top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Ketika Ali Sadikin Mau Gebuk Sudomo

Kisah turun-naik hubungan Ali Sadikin dan Sudomo. Kerap berseberangan pandangan politik, tetapi akur secara pribadi.

17 Jun 2019

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Ali Sadikin dan Sudomo. (Majalah Editor).

Diperbarui: 24 Jan

KENDATI sama-sama berasal dari  Angkatan Laut (AL), hubungan antara Ali Sadikin dan Sudomo bisa dibilang fluktuatif. Keduanya adalah pribadi yang berbeda tipikal. Ali Sadikin kritis terhadap pemerintah Orde Baru. Sementara Sudomo membungkam mereka yang menentang rezim.  


Ketika Ali Sadikin vokal mengkritik pemerintah lewat Petisi 50, Sudomo yang kala itu jadi panglima Kopkamtib melakukan pencekalan (cegah-tangkal). Untuk membawa istrinya berobat ke negeri Belanda, Ali Sadikin kesulitan akibat dicekal. Perintah cekal itu berasal dari Sudomo. Padahal, Sudomo masih terhitung juniornya Ali Sadikin.


“Pencekalan itu sebenarnya inisiatif saya, bukan karena diminta Pak Harto. Dengan Bang Ali saya tidak ada masalah, kawan baik. Kita kan tinggal berdekatan, bertetangga, ” kata Sudomo dalam Warnasari, edisi Oktober 1997 mengutip harian Terbit. Namun soal relasi pribadi, Sudomo mengatakan, “Kalau ia ulang tahun saya datang, peluk-pelukan.  Pokoknya saya menghormatinya, karena ia kan atasan saya.”



Setelah pensiun dari jabatan gubernur Jakarta, Bang Ali –pangglian Ali Sadikin– tinggal di Jalan Borobudur No. 2, Jakarta Pusat, berseberangan dengan kediaman Sudomo. Ali dan Sudomo tampaknya memang berseberangan dalam banyak hal. Mulai dari rumah, pandangan politik, hingga selera wanita.


“Mana mungkin sama (selera) antara seorang marinir dengan seorang pelaut. Kalau dia memang dikenal sebagai pemburu wanita,” tutur Ali Sadikin dalam wawancara majalah Detik, 21–27 Juli 1993 termuat di Pers Bertanya Bang Ali Menjawab.


Reputasi Sudomo sebagai pecinta perempuan tidak lekang bahkan hingga di usia senjanya. Di masa Orde Baru berkuasa ketika dirinya menjadi orang penting, Sudomo beberapa kali menikah. Sudomo terkenal dengan kelakar khasnya. “Dari pinggang ke atas saya sudah tua tapi dari pinggang ke bawah (masih aktif). Heehee...,” ujar Sudomo dikutip Jakarta Jakarta, 20-26 September 1997. Artinya, meski sudah tua, Sudomo masih kuat vitalitas seksualnya. 



Pada 1997, pada usianya yang ke -70, Sudomo dikabarkan kembali memeluk Islam setelah sempat pindah agama. Keputusan Sudomo tersebut sempat memantik tanda tanya publik. Sebagian kalangan menilai Sudomo sedang melakukan manuver politik untuk menduduki jabatan wakil presiden. Sebagian lagi menganggap itu akal-akalan Sudomo karena ingin mencari istri lagi. Saat itu, Sudomo santer diisukan dekat dengan perempuan bernama Endah Melati Suci.


“Ya ndak. Pokok nya bukan tujuan politik apalagi kawin, ” kata Sudomo kepada Jakarta Jakarta, 20–26 September 1997 ketika ditanya tujuannya pindah agama. “Itu datangnya dari Tuhan yang Maha Kuasa. Dari dulu saya ndak jalanin penuh. Wong, saya kalau bulan puasa ikut puasa kok.”


Melihat polemik yang terjadi terhadap Sudomo, Ali Sadikin ikut angkat bicara. Dia tetap berbaik sangka. Perhatian dan simpati juga masih diperlihatkan Bang Ali terhadap junior yang pernah mencekalnya itu.



“Kita tidak baik punya pikiran jelek seperti itu. Kita harus percaya ia sudah kembali ke agamanya semula, Tuhan menerimanya,” kata Bang Ali dikutip Warnasari. “Nah, bila nanti ternyata ada niatan lain, atau ini sebuah manuver, ya kita gebukin saja.”


Meski demikian, Bang Ali mengakui secara personal, hubungannya dengan Sudomo baik-baik saja. Jika Bang Ali dan Pak Domo berbeda langkah, semua itu terjadi karena iklim politik Orde Baru.  


“Waktu ulang tahun saya ke-70, ia (Sudomo) datang memberi ucapan selamat,” kenang Bang Ali dalam Warnasari.


Saling sowan Bang Ali-Pak Domo ini menandai bahwasanya tidak ada konflik yang berarti apalagi dendam diantara keduanya.*



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Perang Jawa Memicu Kemerdekaan Belgia dari Belanda

Perang Jawa Memicu Kemerdekaan Belgia dari Belanda

Hubungan diplomatik Indonesia dan Belgia secara resmi sudah terjalin sejak 75 tahun silam. Namun, siapa nyana, kemerdekaan Belgia dari Belanda dipicu oleh Perang Jawa.
Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja bersekutu melawan Belanda. Keduanya telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Prajurit Keraton Ikut PKI

Prajurit Keraton Ikut PKI

Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
bottom of page