tidak lebih dari tiga tahun. Brian Dickie, direktur Asosiasi Pengembangan Riset MND ( motor neurone disease ), menyebut penyakit saraf memiliki tingkatan yang berbeda tergantung dari gen dan lingkungan para penderitanya. "Mengingat obat yang efektif kurang tersedia, kemungkinan Hawking bisa hidup begitu lama bukan lantaran obat tetapi disebabkan oleh jenis penyakitnya." ucap Dickie. Lebih dari itu, alasan Hawking dapat bertahan adalah Jane Wilde. Dia jatuh cinta pada perempuan yang ditemuinya dalam acara pesta mahasiswa di kampusnya. Pasangan itu melangsungkan pernikahan pada 1965. dukungan dari Jane membuat Hawking berjanji akan memanfaatkan sisa waktunya semaksimal mungkin. Ajaibnya, setelah melewati hari-hari bersama perempuan yang dicintainya, perkembangan penyakit Hawking mulai melambat. Semangat hidup Hawking melawan keterbatasannya menjadi penggalan kisah paling menarik dalam buku ini. Penjelasan tentang penyakit yang dideritanya pun disajikan dalam koridor ilmiah yang mudah dicerna awam. Namun sayangnya buku ini tidak menyertakan data-data tentang perkembangan penyakit Hawking. Selain itu tidak adanya wawancara personal berisi pertanyaan lebih intim membuat buku Stephen Hawking A Mind Without Limits ini kurang memperlihatkan sisi pribadi Hawking. Menghilangkan Batas Selain menjelaskan perjalanan hidup, buku ini juga mencoba membantu mengarahkan para pembaca pada penemuan-penemuan ilmiah Hawking yang begitu menakjubkan. Dalam buku ini para ahli dihadirkan, sebagai kontributor, untuk menjelaskan bidang keahliannya. Seperti Peter J. Bentley, seorang profesor ilmu komputer yang memaparkan secara rinci teknologi yang terpasang pada kursi roda Hawking untuk membantu kesehariannya. Hawking dikenal sebagai perintis di bidang fisika dan kosmologi modern. Dengan cerdas, ia mampu menggabungkan dua bidang keilmuan yang tidak saling berhubungan tersebut. Namun meski begitu, hampir setengah masa hidupnya dihabiskan tanpa bergerak dan bersuara. Sebelum benar-benar kehilangan kemampuan berbicara, Hawking masih memberikan kuliah umum di beberapa perguruan tinggi di Inggris. Dia selalu membawa keluarga serta asistennya untuk menerjemahkan ucapannya yang sudah tidak jelas. Hawking tidak ingin kekurangannya itu menjadi halangan untuk dia terus berkarya. Namun pil pahit kembali harus ditelan Hawking. Pada 1985, dalam sebuah perjalanan dinas ke CERN (Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir), Hawking terserang pneumonia. penyakit itu nyaris merenggut nyawanya. "Dokter-dokter yang menanganinya terpaksa menjalankan operasi trakeonomi untuk memasukkan slang pernapasan, tetapi tindakan ini menyebabkan Hawking kehilangan suaranya." tulis Peter J. Bentley, profesor ilmu komputer di Universitas College, London. Tentu bukan perkara mudah untuk Hawking dapat menerima keadaannya. Karir akademiknya menutut kemampuan berkomunikasi yang baik. Dia harus memberi kuliah di hadapan mahasiswanya, mempresentasikan hasil penelitiannya, bahkan mempublikasikan tulisan-tulisannya. Karena tidak bisa melakukan semua itu, Hawking merasa hidupnya bagai bencana. Tapi bukannya menyerah, Hawking malah mengalihkan perhatiannya pada teknologi. Ia sadar bahwa hanya pengetahuan modern yang dapat membantunya. Untuk itu, Martin King, dokter pribadi Hawking, menghubungi perusahaan teknologi asal California, Words+, yang telah mengembangkan equalizer untuk penderita penyakit saraf motorik. Sistem yang ditawarkan memungkinkan pemakainya memilih kata-kata hanya dengan ketukan tangan. "Sebuah kursor bergerak di bagian atas layar." terang Hawking. "Saya dapat menghentikannya dengan tombol di tangan saya. Dengan cara ini, saya bisa memilih kata-kata yang terpampang di bagian bawah layar. Saya bisa memberikan kuliah, menulis makalah, dan berkomunikasi dengan keluarga saya." Sistem equalizer awalnya dijalankan di sebuah komputer Apple II yang tersambung ke perangkat penyintesis wicara buatan Speech Plus. tidak lama, perangkat lunaknya diganti dengan versi terbaru bernama EZ Keys, buatan perusahaan yang sama. Teknologi itu termasuk paling canggih pada zamannya karena dapat menyimpan lebih dari 4.000 kosakata yang dibutuhkan