- 6 Jan 2023
- 4 menit membaca
Diperbarui: 8 Feb
SAYA ingat Bung Karno di Surakarta pada 11 Juli 1960, mengkritik nama kota Solo, yang katanya itu salah eja, peninggalan dari salah kaprahnya Belanda. Kata Bung Karno, “Yang betul adalah Sala, bukan Solo.”
Sertamerta sebagian penduduk kota –gerangan mereka dari golongan masyarakat yang pejah gesang nderek Bung Karno ditandai dengan genteng rumah-rumahnya bertuliskan kata USDEK yang nian besar– segera berinisiatif mengganti kata Solo menjadi Sala.
Arkian Pak Moer yang fasih bercakap kareseh-peseh Belanda –tinggalnya di sebelah palang rel sepur dari Jl. Pasarnongko ke Jl. Tirtoyoso sebelum totogan Manahan– berkata kepada saya, “Kalau menurut cerita uthak-athik gathuk-mathuk, sejarahnya Solo itu terjadi pada zaman Kapiten Tack hendak menangkap Untung Surapati.”
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












