top of page

Awal Mula Lampu Penerangan Jalan di Surabaya

Mulanya penduduk Surabaya menggunakan obor atau tali upet sebagai penerangan di jalan. Kehadiran gas dan listrik membuat kota Surabaya terang benderang.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Lampu penerangan jalan (kanan) di Surabaya sekitar tahun 1900. (Compañia de Manila via KITLV).

  • 20 Des 2022
  • 3 menit membaca

Kerlap kerlip lampu yang menghiasi ruas-ruas jalan di Surabaya membuat kawasan tersebut terang benderang kala malam. Bagi sebagian orang berkeliling kota sembari melihat lampu yang menyala beraneka warna menjadi hiburan tersendiri.


Berbeda dengan masa kini, ratusan tahun silam berkeliling kota justru dianggap berbahaya dan tak diminati. Pasalnya,lampu penerangan belum tersedia, sehingga saat malam menjelang suasananya menjadi gelap gulita. Kondisi tersebut membuat penduduk Surabaya di abad ke-19 lebih memilih di dalam rumah dengan penerangan sederhana menggunakan lampu ublik.


Menurut Dukut Imam Widodo dalam Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe, lampu ublikmerupakan lampu menggunakan minyak jarak, minyak kelapa, atau minyak tanah. “Sebagian penduduk Surabaya menyebutnya cempluk,” tulis Dukut.


Namun, bila dalam kondisi mendesak seseorang diharuskan beraktivitas di luar rumah saat malam hari,biasanya ia akan membawa obor atau tali upet sebagai penerangan. Mengutip KBBI Daring, upet merupakan tali api yang terbuat dari sabut, irisan seludang bunga kelapa, dan sebagainya, yang mana jika dinyalakan ujungnya akan membara terus hingga habis.



Menurut Dukut, orang zaman dulu membawa upet dengan cara digulung dan disampirkan di bahu lalu ujungnya dinyalakan. Dengan menggunakan upet, seseorang yang beraktivitas di luar rumah saat malam dapat diketahui keberadaannya melalui percikan api kecil-kecil dari alat tersebut.


Wartawan sekaligus pemerhati sejarah Surabaya, Godfried Hariowald von Faber dalam Oud Soerabaiamenyebut pada masa itu muncul kebijakan yang mengatur penggunaan tali upet. Peraturan itudicabut pada 1 Maret 1864 setelah sejumlah lampu penerangan dipasang di kawasan Surabaya.


Berbeda dengan penduduk yang membawa obor atau tali upet,menurut G.H. von Faber, bila seorang pembesar bersikeras untuk pergi ke pesta maupun menghadiri pertemuan di malam hari, mereka biasanya akan menyuruh budaknya untuk berjalan di depan dengan membawa obor atau lampu minyak jarak dan menunjukkan jalan. Para pesuruh itu sesekali berteriak sebagai tanda bahwa kereta kuda sang tuan akan lewat.



Minimnya lampu penerangan membuat penduduk Surabaya mengeluhkan ketidakamanan di jalanan pada malam hari. Mereka khawatir saat tengah beraktivitas di luar rumah menjadi sasaran para preman. Oleh karena itu, pemerintah kolonial mulai memasang lampu penerangan jalan di sejumlah wilayah Surabaya pada 1858. Lampu penerangan tersebut menggunakan lampu ublik dengan bahan bakar minyak kelapa.


G.H. von Faber menulis,pemasangan lampu penerangan di sejumlah wilayah Surabaya dikontrakkan kepada seorang Tionghoa yang menerima 230 gulden sebulan untuk merawat dan menyalakan lampu pada malam hari. Ia juga harus mematikan lampu saat pagi tiba.

Namun,Dukut menyebut orang Tionghoa itu keberatan karena jumlah lampu ublik yang terpasang di wilayah Surabaya begitu banyak. Setelah melalui perdebatan panjang, pemerintah kolonial mengalah. Akhirnya, orang Tionghoa itu dibantu oleh 20 orang hukuman dari Penjara Kalisosok yang ditugaskan merawat lampu-lampu penerangan yang terpasang di wilayah Surabaya.


“Jadi, tugas ke-20 orang pesakitan tersebut adalah merawat lampu, termasuk mengelap kaca-kacanya dan juga memperbaiki sumbunya, serta memberinya minyak. Mereka juga bertugas nyumeti (menyalakan) lampu-lampu itu bila senja telah tiba. Lantas pagi harinya, mereka ditugasi nyebuli (mematikan) lampu-lampu itu,” tulis Dukut.



