- 2 Sep 2024
- 2 menit membaca
Diperbarui: 23 Mei
MALAM 19 Agustus 1927, Kopral Kasmin dapat giliran jaga malam di tangsinya di Keresidenan Semarang. Ketika berjaga itu, Kasmin tiba-tiba didatangi seorang sipil. Orang ini mengaku katanya ingin jadi tentara kolonial Koninklijk Nederlandch Indische Leger (KNIL), seperti Kasmin, namun tak punya surat atau dokumen penting lain seperti surat pengantar dari kepala desa, yang biasa dipakai untuk teekensoldij masuk tentara. Orang tersebut sangat berharap kepada Kasmin agar mau membantunya. Dia menyodorkan uang kertas 20 gulden.
“Apakah ini baik-baik saja?” kata orang itu kepada Kopral Kasmin tulis Raden Soeprono dalam R. Soeprono: Selangkah Tapak Tiga Zaman.
Uang “terimakasih” itu tidaklah kecil jumlahnya. Antara 1930 hingga 1942, harga satu gram emas sekitar 1,5 hingga 2 gulden. Jika harga emas pada 1927 masih 1,5 gulden, dengan uang 20 gulden itu Kasmin bisa membeli 13 gram emas.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