Hawking. Selama hampir 20 tahun, sejak 1988, Hawking memanfaatkan teknologi penyintesis wicara itu untuk berbagai keperluan ilmiahnya. Namun pada 2005 penyakit ALS yang dideritanya semakin parah. Ia kembali kehilangan kemampuan berkomunikasi karena tidak lagi memiliki kekuatan untuk menekan tombol perangkat wicara di kursi rodanya. Untuk mengatasinya, beberapa asisten serta mahasiswa bimbingannya menciptakan perangkat LED dan sensor inframerah khusus Hawking. Teknologi itu dipasang di kacamata Hawking untuk mendeteksi gerakan kecil pada otot di pipinya. Berkat peranti ini, Hawking dapat terus melanjutkan kegemilangannya dalam membangun ilmu fisika. "Kemampuan komunikasi Hawking kian memburuk ketika dia kehilangan kendali atas otot, dan pada 2011, dia hanya bisa membuat dua kata per menit." tulis Bentley. Setelah itu, Hawking menghubungi salah satu pendiri Intel, Gordon Moore, yang dahulu pernah ditemuinya. Moore kemudian meminta bantuan Justin Rattner, CEO Intel saat itu untuk menyelesaikan persoalan Hawking. Di bawah intel, sebuah tim peneliti dibentuk. Mereka mencoba mencari model komunikasi yang pas bagi Hawking. Berbagai bentuk interface baru pun dicoba untuk mendapat hasil yang sempurna. Percobaan pertama menghasilkan teknologi yang dapat memilih kata dengan cara menggerakkan pupil mata. Namun tidak berhasil karena kelopak mata Hawking selalu turun. Pada percobaan selanjutnya, tercipta teknologi pengukur gelombang otak. Tetapi tidak menunjukkan kemajuan apapun. Akhirnya dengan bantuan asisten mahasiswa Hawking, Jonathan Wood, tim itu dapat menciptakan sistem komunikasi yang canggih. Teknologi yang khusus diciptakan untuk Hawking ini memanfaatkan jaringan saraf tiruan yang mampu memprediksi kata selanjutnya dari sebuah kata yang biasa digunakan Hawking. Misalnya kata "lubang" biasanya diikuti oleh "hitam". Kiprah Nyata Sejak memulai penelitian pasca-doktoralnya, Hawking telah benar-benar fokus pada permasalahan kosmologi, ilmu pengetahuan alam, evolusi, teknologi, dan akhir alam semesta. Dia mengkaji cukup dalam beberapa teori Einstein, terutama yang berhubungan dengan asal mula alam semesta. Pada 1965 dan 1970, Hawking membuat sejumlah teorema besar tentang singularitas:keadaan di mana suatu objek yang dihitung menjadi tak terhingga. Dia bekerja bersama Roger Penrose, ahli matematika Inggris yang mendampingi Hawking dalam sejumlah penemuan penting pertamanya. Penelitian singularitas tersebut menjadi kiprah pertama Hawking dalam mencari bukti terciptanya kehidupan alam semesta. Hawking dan Penrose bahkan berhasil menunjukkan bahwa teori Einstein memiliki kekurangan. Sehingga membuka jalan bagi para ilmuwan untuk terus mencari kebenaran yang sesungguhnya. "Penelitian Hawking tentang singularitas akhirnya membawanya mempelajari aspek destruktif dan misterius yang bertebaran di seluruh alam semesta." tulis Marcus. Setelah mempelajari singularitas, Hawking mulai mengalihkan fokusnya pada salah satu teori paling menakjubkan mengenai alam semesta, yakni lubang hitam. Selama bertahun-tahun, Hawking membuat teori untuk menemukan kebenaran dari “objek hitam” yang baginya tidak benar-benar legam karena berpendar dengan partikel-partikel yang terlepas di sekitarnya. “Jauh dari hampa, ruang ini sesungguhnya sarat energi. Khususnya, partikel-partikel dan antipartikel-antipartikel subatomik yang terus-menerus bermunculan secara berpasangan.” katanya. Hawking mengeluarkan banyak spekulasi yang membuat para ilmuwan dunia kebingungan, sekaligus termotivasi untuk memperdalamnya. Sebagian ilmuwan mencoba membuktikan teorinya dengan memberikan data dan fakta baru. Namun hingga Hawking wafat, belum ada yang secara tepat menjelaskan keadaan dan keberadaan lubang hitam di alam semesta. Secara keseluruhan buku ini layak untuk dibaca. Pemaparan secara ilmiah dan mendalam, dengan bahasa sederhana, tentang hasil kerja Hawking semasa hidupnya membuat para pembaca akan nyaman mencerna isinya. Walau alangkah lebih baik jika buku Stephen Hawking A Mind Without Limits ini memberikan lebih banyak ruang untuk menceritakan keseharian Hawking menghadapi penyakitnya sampai bisa terus berkarya mencengangkan dunia.
