top of page

Happy Birthday & Potong Kuenya

"Happy Birthday to You" pertama kali dinyanyikan di Indonesia pada 1954. Sebelumnya, lagu ulang tahun "Lang zal ze leven".

loading_historia_white.gif
transparant.png

Mildred Jane Hill dan Patty Smith Hill. (wikitree.com).

10 Jan 2018
4 menit membaca

Diperbarui: 17 Apr

SETIDAKNYA sampai dengan berakhirnya bulan September 1965, ketika tatanan budaya masyarakat Indonesia masih dibagi dalam tiga kelompok politik, masing-masing Nasionalis, Agama, Komunis –disingkat Nasakom– sesuai maunya Pemimpin Besar Revolusi –disingkat Pembesrev– Soekarno sang orator ulung, maka dalam mengucapkan "selamat hari ulang tahun" disertai nyanyian "Happy Birthday to You", arkian kita akan segera mengetahui dari latar apa –Nasionalis, Agama, Komunis– yang memberi selamat ulang tahun tersebut berdasarkan pilihan istilah yang dipakainya.


LKN, lembaga budayanya PNI, memakai istilah hut, singkatan dari kata-kata "hari ulang tahun".


LESBUMI, lembaga budayanya NU, memakai istilah harlah, singkatan dari kata-kata "hari lahir".


LEKRA, lembaga budayanya PKI, memakai istilah ultah, singkatan dari kata-kata "ulang tahun".


Sekarang, yang paling bertahan di antara istilah-istilah itu adalah hut. Mudah-mudahan ini tidak disimpulkan bahwa tulisan ini seakan-akan berpihak pada golongan banteng ketaton.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page