- 25 Mar 2023
- 5 menit membaca
Diperbarui: 6 Jun
RUMAH pemimpin Sarekat Islam di Gang Peneleh VII No. 29–31 itu tampak suwung. Daun pintu yang bercat krem berpadu hijau tertutup rapat siang itu. Andai saja tak ada plang informasi yang berdiri di depan rumah, mungkin orang tak bakal mengira kalau rumah sederhana itu pernah jadi tempat tinggal bagi aktivis politik zaman pergerakan dari berbagai kalangan dan ideologi. Mulai Sukarno yang nasionalis sampai Musso yang komunis dan S.M. Kartosoewirjo yang mengusung gagasan negara Islam, pernah indekos di rumah itu.
Rumah yang pernah menjadi kediaman keluarga H.O.S. Tjokroaminoto itu kini memang tak lagi serupa sediakala. Bangunan asli rumah berdiri memanjang ke belakang dengan dua tembok yang menyekat sayap kiri dan kanan rumah sehingga menyisakan koridor yang memanjang di tengah rumah. Bagian utama rumah dengan deret kamar kos di belakang, yang salah satunya pernah ditempati oleh Sukarno, dibatasi tembok dapur dengan satu pintu yang kini telah ditutup.
Satu set kursi kayu kuno terpasang di ruang tamu seluas 2x4 meter persegi. Sebuah foto pengantin remaja Sukarno dan Oetari terpampang di tembok dekat pintu masuk. “Itu pemberian bapaknya Mbak Maia,” ujar Eko Hadiratno, ketua RT II Kampung Peneleh sekaligus kuncen rumah Tjokroaminoto. Bapaknya Mbak Maia yang disebut Eko adalah Ir. Harjono Sigit, ayah penyanyi Maia Estianty, mantan istri rocker Ahmad Dhani. Harjono adalah cucu Tjokroaminoto dan pernah jadi rektor Institut Teknologi Surabaya (ITS) periode 1982–1986.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















