top of page

Kisah Baju dan Acub Zainal

Sewaktu muda jadi taruna, Acub Zainal jahil. Tuanya, dia menjadi jenderal.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Brigjen Acub Zainal sedang menghadap Presiden Soeharto. (Repro "Acub Zainal, I Love the Army")

3 Jan 2024
2 menit membaca

Diperbarui: 4 hari yang lalu

SEKELOMPOK taruna Militaire Akademie Yogyakarta angkatan pertama sedang diperbolehkan keluar asrama. Mereka pergi ke sebuah restoran yang cukup mahal di masa revolusi kemerdekaan. Tujuannya adalah makan enak.


“Wah hebat juga kamu, Cub, banyak uang ya,” kata Hedijanto kepada Acub.


“Tidak banyak. Tapi ada lah,” jawab Acub Zainal.


Semua taruna yang ikut makan di restoran itu tentu gembira. Terlebih, mereka boleh tambah porsi jika satu porsi tak kenyang. Maklum, makan enak saat sulit itu tentu sebuah kemewahan. Tak semua orang bisa mendapatkannya.


Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page