top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • B.M. Diah Ditangkap Jepang Sebelum Pernikahan

    HARI pernikahan B.M. Diah dan Herawati Latip tinggal menghitung hari. Rencananya mereka akan menikah pada 18 Agustus 1942. Tiga hari menjelang pernikahan, kesibukan terlihat di kediaman dr. Latip, ayah Herawati. Selain tengah mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk pesta kecil yang akan diselenggarakan, orang-orang di rumah itu juga gempar karena calon pengantin pria “hilang”. “Padahal segala persiapan sudah jauh. Baju pengantin sudah jadi. Tukang rias pengantin sudah siap. Makanan sudah dipesan,” cerita Herawati dalam B.M. Diah Wartawan Serba Bisa karya Toeti Kakiailatu. Kabar penangkapan B.M. Diah tak hanya mengejutkan Herawati, tetapi juga keluarganya. Sebab, rencana pernikahan yang telah disiapkan sejak jauh-jauh hari terancam batal karena wartawan Asia Raya  itu dibawa Kempeitai  (polisi rahasia Jepang) beberapa hari menjelang pernikahannya.

  • Kisah Asmara Dua Perwarta

    SEKEMBALINYA dari Amerika Serikat untuk belajar ilmu jurnalistik di Bernard College, Columbia University, Siti Latifah Herawati Latip langsung meniti karier sebagai wartawan. Ia bekerja sebagai stringer (perantara) untuk wartawan Filipina yang ingin melakukan liputan di Hindia Belanda. "Wartawan itu Carlos Romulo yang beberapa tahu kemudian menjabat Menteri Luar Negeri negaranya,"  katanya dalam autobiografinya Kembara Tiada Berakhir. Ketika masa pendudukan Jepang, Herawati bekerja sebagai penyiar yang membacakan surat dari para tahanan perang di Radio Hosokyoku. Ia menerima pekerjaan ini setelah dibujuk sahabat ayahnya, dr. Latip, yang bernama Bahrum Rangkuty. Meski awalnya sempat menolak, Herawati mau menerima pekerjaan ini lantaran ada sisi kemanusiaan di dalamnya. Ia mulai bekerja pada April 1942 dan di sinilah ia bertemu Burhanudin Mohamad (B.M.) Diah yang kelak jadi suaminya.

  • Herawati Diah: Jurnalis Bisa Pengaruhi Pembaca

    SEJAK kecil, Siti Latifah Herawati Latip yang kemudian dikenal sebagai Herawati Diah lebih banyak bermain di luar. Main boneka merupakan hal menjemukan buatnya. Ia lebih suka memanjat pohon dan membaca buku, khususnya tentang suku Indian Amerika. Rambutnya juga dipotong pendek sehingga ia sering dijuluki “boy”. Herawati lahir di Belitung, 3 April 1917. Di sanalah ia menghabiskan sebagian masa kecilnya. Ayahnya, dokter Latip, bekerja sebagai tenaga medis pada perusahaan Belanda Biliton Maatschappij. Dokter Latip merupakan Jawa totok yang lahir dan besar di daerah Kadilangu, Demak. Sementara ibunda Herawati, Alimah, merupakan perempuan keturunan Aceh yang besar di Indramayu. Dokter Latip berharap Herawati kelak menjadi dokter dan memberinya nasihat bahwa dokter adalah profesi yang menjunjung tinggi kemanusiaan. “Tetapi saya tidak tertarik. Ngeri melihat darah,” kata Herawati dalam autobiografinya, Kembara Tiada Berakhir.

