top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Cerita Liem Swie King Terobos Banjir

Banjir besar mengganggu lalu lintas Kudus-Demak-Semarang. Demi bisa mengikuti pelatnas All England, Liem Swie King naik rakit dari Demak menuju Semarang.

4 Jan 2023

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Liem Swie King. (Randy Wirayudha/Historia.ID).

  • 5 Jan 2023
  • 3 menit membaca

HUJAN deras di pengujung tahun 2022 mengakibatkan sejumlah daerah di wilayah Semarang terendam banjir. Banjir yang sempat merendam stasiun di kota Semarang itu, ramai disorot publik di awal tahun 2023, karena menyebabkan keterlambatan jadwal kereta api selama beberapa jam.


Banjir yang melanda wilayah Semarang di awal tahun 2023 ini bukan yang pertama kali terjadi. Pada 1976 banjir besar juga merendam sejumlah wilayah di pantai utara Jawa Tengah. Dampak banjir besar itu dirasakan Liem Swie King.


Robert Adhi Ksp dalam Panggil Aku King mengisahkan perjuangan legenda bulutangkis Indonesia itu saat terdampak banjir ketika hendak mengikuti pelatnas (pemusatan latihan nasional) All England di Jakarta di awal tahun 1976.


Menurut pria kelahiran Kudus, 28 Februari 1956 itu banjir besar merendam wilayah pantai utara di awal 1976 hingga mengganggu lalu lintas Kudus-Demak-Semarang. Akses yang sulit dilalui akibat banjir membuat aktivitas masyarakat di wilayah tersebut menjadi terganggu. Meski begitu banjir tak mengendurkan semangat Liem Swie King untuk berangkat ke pelatnas di Jakarta.


Baca juga: Boikot All England


“Tekadku sudah bulat,” kata King. “Semangatku menguat. Aku tidak ingin terlambat masuk pelatnas seperti tahun-tahun sebelumnya.”


Liem Swie King berangkat dari Kudus ke Demak menggunakan bus umum. Setibanya di Demak, jalan menuju Semarang terputus oleh banjir. Tak mungkin menunggu banjir surut, King kemudian menggunakan rakit yang dibuat penduduk untuk melintasi Demak-Semarang yang terputus sepanjang 5 kilometer.


“Dengan rakit itu, aku membawa satu koper pakaian untuk tinggal di pelatnas. Ini untuk kali pertama aku menggunakan rakit. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan seumur hidupku. Pengalaman berkesan pada saat awal aku memutuskan memilih dunia bulutangkis sebagai masa depanku,” kata King.


Banjir menyebabkan jalan yang menghubungkan wilayah Demak dengan Semarang tampak lengang. Tak ada satu pun mobil yang lewat di sana. Kesibukan justru terlihat dari beberapa orang yang juga menaiki rakit untuk beraktivitas di tengah banjir.



Setelah melintasi banjir sepanjang 5 kilometer, Liem Swie King kemudian menumpang truk militer bersama warga untuk menembus Semarang. Sebab, kondisi jalan yang masih tergenang banjir sulit dilalui mobil-mobil kecil. Akibat banjir, perjalanan dari Kudus menuju Semarang, yang biasanya ditempuh dalam satu jam,menjadi lebih lama bahkan sampai enam jam.


Sesampainya di Semarang, Liem Swie King langsung menuju kantor KONI Jawa Tengah untuk mengurus sejumlah hal terkait keberangkatannya ke pelatnas All England di Jakarta. “Aku langsung mendapatkan tiket pesawat ke Jakarta, dan akhirnya dapat bergabung di pelatnas All England bersama pemain-pemain lainnya,” kata King.


Liem Swie King terlambat dua minggu masuk pelatnas di Jakarta yang dimulai sejak 5 Januari 1976. Selain terdampak banjir, King juga sempat bimbang memutuskan antara kuliah atau bulutangkis. Mengikuti keinginan ayahnya, King sempat mengikuti tes masuk Fakultas Teknik Universitas Diponegoro di Semarang. Namun,akhirnya King memutuskan untuk menekuni bulutangkis.



Keputusan tersebut membuat Liem Swie King giat berlatih dan bertekad menjadi atlet yang berprestasi. Sejumlah pertandingan pun diikutinya, salah satunya All England. Sam Setyautama dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia menulis, Liem Swie King yang memulai debut di All England 1974 sempat menjadi runner up All England 1976 dan 1977. King dikalahkan Rudy Hartono Kurniawan dan Flemming Delfs.


Nama Liem Swie King melambung setelah menjuarai All England sebanyak tiga kali, yakni tahun 1978 mengalahkan Rudy Hartono; tahun 1979 mengalahkan Flemming Delfs; dan tahun 1981 mengalahkan Prakash Padukone. Selain berlaga di All England, King juga menjadi bagian dari Tim Piala Thomas Indonesia tahun 1976, 1978, 1982, 1984, dan 1986. King sukses menjadi juara tunggal putra Piala Dunia 1982, juara ganda putra Piala Dunia 1984, 1985, dan 1986. Dengan sederet prestasi yang berhasil diraih, Liem Swie King tercatat sebagai salah satu legenda bulutangkis Indonesia yang namanya akan selalu dikenang.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page