- Makanan para Tahanan
MIA Bustam, perempuan pelukis anggota Lekra, merasakan jatah makan yang diterima tahanan politik (tapol) 1965 masih manusiawi pada awal ditahan di Vredeburg. Selain diberikan dua kali setiap hari, jam 10 pagi dan 3 sore, menunya pun berupa nasi ditambah oseng-oseng buncis atau kacang panjang, labu siam, dan lauk berupa tempe atau tahu bacem. Lain waktu, menunya berupa gudeg dengan sambal goreng krecek dan tolo. “Memadailah, yang mengurus ransum itu restoran di Danurejan,” kata Mia dalam memoarnya, Dari Kamp ke Kamp . Namun, kondisi itu tak berlangsung lama. Pihak restoran mogok mengirim makanan lantaran Tim Pemeriksa Daerah (Taperda) sama sekali tidak membayar katering itu sejak awal. Jatah makan para tapol pun dikirim dari Penjara Wirogunan sejak itu. Makanan diangkut menggunakan truk. Begitu truk tiba di Vredeburg, para tapol berbaris mengantri sambil membawa besek-besek bekas. Mereka menunggu jatah dari dua narapidana yang ditugaskan membagikan. Menunya jelas jauh lebih buruk dari menu sebelumnya. Grontol, nasi jagung, dan sayur kubis menu mereka setiap hari. Porsi grotolnya pun amat sedikit. Mia dan rekan-rekannya pernah iseng menghitung jumlah butir grontol jatah makan itu: 250 butir jatah untuk tapol perempuan dan 150 butir untuk tapol lelaki. Suasana tahanan biasanya jadi sepi setelah pembagian makan. Semua tapol khusuk mengupas kulit grontol yang tebal lantaran dibuat dari jagung metro yang kulitnya tak bisa dicerna. Setelah itu, akan terdengar bunyi ‘tik-tik’, suara para tapol lelaki menumbuk jagung. Mereka menumbuk dengan cobek buatan. Lumpang dibuat dari tegel batu di halaman kamp yang mereka bongkar. Batu bulat yang ada di sekitar kamp dijadikan penumbuknya. “Maklum, di antara mereka banyak orang tua yang giginya tak lengkap lagi. Ada juga anak muda yang giginya rontok disebabkan penganiayaan pada waktu penangkapan dan pemeriksaan, sehingga sulit mengunyah grontol yang super keras itu,” kata Mia. Lantaran jatah makan yang tersedia cuma kubis busuk dan grontol apek, para tahanan politik (tapol) mulai masak-masak di dalam tahanan. Tapi karena para tapol tak punya bahan makanan lain, yang dimasak pun cuma kubis busuk yang dicuci lantas dimasak lagi untuk dijadikan oseng-oseng, urap, atau pecel. Hanya untuk menambah variasi menu. “Yang dimasak ya sayur kubis tua itu, setelah kuahnya yang asin sekali itu dibuang. Kami tak ingin kena hipertensi,” kata Mia . Para tapol juga mengubah menu grontol. Setelah menumbuk grontol, mereka menjadikannya bubur atau gethuk yang ditambah gula jawa. Bumbunya didapat dari kiriman keluarga. Kompor yang mereka gunakan untuk memasak bahan bakarnya macam-macam. Tapol perempuan membuatnya dari besek bekas yang anyamannya sudah dilolosi, kulit-kulit grontol, atau daun pisang bekas pembungkus kiriman. Daun pisang itu disobek kecil-kecil, dikepang, lantas dijemur agar kering sehingga mudah terbakar. Sementara, tapol lelaki lebih nekat dalam membuat bahan bakar. Selain menggunakan bahan bakar seperti tapol perempuan, mereka mencopoti kolom-kolom atap tahanan. Tentu saja, mereka memilah bagian yang aman kalau dicopot. Kegiatan masak-masak dalam kamp itu jelas sepengetahuan petugas lantaran asap dan bau masakan pasti tercium dari tempat kerja mereka. Saking sedikitnya jumlah makanan, beberapa tapol menderita kelaparan hingga meninggal dunia. Tiap hari jumlahnya makin naik, dari dua, delapan, belasan, hingga puluhan orang. Ketika menginterogasi Mia, Hardjono, dosen yang ikut menginterogasi tapol, bercerita bahwa Taperda bingung bagaimana harus memberi makan tapol yang jumlahnya amat banyak padahal dana untuk konsumsi hampir tak ada. “Suruh saja mereka pulang semua, kecuali yang benar-benar terlibat, maka problem akan terpecahkan dengan sendirinya,” kata Mia. Masalah jatah makan juga terjadi di Kamp Plantungan. Meskipun sudah dibentuk unit-unit produksi untuk memenuhi kebutuhan hidup para tapol, jatah makan sering kurang. Mulanya, ransum berisi nasi dan sayur dengan sepotong tempe atau ikan asin. Ransum ini dibagikan tiga kali sehari. Lama-lama jatah makan berkurang jadi dua kali sehari, dibagikan siang dan malam hari. Karena terus-menerus kurang, menu sarapan diganti jadi tiga potong singkong. Para tapol yang punya uang bisa membeli telur di koperasi, tapi yang kantongnya kering, memilih makan bekicot yang ditemukan di ladang. “Coba bayangkan, dapat jatah nasi tempenya seruas jari, malam tidak ada lauk. Makanya bekicot pun dimakan, dibikin sambel goreng. Itu katanya juga bisa untuk obat bisul. Kalau sekarang suruh makan saya nggak mau,” kata Sumarni, mantan anggota Gerwani yang ditahan di Plantungan, sebagaimana ditulis Amurwani Dwi Lestariningsih dalam Gerwani: Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan. Jika dibandingkan, makanan tapol Plantungan lebih buruk dibanding makanan narapidana. Makanan tapol berasal dari Kodam dan dikelola petugas jaga militer, sedangkan menu narapidana dikelola Direktorat Pemasyarakatan. Jika para narapidana mendapat nasi dari beras kualitas bagus dan bisa makan daging dua kali seminggu, para tapol hanya mendapat sedikit beras dan lauk tempe, ikan asin, atau telur yang diberikan bergantian. Dari penuturan Sugiharto, mantan wakil Komandan Kamp Plantungan, jatah beras di Plantungan sebanyak 300 gram per hari. Namun dari penuturan dr. Sumiyarsi Siwirni Carapobeka, yang dikenal sebagai dokter lubang buaya, jatah beras hanya 100 gram. Jatah ini kemudian berkurang menjadi 75 gram per hari. Lantaran terus bekurang, pemerintah memberikan bantuan beras yang dikenal dengan beras Erwin. “Beras bantuan itu baunya tajam dan tidak enak,” kata Sumiyarsi. Beberapa tapol muntah-muntah setelah memakannya. Sumiyarsi dan beberapa tahanan lain lantas meminta agar beras itu tak lagi dibagikan, namun apa daya usulnya malah dianggap pemberontakan. Ia dipindahkan ke blok C yang disebut “kandang babi”. Jatah beras pun kembali jadi 75 gram per hari.
