- 12 Agu 2024
- 3 menit membaca
SEBAGAI serdadu dari pihak yang kalah perang, Andre Pierre Hubert Orval harus rela dikirim ke tempat-tempat yang jauh dari tanah kelahirannya, Semarang. Sebab, setelah Maret 1942 dia hanyalah tawanan perang Jepang. Bersama banyak tawanan perang lain, dirinya dibawa ke mana saja oleh tentara Jepang, termasuk daerah yang mesti menyeberangi lautan luas.
Pria Belanda asal Semarang ini, menurut kartu tawanan perang atas nama dirinya, adalah serdadu berpangkat prajurit dua milisi dengan nomor stamboek 79722. Dia bertugas pada pada kompi II zeni Koninklijke Nederlandsche Indische Leger (KNIL) Cimahi. Sebelum menjadi milisi, pria kelahiran Semarang, 18 Mei 1922 ini bekerja di pabrik senjata.
Setelah Jepang menduduki dan menerima penyerahan tanpa syarat Hindia Belanda pada 1942, bukan hanya Andre yang jadi tawanan perang tapi juga ayahnya ELA Orval. Ketika itu keluarganya tinggal di Gempol Wetan, Bandung.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















