top of page

Datu Adil, Raja Tarakan yang Melawan Belanda

Lantaran pajak, raja Tarakan ini melawan Belanda dengan memerangi sekutunya. Berakhir dibuang.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sumur pengeboran minyak milik BPM di Tarakan. Sumber kekayaan pemerintah sekaligus sumber masalah bagi penguasa lokal. (Tropenmuseum/Wikipedia.org)

30 Jul 2024
3 menit membaca

Diperbarui: 25 Agu

DARI sekian landmark yang dimiliki Kota Tarakan, terdapat sebuah stadion bernama Datu Adil. Jaraknya tak sampai lima kilometer dari Bandara Juwata sebagai pintu masuk ke kota yang jadi pusat pemerintahan Kalimantan Utara itu.


Nama Datu Adil berasal dari nama orang penting di Tarakan tempo dulu. Kendati hanya sedikit catatan tentangnya, Datu Adil dikenal sebagai raja Tarakan.


Orang Tarakan terkait dengan etnis Tidung. Menurut Kapten Pieter van Genderen Stort dalam Nederlandsch-Tidoengsch Tinggalèn DajèkscheWoordenlijst, orang Tidung berbeda dari orang Bulungan yang keturunan Kayan. Orang Tidung dianggap sebagai bagian dari Murut atau Murutic.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page