  • Herawati Diah Wartawati Brilian Penerus Jejak Sang Ibu

    LANTARAN diminta pihak sekolahnya untuk mengenakan pita oranye sebagai perayaan hari ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina, bocah Siti Latifah Herawati meminta pada ibunya, Siti Alimah, untuk disiapkan pita oranye. Betapa terkejutnya Herawati karena sang ibu justru melarangnya. Bagi Herawati, Ratu Wilhelmina ialah ratunya juga. Namun tidak bagi Alimah. “Mengapa?” tanya Herawati kecil, bersedih. “Karena kamu bukan orang Belanda,” kata Alimah. Alimah tak menjelaskan kalau oranye adalah warna Kerajaan Belanda. Alimah memang perempuan teguh pendirian, yang mendorong Herawati untuk terus belajar dan mengadopsi gaya hidup Barat. Hidup dalam tekanan kolonialisme membuatnya ingin melihat anak-anak dapat maju supaya sejajar dengan penjajah.

  • Polonia, Tanah Tuan Kebun Polandia di Medan

    SEBELUM pindah ke Kualanamu, Deliserdang, 11 tahun silam, Kota Medan punya bandar udara (bandara) bernama Polonia. Bandara Polonia terletak di Kecamatan Medan Polonia, sebelah selatan Kota Medan. Nama Polonia sendiri bukanlah lema dalam bahasa lokal, entah Melayu atau Batak, melainkan diserap dari satu nama negara di benua Eropa: Polandia. “Seorang berbangsa Polandia, ia membuka kebon tembako dilapangan terbang GIA sekarang dan kebon itu dinamakan ‘Polonia’. Sebab itulah nama tersebut melekat sampai sekarang,” demikian dilansir Mingguan Istimewa , 26 April 1959. Kampung Medan milik Kesultanan Deli kian menarik sejak pengusaha Belanda Jacobus Nienhuys menyulapnya jadi perkebunan tembakau. Begitu ekspor tembakau Deli laku keras di pasaran dunia, para pemodal Eropa dan Amerika kemudian berduyun-duyun ikut menanamkan modal ke Medan. Tidak terkecuali bagi Ludwik Baron Michalsky, seorang bangsawan rendahan asal Polandia, juga kepincut mendulang laba dari tembakau Deli di Medan.

  • Menelusuri London yang Tak Lazim

    SEBAGAI tujuan wisata, London adalah salah satu kota paling termashyur yang ingin dituju oleh para pelancong. Banyak situs-situs bersejarah di London yang masuk daftar wajib kunjung jika berkesempatan datang ke sana. Namun, ketika untuk kedua kalinya saya menjejakkan kaki di ibukota Inggris tersebut pada Juni 2015, sebagai seorang peminat sejarah kasual, saya berpikir ada baiknya juga mengunjungi situs sejarah alternatif. Jika dalam daftar wajib kunjung tempat-tempat seperti Big Ben atau Buckingham Palace ada di nomor satu atau dua, saya penasaran dengan tempat-tempat yang berada di nomor dua belas atau tiga belas. Ketika saya bilang ke resepsionis hotel bahwa hari itu saya akan pergi ke bangunan gereja bersejarah di London. Tanpa diduga, dia menggaruk-garuk kepala ketika saya mengatakan tempat yang akan saya kunjungi bukanlah Westminster Abbey. Memang ada banyak gereja dengan riwayat sejarah berabad-abad di ibukota Inggris tersebut, tapi saya lebih tertarik pada satu tempat yang belum tentu semua orang sadar dengan keberadaannya: Temple Church.

  • Repatriasi Harga Mati

    HARI masih pagi ketika Kapal Waterman tiba di Rotterdam, Belanda pada 6 September 1958. Kapal terakhir itu mengangkut ribuan orang Belanda dari Indonesia. Pemerintah Indonesia memulangkan (repatriasi) mereka sebagai buntut dari sengketa Irian Barat. Pada 29 November 1957, PBB gagal menyetujui resolusi yang menyerukan kepada Belanda supaya berunding dengan Indonesia soal Irian Barat. Irian Barat pun tetap di bawah kekuasaan Belanda. Sukarno menyatakan, jika mosi yang diajukan Indonesia di Sidang Umum PBB ditolak, pemerintah Indonesia akan mengambil “jalan lain yang akan mengejutkan dunia.”

