top of page

Final Fenomenal di Senayan

Sebuah laga klasik paling dikenang sepanjang sejarah sepak bola di Indonesia.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 15 Jul 2018
  • 3 menit membaca

Kota Medan mendadak sunyi senyap. Biasanya anak-anak muda wara-wiri di pusat kota menghabiskan malam minggu. Namun malam itu, hari Sabtu 23 Februari 1985, jalanan tampak sepi dari lalu-lalang kendaran. Tiap sudut rumah menyalakan pesawat televisi.


“Apotik yang masih buka malam itu dikerumuni orang terutama pengemudi becak dayung untuk melihat siaran pertandingan bola,” demikian diwartakan Sinar Harapan 25 Februari 1985. Semua warga Medan ingin menyaksikan tim Ayam Kinantan – julukan tim PSMS – berlaga.


Final kejuaraan PSSI musim 1984/1985 mempertemukan PSMS Medan dan Persib Bandung. Persib dan PSMS punya tradisi kuat sebagai tim pelanggan laga final dalam liga perserikatan PSSI. PSMS sohor sebagai jawara Sumatera. Sedangkan Persib mulai menabalkan diri sebagai kesebelasan terkuat di ranah Jawa.


Kedua tim juga diperkuat oleh pemain-pemain kenamaan masa itu. Sebut saja Robby Darwis (bek), Adeng Hudaya (gelandang/kapten), dan Ajat Sudrajat (striker) yang menjadi top scorer, ada di kubu Maung Bandung – julukan Persib. Sementara itu, PSMS dikenal dengan kualitas mumpuni putra “Jadel” (Jawa Deli) nya, seperti Ponirin Meka (penjaga gawang), Sakum Nugroho (gelandang), dan Sunardi B (gelandang/kapten). Tak berlebihan jika laga kedua tim ini disebut-sebut sebagai el classico nya Indonesia.


Persib Bandung tampil dengan dukungan penuh suporternya. Jarak Jakarta yang tak begitu jauh, mengundang suporter Bandung berduyun-duyun datang ke Senayan. Mereka memadati Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno) yang berkapasitas 120.000 penonton. Bangku-bangku stadion berjejal manusia yang menjadikan laga ini sebagai final terbesar sepanjang sejarah. Sekira 150.000 penonton memadati seluruh tribun.


“Angka tersebut merupakan rekor jumlah penonton sepanjang sejarah pertandingan sepak bola di tanah air,” tulis Suara Merdeka, 25 Februari 1985.


Drama 120+ Menit


Pukul 19.00 malam, wasit meniup pluit panjang tanda laga dimulai. Pertandingan berjalan seru dan sengit dalam tempo cepat. Pada babak pertama, PSMS unggul dua gol lewat kaki strikernya, M. Siddik. Di babak kedua Persib balik menekan dan mendominasi jalannya laga. Tim Maung Bandung lantas menyamakan skor 2-2 melalui Iwan Sunarya dan Ajat Sudrajat. Hingga babak perpanjangan waktu dua kali lima belas menit, angka di papan skor tak berubah. Pertandingan pun dilanjutkan dengan adu penalti.


Dari lima penendang Persib, hanya Ajat Sudrajat yang mampu menjaringkan bola ke gawang Ponirin. Rupanya, ratusan ribu pasang mata penonton membuat para pemain Persib berada dalam tekanan. PSMS lebih mujur. Dua dari lima pemainnya berhasil mengeksekusi penalti. Mameh Sudiono menjadi penentu kemenangan PSMS sebagai algojo terakhir yang sukses membobol gawang kiper Persib, M. Sobur. PSMS Medan menang atas Persib Bandung dengan skor 4-3 (2-2 waktu reguler dan 2-1 adu penalti).


Meski kalah, Persib menampilkan teknik bermain yang ciamik ditambah stamina yang stabil. Ketimbang PSMS, kerja sama diantara pemain Persib lebih padu. Sedangkan PSMS yang teknik sedikit di bawah Persib tampil dengan semangat fanatisme.


Menurut pelatih PSMS, Parlin Siagian, anak asuhnya bermain tanpa beban. Para pemain PSMS seluruhnya bangga atas nama besar mereka di bawah naungan kesebelasan Medan. “Jadi kekuatan kami sebenarnya hanya terletak pada kebanggaan,” ujar Parlin dilansir Sinar Harapan.


Suasana gegap gempita mewarnai kubu PSMS. Wakil Presiden, Umar Wirahadikusumah, menyerahkan langsung piala kemenangan kepada tim juara. Mulai dari tribun lapangan hingga penonton yang ada di Medan, sontak  memekikkan, “Hidup PSMS, PSMS Menang, Horas!” Pendukung Persib pulang dengan sedih hati namun tetap berjiwa besar. Laga akbar itu tak berakhir ricuh.


Pesta Kemenangan di Medan


Setibanya di Medan, tim PSMS diarak keliling kota. Sejak turun dari Bandara Polonia, penduduk kota Medan membentangkan berbagai poster ucapan selamat. Sekelompok pemuda bahkan menyerahkan seekor ayam jago Kinantan – ayam aduan khas Sumatera Utara – kepada Bawono, manajer tim PSMS.


Di Lapangan Merdeka, yang menjadi alun-alun kota Medan, warga tumpah ruah menyambut tim kesayangan mereka. Para pemain disambut bak pahlawan, terutama penjaga gawang Ponirin. “Tidak pernah ada orang sebanyak itu di Lapangan Merdeka sejak Presiden Sukarno berpidato disana tahun 1962,” tulis Kompas 27 Februari 1985. Sepak bola telah menjadi pesta rakyat saat itu.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
transparant.png
bottom of page