- Rencana Pembunuhan Sukarno, Yani, dan Soebandrio
UNTUK kali pertama sejak bergulirnya reformasi, ancaman pembunuhan menyasar pejabat tinggi negara. Ini diungkapkan langsung oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian pasca kerusuhan menyikapi hasil pemilu 21-22 Mei 2019. Mereka yang jadi target pembunuhan antara lain Jenderal (Purn.) Wiranto (Menkopolhukam), Jenderal (Purn.) Luhut Panjaitan (Menko Kemaritiman), Jenderal Pol. Budi Gunawan (kepala Badan Intelijen Negara), dan Yunarto Wijaya (pimpinan lembaga survei Charta Politika). Mantan kepala staf Kostrad, Mayjen TNI (Purn.) Kivlan Zein disebut-sebut berada di balik rencana pembunuhan tersebut. Kivlan sendiri dan orang-orang yang ditugaskan untuk melancarkan aksi pembunuhan sudah tertangkap. Mereka dinyatakan sebagai tersangka dan terancam jeratan pasal perbuatan makar.
- Ekstradisi dari Hong Kong?
RATUSAN ribu orang menyesaki jalan-jalan utama di Hong Kong. Negeri kepulauan dengan status otonomi khusus di bawah Republik Rakyat China (RRC) itu tengah bergejolak. Massa menggugat upaya “komunisasi” oleh pemerintah daratan sejak Minggu (9/6/2019). Menurut sumber Kepolisian Hong Kong yang dikutip Reuters , Selasa (9/6/2019), massa yang terkonsentrasi sudah berjumlah sekira 240 ribu orang. Massa menetang kembalinya cengkeraman China atas negeri mereka. Namun, aksi unjuk rasa damai itu berubah ricuh pada Selasa (12/6/2019). Bentrokan pecah. Polisi terpaksa melontarkan gas air mata, water cannon , dan bahkan tembakan peluru karet sebagaimana kerusuhan demonstrasi pada 2014. Aksi itu dipicu oleh berlangsungnya sidang Dewan Legislatif Hong Kong untuk mengesahkan Undang-Undang Ekstradisi. UU tersebut dianggap sebagai penggembosan demokrasi di Hong Kong. Jika disahkan, pemerintah RRC bisa leluasa menangkapi para tersangka kasus pidana maupun politik yang melarikan diri ke Hong Kong untuk dibawa kembali ke daratan utama guna disidangkan dengan sistem hukum RRC. “Warga Hong Kong tidak percaya pada pemerintah China,” kata Long Chen, salah satu pengunjuk rasa, dilansir CNN World , Selasa (12/6/2019). Long Chen merupakan pekerja maintenance lepas dan terpaksa tak masuk kerja demi “menyelamatkan” masa depan negerinya. Ia hanya satu dari sekian warga Hong Kong dari beragam latarbelakang yang menggugat kembalinya sistem komunis China menjamah Hong Kong. “Kami merasa tak punya pemimpin saat ini. Ini (aksi protes) adalah harapan terakhir kami. UU ini berbahaya. Kami tak mau melihat China melenyapkan kebebasan kami,” kata Sean, mahasiswa yang turut turun ke jalan. Milik China, Inggris dan Kembali ke China Negeri di Semenanjung Kowloon dengan sekira 263 pulau ini sebelum jadi koloni Inggris merupakan wilayah strategis untuk pelabuhan dan pelayaran milik Dinasti Qing. Tetapi gara-gara kalah dari Inggris di Perang Opium I (1839-1842), Hong Kong diserahkan ke Inggris. Baca juga: Islam di Masa Kedinastian Cina Sedianya penyerahan Hong Kong sudah dilakoni menjelang kekalahan Dinasti Qing lewat Konvensi Chuenpi, 20 Januari 1841. Dalam dokumen The Chinese Repository Volume 10 , konvensi itu dihelat antara dua utusan: Sir Charles Elliot dan Qishan (Jing’an). Isinya adalah: penyerahan kepulauan dan pelabuhan Hong Kong kepada Inggris, ganti rugi perang enam juta dolar oleh China kepada Inggris yang dicicil sampai 1846, pembukaan hubungan resmi dua negara, dan dibukanya pelabuhan Canton dalam 10 hari setelah Hari Raya Imlek. Lukisan kapal-kapal Inggris menguasai Hong Kong karya RB Watson (Foto: sothebys.com) Meski diuntungkan, Inggris belum puas. Menteri Luar Negeri Inggris Lord Palmerston mengganti Elliot dengan Jenderal Henry Pottinger. Kesepakatan dalam konvensi itupun gugur dan perang berlanjut hingga ditandatanganinya Perjanjian Nanking, 29 Agustus 1842. Selain menuntut perdagangan bebas dan ganti rugi perang, Inggris menuntut penyerahan Hong Kong dari Kaisar Daoguang dalam isi perjanjiannya. “Segera setelah perjanjian itu ditandatangani, bendera kuning China (Dinasti Qing) dan bendera Union Jack (Inggris) dikibarkan bersama,” ungkap Sir Harry Parkes, salah satu diplomat yang menyaksikan, dikutip Stanley Lane-Poole dalam The Life of Sir Harry Parkes. Perjanjian itu lantas diratifikasi