- 4 Mar 2025
- 4 menit membaca
Diperbarui: 28 Mei
HUKUMAN mati bukan hal baru dalam sejarah peradaban manusia. Gambaran proses eksekusi mati dengan keji dapat ditelusuri melalui beragam artefak. Di antaranya empat lukisan gua di Cingle de la Mola Remigia, kawasan pantai timur Spanyol, dari tahun 6500 SM. Lukisan-lukisan tersebut digambarkan oleh seorang ahli sebagai “pembunuhan tergorganisir”. Salah satunya menunjukkan seorang pria terbaring, tangan dan kakinya terikat, dan tubuhnya penuh anak panah. Dalam gambar tersebut juga terlihat tujuh belas orang tampak mengangkat busur mereka.
Sejak zaman kuno hingga era modern, berbagai metode penyiksaan diterapkan untuk mengeksekusi orang-orang bersalah atau pelaku kejahatan. Dalam banyak kasus, hukuman mati tak hanya dijatuhkan kepada pelaku pembunuhan.
Menurut Joseph A. Melusky dalam “Old (and Gruesome) Methods of Execution”, termuat di Capital Punishment: An Encyclopedia of History, Politics, Culture, and the Law, hukuman mati di Roma kerap diberikan kepada mereka yang melakukan pencemaran nama baik, membuat maupun menyanyikan lagu-lagu yang menghina, membakar setumpuk jagung di dekat rumah, melakukan sumpah palsu, membuat keributan di malam hari di kota, hingga melakukan pencurian budak.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















