- 25 Feb 2024
- 9 menit membaca
Diperbarui: 13 Feb
MALAM itu, 12 Februari 1948, di rumah ibunda Soebadio Sastrosatomo di Kliteran, Yogyakarta. Sekira sepuluh orang pengikut Sutan Sjahrir berkumpul: Soebadio, Soepeno, Djohan Sjahroezah, Soegondo, Tedjasukmana, A. Halim, dan lain-lain. Mereka sepakat mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI), terlepas dari Partai Sosialis yang dikuasai kaum komunis.
Persoalan muncul, bagaimana dengan Sjahrir yang tak hadir karena sedang di Bukittinggi? Apakah tidak menunggu kabar darinya sebelum mendeklarasikan lahirnya partai baru ini, apalagi jika dia akan dijadikan ketuanya?
Meski bukan anggota dan hanya simpatisan, A. Halim mengusulkan tidak perlu menunggu kabar dari Sjahrir, tetapi namanya ditempatkan nomor urut satu. Soebadio setuju, Djohan masih ragu khawatir Sjahrir tidak setuju. Halim hakulyakin Sjahirir pasti setuju.
“...dengan begitu lahirlah Partai Sosialis Indonesia di Kliteran, Yogyakarta, dengan ketuanya di Bukittinggi,” tulis A. Halim, “Sjahrir yang Saya Kenal,” termuat dalam Mengenang Sjahrir.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












