- 6 Okt 2020
- 3 menit membaca
Diperbarui: 7 Mei
DI TENGAH kesibukannya mempersiapkan Kongres Indonesia Muda (IM) VI di Surabaya, Desember 1936, Roeslan Abdulgani dikagetkan oleh kunjungan seorang pemuda. Roeslan, pejabat Ketua Pengurus Besar IM yang dipilih untuk menggantikan Ketua Sukarni yang menghilang setelah digerebek oleh PID pada 19 Juni 1936, tak menyangka pemuda yang mendatanginya itu adalah Sukarni yang selama ini dicari-cari.
“Dia datang naik perahu dan berpakaian hitam-hitam ala orang Madura. Perahunya berhenti malam-malam di pinggir Sungai Kalimas, sekitar daerah Kampung Plampitan, dekat rumah saya,” kata Roeslan dalam testimoni “Pejuang Kemerdekaan yang Merakyat” yang termuat di buku Sukarni Dalam Kenangan Teman-Temannya suntingan Sumono Mustoffa.
Oleh Roeslan dan kawan-kawannya, Sukarni pun langsung disembunyikan. Sukarni, yang sudah kehilangan jabatan di IM, dalam kunjungan rahasia itu hanya ingin memesankan kepada rekan-rekannya agar IM tetap berjiwa radikal-revolusioner meski situasi yang dibuat pemerintah kolonial sudah amat membahayakan gerakan nasionalisme.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















