top of page

Datu Adil, Raja Tarakan yang Melawan Belanda

Lantaran pajak, raja Tarakan ini melawan Belanda dengan memerangi sekutunya. Berakhir dibuang.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 30 Jul 2024
  • 3 menit membaca

DARI sekian landmark yang dimiliki Kota Tarakan, terdapat sebuah stadion bernama Datu Adil. Jaraknya tak sampai lima kilometer dari Bandara Juwata sebagai pintu masuk ke kota yang jadi pusat pemerintahan Kalimantan Utara itu.


Nama Datu Adil berasal dari nama orang penting di Tarakan tempo dulu. Kendati hanya sedikit catatan tentangnya, Datu Adil dikenal sebagai raja Tarakan.


Orang Tarakan terkait dengan etnis Tidung. Menurut Kapten Pieter van Genderen Stort dalam Nederlandsch-Tidoengsch Tinggalèn DajèkscheWoordenlijst, orang Tidung berbeda dari orang Bulungan yang keturunan Kayan. Orang Tidung dianggap sebagai bagian dari Murut atau Murutic. Dalam Sistem Pengendalian Sosial Tradisional di Daerah Kalimantan Timur, Mohamad Arsyad dkk. menyebut orang Tidung berasal dari daerah pegunungan di Kecamatan Malinau dan Sesayap dan di sana pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Tanah Tidung. Mereka mendiami sepanjang pantai Pulau Tarakan.



Pulau Tarakan yang mulanya sepi, lama-kelamaan berkembang. Sekitar tahun 1850 Tarakan menjadi daerah penghasil sarang buruh walet, emas, rotan, karet, garam dan lainnya. Sepuluh tahun kemudian, pemerintah kolonial Belanda menjadikannya titik perdagangan.


Setelah minyak ditemukan pada 1896, jumlah penduduk Tarakan terus bertambah. Tarakan Mijnbouw Maatschappij sejak 1899 mulai beroperasi menggali minyak di daerah ini. Pengeboran dilakukan di pantai utama, Pamusian dan Juwata. Bataafsch Petroleum Maatschappij (BPM) kemudian menguasai minyak di sini, menjadikan Tarakan sebagai salah satu produsen utama minyak di Hindia Belanda.


“Industri minyak di Indonesia berkembang dengan pesat dan pada 1924 jumlah konsesi minyak telah meningkat menjadi 119, meliputi total wilayah seluas 6.400 km persegi. Total produksi juga meningkat menjadi 22,6 juta barel, yang 95 persennya berasal dari Royal Dutch/Shell Group dan sisanya dari NKPM. Kepentingan relatif dari produksi regional jika dibandingkan dengan situasi pada tahun 1911 juga telah berubah secara signifikan: Kalimantan Timur tetap menjadi produsen terbesar dengan 36 persen, tetapi Tarakan di Kalimantan Timur Laut melonjak ke posisi kedua dengan 32 persen, sementara produksi di Sumatera Utara menurun menjadi 6 persen dari total produksi Indonesia. Sumatera Selatan memproduksi 17 persen dan Jawa 9 persen,” tulis Ooi Jin Bee dalam The Petroleum Resources of Indonesia.



Dengan kekayaan minyaknya, Tarakan menjadi maju yang menjadi salah satu sumber pundi pemerintah kolonial. Tentu saja pemerintah menarik pajak darinya.


Pajak itulah yang kerap memicu konflik dengan para penguasa lokal yang telah turun-temurun berkuasa. Datu Adil salah satunya. Ia juga melawan Belanda. Perlawanan tersebut terkait dengan pajak.


“1915: Datu Adil dan Datu Djamalul bergelar Raja Tarakan bergerak melawan Kerajaan Bulungan. Akhirnya kedua Datu itu ditangkap serta diasingkan di Manado,” begitu catat Kyai Amir Hasan Bondan dalam Suluh Sedjarah Kalimantan.



