top of page

The Sandakan Death Marches

The Japanese forced thousands of POWs to march for hundreds of kilometers. Out of more than two thousand POWs, only six survived.

loading_historia_white.gif
transparant.png

The grave of the prisoners of war in the Sandakan Camp. (Repro of Laden, Fevered, Starved: The POW's of Sandakan North Borneo, 1945).

14 Agu 2023
7 menit membaca

LYNETTE Ramsay Silver still remembers a woman who approached her in 1993 asking her to write about the tragic incident in Malaysia’s Sandakan, a port city on the east coast of North Kalimantan, known as the Sandakan Death Marches. The woman wanted someone to document the dreadful tragedy, which claimed thousands of lives, including her brother's.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page