  • Partono, Pilot Jadi Menteri

    PRESIDEN Sukarno beberapa kali melawat ke Jepang. Kunjungan terakhirnya pada Januari 1965 menghadapi masalah ketika akan kembali ke Indonesia. Petugas keamanan memberitahukan bahwa rute terbang melalui Okinawa, Hongkong, dan Manila, tidak aman. Setelah menerima laporan itu, Sukarno memanggil dan bertanya kepada Kapten Partono, pilot pesawat jet Garuda: apakah mampu untuk menerbangkan rombongan presiden secara nonstop melalui rute di luar peta penerbangan, yakni dari Tokyo langsung ke Biak di Irian Barat (Papua). “Kapten Partono menyatakan kesanggupannya untuk menerbangkan pesawat melalui rute yang panjang di barat daya Pasifik itu, walaupun penerbangan semacam itu, dengan membawa presiden, biasanya didahului dengan beberapa kali penerbangan penjajakan,” kata Ganis Harsono dalam Cakrawala Politik Era Sukarno . Saat itu, Ganis menjabat deputi menteri dan juru bicara Departemen Luar Negeri.

  • Keris yang Dikubur Bersama Pangeran Diponegoro

    PANGERAN Diponegoro memiliki banyak senjata pusaka berupa keris dan tombak. Sebagian besar pusakanya diberikan kepada putra dan putrinya, kecuali satu keris yang menyertainya ke liang lahad. Diponegoro memberikan keris Kiai Bromo Kedali (cundrik) dan tombak Kiai Rondan kepada Pangeran Diponegoro II; keris Kiai Habit (Abijoyo?) dan tombak Kiai Gagasono kepada Raden Mas Joned; keris Kiai Blabar dan tombak Kiai Mundingwangi kepada Raden Mas Raib. Keris Kiai Wreso Gemilar dan tombak Kiai Tejo diberikan kepada Raden Ayu Mertonegoro; keris Kiai Hatim dan tombak kiai Simo kepada Raden Ayu Joyokusumo; tombak Kiai Dipoyono kepada Rade Ajeng Impun; dan tombak Kiai Bandung kepada Raden Ajeng Munteng.

  • Di Balik Kutukan Keris Mpu Gandring

    KEN ANGROK dikutuk mati oleh Mpu Gandring. Maestro keris itu mengucap sumpah bahwa keris buatannya akan memutus hidup sang pendiri Singhasari dan tujuh turunannya. Begitulah Pararaton mengisahkan bagaimana Mpu Gadring, Tunggul Ametung, Kebo Ijo, Ken Angrok, Anusapati, hingga Tohjaya menemui ajalnya. Katuturanira Ken Anrok itu hanya memberikan penjelasan sederhana soal tragedi berdarah di keluarga Singhasari. Si penulis yang anonim hanya bilang kalau pembunuhan berantai terjadi akibat kutukan Mpu Gandring. Namun, di baliknya, menurut Dwi Cahyono, pengajar sejarah Universitas Negeri Malang, pertumpahan darah di singgasana Singhasari bukan cuma persoalan balas dendam. Tragedi itu lebih menunjukkan perebutan pengaruh antara trah Ken Angrok dan trah Tunggul Ametung. Secara lebih luas, drama itu merupakan kelanjutan usaha wilayah timur Gunung Kawi, yaitu Tumapel-Singhasari memisahkan diri dari genggaman Kadiri.

  • Korban Keris Mpu Gandring

    SIAPA yang tak kenal dengan kisah keris Mpu Gandring? Keris ini dikutuk pembuatnya, Mpu Gandring, akan membawa malapetaka. Keris pencabut maut ini dikisahkan dalam kitab Pararaton atau Katuturanira Ken Anrok (gubahan tahun 1478 dan 1486 tanpa disebutkan penggubahnya). Di luar mitos soal magis keris Mpu Gandring, kisah ini menggambarkan suksesi berdarah yang mengiringi perjalanan kerajaan Singasari, yang didirikan Ken Angrok. Berikut ini para korban kutukan keris Mpu Gandring.

