- 21 Sep 2023
- 5 menit membaca
Diperbarui: 5 Jun
HARI itu, 3 Agustus 1934, Prajurit Charles H. Kuhl terduduk di atas sebuah kursi dengan posisi membungkuk di Rumah Sakit Evakuasi ke-15 di Nicosia, Sisilia, Italia. Tak seperti sesama serdadu Amerika Serikat di sekitarnya, Prajurit Kuhl sama sekali tak menderita luka. Hanya saja, tatapannya hampa dan pikirannya nge-blank. Ia sampai tak berdiri dan memberi hormat ketika Letjen George S. Patton datang berkunjung.
Sikap dan keadaan prajurit asal Kompi L Resimen Infantri ke-26 Divisi Infantri ke-1 Angkatan Darat (AD) Amerika itu jelas mencolok di mata Jenderal Patton. Panglima pasukan AD ke-7 nan temperamental itu kemudian menegur Kuhl kenapa tak memberi hormat. “Sepertinya saya hanya tak sanggup lagi,” jawab Kuhl lirih, dikutip D.A. Lande dalam I Was with Patton: First-Person Accounts of WW II in George S. Patton’s Command.
Apa yang diderita Kuhl tak kasat mata. Ia mengalami battle fatigue atau terkena penyakit mental berupa depresi akibat kelelahan di medan perang. Diagnosa dari bangsal medis darurat di Batalyon ke-3 Resimen ke-26 sudah mengonfirmasi mental illness yang diderita veteran front Afrika Utara itu.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















