top of page

Delapan Diaspora Filipina di Barcelona dan Madrid

Jauh sebelum pemain naturalisasi Indonesia berkiprah di pentas Eropa, diaspora Filipina sudah lebih dulu pamer aksi dengan beragam rekor.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Skuad FC Barcelona tahun 1915 yang turut diisi punggawa diaspora Filipina. (Diputació de Barcelona).

14 Feb 2025
7 menit membaca

Diperbarui: 29 Des 2025

BEK timnas Indonesia Jay Idzes belakangan jadi perbincangan hangat setelah didapuk jadi kapten klub Seria A Italia, Venezia FC. Pun kompatriotnya, Rizky Ridho, santer digosipkan tengah dilirik klub Como 1907. Bersama Thom Haye (bermain untuk Almere City) dan beberapa pemain berpaspor Indonesia hasil naturalisasi yang juga berkiprah di liga-liga teratas Eropa yang lain, mereka sedang menikmati kebintangan mereka di hadapan publik tanah air.


Namun, mereka bukan pemain naturalisasi Indonesia pertama yang “abroad” dan pernah main di Eredivisie (Belanda). Adalah Arnold Wouter ‘Nol’ van der Vin yang tercatat sebagai pemain naturalasasi Indonesia pertama yang abroad. Di musim 1954-1955, Arnold merumput bersama Fortuna ‘54 (kini Fortuna Sittard). Ia tercatat jadi satu dari sekian “naturalisasi” berdarah Belanda yang memilih timnas Indonesia pasca-era kemerdekaan selain Boelard van Tuyl, Pieterseen, Van der Berg, dan Pesch. 


Akar sejarah begitu mengikat di persepakbolaan antara negeri mantan penjajah maupun yang terjajah. Tidak hanya Indonesia dengan Belanda, tapi juga Filipina dengan Spanyol, yang menjajah sejak 1565 hingga Filipina mendeklarasikan kemerdekaannya pada 12 Juni 1898. Bahkan jauh sebelum Van der Vin tampil di liga top Belanda, pada akhir abad ke-19 sudah ada sejumlah pemain diaspora Filipina yang pernah membela klub-klub top Spanyol seperti Real Madrid, Atlético Madrid, dan FC Barcelona. Bahkan ada pula yang pernah berseragam timnas Filipina dan timnas Spanyol. Berikut delapan di antaranya:

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page