  • Bianglala Kehidupan di Balik Kamp Interniran Jepang

    SETIAP pagi, orang-orang Belanda penghuni kamp interniran, harus berbaris menghadap ke sebelah timur arah matahari terbit. Kebiasaan ini mengikuti tradisi orang Jepang yang disebut seikerei sebagai wujud penghormatan kepada kaisar Jepang. Di bawah pemerintah pendudukan Jepang, orang Belanda tak bisa berbuat banyak. Mereka terpaksa ikut tunduk membungkuk di bawah sengatan terik mentari pagi. Celakanya, membungkuk ke arah matahari ketika seikerei itu bisa makan waktu lama. Sikap tunduknya bahkan bisa membentuk sudut tubuh mencapai 25 derajat hingga 40 derajat. Tak ayal, banyak interniran Belanda tak kuat sampai pingsan. Alih-alih ditolong, serdadu Jepang penjaga kamp malah menambah derita mereka dengan gamparan dan tendangan. Meski kehidupan kamp interniran di bawah represi Jepang, orang Belanda tak ingin tunduk bulat-bulat pada Jepang. Beredar cerita yang mengisahkan bagaimana mereka mempertahankan kesetiaan pada negaranya. Dengan segala cara walau berisiko bila ketahuan. Alkisah, seorang tawanan menyobek kain berwarna oranye, warna kebanggaan Kerajaan Belanda, dan membagikannya kepada tawanan lain. Mereka mengikatkan kain itu ke jempol kaki masing-masing. Ketika melakukan seikerei , mereka kuat membungkuk karena merasa memberi hormat kepada Sri Ratu Wilhelmina, bukan kepada Kaisar Jepang. Begitulah kehidupan dalam kamp interniran semasa pendudukan Jepang. Pakar cagar budaya, Nunus Supardi menuturkan beragam segi kehidupan di balik kamp interniran dalam dua buku, Documenta Historica Kamp Interniran: Masa Pendudukan Jepang hingga Revolusi di Indonesia dan Beragam Segi Kehidupan di Balik Kamp Interniran . Selain mencerminkan kekejaman perang, dia juga memotret kisah-kisah kemanusiaan yang dialami para tawanan. “Ada 864 kamp [interniran] di seluruh Indonesia dari Aceh sampai Papua. Cukup banyak. Yang paling dikenal dan dianggap sebagai kamp paling keras adalah Tjideng (Cideng)” terang Nunus dalam bedah bukunya di Galeri Cemara 6–Toety Heraty Museum, Jakarta Pusat, 1 April 2026. Kamp interniran yang dibangun pemerintah pendudukan Jepang ditujukan kepada warga Belanda dan sebagian orang Eropa. Menurut Nunus, Jepang ingin menghilangkan semua pengaruh Barat dan pemisahan yang tegas masyarakat Asia dari bangsa Barat. Andai kata tidak ditangani, warga Belanda dan Eropa yang jumlahnya mencapai 300.000 orang bakal membangun kekuatan untuk melawan Jepang. Selain itu, Jepang melalui kamp interniran ingin mempermalukan bangsa Barat, yang telah merendahkan Jepang untuk waktu yang lama. Diperkirakan sebanyak 294.000 orang Eropa, terutama Belanda, dijebloskan ke dalam kamp interniran yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka mulai dari perwira militer, warga biasa, perempuan, hingga anak-anak. Jumlah dan lokasi kamp interniran yang terdaftar sebanyak 864 kamp. Sebanyak 174 kamp di Jawa Barat, 191 kamp di Jawa Tengah, 179 kamp di Jawa Timur, 180 kamp di Sumatra, 50 kamp di Kalimantan, 39 kamp di Sulawesi, 26 kamp di Sunda kecil, 20 kamp di Maluku, dan 5 kamp di