top of page

Dulu Sekadar Rawa, Kini Menjamu Pesta Olahraga Asia

Di masa lalu kawasannya dinaungi cerita legenda. Berkat Asian Games, kini ikut dikenal seantero Asia.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kawasan Stadion Patriot Candrabhaga, Kota Bekasi, Mulanya Hanya Berupa Rimbunan Rawa yang Cukup Dalam (Foto: Randy Wirayudha/Historia)

1 Sep 2018
2 menit membaca

BERDIRI kokoh di ujung utara jalur protokol Jalan Jenderal Ahmad Yani Kota Bekasi, Stadion Patriot Candrabhaga menjadi satu dari sedikit landmark kota bersemboyan “Kota Patriot”. Stadion Patriot jadi ikon mendongkrak citra Kota Bekasi yang pernah di-bully warganet di media sosial.


Stadion apik berkapasitas 30 ribu penonton ini baru dibangun jelang Bekasi menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Daerah (Porda) Jawa Barat 1984. “Baru dibangun tahun 1980-an bersamaan dengan pembangunan kompleks pemerintahan daerah Bekasi (di seberang stadion),” ujar Abdul Khoir, budayawan Badan Kekeluargaan Masyarakat Bekasi (BKMB) Bhagasasi cum dosen Universitas Islam ’45 (Unisma) Bekasi, kepada Historia.



Mengalami beberapakali renovasi, stadion bernama awal GOR Bekasi itu mendapat kehormatan menggelar beberapa laga sepakbola putra. Stadion itu menjadi venue antara lain, laga pembuka antara Laos vs Hong Kong (1-3) dan Palestina vs China Taipei (0-0) pada 10 Agustus 2018.


Masa Lalunya Berupa Rawa-Rawa


Di masa lalu, kawasan yang sekarang menjadi Stadion Patriot dan kompleks Pemerintahan Kota Bekasi merupakan rawa-rawa. “Dulu perkampungan di Bekasi hanya ada di Kampung Duaratus (kini Jalan Kemakmuran Kota Bekasi). Kalau area stadion (Patriot) sekarang, dulu itu disebutnya Rawa Tembaga,” sambung Abdul Khoir.


Nama Rawa Tembaga, kata Abdul Khoir, berasal dari dua versi cerita. Pertama, cerita rakyat yang muncul sejak abad ke-16. Cerita itu mengenai Fatahillah, panglima perang Kesultanan Demak, yang memerangi koalisi Portugis-Pajajaran di Sunda Kelapa (kini Jakarta) pada 1527.



“Dalam versi legenda, diceritakan Fatahillah yang punya anak perempuan, mau dilamar Prabu Siliwangi. Kemudian dipersyaratkan (mahar) Prabu Siliwangi untuk membawa miniatur perahu atau kapal dari emas. Tapi kemudian yang dipersembahkan justru (miniatur) dari tembaga, bukan emas. Maka kemudian ditolaklah miniatur perahu atau kapal itu. Nah, disebutkan dibuangnya di rawa itu. Semenjak itu makanya disebut Rawa Tembaga,” terang Abdul Khoir, yang mengakui bahwa versi legenda macam itu lemah karena tak ada catatan tertulis ilmiah.


Versi kedua, lebih rasional. “Versi kedua Rawa Tembaga itu populer sebutannya baru setelah pembangunan pusat pemerintahan daerah Bekasi (di bilangan Jalan Juanda). Karena itu dikenal orang sebagai rawa yang paling dalam. Yang lain rawa bisa ‘dijajakin’, kalau yang ini enggak. Nah, itu waktu mau ada pengurukan kan banyak truk yang bobotnya berat. Pas lewat ke rawa itu selalu ‘kejeblos’. Enggak bisa diangkat lagi. Disebutnya Rawa Tembaga karena banyak truk tanah yang tenggelam di rawa itu,” tandasnya.



Kini sebutan Rawa Tembaga menciut. Setelah kawasannya mulai disesaki banyak bangunan pemerintahan, ruko-ruko, dan stadion, nama Rawa Tembaga hanya diabadikan menjadi nama jalan di belakang Kompleks Pemerintahan Kota Bekasi yang membentang hingga Asrama Haji Kota Bekasi.


Bekasi sendiri di masa silam merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Tarumanagara (abad keempat). Saat itu masih disebut Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri. Seiring waktu, Bekasi juga pernah jadi wilayah yang dipegang Kerajaan Pakuan Pajajaran pimpinan Prabu Siliwangi alias Sri Baduga Maharaja sejak 1482.



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Selama tiga dekade tinggal di Uni Soviet, Semaoen menggeluti berbagai profesi: penyiar radio, penerjemah, dosen, hingga wakil perdana menteri.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
Mampukah Jokowi dan Ahok menuntaskan masalah Jakarta yang diwariskan dari zaman ke zaman?
Mampukah Jokowi dan Ahok menuntaskan masalah Jakarta yang diwariskan dari zaman ke zaman?
Trofi Piala Eropa tak hanya bisa direbut dengan strategi dan skuad mumpuni, tapi juga keberuntungan. Italia pernah mengalaminya.
Trofi Piala Eropa tak hanya bisa direbut dengan strategi dan skuad mumpuni, tapi juga keberuntungan. Italia pernah mengalaminya.
Usai tak lagi merumput, 11 bintang sepakbola ini terjun ke dunia politik. Ada yang sukses, ada pula yang kurang moncer.
Usai tak lagi merumput, 11 bintang sepakbola ini terjun ke dunia politik. Ada yang sukses, ada pula yang kurang moncer.
Kerusuhan rasial Chicago 1919, kisah pilu orang kulit hitam di negeri tempat kelahiran demokrasi.
Kerusuhan rasial Chicago 1919, kisah pilu orang kulit hitam di negeri tempat kelahiran demokrasi.
Tenar karena karakter bermain dan gaya rambutnya mirip Maradona. Berhasil bangkit dari keterpurukan pasca-gantung sepatu.
Tenar karena karakter bermain dan gaya rambutnya mirip Maradona. Berhasil bangkit dari keterpurukan pasca-gantung sepatu.
Hari lahir WR Supratman 9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional. Padahal tanggal itu masih diperdebatkan.
Hari lahir WR Supratman 9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional. Padahal tanggal itu masih diperdebatkan.
transparant.png
bottom of page