top of page

Hoegeng Iman Santoso Dipercaya Soemitro, Ditolak Soeharto

Soemitro mengajukan Hoegeng sebagai saksi pernikahan Prabowo Subianto dan Titiek Soeharto. Namun, Soeharto menolak.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Soemitro Djojohadikusumo, Hoegeng Iman Santoso, dan Soeharto. (Gun Gun Gunadi/Historia.ID).

10 Mar 2018
2 menit membaca

Diperbarui: 29 Apr

SUATU hari, mantan Kapolri Jenderal Polisi (Purn.) Hoegeng Iman Santoso senang. Sahabatnya, Soemitro Djojohadikusumo mengabarkan ingin menikahkan putranya, Prabowo Subianto. Pak Cum, sapaan Soemitro, meminta Hoegeng menjadi saksi dari pihaknya dalam pernikahan Prabowo dengan Siti Hediati Harijadi atau Titiek Soeharto. Hoegeng menyatakan bersedia.


Keseriusan Pak Cum dibuktikan beberapa waktu kemudian. Di suatu sore, dia dan istrinya mampir ke rumah Hoegeng. Penampilan amat rapi keduanya membuat Hoegeng menduga Pak Cum dan istri pasti habis menghadiri acara penting.


Benar, Pak Cum dan istri baru saja ke rumah Presiden Soeharto untuk merapatkan rencana pernikahan putra-putri mereka. Namun, Hoegeng justru mendapatkan keanehan dari wajah Pak Cum, yang sore itu tampak gundah. Aura wajahnya jauh dari cerah. Alih-alih menanyakannya, Hoegeng justru pura-pura tak tahu dan mempersilakan masuk kedua tamunya.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page