Papua. Bedah buku Beragam Segi Kehidupan di Balik Kamp Interniran: Masa Pendudukan Jepang hingga Akhir Revolusi di Indonesia . (Martin Sitompul/Historia.ID). Jenis kamp interniran bermacam-macam. Mulai dari kamp tahanan perang, kamp VIP atau tahanan orang penting, kamp anak laki-laki, kamp warga sipil, kamp penjahat, kamp tahanan dan penjara, kamp perlindungan, hingga kamp konsentrasi. Namun, tidak semua orang Belanda ditahan di kamp interniran. Mereka yang punya keahlian sebagai teknisi atau ahli di bidang tertentu dibebaskan dan dikaryakan oleh pemerintah pendudukan Jepang. Misalnya, Kepala Dinas Purbakala Hindia Belanda Willem Frederick Stutterheim, semula ditahan di Yogyakarta kemudian dipindahkan ke Batavia. Dia dibebaskan mengingat keahliannya sebagai arkeolog yang dibutuhkan pemerintah pendudukan Jepang. Orang-orang Belanda di kamp interniran hidup nelangsa. Berbanding terbalik dengan kehidupan mereka sebelumnya di masa kolonial sebagai warga kelas satu. Di kamp interniran, mereka harus berjuang untuk memperoleh makanan dan air bersih. Belum lagi kondisi kamp yang kotor dan sumpek lantaran tinggal berdesak-desakan. Nasib anak-anak paling memprihatinkan. Badan mereka kurus kerempeng karena kekurangan gizi. Tak sedikit pula anak-anak yang didera penyakit selama tinggal dalam kamp interniran. Dalam berbagai sumber Jepang, menurut sejarawan Universitas Indonesia Dwi Mulyatari, kamp interniran disebut sebagai “daerah perlindungan”. Jepang berkilah, kamp interniran bagi orang Belanda dan Eropa untuk melindungi mereka dari sasaran kebencian pemuda-pemuda Indonesia. Di balik itu, Jepang sejatinya hanya ingin mengamankan dan menawan mereka sebagai wujud hegemoni kekuasaan. “Bagi sejarawan, penting juga kita melihat sumber apa yang kita gunakan lalu istilah apa yang dipakai dalam sumber tersebut. Untuk sumber-sumber Kan Po , koran sezaman terbitan masa pendudukan Jepang yang memuat peraturan-peraturan pemerintah, kecenderungannya memakai kata yang diperhalus seperti daerah perlindungan. Atau untuk menjaga orang Belanda terhindar dari amukan pemuda revolusioner ketika memasuki masa revolusi,” jelas Mulyatari. Mulyatari juga mengutip kisah humanisme dalam kamp interniran tentang para biarawati yang membuat dan mengirimkan kartu ucapan Natal kepada sesama interniran. Meski sederhana, kartu ucapan Natal ini memberikan harapan akan keselamatan dan kedekatan kepada Tuhan. Sementara itu, Teuku Reza Fadeli, sejarawan Universitas Indonesia, menyatakan bahwa kamp interniran menggambarkan bagaimana memori dibuat, diproduksi, dan dijaga. Ini terlihat dari artefak-artefak sejarah yang ditinggalkan oleh para interniran. Banyak dari mereka menyelingi waktu dalam interniran dengan membuat lukisan, renda, bahkan centong nasi dengan ukiran unik. Itu semua membutuhkan pembacaan lebih lanjut untuk merekonstruksi sejarah dari keseharian para interniran. “Ini mungkin bisa dibingkai dalam studi lanjutan sebagai satu sumbangan studi memori atau bagaimana aspek gender juga membentuk pengalaman dari tawanan kamp interniran ini,” kata Reza.*

bottom of page