top of page

Dari Banteng Raiders ke Baret Merah

Jawa Tengah pernah punya tiga batalyon Banteng Raiders. Satu tetap di Srondol dan sisanya menjadi bagian dari Baret Merah Kandang Menjangan.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 9 Apr 2023
  • 2 menit membaca

SETELAH lebih dari satu dekade, pasukan Banteng Raiders di Jawa Tengah makin berpengalaman dalam banyak pertempuran. Baik melawan DI/TII di Jawa Tengah, PRRI di Sumatra Barat, maupun terlibat dalam perebutan Irian Barat. Jumlah personelnya semakin besar.


Ketika Ahmad Yani, perintis Banteng Raiders menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Banteng Raiders sudah sebesar tiga batalyon. Batalyon Infanteri 436 menjadi Banteng Raiders I di Magelang, Batalyon Infanteri 454 sebagai Banteng Raiders II di Srondol, dan Batalyon Infanteri 441 sebagai Banteng Raiders III di Jatingaleh.


Banyak anggota Banteng Raiders I kemudian masuk ke dalam Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Sukarno pada 1962. Termasuk Sersan Bungkus dan Kopral Ishak Bahar. Meski demikian batalyon Banteng Raiders I dan III tetap ada.


“Di Tjakra, komandan batalyon saya adalah Ali Ebram. Seorang letnan kolonel. Ketika seluruh struktur komando Resimen Tjakrabirawa akhirnya terbentuk, Pak Ali Ebram diangkat menjadi kepala staf resimen. Untung didatangkan untuk menggantikannya sebagai komandan batalyon,” kata Sersan Mayor Bungkus dalam “The World Of Sergeant Major Bungkus”, jurnal Indonesia No. 78, Oktober 2004. Kompi C pada batalyon ini kemudian terlibat dalam Gerakan 30 September 1965.



Ketika Yani menjadi KSAD, ada juga anggota Banteng Raiders yang masuk pasukan khusus Angkatan Darat, yaitu Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Program ini dimulai pada akhir tahun 1963.


“Unit pertama yang dipilih untuk konversi adalah Batalyon 441 Banteng Raiders III yang berbasis di Semarang,” catat Ken Conboy dalam Kopassus: Inside Indonesia’s Special Forces. Setelah pelatihan di Batujajar, mereka menjadi Batalyon 3 RPKAD. Mereka pun jadi prajurit Baret Merah.


Berikutnya adalah batalyon Banteng Raiders I di Magelang. Setelah dilatih ala RPKAD, batalyon ini ditugaskan dalam Brigade Lintas Udara di bawah Letnan Kolonel Mung Parhadimulyo di Papua Barat. Mereka kembali pada paruh kedua tahun 1965 dan kemudian dijadikan sebagai Batalyon 2 RPKAD di Tuguran, Magelang. Mayor Soeweno pernah menjadi komandan batalyon Baret Merah ini.



Dalam batalyon-batalyon yang berisi prajurit Banteng Raiders itu juga terdapat perwira muda lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang. Di antara perwira pertama di batalyon itu adalah Letnan Satu Feisal Tanjung, Letnan Kentot Harseno, dan Letnan Dua Sintong Panjaitan.


Batalyon 3 RPKAD, yang berbasis di Kandang Menjangan dekat Solo, pernah akan dikirim ke perbatasan dalam rangka Konfrontasi Malaysia. Namun, mereka tidak mengatasnamakan RPKAD. Hendro Subroto dalam biografi Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando menyebut mereka tidak membawa baju loreng darah mengalir dan baret merah kebanggaan mereka. Mereka dalam rangka operasi klandestin.



Mereka tak pernah berangkat ke perbatasan karena G30S meletus dan petinggi Angkatan Darat memerlukan mereka di Jakarta. Sintong bersama satu peleton RPKAD diperintahkan menyerbu gedung Radio Republik Indonesia di Merdeka Barat. Setelah kembali ke Kandang Menjangan, giliran Feisal Tanjung memimpin kompi RPKAD memberantas kelompok Mbah Suro yang disinyalir terkait G30S di Jawa Tengah.


Pada 1966, RPKAD berubah nama menjadi Pusat Pasukan Khusus Angkatan Darat (Puspassus AD) dan pada 1971 berubah lagi menjadi Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha). Dari Tuguran, Magelang bekas Batalyon 2 RPKAD yang menjadi Grup 2/Sandi Yudha pindah markas ke Kandang Menjangan.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
bg-gray.jpg
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
bg-gray.jpg
Kala ditugaskan ke Pontianak, Rudy Blatt dapat informasi pembantaian rakyat oleh Jepang. Berinisiatif mencari para penjahat perang Jepang itu.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
transparant.png
bottom of page