Diperbarui: 16 Feb
SENYUM ceria menghiasi wajah 22 perawat yang tergabung dalam Australian Army Nursing Service (AANS) begitu tiba di Heidelberg Military Hospital, Melbourne. Petang 24 Oktober 1945, di tengah guyuran hujan, mereka mendapat sambutan meriah. Mereka adalah para perawat yang selamat dari kekejaman tentara Jepang semasa Perang Dunia II.
Vivian Bullwinkel ada di antara mereka. “Dia menunjukkan bekas peluru yang menyerempet pinggang kanannya sewaktu serdadu-serdadu Jepang membantai para perawat, serdadu, dan warga sipil Australia di pantai Bangka,” tulis harian The Argus, 25 Oktober 1945.
Sekira dua bulan kemudian, Bullwinkel membeberkan kepada The Canberra Times, 21 Desember 1946, tentang apa yang kemudian dikenal dengan Pembantaian Pulau Bangka. Kesaksiannya membuka mata dunia akan kekejaman Jepang dan mendorong Australia untuk melakukan penyelidikan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

















