- 28 Des 2017
- 3 menit membaca
Diperbarui: 24 Des 2025
SEBELUM saya tahu namanya Tobias Bohmann, dia terlebih dahulu menyapa karena mengenali bahasa Indonesia yang saya gunakan. Ini terjadi malam Natal yang lalu, dalam sebuah perjalanan kereta Hamburg ke Berlin. “Anda dari Indonesia?” tanya dia.
Saya lekas mengangguk, sigap membenarkan. Lantas dia lanjut mengenalkan diri lebih jauh: lelaki kelahiran Jerman, bertemu jodoh seorang perempuan Medan di Hamburg, punya dua anak dari perkawinan tersebut dan kini mereka menetap di London, Inggris. “Alhamdulillah saya muslim,” kata dia.
Saya biarkan dia bercerita, seperti seorang sahabat lama yang baru saja bertemu. Medan tampak membuatnya gembira. Dia berkisah tentang makanan yang berbumbu rempah, ikan teri Medan dan durian Ucok. “Saya hanya sanggup mencicipi sedikit,” ujarnya sebagai mengimpitkan ujung jari telunjuk dengan jempolnya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