Perlawanan Datu Adil dan Datu Djamalul itu diberitakan koran Belanda seperti De Preanger-bode dan Bataviaasch Nieuwsblad. Pada Desember 1914, Datu Adil dituduh sebagai penghasut yang memusuhi pemerintah kolonial sekaligus sultan Bulungan yang merupakan raja bawahan atau Swapraja Kerajaan Belanda di Kalimantan Utara. Tarakan dianggap Belanda sebagai daerah bawahan Bulungan.


“Di Bulungan, Datu Adil, yang menyebut dirinya Raja Tarakan, bersama dengan saudaranya Datu Djamalu (Datu Djamalul), bersama Datu-datu selama ini telah, setidaknya empat tahun terakhir secara pasif menolak pemerintahan swapraja,” lapor residen Kalimantan bagian Selatan dan Timur, seperti diberitakan koran De Preanger-Bode tanggal 21 Februari 1915.


Datu Adil dan Datu Djamalul mengajak setidaknya 20 orang dari Peningki dan Salimbatu untuk membangkang pada sultan. Dibantu Haji Maulana, kedua Datu itu telah menghasut banyak orang untuk tidak tunduk kepada sultan Bulungan plus tidak pula membayar pajak.



Tindakan mereka memancing reaksi dari pemerintah kolonial. Aparat hukum pemerintah kolonial di sana pun segera bertindak. Pada 21 Desember 1914, Datu Adil, Datu Djumalal, dan Haji Maulana diamankan aparat yang diperintahkan asisten residen yang berkedudukan di Samarinda. Koran Sumtra Bode edisi 26 April 1917 menyebut patroli tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) digerakkan memasuki kampung-kampung yang terkait perlawanan.


“Pada tanggal 21 bulan pelaporan, atas perintah asisten residen Samarinda, Hadji Maulana dan kedua Datu ditangkap tanpa masalah dan ditempatkan di penjara Tanjung Selor untuk sementara waktu. Dengan kapal daerah ‘Hazenwind’, demi pemulihan hukum dan ketertiban yang cepat, mereka dibawa ke Samarinda dan dipenjarakan,” demikian Het Vaderland tanggal 4 April 1915 memberitakan.


Setelah ketiga pemimpin perlawanan tadi dibawa ke Samarinda dengan kapal laut Hazenwind, perlakuan yang diterima masing-masing berbeda. Haji Maulana akan disidang dalam Karapatan Besar Bulungan. Sementara Datu Adil dan Datu Djumalal kemudian diasingkan ke Manado. Datu Adil dan Datu Djumalal adalah keturunan mantan raja atau kepala suku Tarakan. Lantaran hal itu, pengaruh kedua Datu itu di Tarakan cukup besar.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
bg-gray.jpg
Kala ditugaskan ke Pontianak, Rudy Blatt dapat informasi pembantaian rakyat oleh Jepang. Berinisiatif mencari para penjahat perang Jepang itu.
bg-gray.jpg
Pernah berguru ke Rahmah El Yunusiyah dan H.R. Rasuna Said, Shamsiah Fakeh getol memperjuangkan kemerdekaan negeri dan kaumnya. Kini, buku memoar aktivis Malaysia berdarah Minang itu dilarang pemerintah Malaysia.
bg-gray.jpg
Dalam novel-novel karangannya, Motinggo Boesje menyuguhkan bumbu seksualitas dan erotisme yang digandrungi pembaca. Di akhir masa kepengarangannya, dia menekuni sastra serius.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Pablo Escobar mengisi kebun binatangnya dengan kuda nil. Setelah kematiannya, kuda nil itu berkembang biak tak terkendali hingga menimbulkan masalah.
Pablo Escobar mengisi kebun binatangnya dengan kuda nil. Setelah kematiannya, kuda nil itu berkembang biak tak terkendali hingga menimbulkan masalah.
transparant.png
bottom of page