top of page

Arsitek Kesultanan Banten

Selain sebagai syahbandar kerajaan, dia juga arsitek pembangunan permukiman dan pertahanan Kesultanan Banten.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi: Micha Rainer Pali

19 Mar 2012
4 menit membaca

Diperbarui: 7 Mei

DUA pucuk surat tulisan tangan Kyai Ngabehi Cakradana tersimpan di Kopenhagen. Di muka amplop salah satunya bertahun 1671-1672, ditambahkan catatan dalam bahasa Denmark: "Cinabij Sabandorz hos sultanen til Bandtam" artinya "syahbandar kota Pecinan untuk sultan Banten." Dari kata-kata itu diketahui bahwa Cakradana adalah syahbandar kerajaan sekaligus pemimpin masyarakat Tionghoa. Ternyata tak hanya itu. Dia juga dikenal sebagai arsitek permukiman dan pertahanan Banten.


Tak diketahui pasti tempat dan tanggal lahir Cakradana, tapi kemungkinan dia lahir sebelum tahun 1630. Dia keturunan Tionghoa dan menyandang nama Tantseko. Mengawali karier sebagai pandai besi, dia kemudian diangkat menjadi syahbandar dan kepala bea cukai di bawah syahbandar utama, Kaytsu. Diduga, kedudukan sosial Cakradana naik berkat Kaytsu.


Cakradana menggantikan Kaytsu, yang wafat pada 1674, sebagai syahbandar utama pada 23 Februari 1677 dengan gelar Kyai Ngabehi Cakradana. Dia meninggalkan agama lamanya dan memeluk Islam. Sebuah sumber Inggris tahun 1666 menyebut Cakradana "orang yang paling disukai sultan." Pedagang Prancis di Banten, Jean-Baptiste de Guilhen, tak ragu menulis: "Jelas bahwa dia adalah anak emas raja."

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page