top of page

Belanda Menghalangi Salat Id di Jakarta

Belanda menentukan Idul Fitri berbeda dengan pemerintah Indonesia. Belanda juga menghalangi umat Islam salat Id di Jakarta.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Mohammad Natsir sedang menyampaikan khotbah di hadapan jemaah salat Idul Fitri di Lapangan Banteng, Jakarta, pada 1951. (ANRI).

5 Mei 2022
2 menit membaca

Diperbarui: 21 Mar

LEBARAN 1 Syawal 1367 Hijriah jatuh pada hari Jumat, 6 Agustus 1948. Saat itu, Jakarta diduduki tentara Belanda. Pemerintah Republik Indonesia telah hijrah ke Yogyakarta. Bertepatan dengan bulan kemerdekaan, penduduk Jakarta bertekad mengadakan salat Id di halaman rumah Pegangsaan Timur 56, tempat Sukarno membacakan Proklamasi kemerdekaan. Bekas rumah Sukarno dijadikan gedung perwakilan pemerintah Indonesia.


Pada 4 Agustus 1948, PID (Politiek Inlichtingen Dienst atau Dinas Intelijen Politik) mendatangi panitia salat Id menyampaikan bahwa HTB (Hoofd Tijdelijk Bestuur atau Kepala Pemerintahan Sementara) melarang salat Id di lapangan Pegangsaan Timur 56.


Keesokan harinya, panitia menemui Pokrol Jenderal (Procureur Generaal atau Jaksa Agung) Belanda melaporkan soal larangan itu. Ternyata, pendirian Pokrol Jenderal juga sama dengan PID, keberatan salat Id dilaksanakan di Pegangsaan Timur 56.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page