top of page

Benteng Kuno Dayak dari Masa Tradisi Berburu Kepala

Para peneliti telah menggali benteng-benteng kuno Dayak berusia ribuan tahun. Salah satu fungsinya untuk berlindung dari serangan pemburu kepala.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 24 Jun 2020
  • 3 menit membaca

Dulu, ketika orang-orang Dayak masih sering memburu kepala musuh-musuhnya, mereka membangun perlindungan di balik benteng kayu ulin yang kokoh. Batang-batang kayu ulin disusun utuh berjajar begitu rapat menyerupai pagar keliling yang sangat tinggi. Beberapa di antaranya dilengkapi dengan menara pengintai.


Sepasang haramaung diletakkan untuk menjaga pintu masuknya. Macan dahan ini menjadi simbol keberanian dan perlindungan bagi masyarakat Ngaju. Dulu di depan pagar juga akan ada sosok muka dengan mata melotot dan lidah terjulur. Si muka seram di tiang kambelawit inilah penghalau setiap hal buruk yang datang.


Kini yang ada hanyalah tiang kosong yang tampak di permukaan tanah. Pencuri telah mengambil patung macan penjaga itu dengan memangkasnya dari tiang.


Patung kambelawit itu juga sekarang sudah tak utuh lagi. Tiangnya pun telah aus.


Sementara itu, sebagian besar tiang pagar sudah tak terlihat. Banyak yang hilang. Ada pula yang terpendam di dalam tanah.


Begitu paling tidak yang bisa terlihat dari sisa-sisa bangunan Kuta Mapot dan Hantapang di Daerah Aliran Sungai Kahayan. Kuta adalah cara masyarakat Dayak Ngaju menyebut bangunan benteng bikinannya.


Sudah Ribuan Tahun


Di dalam sebuah kuta, biasanya terdapat rumah betang, rumah panggung panjang di mana masyarakat Ngaju berdiam. Di depan rumah betang seringnya terdapat sandung, sebuah kubur sekunder berbentuk rumah panggung kecil. Masyarakat Ngaju menyimpan sisa tulang belulang tokoh yang mereka hormati di dalamnya.


Kebutuhan sumber makanan tersedia di lumbung. Ada pula kuta yang dilengkapi dengan patahu, bangunan kecil berisi penjaga kelompok masyarakat di dalam kuta.


Teknologi hunian benteng semacam itu telah diwarisi masyarakat Ngaju sejak berabad silam. Yang tertua sementara ini adalah Kuta Mapot yang telah dihuni sejak abad ke-4 atau sekira 1.700 tahun yang lalu.


“Secara fitrah manusia cenderung membentengi diri, seperti juga orang Dayak membentengi diri dengan benteng keliling,” kata Sunarningsih, peneliti Balai Arkeologi Kalimantan Selatan dalam diskusi via zoom bertajuk “Misteri Kuta di Kalimantan” yang diadakan oleh Balai Arkeologi Kalimantan Selatan, Selasa, 23 Juni 2020.


Sampai abad ke-19 benteng-benteng perlindungan masyarakat Ngaju itu masih bisa diamati dengan baik. Setidaknya bisa tergambar jelas dalam catatan geolog dan naturalis Jerman, Carl Schwaner yang melakukan ekspedisi menembus pedalaman Borneo pada 1843–1847.

Dalam penjelajahannya, di sepanjang sungai utama di Kalimantan bagian tengah, Schwaner banyak menemukan hunian berbenteng. Ia menyebut hunian itu dengan istilah kotta. Ia mendata ada sembilan kottadi sepanjang Sungai Barito, 26 kottadi Kapuas, dan 62 kotta di Kahayan.


Kuta, atau yang oleh Schwaner ditulis kotta, adalah sistem pertahanan yang dimiliki masyarakat Dayak Ngaju yang hidup di sepanjang sungai Barito, Kapuas, dan Kahayan di Kalimantan bagian tengah,” kata Sunarningsih.


Balai Arkeologi Kalimantan Selatan masih bisa mendata beberapa kutaketika melakukan penelusuran pada 2013 di sepanjang DAS Kahayan dari hilir hingga hulu. Misalnya,kuta di Kuala Kurun yang berada di tepi Sungai Kahayan. Tanda-tandanya sudah tidak terlihat, kecuali keberadaan bangunan sandung.


Sejumlah lokasi penemuan benteng sudah bisa diperkirakan umurnya. Misalnya, Kuta Amai Rawang di atas bukit batudiperkirakan berasal dari abad ke-15. Kuta Madehan dihuni pada sekira abad ke-12.


Peneliti Balai Arkeologi Kalimantan Selatan sudah menggali beberapa kuta. Misalnya, dari sampel arang didapat pertanggalan ablosut bahwa pembangunan Kuta Hantapang sudah dimulai sejak 1300–1800. Sedangkan Kuta Bataguh menunjukkan pertanggalan sejak 400 hingga 1800, sama dengan pertanggalan Kuta Mapot.


Dihuni Ketika Ada Serangan


Mansyur, sejarawan Universitas Lambung Makurat Banjarmasin, menjelaskan kuta diperkirakan awalnya dibangun pada zaman Tetek Tatum atau zaman Ratap Tangis.


“Zaman ini dikenal juga dengan zaman Haasang atau perang, bunuh membunuh antarsuku dan wabah sehingga banyak penduduk yang mengungsi,” kata Mansyur.


Kondisi masyarakat Ngaju yang masih melakukan tradisi pengayauan, berburu kepala musuh, menyebabkan munculnya bentuk rumah betang berpagar keliling. Hunian semacam ini dianggap lebih aman.


Ketika terjadi serangan, kata Sunarningsih, kelompok tersebut akan berlindung di dalam kuta. Mereka masih bisa beraktivitas dan bertahan hidup, karena berbagai fasilitas tersedia di dalam kuta. Kebutuhan logistik juga tersimpan di dalam lumbung.


“Apabila serangan musuh sudah berhenti untuk sementara, penghuni kuta akan beraktivitas seperti biasa, baik di ladang maupun di sungai untuk melanjutkan kehidupan mereka,” kata Sunarningsih.


Kuta diperkirakan tak dipakai lagi setelah perjanjian damai Tumbang Anoi pada 1894. Namun, pada tahun-tahun setelahnya tampaknya masih terjadi aktivitas kayau pada beberapa tempat tertentu di wilayah Kalimantan.


 “Aktivitas tersebut tidak dengan serta merta langsung berhenti,” kata Sunarningsih.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
transparant.png
bottom of page