- 5 Jun 2024
- 5 menit membaca
Diperbarui: 5 Jun
TIGA kolom tank Type 59 terpaksa menyetop perjalanan di Jalan Chang’an Boulevard di pojok timur laut Lapangan Tiananmen, Beijing, China pada hari itu, 5 Juni 1989. Gegaranya empat tank di kolom terdepan dihadang sesosok pemuda yang tengah menenteng kantong belanjaan.
Sehari sebelumnya, tank-tank itu ikut meredam unjuk rasa besar-besaran di Lapangan Tiananmen sebagai klimaks dari prahara politik di China yang dipicu inflasi, korupsi, nepotisme, hingga pembunuhan sekretaris jenderal CCP atau Partai Komunis China yang pro-reformasi ekonomi, Hu Yaobang, pada April 1989. Namun unjuk rasa itu “dipadamkan” dengan tindakan-tindakan represif yang berujung pada tewasnya ribuan pengunjuk rasa hingga peristiwanya disebut sebagai Pembantaian Tiananmen atau Insiden Empat Juni.
Situasi perlahan kondusif sehari setelahnya. Para wartawan asing pun mulai undur diri ke hotel masing-masing. Beberapa dari mereka kembali lagi ke balkon kamar untuk memotret dan memfilmkan penghadangan di atas.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