Kaisar Daoguang pada 27 Oktober dan Ratu Victoria pada 28 Desember di tahun yang sama. Isi perjanjiannya baru berlaku efektif pada 26 Juni 1843, ketika Hong Kong resmi berada di bawah ketiak Kekaisaran Inggris. Cengkeraman Inggris kian meluas setelah Konvensi Peking (Beijing), 18 Oktober 1860. Semenanjung Kowloon disewakan China kepada Inggris. Lewat Konvensi Ekstensi Wilayah Hong Kong (1898), di mana statusnya Inggris menyewa pada China selama 99 tahun, semenanjung ini lantas dijadikan wilayah perluasan Hong Kong. Di bawah kolonialisme Inggris, Hong Kong berkembang pesat, mengingat punya pelabuhan yang strategis. Tidak sedikit tokoh pergerakan yang memilihnya sebagai “suaka”. Tan Malaka, salah satunya, yang berkelana ke banyak negeri pasca-diusir pemerintah kolonial dari Hindia Belanda pada 1922. Tan singgah ke Kowloon, seberang pelabuhan Hong Kong, sejak pindah dari Shanghai dengan nama samaran Ong Soong Lee. “Kotanya dikelilingi perairan dan satu-satunya penghubung dengan Canton adalah jalur kereta api yang tentunya banyak diawasi polisi,” sebut Tan dalam otobiografinya, Dari Penjara ke Penjara, jilid 2. Tan Malaka memang jadi target operasi polisi penyelidik Inggris setelah bersua salah satu koleganya, Dawood. Tan pun diciduk kemudian dan diiterogasi polisi penyelidik Inggris dari Singapura berdarah India, Pritvy Chan. Tan dikira buron Filipina yang tengah dicari-cari oleh sang polisi. Tan kemudian ditransfer ke Markas Besar Kepolisian Hong Kong untuk interogasi lanjutan dengan Kepala Inspektur Murphy. Singkat cerita, Tan dalam tahanan Inggris di Hong Kong pernah diminta pemerintah Hindia Belanda untuk diekstradisi. Beruntung, otoritas Inggris di Hong Kong menolak lantaran kebijakan kolonialis Inggris melindungi para pelarian politik, meski kemudian Tan Malaka dideportasi. Seiring waktu, Hong Kong sempat lepas dari tangan Inggris gegara invasi Jepang, yang dimulai di pagi yang sama saat Jepang menyerang Pearl Harbor, 8 Desember 1941. Hong Kong lantas dibanjiri pengungsi dari kalangan terpelajar yang tak ingin jadi korban Perang Sipil China, usai Perang Pasifik. Banyaknya kaum terpelajar membuat industrialisasi Hong Kong bergulir pada 1950-an. Perlahan, Hong Kong jadi macan ekonomi. Status Hong Kong mulai jadi pembahasan lagi sejak 1979. Muara dari pembahasan itu adalah ditandatanganinya Deklarasi Bersama China-Inggris pada 19 Desember 1984. RRC menuntut Inggris mematuhi perjanjian konvensi tahun 1898. Inggris menyanggupi. Pada 1 Juli 1997, Hong Kong terlepas dari 156 tahun cengkeraman kolonialisme Inggris dan diserahkan ke RRC dengan catatan prinsip “Satu Negara, Dua Sistem”. Lukisan kapal-kapal Inggris menguasai Hong Kong karya RB Watson (Foto: sothebys.com) Hong Kong diizinkan menjalankan pemerintahan sendiri selama 50 tahun. Itu artinya, baru pada 2047 Hong Kong bisa benar-benar 100 persen di bawah sistem politik dan hukum RRC. Namun, Beijing tampaknya tak ingin menunggu sebegitu lama. Beberapa isu sudah lama ditebar ke dewan rakyat Hong Kong. Hal itu memicu protes dari rakyat Hong Kong. Pada 2012, gejolak muncul untuk memprotes rencana masuknya materi kurikulum pro RRC ke sekolah-sekolah di Hong Kong. Dua tahun berselang, demo besar-besaran terjadi untuk menentang regulasi pemilu di Hong Kong, terkait keterlibatan Beijing dalam pemilihan kepala eksekutif daerah otonomi Hong Kong. “Hong Kong hanya akan jadi kota China lainnya yang dikuasai Partai Komunis,” kata aktivis pro-demokrasi cum bos perusahaan media Next Digital Jimmy Lai dalam tulisannya di Nikei Asian Review. Isu UU Ekstradisi yang meletupkan gejolak saat ini makin menegaskan campur-tangan RRC. Tanpa UU Ekstradisi saja, kata massa, sudah terjadi beberapa penculikan oleh otoritas China terhadap sejumlah tersangka yang mengungsi ke Hong Kong. Konglomerat Xiao Jianhua, salah satunya. Dia diculik di Hotel Four Seasons pada Januari 2017. Sang pebisnis itu sudah dibawa ke tahanan di daratan China dan nasibnya belum jelas. “Jika undang-undang ini disahkan, di mana mungkin sebentar lagi, sama saja seperti gong kematian bagi Hong Kong yang dunia ketahui sekarang (bebas dan berdemokrasi),” tandas aktivis politik Ray Wong Toi-yeung, disitat Vox , 11 Juni 2019.
