top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Hamka “Monk” Islam

Ketika transit di bandara Bangkok, Thailand, Hamka salat di ruang tunggu. Anaknya, Rusydi meminta izin kepada petugas bandara dengan mengatakan, “kami monk Islam, sebagaimana monk Buddha.”

26 Mei 2024

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Buya Hamka menghadiri KTT Islam di Thaif, Makkah, Arab Saudi tahun 1981. (Koleksi keluarga Hamka).

BUYA Hamka dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Pertamina pada awal bulan Ramadan, 18 Juli 1981. Dr. Karnen Bratawijaya, yang lama menjaga kesehatan Hamka, memberi tahu bahwa Hamka terkena serangan jantung berat. Penyakit itu telah dirasakan Hamka sejak Februari.


Tokoh-tokoh Majelis Ulama Indonesia (MUI) berdatangan ke rumah sakit untuk menjenguk ketua umum MUI pertama itu.Anggota MUI yang kemudian menjadi menteri agama, dr. Tarmizi Taherbilang kepada Rusydi Hamka, anak ketiga Hamka, seharusnya Hamka tidak melakukan perjalanan ke Bangladesh dan Irak. Sangat berbahaya bagi penderita jantung seperti Hamka melakukan perjalanan jarak jauh. Khawatir terjadi anfal (serangan jantung mendadak) di udara.


Hamka pergi ke Bangladesh ditemani anak kesembilan, Afif Hamka, karena Rusydi harus pergi ke Jerman Barat. Sebelum berangkat, Rusydi mengkhawatirkan kesehatan Hamka. Bahkan, ketika mendapat undangan ke Irak, Hamka menyuruh Rusydi menemui duta besar Irak untuk mengundurkan keberangkatan menjadi bulan depan. Alasannya Hamka sakit.


“Saya menunduk, teringat perjalanan ke Irak sebulan sebelumnya,” kata Rusydi Hamkadalam Pribadi dan Martabat Buya Hamka.



Pada Juni 1981, Rusydi mendampingi Hamka pergi ke Irak untuk memenuhi undangan Menteri Wakaf. Setelah selesai acara, Hamka mengajak Rusydi mengunjungi objek-objek sejarah di bekas pusat kebudayaan Islam itu, seperti kuburan Sayidina Ali di Najaf, Masjid Karbala, Masjid Basrah yang kubahnya dari emas murni, dan taman gantung di Babilonia.


“Tampaknya ayah gembira sekali dengan kesempatan itu,” kata Rusydi.


Ketika berada di Najaf, Hamka bercerita tentang Sayidina Ali, tragedi sejarah Islam di Karbala, Dinasti Abbasiyah, Sultan Ma’mun, dan Harun al-Rasyid, hingga timbulnya Mazhab Syiah yang sekarang berpusat di Iran. Hamka bercerita tentang latar belakang sejarah Perang Iran dan Irak (1980–1988) yang dianggap sebagai lanjutan sentimen perang Arab-Persia yang terkenal dengan perang Khadisiyah. Menurut Hamka, percaturan politik sekarang membuktikan bahwa ashabiyyah (fanatisme) Persia dan Arabia masih belum lenyap di dada orang-orang sana.



Malam harinya, Hamka dan Rusydi mengelilingi Kota Baghdad yang terkenal dengan sebutan negeri 1001 malam, melihat Sungai Tigris dan Dajlah, makan ikan panggang yang lezat di sebuahrestoran, melihat patung Abu Nawas, mengunjungi makam Abdul Qadir al-Jailani, Masjid Imam Hanafi, dan melihat perkampungan tempat lahirnya ahli tasawuf, Junaid al-Baghdadi. Pada setiap tempat itu, Hamka tak lupa bercerita tentang tokoh-tokoh tersebut.“Semuanya dalam kegelapanmalam karena selama perang Irak dan Iran, listrik-listrikdipadamkan,” kata Rusydi.


Penerbangan ke Irak memakan waktu lebih dari 14 jamdan transit di bandara Bangkok, Thailand beberapa jam. “Saya memejamkan mata mengingat kejadian itu,” kata Rusydi.



Pada waktu itu, Hamka yang sebenarnya sangat lelah tetap terlihat gembira berjalan dengan tongkatnya di belakang Rusydi. Begitu tiba di ruang tunggu bandara, Hamka menuju toilet, menyuruh menyiapkan sajadah, melihat kompas, dan salat dengan menjamak salat zuhur dan ashar di tengah kesibukan orang-orang yang menunggu pesawat. Sementara turis asing mondar-mandir di depan mereka sambil melihat keheranan.


Seorang petugas bandara mengatakan bahwa ruang tunggu bukan tempat salat. Rusydi mohon kepada petugas itu agar diberi izin dengan mengilustrasikan seperti biksu yang tengah melakukan perjalanan. “Kami adalah 'monk' Islam, sebagaimana 'monk' Buddha berbaju kuning banyak di Thailand,” karta Rusydi.


Hamka tertawa mendengar dialog Rusydi dengan petugas bandara itu. “Kejadian itu menjadi bahan cerita yang meringankan kelelahan ayah,” kata Rusydi.


Namun, Hamka benar-benar lelah. Sebulan kemudian, dia terkena serangan jantung berat. Setelah seminggu dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Hamka meninggal dunia pada 24 Juli 1981 pukul 10.41 WIB.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Dari Brussel ke Jalan Astrid di Kebun Raya Bogor. Raja dan Ratu Belgia dari berbagai masa punya cerita di Indonesia.
Sudomo Sumber Berita

Sudomo Sumber Berita

Sudomo merupakan pejabat tinggi Orde Baru yang paling sering berurusan dengan wartawan. Pernyataan hingga ocehannya jadi bahan pemberitaan.
Keruntuhan Bisnis Dasaad

Keruntuhan Bisnis Dasaad

Pada masanya, Agus Musin Dasaad mencapai puncak kejayaan bisnis pribumi. Kedekatannya dengan kekuasaan membuka banyak peluang sekaligus risiko. Ketika lanskap politik berubah, bisnisnya pun ikut goyah.
bottom of page