- 30 Mar 2025
- 4 menit membaca
BAGI sebagian besar masyarakat Indonesia, ketupat jadi menu ”wajib” di setiap lebaran Idul Fitri. Ketupat seolah jadi menu wajib untuk merayakan hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Opor ayam dan beragam lauk-pauk serasa tak ‘nendang’ jika tanpa didampingi ketupat yang lazim dinikmati selepas shalat Ied sebelum keliling bermaafan atau ketika menjamu para tetangga, kerabat, atau sanak-saudara yang bersilaturrahim.
Ketupat sendiri sudah dikenal masyarakat Nusantara sejak pra-Islam. Makanan ini dianggap representasi penghormatan kepada Dewi Sri, sosok yang dipuja masyarakat di Jawa, Bali, Lombok, hingga Sulawesi. Lebaran ketupat ada sebagai upaya mengangkat tradisi dari pemujaan dewi pertanian dan kesuburan yang sudah dimuliakan sejak era Kerajaan Pajajaran (923-1597 M) dan Majapahit (1293-1527 M) itu.
Kuliner hasil akulturasi budaya itu turut dilestarikan oleh Walisongo saat syiar di masa Kesultanan Demak (1481-1554 M), kerajaan Islam pertama di Jawa. Maka kemudian muncul beberapa tradisi melestarikan ketupat, seperti Sekaten, Grebeg Mulud, atau Grebeg Syawal.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

