- Tiara Penolak Bala
SEPEKAN belakangan warganet lintas benua riuh berceloteh soal tiara yang dipakai Ratu Inggris Elizabeth II saat menjamu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Istana Buckingham, 4 Juni 2019. Pada gala makan malam kenegaraan itu Ratu Elizabeth II mengenakan tiara rubi merah. Tiara Burma sebutan resminya. Tiara berhias puluhan rubi merah asal Burma (kini Myanmar) itu dianggap warganet di linimasa Twitter punya makna tersembunyi, yakni untuk mengusir setan dan bala, merujuk pada Trump, sosok yang kontroversial. Helen Rose, salah satu warganet, mengungkit mitos bahwa batu rubi bagi masyarakat Burma adalah perhiasan penolak bala dan sial. “Ratu Elizabeth adalah pahlawan. Tiara yang menghiasi kepalanya terbuat dari 96 batu rubi yang dihadiahkan padanya saat pernikahannya dari rakyat Burma untuk mengusir bala dan penyakit. Saya mengaguminya karena skill -nya menghina Trump lewat perhiasan,” kicaunya dengan akun @helenjrose. Kicauannya hanya satu dari sekian banyak warganet yang berkomentar sumbang. Tapi, apa benar Ratu Elizabeth punya pesan terselubung lewat tiara yang dipakainya saat bersua Trump? Kado Pernikahan Tiara Burma itu merupakan modifikasi dua dari sekian kado pernikahan Elizabeth II dengan Philip Mountbatten pada 20 November 1947. Mengutip Lynne Bell, Arthur Bousfield dan Garry Toffoli dalam Queen and Consort: Elizabeth and Philip: 60 Years of Marriage , dua hadiah itu berupa kalung emas berhias 69 batu rubi merah persembahan rakyat Burma dan tiara berlian dari Mir Osman Ali Khan, nizam (penguasa) Negara Bagian Hyderabad. Saat pernikahan itu, Burma masih menjadi koloni Inggris dan dipimpin Laksamana Lord Louis Mountbatten sebagai penguasa militernya dengan gelar 1st Earl Mountbatten of Burma. Louis merupakan paman Philip. Untuk merayakan pernikahan Elizabeth II dan Philip, Louis menggelar pesta makan malam di mansionnya di Broadlands, setelah di siang harinya dihelat di Westminster Abbey. Elizabeth II menyapa rakyat Inggris pasca-prosesi pernikahan. (Repro Queen and Consort). "Jumlah (rubi) dengan angka 96 memiliki relevansi yang menarik; menurut cerita orang Burma, tubuh manusia dihantui 96 penyakit dan setiap rubinya merupakan penangkalnya. Entah magisnya masih bekerja saat hadiah pernikahan itu dibongkar atau tidak, masih belum diketahui, meski tentunya tindakan itu berlawanan dengan awal makna saat diberikan," tulis Diane Morgan dalam Fire and Blood: Rubies in Myth, Magic, and History . Sementara, berlian-berlian hiasan pendampingnya diambil dari tiara berlian buatan Cartier, perusahaan pembuat perhiasan ternama dunia, pemberian Mir Osman Ali Khan. Kala itu Osman memberi tiga hadiah sekaligus yang hingga kini masih utuh: tiara berlian, kalung berlian, dan bros berlian. Setelah naik takhta, Elizabeth II memadukan keduanya pada 1973. Pengerjaannya dipercayakan pada Asprey & Garrard Ltd (kini Garrard & Co.), perusahaan desain perhiasan langganan kerajaan. Tiaranya dibuat dengan bahan platinum berhias ukiran motif mawar tudor yang gemerlap dengan sejumlah bubuhan berlian dari Omar. Tiara itu kemudian ditambahkan 96 rubi merah Burma untuk membuat makin elegan dan kemewahannya kian mencolok. Kalung Rubi Ratu Elizabeth II persembahan rakyat Burma (Foto: Repro Queen and Consort) Memang, mulanya rubi-rubi itu diyakini orang Burma untuk menangkal bala. Namun sepertinya, takhayul itu tak dipercaya Ratu Elizabeth II. Dalam menjamu Trump pun bukan kali pertama ia mengenakan tiara itu. Saat menjamu (mendiang) Presiden Korea Selatan Roh Moo-hyun tahun 2004, ia pun mengenakannya. "Perhiasan dipakai sebagai bentuk penghormatan, bukan penghinaan; perhiasan dikenakan untuk membangun dan menjembatani persahabatan, bukan menghancurkannya. Bukan niat sang Ratu untuk membuat kontroversi. Enam dekade pemerintahannya digulirkan menghindari kontroversi sebisa mungkin dan selalu berusaha bersikap netral (soal politik)," sebut pakar perhiasan kerajaan Ella Kay, dikutip Town & Country , 4 Juni 2019.
