top of page

Lakon Cavaradossi Si Kapten Turki

Sebagai penyanyi opera, Westerling menuai banyak kritik. Suaranya mirip orang dicekik. Ia disebut lebih berhasil mengangkat senjata ketimbang mengangkat tenggorokannya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Westerling sebagai penyanyi opera. (C. Ferguson/gahetna.nl).

17 Sep 2023
5 menit membaca

Diperbarui: 22 Feb

MUNGKIN suatu kebetulan jika bertahun kemudian, setelah petualangannya di Indonesia berakhir, Westerling mencoba peruntungannya jadi pemain opera. Lakon yang diperankannya pun menarik: Westerling jadi sosok perupa Cavaradossi, karakter yang mengalami korban penyiksaan. Sebuah peran yang berlawanan dengan lakon kehidupannya di masa perang.


Semua bermula pada 1956, ketika Westerling menginap di sebuah hotel di Den Haag. Menurut koran Utrechts Nieuwsblad edisi 24 Desember 1956, di tempat itulah dia mendengar pementasan paduan suara, yang membuat sang kapten begitu terkesan. Kemudian dia menemui pemimpin paduan suara Coen Ruivenkamp, yang juga terkenal sebagai zangpedagoog, guru menyanyi, khusus lagu-lagu seriosa atau opera. “Saya berharap banyak darinya. Dia adalah seorang tenor besar yang dramatis,” kata Coen kepada Utrechts Nieuwsblad.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page