Seiring berjalannya waktu,penerangan jalan dengan lampu ublik berbahan bakar minyak kelapa dinilai kurang memadai karena cahayanyaterlalu redup. Pada 1864, pemerintah kolonial menganggarkan 2.500 gulden untuk membeli lampu penerangan berbahan bakar minyak tanah yang lebih terang dari lampu ublik.


Pemerintah kolonial juga tertarik pada penemuan baru. Seorang kontraktor berhasil menciptakan lampu yang memiliki mulut api. Lampu itu disebut 1000 brander atau 1000 mulut api. Penduduk menyebutnyadamar sewu karena memiliki sumbu yang banyak.


G.H. von Faber menceritakan, lampu itu menjadi pemberitaan hangat di kalangan masyarakat. Lampu yang digantung di tali di seberang jalan tersebut menyala lebar dan mendorong banyak orang ramai-ramai berdatangan untuk melihat secara langsung. Tak hanya mengesankan publik, pemerintah setempat pun terkesan dengan lampu itu hingga tertarik melakukan perjanjian jual-beli dengan kontraktor.



Sayangnya, perjanjian itu tak berjalan mulus. Tiga tahun kemudian, pada 2 April 1867, kontraktor enggan membuat dan memasang 1000 brander lagi di wilayah Surabaya karena tagihan yang diajukannya tak kunjung dibayar oleh pemerintah. Residen Surabaya kelabakan hingga meminta bantuan kepada siapa saja untuk mengatasi krisis keuangan pemerintah untuk pengadaan lampu penerangan jalan. Namun, upaya tersebut tak membawa hasil maksimal karena uang yang terkumpul tak cukup untuk membeli lampu penerangan jalan.


Memasuki pengujung abad ke-19, pada 1881 lampu penerangan berbahan gas mulai menerangi jalan-jalan di wilayah Surabaya. Di tahun 1920, lampu ini tak hanya terpasang di ruas-ruas jalan tetapi juga di taman-taman kota.


Dukut mencatat, total lampu gas di Surabaya mencapai 1.709 buah. Tak berselang lama,pada 1923 listrik mulai masuk ke Surabaya. Lampu gas yang menerangi kawasan itu diganti lampu listrik. Sinarnya yang terang membuat penduduk tak perlu lagi menggunakan obor atautali upet saat beraktivitas di luar rumah pada malam hari.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo melanjutkan pendidikan ke Belanda. Dia berjejaring dengan orang-orang dari berbagai negara dalam gerakan melawan imperialisme dan kolonialisme.
bg-gray.jpg
Taklik talak dalam buku nikah pada mulanya tak digubris. Sempat dituduh hendak mengubah hukum Islam.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah menjadi menteri perempuan pertama dalam sejarah Indonesia. Mengurus diplomasi, buruh, sampai bedak dan gincu.
bg-gray.jpg
Rasa kebangsaan Ahmad Subardjo tergugah oleh tulisan Soewardi Soerjaningrat dan pidato Tjokroaminoto. Dia juga sempat menggeluti teosofi.
Mampukah Jokowi dan Ahok menuntaskan masalah Jakarta yang diwariskan dari zaman ke zaman?
Mampukah Jokowi dan Ahok menuntaskan masalah Jakarta yang diwariskan dari zaman ke zaman?
Polisi berkunjung ke sekolah untuk mengimbau pelajar agar tidak tawuran. Yang dapat mengakhiri tawuran pelajar itu sendiri.
Polisi berkunjung ke sekolah untuk mengimbau pelajar agar tidak tawuran. Yang dapat mengakhiri tawuran pelajar itu sendiri.
Tukar-menukar kaos antara pemain usai pertandingan sepakbola sudah menjadi kelaziman. Larangan FIFA tak bisa menghentikan tradisi ini.
Tukar-menukar kaos antara pemain usai pertandingan sepakbola sudah menjadi kelaziman. Larangan FIFA tak bisa menghentikan tradisi ini.
Georgia jadi debutan di Piala Eropa 2024 dan berpotensi jadi tim kejutan. Seperti apa gerangan mulanya sepakbola di Tanah Kartvelia itu?
Georgia jadi debutan di Piala Eropa 2024 dan berpotensi jadi tim kejutan. Seperti apa gerangan mulanya sepakbola di Tanah Kartvelia itu?
Siapakah siluman yang disebut dalam sidang perselisihan hasil Pilpres di Mahkamah Konstitusi?
Siapakah siluman yang disebut dalam sidang perselisihan hasil Pilpres di Mahkamah Konstitusi?
K-Pop, budaya Korea yang ikut mengguncang penutupan Asian Games 2018 Jakarta-Palembang.
K-Pop, budaya Korea yang ikut mengguncang penutupan Asian Games 2018 Jakarta-Palembang.
transparant.png
bottom of page