- Sejarah Lahirnya Bank Syariah di Indonesia
BANK-bank umum mendirikan anak perusahaan bank syariah karena melihat potensi nasabah yang besar. Bagaimana sejarah munculnya bank syariah di Indonesia? Pada suatu hari, Sekretaris Jenderal MUI Prodjokoesoemo dan M. Amin Aziz, pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), mendatangi Sukamdani Sahid Gitosardjono. Pengusaha perhotelan ini menjabat Penasihat Yayasan Dana Dakwah yang didirikan MUI. Mereka menyampaikan maksud mendirikan sebuah bank. Amin Aziz ditujuk sebagai project officer pendirian bank itu. Sukamdani mengatakan bank yang sedang dirintis itu dinamakan bank tanpa bunga, yang didasarkan pada bagi hasil. Jadi tidak menyimpang dari hukum Islam: yang membungakan uang berarti riba. “Di Indonesia, bank bagi hasil memang belum ada. Namun, kita belajar pada bank Islam yang menerapkan bagi hasil –membagi hasil dengan orang yang menyimpan. Begitulah percakapan saya dengan dua tokoh MUI itu,” kata Sukamdani dalam otobiografinya, Wirausaha Mengabdi Pembangunan. Langkah selanjutnya diadakan pertemuan untuk membahas pembentukan PT dan membuat rumusan yang lebih tepat tentang bank Islam. “Dalam perundingan itu akan digunakan nama Bank Islam Indonesia, tapi nama tersebut kesannya terlalu berat,” kata Sukamdani. “Lantas dilakukan konsultasi dengan Pak Ismail Saleh, Menteri Kehakiman. Akhirnya disepakati nama Bank Muamalat Indonesia.” Surat permohonan izin kepada Presiden Soeharto dikirimkan melalui Menteri Sekretaris Negara Moerdiono. Soeharto menyampaikan akan membantu bila rencananya sudah konkret. Pada 13 Oktober 1991, MUI mengadakan pertemuan untuk membicarakan pembentukan Bank Muamalat Indonesia di Puri Hotel Sahid Jaya & Tower. Pertemuan yang dihadiri para pengusaha itu berhasil mengumpulkan dana Rp64 miliar. Hasil pertemuan dilaporkan kepada Presiden Soeharto. Pertemuan kedua diadakan pada 1 November 1991 di Prambanan Room Hotel Sahid. Diputuskan bahwa modal dasarnya Rp500 miliar dan modal yang disetor Rp100 miliar. Saat itu, modal yang disetor sudah mencapai kurang lebih Rp82 miliar. Tanggal ini ditetapkan sebagai awal Bank Muamalat memulai perjalanan bisnisnya. Namun, bank syariah pertama di Indonesia ini baru resmi beroperasi mulai 1 Mei 1992 dan ditetapkan sebagai hari ulang tahun Bank Muamalat. Pada 3 November 1991, atas prakarsa Presiden Soeharto, Bank Muamalat mengadakan pertemuan dengan masyarakat Jawa Barat dan para pengusaha nasional di Istana Bogor. Penjualan saham di Istana Bogor itu sukses. Seluruh saham yang terjual lebih dari Rp100 miliar. Di akhir Desember 1991, Sukamdani bertemu dengan Direktur Utama Bank Muamalat, Zainulbahar Noor. Dia menyampaikan bahwa Bank Muamalat berjalan sesuai harapan. “Kini di Bank Muamalat tercatat sekitar 5.000 nasabah. Bank dengan modal saham Rp500 miliar dan modal disetor hampir Rp90 miliar ternyata mempunyai kenaikan jumlah nasabah rata-rata 20 persen per bulan,” kata Zainulbahar Noor. Nasabah bank syariah terus tumbuh. Per Agustus 2018, total nasabah bank syariah berjumlah 23,18 juta, naik 13% dari tahun lalu sebesar 20,48 juta. Jejak Bank Muamalat pun diikuti bank-bank lain. Hingga kini terdapat 13 Bank Umum Syariah, 21 Unit Usaha Syariah, dan 167 Badan Perkreditan Rakyat Syariah di Indonesia. Ironisnya, Bank Muamalat yang sempat disebut sebagai bank tersehat di Indonesia, sejak 2015 mengalami masalah permodalan. Pionir bank syariah itu tengah mencari investor baru. Setelah beberapa konsorsium investor gagal, kini Al Falah Investment Pte Limited, konsorsium bentukan Ilham Habibie, berniat mengakuisisi sekitar 50,3% saham. Prosesnya sedang berjalan dan dalam pengawasan Otoritas Jasa Keuangan.*
- Abu Sinabung Kembali Membubung
GUNUNG Sinabung lagi-lagi menyemburkan awan panasnya. Dalam beberapa tahun terakhir, Sinabung memang cukup sering memperlihatkan aktivitasnya. Terkini, gunung api tertinggi di Sumatera Utara itu kembali meletus pada minggu kemarin (09/06). Letusan disertai suara gemuruh dan awan panas ke arah tenggara 3,5 km dan selatan 3 km. Erupsi berlangsung selama 9 menit. Ketinggian abu mencapai 7 km. Ini tergolong cukup tinggi. Melansir info dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), letusan kali ini belum memakan korban jiwa. Masyarakat sudah terbiasa melihat letusan gunung Sinabung sehingga sudah paham perilaku erupsi dan tidak panik melihat letusan. Sampai saat ini, status Sinabung ada di siaga level tiga dan berada di zona merah. Gunung Sinabung memuntahkan awan panas, 9 Juli 2019. Foto:Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sinabung terletak di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Gunung ini merupakan jenis gunung api strato berbentuk kerucut. Puncaknya berada di ketinggian 2451 meter diatas permukaan laut. Orang-orang suku Karo menyebutnya Deleng Sinabung. Berhadapan garis lurus dari Gunung Sinabung terdapat gunung Sibayak, gunung api tertinggi kedua (2212 mdpl) di Sumatera Utara. Jika dilihat kasat mata, gunung Sinabung kurang simetris kakinya, sementara gunung Sibayak ada bopeng di puncaknya. Dalam kepercayaan lama masyarakat Karo, kedua gunung ini saling terkait. Letusan hebat Gunung Sinabung terjadi pada 1600. Letusan itu melululantakkan dataran tinggi Tanah Karo. Kampung-kampung di lereng gunung tertimbun abu vulkanik akibat erupsi. Banyak korban jiwa yang meninggal. Bencana itu menyebabkan populasi suku Karo jadi lebih sedikit ketimbang suku Batak. Menurut Brahma Putro dalam Sejarah Karo dari Zaman ke Zaman Jilid 1, karena mengerikannya peristiwa letusan itu lahirlah cerita rakyat tentang Gunung Sinabung dan Sibayak. Dikisahkan bahwa Dewa Raja Umang Gunung Sinabung dan Dewa Raja Umang Gunung Sibayak berkelahi dengan hebatnya. Mereka memperebutkan Dewi Ratu Gunung Barus. “Akhirnya Dewa Raja Umang Gunung Sinabung dengan kesaktiannya memancung kepala gunung Sibayak dan putus, terbang ke dekat kampung Kaban yang dinamai sekarang Deleng Sikutu, sedang kaki gunung Sinabung dipancung oleh Dewa Raja Gunung Sibayak,” tulis Brahma Putro. Asap Erupsi Gunung Sinabung di Pagi Hari. Foto: common wikimedia. Gunung Sinabung menjinak setelah letusan dahsyatnya. Meski muntahan vulkaniknya menjadi bencana alam, kawasan gunung Sinabung termasuk salah satu lahan paling subur di Tanah Karo. Selama beratus tahun kemudian, Sinabung tidak lagi beraktivitas. Sebaliknya, Sibayak masih terus aktif. Di masa pendudukan Jepang, para serdadu Jepang menyaksikan Sinabung dengan takjub. Puncaknya kerap kali tertutupi oleh awan putih. Takao Fusayama, seorang perwira intelijen Jepang yang pernah bertugas di Tanah Karo dalam memoarnya A Japanese Memoir of Sumatra, 1945--1946: Love and Hatred in the Liberation War menyandingkan Sinabung sebagai gunung Fuji-nya Sumatera. Pesona yang sama tentang Sinabung juga diuraikan putra Karo kenamaan, Mangku Sitepu. “Ketika puncaknya tidak tertutup awan, gunung ini sangat indah dipandang dari kejauhan, meskipun sebenarnya gunung berapi ini penuh dengan jurang yang curam,” tulis Mangku dalam Corat-coret Anak Desa Berprofesi Ganda. Begitu lamanya Sinabung istirahat. Masyarakat sekitar sempat menyangka gunung itu sudah tidak aktif lagi. Sekira 17 desa berada di kaki gunung Sinabung. Penduduknya menggantungkan kehidupann dari hasil tanah yang subur untuk bercocok tanam . Namun, dari segi wisata, Sinabung masih kalah dengan saudaranya, Sibayak yang kerap jadi destinasi wisata pendakian. “Para turis alam sering mendaki puncak gunung Sibayak. Sementara itu, kurang diketahui apakah pendakian gunung Sinabung pernah dilakukan,” tulis Bungaran Antonius Simanjuntak, dkk dalam Sejarah Pariwisata: Menuju Perkembangan Pariwisata Indonesia. Pada 2010, Sinabung bangun dari tidurnya. Tanggal 29 Agustus, Sinabung menyemburkan awan panas dan meletus pada 7 September. Sebanyak 12 ribu warga terpaksa harus mengungsi. Pada 2013, Sinabung kembali meletus. Dan sejak itu, setiap tahun, Sinabung selalu “batuk” memuntahkan isi perutnya sampai saat ini.





















